|
|
Bulan Desember 2000
|
|
KB
ala Nazi
Memperingati hari hak azasi manusia (HAM) 10 Desember ini, ada baiknya kita
menengok cita-cita gila kaum Nazi Jerman yang ingin menciptakan bangsa
super, tetapi berantakan karena menginjak-injak HAM, yaitu hak setiap orang
untuk menikmati kebebasan dan keamanan tanpa dipaksa pihak mana pun.
Rakyat Jerman yang pro (atau yang melempem, pasrah saja) didorong untuk
menjalankan program KB. KB-nya tidak berarti KB keluarga berencana seperti
di Indonesia, tetapi KB dalam arti keluarga besar.
Bonus untuk keluarga beranak banyak
Untuk membawa penduduk Drittes Reich ("negara ketiga"
impian kaum Nazi) sampai mencapai jumlah yang diinginkan Hitler (120 juta
jiwa pada tahun 1980), para pejabat ditugaskan melakukan berbagai cara untuk
mendorong angka kelahiran anak di kalangan rakyat. Cara yang paling umum
ialah memberikan pinjaman uang kepada para pasangan suami-istri, ketika
mereka menikah. Dengan kelahiran setiap anak, seperempat dari jumlah utang
yang sudah mereka ambil dihapus. Jadi, keluarga yang sudah beranak empat
tidak perlu membayar utang lagi.
Keluarga beranak tiga atau lebih, juga menerima tunjangan bulanan sampai
anak mencapai umur 21 tahun. Selain itu, keluarga besar juga memperoleh
prioritas memiliki rumah yang layak di wilayah kota.
Kegemaran Partai Nazi memberi medali bagi setiap jasa dan pelayanan kepada Drittes
Reich juga diterapkan dalam program KB itu. Mereka memberi medali emas
kepada setiap ibu yang "menyumbangkan" delapan anak atau lebih
kepada negara.
Ketika PD II meletus dan Jerman terlibat perang, tuntutan kaum Nazi agar
para keluarga Jerman menghasilkan anak lebih banyak lagi, semakin meningkat.
Seperti dikatakan Reichsfuhrer SS (pemimpin Schutstaffel)
Heinrich Himmler yang ditunjuk memimpin program KB itu, setiap keluarga
harus mempunyai empat orang anak. Dua orang biar mati menjadi mangsa peluru
di medan perang, dan sisanya harus melanjutkan keturunan untuk partai.
"Jangan lupa!" katanya patriotik, "Kekuatan senjata saja
tidak akan menjamin eksistensi suatu bangsa. Sumber kesuburan yang tiada
habisnya juga perlu! Bersikaplah sesuai dengan itu, sehingga kemenangan
senjata Jerman bisa diikuti oleh kemenangan anak-anak Jerman."
Bersamaan dengan itu, Himmler juga giat berkampanye untuk menentang setiap
praktik yang menghambat angka kelahiran. Memakai kontrasepsi, melakukan
aborsi, memelihara binatang rumahan (seharusnya memelihara anak), dan
melakukan homoseksual dianggap kejahatan terhadap nusa dan bangsa. Himmler
bersikap keras terhadap kaum homoseks. Keponakannya sendiri (seorang perwira
SS fanatik) yang terjerumus dalam "kejahatan" itu, dia jatuhi
hukuman mati di kamp konsentrasi Dachau.
Ia khawatir sekali memikirkan kerusakan yang akan timbul akibat perang
terhadap sumber genetik bangsa Jerman. Para prajurit (keturunan yang paling
baik) bisa terbunuh dalam jumlah besar, sehingga bisa mengancam masa depan
bangsa Jerman. Bunga bangsa satu generasi sudah hancur dalam PD I
sebelumnya, dan kini suatu generasi lainnya akan terancam. Jadi, ketika PD
II pecah tahun 1939, Himmler melakukan berbagai tindakan luar biasa untuk
mencegah bencana semacam itu.
Merendahkan martabat
Beberapa tahun sebelum PD II pecah, Himmler sudah memerintahkan Kantor Ras
dan Pemukiman Kembali SS, untuk menyusun program penciptaan ras unggul dalam
jumlah besar. Jumlahnya 600 resimen dalam waktu 30 tahun.
Untuk itu, para pejabat program Lebensborn (Sumber Kehidupan) membangun
ratusan ribu rumah bersalin di seluruh Jerman Raya, dan mendorong semua
wanita muda (baik yang sudah menikah maupun yang belum) untuk menghasilkan
anak sebagai tugas mulia bagi sang Fuhrer Adolf Hitler. Para wanita
muda yang dari segi ras sangat berharga, didorong untuk berhubungan intim
dengan anggota pasukan SS yang asal-usulnya sebagai ras "Aria"
telah diketahui dengan pasti. Menurut kaum Nazi, ras Aria adalah orang Eropa
Utara asli.
Himmler juga memerintahkan para anggota SS untuk menghasilkan banyak anak
dari istrinya. Jika perlu juga diberi surat tugas untuk lebih dulu meniduri
para wanita berusia 30 tahun ke atas (yang tidak beranak), sebelum
menghadapi maut di medan perang. Himmler menjamin, anak-anak haram hasil
hubungan di luar nikah itu dianggap sah.
Anggota SS menanggapi perintahnya dengan patriotik. "Kini tidak ada
rasa malu lagi untuk mempunyai anak haram!" tulis seorang prajurit SS
kepada teman gadisnya. "Ini hadiah besar yang menggembirakan bagi ibu
Jerman!" Seorang wanita yang telah diindoktrinasi menyatakan,
"Kami akan melupakan diri untuk memperoleh pengalaman emosional yang
berbunga-bunga dalam menghasilkan anak, dengan menemani tidur para pemuda
sehat, tanpa perlu memikirkan pernikahan."
Untuk membuat anggota SS bisa berhubungan dengan para wanita,
diselenggarakan pertemuan sosial oleh sejumlah organisasi Nazi. Pertemuan
seperti ini terjadi di kamp olahraga, balai pertemuan, dan rapat akbar
tahunan Partai Nazi di Neurenberg. Pernikahan biologis (kata pemanis bagi
hubungan zinah itu) pada rapat akbar tahun 1936 menghasilkan hampir 1.000
kehamilan patriotik.
Wanita yang mengandung anak dari seorang pemuda yang tidak diragukan rasnya,
atau (lebih baik lagi) dari seorang perwira SS, berhak melahirkan anaknya di
pusat Lebensborn yang mewah. Di antaranya banyak yang berupa hotel
peristirahatan, tempat pemandian air panas alami, atau vila mewah hasil
sitaan.
Orang Jerman yang masih waras, dan tidak setuju dengan gerakan sinting
Himmler, menyebut rumah bersalin biologis semacam itu rumah peternakan
manusia.
Kalau sang ibu tidak ingin merawat anak haramnya, para pengurus Lebensborn
akan menyerahkannya kepada keluarga yang mau. Acap kali, ayah kandung anak
haram itulah yang mengadopsinya, agar ia terlihat meningkat jumlah anggota
keluarganya, sesuai dengan keinginan Reichsfuhrer Adolf Hitler. Ia
pasti tambah gembira!
Menculik anak
Setelah menyerbu Polandia, Himmler benar-benar meningkatkan program
Lebensborn-nya. Meskipun secara etnik orang Polandia itu keturunan bangsa
Slavia, yang menurut ideologi Nazi bukan ras super, namun penampilan fisik
anak Polandia yang berambut pirang dan bermata biru itu meyakinkan Himmler
bahwa mereka berdarah Nordik (salah satu bagian dari ras kulit putih Eropa
Utara). Karena itu, ia manyarankan kepada Hitler agar anak-anak seperti itu
yang sudah berusia antara 6 - 10 tahun dibawa ke Jerman dan dibesarkan
sebagai orang Jerman. Hitler setuju.
Hasilnya, lebih dari 200.000 anak Polandia diambil paksa untuk
dijermanisasikan. Kebanyakan anak yatim piatu, anak prajurit Polandia yang
gugur di medan perang, atau anak haram dari hubungan gelap wanita Polandia
dan pria Jerman penakluknya. Beberapa di antara mereka mau saja
dijermanisasikan, dengan harapan bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Tetapi yang lain terpaksa mau, karena takut dihukum penguasa Nazi.
Banyak pula yang diculik secara paksa. Ketika mereka menyelamatkan diri dari
sweeping pasukan SS, kaum Nazi mengerahkan para wanita yang sudah
dilatih secara khusus sebagai penculik, untuk "mengamankan"
mereka. Dengan cara ini, Himmler berharap dapat meningkatkan penduduk Jerman
keturunan Nordik dengan 30 juta orang tambahan pada tahun 1980.
Kenyataannya, tidak begitu! Program Nazi untuk memperbanyak penduduk Jerman,
tidak bisa mengganti jumlah korban militer dan sipil Jerman dalam perang.
Jumlahnya mencapai 6.000.000 orang sebelum perang berakhir.
Perang berakhir terlalu cepat, sebelum anak-anak hasil program KB Nazi itu
sempat dikirim ke garis depan. Tetapi sebaliknya, ribuan orang kehilangan
masa kecilnya yang bahagia, keluarganya, bahkan nyawanya. Alih-alih memberi
kemenangan bagi anak-anak impian Hitler, kaum Nazi menyebar maut dan
kesengsaraan saja. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||