|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Batavia, tak pernah ke Batavia Ternyata Batavia tak hanya nama lama Kota Jakarta.
Nama itu pernah (dan masih) disandang sebuah kapal buatan Belanda. Sedihnya,
kedua nama kembar itu tak pernah saling bertaut, karena Kapal Batavia tak
pernah berlabuh di Batavia.
Nama "Batavia" dipilih sebagai penghormatan kepada suku Batavi,
penghuni sekitar Leiden, yang di abad IV mengusir penguasa Roma dari tanah
berawa-rawa, yang kini disebut Belanda. Namun, "Batavia" juga
dipakai VOC (Verenigde Oostindische Compagnie - Perkumpulan Dagang India
Timur), untuk nama kota dagang mereka di India Timur, yang sedang dalam
pembangunan.
Berburu rempah
Armada dipimpin Fransisco Pelsaert, dinakhodai Adriaen Jacobsz. Rencananya,
selepas menyusur pantai barat Eropa, Batavia mengarah ke lepas pantai
Brasilia, Amerika Selatan, lalu ke tenggara, menuju Tanjung Harapan, Afrika.
Selepas Tanjung Harapan naik ke timur laut menyusuri pantai Timur Afrika
lewat Selat Madagaskar. Selepas ujung selatan India, baru masuk Selat
Malaka.
Namun, tahun 1611 rute diubah, karena Hendrik Brouwer menemukan rute baru
yang lebih singkat. Dari Tanjung Harapan kapal langsung melaju ke timur
menyeberangi Samudera Hindia. Setelah berlayar sejauh 6.400 km, kapal
berbelok tegak lurus ke utara, ke Selat Sunda, memasuki perairan Nusantara.
Masa itu Australia sudah dihuni masyarakat Aborigin, tapi belum
"dikenal" oleh pelaut Eropa. Di peta, benua itu hanya diberi
catatan spekulatif, Terra Australis Incognita, daratan luas di Selatan.
Berbagai pelayaran ke Timur Jauh dipicu keinginan mencari rempah-rempah,
komoditi penting masa itu. Semangat itu tahun 1492 membawa Christopher
Columbus tanpa sengaja menemukan daratan Amerika. Ini membuka kemungkinan
adanya "dunia" baru.
Penemuan itu segera diselesaikan oleh Paus Alexander VI untuk mencegah
rebutan kekuasaan antara kedua negara adidaya masa itu, yang kebetulan
semuanya beragama Katolik. Setahun setelah pelayaran Columbus, Paus
"membagi" dunia menjadi dua, untuk Spanyol dan sisanya milik
Portugal.
Belanda menyusul
Seabad sesudah Portugal dan Spanyol melanglang buana menumpuk kekayaan
dengan praktik monopoli perdagangan, Belanda iri. Pemerintah Belanda, yang
berbentuk federasi antartujuh propinsi beragama Protestan dan telah
bersama-sama berjuang mengusir Spanyol selama Perang 80 tahun (1568 - 1648),
jelas tidak peduli dengan tindakan Paus Alexander.
Tahun 1595 ekspedisi pertama Belanda, dipimpin Cornelis de Houtman, mendarat
di Banten, Jawa Barat, setelah berlayar 15 bulan. Pada 1595 - 1601, ada 65
kapal Belanda ikut berdagang di kawasan Timur Jauh.
Persaingan antarbangsa menyadarkan Belanda, negaranya kecil dan lemah. Untuk
itu, tahun 1602 mereka memutuskan, semua bisnis ke Timur Jauh disatukan
dalam nama VOC. Nantinya, kongsi itu menjadi mirip pemerintahan khusus.
Selama masa kejayaan di abad XVI - XVII, VOC sempat mengirim 1.770 kapal ke
India Timur (kini Indonesia) mengangkut sekitar satu juta orang.
VOC berkantor pusat di gedung Wisma India Timur, Amsterdam. Kongsi Dagang
itu dipimpin Dewan Direktur, disebut De Heren Zeventien, terdiri atas 17
pengusaha besar dari berbagai kota di Belanda.
