globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Agustus 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

SURAT KETERANGAN USIR TENTARA JEPANG

Ini sekelumit cerita pengalaman saat-saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI. Bisa dibayangkan bagaimana semrawut-nya kondisi keamanan saat itu. Tapi, siapa sangka banyak kejadian lucu yang timbul.

Sekitar tahun 1942, tentara Belanda tergusur dari kota penghasil minyak Balikpapan di Kalimantan Timur oleh tentara Jepang. Gelombang tentara Belanda yang mengundurkan diri melewati pinggiran Desa Batu Ampar, mengikuti jalan setapak selebar 1 m menuju utara. Pada jarak 120 km mereka sampai di Loa Janan, lalu belok kiri ke arah barat menelusuri Sungai Mahakam sampai akhirnya tiba di Kota Tenggarong.

Hampir tiap hari Tenggarong dibanjiri tentara Belanda secara bergelombang, entah memakai truk, sepeda motor, bahkan dengan berjalan kaki. Penduduk pun akrab dengan pemandangan memilukan. Beberapa orang Belanda luka-luka, malah ada yang dipapah beberapa kawannya. Lalu mereka meneruskan perjalanan ke Tanah Ulu di bagian udik Sungai Mahakam untuk mencapai daerah pedalaman agar keberadaan mereka tidak tercium oleh Jepang. Tapi, pendapat ini keliru karena akhirnya semua tentara Belanda ditawan Jepang.

Jepang datang, beras hilang

Setelah Belanda pergi, penduduk sudah memperkirakan tentara Jepang pasti akan ke Tenggarong. Penduduk mulai bertindak. Mereka mengosongkan rumah di tengah kota dan mengungsi ke pinggiran atau luar kota. Kota pun tampak sepi.

Terletak di pinggir kota rumah kami yang berukuran 12 x 35 m2 cukup luas untuk menampung anak-cucu sebagaimana rumah-rumah tempo doeloe. Bangunan itu didirikan di atas tiang-tiang ulin (kayu besi) setinggi 1 m. Kalau ada banjir yang tingginya kurang dari 1 m, lantai pun tidak tergenang air. Serambi depan ditutup dengan pagar ulin berukir.

Di rumah itu, selain beberapa orang dewasa, tinggal tiga orang anak-anak, delapan remaja putri, dan satu-satunya remaja putra berusia sekitar 15 tahun - itulah saya. Saat itu umumnya penduduk menghadapi dua masalah, yaitu cara menghadapi tentara Jepang dan masalah kelaparan.

Makanan memang sulit didapat. Beras tidak lagi dijual di pasaran. Keperluan lain seperti gula putih, garam, minyak goreng, dan tembakau sudah mulai langka. Pasalnya, kebutuhan macam itu didatangkan dari Surabaya. Padahal untuk saat itu hubungan Surabaya - Kalimantan Timur terputus. Tak heran bila penghuni pria rumah kami berusaha mencari dan membeli beras di mana saja yang memungkinkan begitu siang hari tiba. Tetapi beras ternyata sangat sulit didapat. Sudah untung kalau bisa mendapat 1 - 2 kg beras sehari.

Di masa sulit seperti itu anak-anak masih bisa diberi makan nasi tiga kali, tetapi para remaja dan orang dewasa mendapat nasi campur singkong, ubi, atau jagung yang gampang diperoleh. Keadaan itu berlangsung beberapa bulan sampai penduduk memanen hasil ladang.

Untung tak sembunyi di kolong

Sore yang cerah sekitar pukul 16.00, kami dikejutkan oleh teriakan anak-anak, "Jepang sudah masuk! Itu, sedang bersepeda kemari."

Bunyi sepeda yang dijalankan tanpa ban pompa terdengar di kejauhan. Seorang pria bermata sipit berbadan gemuk mengendarainya sambil berteriak, "Tamago! Tamago! Kok-kok-kok!"

Orang-orang tahu, ia sedang mencari telur. Ada yang nyeletuk, "Mister, tidak ada kok-kok-kok." Mister adalah panggilan umum ketika Jepang masuk.

Hari kedua Jepang masuk tidak terjadi apa-apa. Cuma ada berita tentara Jepang masuk dalam jumlah banyak di pusat kota, terutama di pasar. Tidak ada berita tentang kejahatan seperti perkosaan, kecuali nyaris diperkosa setelah diselamatkan oleh suami dan keluarga. Yang terbanyak adalah pemukulan tentara terhadap penduduk yang saat berpapasan dengan tentara tidak memberi hormat, entah dengan membungkuk atau mengangkat tangan, saluwir. Penduduk pun diajari untuk menghormati tentara Jepang.

Hari ketiga pukul 10.00, tiga orang Jepang yang sedang jalan di depan rumah, tiba-tiba berhenti sambil memperhatikan rumah kami beberapa saat. Kemudian mereka belok masuk pekarangan, menaiki tangga. Mereka disambut paman yang membukakan pintu serambi depan sambil mempersilakan duduk di ruang tamu.

Sementara itu bibi sibuk mengatur para remaja untuk sembunyi di kolong ranjang. Tapi, seperti mendapat firasat, kami satu per satu keluar dari kolong dan duduk-duduk saja di pojok secara terbuka.

Satu di antara mereka ternyata berpangkat pembantu letnan. Pangkatnya terpasang di kerah baju, ia memakai selempang dan membawa samurai di pinggang kiri. Sepatunya lars tinggi. Usianya mungkin masih 25 tahun dengan tinggi badan 160 cm. Wajahnya biasa, tidak tampak kejam. Sedang seorang lagi kelihatan lebih tua, berumur sekitar 40 tahun, dengan pangkat sersan. Sedangkan satu lagi adalah prajurit yang berdiri dalam sikap siaga sambil menyandang senapan laras panjang. Di ikat pinggangnya tergantung bayonet. Mereka bertiga berseragam kecoklatan plus topi. Rumbai kain di tengkuk menandakan mereka dari Angkatan Darat (Rikugun).

Karena kesulitan berbicara dengan bahasa isyarat, paman kadang menyelingi dengan bahasa Inggris yang tampaknya mereka pahami.

Pokok pembicaraan yang diulangi berkali-kali adalah menanyakan persembunyian tentara Belanda. Apakah ada Belanda di sekitar tempat kami. Paman bicara seadanya. Tidak ada tentara Belanda yang disembunyikan penduduk. Rombongan tentara Belanda datang dan beristirahat hanya sebentar. Namun, keterangan paman tampaknya kurang meyakinkan. Sersan memberi isyarat pada prajurit yang segera memasang bayonet di senapannya.

Mereka berdua langsung menuju ranjang. Sambil menusuk-nusukkan bayonet, ia berkata, "Oranda! Oranda!" Demikian setiap ranjang diperlakukan. Tusukan bayonet itu begitu kerasnya sampai-sampai ada seprai yang robek.

Untung para remaja tidak bersembunyi di kolong ranjang. Kalau ya, apalah jadinya!

Selesai memeriksa ranjang, diteruskan dengan membuka-buka lemari dan mengaduk-aduk isinya. Setelah itu pemeriksaan diteruskan ke dapur. Sambil melihat ke kanan-kiri, mereka juga membongkar peti kayu besar dan kardus-kardus penyimpan perabot rumah tangga. Rupanya, di samping mencari orang Belanda, mereka juga mencari senjata yang mungkin disembunyikan.

Selagi dua tentara Jepang berkeliling memeriksa, opsir Jepang yang satu mengamati foto-foto dan tulisan kaligrafi yang terpampang di dinding. Pada kesempatan itu paman masuk mengambil selembar kertas dan meminta opsir tadi memberikan surat keterangan yang menyatakan kami keluarga baik-baik dan agar jangan diganggu oleh prajurit Jepang. Agaknya, opsir itu mengerti. Kertas itu pun diambilnya.

Saat paman menyebutkan namanya, Abidin, ia mengulang menjadi "Abiding". Mereka sempat berdebat soal "Abidin" dan "Abiding". Akhirnya, "Abidin atau Abiding sama sajalah," kata paman mengalah.

Ketika mereka akan pergi, paman mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan badan, mereka pun begitu. Kami menarik napas lega, bahaya telah lewat.

Ngacir berkat surat keterangan

Hari keempat dan kelima tidak terjadi apa-apa. Tapi keadaan makin parah. Tidak ada pemerintahan, juga tidak ada yang menjamin keamanan. Pemukulan masih berlangsung. Toko-toko, sekolah, dan kantor-kantor tutup. Hampir tak ada kegiatan penduduk. Ada berita dari orang-orang yang lewat rumah bahwa controleur (pejabat Belanda setingkat bupati di zaman Belanda) ditawan dan diarak keliling kota dengan pakaian kumal dengan digiring oleh tentara Jepang.

Hari keenam juga tak ada apa-apa. Tetapi di hari ketujuh seisi rumah yang sedang sarapan di dapur terkejut dengan masuknya empat orang Jepang di kamar tidur. Kami heran, kapan mereka masuk. Paman menyilakan, sambil setengah menggiring mereka duduk di ruang tamu. Namun, mereka seenaknya keluar-masuk ruangan sambil melirik ke remaja-remaja putri yang duduk berimpit-impitan di pojok dapur. Salah seorang membuka sepatu, lalu langsung merebahkan diri di atas ranjang. Yang lain pun mengikuti. Keberadaan kami dianggap tak berarti.

Paman tiba-tiba ingat surat yang ditandatangani opsir Jepang. Dengan was-was, karena tidak tahu arti tulisannya, Paman menunjukkan surat keterangan itu ke salah seorang tentara yang duduk di tepi ranjang. Setelah membaca, ia memperlihatkannya ke teman-temannya. Serentak mereka bangun dari pembaringan dan menyerahkan kembali surat keterangan itu pada paman. Tanpa komentar, keempatnya memberi hormat pada paman, lalu pergi.

Peristiwa itu segera menyebar ke seluruh kampung. Maka tindakan paman pun ditiru oleh beberapa warga. Ketika Pak Amat kedatangan seorang Jepang yang minta dicarikan ayam, ia menyerahkan tiga ekor ayam miliknya sambil minta surat keterangan. Begitu pula Pak Sahri yang kedatangan tentara Jepang yang minta dicarikan kelapa muda. Tanpa pikir panjang, Pak Sahri menyuruh pembantunya untuk memanjat pohon kelapa di depan rumah. Beberapa butir kelapa yang diberikan langsung diminum. Sebelum tentara itu pulang, Pak Sahri buru-buru mencari kertas untuk minta dibuatkan surat keterangan.

Memanjat pohon sambil diancam

Ceritanya jadi lain ketika beberapa hari kemudian Pak Amat dan Pak Sahri kedatangan prajurit Jepang lagi. Pak Amat diminta mencarikan ayam. Dengan yakin, Pak Amat memperlihatkan surat keterangan dari tentara Jepang sebelumnya. Begitu selesai membaca, si Jepang tetap ngotot dan membentak-bentak agar Pak Amat menyiapkan beberapa ekor ayam. Celaka, karena ayam Pak Amat sudah habis diberikan pada prajurit Jepang sebelumnya. Tak ada jalan lain, daripada dipukul Jepang, terpaksalah ia menangkap ayam tetangga yang bebas berkeliaran.

Hal serupa dialami Pak Sahri. Tiba-tiba lima orang Jepang mendatanginya meminta beberapa kelapa. Cepat-cepat Pak Sahri menunjukkan surat keterangannya. Setelah membaca, bukannya pergi mereka malah menyuruh Pak Sahri naik ke pohon kelapa. Sialnya, pembantu Pak Sahri yang biasa memanjat sedang pulang. Pak Sahri yang seumur-umur belum pernah memanjat pohon kelapa terpaksa mengerahkan kekuatan dan keberaniannya untuk memanjat pohon yang bukan main tingginya itu.

Dengan susah payah Pak Sahri pun sampai di puncak pohon. Kelapa pun dipangkas setandan sekalian, yang saat jatuh hampir menimpa para prajurit Jepang itu. Setelah puas minum kelapa muda, mereka pun pergi sambil berkali-kali mengucap, "Arigato." Tapi semua itu diterima Pak Sahri dengan muka masam dan hati kesal!

Sebulan sudah keadaan Kota Tenggarong tidak menentu. Atas inisiatif para ibu guru, pegawai wanita, dan ibu rumah tangga yang berjumlah sekitar 50 orang, diadakanlah demontrasi untuk menghadap pimpinan tentara Jepang. Mereka semua didukung para suami, sanak keluarga, dan simpatisan yang sudah siap jika terjadi hal-hal yang buruk. Mereka sudah nekat.

Namun, saat demonstrasi berlangsung, pimpinan Angkatan Darat telah diserahterimakan kepada pimpinan Angkatan Laut (Kaigun), Taico Sangga, yang murah senyum. Taico Sangga berjanji memulihkan keamanan dalam waktu singkat. Maka, sejak itu keadaan berangsur-angsur normal. Taico Sangga benar-benar menepati janji.

Bagaimana dengan Pak Sahri dan Pak Amat? Mereka yang masih penasaran itu membawa surat keterangan yang mereka terima ke teman mereka, Oey, yang mengerti bahasa Jepang. Setelah membaca, Oey pun tertawa terbahak-bahak. Ternyata surat keterangan itu menyatakan, Pak Amat adalah supplier ayam, sedangkan Pak Sahri pemasok kelapa! (Sjerkawi Hassan)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej