|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Mesin
Diesel, Antara Mitos dan Fakta
Ketika mobil bermesin diesel mulai populer, masyarakat awam banyak
terjebak pada pendapat salah kaprah soal mesin berbahan bakar solar ini.
Pendapat itu memang benar ketika mesin diesel baru ditemukan. Namun,
sekarang semuanya sudah berubah berkat pengembangan teknologinya.
Delapan hal di bawah ini merupakan fakta yang sebenarnya berkaitan dengan
delapan kesalahkaprahan soal MD:
1. Lebih ramah lingkungan ketimbang MB.
Soal ini kita mungkin tak percaya karena sering melihat MD kendaraan
bermotor menyemburkan asap hitam legam. Berbeda dengan MB yang gas buangnya
terlihat lebih bersih, gas buang MD mengandung sejumlah besar jelaga hitam
akibat temperatur nyala yang lebih tinggi dibandingkan dengan MB. Namun,
partikel padat jelaga hitam cepat hilang atau mengendap ke tanah oleh
tarikan gravitasi Bumi.
Gas polutan lain yang disemburkannya sebagian besar adalah NOx.
Bandingkan dengan gas buang MB. Di balik penampakannya yang jernih, gas
buang MB mengandung lebih banyak COx, NOx, dan unburn
hydrocarbon(UHC, bensin tak terbakar) yang lebih polutif dan efek
racunnya lebih instan bagi makhluk hidup. Lebih parah lagi, karena tak
terlihat, kita lebih sulit menghindari gas buang MB daripada gas buang MD.
2. Tidak kotor.
Kesan kotor pada MD kuno memang ada. Namun, kesan itu berangsur-angsur
hilang sejalan dengan penerapan electronic fuel injection (EFI) yang
kian meluas, menggantikan sistem pasokan solar mekanik dengan governor.
Namun, sistem apa pun yang dipakai, MD ternyata tetap bisa lebih bersih
ketimbang MB. Air dan debu lebih tidak disukai pada MD dibandingkan dengan
MB. Pada MD, bersih adalah syarat utama karena pompa solar amat cermat.
Setitik debu pun mampu menyumbat sistem dan setetes air bisa menimbulkan
karat yang sama fatalnya. Hal ini berkaitan dengan berat jenis solar yang
lebih besar daripada bensin, sehingga solar lebih mampu menyimpan kotoran
yang melayang di dalamnya. Ini harus dicegah dengan sistem penyaringan
berlapis sebelum solar masuk ke pompa solar.
Jadi, jangan salah. MD-lah yang harus lebih bersih dibandingkan dengan MB.
3. Tidak lebih berisik daripada MB.
Teknologi isolasi getaran dan peredaman suara yang kian canggih memungkinkan
hal ini terjadi. Suara ledakan MD akibat pembakaran pada temperatur dan
tekanan tinggi ketimbang MB telah banyak berkurang karena teknologi yang
makin maju itu.
4. Getaran MD tidak terlalu parah.
Berkaitan dengan fakta bahwa piston pada MD harus bergerak bolak-balik lebih
jauh, gaya yang timbul juga akan lebih besar ketimbang pada MB. Akibatnya,
MD kuno memang bergetar amat hebat. Namun, setelah EFI berkembang sejak
tahun 1975, komponen-komponen MD modern, termasuk piston, telah diganti
dengan bahan yang 30 – 40% lebih ringan. Ini memungkinkan gaya penyebab
getaran juga mengecil. Getaran pada MD modern pun sudah amat jauh berkurang.
5. Tidak sulit distart.
MD kuno memang agak rewel saat dihidupkan pertama kali di pagi hari.
Penyebabnya, temperatur MD belum cukup tinggi untuk mendukung terjadinya
pembakaran sendiri. Maka, pada MD kuno kunci start perlu ditahan dulu
selama beberapa saat pada posisi "ON" hingga lampu indikator
temperatur menyala. Setelah lampu indikator menyala, kunci start
diputar habis untuk menyalakan mesin.
Selama kunci ditahan pada posisi "ON", ruang bakar MD sebenarnya
tengah dipanaskan oleh elemen pemanas untuk mencapai temperatur nyala solar.
Namun, dengan kemajuan teknologi, MD mutakhir dapat langsung distart
seperti layaknya MB karena proses pemanasan ruang bakar terjadi hampir
seketika.
6. Lebih efisien daripada MB.
Umumnya orang beranggapan, MD yang temperatur pembakarannya jauh lebih
tinggi ketimbang MB tentu mengalami rugi-rugi daya lebih besar akibat
penyerapan panas berlebih oleh air radiator. Gesekan komponen-komponen MD
yang kokoh dan berat juga menimbulkan inefisiensi pembakaran ekstra.
Kenyataannya, secara termodinamika efisiensi pembakaran MD lebih tinggi
sekitar 50% ketimbang MB. Hal ini terjadi karena penyerapan panas berkurang
sejalan dengan naiknya temperatur air radiator. Lebih-lebih pengurangan
bobot komponen MD secara signifikan berhasil mengurangi rugi-rugi daya
akibat gesekan.
7. Bisa diajak ngebut.
Dulu MD digunakan untuk truk dan bus karena keduanya jarang dioperasikan
pada putaran mesin (rpm) tinggi (di atas 4.000 rpm) alias ngebut.
Keduanya lebih banyak berkutat pada rpm rendah. Tapi, seiring dengan
pemakaian komponen berbahan ringan, rpm MD dapat ditingkatkan tanpa khawatir
gaya-gaya perusak yang timbul akan cukup besar.
Daihatsu Charade CX TD 993 cc diesel contohnya. Mobil ini membutuhkan 22
detik untuk menempuh jarak 400 m dari keadaan diam, dan mampu dipacu hingga
135 km/jam. Cukup berimbang dengan Rover Mini Mayfair 998 cc bensin yang
memerlukan 21,8 detik untuk melahap jalan sejauh 400 m dan memiliki
kecepatan puncak 128 km/jam.
8. Tidak memiliki busi.
Berbeda dengan MB yang penyalaan campuran udara-bensinnya membutuhkan
percikan api, penyalaan campuran udara-solar pada MD terjadi dengan
sendirinya akibat tekanan dan temperatur cukup tinggi (pressure ignited
combustion). Struktur MD dan MB sebenarnya serupa dalam hal adanya
silinder dan piston. Namun, agar tekanan dan temperatur penyalaan tercapai,
piston MD harus bergerak lebih jauh dari posisi terbawah ke posisi teratas.
Hal ini menyebabkan campuran udara-solar termampatkan ke tekanan lebih
tinggi daripada MB.
Itulah yang menyebabkan solar dapat terbakar dengan sendirinya tanpa bantuan
api busi. Sistem penyalaan MD yang berupa injector lebih sederhana
dengan tiadanya rangkaian pengapian seperti busi, platina, kondensor, dan
distributor. Injector ini juga tak membutuhkan perawatan rutin.
Di samping kedelapan fakta soal MD yang sering dinilai terbalik oleh banyak
orang tadi, ada dua fakta lagi yang dinilai secara benar. Ini adalah hal
positif. Pemahaman masyarakat sudah tepat bahwa MD - apalagi keluaran
terbaru - pada kenyataannya:
1. Irit BBM.
Rudolf Diesel memang menciptakan MD (1892) untuk mengatasi kendala boros BBM
yang dihadapi MB. Sistem injeksi dan konsumsi solar yang rendah per siklus
MD-lah yang menyebabkan iritnya MD.
Kesadaran akan pentingnya irit BBM mulai terasa sejak awal 1970. Saat itu
masih banyak truk dan bus bermesin bensin. Namun, kini semua truk dan bus
sudah bermesin diesel. Di Jerman, mayoritas taksi berbasis Mercedes Benz 190
D dan 240 D 2.500 cc diesel yang irit dan rendah biaya pemeliharaannya. Bagi
mereka, taksi bermesin bensin tak memenuhi skala ekonomis.
Tren pemakaian MD kian terlihat di negara maju dan berkembang. Di Jepang hal
ini terutama karena pajak per liter bensin lebih tinggi 54,8%, nilai jual
kembali tinggi, biaya operasionalnya murah, ramah lingkungan, dan tentunya
irit BBM.
Campur tangan teknologi berperan aktif pula mendukung tren ini. Kendala
bobot berat, kurang responsif, kotor, bergetar, berisik, dan polutif yang
dulu melekat pada MD lambat laun terkikis. Di masa depan telah menanti
teknologi common rail direct injection yang mampu mengkonsumsi solar
ultrahemat sekaligus amat ramah lingkungan.
2. Bandel.
Kesebelasan panzer Jerman dikenal sebagai tim diesel karena makin lama makin
panas dan bagus permainannya. Itu memang karakter MD. Makin lama dinyalakan,
MD akan terus mempertahankan temperatur nyalanya sehingga pembakaran solar
berlangsung amat efektif dan lancar. Tak perlu dikhawatirkan MD kelewat
panas (overheat) karena tak akan mengalami detonasi (ngelitik)
seperti pada MB. Detonasi adalah gejala ledakan dalam MB akibat overheat
yang menyebabkan bensin menyala dengan sendirinya sebelum busi terpercik.
Detonasi amat merusak MB.
Secara teoritis, berapa lama pun MD dinyalakan tak akan menimbulkan masalah
selama air radiator dan pelumas tetap tersedia. Pendeknya MD memang bandel.
Buktinya Australian Automobile Association pernah melakukan tes ketahanan
(enduro) terhadap Charade CX TD. Selama 24 hari nonstop mobil ini menempuh
jarak 14.320 km melewati jalanan terbaik hingga terburuk Australia. Mobil
lulus tes dengan baik.
Dengan pemahaman yang proporsional dan objektif, tentunya apriori tak lagi
muncul saat kita menimbang-nimbang hendak membeli mobil bermesin diesel atau
bensin. Keputusan benar-benar tergantung pada selera dan tentunya dana,
bukan pada anggaran yang belum tentu benar. Memang salah kaprah sangat
mungkin membuat kita tergelincir. Bagaimana pun membekali diri dengan
sebanyak mungkin informasi objektif tak ada ruginya. |
|||||
|
|
|||||