|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
PERTEMPURAN SEGA, NINTENDO, DAN PLAYSTATION
Sejarah
video games tidak saja menyangkut orang dan masyarakat. Ia juga
menyangkut perusahaan dan ironi. Siapa sangka Atari adalah perusahaan
Amerika dengan nama Jepang. Demikian pula sebaliknya dengan Sega, perusahaan
Jepang yang dimulai oleh seorang Amerika. Setelah sukses dengan PlayStation
1, Sony meluncurkan produk terbarunya, PS2. Pertempuran pun makin seru.
Tapi, dibanding yang lainnya, PS boleh berbangga. Meski penantangnya sudah
menggeram (X-Box katanya akan diluncurkan tahun 2001), ia masih
tenang-tenang. Bahkan ia memunculkan tandingannya, PS2.
PS yang lahir dari bidan raksasa elektronik Jepang, Sony, juga memunculkan
fenomena rental. Dulu, mana ada sih yang merentalkan Atari, Sega, atau
Nintendo? Kalaupun ada, tak sebanyak PS. Sebuah rumah di kawasan kampung
Condet, Jakarta Timur, pun hanya dengan papan nama dari selembar kain,
selalu ramai oleh peminat.
Pong sebagai pionir
Kalau kemudian ditelusuri, ternyata embahnya permainan elektronik, atau yang
lebih dikenal dengan video games itu adalah kartu permainan ala
Jepang. Fusajiro Yamauchi-lah pelopornya melalui Maruku Company yang
didirikan pada 1889. Tahun 1907 Maruku mulai membuat kartu remi Barat.
Perusahaan itu kemudian berubah nama menjadi The Nintendo Playing Card
Company pada 1951. Nintendo artinya leave luck to heaven.
Lalu muncul Ralph Baer, insinyur yang bekerja di perusahaan pengembangan dan
pembuatan peranti elektronik bagi militer, yang disuruh membuat TV terbaik
di dunia. Ia menyarankan untuk menambahkan beberapa jenis permainan
interaktif ke perangkat TV. Maksud dia sih biar tampil lain dari yang lain.
Sayang, ide itu diabaikan pihak manajemen.
Ide itu akhirnya ditangkap oleh Sanders Associates. Bersama timnya, Baer
sukses membuat game interaktif yang bisa dimainkan di layar TV.
Mereka mengembangkan permainan catur, kemudian diikuti dengan permainan
tenis. Tahun 1968, permainan interaktif TV dari Baer itu dipatenkan.
Magnavox (perusahaan di bawah payung Philips) mewujudkan permainan itu
dengan membuat Odyssey (setelah membeli lisensi permainan TV ciptaan Baer).
Waktu dipamerkan di Burlingame, Kalifornia, pada 24 Mei 1972, Nolan Bushnell
yang sedang mengembangkan video game, sempat mencoba bermain tenis
video dan beberapa permainan lainnya. Ia berkesimpulan, Odyssey tidak
menarik dan tidak bisa dibandingkan dengan Computer Space yang sedang
dikerjakan Bushnell dengan perusahaan Nutting.
Padahal, di pasaran sendiri Computer Space tidak laku. Menurut Bushnell,
karena sulit dimainkan (oleh awam). Bukannya dapat kesenangan main, malah
dibikin pusing oleh game! Bushnell akhirnya keluar dari Nutting.
Bersama koleganya, Ted Dabney, ia mendirikan perusahaan yang mendesain video
game untuk dijual kepada perusahaan yang akan memasarkannya. Awalnya,
mereka membaptis perusahaannya dengan nama Syzygy. Namun karena ternyata
sudah keduluan oleh perusahaan pengatapan, mereka mengganti dengan Atari;
istilah dari permainan Jepang Go, kira-kira sesaudara dengan kata
"sekak" dalam catur.
Produk pertama Atari, video game tennis yang sederhana dan diberi
nama Pong, ternyata sukses besar. Tapi Magnavox langsung menyergapnya dengan
tuduhan menjiplak salah satu game dalam produk mereka, Odyssey. Atari
akhirnya harus merelakan beberapa ratus ribu dolar untuk membeli hak cipta.
Kesuksesan Pong menyeret banyak perusahaan untuk terjun dalam pembuatan video
game. Sampai akhir 1973 tercatat 25 perusahaan. Persaingan menjadi ketat
dan Atari akhirnya dijual ke Warner Communication seharga AS $ 28 juta pada
1976. Bushnell masih di Atari dengan jabatan direktur utama. Setahun
kemudian Atari meluncurkan Video Computer System (VCS), yang kemudian
dikenal dengan Atari 2600. Harganya AS $ 249.95.
PS setara Honda dan Kodak
Salah satu pesaing andal adalah Sega. Game yang pengoperasiannya
menggunakan keping uang itu bermula dari kejelian David Rosen. Veteran
Tentara AS dalam Perang Korea itu melihat popularitas mesin permainan yang
dioperasikan menggunakan koin di pangkalan militer AS di Jepang. Maka ia pun
berminat mengekspor permainan yang diberi nama Service Games ini ke Jepang.
