|
|
Bulan Agustus 2000
|
|
SURAT KETERANGAN USIR TENTARA JEPANG
Ini
sekelumit cerita pengalaman saat-saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI.
Bisa dibayangkan bagaimana semrawut-nya kondisi keamanan saat itu.
Tapi, siapa sangka banyak kejadian lucu yang timbul.
Hampir tiap hari Tenggarong dibanjiri tentara Belanda secara bergelombang,
entah memakai truk, sepeda motor, bahkan dengan berjalan kaki. Penduduk pun
akrab dengan pemandangan memilukan. Beberapa orang Belanda luka-luka, malah
ada yang dipapah beberapa kawannya. Lalu mereka meneruskan perjalanan ke
Tanah Ulu di bagian udik Sungai Mahakam untuk mencapai daerah pedalaman agar
keberadaan mereka tidak tercium oleh Jepang. Tapi, pendapat ini keliru
karena akhirnya semua tentara Belanda ditawan Jepang.
Jepang datang, beras hilang
Setelah Belanda pergi, penduduk sudah memperkirakan tentara Jepang pasti
akan ke Tenggarong. Penduduk mulai bertindak. Mereka mengosongkan rumah di
tengah kota dan mengungsi ke pinggiran atau luar kota. Kota pun tampak sepi.
Terletak di pinggir kota rumah kami yang berukuran 12 x 35 m2
cukup luas untuk menampung anak-cucu sebagaimana rumah-rumah tempo doeloe.
Bangunan itu didirikan di atas tiang-tiang ulin (kayu besi) setinggi 1 m.
Kalau ada banjir yang tingginya kurang dari 1 m, lantai pun tidak tergenang
air. Serambi depan ditutup dengan pagar ulin berukir.
Di rumah itu, selain beberapa orang dewasa, tinggal tiga orang anak-anak,
delapan remaja putri, dan satu-satunya remaja putra berusia sekitar 15 tahun
- itulah saya. Saat itu umumnya penduduk menghadapi dua masalah, yaitu cara
menghadapi tentara Jepang dan masalah kelaparan.
Makanan memang sulit didapat. Beras tidak lagi dijual di pasaran. Keperluan
lain seperti gula putih, garam, minyak goreng, dan tembakau sudah mulai
langka. Pasalnya, kebutuhan macam itu didatangkan dari Surabaya. Padahal
untuk saat itu hubungan Surabaya - Kalimantan Timur terputus. Tak heran bila
penghuni pria rumah kami berusaha mencari dan membeli beras di mana saja
yang memungkinkan begitu siang hari tiba. Tetapi beras ternyata sangat sulit
didapat. Sudah untung kalau bisa mendapat 1 - 2 kg beras sehari.
Di masa sulit seperti itu anak-anak masih bisa diberi makan nasi tiga kali,
tetapi para remaja dan orang dewasa mendapat nasi campur singkong, ubi, atau
jagung yang gampang diperoleh. Keadaan itu berlangsung beberapa bulan sampai
penduduk memanen hasil ladang.
Untung tak sembunyi di kolong
Sore yang cerah sekitar pukul 16.00, kami dikejutkan oleh teriakan
anak-anak, "Jepang sudah masuk! Itu, sedang bersepeda kemari."
Bunyi sepeda yang dijalankan tanpa ban pompa terdengar di kejauhan. Seorang
pria bermata sipit berbadan gemuk mengendarainya sambil berteriak, "Tamago!
Tamago! Kok-kok-kok!"
Orang-orang tahu, ia sedang mencari telur. Ada yang nyeletuk, "Mister,
tidak ada kok-kok-kok." Mister adalah panggilan umum ketika
Jepang masuk.
Hari kedua Jepang masuk tidak terjadi apa-apa. Cuma ada berita tentara
Jepang masuk dalam jumlah banyak di pusat kota, terutama di pasar. Tidak ada
berita tentang kejahatan seperti perkosaan, kecuali nyaris diperkosa setelah
diselamatkan oleh suami dan keluarga. Yang terbanyak adalah pemukulan
tentara terhadap penduduk yang saat berpapasan dengan tentara tidak memberi
hormat, entah dengan membungkuk atau mengangkat tangan, saluwir.
Penduduk pun diajari untuk menghormati tentara Jepang.
Hari ketiga pukul 10.00, tiga orang Jepang yang sedang jalan di depan rumah,
tiba-tiba berhenti sambil memperhatikan rumah kami beberapa saat. Kemudian
mereka belok masuk pekarangan, menaiki tangga. Mereka disambut paman yang
membukakan pintu serambi depan sambil mempersilakan duduk di ruang tamu.
Sementara itu bibi sibuk mengatur para remaja untuk sembunyi di kolong
ranjang. Tapi, seperti mendapat firasat, kami satu per satu keluar dari
kolong dan duduk-duduk saja di pojok secara terbuka.
Satu di antara mereka ternyata berpangkat pembantu letnan. Pangkatnya
terpasang di kerah baju, ia memakai selempang dan membawa samurai di
pinggang kiri. Sepatunya lars tinggi. Usianya mungkin masih 25 tahun dengan
tinggi badan 160 cm. Wajahnya biasa, tidak tampak kejam. Sedang seorang lagi
kelihatan lebih tua, berumur sekitar 40 tahun, dengan pangkat sersan.
Sedangkan satu lagi adalah prajurit yang berdiri dalam sikap siaga sambil
menyandang senapan laras panjang. Di ikat pinggangnya tergantung bayonet.
Mereka bertiga berseragam kecoklatan plus topi. Rumbai kain di tengkuk
menandakan mereka dari Angkatan Darat (Rikugun).
Karena kesulitan berbicara dengan bahasa isyarat, paman kadang menyelingi
dengan bahasa Inggris yang tampaknya mereka pahami.
Pokok pembicaraan yang diulangi berkali-kali adalah menanyakan persembunyian
tentara Belanda. Apakah ada Belanda di sekitar tempat kami. Paman bicara
seadanya. Tidak ada tentara Belanda yang disembunyikan penduduk. Rombongan
tentara Belanda datang dan beristirahat hanya sebentar. Namun, keterangan
paman tampaknya kurang meyakinkan. Sersan memberi isyarat pada prajurit yang
segera memasang bayonet di senapannya.
Mereka berdua langsung menuju ranjang. Sambil menusuk-nusukkan bayonet, ia
berkata, "Oranda! Oranda!" Demikian setiap ranjang
diperlakukan. Tusukan bayonet itu begitu kerasnya sampai-sampai ada seprai
yang robek.
Untung para remaja tidak bersembunyi di kolong ranjang. Kalau ya, apalah
jadinya!
Selesai memeriksa ranjang, diteruskan dengan membuka-buka lemari dan
mengaduk-aduk isinya. Setelah itu pemeriksaan diteruskan ke dapur. Sambil
melihat ke kanan-kiri, mereka juga membongkar peti kayu besar dan
kardus-kardus penyimpan perabot rumah tangga. Rupanya, di samping mencari
orang Belanda, mereka juga mencari senjata yang mungkin disembunyikan.
Selagi dua tentara Jepang berkeliling memeriksa, opsir Jepang yang satu
mengamati foto-foto dan tulisan kaligrafi yang terpampang di dinding. Pada
kesempatan itu paman masuk mengambil selembar kertas dan meminta opsir tadi
memberikan surat keterangan yang menyatakan kami keluarga baik-baik dan agar
jangan diganggu oleh prajurit Jepang. Agaknya, opsir itu mengerti. Kertas
itu pun diambilnya.
Saat paman menyebutkan namanya, Abidin, ia mengulang menjadi
"Abiding". Mereka sempat berdebat soal "Abidin" dan
"Abiding". Akhirnya, "Abidin atau Abiding sama sajalah,"
kata paman mengalah.
Ketika mereka akan pergi, paman mengucapkan terima kasih sambil
membungkukkan badan, mereka pun begitu. Kami menarik napas lega, bahaya
telah lewat.
Ngacir berkat surat keterangan
Hari keempat dan kelima tidak terjadi apa-apa. Tapi keadaan makin parah.
Tidak ada pemerintahan, juga tidak ada yang menjamin keamanan. Pemukulan
masih berlangsung. Toko-toko, sekolah, dan kantor-kantor tutup. Hampir tak
ada kegiatan penduduk. Ada berita dari orang-orang yang lewat rumah bahwa controleur
(pejabat Belanda setingkat bupati di zaman Belanda) ditawan dan diarak
keliling kota dengan pakaian kumal dengan digiring oleh tentara Jepang.
Hari keenam juga tak ada apa-apa. Tetapi di hari ketujuh seisi rumah yang
sedang sarapan di dapur terkejut dengan masuknya empat orang Jepang di kamar
tidur. Kami heran, kapan mereka masuk. Paman menyilakan, sambil setengah
menggiring mereka duduk di ruang tamu. Namun, mereka seenaknya keluar-masuk
ruangan sambil melirik ke remaja-remaja putri yang duduk berimpit-impitan di
pojok dapur. Salah seorang membuka sepatu, lalu langsung merebahkan diri di
atas ranjang. Yang lain pun mengikuti. Keberadaan kami dianggap tak berarti.
Paman tiba-tiba ingat surat yang ditandatangani opsir Jepang. Dengan
was-was, karena tidak tahu arti tulisannya, Paman menunjukkan surat
keterangan itu ke salah seorang tentara yang duduk di tepi ranjang. Setelah
membaca, ia memperlihatkannya ke teman-temannya. Serentak mereka bangun dari
pembaringan dan menyerahkan kembali surat keterangan itu pada paman. Tanpa
komentar, keempatnya memberi hormat pada paman, lalu pergi.
Peristiwa itu segera menyebar ke seluruh kampung. Maka tindakan paman pun
ditiru oleh beberapa warga. Ketika Pak Amat kedatangan seorang Jepang yang
minta dicarikan ayam, ia menyerahkan tiga ekor ayam miliknya sambil minta
surat keterangan. Begitu pula Pak Sahri yang kedatangan tentara Jepang yang
minta dicarikan kelapa muda. Tanpa pikir panjang, Pak Sahri menyuruh
pembantunya untuk memanjat pohon kelapa di depan rumah. Beberapa butir
kelapa yang diberikan langsung diminum. Sebelum tentara itu pulang, Pak
Sahri buru-buru mencari kertas untuk minta dibuatkan surat keterangan.
Memanjat pohon sambil diancam
Ceritanya jadi lain ketika beberapa hari kemudian Pak Amat dan Pak Sahri
kedatangan prajurit Jepang lagi. Pak Amat diminta mencarikan ayam. Dengan
yakin, Pak Amat memperlihatkan surat keterangan dari tentara Jepang
sebelumnya. Begitu selesai membaca, si Jepang tetap ngotot dan
membentak-bentak agar Pak Amat menyiapkan beberapa ekor ayam. Celaka, karena
ayam Pak Amat sudah habis diberikan pada prajurit Jepang sebelumnya. Tak ada
jalan lain, daripada dipukul Jepang, terpaksalah ia menangkap ayam tetangga
yang bebas berkeliaran.
Hal serupa dialami Pak Sahri. Tiba-tiba lima orang Jepang mendatanginya
meminta beberapa kelapa. Cepat-cepat Pak Sahri menunjukkan surat
keterangannya. Setelah membaca, bukannya pergi mereka malah menyuruh Pak
Sahri naik ke pohon kelapa. Sialnya, pembantu Pak Sahri yang biasa memanjat
sedang pulang. Pak Sahri yang seumur-umur belum pernah memanjat pohon kelapa
terpaksa mengerahkan kekuatan dan keberaniannya untuk memanjat pohon yang
bukan main tingginya itu.
Dengan susah payah Pak Sahri pun sampai di puncak pohon. Kelapa pun
dipangkas setandan sekalian, yang saat jatuh hampir menimpa para prajurit
Jepang itu. Setelah puas minum kelapa muda, mereka pun pergi sambil
berkali-kali mengucap, "Arigato." Tapi semua itu diterima
Pak Sahri dengan muka masam dan hati kesal!
Sebulan sudah keadaan Kota Tenggarong tidak menentu. Atas inisiatif para ibu
guru, pegawai wanita, dan ibu rumah tangga yang berjumlah sekitar 50 orang,
diadakanlah demontrasi untuk menghadap pimpinan tentara Jepang. Mereka semua
didukung para suami, sanak keluarga, dan simpatisan yang sudah siap jika
terjadi hal-hal yang buruk. Mereka sudah nekat.
Namun, saat demonstrasi berlangsung, pimpinan Angkatan Darat telah
diserahterimakan kepada pimpinan Angkatan Laut (Kaigun), Taico Sangga, yang
murah senyum. Taico Sangga berjanji memulihkan keamanan dalam waktu singkat.
Maka, sejak itu keadaan berangsur-angsur normal. Taico Sangga benar-benar
menepati janji.
Bagaimana dengan Pak Sahri dan Pak Amat? Mereka yang masih penasaran itu
membawa surat keterangan yang mereka terima ke teman mereka, Oey, yang
mengerti bahasa Jepang. Setelah membaca, Oey pun tertawa terbahak-bahak.
Ternyata surat keterangan itu menyatakan, Pak Amat adalah supplier
ayam, sedangkan Pak Sahri pemasok kelapa! |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||