globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Panda butuh kaset video porno

Sudah lama beruang panda terkenal sebagai binatang langka. Sudah lama pula umat manusia mencoba melestarikan sisanya agar tidak makin punah. Salah satu upaya yang dilakukan akhir-akhir ini berupa kawin suntik.

Alasan untuk melakukannya ialah sulitnya panda jantan mengawini panda betina. Senjatanya terlalu kecil dibandingkan dengan tubuhnya yang begitu kekar. Sedangkan masa subur panda betina hanya lima hari selama setahun. Terlalu singkat!

Jadi, mengandalkan pertempuran satu lawan satu sampai membuahkan panda cilik juga jarang berhasil. Sampai tahun 1989 hanya 30 ekor bayi panda per tahun yang dilahirkan di kebun binatang seluruh dunia. Ini laju perkembangan biak yang kurang pesat!

Pemerintah RRC kemudian menerapkan inseminasi buatan (penyuntikan sperma) pada kaum panda gedongan, peliharaan piaraan di Pusat Penelitian Panda Wolong. Pusat ini dibangun di tengah Taman Nasional Wolong, Propinsi Sechuan, Cina Tenggara.

Tukang rangsang

Usaha inseminasi itu sudah dirintis sejak tahun 1985. Salah seekor panda betina yang akan dikawinkan diberi nama Dongdong. Ia seekor panda dari hutan Taman Nasional yang menurut track record-nya sudah tiga kali bersalin secara alamiah. Kini ia dipersiapkan untuk kawin suntik, dan sudah disuntik hormon kelamin perempuan seperlunya.

Dalam sel kamarnya dipasang pesawat TV yang memutar kaset video porno, untuk merangsang libidonya. "Memang tidak banyak yang dapat ditonton pada layar kaca, tetapi teriakan berahi para panda dalam video porno itu berhasil merangsangnya," tutur Dr. Zhang Hemin, direktur pusat penelitian panda itu.

Usahanya berhasil. Dongdong mulai gelisah dalam kandangnya dan mejeng di depan Xinxing (panda jantan) tetangganya, dalam kandang sebelah. Tetapi justru panda jantan tetangga ini yang melempem! Ia duduk tidak berminat di pojok kandang dan sama sekali tidak tertarik oleh pendekatan Dongdong yang sudah berahi. Penjaga kandang tidak kurang-kurang bersemangatnya mendorong Xinxing dengan galah bambu supaya mendekati Dongdong. Tetapi sia-sia belaka!

Para peneliti di Wolong sudah menduga sikap Xinxing seperti itu, dan tidak putus asa. Dalam rencana kerja juga tidak ada acara mengawinkan Dongdong dengan Xinxing. Panda jantan ini hanya diminta jasa baiknya untuk merangsang gairah seks Dongdong agar sel telurnya siap dibuahi. Tidak lebih dari itu!

Pada malam harinya, Xinxing dikumpulkan dalam satu kandang dengan Dongdong, setelah jelas Dongdong ini memuncak berahinya. Setelah dikumpulkan itu, dan suasana malam syahdu juga cukup mendukung, keduanya jatuh cinta seperti temanten baru saja. Tujuh menit 28 detik lamanya mereka asyik masyuk bermain cinta. Malam itu memang tidak ada penonton yang mengganggu kemesraan mereka, kecuali Dokter Hewan Tang Chunxing yang bertugas "mengamati perkembangan". Cara mengamatinya juga tidak kentara, agar tidak bikin malu.

Esok harinya, Dokter Tang menembak Dongdong dengan panah pembius dari jarak 4 m, persis pada salah satu pahanya. Sepuluh menit kemudian, ia menyogokkan sebatang bambu di antara rahang Dondong. Tak ada reaksi untuk menggigit. Berarti beruang itu sudah terbius sama sekali.

Kedua kakinya kemudian diikat dengan tambang tebal, lalu diangkut dengan kereta dorong ke kamar operasi.

Tak jelas, mengapa dirahasiakan

Setelah dipasangi alat pengukur pulsa jantung dan tekanan darah untuk dipantau, Dongdong yang dibaringkan di atas brancard (tandu usungan orang sakit) kemudian "disuntik" dengan sperma Xinxing. Dengan cepat brancard itu dinaikkan ujungnya sehingga pantat Dondong lebih tinggi letaknya daripada kepalanya. Ini perlu, agar sperma yang sudah disuntikkan tidak mengalir keluar lagi dari alat vitalnya.

