|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Pameran perut buncit landak susu Mereka berbau busuk, penuh kutu, dan tidak bisa dielus-elus. Akan tetapi, toh orang Inggris tergila-gila padanya! Tidak lain karena ukurannya begitu mungil sampai dapat dijadikan binatang kelangenan. Panjangnya cuma 25 cm, dan bobotnya paling banter satu kilo, seperti sekantung gula pasir. Orang Inggris hanya mengenal binatang itu, dan tidak mengenal landak porcupine seperti yang kita punya karena landak tidak pernah ada di Inggris. Sebaliknya, kita hanya mengenal landak, dan tidak mengenal landak susu karena binatang ini tidak pernah ada di Indonesia. Landak susu Eropa Erinaceus europaeus disebut landak susu karena duri-duri punggungnya seperti landak. "Susu"-nya diperoleh karena konon ia pernah kepergok mengendap-endap dekat kandang sapi. Bukan untuk melahap sapi, wong tubuhnya hanya sekicit kantung gula pasir sekilo, tetapi cuma menjilat-jilat puting susu sapi. Konon, si sapi tidak sadar bahwa ada pencoleng yang mencuri air susu karena sedang nyenyak-nyenyaknya tidur. Keluyuran malam Meskipun sama-sama berduri punggungnya, dan karena itu sama-sama disebut landak, namun landak susu bukan anggota suku landak-landakan Hystricidae dari bangsa rodensia, tetapi anggota suku Erinaceidae dari bangsa insektivora, pemakan serangga. Meskipun begitu, karena punggungnya mirip, keduanya dipukul rata saja sebagai landak. Tingkah lakunya juga mirip, sama-sama suka keluyuran malam. Begitu malam tiba, landak susu segera menyusuri tanah, dan membiarkan hidungnya yang peka terhadap bau serangga dan binatang kicit menuntun kakinya menjelajahi ladang pertanian dan kebun pekarangan. Itu tempat persembunyian cacing, siput, ulat dan kumbang. Dalam semalam, ia mampu menghabiskan serangga sebanyak bobot tubuhnya sendiri. Akan tetapi kalau sudah paceklik serangga, menjelang musim gugur, ia juga ikhlas makan apa saja yang dapat dimakan. Karena itu, ia pernah dicurigai suka mencuri telur dan anak ayam. Isu ini begitu santer, sampai di Eropa dulu pernah ada gelombang penumpasan mereka secara besar-besaran. Tetapi isu ini ditiup hanya berdasarkan syak wasangka saja. Tidak ada bukti nyata. Kenyataan bahwa ia melahap serangga malam dan justru membantu petani dengan menumpas hama pengganggu tanaman mereka, malah tidak diisukan. Para pemburu juga ikut nimbrung menuduh mereka sebagai pesaing karena dicurigai makan burung buruan. Padahal kematian burung oleh landak susu jauh lebih kecil dibandingkan dengan kematian burung oleh rubah, anjing liar, dan kucing. Pameran perut buncit Untuk mencari nafkah, landak susu terpaksa menjelajahi daerah yang luas. Seekor landak jantan mampu berjalan sejauh 3 km dalam semalam. Landak susu betina tidak! Ia hanya menempuh jarak satu kilo saja, karena tidak mempunyai dorongan lain kecuali mencari makan untuk anak dan perutnya sendiri. Sedangkan yang jantan, selain mencari makan, juga bertujuan lain. Cari jodoh! Dalam pencarian nafkah keluyuran malam itu, landak meninggalkan bekas lintasan, hasil gesekan tubuhnya dengan rerumputan yang dilewati. Itu sudah cukup berbau. Mereka sendiri tidak pernah sengaja menandai wilayah operasinya mencari nafkah, apalagi meninggalkan bau kencing, agar pesaing lain tidak menginjak wilayahnya. Dari jauh saja, para pejantan yang mau berpapasan sudah saling menghindar. Setelah musim dingin berakhir, mereka menyambut musim kawin dengan teriakan riuh rendah para jantan, mirip dengkuran babi. Mereka mulai berubah bentuk. Kelenjar kelaminnya membengkak, sampai perutnya membuncit. Tetapi perut buncit ini justru membuat mereka seksi di mata para betina. Landak jantan pamer perut buncitnya sambil mengelilingi betinanya terus-menerus, diiringi dengkuran secara berkala yang ritmis, sampai betina yang dirayu akhirnya merebahkan semua duri tegangnya. Rayuan gombal berakhir, dan diikuti acara pacaran, berupa ambus-ambus (saling menyentuh hidung masing-masing). Selesai acara ini, perkawinan dimulai. "Bagaimana cara mereka kawin?" bunyi sebuah teka-teki kuno dalam acara kuis radio dan televisi. Jawabannya sungguh bikin dongkol. Cuma, "Sangat berhati-hati," tanpa rincian lebih lanjut. Tiga puluh lima hari kemudian lahirlah anak-anak landak susu, 4 - 7 ekor sekaligus, tapi berurutan. Mula-mula masih merah, buta, dan tidak berduri. Akan tetapi, ajaibnya, dalam beberapa jam saja duri lunak mereka muncul dari dalam kulit. Setelah beberapa bulan, duri "percobaan" yang masih lunak itu tanggal untuk diganti dengan duri lain yang lebih betulan. Pertumbuhan mereka cepat. Umur sebulan saja sudah mulai dilatih berburu mencari nafkah. Lima bulan kemudian sudah mandiri. Dalam tahun itu pula, induknya sudah melahirkan adik-adik baru lagi. Akan tetapi ada kalanya, adik-adik baru ini tidak sempat tumbuh karena musim dingin keburu tiba. Banyak bayi landak yang mati kedinginan. Landak susu yang selamat, mampu hidup sampai tujuh tahun. Tetapi baru berumur satu tahun saja sudah bisa beranak. Musim dingin musim tidur Selama musim dingin, yang di Eropa Utara jatuh antara November dan Maret, landak susu ber-hibernasi, tidur panjang. Tujuannya untuk menghemat energi. Pada musim dingin, makanan toh sulit dicari. Daripada gentayangan mencari makanan yang tidak ada, mending tidur saja sama sekali. Lamanya empat sampai lima bulan, sampai salju terakhir mencair. Biasanya, mereka memilih tempat tidur di bawah batang pohon atau semak belukar. Tetapi yang lebih berpengalaman akan mencari tempat tidur yang lebih terlindung dari udara terbuka yang dingin. Juga yang tidak mungkin kemasukan salju. Selama tidur panjang, metabolisme tubuhnya menurun. Denyut nadinya turun, dari 180 menjadi 20 kali per menit. Suhu tubuhnya juga turun, menyamai suhu lingkungan, dan napasnya nyaris terhenti. Akibatnya, bobot badannya juga turun, sampai sebanyak dua ons. Untung mereka sudah menimbun lemak sebelumnya dalam tubuh sebagai cadangan makanan. Meskipun tidak makan minum dalam masa tidur panjang, mereka bisa tetap hidup. Hanya oknum landak yang sebelumnya malas bekerja menimbun makanan cadangan saja yang tidak cukup banyak mempunyai persediaan lemak, lalu terpaksa bangun awal untuk mencari makanan tambahan di luar musim. Landak yang normal baru terbangun oleh cuaca hangat musim semi. Terlalu pede Segera setelah musim semi tiba, landak susu menggerak-gerakkan tubuhnya selama setengah sampai satu jam, untuk mengembalikan suhu tubuhnya agar sesuai dengan suhu lingkungan luar. Kemudian mereka keluar dari tempat persembuyian dan mulai mencari makan. Tetapi sialnya, di luar tempat tidur, binatang pemangsa yang lain juga sudah bejibun gentayangan mencari makan karena sedang kelaparan. Landak susu terpaksa siap tempur. Artinya, siap lari sipat kuping (lari kencang tanpa menga-mengo, tengak-tengok) dengan kakinya yang panjang, kalau diserang binatang kelaparan. Kalau perlu mengubah siasat, ia juga sanggup memanjat pohon, atau berenang kalau terdesak sampai ke pinggir kali. Kalau sudah kepepet, ia menggulung diri sebulat-bulatnya, sambil menegangkan kumpulan duri punggungnya. Siapa yang doyan menerkam duri durian yang menyebar bau busuk! Bahaya terbesar ternyata bukan berasal dari binatang buas, tetapi dari manusia. Setiap tahun tidak kurang dari 50.000 landak susu mati konyol, terlindas roda mobil. Penyebabnya justru kebiasaannya yang pede. Ketika ada mobil muncul, mereka bukannya lari, tapi berhenti di tempat dan menggulung diri sambil menegakkan duri-durinya. Memang duri runcing itu mampu menghalau rubah, teledu, musang pohon, atau binatang buas lainnya, tetapi jelas tidak roda mobil yang menggelinding sekencang 80 km/jam. Ternyata kematian massal mereka bukan karena akibat tabrak lari saja. Ratusan lainnya tergilas mesin pemotong rumput, luka yang meradang oleh bekas kaleng makanan, teracuni pestisida, dan kehilangan tempat mencari nafkah. Sampai tahun 1960-an, mereka masih saja diburu karena dianggap sebagai hama pertanian tanaman pangan. Penumpasannya baru berakhir pada tahun 1981, setelah masyarakat Eropa sadar bahwa menumpas landak susu itu salah. Akan tetapi, penderitaan mereka belum berakhir. Sejenis parasit Archaeopsylla erinacei dan Ixodes hexagonus pengisap darahnya melengkapi penderitaan landak susu. Pertahanan menggulung diri sebagai "durian hidup" ternyata tidak cukup. (Koen Setyawan) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||