globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Melestarikan Hutan ala Suku Naga 

Suku naga yang tinggal di Kampung Naga hanya masyarakat kecil dalam satu rukun kampung, terdiri dari dua rukun tetangga (RT). Tetapi suku ini menarik perhatian orang luar karena masih kukuh menganut kehidupan menurut adat istiadat yang diturunkan nenek moyang mereka. Sejak kecil, mereka sudah dididik agar hidup bergotong-royong dengan sesama warga serukun kampung. Sebab, mereka semua "masih saudara", baik saudara dekat maupun keponakan jauh. Ini bukan jargon politik pemersatu, tetapi memang begitu adanya. Mereka dari satu kakek moyang Sembah Dalem Eyang Singaparana, yang dimakamkan di lereng Gunung Kracak yang lebat hutannya.

Menurut legenda, Eyang ini bersama enam saudaranya (lima laki-laki dan satu perempuan) membangun permukiman Kampung Naga itu. Bersama-sama, mereka mengusahakan pertanian di lembah Sungai Ciwulan.

Dipercaya pula bahwa mereka itu para pembelot dari tentara Kerajaan Mataram yang malu kembali ke ibu kota, karena gagal menjalankan mission impossible merebut benteng Batavia dari kompeni Belanda.

Sebagai petani, kehidupan mereka bergantung penuh pada alam. Letak kampung yang merupakan bagian dari Desa Neglasari, Kecamatan Salawe, Kabupaten Tasikmalaya, itu memang di lembah sungai yang subur, kira-kira 500 m ke arah pedalaman dari poros jalan besar Garut - Tasikmalaya.

Walaupun jalan besar ini ramai oleh lalu lintas kesibukan masyarakat modern, Kampung Naga itu sendiri tenang dan damai, tidak banyak hiruk-pikuk masyarakat ramai. Tidak ada radio dibunyikan menggelegar. Tidak ada sepeda motor yang knalpotnya dibocorkan.

Mereka mengerjakan sawah milik masing-masing atau menjadi buruh tani dari saudara sekampung yang lebih makmur. Sawah ini berair terus sepanjang tahun karena pasokan yang melimpah dari hutan Gunung Kracak diusahakan benar agar mengalir terus.

Hutan yang menjadi "sumber" air dipertahankan agar tetap lestari menyimpan air hujan di musim hujan (supaya tidak timbul banjir bah di lembah), lalu tetap memberikan air simpanannya secara berangsur kepada Kampung Naga sepanjang musim kemarau.

Untuk itu, semua warga kampung dilarang menebang pohon dalam hutan. Bahkan mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar pun tidak boleh. Kayu bakar harus diambil dari kebun pekarangan masing-masing; sering berupa bambu yang dipanen secara berkala dari rumpun bambu peliharaan. Atau meminjam dari "saudara" sekampung yang kebunnya melimpah ranting kering dan bambunya. Kelak dikembalikan berupa ranting kering atau bambu dari kebun sendiri.

Menjalani gaya hidup seperti ini tidak ada yang mengeluh karena semua "masih saudara" dan hidup seperti dalam satu keluarga besar. Tidak ada yang merasa dikucilkan dari masyarakat. Anak cucu yang tidak puas dengan cara hidup ini boleh merantau mencari nafkah di luar kampung.

Mereka yang tetap tinggal di kampung, hidup kecukupan karena panen padi selalu melimpah, walaupun panennya hanya dua kali setahun. Untuk menambah penghasilan, ada yang beternak ikan di kolam dan berkebun cengkih di kebun pekarangan. Atau beternak ayam dan kambing, serta menjual hasil kerajinan anyam-menganyam di rumah.

Kolam, sawah, dan kebun tidak pernah kering, walau di musim kemarau yang kering sekalipun. Karena, ya itu tadi, hutan di atas kampung dijaga benar kelestariannya. (SS)


Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/



Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej