globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

DEMI SANTUNAN ASURANSI 

Untuk kesekian kali S. Gadok di timur Bogor menelan korban. Kali ini sebuah sedan merah Mercedes Tiger 280E tahun '89. Untung hujan semalam tidak deras, sehingga sungai itu tidak banjir. Airnya pun tetap bening.

Mercedes itu dalam posisi menukik di dasar sungai berbatu-batu, dekat turap sisi kiri jembatan. Kap mesinnya melesak, sebab bumpernya menghantam batu sebesar kerbau. Posisinya agak miring ke kiri, pintu kanan depan lepas. Pengemudinya terikat sabuk pengaman dengan kepala tergolek ke kiri. Tanpa tanda kehidupan.

Saat itu hari Sabtu. Petugas Polantas yang berdinas jumlahnya terbatas. Mau tak mau Lettu Tatan Arkanda, Kapolsek di wilayah tersebut, turun tangan.

Sertu Uky Safikri, Wakil Kapolsek, segera meminta mobil derek dan ambulans untuk mengevakuasi korban. Paramedis di bawah pimpinan dr. Willem Darmawan tiba disusul mobil derek kepolisian.

Korban seorang laki-laki muda, berkulit bersih, berambut pendek. Bajunya lengan panjang hijau dengan kuning merek terkenal. Begitu juga celana dan sepatunya. Meski butut dan terlalu sempit untuk kaki kirinya - kaki kanannya tak bersepatu -, sepatu kulit itu buatan luar negeri. Tampak kaus kaki hitam murahan berlubang besar di ujung jempol dan tumit.

Setelah korban dibaringkan di brankar, dr. Willem mulai memeriksa. "Korban kena benturan keras di kepala."

"Itukah penyebab meninggalnya, Dok?" sahut Lettu Tatan.

"Tampaknya begitu, karena tidak ada luka lain," kata sang dokter.

Sepintas tampak kepala korban yang bercukuran crew cut bagian belakang atas retak. Darah kering terlihat di sekitar luka dan leher baju.

Lettu Tatan mengambil dompet dari saku korban. Di dalamnya terdapat KTP,ID-CARD , beberapa lembar kartu nama, serta uang sejumlah Rp 87.500,-.

Korban bernama Herman Sanyoto, pekerjaan wiraswasta, beralamat di daerah elit Jakarta. Di ID Card Herman tertulis sebagai direktur sebuah perusahaan ekspor-impor, sama seperti beberapa lembar kartu namanya.

Pengusaha sederhana

Di kantor polisi Kopral Daman yang pendek gemuk tampak menggerutu. Telepon kantor maupun rumah Herman Sanyoto tak ada yang menjawab.

"Terpaksa, hari ini kita bertiga ke Jakarta," kata Lettu Tatan. Bila bertugas ke wilayah lain, polisi seharusnya melakukan koordinasi dengan aparat setempat. Berhubung ini cuma bersifat pemberitahuan tentang kecelakaan kepada keluarganya, Lettu Tatan mengambil sikap nonformal.

Rumah itu besar meski modelnya kuno dengan halaman luas dan pagar besi tinggi yang kokoh. Di kiri gerbang, ada warung rokok yang juga menjual minuman. Pemiliknya wanita gemuk yang ramah. Dari logat bicaranya, ia pasti berasal dari Tegal.

Sesampai di teras, seorang pria menyambut dengan senyum kaku. "Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanyanya.

"Apa ini rumah Pak Herman Sanyoto?" jawab Lettu Tatan.

Pria itu mengangguk, "Bapak siapa dan ada perlu apa?"

"Kami aparat kepolisian dari Bogor," jawab Sertu Uky tegas. Begitu mendengarnya, laki-laki itu menyilakan masuk. Di ruang tamu ada pria lain, bertubuh jangkung, rambut ikal dengan tahi lalat di kening, dan berkacamata minus.

"Kami hendak memberi tahu, Bapak Herman Sanyoto mendapat kecelakaan," kata Lettu Tatan.

Hampir berbarengan, dua laki-laki itu terkejut. Pria berkacamata menyela. "Di mana Pak, dan bagaimana keadaannya?"

"Sekarang di rumah sakit. Dia sudah meninggal," kata Lettu Tatan pelan.

Kedua laki-laki itu tampak shock. Dari dalam kamar keluar seorang wanita cantik berkulit putih yang langsung pingsan ketika mendengar berita itu.

"Itu Rosliana, istri Herman. Mereka baru dua tahun menikah, dengan satu anak," kata pria berkacamata, sementara pria satunya buru-buru memapah Rosliana kembali ke kamar.

"Siapa pemuda itu?" tanya Sertu Uky.

"Roswanto, adiknya Rosliana, ipar Herman. Saya Dhani Suwito, sepupu Herman."

"Pak Dhani, ini uang Rp 87.500,- dari dompet Pak Herman, harap diterima. Tapi KTP dan ID Card-nya saya tahan sementara," kata Lettu Tatan sambil memperhatikan dari samping, tahi lalat di kening Dhani tampak menonjol pas di bingkai atas kacamatanya.

"Sebenarnya Pak Herman mau ke mana?" sela Sertu Uky.

"Dia mau memberi penataran ke Bandung, beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur."

"Cuma berbekal Rp 87.500,-?" tanya Lettu Tatan curiga, "padahal di dompetnya tidak ada kartu kredit atau kartu ATM."

"Itu cuma untuk membeli bensin dan makan di jalan. Ia akan mengambil uang di kantor cabang Bandung. Herman memang sederhana. Ia tidak merasa butuh kartu kredit. Soal ATM, ia trauma pernah ditodong. Mobil pun, dia memilih mobil tua asal kuat. Padahal ada mobil baru, mewah lagi. Itu di garasi."

Ketiga aparat itu manggut-manggut.

Tiba-tiba Dhani menyambung. "Pak, saya bingung, bagaimana cara mengabari paman di Surabaya tentang musibah ini?"

"Nanti ada surat keterangan dari polisi dan surat visum dokter. Surat dari polisi menerangkan sebab kecelakaan, sedangkan surat dokter berisi penyebab korban meninggal," kata Lettu Tatan.

Terkecoh

Senin pagi, sepuluh hari kemudian. Telepon di ruang kerja Lettu Tatan berdering.

"Oh, dokter Willem. Jenazah Herman belum diambil? Padahal semua surat sudah diminta. Surat dari kepolisian juga sudah diambil Selasa silam. Baik, akan kami periksa ke rumahnya."

Lettu Tatan meminta anak buahnya menghubungi Dhani. Lima belas menit kemudian, "Lapor! Saudara Dhani dan keluarga sudah pindah."

"Pindah? Siapa yang terima telepon?"

"Pak Munandar, si pemilik rumah. Dhani cuma kontrak bulanan. Munandar tidak tahu ke mana Dhani pindah. Listrik dan teleponnya pun menunggak dua bulan."

"Celaka!" seru Lettu Tatan.

Hari itu juga Lettu Tatan dan Sertu Uky ke Jakarta. Saat mereka baru melangkah melewati gerbang, seorang pria setengah baya keluar dari rumah besar itu.

"Selamat siang. Apa Anda Pak Munandar, pemilik rumah ini?" Lettu Tatan sambil menyalami orang tua itu. Begitu tahu kedua tamunya polisi dari Bogor, Munandar mempersilakan tamunya masuk.

"Sudah berapa lama rumah ini dikontrak Dhani?" tanya Lettu Tatan.

"Sejak Maret, jadi sudah sembilan bulan," jawab Munandar kalem.

"Bapak tahu keluarga Dhani?" sela Sertu Uky.

"Tidak. Saya cuma berhubungan dengan Herman, alias Herman Dhani Suwito, seperti tertera di kuitansi kontrak. Orangnya berkacamata."

"Lalu perempuan dan lelaki satunya?"

"Itu istri dan adik iparnya. Mereka baru punya anak satu."

Lettu Tatan dan Sertu Uky merasa terkecoh. Lettu Tatan pun menyodorkan selembar KTP ke Munandar, "Bapak kenal orang di KTP ini?"

"Oh, ini tukang kebunnya. Entah siapa namanya. Selain jarang keluar rumah, IQ-nya rendah. Istilah Jakartanya, bego, kalau diajak bicara suka tidak nyambung," katanya, "Mungkin Ibu pemilik warung itu lebih kenal, tampaknya mereka sedaerah."

"Apa Bapak punya berkas yang bisa jadi petunjuk untuk mencari Dhani?"

"Sayangnya, yang mereka tinggal cuma beberapa kartu nama."

Setelah meneliti, Lettu Tatan segera mengambilnya. Sebelum pergi, dua polisi itu sempat membeli minuman di warung rokok.

"Ibu kenal orang di foto KTP ini?" tanya Lettu Tatan.

"Lo, ini 'kan Bejo. Wah gagahnya, pakai dasi kayak direktur," serunya ramai, "dia suka utang rokok di sini. Sebenarnya bosnya tidak membolehkannya keluar. Tapi dia suka nyolong-nyolong."

"Benarkah Ibu sedaerah dengan Bejo?"

"Betul. Kami sekelurahan, cuma beda kampung. Di Lebaksiu, Tegal,"

"Sebelumnya, Bejo bekerja di mana?"

"Ikut kakaknya, berjualan martabak di seberang terminal Cililitan."

"Kapan Ibu melihat Bejo terakhir kalinya?"

"Jumat pagi. Ia naik mobil merah yang dikemudikan tuannya. Wah, ganteng lo. Bajunya bagus, pakai dasi segala. Katanya, mau kerja kantoran di Bandung."

"Kok tahu kalau dia mau kerja kantoran?"

"Kamis malam, waktu majikannya pergi, dia nongkrong di sini. Dia cerita kalau besok akan ke Bandung, Seninnya kerja di kantor. Ada apa to Pak, sejak tadi kok cuma tanya soal Bejo?" si ibu mulai curiga.

"Bejo dapat kecelakaan."

Ibu gendut itu terduduk lemas di bangku.

Selasa pagi. Seorang anak buah Lettu Tatan melapor, alamat kantor ekspor-impor di kartu nama korban, ternyata rumah kosong yang dijual.

Dengan penasaran Letnan Tatan menuju halaman tempat parkir mobil-mobil rusak karena kecelakaan. Ia menghampiri sedan merah itu. Di kabin atas, di atas kepala sopir, tidak ada barang keras yang dapat mencederai kepala pengemudi. Kunci kontak tidak di tempat. Tuas persneling dalam keadaan nol. Jadi, mungkin mobil didorong.

Mungkin saja, karena alur jalan menuju jembatan agak menurun. Meski mobil itu berat, cuma didorong oleh dua orang pun bisa meluncur cepat. Mobil terjun ke sungai, sebab mulut jembatan sedikit berbelok. Pantas, mobil jatuh dekat turap jembatan. Kalau mobil berjalan kencang, tentu jatuhnya lebih ke tengah, pikir Lettu Tatan.

Di jok pengemudi tidak banyak darah tercecer. Lalu ia mencoba membuka kap bagasi yang terkunci rapat. Lettu Tatan memanggil anak buah, meminta linggis. Sekali congkel, kap bagasi terbuka. Seketika, anyir darah menyergap. Di karpet bagasi, ada noda darah yang sudah kering. Di pojok kiri bagasi, teronggok ransel hitam, dan sepatu kulit sebelah kanan. Lettu Tatan yakin sepatu itu pasangan sepatu Bejo. "Celaka. Ini pembunuhan!" gumamnya.

Di salah satu kantung ransel hitam terselip lipatan kertas dibungkus plastik bening. Ternyata, fotokopi beberapa STNK, baru maupun lama. Mobil itu milik Pak Taslim di Pasar Minggu. Isi ransel lainnya pakaian harian, dan sepasang sandal jepit.

Lettu Tatan meminta dokter Willem, untuk memeriksa darah itu. Tapi, ia penasaran, apa motif pembunuhan ini? Apa untungnya membunuh Bejo, si tukang kebun?

Taksi gelap

Hari itu juga Lettu Tatan dan Sertu Uky ke Jakarta, menemui pemilik mobil. Pak Taslim yang Urang Awak menyambut ramah.

"Jadi mobil Pak Taslim disewakan? Taksi gelap, dong?" goda Sertu Uky.

"Betul," jawab Pak Taslim malu-malu, "Yang membawa keponakan saja, Marjuki. Dia tinggal di Condet."

Pak Taslim kaget ketika diberi tahu mobilnya jatuh ke sungai. Dengan suara lirih ia menanyakan nasib keponakannya.

Kedua polisi itu tak bisa menjawab, baru sekarang mereka mendengar nama Marjuki.

Dengan diantar Pak Taslim, kedua polisi itu ke rumah Marjuki. Tampak istri Marjuki menggendong anaknya, "Pak Taslim, Bang Juki enggak ada. Katanya, dua minggu narik ke Jawa, jadi belum bisa setor ...."

"Kapan Pak Marjuki berangkat ke Jawa?" sela Lettu Tatan.

"Kamis sore sebelum Magrib. Katanya, mobilnya dicarter orang kaya, keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur, untuk urusan bisnis. Dia senang. Hariannya utuh, enggak mikir makan atau bensin. Ada apa, Pak?" tanyanya curiga.

"Tidak ada apa-apa, Bu. Ibu punya foto Pak Marjuki?"

Wanita itu mengangguk.

"Di mana Pak Marjuki biasa mangkal?" Tanya Sertu Uky.

"Daerah Kebon Kacang, dekat HI. "

Di pangkalan taksi, keterangan yang diperoleh menguatkan informasi sebelumnya. Para sopir hanya tahu, Marjuki dapat langganan kakap yang mengajak keliling Jawa. Salah satu pelanggannya, berbadan tinggi dan berkacamata.

Kasus ini makin rumit. Lalu Lettu Tatan dan Sertu Uki menuju kantor asuransi jiwa.

Direktur utama perusahaan asuransi patungan swasta Indonesia dengan asing itu Daniel Pitter, pria kulit putih yang lancar berbahasa Indonesia, namun tampak sedang stres.

"Apakah Anda kenal orang di ID Card ini, Mr. Daniel?" tanya Lettu Tatan.

"Ya. Ia baru saja meninggal. Istrinya sebagai ahli waris sudah mengambil pertanggungan asuransi jiwanya," tutur pria berkumis dan cambang rapi itu.

"Apakah Anda mempunyai foto istrinya?" tanya Lettu Tatan.

Daniel mengambil foto berwarna ukuran 3R dari laci meja kerjanya. Di belakangnya tertulis: RINAWATI SUNYOTO.

"Orangnya sama tetapi namanya beda. Di tempat lain namanya ganti lagi," kata Lettu Tatan geleng-geleng kepala, "Bolehkah kami pinjam foto ini?"

Daniel mengangguk, sekaligus memberikan fotokopi KTP Rinawati. "Saya juga punya KTP Herman Sanyoto," sambung Daniel.

Lettu Tatan kaget. Rasanya ia yang menyimpan KTP Herman Sanyoto alias Bejo.

"Boleh. Saya juga perlu itu," jawab Lettu Tatan. Tanggal pembuatan KTP itu masih baru, sekitar seminggu sebelum Bejo tewas.

