|
|
Bulan Desember 2000
|
|
INFLASI WICARA
Dilihat dari perspektif relasi antarinsan, yang tampak menonjol dalam
"kehidupan demokrasi" pascarepresi ini justru perang kata, saling
debat, bahkan kadang baku caci yang sengit di kalangan politisi dan pejabat
pemerintahan. Nampaknya, elite politisi bangga dengan semua itu. Terkesan
mereka berlomba-lomba melibatkan diri dalam ajang wicara perdebatan perang
kata yang seru. Keterlibatan dalam aktivitas wicara seperti itu seolah
mengesahkan peran mereka dalam kehidupan demokrasi. Dengan banyak
melontarkan kritik pedas yang seringkali tidak bermutu, mereka merasa
menjadi pelaku demokrasi sejati.
Ironisnya, insan-insan (elite) yang berlumuran kesalahan rezim lampau pun
bergegas ikut serta dalam ajang lontar kritik dan perang kata-kata. Di sini
ajang lontar kritik menjadi mekanisme defensi ego, terutama sebagai
rasionalisasi dan pengelabuan kasar untuk melindungi diri dari kemungkinan
penyelidikan kesalahan masa lampau. Singkatnya, dewasa ini kehidupan
bernegara di tanah air ditandai meningkatnya "inflasi wicara",
yang cukup memprihatinkan karena bisa berakibat buruk buat relasi antarinsan
pada umumnya.
Banyak contoh bisa disebut untuk menjelaskannya. Nyaris setiap perkara di
tengah kehidupan elite politisi pemerintahan, dibesar-besarkan menjadi
substrat (bahan dasar) debat kritik perang kata yang seru tanpa peduli pada
mutu. Ketika IMF (Dana Moneter Internasional) gusar karena pemerintah
Indonesia terlambat melaksanakan berbagai kesepakatan yang termaktub dalam Letter
of Intent, elite politisi serta merta melontarkan beragam kritik,
termasuk tuntutan supaya presiden merombak tim ekonomi dalam kabinet. Bisa
dirasakan, serbaneka kritik waktu itu sedemikian bertalu-talu sampai urusan
yang sangat penting buat mayoritas rakyat, semisal penyelidikan atas kasus
KKN mantan presiden kedua dan kroninya, sejenak terlupakan. Kendati sejenak,
kalau berulang dan berulang lagi, pengaruhnya sangat besar. Penundaan
sejenak yang berulang lestari akan membuahkan "penundaan abadi"
atas upaya pembongkaran kasus yang sesungguhnya sangat penting buat
mayoritas rakyat jelata itu.
Barangkali kritik seputar keharusan perbaikan koordinasi tim ekonomi kabinet
Gus Dur adalah wacana yang wajar dan demokratis, bahkan perlu untuk
perbaikan kinerja pemerintah dalam memulihkan perekonomian bangsa. Namun
anehnya, beberapa pekan setelah itu, tatkala presiden menggunakan hak
prerogatifnya untuk mengganti menteri, kembali elite politisi memeragakan
atraksi baku debat, kritik-mengkritik, sedemikian seru.
Riuh rendahnya perang kata-kata itu, lagi-lagi mengesankan suatu inflasi
wicara yang sesungguhnya tidak dibutuhkan rakyat kecil di negeri ini. Apakah
wicara yang sedemikian inflatoar dan berlebihan itu tidak mubazir?
Tidakkah kondisi itu justru akan mengalihkan perhatian dari fokus utamanya
semisal pengusutan berbagai kasus besar KKN dan kekerasan, yang sangat
penting untuk pemulihan ekonomi rakyat, serta pemulihan apresiasi
kemanusiaan?
Yang juga amat penting untuk dipertanyakan, tidakkah inflasi wicara ini
sekaligus cerminan betapa elite politisi tidak berkarya nyata secara
signifikan, dalam perspektif reformasi psikososiopolitikokultural, kecuali
cuma bicara dan bicara terus?
Apalagi jika mereka yang terlibat di dalamnya banyak melontarkan pernyataan
tidak bermutu, tidak mengindahkan kesantunan, akibatnya justru akan
menggelorakan rasa permusuhan dan ketidaksukaan, serta memicu gelegak emosi
yang merembes ke dalam kehidupan rakyat jelata. Bagaimanapun, kesantunan
tetap diperlukan, dan demokrasi tidak berarti penghancuran kesantunan dalam
berwicara. Kita semua harusnya prihatin, karena inflasi wicara sarat
permusuhan yang sehari-hari didemonstrasikan para elite politisi, akan
memperburuk kualitas relasi antarinsan pada umumnya. Warga masyarakat lalu
terkondisikan untuk mengabaikan kesantunan, dan tidak mempedulikan
pentingnya tindakan dan karya nyata di luar sekadar omong dan berdebat.
Relasi antarinsan yang sehat ditopang secara seimbang oleh wicara terbuka
namun santun, dan karya kemanusiaan atau tindakan nyata yang efektif.
Tatkala harmoni wicara dan karya diporak-porandakan oleh inflasi debat dan
kebiasaan sekadar omong secara berlebihan, cepat atau lambat warga
masyarakat akan menuai kekecewaan, kebosanan, kejenuhan, dan rasa muak yang
pada akhirnya menorehkan pengaruh buruk pada relasi antarinsan pada umumnya.
Mudah-mudahan elite politisi mulai menyadari betapa demokrasi tidak sama
dengan inflasi omong. Demokrasi adalah khazanah tindak berpikir dan berkarya
nyata untuk menyejahterakan rakyat seluas-luasnya. Mudah-mudahan, rakyat
tidak tergiring untuk terjebak dalam inflasi wicara, dan tetap menyadari
betapa relasi antarinsan yang sehat dan baik dipilari oleh harmoni wicara
dan karya. (dr. Limas Sutanto, D.S.J., pengamat psikososial dari STFT
Widaya Sasana, Malang) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online www.indomedia.com/intisari/ |
|||||