Dari nama itulah, Rosen membaptis perusahaannya.
Nintendo mulai bebenah pula. Maret 1978 mereka mengeluarkan Computer
Othello. Sayang, sambutan para gamer kurang antusias. Seniman Nintendo,
Shigeru Miyamoto, lalu menciptakan Donkey Kong. Ceritanya, seorang pahlawan,
aslinya disebut Jumpman yakni tukang kayu gendut, berlomba menyelamatkan
pacarnya Pauline dari cengkeraman monyet yang tergila-gila. Oleh Nintendo
Amerika, Jumpman diganti dengan Mario, sebagai penghargaan atas kemiripan
tokoh Jumpman dengan tuan tanah Mario Segali.
Kejayaan Nintendo pun berawal tahun 1989 ketika mereka memperkenalkan gameboy
seharga AS $ 109. Sistem ini dipaketkan dengan Tetris dan masih monokrom.
Salah satu yang populer adalah Super Mario. Imbuhan Super memang memberikan
berkah. Terbukti Super Mario bisa sampai empat versi (Super Mario 3 bahkan
termasuk cartridge video-game yang laku keras sepanjang waktu).
Lalu datanglah Sony, yang tanpa pengalaman di jalur permainan, menyodorkan
PlayStation. Diluncurkan di Amerika tahun 1995 dengan harga AS $ 299 (lebih
rendah AS $ 100 dari yang diharapkan), ternyata disambut dengan antusias
oleh para pemain game. Pelan tapi pasti, PS menjadi sistem game
yang terpopuler. Bahkan ia sudah seperti Honda-nya motor bebek atau
Kodak-nya kamera.
Tak berlebihan memang. PS menguasai dua pertiga pasaran video game
dunia. Di Amerika, satu dari empat rumah tangga memiliki PS. Seorang penjual
di Mangga Dua, Jakarta, mengaku, perbandingan penjualan antara PS dan
pesaingnya (Nintendo dan Sega) adalah 10 : 1.
Ramai-ramai menyerbu Internet
Untuk mempertahankan kue itu, Sony meluncurkan PS2 yang menggunakan prosesor
berkecepatan 300 MHz. Pesaingnya tak mau diam. Sega mengeluarkan Dreamcast
yang berprosesor 200 MHz. Tahun lalu Dreamcast terjual lebih dari 4 juta
unit. Sedangkan Nintendo mengeluarkan Dolphin dengan prosesor IBM 400 MHz.
Iming-iming lainnya adalah akses ke Internet. Dalam kaitan ini Sean McGowan,
seorang analis dari firma Gerard Klauer Mattison bilang, "Mengembangkan
strategi online yang kredibel adalah kebutuhan, bukan kemewahan, pada
pangsa pasar sekarang ini. Dan Internet adalah prioritas utama."
Sebelum Sony, Sega telah melangkah ke jalur Internet. Dengan nama SegaNet,
mereka menjadi perusahaan pembuat video game pertama yang memberikan
cetak biru bagaimana memanfaatkan Internet untuk meningkatkan waktu main.
SegaNet juga menawarkan saluran bagi multi-player gaming dengan
kecepatan tinggi. Tersedia pula kemampuan mengobrol dan berita-berita yang
ada kaitannya dengan video game.
Setahun lalu, Sega berjuang dalam pasar video game di Amerika. Ia
gagal bersaing dengan Sony PlayStation dan Nintendo 64. Lalu datanglah
Dreamcast mereka. Sega kembali mengaum dan merebut sekitar 15% pasar
perangkat keras video game. Auman itu tentu mendapat reaksi dari
pesaingnya. Agar semakin menggelegar aumannya, Sega berinisiatif masuk ke
Internet.
Dengan inovasi yang dilakukan, pemakai Dreamcast bisa mengakses Internet
melalui modem internal dan penyedia layanan Internet mana saja yang
dilanggan oleh pemakai. Setelah tersambung, pemakai bisa men-download
karakter-karakter baru dan beberapa permainan tambahan dari website-nya
Sega.
Dibentuklah perusahaan baru, Sega.com, yang terpisah dari perusahaan induk,
Sega Enterprise. Dari sini mereka mengembangkan SegaNet. Dreamcast dan
pengguna PC bisa melanggan ke SegaNet. Mereka tidak saja bisa mengakses
secara online, tapi juga memberikan beberapa "menu"
tambahan, seperti trik-trik dalam game serta kode-kode curang.
Sayang, SegaNet belum menjual peranti keras dan lunaknya untuk ber-online
game. Bagi yang ingin main secara online mesti beli peranti
lunaknya dulu. Tapi beberapa game seperti Quake III dan NFL 2K1 sudah
kompatibel.
PS2 malfungsi!
Sony sebagai raksasa industri elektronik tentu tak minder dengan pencapaian
Dreamcast. Apalagi bekal mereka cukup menunjang; PlayStation 1 terjual lebih
dari 70 juta buah dan menempatkan Sony sebagai pemain utama pasar video
game dengan menguasai pangsa pasar 75%. Nah, PS2 dipersiapkan untuk
mengkonsolidasikan pasar itu. Senjatanya adalah perubahan pada grafik dan
efek yang semakin canggih, yakni Emotion Engine dan Graphic Synthesizer.
Bahkan kombinasi itu diklaim bisa menghasilkan kualitas setara bioskop,
permainan menjadi seperti hidup!
Varian game yang diberikan PS2 terentang antara football dan baseball
sampai strategi dan pertempuran. Secara visual sangat menggairahkan.
"Alasan mereka menamakan (PS2) Emotion Engine karena kami akhirnya bisa
meruntuhkan tembok visual sehingga orang dapat memihak kepada
karakter-karakter yang ada," kata usahawan kawakan Stan Roach.
Tapi untuk itu semua, biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Anggaran
rata-rata untuk memproduski sebuah game di Sega Genesis pada dekade
90-an sekitar AS $ 200.000. Saat ini PlayStation dan Nintendo 64 sekitar AS
$ 2 juta. Banyak perancang memperkirakan biaya pengembangan PS2 mencapai
angka setidaknya AS $ 4 juta.
Namun ada persoalan yang lebih serius dari diluncurkannya PS2 ini. Ternyata
PS2 bisa dipakai sebagai pemutar DVD dari seluruh dunia! Analis
memperkirakan ini kesalahan akibat kartu memori yang membuat mesin menjadi
malfungsi. Seperti diketahui, perjanjian internasional hanya membolehkan
mesin DVD di suatu tempat bisa memutar DVD dengan kode setempat. Sebagai
contoh, di Jepang hanya piringan dengan kode angka 2 bisa diputar, sementara
Amerika Utara adalah 1.
"Sungguh memalukan jika Sony menemukan kesalahan (bug) pada
pemutar (DVD) beberapa saat setelah diluncurkan (ke pasar). Tapi bisa
dimengerti karena peluncuran itu tergesa-gesa. Saya pikir Sony tidak punya
cukup waktu untuk pengontrolan kualitas yang sempurna," kata Yoshio
Imanaka, analis dari Commerz Securities.
Yoshio menambahkan, jika Sony menarik atau memperbaiki produknya, biayanya
mahal. Tapi kesalahan itu juga tak otomatis menempatkan Sony di puncak
industri game. "Tak seorang pun membeli PS2 untuk melihat
DVD," katanya.
Pihak Sony Computer Entertainment sudah melakukan penyelidikan untuk mencari
letak kesalahan itu. Beberapa telah diidentifikasi seperti persoalan teknis
pada mesinnya, peranti lunaknya, atau justru pada kreativitas pemakainya.
Toh rumor yang beredar (kesalahan terletak pada kartu memori yang diperlukan
dalam memutar DVD) telah "melukai" saham Sony.
Di Indonesia ilegal dan bajakan
Dari sisi teknologi, PS2 memang lebih unggul. Selain mampu menjalankan
Digital Video Disc (DVD) dengan kecepatan 128 bps (bit per detik), Sony juga
akan menghubungkan PS ke jaringan pita lebar seperti TV kabel dan telepon
seluler untuk memungkinkan akses Internet.
Seorang analis menyatakan, PS2 memang dirancang bukan sekadar peranti
permainan. Namun dengan kemampuan tadi (pemutar DVD dan akses Internet)
diharapkan PS2 mampu menjadi produk rumah tangga seperti halnya pemutar
Compact Disc (CD) atau Video CD.
Dengan memberikan banyak pilihan permainannya, PlayStation ternyata mampu
merebut hati konsumen. Harganya bisa lebih murah lagi. Satu CD di Mangga Dua
bisa diperoleh dengan harga Rp 5.000,- per buah. Inilah salah satu penyebab
tumbuh suburnya rental PS.
Tapi, tahukah Anda bahwa semua produk pemutar PS2 yang beredar di Indonesia
adalah produk ilegal? Cap sebagai negara pembajak menjadi alasan mengapa
Sony Computer Entertainment mengecualikan Indonesia, meski pangsanya ada.
Mereka hanya mendistribusikan produknya ke Hongkong, Singapura, Thailand,
dan Malaysia.
Lalu, dari mana PS2 yang beredar di Indonesia? Biasanya didatangkan dari
Hongkong atau Singapura. Soal peranti lunak sih gampang. Gandakan saja. Toh
konsumen tak mempedulikan itu melanggar hak cipta atau tidak.
Ah, serendah itukah mental bangsa kita di depan bangsa lain? (Yds. Agus
Surono)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||