|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
MAUT
DI BALIK REZEKI SI LEHER SENDOK
Kejadian yang menimpa Rois Makmun, penjual ramuan kobra yang biasa mangkal
di Jl. Pahlawan, Surabaya, akhir Juni tahun silam kiranya patut menjadi
gambaran betapa berbahayanya profesi tersebut.
Siang itu seperti biasa Rois melayani pembeli yang minta dibuatkan ramuan
kobra. Tiba-tiba Rois menjerit kesakitan. Rupanya saat mengambil ular dari
keranjang, binatang itu menggigit jarinya. Selang 15 menit, mendadak Rois
terhuyung-huyung, lalu merintih kesakitan, sambil memegang pangkal lengan.
Ia segera dibawa ke RS Adi Husada. Namun, takdir berkata lain. Rois
meninggal saat itu juga.
Barangkali kejadian mengenaskan itu bukan yang pertama bagi para penjual
kobra. Namun bayangan meraup rezeki yang melimpah sepertinya menutupi risiko
besar di baliknya.
Tingkatkan gairah seks
Kalau menyimak pembicaraan dari mulut ke mulut konon kobra punya khasiat
yang dikenal yahud. Seluruh organ kobra diyakini mampu menyembuhkan
sekaligus menangkal datangnya penyakit. Empedu dan lulurnya manjur untuk
menyembuhkan sakit pinggang. Daging serta lemaknya berguna untuk
menanggulangi gatal-gatal atau koreng. Darahnya bisa menyembuhkan penyakit
dalam, sementara otaknya konon mampu meningkatkan gairah seksual.
Noto (35), penjual ramuan kobra yang biasa mangkal di depan Kantor Pemda
Tingkat I Jawa Timur mengakui, tiap hari banyak pembeli datang ke tempatnya.
Pelanggannya datang dari berbagai kalangan. "Paling apes sehari
memotong enam ekor. Kalau lagi ramai bisa 15 - 20 ekor," ujar Noto.
Rata-rata seporsi ramuan dijual seharga Rp 20 ribu. Boleh diminum di tempat
atau dibawa pulang. Ia tak pernah kehabisan stok, karena selalu dipasok oleh
penangkar dan pencari kobra dari hutan Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban.
Karena penghasilan yang ditangguk dalam sehari tergolong lumayan, Noto
enggan beralih profesi kendati sadar apa yang dilakoninya kental risiko.
Ia bukannya tidak menyadari bahaya. Apa yang menimpa Rois Makmun, rekan
seprofesinya membuatnya lebih waspada dan berhati-hati walaupun hampir tiap
hari bahaya itu mengancamnya. Baginya dipatuk ataupun disembur kobra ibarat
makanan sehari-hari. Sebagai bukti ia membuka bajunya dan menunjukkan
beberapa bekas luka di dada, perut, tangan, dan kakinya.
Tetap dipatuk, meski berjimat
Noto kemudian membuka rahasia. Untuk meredam dampak racun ia selalu
mengenakan jimat berupa ikat pinggang dari kain yang disebut dengan sabuk
sikep. Namun, itu belum jaminan. Ia menceritakan pengalaman digigit kobra
yang nyaris membuat nyawanya melayang. Saat itu ia tengah diwawancarai
wartawan dari sebuah majalah ibukota. Selesai wawancara sang wartawan
berniat mengambil gambar anak Noto yang berpose dengan beberapa kobra
piaraannya. Mendadak ular yang dililitkan di leher anaknya berubah beringas.
Dengan cepat Noto menyambarnya. Tak urung tangannya sendiri dipatuk binatang
melata berleher seperti sendok itu.
Reaksinya sungguh cepat. Baru beberapa menit racun itu telah menjalar ke
pangkal lengan, sementara detak jantung makin cepat disertai rasa mual yang
hebat. Berbekal kemampuannya, luka gigitan itu dihisap hingga darah yang
terasa pahit keluar. Untuk menghilangkan pengaruh racun, luka itu kemudian
disayat pisau dan dibakar. Berhari-hari Noto telentang di tempat tidur.
Padahal waktu digigit, "sabuk sikep" andalannya diikatkan di
pinggang. Untung, dua minggu kemudian kondisi tubuhnya pulih. "Dari
beberapa kali dipatuk, kejadian itu yang paling parah," kenang Noto
yang sudah empat tahun menekuni profesi ini.
Pengalaman tak mengenakkan juga dialami Agus (34), penjual organ kobra yang
sering pindah dari kota ke kota. Waktu digigit ia tengah berdemonstrasi
dengan ularnya untuk menarik datangnya pengunjung. Untunglah Agus punya
sedikit "kemampuan" sehingga masih dapat mengatasi serangan racun.
"Untunglah tidak sampai pingsan di tempat," ujar pria Solo yang
juga ahli dalam hal pengobatan alternatif korban gigitan binatang berbisa
ini.
Jangankan Noto atau Agus yang baru beberapa tahun mengakrabi kobra. Seorang
yang dijuluki raja pawang pun hampir menemui ajal di ujung taring si leher
sendok. Ironisnya, yang mematuk adalah kobra piaraannya yang notabene sudah
lama diakrabi. Itulah yang dialami Randy Cobra, bapak dua anak, yang juga
membuka warung ramuan kobra di Jl. Kayun, Surabaya.
Tengah malam sekitar tiga tahun lalu lengannya digigit kobra piaraannya
ketika tengah memberi makan. Awalnya ia tenang-tenang saja. Sebagai seorang
yang mendapat julukan raja pawang, digigit berbagai macam hewan berbisa
sudah bukan hal yang asing lagi. Namun ternyata setengah jam kemudian
perutnya mual, lukanya bertambah nyeri dan lantas menjalar ke atas lengan.
Hampir saja ia pingsan lantaran tak kuat menahan pusing yang hebat. Dengan
sisa tenaga ia melakukan terapi pengobatan cara tradisional seperti yang
dilakukan Noto.
Buntutnya, raja pawang itu tidak bisa bekerja seminggu lamanya, karena
selama itu kondisinya lemah dan tak berdaya untuk bergerak. "Waktu itu
saya sudah pasrah. Bayangan saya, kalau enggak mati ya lumpuh," kata
Randy, yang juga menyediakan ramuan sanca dan piton ini.
Madu buang amis dan anyir
Para penjual itu mengakui, keterampilan meramu didapat dengan belajar
sendiri. Soal komposisi ramuan tak dipedulikan, nyatanya tak ada keluhan
dari konsumennya.
Sebelum diramu, kobra itu dipotong kepalanya sampai putus, darahnya
ditampung ke dalam gelas plastik seukuran gelas air mineral. Kemudian
dikuliti hingga bersih. Caranya sederhana, bagian leher dijepit kayu,
ekornya digigit. Setelah itu badan ular yang mulus dirobek untuk diambil
organnya satu persatu, lalu diaduk menjadi satu dengan darah. Ramuan organ
itu masih ditambah dengan beberapa tuangan cairan yang sudah disiapkan,
hingga siap minum. Tiga sendok makan madu ditambahkan untuk mengurangi bau
anyir dan rasa pahit.
Mau coba? |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||