globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

INFLASI WICARA 

Setelah era represi di segala bidang baik psikososial, politik, bahkan kultural, pelahan surut, para elite politisi di negeri ini buru-buru mencanangkan anggapan bahwa mereka hidup di alam demokrasi yang sesungguhnya. Bisa jadi ini merupakan salah satu manifestasi euforia mereka. (Dalam psikodinamika, euforia bermakna kegembiraan yang melewati batas-batas kewajaran sehingga tidak realistis). Namun apa yang sesungguhnya terjadi?

Dilihat dari perspektif relasi antarinsan, yang tampak menonjol dalam "kehidupan demokrasi" pascarepresi ini justru perang kata, saling debat, bahkan kadang baku caci yang sengit di kalangan politisi dan pejabat pemerintahan. Nampaknya, elite politisi bangga dengan semua itu. Terkesan mereka berlomba-lomba melibatkan diri dalam ajang wicara perdebatan perang kata yang seru. Keterlibatan dalam aktivitas wicara seperti itu seolah mengesahkan peran mereka dalam kehidupan demokrasi. Dengan banyak melontarkan kritik pedas yang seringkali tidak bermutu, mereka merasa menjadi pelaku demokrasi sejati.

Ironisnya, insan-insan (elite) yang berlumuran kesalahan rezim lampau pun bergegas ikut serta dalam ajang lontar kritik dan perang kata-kata. Di sini ajang lontar kritik menjadi mekanisme defensi ego, terutama sebagai rasionalisasi dan pengelabuan kasar untuk melindungi diri dari kemungkinan penyelidikan kesalahan masa lampau. Singkatnya, dewasa ini kehidupan bernegara di tanah air ditandai meningkatnya "inflasi wicara", yang cukup memprihatinkan karena bisa berakibat buruk buat relasi antarinsan pada umumnya.

Banyak contoh bisa disebut untuk menjelaskannya. Nyaris setiap perkara di tengah kehidupan elite politisi pemerintahan, dibesar-besarkan menjadi substrat (bahan dasar) debat kritik perang kata yang seru tanpa peduli pada mutu. Ketika IMF (Dana Moneter Internasional) gusar karena pemerintah Indonesia terlambat melaksanakan berbagai kesepakatan yang termaktub dalam Letter of Intent, elite politisi serta merta melontarkan beragam kritik, termasuk tuntutan supaya presiden merombak tim ekonomi dalam kabinet. Bisa dirasakan, serbaneka kritik waktu itu sedemikian bertalu-talu sampai urusan yang sangat penting buat mayoritas rakyat, semisal penyelidikan atas kasus KKN mantan presiden kedua dan kroninya, sejenak terlupakan. Kendati sejenak, kalau berulang dan berulang lagi, pengaruhnya sangat besar. Penundaan sejenak yang berulang lestari akan membuahkan "penundaan abadi" atas upaya pembongkaran kasus yang sesungguhnya sangat penting buat mayoritas rakyat jelata itu.

Barangkali kritik seputar keharusan perbaikan koordinasi tim ekonomi kabinet Gus Dur adalah wacana yang wajar dan demokratis, bahkan perlu untuk perbaikan kinerja pemerintah dalam memulihkan perekonomian bangsa. Namun anehnya, beberapa pekan setelah itu, tatkala presiden menggunakan hak prerogatifnya untuk mengganti menteri, kembali elite politisi memeragakan atraksi baku debat, kritik-mengkritik, sedemikian seru.

Riuh rendahnya perang kata-kata itu, lagi-lagi mengesankan suatu inflasi wicara yang sesungguhnya tidak dibutuhkan rakyat kecil di negeri ini. Apakah wicara yang sedemikian inflatoar dan berlebihan itu tidak mubazir? Tidakkah kondisi itu justru akan mengalihkan perhatian dari fokus utamanya semisal pengusutan berbagai kasus besar KKN dan kekerasan, yang sangat penting untuk pemulihan ekonomi rakyat, serta pemulihan apresiasi kemanusiaan?

Yang juga amat penting untuk dipertanyakan, tidakkah inflasi wicara ini sekaligus cerminan betapa elite politisi tidak berkarya nyata secara signifikan, dalam perspektif reformasi psikososiopolitikokultural, kecuali cuma bicara dan bicara terus?

Apalagi jika mereka yang terlibat di dalamnya banyak melontarkan pernyataan tidak bermutu, tidak mengindahkan kesantunan, akibatnya justru akan menggelorakan rasa permusuhan dan ketidaksukaan, serta memicu gelegak emosi yang merembes ke dalam kehidupan rakyat jelata. Bagaimanapun, kesantunan tetap diperlukan, dan demokrasi tidak berarti penghancuran kesantunan dalam berwicara. Kita semua harusnya prihatin, karena inflasi wicara sarat permusuhan yang sehari-hari didemonstrasikan para elite politisi, akan memperburuk kualitas relasi antarinsan pada umumnya. Warga masyarakat lalu terkondisikan untuk mengabaikan kesantunan, dan tidak mempedulikan pentingnya tindakan dan karya nyata di luar sekadar omong dan berdebat.

Relasi antarinsan yang sehat ditopang secara seimbang oleh wicara terbuka namun santun, dan karya kemanusiaan atau tindakan nyata yang efektif. Tatkala harmoni wicara dan karya diporak-porandakan oleh inflasi debat dan kebiasaan sekadar omong secara berlebihan, cepat atau lambat warga masyarakat akan menuai kekecewaan, kebosanan, kejenuhan, dan rasa muak yang pada akhirnya menorehkan pengaruh buruk pada relasi antarinsan pada umumnya.

Mudah-mudahan elite politisi mulai menyadari betapa demokrasi tidak sama dengan inflasi omong. Demokrasi adalah khazanah tindak berpikir dan berkarya nyata untuk menyejahterakan rakyat seluas-luasnya. Mudah-mudahan, rakyat tidak tergiring untuk terjebak dalam inflasi wicara, dan tetap menyadari betapa relasi antarinsan yang sehat dan baik dipilari oleh harmoni wicara dan karya. (dr. Limas Sutanto, D.S.J., pengamat psikososial dari STFT Widaya Sasana, Malang)


Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/



Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej