globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

SEMARAK KARNAVAL TAHUNAN RIO

Gaung semarak karnaval Rio telah tersebar di seluruh dunia. Tapi bagi kita, tipis kemungkinan untuk bisa menyaksikannya langsung. Selain letaknya di balik bumi Indonesia, rasanya sulit untuk mencari kelompok yang pas ke sana saat karnaval.

Tak disangka Maret tahun ini saya mendapat kesempatan itu, karnaval khusus karena untuk memperingati 500 tahun Portugis menemukan Brasil.

Kami tidak langsung terbang ke Rio, tetapi mampir dulu di Cape Town dan Argentina. Maklum, kami kelompok lansia yang ingin lebih santai.

Pantai milik bersama

Namun di Rio de Janeiro kami harus menginap empat malam karena waktu itu ada karnaval. Rupanya, hotel juga ingin memanfaatkan kesempatan itu. Kami mendapat Hotel Othon yang terletak di tepi pantai Copacabana yang panjangnya 4 km. Berbeda dengan di Bali, pantai di Rio adalah milik bersama dan hotel terletak di pinggir jalan lebar sepanjang pantai. Jadi, biarpun kami harus menginap empat malam, di waktu senggang kami bisa jalan-jalan di pantai. Di tepi jalan banyak pedagang kaki lima menjajakan kerajinan lokal.

Yang menarik, belum kami melangkah keluar bus sudah disongsong gadis cantik yang mempersilakan kami memilih mainan dari batu warna-warni gratis sambil memberi kartu nama toko batu permata tak jauh dari hotel. Ternyata di dalam hotel juga sudah menunggu wanita muda dari toko lain dengan tujuan sama. Tapi gadis ini fasih berbahasa Indonesia. Ternyata ia beremigrasi ke Brasil bersama orang tuanya, ketika ia berumur tujuh tahun.

Rio de Janeiro mempunyai lima terowongan. Orang kaya

di pinggir pantai, sedangkan yang kurang berada di lereng-lereng bukit. Namun, pemandu wisata kami menandaskan, biarpun tidak kaya, mereka membayar pajak dan tinggal secara legal. Waktu itu AS $ 1 nilainya antara 1,67 - 1,69 real.

Rupanya, cuaca di Brasil mirip di Indonesia. Buah-buahan yang kami jumpai di sana pun seperti di sini, yakni markisa, jambu biji, srikaya, dan pisang. Setiap makan pagi, selalu ada buah srikaya.

Restoran khas Amerika Selatan selain menyajikan salad secara prasmanan, juga mengedarkan macam-macam daging yang ditusuk besi panjang. Kalau mau, dipotongkan beberapa iris di piring kami.

Selain pantai yang indah dan karnaval setahun sekali, Rio mempunyai dua tempat wisata lain yang menjadi andalannya: Sugar Loaf Mountain dan patung Yesus terbesar di dunia yang terletak di puncak bukit di tepi pantai.

Sugar Loaf Mountain merupakan bukit mirip roti Prancis yang berdiri. Untuk mencapai puncaknya kami harus naik kereta gantung berkapasitas 75 orang. Dari kejauhan kereta yang tergantung bebas antara dua titik tampak mengerikan.

Patung Yesus terletak di atas Bukit Corcovado. Untuk mencapai tempat itu kami harus naik kereta menyusuri bukit dengan pemandangan indah ke laut. Waktu perjalanan sekitar 20 menit.

Kapasitas rangkaian kereta 124 penumpang. Setelah turun dari kereta di atas, kami masih harus naik lagi dengan berjalan kaki. Untungnya, kiri kanan jalan penuh pedagang kaki lima sehingga tidak terasa berat.

Sayangnya, saat itu patung sedang direnovasi sehingga penuh palang yang malang-melintang. Ukuran patung Kristus yang menghadap ke laut itu rentangan tangannya 28 m, dari podium sampai kepala 30 m, dan tinggi podium 8 m.

Ajang berpromosi

Tibalah malam karnaval. Sebetulnya karnaval berlangsung empat malam, namun kami menonton malam ketiga, 5 Maret 2000.

Malam pertama untuk kelompok kanak-kanak, malam kedua parade kelompok, sedangkan malam ketiga dan keempat untuk samba school khusus, yang merupakan puncaknya. Disebut school (sekolah) tetapi sebetulnya merupakan perkumpulan.

Tahun 1984 Rio membuat panggung pinggir jalan yang disebut Sambodromo dengan kapasitas 80.000 penonton. Sepanjang tahun bangunan itu dimanfaatkan untuk sekolah anak-anak miskin. Namun, setahun sekali panggung itu untuk menampung penonton karnaval.

Dalam perjalanan ke tempat itu di pinggir jalan sudah ada anak-anak muda membawa umbul-umbul perusahaan internet. Kalau di Jakarta banyak orang mengelap mobil dengan harapan mendapat imbalan di lampu lalu lintas, di Rio ada pria yang memperlihatkan kemahiran memain-mainkan bola (juggling) dengan harapan serupa.

Sebelum masuk stadium kami mendapat kalung dengan tanda

pengenal dan kartu naik bus ke hotel andaikata kami tidak mau pulang bersama kelompok. Bus sudah siap di depan lengkap dengan petugas pemberi petunjuk.

Waktu naik ke podium tempat duduk, kami mendapat buku promosi panjang kecil berukuran 10 x 40 cm setebal 80 halaman penuh iklan. Petugas juga mengenakan kaus karnaval beriklan. Ada iklan tunggal, ada juga iklan gabungan beberapa perusahaan. Bahkan dari hotel kami juga mendapat kaos karnaval dengan nama hotel kami dan iklan minuman di punggung. Waktu duduk, kami masih mendapat sampel pil antisakit kepala. Pokoknya, kesempatan ini digunakan habis-habisan untuk berpromosi.

Di belakang panggung ada sederetan toilet darurat dan

snackbar. Bila naik-turun tangga ke podium kami dibantu oleh gadis-gadis cantik. Kami duduk berempat mengelilingi meja. Duduknya lega dan pemandangan ke iring-iringan parade tidak teralang. Padahal dalam boks sebelah, di atas dan di seberang jalan, penuhnya bukan main. Ada boks untuk penonton berdiri, ada juga yang duduk di bangku panjang seperti menonton sepakbola. Sebelum karnaval lewat, banyak penonton menari-nari dengan iringan musik yang memekakkan telinga.

Di situ saya baru tahu bahwa harga tiket kami resminya AS $ 350. Karena kami baru pesan bulan Desember, harganya AS $ 505! Satu di antara kami yang lebih lambat memastikan ikut, harga karcisnya AS $ 550.

Untuk bisa mengikutinya sebetulnya orang tidak perlu merogoh kocek demikian dalam, karena seluruh karnaval disiarkan langsung lewat TV nasional secara lengkap.

Kostum dental floss

Delapan kelompok samba mulai jalan pukul 20.00 hingga matahari terbit.

Tiap kelompok bisa sampai 4.000 orang anggotanya, dan ada sepuluh kereta peraga, masing-masing dengan tema yang sesuai dengan yang akan diperagakan kelompoknya. Tema yang diperagakan malam itu ialah Permulaan Republik Brasil, Segala Sesuatu Tertuju pada Samba di Brasil (Everything Turns to Samba in Brasil), Kebudayaan Indian di Brasil, Zaman Republik, Absolutisme dan Demonstrasi, Kebudayaan Afrika di Brasil, Warna Bendera Nasional, dan terakhir President Getulio Vargas and Brasilian Workman.

Setiap kelompok dimulai dengan pengumuman kelompok mana yang akan datang. Kemudian disusul nyala kembang api dengan latar belakang zeppelin melayang yang mempromosikan ban (Good Year). Selanjutnya, pejalan kaki memberi hormat kepada juri diikuti kereta pajang yang ditarik dan didorong orang. Selang waktu antara dua kelompok ialah 45 menit.

Sulit untuk menceritakan betapa meriah karnaval itu. Bayangkan, hampir 25.000 peserta dengan kostum yang sama-sama indah dan megahnya melewati para penonton dengan iringan musik meriah.

