|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
PADMOSANTJOJO: SI TUKANG BONGKAR-PASANG OTAK
Melihat
sosok tinggi besar dengan rambut gondrongnya, orang bisa salah mengira ia
seniman. Siapa sangka dialah dokter bedah syaraf yang pernah menggemparkan
dunia kedokteran dengan operasi kembar siam dempet kepala. Seunik
penampilannya, unik pula pribadi dokter yang ogah menarik bayaran dari
pasiennya itu.
"Dokter lupa sama saya, ya?" tanya si penumpang. "Dulu saya
pernah lumpuh, lalu dioperasi Pak Dokter. Tapi belum sampai pulih, dokter
sudah terbang ke Belanda. Lihat sekarang, tak cuma berjalan, lari pun saya
bisa," kenang Prof. dr. R.M. Padmosantjojo (62), ahli bedah syaraf dari
RSUPN Cipto Mangunkusumo. Saat itu ia memilih naik bus umum karena sepulang
dari Belanda tahun 1970 ia sempat tidak mendapat gaji selama setahun.
"Pengalaman seperti itu sering saya alami. Saya terharu ...,"
ujarnya sambil mengingat sejumlah pasien dari golongan bawah yang terkadang
mengiriminya pisang, pepaya hasil kebun sendiri, atau kue jajanan sederhana
sebagai tanda terima kasih. Ujud lain tercermin saat begitu banyak mantan
pasien yang menjenguk usai ia menjalani bedah jantung koroner tahun 1980.
Awal tahun 1970-an, sepulang dari Belanda, dia satu-satunya ahli bedah
syaraf yang aktif memenuhi panggilan di berbagai rumah sakit di wilayah RI.
Tambahan lagi ia tidak memungut biaya operasi di berbagai RS pemerintah.
Tidak heran bila jumlah pasien yang berhasil ditangani tidak terhitung
jumlahnya.
Kini, menurut Padmo, ahli bedah syaraf sudah 64 orang. "Tentu mereka
tidak bisa disamakan dengan saya yang suka kasih gratis. Idealisme saya
mungkin saja dianggap aneh. Sudah tidak praktik, tidak terima duit, mana
ada!" ujar dokter yang merasa bahagia bila berhasil menolong orang.
Alasannya, tak tega menagih. Ia sering menemui pasien yang kehabisan uang,
malah ada pula yang terlilit utang, dalam masa pengobatan pascaoperasi.
"Masa penyembuhan pasien bedah syaraf, apalagi tumor otak atau stroke
berat, cukup lama. Setelah operasi masih butuh pengobatan lain yang tidak
sedikit biayanya," ujarnya sambil menyayangkan belum adanya kesadaran
masyarakat ikut asuransi kesehatan.
Ahli bedah syaraf lulusan Rijksuniversiteit, Groningen, Belanda (1970) itu,
beroleh gelar profesor setelah tahun 1987 berhasil memisahkan kembar siam
dempet kepala (craniopagus), Yuliana - Yuliani (saat itu berusia dua
bulan 21 hari), asal Riau.
Hasil pembedahan ini sempat menggegerkan kalangan dunia kedokteran bedah
internasional. "Soalnya, ada kasus sama di Jerman. Bayi kemudian dibawa
ke AS, tapi malah meninggal karena pembedahan harus menunggu sampai usia 13
bulan." Kasus di Afrika Selatan pun tak berhasil. Jadi, kalau membedah,
ya, semenjak kecil sekalian.
Ketenarannya bertambah ketika stasiun televisi di Eropa dan Kanada
menayangkan keberhasilannya. Hingga kini Padmo yang dipanggil Pak De oleh
kedua anak kembar siam itu masih berhubungan. Ia pun tetap membantu biaya si
kembar Ana dan Ani. "Mereka sudah SMP," katanya bangga.
Padmo demikian dielu-elukan di negeri orang, tapi kenapa ia tetap pulang?
"Aku cinta bangsaku," katanya. Pernah diminta kembali ke
universitasnya pun ia tidak mau. "Bangsaku membutuhkan tenagaku,
apalagi saat itu keahlian ini masih langka".
Cepat bertindak
Mengapa ia memilih bidang rumit ini? "Banyak tantangannya," aku
pria kelahiran Kediri, 26 Februari 1938 ini. Lulus dari Fakultas Kedokteran
UI (FKUI) tahun 1963, ia memperdalam spesialisasi penyakit syaraf. Setelah
beberapa tahun menjadi asisten Prof. Mahar Mardjono (ahli penyakit syaraf)
dan ujian bedahnya berhasil dengan baik, ia disarankan mengambil keahlian
bedah syaraf. "Karena ahlinya jarang, saya sedikit saingan. Selain itu,
bekerjanya lebih leluasa."
Alasan lain, "Agar penanganan kelainan syaraf bisa komplet dan
tuntas," tambahnya. Jadi, bisa disatu-atapkan karena dokter ahli syaraf
dan dokter ahli bedah syaraf biasanya orang yang berbeda.
Menjadi tukang bongkar otak alias ahli bedah syaraf, menurut Padmo, sangat
mengasyikkan meski mensyaratkan ketelitian ekstra. Sebelum membongkar, harus
diketahui benar apa penyakit dan penyebabnya, serta tepat dalam
mendiagnosis. Selain itu, ia harus menguasai peta otak, yang lebih rumit
daripada peta dunia.
Lalu, harus dipikirkan pula bagian mana yang perlu dibuka. "Otak tidak
boleh dibuka semuanya blak, nanti bisa enggak karuan," katanya
mengingatkan fungsi luhur yang berpusat di otak.
"Saya bersyukur dianugerahi oleh Yang Mahakuasa ingatan yang kuat dan
keterampilan mengatasi hal yang rumit ini," tutur Padmo. Apa karena itu
ia disebut dokter bertangan dingin? "Mungkin karena saya bisa cepat
membuat analisis dan bertindak cepat." Namun, Padmo tidak jumawa dengan
tangan dinginnya itu.
Sebelum mencapai masa pensiun pada usia 70 tahun nanti, kini Prof. Padmo
sudah mulai merintis penggantinya sebagai kepala bagian bedah syaraf.
"Saya tidak mau seperti pemain wayang orang, sekali sampai tua terus
berperan jadi Gatotkaca," akunya sambil terus terang merasa belum
menemukan yang pas. Satu syarat yang sulit terpenuhi adalah belum ada yang
mau berdedikasi penuh. "Dulu saya bisa tiga hari tidak tidur dan tidak
pulang karena belum puas dengan hasil kerja. Sekarang mana ada dokter yang
begitu, karena mereka mesti cari duit!"
Indonesia perlu medical council
Tentu saja Padmo prihatin dengan pendapat, dokter sekarang cenderung mencari
uang. "Dokter adalah tenaga sosial dengan tugas kemanusiaan. Seharusnya
dokter digaji cukup hingga bisa berdedikasi penuh. Dengan demikian, ia tidak
perlu 'nyeleweng' atau ditangisi di rumah karena asap dapurnya tidak ngebul."
Celakanya, di Indonesia dokter punya image yang telanjur tinggi.
Dokter dituntut berpenampilan OK, punya rumah dan mobil sendiri. "Coba
apa kata orang kalau dokter setiap hari berdesakan di bus atau jalan kaki
dengan pakaian kumal, apa Anda akan percaya padanya? Saya yang berambut
gondrong pun pernah diprotes. Ada orang ingin bertemu saya, tapi enggak
percaya kalau saya si dokter yang dimaksud. Pernah juga saya diusir, 'Eh,
mau cari siapa, Pak?' Ketika saya jelaskan bahwa saya dokter, mereka
kaget."
Guru besar FKUI ini mencoba membandingkan sistem penggajian di negara maju,
misalnya Belanda. Penduduk harus mengikuti asuransi kesehatan, sehingga
pengobatan yang mahal pun bisa dibantu. Perusahaan asuransilah yang kemudian
menyusun peraturan standar gaji dokter berdasarkan kualifikasi, lamanya
pendidikan, lamanya bekerja, tanggung jawab yang dipikul. Dengan standar
gaji yang tinggi, dokter hanya memikirkan profesinya, tak perlu memikirkan
dari mana ia mesti hidup. Dokter yang bergaji sudah bagus tapi masih
"nyeleweng" tentu akan lebih mudah dituntut.
Di negara maju urusan dokter dan rumah sakit ditangani oleh lembaga
independen yaitu medical council. Lembaga ini mengontrol kualitas dan
perilaku para dokter dan RS demi perlindungan hak konsumen. Misalnya,
menguji kemampuan dokter yang berusia 70 tahun, apakah masih bisa dipakai
atau tidak.