Untuk memantapkan kekuasaan, tahun 1619 Jan Pieterzoon Coen mengusir
Portugal dari Jawa. Jayakarta, bekas pusat perdagangan Portugal, direbut. Di
atas reruntuhan benteng Portugal, Gubernur Jenderal Coen membangun kota
baru, dinamai Batavia (kini Jakarta).
Pelayaran perdana ke Batavia itulah yang dilakukan Kapal Batavia. Palka
kapal penuh aneka dagangan; uang perak, tekstil, porselen. Di ruang paling
bawah tersimpan balok-balok batu berukir. Kecuali sebagai pemberat agar
kapal tidak oleng, batu itu akan dirakit menjadi pintu gerbang utama
Pelabuhan Batavia. Kiriman itu memenuhi permintaan Coen, yang bertekad,
"... membangun Batavia yang bakal menjadi mutiara di Timur Jauh."
Kecebur laut, tamat
Para pelaut zaman dulu memang harus siap bertaruh nasib. Sebagai kapal
perang yang harus berlayar berbulan-bulan serta di perjalanan mungkin sekali
bertemu musuh atau bajak laut, Batavia membawa 180 prajurit dilengkapi 32
pucuk meriam.
"Meriam" cuma pelontar bola api besi dengan sasaran efektif 20 m.
Di masa kini itu tidak mengesankan karena "peluru"-nya tidak bisa
meledak, dan maksimal hanya meremukkan dinding kapal musuh. Untuk
menembakkan pun perlu waktu lama. Selain karena peluru harus diisikan dari
moncong meriam, sebelum diledakkan dengan mesiu yang disulut api, tiap kali
menembak perlu hati-hati. Kalau terburu-buru, meriam bisa pecah berantakan.
Zaman itu meriam memang tidak meletus puluhan kali tanpa henti. Berbeda
dengan penggambaran dalam film, di mana meriam kapal kuno mampu riuh
menembakkan pelurunya.
Di kapal itu para prajurit yang bernasib paling malang. Tugas utama mereka
berperang bila Batavia bertemu musuh. Agar tidak berselisih dengan para
pelaut, mereka dikurung di bawah geladak bersama meriam. Ruangan mereka amat
tidak nyaman, langit-langitnya cuma setinggi 1,5 m. Sepanjang pelayaran,
tentu mereka harus duduk berjongkok atau berbaring sambil menghabiskan
waktu.
Untuk 340 penumpang dan ABK pun cuma ada empat kamar kecil. Hanya ruang
nakhoda yang pantas, artinya dilengkapi kamar tidur pribadi.
Pembagian strata masyarakat di kapal pun amat mencolok. Siang hari meja
besar ruang nakhoda untuk menggelar peta dan berdiskusi. Malamnya menjadi
meja makan mewah untuk para perwira. Mereka bersantap dalam pakaian lengkap
dan etiket resmi, menikmati sajian di piring perak atau gelas kristal.
Sebaliknya, pelaut dan prajurit yang di atas atau bawah geladak, harus makan
beramai-ramai, satu piring kayu untuk berenam. Menunya nyaris tak berubah
selama melaut, roti keras plus daging asin, karena terlalu lama dalam
pengawetan.
Belum lagi bahaya jatuh ke laut. Setiap kapal layar, apalagi ukuran besar,
selama berlayar tidak pernah bisa berhenti. Kapal tidak mungkin berhenti,
mundur atau berbalik, apalagi hanya untuk memungut yang bernasib sial itu.
Jangan pula membayangkan menemukan peta lengkap, serta radio. Alat penduga
jarak serta pelacak mata angin pun selalu kurang akurat. Maka, tiap kali
nakhoda keliru menghitung posisi kapal, terutama saat menentukan kapan harus
berbelok di tengah Samudera Hindia, tiupan angin serta arus laut bisa
mengacaukan rute pelayaran dan mengempaskannya ke batu karang.
Drama menjelang fajar
"... Sekitar dua jam sebelum fajar menyingsing, mendadak terasa
guncangan hebat, disusul gemuruh keras sekali. Saya meloncat dari kabin
sambil melirik catatan di meja. Tertulis, Senin 4 Juni 1929, posisi kapal 28
- 28,5o Lintang Selatan," demikian laporan kecelakaan
tulisan Pelsaert, terbit tahun 1647 dalam judul Ongeluckige Vojagie Van't
Schip Batavia, Nae de Oost-Indien (Pelayaran Naas Kapal Batavia Ketika
Menuju India Timur).
Ternyata kerusakan kapal jauh lebih parah dari dugaan. "Kapal menabrak
batu karang, sebagian dindingnya jebol, 40 orang hilang, air laut mengalir
masuk, menyebabkan Batavia pecah dua, dan pelahan tenggelam ...."
Musibah akibat kesalahan manusiawi belaka. Nakhoda Jacobsz mabuk, ditambah
petugas anjungan lalai. Gemerlap gugusan pulau karang di cuaca cerah,
disangka pantulan sinar bulan di permukaan air. Akibatnya fatal. Batavia
melaju menghantam karang, di lokasi yang kini dikenal sebagai wilayah
perairan Kepulauan Houtman Alborhos, lepas pantai Australia Barat.
Setelah mengamati kerusakan, Pelsaert berprakarsa mencari pertolongan dengan
naik perahu ke Pulau Jawa, sekitar 900 mil laut arah utara. Itu dilakukan
sesudah percobaan pelayaran ke timur hanya menemukan, "Daratan tandus
misterius tanpa sumber air."
Ia keliru. Kalau saja terus berlayar ke timur, Pelsaert akan menemukan benua
baru, satu abad mendahului pelaut Inggris Kapten James Cook yang mendarat di
Teluk Botany, Australia Utara. Bisa-bisa Pelsaert yang tercatat sebagai
"penemu" Australia.
Pelsaert pergi dengan membawa kekhawatiran. Mencari pertolongan dengan cuma
membawa 47 eks penumpang Batavia. Sebanyak 268 penumpang terpaksa ditinggal
di lokasi kecelakaan.
Kekhawatirannya beralasan sebab komplotan Jeronimus Cornelisz, seorang
pedagang, ingin menguasai muatan kapal. Begitu Pelsaert pergi, Cornelisz
mengangkat diri sebagai "gubernur" dan meneror sisa penumpang
Batavia. Sebagian prajurit menyelamatkan diri ke pulau terdekat. Tapi, yang
tidak sempat lari disiksa dan dibunuh. Sebanyak 96 nyawa melayang.
Di luar dugaan, hanya 22 hari berlayar Pelsaert tiba di Nusakambangan, Jawa
Tengah, dan langsung meminta pertolongan ke Batavia. Dengan menumpang kapal
kecil, 17 September 1629 Pelsaert tiba di lokasi kecelakaan. Selain
menyelamatkan penumpang, ia bertugas melucuti pemberontak.
Sesuai hukum VOC, dilangsungkan sidang di tempat dengan keputusan, tujuh
tersangka dijatuhi hukuman gantung. Si pemimpin, "Gubernur"
Cornelisz, mendapat hukuman paling berat. Selain naik tiang gantungan paling
awal, kedua tangannya dipenggal sebelumnya.
Sejarah memang sering pahit. Hanya 154 penumpang Batavia yang selamat tiba
di Batavia. Sedangkan seluruh muatannya hampir tiga abad terkubur di dasar
laut.
Selama ratusan tahun musibah Batavia dan muatannya memicu minat para pelacak
sejarah dan pemburu harta karun. Namun, lokasi musibah tidak ditemukan,
sampai tahun 1950 disingkapkan sejarawan Henrietta Drake-Brockman. Namun,
akibat kesulitan teknis, baru 13 tahun kemudian dimulai penyelamatan
terhadap sekitar 15.000 artefak eks Batavia.
Kini semua koleksi berharga itu, termasuk calon Pintu Gerbang Pelabuhan
Batavia, dikoleksi Western Australian Maritime Museum di Fremantle, Selatan
Perth, Australia Barat. (Julius Pour)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online www.indomedia.com/intisari/ |
|||||