|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
Panda butuh kaset video porno
Sudah
lama beruang panda terkenal sebagai binatang langka. Sudah lama pula umat
manusia mencoba melestarikan sisanya agar tidak makin punah. Salah satu
upaya yang dilakukan akhir-akhir ini berupa kawin suntik.
Jadi, mengandalkan pertempuran satu lawan satu sampai membuahkan panda cilik
juga jarang berhasil. Sampai tahun 1989 hanya 30 ekor bayi panda per tahun
yang dilahirkan di kebun binatang seluruh dunia. Ini laju perkembangan biak
yang kurang pesat!
Pemerintah RRC kemudian menerapkan inseminasi buatan (penyuntikan sperma)
pada kaum panda gedongan, peliharaan piaraan di Pusat Penelitian Panda
Wolong. Pusat ini dibangun di tengah Taman Nasional Wolong, Propinsi
Sechuan, Cina Tenggara.
Tukang rangsang
Usaha inseminasi itu sudah dirintis sejak tahun 1985. Salah seekor panda
betina yang akan dikawinkan diberi nama Dongdong. Ia seekor panda dari hutan
Taman Nasional yang menurut track record-nya sudah tiga kali bersalin
secara alamiah. Kini ia dipersiapkan untuk kawin suntik, dan sudah disuntik
hormon kelamin perempuan seperlunya.
Dalam sel kamarnya dipasang pesawat TV yang memutar kaset video porno, untuk
merangsang libidonya. "Memang tidak banyak yang dapat ditonton pada
layar kaca, tetapi teriakan berahi para panda dalam video porno itu berhasil
merangsangnya," tutur Dr. Zhang Hemin, direktur pusat penelitian panda
itu.
Usahanya berhasil. Dongdong mulai gelisah dalam kandangnya dan mejeng
di depan Xinxing (panda jantan) tetangganya, dalam kandang sebelah. Tetapi
justru panda jantan tetangga ini yang melempem! Ia duduk tidak berminat di
pojok kandang dan sama sekali tidak tertarik oleh pendekatan Dongdong yang
sudah berahi. Penjaga kandang tidak kurang-kurang bersemangatnya mendorong
Xinxing dengan galah bambu supaya mendekati Dongdong. Tetapi sia-sia belaka!
Para peneliti di Wolong sudah menduga sikap Xinxing seperti itu, dan tidak
putus asa. Dalam rencana kerja juga tidak ada acara mengawinkan Dongdong
dengan Xinxing. Panda jantan ini hanya diminta jasa baiknya untuk merangsang
gairah seks Dongdong agar sel telurnya siap dibuahi. Tidak lebih dari itu!
Pada malam harinya, Xinxing dikumpulkan dalam satu kandang dengan Dongdong,
setelah jelas Dongdong ini memuncak berahinya. Setelah dikumpulkan itu, dan
suasana malam syahdu juga cukup mendukung, keduanya jatuh cinta seperti
temanten baru saja. Tujuh menit 28 detik lamanya mereka asyik masyuk bermain
cinta. Malam itu memang tidak ada penonton yang mengganggu kemesraan mereka,
kecuali Dokter Hewan Tang Chunxing yang bertugas "mengamati
perkembangan". Cara mengamatinya juga tidak kentara, agar tidak bikin
malu.
Esok harinya, Dokter Tang menembak Dongdong dengan panah pembius dari jarak
4 m, persis pada salah satu pahanya. Sepuluh menit kemudian, ia menyogokkan
sebatang bambu di antara rahang Dondong. Tak ada reaksi untuk menggigit.
Berarti beruang itu sudah terbius sama sekali.
Kedua kakinya kemudian diikat dengan tambang tebal, lalu diangkut dengan
kereta dorong ke kamar operasi.
Tak jelas, mengapa dirahasiakan
Setelah dipasangi alat pengukur pulsa jantung dan tekanan darah untuk
dipantau, Dongdong yang dibaringkan di atas brancard (tandu usungan
orang sakit) kemudian "disuntik" dengan sperma Xinxing. Dengan
cepat brancard itu dinaikkan ujungnya sehingga pantat Dondong lebih
tinggi letaknya daripada kepalanya. Ini perlu, agar sperma yang sudah
disuntikkan tidak mengalir keluar lagi dari alat vitalnya.
Sperma Xinxing yang disuntikkan itu jauh hari sebelumnya sudah diambil
dengan paksa dari pemiliknya. Tidak hanya Xinxing yang mengalami nasib
serupa, tetapi juga beberapa panda jantan lain dari kebun binatang Chengdu,
seperti misalnya Kebi. Ia panda jantan yang sudah cukup umur dan cukup macho,
tetapi melempem seperti Xinxing.
Setelah dibius, ia diikat untuk dimasuki sebatang logam tahan karat berisi
eletroda dalam lubang duburnya. Di situ tempat berkumpul urat-urat saraf
halus yang peka terhadap rangsangan seks. Setelah dialiri listrik arus lemah
8 Volt selama lima menit, beruang macho itu terangsang seksnya,
walaupun ia terbius dan telentang tanpa daya. Spermanya ditampung dalam
kondom ukuran beruang.
"Separonya kita pakai untuk inseminasi buatan, dan selebihnya disimpan
beku dalam bank gen!" tutur Dr. Zhang Hemin.
Rencananya, sperma tidak hanya disuntikkan langsung ke panda betina yang
memenuhi syarat, tetapi juga ada yang akan dibubuhkan pada sel telur panda
dalam cawan petri. Setelah berhasil dibuahi, embrio yang terbentuk kemudian
ditransplantasikan ke dalam rahim panda betina yang pada dasarnya tidak bisa
membuahkan sel telurnya sendiri secara alami.
Pada musim gugur berikutnya, Dongdong melahirkan anak hasil inseminasi
buatan itu. Bayinya hanya sekecil mencit satu ons. Bayi kicit ini
benar-benar tidak berdaya, dan perlu diselamatkan dalam incubator
seperti yang dipakai menyelamatkan bayi prematur di rumah sakit bersalin
manusia.
Mula-mula ia masih telanjang bulat berwarna merah muda, belum berbulu.
Tetapi sesudah beberapa minggu tumbuhlah bulunya yang halus keperak-perakan.
Matanya masih terpejam, dan baru melek sesudah berumur tujuh minggu.
Setiap jam ia disusui dengan air susu ibunya, diseling dengan susu sapi dari
botol. Susu "buatan" ini diberi vitamin, tetapi susunannya
dirahasiakan oleh pemerintah RRC.
Dari tahun 1963 sampai 1989, sepertiga dari bayi panda yang dilahirkan di
kebun binatang-kebun binatang sedunia mati muda dalam usia 6 bulan pertama.
Tetapi dalam tujuh tahun berikutnya, para ilmuwan di Wolong berhasil
menangkarkan panda secara buatan itu dengan selamat, karena perlakuan
seperti menangani bayi manusia. Enam dari tujuh bayi yang dilahirkan selalu
selamat hidup terus.
Anak panda yang sudah dewasa dipelihara di taman panda dalam kompleks pusat
penelitian. Sampai tahun 2000 ini sudah terkumpul 38 ekor panda dewasa hasil
inseminasi buatan, dengan menu makanan berupa campuran daun bambu, apel, dan
roti yang diperkaya dengan vitamin.
Dulu, panda disuruh hidup terpenjara seumur hidup dalam kandang. Tetapi
sekarang, mereka dilepas bebas dalam taman agar mau keluyuran, dan
bertandang ke kandang tetangganya.
"Dengan mencium dan mengeluarkan bau, mereka saling bertukar informasi.
Mudah-mudahan juga berkencan untuk pacaran!" tutur Dokter Hewan Tang
optimistis.
Gara-gara ganti menu
Para ilmuwan Wolong sudah lama tahu bahwa dalam rumah tahanan, kaum panda
kehilangan nafsu untuk berpacaran, seperti di kebun binatang-kebun binatang
lain sedunia. Kalau pun ada panda yang bernafsu (di alam aslinya), mereka
sangat pemilih menghadapi calon pasangan, dan tidak mudah jatuh cinta pada
pandangan pertama.
Kurangnya semangat ini diduga karena mereka dulu pada dasarnya binatang
pemakan daging seperti beruang lain pada umumnya. Tetapi suatu ketika, dalam
evolusi selama jutaan tahun, mereka bermutasi menjadi binatang pemakan
tumbuh-tumbuhan. Karena menu makanan mereka cuma daun bambu yang rendah
nilai gizinya, mereka lebih sering lapar daripada kenyang.
Akibatnya, mereka terpaksa "makan" waktu lama (sampai empat belas
jam sehari) untuk makan melulu. Setiap hari, ia perlu 40 kg daun bambu muda.
Sialnya, 80% dari makanan itu tidak tercerna, dan keluar lagi dari
"pintu belakang". Kalori yang dihasilkan begitu rendah, sampai
beruang itu lebih sering malas daripada keluyuran. Jalannya lamban, dan
kalau tidak ada apa-apa, ya tidur sajalah, berisitirahat dari
"pekerjaan berat"-nya yang melelahkan sebelumnya. Yaitu makan!
Kemungkinan hidup selamat, bagi anak panda di alam bebas zaman sekarang juga
sangat kecil. Sudah berabad-abad lamanya mereka diburu oleh umat manusia,
untuk diambil kulitnya. Di Jepang, Hongkong, dan Taiwan, bulu panda dibeli
seharga Rp 80 juta. Sama harganya dengan mobil sedan bekas di Indonesia.
Selain berkurang karena diburu, kaum panda generasi muda yang masih selamat
dalam hutan juga makin lama makin "habis terkuras" secara genetik.
Keturunannya makin banyak yang tidak sehat, mati muda, dan sama sekali tidak
ada nafsu untuk mempertahankan jenis. Di daerah penyebarannya di Cina,
mereka ditaksir tinggal 800 - 1.000 ekor, yang membentuk kira-kira 12
populasi terpisah, tidak bisa saling berhubungan. Mereka terhalang oleh
tempat-tempat permukiman manusia. Hutannya sudah dibabat habis, dan lahannya
yang gundul diubah menjadi ladang untuk bertani.
Setelah WWF (World Wildlife Fund yang kemudian balik nama menjadi World Wide
Fund for Nature) memetakan daerah penyebaran mereka dengan bantuan satelit,
para pelestari panda sedunia bekerja sama untuk menghutankan kembali wilayah
mereka ynag sudah jelas itu sambil membangun "lorong-lorong" lebar
di berbagai lembah untuk mempermudah pertukaran populasi. Jadi, tidak ada
kemungkinan kawin sumbang lagi dalam populasi sendiri. Bahaya kawin sumbang
yang menghasilkan keturunan yang sakit-sakitan, sebelumnya merajalela karena
terisolasinya populasi masing-masing.
Rehabilitasi panda
Kini, dengan bayi-bayi panda hasil inseminasi buatan di Pusat Penelitian
Panda Wolong itu, para pakar panda ingin mengisi kembali hutan bambu yang
sudah dihutankan kembali itu. Sampai tahun 2005, rencananya semua panda
hasil penangkaran buatan manusia akan dilepas ke hutan lindung Taman
Nasional di sekitar pusat penelitian itu. Tetapi belum sampai rencana itu
dilakukan, sudah terbetik berita yang mengecewakan.
Seekor panda yang sudah dilepas ke hutan tahun 1992, ternyata pulang kembali
ke kompleks pusat penelitian setelah mengembara tiga bulan. Badannya susut
25 kg, seperempat dari bobot total semula. Untung tidak mati!
Untuk bisa bertahan hidup dalam hutan, "panda gedongan" memang
harus diajari dulu bagaimana cara mencari makan sendiri di hutan. Bagaimana
ia harus menandai batas daerah pencarian nafkahnya dengan bau-bauan tubuh,
dan bagaimana mereka mencari gua untuk berlindung dari keganasan musim
dingin. Untuk melatih keterampilan ini, perlu tempat pelatihan, dan untuk
itu jelas perlu uang. WWF yang tahun 1983 menyumbang AS $ 1 juta untuk
membantu membangun kompleks Pusat Penelitian itu, kini hanya menyumbang AS $
2.000 setahun.
Untuk membantu mengumpulkan biaya rehabilitasi panda ke hutan lindung, pusat
penelitian itu kini membuat Taman Nasional Wolong sebagai objek wisata. Di
pintu keluar masuknya banyak gadis setempat yang menawarkan cindera mata
boneka panda, permen panda, coklat panda, bahkan rokok dan cangkir berikut
teko minum teh panda. Sebuah ransel bergambar muka panda dijual Rp 20.000,-
dan laku keras seperti pisang goreng.
Pernah juga ada sebuah tim dari Australia yang ingin membuat film dari panda
yang dilepas dalam hutan Taman Nasional. Itu boleh saja, asal membayar
honorarium bagi panda yang menjadi bintang film dadakan. Untuk itu, seekor
panda dari pusat penelitian dibawa ke hutan bersama pawangnya. Berjam-jam
lamanya pawang ini harus membujuknya agar mau memanjat pohon yang bisa
dibidik dengan kamera.
Peristiwa ini memberi gagasan pada pawang yang lain untuk menggiring panda
asuhannya ke sungai supaya mau mandi. Jadi bisa ditembak nanti, kapan-kapan,
kalau ada kru film Amerika yang berminat.
Pengunjung domestik Taman Nasional itu sendiri ternyata lumayan juga
banyaknya, sampai 60.000 orang per tahun. Mereka ingin tahu bagaimana
pemerintahnya melestarikan beruang yang imut-imut itu, dengan
menghutankan kembali panda gedongan hasil penangkaran kawin suntik. (Mathias
Schepp/SS) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||