|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Mencari Kambing Hitam Kambing hitam ternyata tak selalu bermakna negatif. Dari pengalaman saya saat mengawasi proyek jembatan di daerah Muko-muko, Bengkulu Utara, mulai tahun 1998, kambing hitam justru sering dicari. Saat akan memulai pekerjaan tiang pancang pondasi, mendadak regu pancang mogok kerja. Rupanya mereka meminta pelaksana proyek memotong kambing. Kalau tidak? "Kami tidak menjamin pekerjaan lancar, kami pun tak tenang bekerja," ujar mereka. Wah, jangan-jangan tempat proyek ini angker, pikir saya. Terpaksa kami mencari dukun. Sang dukun meminta disediakan kambing hitam. Setelah berkeliling desa, akhirnya ada orang yang rela menjual kambing hitamnya, yang sayangnya berbercak putih di pangkal paha belakang. Daripada acara tertunda, bercak itu kami semprot cat hitam. Begitulah, acara potong kambing selesai. Kepalanya ditanam di sana sini. Pekerjaan pondasi selesai, demikian pula badan jembatan. Tapi saat pemasangan rangka baja, regu pekerja minta dipotongkan kambing lagi. Alhasil, satu jembatan menelan korban jiwa 3 kambing. Padahal, proyek ini ada 4 jembatan. Berapa dana yang harus tersedia? Menyusul keputusan saya untuk tidak menuruti keinginan mereka, tiba-tiba salah seorang pekerja datang mendekat. Wah apa maunya? "Kami tak ingin memberatkan Bapak. Cuma, boleh ‘kan sekali-sekali kami makan sate kambing enak. Selama ini kami berjuang, bekerja keras, jauh dari anak-istri. Biasanya kami cuma makan ikan asin, ngirit …," ujarnya memelas. Oh, rupanya itu motivasi mereka. Lalu sambungnya, "Nanti kalau jembatan kita jadi, diresmikannya oleh gubernur, ya Pak. Biasanya sih potong kerbau. Biar kami bisa makan enak lagi." (Ir. Budi Gimawan) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online www.indomedia.com/intisari/ |
|||||