|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
MEMPERHATIKAN HAL-HAL KECIL
Menjadi pengawas lapangan pelaksanaan proyek penggantian jembatan bukan hal
luar biasa bagiku. Semasa kuliah aku sudah magang di proyek serupa. Tapi
tinggal di lokasi proyek yang terpencil benar-benar menjengkelkan. Proyek
kami di Desa Beji Lor jalur Boyolali - Solo, Jawa Tengah. Dua kilometer ke
kiri dan kanan lokasi tak ada satu pun rumah. Satu-satunya bangunan
"mirip" rumah adalah Direksi Kit kami, tempat ngantor
pelaksana dan pengawas proyek. Sisanya, cuma pohon pinus dan entah pohon apa
lagi.
Jalur itu amat sepi, terkadang saja penduduk lewat. Siapa dan kapan lewat,
kami hapal. Bidan muda lewat pukul 08.15, naik sepeda biru sambil sesekali
menarik rok putihnya yang kerap tersingkap karena gerakan kaki. Disusul dua
puluh menit kemudian oleh Pak Sodik, penjual kerupuk, yang berjaket ungu
membawa kerupuk warna-warni dibungkus plastik setinggi 1 m di jok belakang
sepeda motor merahnya. Dari jauh ia seperti permen. Pukul 10.20 tepat, lewat
mobil putih yang dikemudikan laki-laki berbaju putih. Lucunya, kepala
laki-laki itu nyaris kotak seperti magic jar.
Di hari Sabtu, dari pagi sampai sore, banyak kendaraan mengangkut anak muda
dengan backpack besar menuju Selo, tempat singgah terakhir bagi yang
akan mendaki G. Merapi atau Merbabu. Biasanya mereka lewat sambil bernyanyi
atau berteriak-teriak dengan wajah ceria. Tapi, di Senin pagi mereka akan
kembali dengan wajah kusut masai, kelelahan.
Selama pelaksanaan proyek kami tinggal di mess kantor. Memang bukan mess
sebenarnya, tapi cuma dua kamar sewaan dari Serka Joko, Kepala Pos Polisi
daerah Selo. Aku tinggal dengan Bayu Klakson (karena suka memencet klakson
saat mengemudi) dan Anton Bubur (karena suka makan bubur). Dalam struktur
organisasi mereka anak buahku, tapi kami lebih merasa sebagai teman.
Daerah Selo seperti pusat kegiatan dari daerah atau desa sekitarnya, meski
tak kalah sepi dibanding lainnya. Cuma ada tiga toko kelontong, enam los
pasar, tiga warung makan - salah satunya merangkap tempat cukur -, dan satu
pos polisi. Tempat itu melingkari tanah lapang yang jadi terminal dan tempat
parkir. Rumah-rumah tinggal sangat berjauhan. Untungnya, telepon sudah
masuk, sehingga kami tak merasa terasing.
Dipukul benda tumpul
Ketukan keras di pintu kamar membangunkanku. Masih pukul 01.00. Ketukan
susulan membuatku segera bangkit untuk membuka pintu. Tampak wajah Bayu
Klakson agak ketakutan. Kulihat matanya melirik pelan ke samping. Tampak
Serka Joko berdiri agak jauh dari pintu kamar dengan pakaian dinas lengkap
dengan pistol, sambil tangannya memegang jaket.
"Ada apa, Pak?"
"Kami mau pinjam mobil proyek, Pak Insinyur. Ada pembunuhan di Dusun
Damar. Anak buah sudah saya perintahkan ke TKP. Mungkin kami akan butuh
mobil untuk mengangkut jenazah ke Boyolali."
Segera kuambil kunci mobil, tiba-tiba terlintas pikiran lain.
"Boleh kami ikut, Pak?"
"Tentu!"
Dalam perjalanan ke TKP aku baru tahu, Pak Joko menerima laporan pembunuhan
dari pembantu rumah korban. Mulanya pembantu itu diikat, entah bagaimana ia
bisa lepas dan lari sejauh 5 km menuju pos polisi Selo.
Kami masuk ke halaman rumah yang cukup besar. Di Dusun Damar banyak terdapat
vila atau rumah peristirahatan orang-orang kaya dari Salatiga dan Semarang.
Korban, lelaki tua, tampaknya dianiaya sebelum dibunuh. Ada darah di bagian
kepala dan dada. Di dada tampak warna coklat tua berbentuk bulat. Ternyata
gagang pisau, yang menancap demikian kuat hingga jarak pantat gagang dan
tubuh korban tinggal 0,5 cm.
"Perampokan," Pak Joko bergumam.
"Kata pembantu, TV, VCD player, tape, hilang, Pak,"
lapor Sertu Santoso, salah satu anak buah Pak Joko.
"Apa lagi katanya?"
"Perampok masuk dengan mendobrak pintu belakang. Saat bangun dan
mencari arah suara, ia langsung disekap. Para perampok menuju kamar utama,
mendobrak pintu kamar, menganiaya, membunuh, mengambil barang-barang, dan
kabur."
Kulihat bagian kunci pintu-pintu itu rusak, malah satu engsel pintu kamar
jebol.
"Bagaimana alibi si pembantu?" lanjut Pak Joko.
"Perempuan 60 tahun akan sulit mendobrak pintu, Pak."
"Siapa tahu ia punya teman."
"Ia mengaku baru tiga minggu kerja di sini."
"Korban punya keluarga?"
"Ada, Pak. Di Semarang."
"Hubungi dan cek keterangan si pembantu pada keluarga."
Sertu Santoso segera kembali ke kantor. Di ruangan tinggal Pak Joko, Bayu,
Anton, dan aku. Anak buah Pak Joko menyisir lokasi TKP untuk mencari bukti
yang tertinggal.
Lalu Pak Joko ke ruang makan tempat pembantu ditempatkan. Bayu, Anton, dan
aku mengelilingi mayat itu.
"Apa yang kaupikirkan, Ton?" tanyaku.
"Kasar, brutal, dan cepat sekali."
Lokasi rumah yang jauh dari tetangga, memungkinkan orang berbuat apa saja
tanpa diketahui.
"Menurutmu luka di kepalanya karena apa, Mas?"
Kudekatkan wajah ke pelipis kiri mayat sampai hanya berjarak 3 cm. Tampak
retakan tak beraturan di tengkoraknya. Kuduga, ia dipukul dengan benda
tumpul berbentuk silinder.
"Apakah palu, Mas?"
"Bisa palu, anak timbangan, atau batu berbentuk khusus."
Bayu pun mendekat ke kepala mayat itu.
"Tapi melihat dalamnya luka, setidaknya ia dipukul dengan keras sekali.
Untuk mendapatkan gaya yang besar akan lebih mudah bila benda pemukul itu
bergagang."
"Yah, melihat lukanya, yang paling mungkin memang palu, atau mirip
palu," kataku sambil beringsut menjauhi mayat.
Pak Joko ke kamar dan berkata, "Perampoknya tiga orang bertubuh kekar.
Mereka berpakaian ala ninja dengan wajah tertutup sarung. Dari dialeknya
mungkin bukan orang sini."
Setelah mengantar aku dan Anton, Bayu dan Pak Joko membawa mayat korban ke
Boyolali untuk divisum, sambil melapor ke Polsek dan Polres.
Seperti dugaanku, kabar pembunuhan ini cepat tersebar ke seluruh Selo dan
desa sekitarnya. Ketika esok paginya aku mampir ngopi di warung sudah
terdengar pembicaraan bertopik pembunuhan itu, disertai bumbu-bumbunya.
Di lokasi proyek peristiwa itu pun jadi gunjingan. Malah dilengkapi dengan
prediksi siapa korban selanjutnya. Mengingat ada beberapa vila dan rumah
peristirahatan di Dusun Damar dan sekitarnya, bisa jadi mereka benar.
Beberapa malam kemudian Pak Joko meminta tolong padaku untuk mencatat nama
dan alamat seluruh pekerja di proyek. Pak Joko ingin mendata semua pendatang
yang tinggal atau bekerja di wilayahnya, mengingat kata si pembantu dialek
perampok itu bukan dari daerah Boyolali. Memang, meski berdekatan untuk
kata-kata tertentu, dialek antarkota bisa berbeda. Karena pembantu itu asli
dari Selo, ia pasti tahu kejanggalan pengucapan dalam percakapan para
perampok. Kuminta Bayu mendata seluruh pekerja. Agar tak mencurigakan, Bayu
mengatakan pendataan ini permintaan kantor. Aku juga meminta Anton untuk
memilah-milah nama dan alamat orang dari luar daerah Boyolali, karena Selo
adalah daerah Kabupaten Boyolali tentu dialeknya sama, jadi yang harus
dicari adalah orang dari luar Boyolali. Tak sampai setengah hari data itu
sudah lengkap. Cuma ada sembilan orang yang dari luar daerah. Tiga nama
teratas adalah aku, Bayu, dan Anton.
Sore data itu kuserahkan ke Pak Joko. Kuharap ia tersenyum membaca tiga nama
teratas. Ternyata tidak!
Curiga pada pendatang
Hari berlalu, karena sibuk aku tak tahu perkembangan penyelidikan kasus itu.
Tapi, minggu dini hari, + pukul 04.00, kamarku kembali digedor. Pintu
segera kubuka, naga-naganya gedoran itu takkan berhenti sebelum kubuka.
"Ada apa, Yu?"
"Pembunuhan lagi, Mas," ujar Bayu dengan mulut nyengir.
Korban kedua adalah suami-istri yang sedang berlibur di vilanya. Modusnya
sama dengan pembunuhan pertama.
"Pak Kiai yang akan sholat subuh curiga melihat pintu belakang rumah
terbuka, ia meminta santrinya melapor ke pos polisi," Bayu menjelaskan.
"Lukanya sama, Mas," kata Anton.
"Yah, di kepala dan di dada."
"Tampaknya pembunuh ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya,"
sahut Pak Joko.
Anton mendekati meja rias yang acak-acakan. Ia tampak serius mengamati
lantai dekat meja rias. Tangannya mengambil sesuatu, memilin-milin, dan
mendekatkan ke hidung.
"Ada apa, Ton?"
"Orang ini dibunuh sore hari atau lebih malam lagi, tapi tidak lebih
dari pukul sembilan malam."
Kami saling pandang, lalu mendekatinya.
"Apa yang kautemukan?"
Ia menunjuk tumpahan bubur nasi di lantai dekat meja.
"Bubur ini dimasak sore hari, tapi tak langsung dimakan sampai jadi
dingin. Para perampok datang mengobrak-abrik hingga bubur ini tumpah."
"Bagaimana kamu tahu bubur itu dibuat sore hari?"
"Dengan mencium bau dan melihat kekentalannya."
"Dari mana kamu tahu bubur itu tak langsung dimakan?"
"Piring tempatnya terbalik menutupi bubur. Kalau bubur masih panas
tentu ada uap air atau air antara bubur dan dasar piring. Tapi ini tak ada.
Jadi saat tumpah bubur sudah dingin. Untuk dingin benar perlu waktu dua
sampai tiga jam," papar Anton.
"Bagaimana dia bisa ahli soal bubur, Pak?" tanya Pak Joko.
"Ia pernah ambeien."
Pembunuhan kedua pun cepat menyebar. Berita yang dibumbui ini melahirkan
analisis di antara penduduk desa. Akibatnya, mereka cepat curiga dan tak
ramah pada orang asing. Padahal desa mereka selalu jadi tempat singgah para
pendaki gunung yang pasti dari luar daerah. Sedikit demi sedikit pendatang
pun berkurang. Berkurang pula pendapatan para pedagang di sekitar Selo.
Menurut analisisku, para perampok pasti sudah kenal daerah sini dan cukup
lama mengamati rumah calon korban. Karena dialek mereka orang luar daerah,
yang paling mungkin adalah orang luar daerah yang bekerja di sini. Artinya,
termasuk aku. Analisisku tak kusebarluaskan, bisa jadi bumerang nanti.
Palu misterius
Sebulan lebih kasus ini belum terungkap. Tiba-tiba datang anak kecil
didampingi ibunya bertamu ke rumah Pak Joko. Entah apa yang mereka
bicarakan, yang kutahu, Pak Joko berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Menjelang malam baru Pak Joko memberi tahu, ibu-anak itu menemukan sebuah
palu yang terbenam di sungai kecil tak jauh dari rumah korban kedua. Si anak
tak sengaja menemukannya saat mencari batu kecil untuk bermain dengan
adiknya.
Si anak berkeras memberikannya ke polisi dan meminta ibunya mengantarkan.
Menurut si anak, bu guru mengajarkan bila menemukan sesuatu yang bukan
miliknya harus diserahkan kepada polisi. Sebuah kejujuran yang entah sampai
kapan bisa bertahan.
Tak banyak informasi tergali dari palu itu karena terlalu lama terendam air.
Cuma, dari tempat palu ditemukan bisa diperkirakan arah perampok itu lari.
Tapi, ada tanda tanya besar. Apakah palu itu milik perampok atau orang awam
yang kebetulan lewat?
"Mengapa orang ke sungai membawa palu?" sergah Bayu.
"Mungkin ada orang membangun rumah, tukangnya ingin buang hajat dan
palunya terbawa lalu jatuh."
"Aku yakin, tidak ada yang membangun rumah di sekitar situ. Proyek
jembatan Anda satu-satunya proyek di sini," kata Pak Joko.
Aku kaget, sebagai bagian dari proyek aku tak rela pekerjaku terlibat.
"Tapi Pak, jarak proyek dengan sungai itu 2 km lebih. Tak mungkin orang
berjalan sejauh itu cuma untuk buang hajat," sahutku dengan suara
bergetar.
"Di sekitar sungai hanya ada pepohonan, kalau yang jatuh parang atau
gergaji aku bisa maklum, tapi palu ...," Bayu menimpali.
Akhirnya disimpulkan, palu itu milik para penjahat. Berbekal dua senter kami
berempat segera ke sungai tempat palu ditemukan.
"Tempatnya di sini. Lalu perampok itu ke kiri atau ke kanan?" Aku
minta pendapat pada yang lain.
"Mungkinkah palu itu tidak jatuh di sini? Bisa saja jatuh di tempat
lain lalu hanyut sampai sini," sela Anton.
"Tidak mungkin," tegasku. Kulihat sungai ini penuh batu sebesar
kambing, airnya yang sedikit bergerak di celah-celah batu selebar 10 - 20
cm. Padahal panjang palu 25 cm, dengan perhitungan, jalur air berkelok-kelok
mengikuti celah batu, palu bisa saja bergeser, tapi paling-paling sejauh 1 -
2 m. Palu pasti nyangkut, karena terlalu berat untuk hanyut.
"Baik, sekarang mari kita tentukan arah pencuri itu," Pak Joko
menyela.
"Coba, Bayu ke kiri dan Anton ke kanan. Lima meter setelah itu kembali
ke sini."
Senter kuserahkan pada mereka berdua, aku menunggu dengan Pak Joko. Malam
makin dingin.
"Bagaimana, Yu?"
"Tidak ada apa-apa, Mas, tapi di sana batunya lebih besar."
"Kamu, Ton?"
"Tampaknya, para perampok ke kiri, Mas, ke arah Bayu tadi. Sekitar 6 m
dari sini adalah tempat penduduk merendam bambunya. Kucoba melewati atasnya,
ternyata licin sekali, tak mungkin orang lewat di atasnya dengan membawa
TV."
Di desa orang biasa merendam bambu. Perendaman selama berbulan-bulan membuat
bambu makin lebih kuat. Wajar bila Anton merasa licin saat melewatinya.
"Baik, kita ke kiri," seru Pak Joko tak sabar.
Sekitar 10 m kemudian batu-batu di sungai memang makin besar. Tiba-tiba Bayu
berhenti.
"Ada apa, Yu?"
"Ada jalan kecil menuju atas, Mas."
"Mari kita ikuti."
Sekeluar dari sungai, tampak tempat lapang berukuran 3x3 m yang terletak di
tengah-tengah perdu. Tampaknya tempat ini sengaja disiapkan, karena ada
pohon-pohon besar ditebang. Dari jalan besar lokasi itu tidak tampak.
"Oh, begini cara kerja mereka. Hasil rampokan dibawa melewati sungai,
dan di sini mobil sudah menunggu. Mereka naik, meluncur ke jalan dan bye
...," gumam Bayu.
"Tapi lokasi ini jauh dari TKP pertama, meski dekat dengan TKP
kedua," kata Pak Joko.
"Begini Pak, perampok menyiapkan tempat ini untuk satu
perampokan," Bayu menjelaskan.
"Mengapa mereka harus pusing mencari tempat seperti ini, mobil 'kan
bisa diparkir di depan rumah, lalu langsung lari?" bantah Anton.
