globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Belajar Bahasa di Desa Italia 

Keterampilan berbahasa tak cuma didapat di ruang kelas dengan suasana formal. Tapi apa menariknya belajar bahasa di sebuah kastil di desa terpencil di Italia?

Kala itu akhir April. Ladang-ladang gandum menjelang panen terhampar di kiri-kanan, bergelombang ditiup angin, berselang-seling dengan padang penuh bunga liar. Bukit-bukit melatarbelakangi, dalam sapuan cahaya matahari sore. Rasa lelah selama berjam-jam di kereta api dari Roma menguap begitu saja.

Dari pengalaman, belajar bahasa di negara asal adalah cara terbaik. Saya pernah belajar bahasa Spanyol di Spanyol dan Peru. Jadi, selain mengenal bahasa, juga kebudayaan dan adat-istiadat.

Memilih di desa

Banyak informasi saya dapat melalui Internet. Karena pertimbangan harga dan lokasi, saya memilih sekolah Centro Giacomo Leopardi di Desa Belforte all’Isauro, wilayah Le Marche, Italia Tengah.

Mengapa pilih desa? Untuk berlibur, dan belajar, saya ingin suasana berbeda. Karena bukan tujuan wisata, desa itu bebas serbuan turis. Sekolah diadakan di kastil dari abad XIII, di atas fondasi abad VII atau VIII. Sedangkan akomodasi disediakan di kastil atau bangunan tambahan yang juga bersejarah. Tinggal di kastil tentu pengalaman menarik.

Dari Roma saya menuju Kota Pesaro lalu ke Kota Carpegna, 10 km dari Belforte. Di sebuah desa setengah jam perjalanan sebelum Carpegna, bus berhenti. Seorang anak muda naik dan berbicara dalam bahasa Italia. Rupanya, dia Angelo, salah satu guru yang menjemput para murid. Ternyata ada lima orang murid dalam bus. Kami pindah ke minibus sekolah, melaju ke Belforte.

Tibalah kami dekat jalan berbatu ke kastil kuno yang tampak menjulang menyeramkan.

Beragam usia, beragam budaya

Murid umumnya mendapat akomodasi di kastil, dalam kamar luas berisi beberapa orang. Saya memilih kamar tunggal, karenanya ditempatkan di borgo, bangunan abad pertengahan beberapa meter dari kastil.

Murid berasal dari berbagai penjuru dunia, dengan aneka latar belakang dan beragam usia. Tetangga kamar saya adalah Roberto, pensiunan kepala sekolah dari Kalifornia. Juga Hartmut, pria setengah baya dari Bavaria, Jerman; Carlos, pegawai negeri dari Brasil; Claudia, perempuan muda ahli komputer dari Kalifornia, dan dua nenek (80-an) dari Milford, Connecticut, AS. Juga Michelina Greco dan Rose Mancini, tetangga terdekat dan teman ngobrol yang asyik. Minggu berikut datang Carolina Womack, pramugari dari Kalifornia menjadi salah satu sahabat saya di sana. Ruang-ruang di borgo umumnya untuk murid dewasa yang ingin privacy, dan bersedia membayar ekstra.

Berbagai perbedaan itu kadang menimbulkan salah paham. Sebagian besar murid di kelas saya, misalnya, sulit memahami sikap seorang remaja putri Rusia dan seorang gadis Australia. Mereka kerap meletakkan kepala di meja seakan tidur. Bila ditanya sebabnya, si gadis Rusia mengaku bosan. Sedangkan si gadis Australia dengan suara mengeluh mengatakan, mengantuk dan minta dilewati dalam latihan. Namun, perbedaan itu membuat kami belajar lebih toleran.

"Un pavimento, un pavimento!"

Dari hasil tes penempatan, sekitar 20 murid dibagi menjadi tiga kelas: dasar, menengah, dan lanjutan. Di kelas saya, tingkat dasar, ada dua murid Australia, dua Amerika, dua Meksiko, seorang Indonesia. Di minggu kedua masuk seorang Rusia dan seorang Ukraina.

Sayangnya, di hari kedua guru kami sakit. Sementara menanti guru pengganti, Carmelo Manetta, direktur sekolah, memperkenalkan bahasa Italia. Caranya mengejutkan.

