|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
SEMARAK KARNAVAL TAHUNAN RIO
Gaung
semarak karnaval Rio telah tersebar di seluruh dunia. Tapi bagi kita, tipis
kemungkinan untuk bisa menyaksikannya langsung. Selain letaknya di balik
bumi Indonesia, rasanya sulit untuk mencari kelompok yang pas ke sana saat
karnaval.
Kami tidak langsung terbang ke Rio, tetapi mampir dulu di Cape Town dan
Argentina. Maklum, kami kelompok lansia yang ingin lebih santai.
Pantai milik bersama
Namun di Rio de Janeiro kami harus menginap empat malam karena waktu itu ada
karnaval. Rupanya, hotel juga ingin memanfaatkan kesempatan itu. Kami
mendapat Hotel Othon yang terletak di tepi pantai Copacabana yang panjangnya
4 km. Berbeda dengan di Bali, pantai di Rio adalah milik bersama dan hotel
terletak di pinggir jalan lebar sepanjang pantai. Jadi, biarpun kami harus
menginap empat malam, di waktu senggang kami bisa jalan-jalan di pantai. Di
tepi jalan banyak pedagang kaki lima menjajakan kerajinan lokal.
Yang menarik, belum kami melangkah keluar bus sudah disongsong gadis cantik
yang mempersilakan kami memilih mainan dari batu warna-warni gratis sambil
memberi kartu nama toko batu permata tak jauh dari hotel. Ternyata di dalam
hotel juga sudah menunggu wanita muda dari toko lain dengan tujuan sama.
Tapi gadis ini fasih berbahasa Indonesia. Ternyata ia beremigrasi ke Brasil
bersama orang tuanya, ketika ia berumur tujuh tahun.
Rio de Janeiro mempunyai lima terowongan. Orang kaya
di pinggir pantai, sedangkan yang kurang berada di lereng-lereng bukit.
Namun, pemandu wisata kami menandaskan, biarpun tidak kaya, mereka membayar
pajak dan tinggal secara legal. Waktu itu AS $ 1 nilainya antara 1,67 - 1,69
real.
Rupanya, cuaca di Brasil mirip di Indonesia. Buah-buahan yang kami jumpai di
sana pun seperti di sini, yakni markisa, jambu biji, srikaya, dan pisang.
Setiap makan pagi, selalu ada buah srikaya.
Restoran khas Amerika Selatan selain menyajikan salad secara prasmanan, juga
mengedarkan macam-macam daging yang ditusuk besi panjang. Kalau mau,
dipotongkan beberapa iris di piring kami.
Selain pantai yang indah dan karnaval setahun sekali, Rio mempunyai dua
tempat wisata lain yang menjadi andalannya: Sugar Loaf Mountain dan patung
Yesus terbesar di dunia yang terletak di puncak bukit di tepi pantai.
Sugar Loaf Mountain merupakan bukit mirip roti Prancis yang berdiri. Untuk
mencapai puncaknya kami harus naik kereta gantung berkapasitas 75 orang.
Dari kejauhan kereta yang tergantung bebas antara dua titik tampak
mengerikan.
Patung Yesus terletak di atas Bukit Corcovado. Untuk mencapai tempat itu
kami harus naik kereta menyusuri bukit dengan pemandangan indah ke laut.
Waktu perjalanan sekitar 20 menit.
Kapasitas rangkaian kereta 124 penumpang. Setelah turun dari kereta di atas,
kami masih harus naik lagi dengan berjalan kaki. Untungnya, kiri kanan jalan
penuh pedagang kaki lima sehingga tidak terasa berat.
Sayangnya, saat itu patung sedang direnovasi sehingga penuh palang yang
malang-melintang. Ukuran patung Kristus yang menghadap ke laut itu rentangan
tangannya 28 m, dari podium sampai kepala 30 m, dan tinggi podium 8 m.
Ajang berpromosi
Tibalah malam karnaval. Sebetulnya karnaval berlangsung empat malam, namun
kami menonton malam ketiga, 5 Maret 2000.
Malam pertama untuk kelompok kanak-kanak, malam kedua parade kelompok,
sedangkan malam ketiga dan keempat untuk samba school khusus, yang
merupakan puncaknya. Disebut school (sekolah) tetapi sebetulnya
merupakan perkumpulan.
Tahun 1984 Rio membuat panggung pinggir jalan yang disebut Sambodromo dengan
kapasitas 80.000 penonton. Sepanjang tahun bangunan itu dimanfaatkan untuk
sekolah anak-anak miskin. Namun, setahun sekali panggung itu untuk menampung
penonton karnaval.
Dalam perjalanan ke tempat itu di pinggir jalan sudah ada anak-anak muda
membawa umbul-umbul perusahaan internet. Kalau di Jakarta banyak orang
mengelap mobil dengan harapan mendapat imbalan di lampu lalu lintas, di Rio
ada pria yang memperlihatkan kemahiran memain-mainkan bola (juggling)
dengan harapan serupa.
Sebelum masuk stadium kami mendapat kalung dengan tanda
pengenal dan kartu naik bus ke hotel andaikata kami tidak mau pulang bersama
kelompok. Bus sudah siap di depan lengkap dengan petugas pemberi petunjuk.
Waktu naik ke podium tempat duduk, kami mendapat buku promosi panjang kecil
berukuran 10 x 40 cm setebal 80 halaman penuh iklan. Petugas juga mengenakan
kaus karnaval beriklan. Ada iklan tunggal, ada juga iklan gabungan beberapa
perusahaan. Bahkan dari hotel kami juga mendapat kaos karnaval dengan nama
hotel kami dan iklan minuman di punggung. Waktu duduk, kami masih mendapat
sampel pil antisakit kepala. Pokoknya, kesempatan ini digunakan
habis-habisan untuk berpromosi.
Di belakang panggung ada sederetan toilet darurat dan
snackbar. Bila naik-turun tangga ke podium kami dibantu oleh
gadis-gadis cantik. Kami duduk berempat mengelilingi meja. Duduknya lega dan
pemandangan ke iring-iringan parade tidak teralang. Padahal dalam boks
sebelah, di atas dan di seberang jalan, penuhnya bukan main. Ada boks untuk
penonton berdiri, ada juga yang duduk di bangku panjang seperti menonton
sepakbola. Sebelum karnaval lewat, banyak penonton menari-nari dengan
iringan musik yang memekakkan telinga.
Di situ saya baru tahu bahwa harga tiket kami resminya AS $ 350. Karena kami
baru pesan bulan Desember, harganya AS $ 505! Satu di antara kami yang lebih
lambat memastikan ikut, harga karcisnya AS $ 550.
Untuk bisa mengikutinya sebetulnya orang tidak perlu merogoh kocek demikian
dalam, karena seluruh karnaval disiarkan langsung lewat TV nasional secara
lengkap.
Kostum dental floss
Delapan kelompok samba mulai jalan pukul 20.00 hingga matahari terbit.
Tiap kelompok bisa sampai 4.000 orang anggotanya, dan ada sepuluh kereta
peraga, masing-masing dengan tema yang sesuai dengan yang akan diperagakan
kelompoknya. Tema yang diperagakan malam itu ialah Permulaan Republik
Brasil, Segala Sesuatu Tertuju pada Samba di Brasil (Everything Turns to
Samba in Brasil), Kebudayaan Indian di Brasil, Zaman Republik, Absolutisme
dan Demonstrasi, Kebudayaan Afrika di Brasil, Warna Bendera Nasional, dan
terakhir President Getulio Vargas and Brasilian Workman.
Setiap kelompok dimulai dengan pengumuman kelompok mana yang akan datang.
Kemudian disusul nyala kembang api dengan latar belakang zeppelin melayang
yang mempromosikan ban (Good Year). Selanjutnya, pejalan kaki memberi hormat
kepada juri diikuti kereta pajang yang ditarik dan didorong orang. Selang
waktu antara dua kelompok ialah 45 menit.
Sulit untuk menceritakan betapa meriah karnaval itu. Bayangkan, hampir
25.000 peserta dengan kostum yang sama-sama indah dan megahnya melewati para
penonton dengan iringan musik meriah.
Pesertanya pun tak pandang bulu. Mulai kanak-kanak hingga nenek-kakek. Bagi
seorang turis mungkin sulit untuk menghayati setiap tema. Namun yang jelas,
ada kelompok serba tanaman dan binatang, dari kodok, kera, burung, bunga
mawar, bunga matahari. Ada kereta dengan wanita-wanita cantik yang
berpakaian minim (dental floss, kata orang) dengan dua lampu kecil di
tempat strategis, sehingga naik-turunnya tampak jelas.
Ada pula kelompok yang mengenakan topi seperti nampan dengan puding serta
kue. Bagi saya, pesan paling jelas ialah tema masa penindasan ketika ada
sensor pers yang digambarkan dengan guntingan koran yang ditandai coretan
merah dan rol film besar dengan gunting.
Itu salah satu yang ditampilkan school Caprichosos. Kelompok ini
memilih tema empat presiden terdahulu - yaitu Juscelino Kubitschek (JK),
Janio Quadros (JQ), Joao Goulart (JG), dan Fernando Collor de Mello - serta
perubahan sosial politik selama pemerintahan mereka.
Selain sensor terhadap pers, mereka memunculkan masa lalu penuh tekanan dan
tiadanya toleransi, sensor terhadap seniman, gerakan pelajar dan massa,
ilmuwan, dll. Tak lupa suasana selama pemilihan langsung presiden, kudeta
militer tahun 1964, dan impeachment terhadap Collor. Intinya, mereka
menekankan pentingnya kekuatan hukum dan akal sehat.
Memang karnaval sering dimanfaatkan untuk melemparkan kritik terhadap
pemerintah, meski tanpa melupakan hingar pesta. Seperti yang dilakukan
Caprichosos yang mengakhiri barisan dengan letupan sampanye dan anggur di
tangan para peserta berdasi hitam.
Selain yang berbau kritikan, ada pula kelompok yang melemparkan imbauan. Di
antaranya, untuk menjaga kelestarian hutan Brasil yang menjadi paru-paru
dunia, yang menampilkan peserta dengan kostum burung betet warna-warni.
Brasil yang mayoritas penduduknya berkulit hitam juga dikenal sebagai Land
of the Parrots. Gelar ini dilontarkan oleh pelaut Portugis saat pertama kali
menginjakkan kaki di daratan Brasil 500 tahun silam.
Meski karnaval tahun ini mengajukan beberapa tema, para peserta tidak
menghadapi kesulitan. Itu karena mereka punya 71 tahun pengalaman, sejak
parade pertama tahun 1929, terus berulang menceritakan berbagai aspek
perjalanan sejarah bangsa kulit hitam terbesar di luar benua Afrika itu.
Mereka akan menampilkan tontonan yang berbeda dari sebelumnya, meski dari
tema yang sama. Selalu ada sudut pandang artistik baru yang segar dan ...
mengejutkan!
Karnaval, pesta untuk semua
Bagi orang Brasil, karnaval merupakan peristiwa yang sangat penting. Bahkan
menjadi kelompok pemenang karnaval sama nilainya seperti bila Brasil
memenangkan Piala Dunia.
Tak heran bila hari-hari karnaval menjadi hari libur. Yang bekerja hanya
mereka yang ada hubungannya dengan peristiwa itu.
Karnaval usai. Tapi tidak berarti orang Brasil akan beristirahat sementara.
Justru saat itu orang mulai memikirkan karnaval tahun berikut. Orang mulai
menggali tema baru, mencari dana dan sponsor. Konon orang yang
berpenghasilan AS $ 70 sebulan tidak segan-segan untuk menyisihkan AS $ 10
asalkan bisa ikut karnaval.
Kalau dulu bisnis kostum karnaval masih dibuat penjahit rumahan, sekarang
sudah menjadi big business. Bayangkan, untuk satu kelompok saja ada
3.000 - 5.000 orang yang harus didandani dari ujung kepala sampai ujung
kaki. Itu berarti ratusan model berlainan yang akan menghabiskan berton-ton
baja, berkilometer bahan dan entah berapa drum cat dan lem.
Sudah sering kita mungkin menonton karnaval lewat televisi dan melihat
kemeriahannya. Namun, bagi saya yang paling mengharukan ialah suasana tekad
bulat rakyat Brasil untuk membuat karnaval suatu pesta yang mengesankan bagi
seluruh rakyat. Tua, muda, kaya, maupun miskin. (I)
Boks : Sejarah Sekolah Samba
|
|||||
|
|
|||||