"Mereka tak ingin mobilnya diketahui orang, sebab ..."
"Mereka akan kembali!" sahut Anton, Bayu, dan Pak Joko serempak.
Kami saling berpandangan. Rasa ngeri melanda.
Berkat pak dokter
Hari berlalu, aku tak mendengar perkembangan penyelidikan kasus itu, sebab
proyek sudah sampai pada tahap penyelesaian. Kami tenggelam dalam kesibukan.
Sampai suatu malam, pukul 20.15, Pak Joko mengetuk pintu kamarku. Kebetulan
kami di dalam sedang membicarakan masalah proyek. Bayu yang membuka pintu.
Kulihat polisi itu berpakaian sipil, meski pistol tetap terselip di
pinggang.
"Ada perampokan lagi, kali ini sedang berlangsung. Saya pinjam mobil,
saya harus segera ke sana."
"Boleh ikut?"
"Boleh, asal tidak ikut campur dan tidak bertindak di luar perintah
saya."
Dalam kabut mobil kami pacu menyusur jalan yang berkelok. Kali ini aku yang
mengemudi. Ketegangan melanda kami semua. Kata Pak Joko, ia ditelepon orang
yang mengaku dokter pribadi Windy, gadis yang tinggal sendirian di vila di
Dusun Damar. Kebetulan pembantunya yang penduduk asli Damar sedang pulang
karena anaknya sakit. Si dokter memberi tahu, keselamatan Windy terancam.
Entah karena dua kasus sebelumnya atau karena naluri, Pak Joko menyimpulkan
ada perampokan lagi.
Mendekati vila tujuan, lampu kumatikan, dan mobil kujalankan pelan-pelan.
Pada jarak + 20 m aku diminta mematikan mesin mobil. Kami berempat
mengendap-endap mendekati vila. Tiba-tiba terdengar letusan beberapa kali.
Pak Joko berlari mendekati vila, kami menyusul.
Di halaman, dari balik kaca jendela tampak Sersan Santoso mengarahkan pistol
ke lantai. Segera kami masuk. Di lantai tergeletak seorang laki-laki
berkerudung sarung mengerang pelan sambil memegang dada kiri.
"Ada apa, So?"
"Kami mengadakan pengepungan, Pak. Ketika saya intip lewat jendela,
tampak ia mengangkat palu akan memukul gadis itu. Tak ingin terlambat saya
tembak perampok ini."
"Mana yang lain?"
"Kawan-kawannya kabur. Sony dan Dona sedang mengadakan
pengejaran."
Kudekati perampok itu. ia tampak makin lemah. Tembakan Pak Santoso mungkin
kena 2 - 3 cm dari jantung. Kulihat kaki kiri dekat paha juga luka.
"Mana gadisnya?"
"Di kamar, Pak."
"Bagaimana perampok ini bisa sampai sini?"
"Ia mencoba lari, Pak, jadi saya tembak lagi."
Segera kami masuk kamar. Di kamar yang porak poranda seorang gadis
tergeletak lemas di ranjang. Pesawat telepon tergeletak di samping meja
kecil yang terguling dekat ranjang. Wajah si gadis memar, rupanya ia
dianiaya. Pak Joko mendekati si gadis, memegang nadi dan membuka matanya.
"Pingsan," gumam Pak Joko.
Tiba-tiba masuk Soni dan Dona, anak buah Pak Joko.
"Lapor, Pak! Kedua perampok lolos. Mereka dijemput mobil di jalan. Tapi
saya sempat menembak tangan salah seorang perampok," ucap Soni sambil
terengah-engah.
"Baik, sekarang kita bagi tugas. Dona ikut Santoso mengantar si gadis
dan perampok ke rumah sakit. Jaga jangan sampai mati, kita butuh informasi
mereka. Soni kembali ke kantor, hubungi Polsek untuk memblokir jalur
Selo-Boyolali."
"Siap, Pak."
Kuncinya, bukan kidal
Setelah mobil kami dibawa untuk mengantar korban ke rumah sakit, tinggal
kami berempat. Tiba-tiba terdengar bunyi mobil masuk halaman rumah. Ada
langkah tergesa-gesa masuk kamar.
"Selamat malam, Pak."
Waah, ternyata si kepala magic jar. Kenapa ia kemari?
"Siapa Saudara?"
"Saya dokter pribadi Windy, Pak. Saya yang menelepon kantor Bapak.
Bagaimana keadaan Windy?"
"Selamat, sekarang dibawa ke rumah sakit."
Si dokter tampak mencari sesuatu. Matanya menyapu seluruh ruangan. Kadang
kepala kotaknya miring-miring.
Aku curiga. Jangan-jangan ia terlibat dengan peristiwa ini. Mungkin ia
penadah atau aktor intelektual semua perampokan ini. Bahwa ia melaporkan
kejadian ini, mungkin saja ia sedang berselisih dengan para perampok itu
lalu membuat perangkap untuk menjebloskan mereka ke penjara. Tapi ia tetap
bersih.
"Sebentar Pak, dari mana Anda tahu ada perampokan di sini?"
tanyaku. Kulirik Bayu dan Anton agak terkejut. Mungkin mereka baru sadar
dengan kejanggalan ini.
"Eh ... tiap sore saya telepon Windy, kalau-kalau ia ada keluhan. Pukul
delapan malam saya biasa menelepon lagi, mengingatkannya untuk tidur,"
tuturnya dengan mata tetap jelalatan. Ada yang ia cari, mungkin sebuah bukti
yang bisa mengarahkan penyelidikan padanya. Ya, ia kembali setelah menjemput
para perampok itu untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan. Lama-lama aku
tidak suka dengannya. Tampaknya Bayu tahu apa yang kurasakan. Pelan ia
bergerak ke pintu, mengalangi jalan keluar kamar dengan tubuhnya.
"Lalu?" Pak Joko tampaknya tak sabar.
"Saat saya telepon pukul delapan malam, ia mengatakan sehat-sehat saja.
Malah, katanya, lelah sekali setelah berlarian mengejar kupu-kupu tadi sore
..." ujarnya. Tiba-tiba ia berjongkok melongok kolong ranjang persis di
samping pintu kamar.
"Eh, bisa pinjam senter, Pak?" katanya lagi.
Tampaknya Pak Joko mulai kesal dan curiga sepertiku.
"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Pak Dokter. Dari mana Anda tahu
ada sesuatu di rumah ini?" tanyaku lagi sambil mengepalkan tangan.
"Pinjami saya senter, di kolong ranjang ini jawabannya," sahutnya
acuh.
Pak Joko mengangsurkan senter. Ia mengambil sesuatu yang panjang dan sedikit
berkilap.
"Senapan," Anton berbisik.
Refleks Pak Joko memegang gagang pistolnya.
Dokter itu berdiri sambil menarik napas lega, di tangannya ada sepasang kruk
penyangga tubuh.
"Setahun silam Windy mengalami kecelakaan, hingga kaki kirinya
mengalami kelemahan fungsi. Jangankan berlarian mengejar kupu-kupu, untuk
berjalan saja sulit."
Kami terdiam. Aku malu pada analisisku. Dokter ini lebih cerdas dari yang
kuduga. Kulihat Bayu tersenyum. Pak Joko cepat mengubah posisi tangan, dari
memegang pistol menjadi garuk-garuk paha.
Rupanya dokter ini punya hobi sama sepertiku, yaitu suka memperhatikan
sesuatu paling kecil. Mendadak aku menyukainya. Dari dokter itu kami tahu,
Windy biasa menempatkan kruknya di daun pintu kalau akan tidur. Dobrakan
perampok melempar kruk ke kolong ranjang. Beberapa menit kemudian telepon
berdering. Perampok yang tidak ingin dicurigai karena telepon tak ada yang
mengangkat, memaksa Windy menjawab. Ternyata dari dokter pribadinya. Windy
pun memberi jawaban yang menurut perampok biasa saja, tapi tidak bagi sang
dokter. Karena pesawat telepon dekat dengan ranjang, Windy tak perlu turun
dari ranjang saat memberi pesan terselubung itu. Perampok itu pun tak tahu
bahwa ia lumpuh. Mengingat musuhnya cuma seorang gadis, perampok mengambil
barang-barang baru kemudian membunuhnya. Saat akan menghabisi, Sersan
Santoso menembaknya.
Demikian analisis sementara dari kami berlima yang pasti benar. Dari HT Pak
Joko, kami dapat kabar, si perampok tewas di rumah sakit tanpa sempat
memberi keterangan, tapi Windy selamat. Meski kecewa, kami tetap berharap
bisa menangkap seluruh pelaku.
Kejadian semalam membuatku bangun terlambat dan kesiangan berangkat ke
lokasi proyek. Di kantor aku disambut Bayu dengan mata kelelahan. Baru
mengisi beberapa laporan dan sedikit berdiskusi dengan Bayu dan Anton, waktu
sudah pukul 12.00. Saat makan siang bagi para pekerja. Karena aku baru
datang dan belum merasa lapar, aku berkeliling memeriksa proyek yang hampir
selesai. Kulihat peralatan pengaspalan sudah siap. Jembatan darurat hampir
selesai dibongkar dan pagar kecil pengaman di kiri-kanan jembatan sudah
separo diplester, mungkin bisa selesai hari ini. Tiba-tiba aku tertarik
dengan plesteran itu. Kupanggil mandor.
"Siapa yang memlester ini, Jo?"
"Codot, Pak, ada apa?"
"Mana dia?"
"Itu yang sedang makan, pakai kaos biru lengan panjang," katanya
sambil menunjuk pekerja yang asyik makan nasi bungkus. Kulihat Codot lahap
makan. Nasi bungkus disangga tangan kiri, dan ia menyuap dengan tangan
kanan. Tampaknya biasa saja. Aku kembali ke kantor dan meminta Bayu
mengundang Pak Joko ke lokasi proyek.
"Katakan padanya, mungkin aku tahu salah satu pelakunya."
Tak lama kemudian Pak Joko datang. Codot kuminta ke ruanganku. Pak Joko
duduk di mejaku, sedangkan Codot disuruh berdiri di depannya. Aku dan Bayu
ada dekat pintu. Ketika ditanya macam-macam, ia bisa menjawab dengan tenang.
Kuhampiri Pak Joko dan kubisikkan sesuatu. Pak Joko meminta Codot membuka
baju. Dengan ragu ia melakukannya. Baru separuh menarik kaosnya ke atas
tiba-tiba ia lari ke pintu. Dengan refleks tangannya kupegang dan kutelikung
ke belakang. Bayu menarik kaos birunya. Di tangan kanan Codot ada luka yang
dibalut perban. Pelan Pak Joko membuka perban itu. Pak Joko menyimpulkan,
luka itu akibat tembakan. Codot dibawa ke Selo untuk ditahan. Pak Joko
mendekati aku.
"Dari mana Anda tahu?"
"Ia bertugas memlester pagar pengaman, Pak. Plesterannya belum selesai,
biasanya orang menempelkan adukan semen dari bawah ke kanan atas. Tapi di
pagar ini tidak demikian, adukannya dari bawah ke kiri atas. Itu biasa
dilakukan orang kidal. Tapi saya lihat tadi ia makan dengan tangan kanan.
Saya simpulkan, tangan kanannya luka. Cukup kuat untuk makan tapi tidak
untuk memlester pagar. Kalau luka orang tidak masuk kerja, tapi ia tetap
masuk agar tidak dicurigai."
"Anda teliti sekali."
"Belajar dari dokter itu, untuk memperhatikan hal yang kecil."
"Berminat jadi polisi?"
"Ah, tidak."
Sudah tiga bulan kutinggalkan proyek itu. Proyek penggantian jembatan di
Desa Beji Lor sudah selesai. Sekarang aku ditempatkan di Carakan, antara
Blora – Rembang. Sama terpencilnya dengan Beji Lor. Bedanya, kalau dulu di
tengah hutan pinus sekarang di hutan jati. Lebih gersang. Karena jembatan di
Beji Lor masih dalam masa perawatan, kadang Bayu pergi ke sana. Dari dia aku
tahu, Codot akhirnya "bernyanyi" dan kawanannya ditangkap.
Sekarang kasusnya dalam proses pengadilan. Kabarnya, mereka dituntut hukuman
mati. Sampai cerita ini kutulis, aku belum tahu kelanjutan sidang. Aku masih
menunggu cerita selanjutnya dari Bayu, karena tiap Sabtu ia ke Selo. Bukan
untuk tugas kantor, tapi untuk menemui gadis pujaannya. Bidan muda yang
selalu menarik-narik rok itu telah menawan hatinya. (Enggar Adibroto)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||