"Berapa nilai pertanggungannya?" tanya Lettu Tatan.

"Delapan ratus juta. Jangka waktu sepuluh tahun, dengan premi lima juta per bulan. Pemegang polis baru lima bulan jadi nasabah," jawab Daniel, "enam bulan lalu, cabang di Surabaya juga kena klaim sebesar enam ratus juta. Pemegang polisnya direktur utama, meninggal tenggelam saat berenang di laut."

"Apakah Anda tidak curiga terhadap klaim ini?"

"Ya. Tapi bagaimana lagi, semua persyaratan lengkap. Tiga hari lalu Nyonya Rinawati datang dengan dua saudaranya."

"Dua laki-laki, yang satu tinggi?" tanya Lettu Tatan.

"Benar."

"Yang tinggi berkacamata?" desaknya lagi.

"Tidak."

Siapa lagi dia, gumam Lettu Tatan. Mungkinkah Herman Dhani memakai lensa kontak? Ataukah ada orang lain?

"Pak Daniel, saya minta tolong. Harap dikabarkan ke seluruh cabang kantor Bapak, bila ada nasabah baru yang mengambil polis asuransi melebihi batas kewajaran, harap menghubungi kami. Penjahat yang sama biasanya punya modus operandi sama. Mungkin usai beroperasi di Jakarta, akan pindah ke Medan, Makasar, atau mana saja," kata Lettu Tatan sambil menyodorkan kartu nama.

Lettu Tatan pun meminta Sertu Uki merepro foto Marjuki dan mencetak cukup banyak untuk dikirim ke seluruh Polsek se-Jabotabek, untuk mencari informasi tentang Marjuki.

Temannya kleptomania

Pukul 17.15 kedua polisi itu menuju toko kacamata di Blok M. Dari data komputer, muncul nama Herman Dhani. Empat hari silam ia membeli lensa kontak minus dua. Ia juga mengganti kacamata lama dengan yang baru buatan Jerman. Sedangkan Rinawati membeli lensa kontak normal warna biru.

Selanjutnya, mereka menuju salon kecantikan langganan Rinawati. Salon itu ramai, sebagian pegawainya waria. Seorang waria menegur ramah saat mereka masuk.

"Perlu apa, Oom? Gunting? Creambath? Apa hair light model uban?" tanya si waria genit. Lettu Tatan segera menjelaskan siapa dirinya, dan apa keperluannya. Waria itu memanggil pemilik salon, wanita berumur 40-an yang cantik.

"Ini memang Rinawati," katanya sambil mengamati foto berwarna dari Lettu Tatan. "Empat tahun lalu ia bekerja di salon saya di Senen. Tapi dia keluar, mau buka usaha sendiri. Baru lima bulan lalu, saya bertemu lagi dengannya di Mal Mangga Dua. Dia sudah kawin dan sudah kaya. Sejak itu dia sering kemari, gunting rambut, cat, atau creambath. Dua hari lalu dia datang. Rambutnya dipirang tipis, memakai lensa kontak biru. Cantik sekali."

Lettu Tatan yakin tujuan semua tindakan Rinawati adalah untuk penyamaran. Sayangnya, dua aparat itu tak mendapat informasi tempat tinggal Rinawati.

Hampir pukul 19.00. Mobil dipacu ke arah Cililitan, menemui tukang martabak, kakak Slamet. Mereka tidak kesulitan mencari.

"Siapa namamu?" tanya Lettu Tatan.

"Untung, Pak. Ada apa dengan adik saya?" tanyanya gugup, "lama saya tidak ketemu dia. Majikannya melarang dia keluar rumah. Saya juga tidak boleh sering menjenguk."

"Kapan terakhir ketemu Bejo?"

"Dua bulan lalu, itu pun cuma sebentar, di luar pagar. Waktu itu tuannya pergi."