Pesertanya pun tak pandang bulu. Mulai kanak-kanak hingga nenek-kakek. Bagi seorang turis mungkin sulit untuk menghayati setiap tema. Namun yang jelas, ada kelompok serba tanaman dan binatang, dari kodok, kera, burung, bunga mawar, bunga matahari. Ada kereta dengan wanita-wanita cantik yang berpakaian minim (dental floss, kata orang) dengan dua lampu kecil di tempat strategis, sehingga naik-turunnya tampak jelas.

Ada pula kelompok yang mengenakan topi seperti nampan dengan puding serta kue. Bagi saya, pesan paling jelas ialah tema masa penindasan ketika ada sensor pers yang digambarkan dengan guntingan koran yang ditandai coretan merah dan rol film besar dengan gunting.

Itu salah satu yang ditampilkan school Caprichosos. Kelompok ini memilih tema empat presiden terdahulu - yaitu Juscelino Kubitschek (JK), Janio Quadros (JQ), Joao Goulart (JG), dan Fernando Collor de Mello - serta perubahan sosial politik selama pemerintahan mereka.

Selain sensor terhadap pers, mereka memunculkan masa lalu penuh tekanan dan tiadanya toleransi, sensor terhadap seniman, gerakan pelajar dan massa, ilmuwan, dll. Tak lupa suasana selama pemilihan langsung presiden, kudeta militer tahun 1964, dan impeachment terhadap Collor. Intinya, mereka menekankan pentingnya kekuatan hukum dan akal sehat.

Memang karnaval sering dimanfaatkan untuk melemparkan kritik terhadap pemerintah, meski tanpa melupakan hingar pesta. Seperti yang dilakukan Caprichosos yang mengakhiri barisan dengan letupan sampanye dan anggur di tangan para peserta berdasi hitam.

Selain yang berbau kritikan, ada pula kelompok yang melemparkan imbauan. Di antaranya, untuk menjaga kelestarian hutan Brasil yang menjadi paru-paru dunia, yang menampilkan peserta dengan kostum burung betet warna-warni. Brasil yang mayoritas penduduknya berkulit hitam juga dikenal sebagai Land of the Parrots. Gelar ini dilontarkan oleh pelaut Portugis saat pertama kali menginjakkan kaki di daratan Brasil 500 tahun silam.

Meski karnaval tahun ini mengajukan beberapa tema, para peserta tidak menghadapi kesulitan. Itu karena mereka punya 71 tahun pengalaman, sejak parade pertama tahun 1929, terus berulang menceritakan berbagai aspek perjalanan sejarah bangsa kulit hitam terbesar di luar benua Afrika itu.

Mereka akan menampilkan tontonan yang berbeda dari sebelumnya, meski dari tema yang sama. Selalu ada sudut pandang artistik baru yang segar dan ... mengejutkan!

Karnaval, pesta untuk semua

Bagi orang Brasil, karnaval merupakan peristiwa yang sangat penting. Bahkan menjadi kelompok pemenang karnaval sama nilainya seperti bila Brasil memenangkan Piala Dunia.

Tak heran bila hari-hari karnaval menjadi hari libur. Yang bekerja hanya mereka yang ada hubungannya dengan peristiwa itu.

Karnaval usai. Tapi tidak berarti orang Brasil akan beristirahat sementara. Justru saat itu orang mulai memikirkan karnaval tahun berikut. Orang mulai menggali tema baru, mencari dana dan sponsor. Konon orang yang berpenghasilan AS $ 70 sebulan tidak segan-segan untuk menyisihkan AS $ 10 asalkan bisa ikut karnaval.

Kalau dulu bisnis kostum karnaval masih dibuat penjahit rumahan, sekarang sudah menjadi big business. Bayangkan, untuk satu kelompok saja ada 3.000 - 5.000 orang yang harus didandani dari ujung kepala sampai ujung kaki. Itu berarti ratusan model berlainan yang akan menghabiskan berton-ton baja, berkilometer bahan dan entah berapa drum cat dan lem.

Sudah sering kita mungkin menonton karnaval lewat televisi dan melihat kemeriahannya. Namun, bagi saya yang paling mengharukan ialah suasana tekad bulat rakyat Brasil untuk membuat karnaval suatu pesta yang mengesankan bagi seluruh rakyat. Tua, muda, kaya, maupun miskin. (I)

Boks : Sejarah Sekolah Samba

Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej