|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
Ketoprak Humor, Jampi Stres Penuh Canda Kesenian tradisional memang harus berkompromi dan beradaptasi agar bisa bertahan. Ketoprak Humor, Ketoprak Canda, Ketoprak Jampi Stres, atau Ketoprak Plesetan relatif berhasil melakukannya melalui televisi. Namun, selain mendatangkan kemakmuran bagi pemain dan para anggota, modifikasi yang terlalu jauh bisa disalahartikan, yang namanya ketoprak asli, ya, seperti itu. Orang bisa bersoal menyaksikan tayangan Ketoprak Humor di RCTI setiap Sabtu malam. Durasi penayangannya dua jam, dan menjadi 2,5 jam dengan iklan. Bagaikan masa putar sebuah film di Layar Emas saja. Kalau sebuah acara rutin bisa bertahan hampir dua tahun (sejak tayang perdana Oktober 1998), pasti mampu menghasilkan keuntungan (besar). Apalagi ditambah embel-embel keberhasilan sebagai muatan lokal, memberi nafkah rutin bagi para pendukungnya, dan barangkali keuntungan dari efek publikasi. Ketoprak Canda yang muncul setiap Minggu malam dalam durasi satu jam di Indosiar, adalah gambaran serupa meski dikesankan beda. Tayangan yang dimotori oleh Basuki dan Kadir Mubarak ini penjelmaan dari Ketoprak Jampi Stres yang dulu mengudara melalui SCTV. Dua acara itu sama-sama ketoprak yang dimodifikasi, sama-sama didominasi pelawak. Bedanya, dilihat dari kesuksesannya sebagai mata acara TV. Tidak dipungkiri, perbedaan itu bisa jadi karena keduanya memang dipersaingkan oleh stasiun televisi. Bersaing secara kelembagaan Menurut data Survey Research Indonesia, salah satu lembaga pemeringkat acara televisi, akhir Juni 2000, rating (peringkat) Ketoprak Canda 5. Artinya, acara itu ditonton oleh 5% dari sejumlah pemirsa di beberapa kota yang disurvai. Sementara Ketoprak Humor mengumpulkan rating 9. "Itu termasuk rendah. Sebab kami pernah mencapai 13," kata Masitoh Hanum, produsernya di RCTI. Rating adalah indikator keberhasilan komersial sebuah mata acara, yang kadang dianggap amat vital oleh para pengambil kebijakan di stasiun televisi, para pembuat program, maupun pengiklan. Persaingan antara keduanya - maupun dengan kesenian modifikasi lain - lantas tak terhindarkan. Kies Slamet (60), penari tiga zaman yang tokoh Wayang Orang Bharata dan salah satu pendiri Ketoprak Humor Samiaji, menjelaskan, "Ketoprak Canda memang serius menyaingi kami. Itu sudah sejak Jampi Stres dulu. Tapi tidak apa-apa. Saya malah ambil positifnya, karena dengan begitu makin banyak pemain bisa ikut sehingga mendapat nafkah." Dari pihak Ketoprak Canda pun muncul tanggapan yang sama positifnya. "Saya tetap bersyukur karena dengan begitu ada wadah untuk menjalankan profesi," kata Kadir Mubarak. Di Ketoprak Canda Kadir adalah koordinator. Itu sebabnya, ia tidak pernah tampil di Ketoprak Humor. Hal yang sama terjadi pada pihak sebaliknya. Ketoprak Humor Samiaji yang didirikan oleh 14 orang, tujuh orang di bagian manajemen dan tujuh artis panggung, melarang para pendiri untuk tampil di Ketoprak Canda. Tujuh artis pendiri itu adalah Timbul Suhardi, Tarzan, Nurbuat, Leysus, Eko D.J., Doyok Sudarmaji, dan Kies Slamet. Anggota lain diperbolehkan, dan nyatanya pemain kedua kelompok itu acap bergantian. Secara kelembagaan mereka memang terpisah. Tapi tidak secara individual. "Itu hanya untuk keperluan dua ketoprak itu, lo. Sebab di Srimulat kami bersama-sama. Begitu pula kalau ada job di luar, tanpa pakai nama ketoprak," jelas Timbul. Ketoprak gobyog dan reuni Srimulat Ketoprak Humor adalah contoh keberhasilan. Sebuah kebetulan, karena awalnya seperti tak terbayangkan. Dua belas tahun lamanya, sejak 1986, Timbul dkk. menggelar Ketoprak Gobyog Campursari di Taman Mini Indonesia Indah. "Gobyog artinya segala macam, yang serius, yang lawak, modifikasi cerita dan gending, perubahan gaya manggung, diaduk jadi satu dan ditampilkan," tambah Timbul. Pentas sekali sebulan itu memang terbilang sukses dan mampu membentuk komunitas penonton. Stamina terjaga selama 12 tahun, namun tetap tak bergaung. Sampai datang RCTI dan mengusungnya menjadi tontonan televisi pada 1998. Kontrak dibuat sebanyak 13 episode, dan diperpanjang setiap akhir masa kontrak. Sampai lakon Gagak Solo tayangan 15, kelompok ini telah tampil dalam 88 episode. Televisi lantas menjadi semacam "etalase", memberi peluang pihak lain untuk "membeli" para pemain. Jadi model iklan, main sinetron, bahkan menjadi pemandu acara. "Duet kakak-adik Topan dan Leysus, misalnya, sekarang 'kan moncer. Padahal dulu ndak ada yang tahu mereka," kata Timbul bangga. Ketoprak Canda pun diuntungkan dan menguntungkan pemainnya. Untuk ini, pemilik andil yang tak bisa diabaikan adalah Kadir. Namun, kalau ditarik ke belakang, semua tokoh itu tak bisa mengingkari "roh" Srimulat yang mula-mula menjadi wadah mereka. "Pabrik tawa" yang pernah berjaya di Surabaya, Semarang, Solo, dan Jakarta itu pudar pamornya mendekati dasawarsa 1990-an. Cabang Jakarta dinyatakan bubar, anggotanya tercerai-berai. Terima kasih kepada Kadir Mubarak. Atas inisiatifnya, pada 1994 diadakan reuni. "Kebetulan saya punya tabungan, juga keuntungan usaha kontraktor kecil-kecilan. Maka, saya ajak teman-teman untuk main, ternyata berhasil," cerita Kadir. Dari pentas reuni itu, kesempatan tampil (kembali) di televisi pun terbuka. Seperti pola yang dilakukan TVRI dulu, stasiun TPI merekam dan menayangkannya. Sayang, gemanya kurang. Akhirnya, Indosiar mengambil alih. Ini sejalan dengan rutinnya berbagai acara kesenian tradisional muncul di stasiun televisi itu. Pola penampilan pun pada awalnya sama dengan aneka kesenian tradisional lain, yakni pentas di berbagai tempat dan direkam untuk kemudian disiarkan. Baru belakangan, pengambilan gambar dilakukan di studio. Kadir tetap menjadi koordinator. Cara itu dia teruskan ketika membentuk dan memainkan Ketoprak Jampi Stres dan berlanjut dengan Ketoprak Canda. Sementara di sisi lain ada kelompok yang kemudian membentuk Ketoprak Humor Samiaji. "Kelanjutan cerita" bisa ditebak, keduanya bersaing. Berubah, tapi tetap pada pakem Menarik membicarakan lakon di setiap penampilan. Ketoprak Humor yang tak pernah mengulang cerita menunjukkan kuatnya perbendaharaan bahan. Heru P., sutradara Ketoprak Humor Samiaji menerangkan, buku, cerita, risalah, dan kliping aneka macam cerita dia punya. "Belum lagi hasil pengetahuan di masa lalu, karena pada dasarnya ketoprak adalah dunia kami sejak kecil," ujarnya. Atas nama humor, cerita yang di ketoprak tradisional begitu serius, menjelma menjadi pentas "ger-geran". Apalagi ada bintang tamu, kaum tenar yang diajukan oleh stasiun televisi. "Meski kelihatan semrawut dan penuh guyon, kami tetap berpegang pada kaidah dasar ketoprak," kata Timbul. "Setiap pakeliran, misalnya menampilkan seorang adipati, ya, harus kelihatan berwibawa. Ada hulubalang yang berjajar, dan letaknya selalu di kanan panggung karena pihak yang datang selalu muncul dari sisi kiri arah pandang penonton. Gendingnya juga benar, bukan musik elektronik semacam keyboard. Sebab kalau pakai itu, bukan ketoprak namanya." Timbul menambahkan, kelucuan yang tercipta tetap terbatas, tidak memberi kesempatan seorang bawahan, misalnya, kelewatan bercanda dengan seorang petinggi. Tak kalah penting adalah masalah I>casting dan tata busana. Kies Slamet, penanggung jawab busana dan kadang menentukan pemilihan pemeran menjelaskan, "Bintang tamu pun kami pilihkan berdasarkan karakter yang cocok." Soal bahasa disinggung oleh Kies Slamet, itu memang bagian dari adaptasi, meski atmosfer Jawa tetap kuat mewarnai. "Sejalan dengan perubahan aspek teatrikal dan dramaturgi yang berbeda dengan ketoprak tradisional, dialog tak lagi dengan nada dan intonasi gaya lama, tetapi secara biasa seperti drama." Pola paguyuban Hadir rutin di televisi, disertai rezeki susulan karena dampak publikasi, menyiratkan perolehan rutin pula bagi para pendukung. Jumlahnya memang tidak secara eksplisit disampaikan. Apalagi jika ditangkap penjelasan Masitoh Hanum, nilai kontrak terus bertambah. "Setiap perpanjangan kontrak angkanya selalu naik," kata Hanum, produser yang menangani Ketoprak Humor sejak pertama kali tayang, namun menolak menyebut angka. Setiap pementasan selalu menyertakan banyak orang. Samiaji yang mendata 65 anggota hampir selalu menyertakan semuanya. Pertimbangannya, sebagaimana disampaikan Agus, salah seorang pimpinan Yayasan Samiaji, "Sebetulnya, tidak semua cerita perlu banyak pemain. Tapi namanya paguyuban, kami selalu membagi kesempatan secara rata." Kesempatan berarti nafkah. Pantas Tessy Kabul yang belum seminggu usai menjalani operasi, sudah tampil lagi. "Aku sudah sehat, kok. Ini, operasi hernia, cuma agak aneh. Kalau biasanya turun berok, kata teman-teman aku malah naik berok," ujarnya dalam mimik serius. Bukan hukum kesenian Keberhasilan ketoprak berkompromi dan memodifikasi diri disoroti oleh Sal Murgiyanto, pakar tari dan pengamat seni pertunjukan, pengajar pada Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta. Menurut Sal, sebagai mata acara televisi, acara itu berhasil mencapai target, yaitu penonton. "Bagi televisi swasta, acara semacam itu memang menghasilkan dua keuntungan sekaligus. Memenuhi tuntutan muatan lokal, dan di sisi lain memenuhi tuntutan uang." Di televisi swasta, sambung Sal, hukum dan ukuran yang dipakai adalah hukum dagang. Bukan hukum kesenian. Maka, membicarakan ketoprak modifikasi menjadi tidak mengena kalau kita memakai hukum kesenian. "Nilai-nilai menjadi tidak penting, karena hukumnya seperti sitcom (situational comedy). Ibarat makan junk food, rasanya memang enak dan digemari. Karena dinikmati oleh banyak orang, membicarakan rendahnya kandungan gizi menjadi tidak relevan lagi." Tapi, atas nama kesenian, apakah kita tidak boleh mempertanyakannya? "Saya tidak bisa mengubah prinsip televisi swasta, juga tidak menafikan argumen para pemain ketoprak itu, bahwa mereka juga punya visi menampilkan kesenian secara hakiki. Namun tetap saja, yang di televisi itu hanyalah hiburan." Sal paham, kesenian hakiki yang "bergizi", memang tidak bisa semenarik hiburan. Namun ia menekankan, apakah lantas yang hakiki bisa ditinggal begitu saja? "Barangkali kita bisa mencontoh apa yang dilakukan pemerintah di negara maju. Mereka membuat produk kesenian yang benar, dan disiarkan oleh televisi publik. Nah, penonton yang membutuhkan nutrisi, tidak semata-mata hiburan, bisa menyaksikannya di televisi publik." Menurut Sal, hasrat untuk memperoleh sesuatu yang "bergizi" biasanya terdapat pada masyarakat kelas menengah. "Jadi kuncinya ada di pendidikan. Orang yang berpendidikan tinggi, tentu tak puas jika melulu mengkonsumsi hiburan. Ia akan mencari sesuatu yang bernilai lebih. Di negara maju, itu tugas pemerintah untuk menyediakannya." Hal lain yang disoroti Sal adalah panjangnya masa vakum antara kesenian tradisional yang kini pudar, dengan munculnya kesenian modifikasi yang lahir karena faktor ekonomi. Bagi orang yang dulu tak sempat kenal kesenian tradisional dalam bentuk asli, dan tahu-tahu sekarang menerima bentuk yang sudah dimodifikasi, salah-salah akan menganggap yang sekaranglah yang benar. Ia mencontohkan anak muda Jakarta yang kaget menyaksikan lenong dalam sebuah pentas seni. Kembali ke ketoprak hiburan, Timbul Suhardi mengingatkan hal yang senada dengan Sal. "Kalau ada persepsi yang keliru, menganggap ketoprak yang seperti kami mainkan ini yang benar-benar ketoprak, ya, tugas kitalah untuk meluruskan. Menjelaskan, ini adalah bentuk yang sudah diubah. Yang sebenarnya adalah yang begini atau begitu." Tapi, yang mana? (G. Sujayanto/Mayong S. Laksono) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||