"Un pavimento, un pavimento," katanya menunjuk dan menjejak-jejakkan kakinya ke lantai. "Un muro, un muro," tambahnya menunjuk dinding. Tiap kali kami harus mengulangi, mula-mula bersama lalu sendiri-sendiri. Seperti mitraliur makin lama makin banyak benda yang ditunjuk dan diberi nama.

Belum sepuluh menit, pelajaran sudah bergeser ke kalimat tanya, afirmatif dan negatif.

"E una finestra?" tanya Carmelo menunjuk sebuah buku.

"No, non e una finestra, ma e un libro," jawab kami. Aneh, jawaban seperti otomatis keluar dari mulut kami. Hanya dalam satu jam pertama, tiap murid sudah bisa membentuk sebuah kalimat.

Menurut Carmelo, itulah metode pengajaran yang ideal. "Spontan seperti saat belajar bahasa ibu. Mendengar, mengulang, mendengar, mengulang." Setelah itu baru dijelaskan mengapa, dan diajarkan tata bahasa.

Tapi, metode idealnya itu tidak selalu bisa diterapkan. Sebab, muridnya adalah orang dewasa yang biasa berpikir sebelum bicara, karena takut salah. "Dalam sebulan, tidak mungkin mengubah kebiasaan itu," katanya.

Akhirnya, lahir kompromi, tata bahasa banyak diajarkan. Ini dilakukan guru kami yang kemudian, Raffaella Salucci.

Impian Carmelo

Centro Giacomo Leopardi adalah wujud mimpi Carmelo, pria kelahiran Sicilia dengan gelar doktor bahasa asing dari Universitas Palermo. Gagasan itu didapat saat ia pergi ke Inggris untuk belajar bahasa Inggris.

Rencana tinggal selama dua bulan, molor menjadi dua tahun. "Beberapa bulan pertama saya kehilangan waktu untuk menyesuaikan diri," katanya.

Sekembali ke Italia, lahir gagasan membuat sebuah sekolah bahasa Italia bagi orang asing. Sekolah itu harus menyediakan penginapan dan makanan, agar murid tidak kaget dengan situasi baru. Sekolah juga mengadakan berbagai kegiatan di luar kelas sebagai sarana belajar. Biaya akomodasi dan kegiatan itu termasuk dalam biaya kursus. Lebih idealnya, sekolah itu ada di lingkungan yang kecil dan akrab seperti desa, sehingga murid bisa belajar adat-istiadat dan kebiasaan Italia melalui interaksi dengan penduduk.

Impiannya mulai terwujud 10 tahun lalu, saat dia menolak wajib militer, sehingga harus melakukan wajib kerja di Desa Castelraimondo, Italia tengah, selama 20 bulan.

Lima tahun lalu, ia mencari tempat lain karena di Castelraimondo kesulitan mendapat tempat akomodasi. Ditemukan Belforte all’Isauro, yang mempunyai kastil yang tak dipakai. Kerja sama dengan desa tercapai. Kastil dan borgo pun dipugar, berdirilah sekolah itu. Sekolah di Castelraimondo pun ditutup.

Lama kursus empat minggu untuk tiap satu dari delapan tingkat. Kalau ingin sampai fasih, perlu sekitar enam bulan. Murid biasanya ikut program empat minggu. Jumlah murid tiap bulan bervariasi, dari 10 orang di musim dingin sampai 80 - 100 pada musim panas.

"Sekitar 3.500 orang telah belajar di sini. Banyak dari mereka yang menjadi teman baik," kata Carmelo yang percaya pentingnya hubungan antarmanusia.

Karena terus bersama sepanjang hari, walau ada waktu bebas setelah makan siang, hubungan bisa menjadi sangat intens. Dalam empat minggu, saya mendapat beberapa sahabat teman berbincang, tukar pikiran, belajar, atau jalan-jalan.