Sperma Xinxing yang disuntikkan itu jauh hari sebelumnya sudah diambil dengan paksa dari pemiliknya. Tidak hanya Xinxing yang mengalami nasib serupa, tetapi juga beberapa panda jantan lain dari kebun binatang Chengdu, seperti misalnya Kebi. Ia panda jantan yang sudah cukup umur dan cukup macho, tetapi melempem seperti Xinxing.

Setelah dibius, ia diikat untuk dimasuki sebatang logam tahan karat berisi eletroda dalam lubang duburnya. Di situ tempat berkumpul urat-urat saraf halus yang peka terhadap rangsangan seks. Setelah dialiri listrik arus lemah 8 Volt selama lima menit, beruang macho itu terangsang seksnya, walaupun ia terbius dan telentang tanpa daya. Spermanya ditampung dalam kondom ukuran beruang.

"Separonya kita pakai untuk inseminasi buatan, dan selebihnya disimpan beku dalam bank gen!" tutur Dr. Zhang Hemin.

Rencananya, sperma tidak hanya disuntikkan langsung ke panda betina yang memenuhi syarat, tetapi juga ada yang akan dibubuhkan pada sel telur panda dalam cawan petri. Setelah berhasil dibuahi, embrio yang terbentuk kemudian ditransplantasikan ke dalam rahim panda betina yang pada dasarnya tidak bisa membuahkan sel telurnya sendiri secara alami.

Pada musim gugur berikutnya, Dongdong melahirkan anak hasil inseminasi buatan itu. Bayinya hanya sekecil mencit satu ons. Bayi kicit ini benar-benar tidak berdaya, dan perlu diselamatkan dalam incubator seperti yang dipakai menyelamatkan bayi prematur di rumah sakit bersalin manusia.

Mula-mula ia masih telanjang bulat berwarna merah muda, belum berbulu. Tetapi sesudah beberapa minggu tumbuhlah bulunya yang halus keperak-perakan. Matanya masih terpejam, dan baru melek sesudah berumur tujuh minggu.

Setiap jam ia disusui dengan air susu ibunya, diseling dengan susu sapi dari botol. Susu "buatan" ini diberi vitamin, tetapi susunannya dirahasiakan oleh pemerintah RRC.

Dari tahun 1963 sampai 1989, sepertiga dari bayi panda yang dilahirkan di kebun binatang-kebun binatang sedunia mati muda dalam usia 6 bulan pertama. Tetapi dalam tujuh tahun berikutnya, para ilmuwan di Wolong berhasil menangkarkan panda secara buatan itu dengan selamat, karena perlakuan seperti menangani bayi manusia. Enam dari tujuh bayi yang dilahirkan selalu selamat hidup terus.

Anak panda yang sudah dewasa dipelihara di taman panda dalam kompleks pusat penelitian. Sampai tahun 2000 ini sudah terkumpul 38 ekor panda dewasa hasil inseminasi buatan, dengan menu makanan berupa campuran daun bambu, apel, dan roti yang diperkaya dengan vitamin.

Dulu, panda disuruh hidup terpenjara seumur hidup dalam kandang. Tetapi sekarang, mereka dilepas bebas dalam taman agar mau keluyuran, dan bertandang ke kandang tetangganya.

"Dengan mencium dan mengeluarkan bau, mereka saling bertukar informasi. Mudah-mudahan juga berkencan untuk pacaran!" tutur Dokter Hewan Tang optimistis.

Gara-gara ganti menu

Para ilmuwan Wolong sudah lama tahu bahwa dalam rumah tahanan, kaum panda kehilangan nafsu untuk berpacaran, seperti di kebun binatang-kebun binatang lain sedunia. Kalau pun ada panda yang bernafsu (di alam aslinya), mereka sangat pemilih menghadapi calon pasangan, dan tidak mudah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kurangnya semangat ini diduga karena mereka dulu pada dasarnya binatang pemakan daging seperti beruang lain pada umumnya. Tetapi suatu ketika, dalam evolusi selama jutaan tahun, mereka bermutasi menjadi binatang pemakan tumbuh-tumbuhan. Karena menu makanan mereka cuma daun bambu yang rendah nilai gizinya, mereka lebih sering lapar daripada kenyang.

Akibatnya, mereka terpaksa "makan" waktu lama (sampai empat belas jam sehari) untuk makan melulu. Setiap hari, ia perlu 40 kg daun bambu muda. Sialnya, 80% dari makanan itu tidak tercerna, dan keluar lagi dari "pintu belakang". Kalori yang dihasilkan begitu rendah, sampai beruang itu lebih sering malas daripada keluyuran. Jalannya lamban, dan kalau tidak ada apa-apa, ya tidur sajalah, berisitirahat dari "pekerjaan berat"-nya yang melelahkan sebelumnya. Yaitu makan!

Kemungkinan hidup selamat, bagi anak panda di alam bebas zaman sekarang juga sangat kecil. Sudah berabad-abad lamanya mereka diburu oleh umat manusia, untuk diambil kulitnya. Di Jepang, Hongkong, dan Taiwan, bulu panda dibeli seharga Rp 80 juta. Sama harganya dengan mobil sedan bekas di Indonesia.

Selain berkurang karena diburu, kaum panda generasi muda yang masih selamat dalam hutan juga makin lama makin "habis terkuras" secara genetik. Keturunannya makin banyak yang tidak sehat, mati muda, dan sama sekali tidak ada nafsu untuk mempertahankan jenis. Di daerah penyebarannya di Cina, mereka ditaksir tinggal 800 - 1.000 ekor, yang membentuk kira-kira 12 populasi terpisah, tidak bisa saling berhubungan. Mereka terhalang oleh tempat-tempat permukiman manusia. Hutannya sudah dibabat habis, dan lahannya yang gundul diubah menjadi ladang untuk bertani.

Setelah WWF (World Wildlife Fund yang kemudian balik nama menjadi World Wide Fund for Nature) memetakan daerah penyebaran mereka dengan bantuan satelit, para pelestari panda sedunia bekerja sama untuk menghutankan kembali wilayah mereka ynag sudah jelas itu sambil membangun "lorong-lorong" lebar di berbagai lembah untuk mempermudah pertukaran populasi. Jadi, tidak ada kemungkinan kawin sumbang lagi dalam populasi sendiri. Bahaya kawin sumbang yang menghasilkan keturunan yang sakit-sakitan, sebelumnya merajalela karena terisolasinya populasi masing-masing.

Rehabilitasi panda

Kini, dengan bayi-bayi panda hasil inseminasi buatan di Pusat Penelitian Panda Wolong itu, para pakar panda ingin mengisi kembali hutan bambu yang sudah dihutankan kembali itu. Sampai tahun 2005, rencananya semua panda hasil penangkaran buatan manusia akan dilepas ke hutan lindung Taman Nasional di sekitar pusat penelitian itu. Tetapi belum sampai rencana itu dilakukan, sudah terbetik berita yang mengecewakan.

Seekor panda yang sudah dilepas ke hutan tahun 1992, ternyata pulang kembali ke kompleks pusat penelitian setelah mengembara tiga bulan. Badannya susut 25 kg, seperempat dari bobot total semula. Untung tidak mati!

Untuk bisa bertahan hidup dalam hutan, "panda gedongan" memang harus diajari dulu bagaimana cara mencari makan sendiri di hutan. Bagaimana ia harus menandai batas daerah pencarian nafkahnya dengan bau-bauan tubuh, dan bagaimana mereka mencari gua untuk berlindung dari keganasan musim dingin. Untuk melatih keterampilan ini, perlu tempat pelatihan, dan untuk itu jelas perlu uang. WWF yang tahun 1983 menyumbang AS $ 1 juta untuk membantu membangun kompleks Pusat Penelitian itu, kini hanya menyumbang AS $ 2.000 setahun.

Untuk membantu mengumpulkan biaya rehabilitasi panda ke hutan lindung, pusat penelitian itu kini membuat Taman Nasional Wolong sebagai objek wisata. Di pintu keluar masuknya banyak gadis setempat yang menawarkan cindera mata boneka panda, permen panda, coklat panda, bahkan rokok dan cangkir berikut teko minum teh panda. Sebuah ransel bergambar muka panda dijual Rp 20.000,- dan laku keras seperti pisang goreng.

Pernah juga ada sebuah tim dari Australia yang ingin membuat film dari panda yang dilepas dalam hutan Taman Nasional. Itu boleh saja, asal membayar honorarium bagi panda yang menjadi bintang film dadakan. Untuk itu, seekor panda dari pusat penelitian dibawa ke hutan bersama pawangnya. Berjam-jam lamanya pawang ini harus membujuknya agar mau memanjat pohon yang bisa dibidik dengan kamera.

Peristiwa ini memberi gagasan pada pawang yang lain untuk menggiring panda asuhannya ke sungai supaya mau mandi. Jadi bisa ditembak nanti, kapan-kapan, kalau ada kru film Amerika yang berminat.

Pengunjung domestik Taman Nasional itu sendiri ternyata lumayan juga banyaknya, sampai 60.000 orang per tahun. Mereka ingin tahu bagaimana pemerintahnya melestarikan beruang yang imut-imut itu, dengan menghutankan kembali panda gedongan hasil penangkaran kawin suntik. (Mathias Schepp/SS)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej