|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
MATEMATIKA
SULIT, TAK MESTI HARUS LES!
Celakanya, kalau keadaan ini terus berlanjut hingga ke jenjang pendidikan
berikutnya. Maka, sepanjang masa pendidikan mereka menganggap matematika
menjadi pelajaran paling menyeramkan.
Padahal, matematika sebenarnya pelajaran mengasyikkan. Apalagi, untuk murid
SD. Pada tingkat pendidikan dasar ini pelajaran matematika masih berkenaan
dengan berhitung, yang merupakan bagian dari matematika, yakni operasi
tambah, kurang, kali, dan bagi. Mula-mula menggunakan bilangan bulat.
Kemudian meningkat ke bilangan pecahan. Operasi hitung itu bisa dipelajarai
sambil bermain yang memang merupakan kegiatan utama anak-anak.
Pada tingkatan lebih tinggi pun matematika tak perlu jadi momok. Prof. Dr.
Andi Hakim Nasoetion, pakar matematika dari Institut Pertanian Bogor (IPB),
memberikan bukti. Setiap tahun ada tiga puluh murid terbaik dari setiap
propinsi ikut seleksi olimpiade matematika. "Ini bukti mereka tidak
takut matematika. Mereka malah senang matematika, meskipun ketika latihan di
BP3G IPA di Bandung mereka diberi soal-soal sulit," tuturnya.
Kalau pun anak gagal mendapatkan nilai baik ketika pada awal-awal sekolah
SD, orang tua tak perlu gusar. Kesempatan untuk meraih sukses masih ada.
Bahkan, tak tertutup kemungkinan menjadi pakar matematika seperti yang
dialami Andi Hakim. "Saya dulu belajar berhitung dari buku Bouwman en
van Zelm di kelas satu HIS Ardjoena, yaitu pada triwulan pertama tahun
ajaran 1937/1938. Nilai berhitung saya di rapor waktu itu empat. Sangking
marahnya ayah saya hendak menukar otak saya dengan otak ayam percobaannya di
kandang. Katanya, ayam betina lebih pintar berhitung dari pada saya. Ketika
itu saya benci sekali terhadap pelajaran berhitung," cerita mantan
rektor Institut Pertanian Bogor ini. Namun, yang terjadi kemudian, Andi
Hakim menjadi pakar matematika.
Prakondisi kurang tepat
Matematika memang bukan berhitung, tetapi berhitung pasti matematika.
Pasalnya, berhitung merupakan bagian dari matematika. Matematika sendiri
merupakan ilmu struktur, urutan (order), dan hubungan yang meliputi
dasar-dasar penghitungan, pengukuran, dan penggambaran bentuk objek. Ilmu
ini melibatkan logika dan kalkulasi kuantitatif, dan pengembangannya telah
meningkatkan derajad idealisasi dan abstraksi subjeknya.
Menurut Andi Hakim, matematika memang harus diajarkan sejak SD kelas satu.
"Namun, bahan yang perlu diajarkan disesuaikan dengan daya cerna murid.
Masalahnya, banyak sekali guru SD yang tidak memahami berhitung sekali pun,
karena dia tidak menguasai teorinya, yakni matematika," jelasnya.
Akibatnya, ada di antara muridnya tidak bersemangat, bahkan takut, pada
pelajaran matematika.
Andi Hakim dan Henny Supolo Sitepu, seorang pendidik dari sekolah Al-Idhzar,
menduga ketakutan anak itu besar sekali kemungkinannya karena si anak sudah
diprakondisikan oleh orang tuanya yang menakut-nakutinya. "Kalau orang
tua menganggap matematika sebagai momok, anak juga mempunyai anggapan yang
sama," ujar Henny. Andi Hakim bahkan menyatakan ada guru yang
menggunakan soal matematika untuk menghukum muridnya yang nakal. Lebih
celaka lagi, sebagian masyarakat pun tidak memberikan apresiasi yang positif
terhadap pelajaran matematika. "Saya pernah mengirimkan press
release tentang prestasi pemuda Indonesia dalam Asia Pasific Mathematics
Olympiad tahun 2000. Mereka memperoleh satu medali perak, lima medali
perunggu, dan empat honorable mention. Tidak ada koran atau majalah
yang mau memuatnya!," tutur Andi hakim memberi contoh. "Media
lebih baik memuat pertanyaan mengapa perempuan, yang sedang dipenjara, bisa
hamil dan siapa agaknya yang menghamilinya. Kita ini bangsa yang lebih suka
mendengar sensasi daripada menyerap pengetahuan bermanfaat," tambahnya
sedikit geram.
Belum lagi para pejabat yang berkompeten ternyata juga bukan orang tepat.
Andi Hakim menceritakan, "Pada suatu ketika, sebelum berangkat ke
olimpiade matematika internasional, seluruh regu peserta berniat ‘matur’
kepada menteri. Tetapi menterinya terlalu sibuk untuk masalah matematika.
Akhirnya kami dipersilakan bertemu bawahannya, yang cukup tinggi
kedudukannya, untuk mendapatkan ‘sangu’ sebelum berlaga di gelanggang
internasional. Apa ‘sangu’nya? Dia bilang, dia paling bodoh
mengenai matematika. Untung ada SMA bagian A, sehingga dia bisa lulus SMA.
Kalau tidak begitu mana mungkin dia menjadi mahasiswa di universitas,
menjadi sarjana, doktor, profesor, dan kemudian menjadi rektor. Kalau tidak
pernah menjadi rektor, mana mungkin dia mendapat kedudukan bawahan menteri.
Semua siswa yang akan berangkat tertawa. Tetapi saya merasa kena sindir,
karena setelah saya berhenti jadi rektor, tidak mampu masuk eselon satu,
cuma bisa mengantar siswa yang senang matematika ke olimpiade
matematika."
Peran orang tua sangat penting
Lalu, bagaimana menyelamatkan anak dari atmosfer matematika yang sedikit
"mendung"? Di sini peran orang tua menjadi sangat penting.
"Orang yang lebih diharapkan untuk bisa diandalkan mengerti kebutuhan
anak adalah orang tua, bukan guru. Orang yang diharapkan bisa diandalkan
untuk tahu pintu masuk paling efektif dalam memberikan pemahaman apa pun,
adalah orang tua. Orang yang harusnya mengerti gaya belajar anak adalah
orang tua," tegas Henny.
Yang pertama dilakukan tentu mengubah persepsi matematika yang menakutkan
itu menjadi menyenangkan. "Kalau matematika dipandang sebagai sesuatu
yang menyenangkan, maka pelajaran itu menjadi bagian kehidupan yang
menyenangkan," tegas Henny. Orang tua juga mesti segera mengambil
tindakan untuk membantu anak belajar matematika dengan cara menyenangkan.
Caranya, dengan memberi contoh kongkrit, bukan yang abstrak.
"Kongkritkan dulu dalam suatu benda yang mereka lihat. Berapa kali
berapa menjadi berapa. Lalu latihlah dalam kehidupan sehari-hari,"
tambahnya. Memang, idealnya sekolah juga melakukan pendekatan sama yakni
mencoba memberikan konsep-konsep itu secara kongkrit dan mencoba untuk
memberikan latihan-latihan sesuai dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukan
oleh anak. "Yang jadi masalah, di sekolah 'kan tidak seperti itu.
Karena itu, kita sebaiknya melakukan segala sesuatu dari hal yang bisa kita
lakukan. Jangan melihat sesuatu dari yang tidak bisa kita lakukan,"
tutur Henny lagi.
Umpamanya, dengan mengamati lukisan karapan sapi. Dalam karapan itu anak
bisa menghitung berapa pesertanya, kalau setiap peserta ditarik dua ekor
sapi, berapa jumlah seluruh sapinya. Contoh lainnya, kalau ada delapan orang
hendak bepergian, kira-kira perlu berapa mobil sedan. Jawaban memang bisa
macam-macam. Itu merupakan gagasan. Misalnya jawabannya satu mobil.
Alasannya, ada yang dipangku. Lewat cara ini anak juga diajak berimajinasi
dan bisa mempunyai berbagai pilihan.
Sementara, untuk anak yang kurang paham soal uang, anak diajari belanja
sendiri ke warung. Ia membawa uang berapa, memperkirakan kembaliannya,
menghitung di situ kembaliannya. Dengan cara macam itu kita membuat anak
merasakan bahwa itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Atau,
dengan membuatkannya uang-uangan dari potongan kertas dan diberi nilai 25,
50, 100, 500. dsb., sesuai dengan pecahan uang yang beredar. Sambil belajar
anak sekaligus diajak bermain. Dengan cara seperti itu anak jadi lebih
tertarik dan lebih paham masalah nilai uang, meskipun perlu waktu dan
kesabaran.
Hal sama sebenarnya bisa pula dilakukan sekolah. Misalnya seperti yang di
lakukan sekolah Al-Idhzar. Setiap akhir tahun diadakan acara bazar.
Anak-anak diminta berjualan. Misalnya ada yang berjualan sirup. Contoh
lainnya, suatu hari murid ditugasi menghitung temannya yang memakai
kerudung. Berapa yang memakai kerudung putih, kerudung merah, dan kerudung
hitam. Selanjutnya menjumlahkan semua murid yang memakai kerudung. Kalau,
jumlah siswanya sekian, yang tidak pakai kerudung berapa?
Dalam membantu anak belajar matematika dengan cara tadi, maka peran alat
peraga menjadi sangat besar, terutama untuk anak SD. Tidak perlu yang mahal.