Mereka juga menentukan peraturan dan daftar tarif yang jelas sesuai keahlian
dokter. Alhasil, pasien bisa memperkirakan berapa dana yang diperlukan untuk
pembedahan X, lalu menyiapkannya. Maka tak ada lagi dokter yang berkata,
"Kalau enggak sanggup bayar, cari dokter lain saja!"
Ini akan mencegah pelanggaran etika kedokteran. "Tak ada lagi dokter
yang mengutamakan kelompok tertentu," tuturnya.
Sayang, dokter Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan gaji dari pemerintah.
"Akhirnya muncul fenomena dokter praktik di sana-sini atau pasang tarif
tinggi. Ini bisa dimengerti, kalau tidak, bagaimana mereka bisa hidup
layak?"
Melihat kondisi itu, ia tidak pernah menuntut anak buah bekerja hanya
berdasar lamanya jam kerja. "Yang utama, tanggung jawab atas tugas yang
saya berikan harus selesai tepat pada waktunya dan rapi," tutur suami
Thea Tarek, yang dinikahinya 29 tahun lalu.
Jangan tergantung pada harta
Cukup mengherankan rasa pengertian bisa muncul dari diri Padmo yang mengaku
selama ini selalu hidup cukup, yang antara lain berkat peninggalan orang
tuanya. Anak ke-13 dari 17 bersaudara ini memang berasal dari keluarga
mampu. Ayahnya pegawai tinggi jawatan kereta api zaman Belanda. "Zaman
itu orang pribumi berpangkat tinggi dan punya bawahan orang Belanda, ya,
seperti bapak saya itu," ceritanya. Sebab, ayah dari ibunya keturunan
Kasunanan dan Mangkunegaran.
Saat itu anak-anaknya diperbolehkan masuk sekolah Belanda (Europese Lagere
School), SD khusus untuk orang Eropa. Dari situ boleh melanjutkan ke Hogere
Burger School (HBS) yang cuma ada di kota-kota besar seperti Jakarta,
Surabaya, Bandung, dan Semarang. Orang pribumi paling cuma bisa sekolah
"Ongko Loro". Jadi dokter pun, bisanya dokter Jawa lulusan NIAS.
Tentang keluarga besarnya, ia bercerita, ayah-ibunya hidup disiplin.
Contohnya, setiap anak dari yang paling tua sampai yang terkecil mempunyai
tugas masing-masing sesuai umur. Malam sebelum tidur semua harus menyemir
sepatu untuk persiapan esok. Pagi pukul 05.00, ibunya membangunkan semua
anak untuk mengerjakan tugas masing-masing seperti menyapu, merapikan tempat
tidur, dll. Yang menarik, saat terima rapor, semua rapor dibuka dan
dijejerkan. Kalau ada angka yang kurang memuaskan hanya ditanya apa
sebabnya, tapi tidak kena marah. Tiap liburan mereka boleh pilih ingin pergi
ke mana, tinggal naik kereta api gratis.
Orang tuanya memang sangat mementingkan pendidikan yang tinggi bagi semua
anaknya. "Bapak tidak pernah mengungkapkan bahwa ekonominya kuat. Pada
anaknya, ia hanya menekankan, ilmu lebih penting daripada harta. Harta
sekejap bisa sirna, tapi ilmu tidak. Jadi, jangan sekali-kali terikat pada
harta. Petuah itu terus saya pegang hingga kini."
Itukah yang menyebabkan kenapa Prof. Padmo tidak pernah praktik di luar?
"Ya, karena saya pikir, hidup saya sudah cukup dan saya lebih baik
konsentrasi ke pekerjaan saja. Apalagi sekarang saya sudah di atas 60 tahun,
cari apa lagi?" tegasnya.
Nikmatnya keroncongan
"Cari apa lagi?" memang tidak mudah dijawab. Apalagi dengan
menganut teori aktualisasi diri tokoh psikologi Maslow, setelah berkarya
sebagai dokter selama 37 tahun, Prof. Padmosantjojo kini merasa, kebutuhan
utama sudah tercapai. "Semua yang saya inginkan sudah tercapai. Saya
tak perlu kerja mati-matian seperti dulu. Pangkat profesor sudah saya
capai."
Maka, sebagian pun dipakai untuk menikmati hidup lewat hobinya: melukis,
menyanyi, bermain musik, dansa, membaca buku-buku sejarah, dan merawat
tanaman.
Hobi melukis yang sudah terbit sejak kanak-kanak, mulai aktif ditekuninya
lagi tahun 1997. "Saya cukup belajar sendiri dari berbagai buku
melukis," katanya sambil mengaku bisa tahan menggores cat minyak di
lembar kanvas sampai pukul 01.00 pagi.
Tidak kalah getol hobi berdansa, seperti Tango, Waltz, Chachacha, Rumba,
Quick Step, dll. Ini semua dipelajari saat ia di Belanda. "Di sana ahli
bedah syaraf dianggap elite, jadi harus bisa mengikuti kehidupan kaum elite.
Kebetulan istri saya orang Manado, jadi juga senang dansa," tambahnya.
Menyinggung soal tanaman, ia memang pernah bercita-cita meneruskan ke
Fakultas Pertanian, tapi kemudian masuk kedokteran karena keinginan sang
ayah. Saat berkunjung ke luar negeri, ke negara mana pun, ia selalu
menyempatkan diri mengunjungi Botanical Garden untuk mempelajari aneka macam
tanaman. "Saya iri menyaksikan begitu pandainya orang Eropa mengatur
tanaman. Masak kembang telekan di sebuah bekas istana di Swedia bisa disusun
begitu indah, berwarna-warni? Kenapa kita ndak bisa?"
Kesenangan ini ia salurkan saat menata rumahnya yang tidak terkesan mewah di
kawasan Kemang, Jakarta. Kebun belakangnya asri dengan pelbagai tanaman hias
kesukaannya ditambah sumur "jolotundo" buatan sendiri
dengan ember digantung yang terus dialiri air, menambah adem suasana.
Selain ketiga hobi itu, ia juga penikmat musik Jawa, keroncong, serta
klasik. Bila ada kesempatan, dua minggu sekali orkes keroncongnya main di
fakultas dengan penonton para dokter. Sedangkan di rumahnya sebulan sekali
ada acara kumpul-kumpul berlatih dan menikmati keroncong. Saat ia membedah
pasien pun di kamar bedahnya selalu diiringi lagu langgam Jawa atau
keroncong. "Dalam kenyataan, saat operasi berjalan saya ndak
mendengar musik itu. Begitu operasi berhasil, telinga serasa plong.
Musik mengalir, saya pun jadi rileks," ujarnya.
Kegemaran lainnya, ia betah menonton wayang kulit sampai ngebyar
semalam suntuk. Dari sekian banyak tokoh pewayangan, justru Semar yang
berpenampilan jelek yang menjadi idolanya. Alasannya, "Semar itu
bijaksana, suka menolong, tidak pernah berbohong, tidak banyak bicara, tidak
suka umuk (sok - Red) tapi selalu eling (tahu
diri)," tuturnya sambil tersenyum nggleges membayangkan idolanya
yang punya senjata andal kentut maut. Tak aneh bila kemudian ia memasang
entah gambar atau patung Semar dalam berbagai ukuran di rumahnya.
Bagaimana dengan Napoleon, yang gambarnya tergantung di ruang kerjanya?
"Kelebihan Napoleon adalah dalam soal konsisten dan betapa sistematis
cara kerjanya."
Sedikitnya penguasa Prancis itu mengilhaminya untuk menyusun buku prosedur
baku untuk setiap penyakit yang perlu ditangani oleh ahli bedah syaraf.
Dalam buku itu akan tercantum mulai dari cara memeriksa, cara mengoperasi,
bagaimana menanganinya, apa saja yang dibutuhkan, serta diagnosisnya.
"Ini untuk melengkapi yang ada sekarang yang cuma berisi gejala
penyakit dan cara penanggulangannya," katanya. Filosofi Padmo adalah
mencari akar masalah penyakit, bukan hanya mengobati gejalanya. Saat
menolong, apa saja yang dibutuhkan, dan selesai menolong, apa lagi yang bisa
dilakukan.
Toh Napoleon bukan idolanya, "Ia punya banyak kekurangan," tutur
ayah satu putri, Mutiara, yang psikolog.
Dokter yang tiap hari olahraga lari sejauh 3 - 5 km mengaku tidak punya
tokoh idola lain dari mana pun. "Jagoan saya tetap bapaknya para
punakawan, Semar," tuturnya sambil tersenyum lebar. Wah, benar-benar
Semar alias eseme jembar (senyumnya lebar). (Nanny Selamihardja/
Shinta Teviningrum)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||