Kastil abad pertengahan selalu dihubungkan dengan kisah hantu. Ternyata kastil kami juga punya satu. Demikian tutur tiga kawan. Suatu pagi Mario, arsitek dari Meksiko, mengaku bertemu dengan "sebuah bayangan". Claudia dan Anthea yang mahasiswa Australia pun punya pengalaman serupa. Malah menurut Chantal - teman Mario - hantu itu berambut dan bermata kecoklatan, bukan pirang dengan mata biru. Saya tidak tahu apakah dia bersungguh-sungguh atau bergurau, karena guru-guru kami umumnya pirang dan bermata biru.

Ketika kami menceritakannya pada Angelo, dia hanya tertawa. Benar atau tidaknya, ia menjawab, "Satu di kastil, satu di borgo. Kami tidak pernah membeda-bedakan kalian."

Hubungan juga terjalin selama berwisata. Di akhir pekan biasanya perjalanan agak jauh, berangkat pagi-pagi sekali dan kembali malam hari. Berjalan-jalan ke Venezia, Firenze, San Marino, dan kota-kota lain membuat kami makin kompak.

Mencari tartuffi

Manfaat belajar di desa adalah mudah berinteraksi dengan penduduk setempat. Tiap pagi kami minum kopi di kafe yang sama, beli roti di satu-satunya toko roti, siangnya berebut komputer satu-satunya dengan akses ke Internet di Music Bar yang juga tempat nongkrong sebagian dari kami sampai jauh malam. Kami menjadi bagian dari kehidupan penduduk desa dengan populasi 700 jiwa itu.

Penduduk pun langsung atau tidak menjadi guru kami. Suatu pagi kala menikmati cappuccino di kafe, datang seekor anjing. Saat kami mengelus-elus satwa itu, muncul sang pemilik, bocah perempuan cantik berusia tiga-empat tahun, lalu menunjuk-nunjuk anjingnya, "Il mio cane! Il mio cane!" – mengajarkan penggunaan kata ganti kepunyaan. Atau perempuan setengah baya pemilik toko buah satu-satunya, dengan sabar mengajarkan bentuk tunggal dan jamak dengan contoh buah, "Una banana, delle banane!"

Pengalaman istimewa lain, kesempatan mengenal tartuffi, sejenis jamur yang tumbuh di bawah permukaan tanah. Jamur dengan beberapa jenis antara lain hitam dan putih itu sangat mahal, konon ada yang mencapai AS $ 1.000/kg, bahkan lebih. Belforte dan sekitarnya adalah tempat tumbuh jamur itu. Suatu sore kami diajak berburu tartuffi oleh Renzo, seorang penduduk. Dua anjingnya, Lola dan Paco, bertugas mencari tempat tumbuh tartuffi.

Bentuk tartuffi baru kami ketahui saat diundang makan oleh keluarga Matteucci. Anak perempuan mereka, Veronica, adalah pedagang tartuffi termuda di sana, dengan jaringan penjualan sampai Jerman dan AS. Ternyata bentuknya seperti batu, tapi ringan. Kami mencicipi tartuffi yang diolah menjadi krim oleh Gabriella, ibu Veronica. Rasanya? Agak aneh bagi yang belum mengenal.

Berburu tartuffi, mengenal makanan Italia (pasta harus dimakan lebih dahulu, baru daging, lalu slada), menikmati anggurnya, dan belajar bahasa adalah sebagian kegiatan kami dalam empat minggu itu. Waktu bagaikan terbang.

Sabtu pagi terakhir, saya dengan Carolina yang dari Kalifornia; Chantal, Silvia, Mario yang dari Zacatecas, Meksiko; Michelina dan Rose yang dari Milford, Connecticut, AS; siap di depan gedung gereja dengan kopor dan ransel masing-masing, setelah sebelumnya menikmati cappuccino gratis suguhan pemilik kafe sebagai ucapan perpisahan.

Asako dan Atsuko juga ada, namun cuma untuk melepas kami. Mereka akan tinggal selama beberapa bulan. Pelahan bus meninggalkan Belforte dengan semua kehangatan dan keramahan warganya. Dua gadis Jepang itu menangis. Kami pun berkaca-kaca. Di desa di Italia Tengah itu, kami bertemu teman, bertemu dunia mini. (Diah Marsidi)

Boks : Mencari Kursus Bahasa Lewat Internet


Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/



Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej