|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Belajar Bahasa di Desa Italia Keterampilan
berbahasa tak cuma didapat di ruang kelas dengan suasana formal. Tapi apa
menariknya belajar bahasa di sebuah kastil di desa terpencil di Italia?
Kala
itu akhir April. Ladang-ladang gandum menjelang panen terhampar di
kiri-kanan, bergelombang ditiup angin, berselang-seling dengan padang penuh
bunga liar. Bukit-bukit melatarbelakangi, dalam sapuan cahaya matahari sore.
Rasa lelah selama berjam-jam di kereta api dari Roma menguap begitu saja.
Dari pengalaman, belajar bahasa di negara asal adalah cara terbaik. Saya
pernah belajar bahasa Spanyol di Spanyol dan Peru. Jadi, selain mengenal
bahasa, juga kebudayaan dan adat-istiadat.
Memilih di desa
Banyak informasi saya dapat melalui Internet. Karena pertimbangan harga
dan lokasi, saya memilih sekolah Centro Giacomo Leopardi di Desa Belforte
all’Isauro, wilayah Le Marche, Italia Tengah.
Mengapa pilih desa? Untuk berlibur, dan belajar, saya ingin suasana
berbeda. Karena bukan tujuan wisata, desa itu bebas serbuan turis. Sekolah
diadakan di kastil dari abad XIII, di atas fondasi abad VII atau VIII.
Sedangkan akomodasi disediakan di kastil atau bangunan tambahan yang juga
bersejarah. Tinggal di kastil tentu pengalaman menarik.
Dari Roma saya menuju Kota Pesaro lalu ke Kota Carpegna, 10 km dari
Belforte. Di sebuah desa setengah jam perjalanan sebelum Carpegna, bus
berhenti. Seorang anak muda naik dan berbicara dalam bahasa Italia. Rupanya,
dia Angelo, salah satu guru yang menjemput para murid. Ternyata ada lima
orang murid dalam bus. Kami pindah ke minibus sekolah, melaju ke Belforte.
Tibalah kami dekat jalan berbatu ke kastil kuno yang tampak menjulang
menyeramkan.
Beragam usia, beragam budaya
Murid umumnya mendapat akomodasi di kastil, dalam kamar luas berisi
beberapa orang. Saya memilih kamar tunggal, karenanya ditempatkan di borgo,
bangunan abad pertengahan beberapa meter dari kastil.
Murid berasal dari berbagai penjuru dunia, dengan aneka latar belakang
dan beragam usia. Tetangga kamar saya adalah Roberto, pensiunan kepala
sekolah dari Kalifornia. Juga Hartmut, pria setengah baya dari Bavaria,
Jerman; Carlos, pegawai negeri dari Brasil; Claudia, perempuan muda ahli
komputer dari Kalifornia, dan dua nenek (80-an) dari Milford, Connecticut,
AS. Juga Michelina Greco dan Rose Mancini, tetangga terdekat dan teman
ngobrol yang asyik. Minggu berikut datang Carolina Womack, pramugari dari
Kalifornia menjadi salah satu sahabat saya di sana. Ruang-ruang di borgo
umumnya untuk murid dewasa yang ingin privacy, dan bersedia membayar
ekstra.
Berbagai perbedaan itu kadang menimbulkan salah paham. Sebagian besar
murid di kelas saya, misalnya, sulit memahami sikap seorang remaja putri
Rusia dan seorang gadis Australia. Mereka kerap meletakkan kepala di meja
seakan tidur. Bila ditanya sebabnya, si gadis Rusia mengaku bosan. Sedangkan
si gadis Australia dengan suara mengeluh mengatakan, mengantuk dan minta
dilewati dalam latihan. Namun, perbedaan itu membuat kami belajar lebih
toleran.
"Un pavimento, un pavimento!"
Dari hasil tes penempatan, sekitar 20 murid dibagi menjadi tiga kelas:
dasar, menengah, dan lanjutan. Di kelas saya, tingkat dasar, ada dua murid
Australia, dua Amerika, dua Meksiko, seorang Indonesia. Di minggu kedua
masuk seorang Rusia dan seorang Ukraina.
Sayangnya, di hari kedua guru kami sakit. Sementara menanti guru
pengganti, Carmelo Manetta, direktur sekolah, memperkenalkan bahasa Italia.
Caranya mengejutkan.
"Un pavimento, un pavimento," katanya menunjuk dan
menjejak-jejakkan kakinya ke lantai. "Un muro, un muro,"
tambahnya menunjuk dinding. Tiap kali kami harus mengulangi, mula-mula
bersama lalu sendiri-sendiri. Seperti mitraliur makin lama makin banyak
benda yang ditunjuk dan diberi nama.
Belum sepuluh menit, pelajaran sudah bergeser ke kalimat tanya, afirmatif
dan negatif.
"E una finestra?" tanya Carmelo menunjuk sebuah buku.
"No, non e una finestra, ma e un libro," jawab kami.
Aneh, jawaban seperti otomatis keluar dari mulut kami. Hanya dalam satu jam
pertama, tiap murid sudah bisa membentuk sebuah kalimat.
Menurut Carmelo, itulah metode pengajaran yang ideal. "Spontan
seperti saat belajar bahasa ibu. Mendengar, mengulang, mendengar,
mengulang." Setelah itu baru dijelaskan mengapa, dan diajarkan tata
bahasa.
Tapi, metode idealnya itu tidak selalu bisa diterapkan. Sebab, muridnya
adalah orang dewasa yang biasa berpikir sebelum bicara, karena takut salah.
"Dalam sebulan, tidak mungkin mengubah kebiasaan itu," katanya.
Akhirnya, lahir kompromi, tata bahasa banyak diajarkan. Ini dilakukan
guru kami yang kemudian, Raffaella Salucci.
Impian Carmelo
Centro Giacomo Leopardi adalah wujud mimpi Carmelo, pria kelahiran
Sicilia dengan gelar doktor bahasa asing dari Universitas Palermo. Gagasan
itu didapat saat ia pergi ke Inggris untuk belajar bahasa Inggris.
Rencana tinggal selama dua bulan, molor menjadi dua tahun. "Beberapa
bulan pertama saya kehilangan waktu untuk menyesuaikan diri," katanya.
Sekembali ke Italia, lahir gagasan membuat sebuah sekolah bahasa Italia
bagi orang asing. Sekolah itu harus menyediakan penginapan dan makanan, agar
murid tidak kaget dengan situasi baru. Sekolah juga mengadakan berbagai
kegiatan di luar kelas sebagai sarana belajar. Biaya akomodasi dan kegiatan
itu termasuk dalam biaya kursus. Lebih idealnya, sekolah itu ada di
lingkungan yang kecil dan akrab seperti desa, sehingga murid bisa belajar
adat-istiadat dan kebiasaan Italia melalui interaksi dengan penduduk.
Impiannya mulai terwujud 10 tahun lalu, saat dia menolak wajib militer,
sehingga harus melakukan wajib kerja di Desa Castelraimondo, Italia tengah,
selama 20 bulan.
Lima tahun lalu, ia mencari tempat lain karena di Castelraimondo
kesulitan mendapat tempat akomodasi. Ditemukan Belforte all’Isauro, yang
mempunyai kastil yang tak dipakai. Kerja sama dengan desa tercapai. Kastil
dan borgo pun dipugar, berdirilah sekolah itu. Sekolah di
Castelraimondo pun ditutup.
Lama kursus empat minggu untuk tiap satu dari delapan tingkat. Kalau
ingin sampai fasih, perlu sekitar enam bulan. Murid biasanya ikut program
empat minggu. Jumlah murid tiap bulan bervariasi, dari 10 orang di musim
dingin sampai 80 - 100 pada musim panas.
"Sekitar 3.500 orang telah belajar di sini. Banyak dari mereka yang
menjadi teman baik," kata Carmelo yang percaya pentingnya hubungan
antarmanusia.
Karena terus bersama sepanjang hari, walau ada waktu bebas setelah makan
siang, hubungan bisa menjadi sangat intens. Dalam empat minggu, saya
mendapat beberapa sahabat teman berbincang, tukar pikiran, belajar, atau
jalan-jalan.
Kastil abad pertengahan selalu dihubungkan dengan kisah hantu. Ternyata
kastil kami juga punya satu. Demikian tutur tiga kawan. Suatu pagi Mario,
arsitek dari Meksiko, mengaku bertemu dengan "sebuah bayangan".
Claudia dan Anthea yang mahasiswa Australia pun punya pengalaman serupa.
Malah menurut Chantal - teman Mario - hantu itu berambut dan bermata
kecoklatan, bukan pirang dengan mata biru. Saya tidak tahu apakah dia
bersungguh-sungguh atau bergurau, karena guru-guru kami umumnya pirang dan
bermata biru.
Ketika kami menceritakannya pada Angelo, dia hanya tertawa. Benar atau
tidaknya, ia menjawab, "Satu di kastil, satu di borgo. Kami
tidak pernah membeda-bedakan kalian."
Hubungan juga terjalin selama berwisata. Di akhir pekan biasanya
perjalanan agak jauh, berangkat pagi-pagi sekali dan kembali malam hari.
Berjalan-jalan ke Venezia, Firenze, San Marino, dan kota-kota lain membuat
kami makin kompak.
Mencari tartuffi
Manfaat belajar di desa adalah mudah berinteraksi dengan penduduk
setempat. Tiap pagi kami minum kopi di kafe yang sama, beli roti di
satu-satunya toko roti, siangnya berebut komputer satu-satunya dengan akses
ke Internet di Music Bar yang juga tempat nongkrong sebagian dari kami
sampai jauh malam. Kami menjadi bagian dari kehidupan penduduk desa dengan
populasi 700 jiwa itu.
Penduduk pun langsung atau tidak menjadi guru kami. Suatu pagi kala
menikmati cappuccino di kafe, datang seekor anjing. Saat kami
mengelus-elus satwa itu, muncul sang pemilik, bocah perempuan cantik berusia
tiga-empat tahun, lalu menunjuk-nunjuk anjingnya, "Il mio cane! Il
mio cane!" – mengajarkan penggunaan kata ganti kepunyaan. Atau
perempuan setengah baya pemilik toko buah satu-satunya, dengan sabar
mengajarkan bentuk tunggal dan jamak dengan contoh buah, "Una
banana, delle banane!"
Pengalaman istimewa lain, kesempatan mengenal tartuffi, sejenis
jamur yang tumbuh di bawah permukaan tanah. Jamur dengan beberapa jenis
antara lain hitam dan putih itu sangat mahal, konon ada yang mencapai AS $
1.000/kg, bahkan lebih. Belforte dan sekitarnya adalah tempat tumbuh jamur
itu. Suatu sore kami diajak berburu tartuffi oleh Renzo, seorang
penduduk. Dua anjingnya, Lola dan Paco, bertugas mencari tempat tumbuh tartuffi.
Bentuk tartuffi baru kami ketahui saat diundang makan oleh
keluarga Matteucci. Anak perempuan mereka, Veronica, adalah pedagang tartuffi
termuda di sana, dengan jaringan penjualan sampai Jerman dan AS. Ternyata
bentuknya seperti batu, tapi ringan. Kami mencicipi tartuffi yang
diolah menjadi krim oleh Gabriella, ibu Veronica. Rasanya? Agak aneh bagi
yang belum mengenal.
Berburu tartuffi, mengenal makanan Italia (pasta harus dimakan
lebih dahulu, baru daging, lalu slada), menikmati anggurnya, dan belajar
bahasa adalah sebagian kegiatan kami dalam empat minggu itu. Waktu bagaikan
terbang.
Sabtu pagi terakhir, saya dengan Carolina yang dari Kalifornia; Chantal,
Silvia, Mario yang dari Zacatecas, Meksiko; Michelina dan Rose yang dari
Milford, Connecticut, AS; siap di depan gedung gereja dengan kopor dan
ransel masing-masing, setelah sebelumnya menikmati cappuccino gratis
suguhan pemilik kafe sebagai ucapan perpisahan.
Asako dan Atsuko juga ada, namun cuma untuk melepas kami. Mereka akan
tinggal selama beberapa bulan. Pelahan bus meninggalkan Belforte dengan
semua kehangatan dan keramahan warganya. Dua gadis Jepang itu menangis. Kami
pun berkaca-kaca. Di desa di Italia Tengah itu, kami bertemu teman, bertemu
dunia mini. (Diah Marsidi)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online www.indomedia.com/intisari/ |
|||||