Henny mencontohkan penggunaan daun kering untuk menghitung luas suatu bidang
tertentu. Dengan daun sebesar ini, berapa daun dibutuhkan untuk menutupi
bidang tertentu. Atau dengan menggunakan kendaraan yang lewat di depan
rumah. Dalam jangka waktu tertentu ada berapa kendaraan lewat? Berapa
kendaraan roda tiganya, dan berapa roda empatnya? Jam berikutnya, dihitung
lagi. Kemudian dalam seminggu bisa dilihat perbedaannya. Lalu dianalisis,
kenapa pada hari Senin dan Jumat sangat ramai dan hari lain tidak terlalu.
"Itu semua latihan logika dan matematika," jelasnya.
Jadi tidak perlu alat peraga istimewa dan mahal. Yang dibutuhkan kreativitas
kita. Mula-mula dilakukan pendataan, apa saja yang bisa dipakai. Lalu kita
mencoba memikirkan bagaimana mempergunakan potensi yang dimilikinya untuk
memudahkan anak-anak belajar.
Dalam praktik, kalau kita mengikuti pelajaran matematika anak sejak awal,
kita bisa mencari jalan apa yang harus kita lakukan di rumah untuk
menerangkan suatu hal. Masalah akan menjadi rumit kalau kita tidak
mengikutinya sejak awal. Memang pada saat yang diajarkan istilah-istilah,
anak menjadi bingung. Namun bingung dalam istilah tidak berarti bingung
dalam pemahamannya. Itulah yang tetap kita jembatani dengan mencarinya dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan mencari pemahaman dasar dalam kehidupan
sehari-hari, maka matematika tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan.
Les atau kursus belum tentu berguna
Sudah tentu orang tua zaman sekarang tidak boleh judeg atau putus
asa. "Itulah risikonya menjadi orang tua. Jadi, mereka harus tetap
berupaya. Konsep belajar seharusnya adalah konsep yang terus kita lakukan
sampai kita mati. Sebaiknya, konsep itu dipahami dan dilakukan, bukan hanya
diucapkan," tutur Henny mengingatkan.
Bisa saja orang tua mencoba membantu anak dengan cara meleskan atau
mengkursuskan. Namun, menurut Henny, kita mesti tahu terlebih dahulu masalah
yang dihadapi si anak. Jangan-jangan dia anak yang punya masalah diskalkuli;
ada sesuatu yang membuat anak ini berpikir lain dalam soal penomoran. Atau
mungkin anak ini tidak suka pada gurunya? Sehingga masalahnya lebih
berhubungan ke emosi daripada yang lain. Mungkin juga anak ini sedang protes
kepada orang tua. "Les atau kursus kita berikan kalau kita sudah tahu
betul apa masalahnya," jelas ibu dua orang remaja ini.
Anak perlu dileskan kalau ia membutuhkan kontak satu-satu untuk tiba pada
tingkat pemahaman. Kadang-kadang itu pun hanya pada topik-topik tertentu.
Kalau demikian halnya, mungkin bisa dimintakan remedial. Guru atau orang tua
menjelaskan topik-topik tertentu. "Jadi tidak perlu setiap saat
dileskan. Karena dileskan itu, apalagi kalau terus tanpa kita tahu
penyebabnya, bisa menyebabkan ketergantungan. Juga kita jadi tidak tahu
seberapa jauh anak tertantang untuk mengembangkan dirinya," tambahnya.
Kursus pun belum tentu bisa membantu anak mencapai sasaran. "Saya
pernah melihat stand salah satu metode pengajaran matematika di
International Conference on Matematics Education tahun 1996 di Totonto.
Isinya tidak lain adalah landasan teori matematika untuk mengajarkan
berhitung. Jadi sebenarnya pesertanya cuma belajar landasan teorinya,"
jelas Andi Hakim.
Melihat plus-minus kursus yang berkaitan dengan matematika, Henny
menyarankan orang tua untuk mempertimbangkan betul kegunaan kursus-kursus
itu bagi anaknya dan bagaimana perkembangan anaknya secara menyeluruh. Anak
itu membutuhkan banyak perkembangan.
Sementara untuk orang tuanya, dalam pandangan Henny, forum untuk sharing,
adalah tempat yang tepat. Tidak perlu formal, yang penting bisa menjadi
kumpulan orang tua dengan minat sama, kebutuhan sama, dan bisa berbagi.
Mungkin pada saat berbagi itu ditemukan lebih banyak gagasan. Tidak hanya
dalam hal matematika, tetapi berbagai hal, termasuk bagaimana mengatasi
kesulitan belajar.
Memang, forum semacam ini belum terdengar ada. Namun, di Singapura sudah ada
lembaga formal yang secara berkala menggelar lokakarya untuk membantu orang
tua yang memiliki anak bermasalah dalam hal matematika. Ini menggambarkan,
bila anak mengalami kesulitan belajar matematika, orang tua lah yang mesti
belajar. (I Gede Agung Y./Anglingsari Saptono) Boks
: Jangan Gampang Bilang Bodoh |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||