"Berapa lama Bejo bekerja di sana?"

"Lima bulan lebih. Sebelumnya ia ikut saya berjualan martabak."

"Siapa yang mengajaknya bekerja di tempat Pak Herman?"

"Lik Sukarni. Orang sekampung, pembantu Pak Herman," lanjutnya, "Bejo itu rajin, tetapi agak bego. SMP pun ia tidak lulus. Semula nganggur di kampung, saya ajak dia bantu jualan martabak, daripada saya mengupah orang lain. Waktu pulang kampung Lebaran dulu, Bejo ketemu Lik Sukarni. Katanya, majikannya butuh tukang kebun. Bejo diajak. Saya izinkan, biar tambah pengalaman."

"Sekarang di mana Lik Sukarni?"

"Sudah dua bulan di kampung. Dia dipecat, karena suka nyolong," jawab Untung polos.

"Apa Bejo bisa menyetir mobil?"

"Boro-boro, naik sepeda aja sering jatuh, nabrak."

"Terima kasih, tolong besok pagi ke kantor saya. Ini alamat saya, dan sekadar ongkos transpor," kata Lettu Tatan.

Pukul 07.00 Lettu Tatan sudah di kantor. Tidak lama kemudian, dr. Willem menelepon.

"Ada apa, Dok? Ada perkembangan?"

"Bercak darah di karpet karet, golongan darahnya AB. Sedangkan korban di mobil jenisnya B. Jadi ada dua jenis darah dalam mobil," kata dr. Willem.

Lettu Tatan sudah menduga. Dua korban yang ditaruh di bagasi, meski tidak bersamaan waktu. Kamis sore atau malam Jumat, Marjuki dibunuh. Mayatnya ditaruh di bagasi mobilnya, lalu dibuang di suatu tempat.

Sedangkan Bejo dibunuh Jumat malam. Mayatnya pun ditaruh di bagasi sedan itu, lalu dibawa ke Jembatan Gadok. Dekat jembatan, mayat Bejo dipindah ke pengemudi, dipasangi sabuk pengaman. Kesannya, Bejo yang mengemudi. Karena jalur itu termasuk jalur padat, mereka bertindak sesudah tengah malam. Mungkin karena buru-buru, sebelah sepatu korban tertinggal di bagasi.

Mobil pun didorong, meluncur kencang, terjun ke sungai. Tapi, di mana para penjahat itu? Masih di dalam atau sudah keluar Jakarta?

"Lapor. Ada tamu ingin bertemu Bapak," seru anak buah Lettu Tatan.

"Persilakan masuk!" jawab Lettu Tatan.

"Selamat pagi, Pak," salam Untung.

Lettu Tatan mencoba tenang, "Untung, harap jangan kaget. Bejo sudah meninggal."

"Apa? Bejo sudah meninggal?" Untung lunglai, "Lalu di mana jenazahnya, Pak?"

"Di rumah sakit. Ia mengalami kecelakaan mobil, Sabtu seminggu silam di Jembatan Gadok. Nanti dari pihak kepolisian, ada surat dispensasi memakai mobil jenazah untuk membawa adikmu ke kampung."

"Terima kasih," sahut Untung menunduk.

"Tapi, saya ikut. Saya ingin berkenalan dengan Lik Sukarni. Setuju?" desak Lettu Tatan. Untung mengangguk.

Hari itu juga, Lettu Tatan bersama Untung ke Lebaksiu, Tegal.

Sesudah pemakaman, Lettu Tatan diantar ke rumah Sukarni. Sukarni orangnya tinggi kurus, berkulit agak gelap. Matanya tajam dan selalu curiga.

"Lik Karni! Ini saya, Untung," teriak Untung.

"Hei, apa kabar? Kok Bejo malah kena musibah. Apa dia sudah enggak ikut Pak Herman?"

"Enggak, Lik. Oh ya, bapak ini ada perlu dengan sampeyan."

"Saya ingin tanya. Apa ibu yang mengajak Bejo bekerja di rumah Pak Herman?"

"Benar. Bapak siapa?" tanya Sukarni.

"Saya kawan Untung dari Cililitan," jawab Lettu Tatan, "berapa lama Ibu bekerja di sana?"

"Delapan bulan kurang. Saya dari yayasan. Bu Rina yang mengambil. Dua bulan lalu saya dipecat," jawabnya malu-malu, "Jangan bilang siapa-siapa, ya? Saya malu. Ketika mengambil barang itu, saya tidak sadar. Saya menyesal, tapi saya takut mengembalikan. Sekarang saya takut menjadi pembantu, bisa-bisa penyakit nyolong saya kambuh."

"Itu namanya kleptomania, mengambil barang tanpa sadar. Entah barang itu berharga atau tidak, pokoknya ibu senang. Lalu mana barangnya?" desak Lettu Tatan.

Diambilnya kotak karton dari atas lemari. Ketika dibuka, isinya bermacam-macam tapi umumnya tidak menarik bagi kebanyakan orang. Mulai pisau roti, dompet tua, dan album foto berukuran kabinet. Di album itu terdapat foto-foto lama, sebagian foto Rinawati dan keluarganya. Selain itu, ada selembar amplop kosong, surat untuk Rinawati di Jakarta, yang beralamat di Menteng. Rumah Munandar. Di baliknya tertulis, "Dari ayahanda: Sudarsono, RT sekian, RW sekian, nomor sekian, Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah".

Lettu Tatan mengamati cap perangko. Dari Klaten, dengan tanggal belum begitu lama. Amplop itu ia minta.

Adiknya pun perempuan

Jumat pagi. Lettu Tatan mendapat laporan, warga Mauk, Tangerang, menemukan mayat tak dikenal terdampar di pinggir sungai sepuluh hari lalu. Mayat itu sudah dikubur. Tetapi setelah Kapolsek setempat menerima foto Marjuki, kuburan tadi akan digali kembali.

"Pak Uky dan Dokter Willem ke lokasi mayat, tetapi mampirlah ke Jakarta, menjemput Haji Taslim dan istri Marjuki. Mungkin mereka bisa mengenali ciri-ciri Marjuki."

Sabtu pagi Lettu Tatan menghadap Kapolres, Letkol Dadang Yulianto. Sang Kapolres tersenyum, "Jadi Pak Tatan bermaksud mengajak Sertu Polwan Dewi Arimbi, ke rumah orang tua Rinawati di Klaten?" Lettu Tatan mengiyakan.

Sesampai di Klaten, dan setelah melapor ke Polsek setempat, kedua polisi itu mulai bertindak. Mereka menuju Kampung Jatinom, rumah orang tua Rinawati. Rumah itu mudah dicari, letaknya di pinggir jalan kampung yang halus diaspal. Seorang wanita tua menyongsong, begitu mobil mereka berhenti.

"Aduh, maaf, Nak. Saya kira Rinawati, anak saya, dan suaminya," kata ibu itu malu.

"Tak apa, bu. Saya Dewi, kawan Rina," sahut Dewi.

"Wah, silakan masuk, Nak," katanya sambil memanggil suaminya.

"Ini suami saya, Tatan. Saya kawan Rinawati saat masih bekerja di salon di Senen. Sejak Rina keluar empat tahun lalu, saya belum pernah ketemu lagi."

"Kok Nak Dewi tahu alamat kami?" tanya bapak Rina.

"Dulu saya dapatkan dari Rinawati," jawab Dewi, "Kalau Rina di mana sekarang, Bu?"

"Sekarang masih di Jakarta. Tapi bulan depan pindah ke Medan."

"Apa suaminya asal Medan, Bu?"

"Bukan, dari Pontianak. Sudah dua tahun berumah tangga, tapi belum juga dapat momongan. Terpaksalah mengadopsi dari yayasan. Untung, mereka cukup sukses. Kemarin ibu dikirimi uang untuk memperbaiki rumah," jawabnya bangga.

Lalu, "Sebelum ke Medan, minggu depan mereka mau kemari. Maka tadi saya sangka mereka yang datang."

"Oh ya Bu, di mana alamat Rinawati sekarang?" kata Dewi sambil mengambil buku alamat dan bolpen.

Tanpa curiga, ibu Rinawati mengambil amplop dengan alamat Rinawati. Cepat Dewi menyalin, sebuah kompleks perumahan mewah di bilangan Cibubur, Jakarta Timur.

"Rinawati itu putri keberapa?" sela Lettu Tatan mengalihkan perhatian.

"Nomor dua. Yang pertama juga perempuan, di Surabaya. Lalu Rina, baru Sisca yang kuliah di Yogya."

Dalam hati Lettu Tatan menyumpah, beraninya Roswanto mengaku sebagai adik Rinawati.

"Maaf, Pak. Apa di sini ada telepon? Saya ingin menghubungi tante saya, sebab belum pamit kalau mau kemari," sahut Lettu Tatan

"Maaf, bapak endak punya telepon. Tapi kalau penting sekali, di depan sana ada wartel," saran bapak Rina.

Setengah jam kemudian, di jalan besar. "Kenapa tadi Pak Tatan pura-pura pinjam telepon? Apa Pak Tatan punya saudara di sini?"

"Cuma ingin mencek. Bisa bahaya kalau mereka punya telepon. Rinawati bisa segera tahu. Bisa-bisa dia kabur dari Jakarta, sebelum kita bertindak."

Penyamaran yang gagal

Rumah mewah di Cibubur itu tampak sepi, seperti tak berpenghuni. Sudah dua hari rumah bertingkat itu diam-diam diawasi oleh anak buah Lettu Tatan.

Pagi itu Kopral Daman yang bertopi anyaman pandan, karena menyamar sebagai tukang loak, melapor, "Letnan, saya mendengar tangis bayi dari kamar atas. Rumah itu berpenghuni. Bagaimana kalau langsung kita sergap?"

"Tunggu dulu. Ya, kalau itu sasaran kita, bagaimana kalau bukan? Kita bisa dituntut."

"'Kan ada surat perintah, Let?"

"Tetapi ini bukan wilayah kita."

Tiba-tiba dari gerbang rumah itu keluar seorang perempuan, pembantunya. Lettu Tatan buru-buru menghampiri, dan berpura-pura mencari alamat orang.

"Numpang tanya, Bu. Apa Ibu pembantu Nyonya Shinta?"

"Bukan, saya pembantu Ibu Rinawati," akunya.

"Ooh. Ibu Rinawati yang dari Bali itu ya?"

"Waaah, buuukaan. Ibu Rinawati itu orang Jawa, dari Klaten."

"Oh, ya! Saya ingat sekarang, nama suaminya Pak Sujono, dari Kediri 'kan?"

"Wadduuh. Sampeyan kok tambah ngawur to," katanya sambil tertawa, "suaminya orang Kalimantan. Namanya Pak Herman. Mereka sedang nonton TV di kamar atas," jawabnya merasa hebat.

Lettu Tatan tersenyum. Ia yakin, orang di rumah itu memang buruannya. Dengan isyarat tertentu, enam anak buahnya bergerak. Kurang dari setengah jam, aparat telah menangkap tiga tersangka pembunuhan dan penipuan.

Tapi, Lettu Tatan sempat sangsi. Salah satu pria yang ditangkapnya berambut pirang dan bermata abu-abu. Bahkan, ia memaki dengan bahasa asing. Cuma sayang, tahi lalat di kening kiri, dan Rinawati yang belum berdandan, membuat semua penyamaran sia-sia. (fiksi/Riady B. Saroso)

Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/



Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej