|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Dentum
Drum
Ada begitu banyak jenis drum tradisional, karena budaya yang berbeda
menciptakan bentuk dan bahan drum yang berbeda pula. Ada yang jangkung,
gemuk, bersisi satu atau dua, misalnya, tabla dan dholak dari India, atau
taiko dari Jepang.
Alat musik yang biasanya dipukul (dengan tangan atau stik) itu, ada yang
berbunyi khas justru bila diusap, maka namanya friction drum. Ada
pula yang begitu dangkal "tubuh"-nya sehingga tidak dapat
bertindak sebagai resonator suara, disebut frame drum. Misalnya
tamborin.
Frame drum dimainkan orang di Timur Tengah kuno (khususnya kaum
wanita), Yunani, dan Roma, selanjutnya menyebar ke Eropa Tengah. Bentuknya
beragam mulai bulat, segi delapan, bujur sangkar, dll. Terkadang ditambah
senar atau kerincingan di pinggir. Ada pula rattle drum, drum dua
sisi dengan biji digantung di kanan-kiri yang ada di India dan Tibet.
Bagaimana kisah lahirnya drum? Manusia di peradaban awal memiliki kebiasaan
memukul-mukul benda sekitarnya untuk mengekspresikan kegembiraan, misalnya
saat berhasil menangkap binatang buruan.
Dalam ekskavasi di berbagai wilayah di dunia ditemukan drum tertua dari masa
neolitikum. Misalnya, yang di Moravia diduga dari tahun 6000 SM. Bentuknya
amat sederhana berupa sepotong batang kayu berongga yang ujungnya ditutup
kulit reptil atau ikan. Alat itu dibunyikan dengan cara ditepuk.
Pada masa peradaban berikutnya, muncul drum kayu dengan kulit binatang. Stik
pukul pun mulai dipakai. Ini ditunjukkan oleh artefak dari Mesir kuno (4000
SM).
Tahun 3000 SM dikenal frame drum raksasa di kalangan bangsa Sumeria
kuno dan Mesopotamia. Selanjutnya, drum "menggelinding" ke Afrika
dan Yunani sekitar tahun 2000 SM.
Drum serupa jam pasir tampak pada relief Bharhut, relief candi India tertua,
dari abad 2 SM. Pada masa bersamaan drum muncul di Romawi. Bahakan Romawilah
yang pertama kali menggunakan drum sebagai pengobar semangat pasukan perang.
Tahun 600-an Persia mengenal genderang pendek dari tanah liat. Lalu
genderang itu mulai dibuat dari logam, terkadang kayu. Genderang itu pun
menyebar ke Eropa, Afrika, dan Asia. Karena dibuat dari tembaga dan
berbentuk ketel sup, namanya pun jadi kettle drum atau timpani.
Abad XIII timpani menunjukkan peran penting dalam musik Eropa. Karena bunyi
gemuruhnya bak geledek, sekitar dua abad kemudian bangsa Inggris juga
memanfaatkan timpani di bidang ketentaraan. Gunanya sebagai penanda waktu,
aba-aba serangan, dan membuat musuh grogi.
Saat menjelajah dunia tahun 1500 bangsa Eropa membawa drum ke Amerika. Maka,
cara pakai bangsa Inggris pun menyebar. Tak ayal tahun 1800-an pasukan
militer di berbagai negara mulai mempelajari dan menggunakan drum dalam
pasukan. Malah ada terobosan baru berupa parade musik pasukan drum band
tahun 1813 di Rusia. Inilah salah satu tonggak munculnya drum band.
Keinginan memperkaya musik drum sudah ada sejak 1550. Namun, baru tahun 1935
para pencinta musik di AS mewujudkannya. Drum pun tak lagi muncul tunggal.
Seperangkat drum biasanya terdiri atas genderang bas, genderang senar,
genderang tenor, dan simbal. Malah tahun 1970-an muncul drum listrik, yang
kualitas bunyinya tak beda dengan gendang, timpani, atau drum akustik. |
|||||
|
|
|||||