globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MAUT DI BALIK REZEKI SI LEHER SENDOK  

Risiko el maut agaknya mengintai para penjual ramuan kobra. Namun para pedagang tak hirau lantaran kilapan rejeki di baliknya.

Melihat aktivitas penjual ramuan organ ular kobra yang sering dijumpai di pasar atau emperan toko, pernahkah terbersit di benak kita kalau sebenarnya mereka sedang bercumbu dengan maut? Pasalnya, tidak semua pengais rezeki itu mempunyai keahlian cara memegang ular. Padahal yang mereka hadapi adalah salah satu jenis ular berbahaya dan punya naluri kuat membunuh.

Kejadian yang menimpa Rois Makmun, penjual ramuan kobra yang biasa mangkal di Jl. Pahlawan, Surabaya, akhir Juni tahun silam kiranya patut menjadi gambaran betapa berbahayanya profesi tersebut.

Siang itu seperti biasa Rois melayani pembeli yang minta dibuatkan ramuan kobra. Tiba-tiba Rois menjerit kesakitan. Rupanya saat mengambil ular dari keranjang, binatang itu menggigit jarinya. Selang 15 menit, mendadak Rois terhuyung-huyung, lalu merintih kesakitan, sambil memegang pangkal lengan. Ia segera dibawa ke RS Adi Husada. Namun, takdir berkata lain. Rois meninggal saat itu juga.

Barangkali kejadian mengenaskan itu bukan yang pertama bagi para penjual kobra. Namun bayangan meraup rezeki yang melimpah sepertinya menutupi risiko besar di baliknya.

Tingkatkan gairah seks

Kalau menyimak pembicaraan dari mulut ke mulut konon kobra punya khasiat yang dikenal yahud. Seluruh organ kobra diyakini mampu menyembuhkan sekaligus menangkal datangnya penyakit. Empedu dan lulurnya manjur untuk menyembuhkan sakit pinggang. Daging serta lemaknya berguna untuk menanggulangi gatal-gatal atau koreng. Darahnya bisa menyembuhkan penyakit dalam, sementara otaknya konon mampu meningkatkan gairah seksual.

Noto (35), penjual ramuan kobra yang biasa mangkal di depan Kantor Pemda Tingkat I Jawa Timur mengakui, tiap hari banyak pembeli datang ke tempatnya. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan. "Paling apes sehari memotong enam ekor. Kalau lagi ramai bisa 15 - 20 ekor," ujar Noto.

Rata-rata seporsi ramuan dijual seharga Rp 20 ribu. Boleh diminum di tempat atau dibawa pulang. Ia tak pernah kehabisan stok, karena selalu dipasok oleh penangkar dan pencari kobra dari hutan Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban. Karena penghasilan yang ditangguk dalam sehari tergolong lumayan, Noto enggan beralih profesi kendati sadar apa yang dilakoninya kental risiko.

Ia bukannya tidak menyadari bahaya. Apa yang menimpa Rois Makmun, rekan seprofesinya membuatnya lebih waspada dan berhati-hati walaupun hampir tiap hari bahaya itu mengancamnya. Baginya dipatuk ataupun disembur kobra ibarat makanan sehari-hari. Sebagai bukti ia membuka bajunya dan menunjukkan beberapa bekas luka di dada, perut, tangan, dan kakinya.

Tetap dipatuk, meski berjimat

Noto kemudian membuka rahasia. Untuk meredam dampak racun ia selalu mengenakan jimat berupa ikat pinggang dari kain yang disebut dengan sabuk sikep. Namun, itu belum jaminan. Ia menceritakan pengalaman digigit kobra yang nyaris membuat nyawanya melayang. Saat itu ia tengah diwawancarai wartawan dari sebuah majalah ibukota. Selesai wawancara sang wartawan berniat mengambil gambar anak Noto yang berpose dengan beberapa kobra piaraannya. Mendadak ular yang dililitkan di leher anaknya berubah beringas. Dengan cepat Noto menyambarnya. Tak urung tangannya sendiri dipatuk binatang melata berleher seperti sendok itu.

Reaksinya sungguh cepat. Baru beberapa menit racun itu telah menjalar ke pangkal lengan, sementara detak jantung makin cepat disertai rasa mual yang hebat. Berbekal kemampuannya, luka gigitan itu dihisap hingga darah yang terasa pahit keluar. Untuk menghilangkan pengaruh racun, luka itu kemudian disayat pisau dan dibakar. Berhari-hari Noto telentang di tempat tidur. Padahal waktu digigit, "sabuk sikep" andalannya diikatkan di pinggang. Untung, dua minggu kemudian kondisi tubuhnya pulih. "Dari beberapa kali dipatuk, kejadian itu yang paling parah," kenang Noto yang sudah empat tahun menekuni profesi ini.

Pengalaman tak mengenakkan juga dialami Agus (34), penjual organ kobra yang sering pindah dari kota ke kota. Waktu digigit ia tengah berdemonstrasi dengan ularnya untuk menarik datangnya pengunjung. Untunglah Agus punya sedikit "kemampuan" sehingga masih dapat mengatasi serangan racun. "Untunglah tidak sampai pingsan di tempat," ujar pria Solo yang juga ahli dalam hal pengobatan alternatif korban gigitan binatang berbisa ini.

Jangankan Noto atau Agus yang baru beberapa tahun mengakrabi kobra. Seorang yang dijuluki raja pawang pun hampir menemui ajal di ujung taring si leher sendok. Ironisnya, yang mematuk adalah kobra piaraannya yang notabene sudah lama diakrabi. Itulah yang dialami Randy Cobra, bapak dua anak, yang juga membuka warung ramuan kobra di Jl. Kayun, Surabaya.

Tengah malam sekitar tiga tahun lalu lengannya digigit kobra piaraannya ketika tengah memberi makan. Awalnya ia tenang-tenang saja. Sebagai seorang yang mendapat julukan raja pawang, digigit berbagai macam hewan berbisa sudah bukan hal yang asing lagi. Namun ternyata setengah jam kemudian perutnya mual, lukanya bertambah nyeri dan lantas menjalar ke atas lengan. Hampir saja ia pingsan lantaran tak kuat menahan pusing yang hebat. Dengan sisa tenaga ia melakukan terapi pengobatan cara tradisional seperti yang dilakukan Noto.

Buntutnya, raja pawang itu tidak bisa bekerja seminggu lamanya, karena selama itu kondisinya lemah dan tak berdaya untuk bergerak. "Waktu itu saya sudah pasrah. Bayangan saya, kalau enggak mati ya lumpuh," kata Randy, yang juga menyediakan ramuan sanca dan piton ini.

Madu buang amis dan anyir

Para penjual itu mengakui, keterampilan meramu didapat dengan belajar sendiri. Soal komposisi ramuan tak dipedulikan, nyatanya tak ada keluhan dari konsumennya.

Sebelum diramu, kobra itu dipotong kepalanya sampai putus, darahnya ditampung ke dalam gelas plastik seukuran gelas air mineral. Kemudian dikuliti hingga bersih. Caranya sederhana, bagian leher dijepit kayu, ekornya digigit. Setelah itu badan ular yang mulus dirobek untuk diambil organnya satu persatu, lalu diaduk menjadi satu dengan darah. Ramuan organ itu masih ditambah dengan beberapa tuangan cairan yang sudah disiapkan, hingga siap minum. Tiga sendok makan madu ditambahkan untuk mengurangi bau anyir dan rasa pahit.

Mau coba? (Kukuh Setyo Wibowo)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej