|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
Mengatasi Macet ala Manila
Ketika mengunjungi RS St. Luke - sebuah rumah
sakit mewah di Manila - di awal tahun ini, saya melihat beberapa mobil yang
dikaca depannya digantungi tulisan "Doctor on Call". Saya pikir
itu mobil dokter jaga biasa, tetapi ternyata ada cerita lain.
Mulanya adalah usaha untuk mengatasi kemacetan di Manila yang disebut "traffic"
(mungkin bentuk ringkas dari traffic jam), yang lebih parah daripada
di Jakarta. Maka, berlakulah aturan, pada jam sibuk nomor polisi mobil
berangka terakhir ganjil hanya boleh di jalan raya tiga hari seminggu, dan
tiga hari lainnya hanya untuk yang berangka akhir genap. Tujuannya, agar
hanya separuh mobil yang ada di jalan raya pada satu hari tertentu. Ide
serupa pernah pula dilemparkan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di
Jakarta.
Tapi, mobil yang di bagian kaca digantungi tulisan "Doctor on
Call" boleh ada di jalan raya di hari apa pun. Pikir saya,
jangan-jangan fasilitas ini diselewengkan. Pengantar saya yang orang Manila
mengatakan, penyelewengan itu mungkin saja terjadi. Tapi, kadang-kadang
polisi (di Manila disebut pulis) merazia dan bukan tidak mungkin
menghentikan mobil yang seperti itu. Ia akan mencek, benarkah di mobil ada
dokter yang sedang tugas jaga dan ada pasien gawat yang perlu ditengok?
Bagaimana cara si pulis membuktikan kebenarannya? Wallahualam.
Ada hal menarik lain, di setiap persimpangan jalan dituliskan nama petugas
yang berjaga di persimpangan itu. Selain itu di tiap kaca depan mobil juga
ditempelkan semacam stiker berisi pernyataan, tidak memaksakan diri masuk ke
perempatan yang macet, sehingga tidak sampai terjadi macet total di satu
persimpangan karena tidak ada yang mau mengalah. (dr. Tjandra Yoga
Aditama) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||