|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Petir,
musibah atau berkah?
Di negara Eropa atau Amerika, petir menjadi momok yang menakutkan bagi
peralatan elektronik. Ini berbeda dengan negara kita. Padahal Indonesia
merupakan negara dengan hari guruh tertinggi.
"Ada udara naik, kelembapan, dan partikel bebas atau aerosol,"
katanya. Ketiga syarat itu terpenuhi dengan baik di Indonesia sebagai negara
maritim. Udara naik ada karena sebagai negara tropis, panas menyinari tanah
sehingga ada pergerakan udara ke atas; lembap, jelas ya, sehingga dengan
adanya kelembapan, udara yang naik menjadi basah dan bisa membikin awan;
sementara sebagai negara kepulauan tidak akan kekurangan partikel bebas
karena bisa disuplai dari air laut atau industri seperti pabrik semen.
Sayang, Indonesia belum memiliki kesadaran betapa berbahayanya petir bagi
umat manusia. Atau, bisa jadi, Indonesia belum mendata kerugian akibat
petir. Yang jelas, mengutip dari Badan Pemadam Kebakaran Austria, kerugian
karena sambaran petir tiap tahun cenderung naik. Jika tahun 1981 kerugian
akibat sambaran langsung berjumlah 34 dengan nilai kerugian dalam 1.000 OS
(setara Rp 9.000,-) sebesar 7.490 dan sambaran tidak langsung berjumlah
16.049 dengan nilai kerugian dalam 1.000 OS sebesar 27.677, maka satu dekade
kemudian meningkat menjadi 59 dengan nilai 12.219 (sambaran langsung) dan
25.685 dengan nilai sebesar 75.016.
Sementara di Jerman, statistik kerusakan akibat sambaran petir (28,7%) jauh
di atas bencana alam lainnya seperti banjir (7,1%), kebakaran (6,5%), atau
badai yang cuma 0,6%.
Induksi lebih berbahaya
Tentu saja petir tidak bisa dianggap musibah, sebab petir merupakan bagian
dari sirkuit global.
"Bumi itu mirip kapasitor. Antara ionosfer dan Bumi, jika langit cerah,
ada arus listrik yang berasal dari ionosfer (bermuatan positif) ke Bumi yang
bermuatan negatif. Arus ini mengalir terus," kata Zorro.
Anehnya, Bumi tidak terbakar juga. Ternyata ada awan petir, yang menjadi
penyeimbang, karena bermuatan positif dan negatif. "Yang positif turun
ke Bumi, yang negatif naik ke ionosfer," tambah Zoro.
Selain itu, petir merupakan suatu proses alam penyebab fiksasi nitrogen yang
menghasilkan unsur nitrogen. Nitrogen sangat penting artinya bagi tumbuhnya
pohon dan mengisi sekitar 4/5 atmosfer Bumi. Setiap tahunnya petir
menyumbang 10 juta ton nitrogen!
Namun, tidak semua awan adalah awan petir. Hanya awan cumolo nimbus
yang bisa menghasilkan petir. Petir terjadi karena pelepasan muatan listrik
dari satu awan cumolo nimbus ke awan lainnya, atau dari sebuah awan
langsung menuju Bumi. Yang terakhir inilah yang akan membawa malapetaka.
Bayangkan saja jika muatan yang dibawanya dalam sepersekian detik bisa
mencapai sebesar 100 juta volt. Bandingkan dengan kursi listrik untuk
mengeksekusi penjahat, yang hanya bermuatan ribuan volt.
Selain mengalirkan arus impulsnya ke tanah (sambaran langsung), petir juga
memancarkan energinya berupa gelombang elektromagnetik atau lightning
electromagnetic pulse (sambaran tidak langsung). Dengan berkembang
pesatnya peralatan elektronika dan mikroelektronika beberapa dekade terakhir
ini, sambaran tidak langsung menjadi momok yang menakutkan meski mengenai
tempat yang jauh (sampai 2 km). Ketakutan itu karena radiasi, induksi, dan
konduksi dari gelombang elektromagnetik tadi.
Kerusakan instalasi komputer di Koln, Jerman, pada tahun 1989 bisa menjadi
ilustrasi. Sebuah gedung tersambar petir. Sekitar 100 m dari situ terdapat
gedung komputer. Akibat kenaikan tegangan yang disebabkan oleh sambaran
petir tersebut, komputer menjadi rusak. Biaya perbaikan perangkat komputer
menelan Rp 1 miliar, tetapi kerugian karena tidak bekerjanya komputer
mencapai Rp 4 miliar.
Untuk mengatasi hal tersebut, infrastruktur yang membutuhkan tenaga listrik,
telekomunikasi, dan proses data (seperti komputer dan sistem informasi)
perlu diberi proteksi (lightning protection system, LPS). Selain itu
juga semakin perlu sistem pelacak petir (lightning position &
tracking system, LPATS)
Mahal, tapi ingat manfaatnya
Tempat-tempat dengan tingkat sambaran tinggi (baik frekuensi maupun
intensitasnya) perlu mendapat prioritas pertama dalam penanggulangannya.
Demikian pula dengan lokasi yang bernilai bisnis tinggi (industri kimia,
pemancar TV, Telkom, atau industri strategis seperti hankam dan pelabuhan
udara) memerlukan proteksi seoptimal mungkin. Ingat kasus sambaran petir di
kilang minyak Cilacap tahun 1998 yang menimbulkan kebakaran berhari-hari
serta menghanguskan sebagian besar peralatannya, sehingga menghentikan
proses pengilangan?
Pemakaian penangkal petir tradisional (eksternal) sudah dikenal sejak dulu
untuk melindungi bangunan atau instalasi terhadap sambaran petir. Sayangnya,
sistem proteksi ini hanya bisa melindungi bangunan dari kebakaran atau
kehancuran. Ancaman induksi tegangan lebih atau arus lebih belum terserap
sepenuhnya. Padahal, induksi ini tak kalah berbahayanya, terutama terhadap
peralatan elektronik yang cukup sensitif dan mahal harganya. Di situlah
peran proteksi internal.
Proteksi internal berarti proteksi peralatan elektronik terhadap efek dari
arus petir. Utamanya efek medan magnet dan medan listrik pada instalasi
metal atau sistem listrik. Berhubung rumah tangga sekarang ini sudah tak
bisa lepas dari peralatan elektronik yang sensitif, maka proteksi internal
sudah waktunya dipasang.
Zoro pernah menyaksikan demo tentang pentingnya proteksi internal pada rumah
tangga. Ada pesawat TV yang tidak dipasangi alat proteksi internal
(arestor). Televisi diletakkan di sebuah ruangan dan di depannya ada boneka
sebagai penonton. Ketika ada sambaran petir, TV tersebut meledak. Setelah
asap akibat ledakan dikeluarkan, wajah boneka tadi penuh dengan pecahan kaca
tabung TV. "Bagus sekali demonya," komentarnya.
Jika ditilik dari harga, "Memang mahal." Tapi, jika dibandingkan
dengan manfaatnya baru terasa murah. Bisa diibaratkan dengan mengambil polis
asuransi. Sekadar perkiraan, untuk proteksi internal dengan tujuan
melindungi komputer dan telepon dibutuhkan biaya sekitar Rp 2 juta.
Menghemat dengan sistem peringatan dini
Bagi infrastruktur strategis yang rentan terhadap induksi, selain proteksi,
masih perlu dibekali dengan sistem peringatan dini. Dengan sistem ini,
kerugian bisa diminimalkan. Seorang manajer beberapa pabrik yang berkaitan
dengan listrik menyatakan bahwa perusahaannya bisa menghemat sampai setengah
juta dolar setiap tahunnya dengan memanfaatkan sistem tersebut (Scientific
American edisi Agustus 1997). Dengan informasi yang didapatkannya, ia
bisa menghentikan operasi pabriknya sehingga terhindar dari induksi petir,
misalnya.
Sebagai negara dengan hari guruh tertinggi di dunia, Indonesia pun sudah
melengkapi dengan sistem peringatan dini. Alat canggih dari Amerika seharga
sekitar Rp 15 miliar ini dimiliki oleh PT Lapi Elpatsindo (perusahaan milik
ITB).
Ketika petir menyambar Bumi, radiasinya menyebar. Receiver yang
dipasang di Bumi akan menerima radiasi itu. Ada 16 receiver di
seluruh Indonesia, namun baru delapan yang beroperasi. Dari situ, tiga
sensor terbaik mengirim data ke pusat (Jakarta). Real time! Daerah
yang tersambar petir bisa di-zoom sampai seluas 15 x 15 km.
Data lain yang bisa diperoleh adalah lokasi sambaran petir, waktu terjadinya
sambaran, besarnya amplitudo arus petir dan energinya, maupun kecuraman
gelombang petir. Hanya saja, menurut Zoro, tidak semua petir direkam.
"Kalau semua ditangkap, storage kita cepat sekali penuh. Di luar
negeri, storage penuh dalam jangka tiga bulan. Kita tiga bulan sudah
penuh," ujar Zoro. Hanya petir di atas 7 kA yang ditangkap. Alasannya,
petir di bawah 7 kA tidak berbahaya bagi peralatan rumah. Dengan adanya
pembatasan itu, storage yang berupa optic disc bisa bertahan
selama delapan bulan.
Sistem informasi data petir itu sangat membantu dalam menghitung kemungkinan
terjadinya sambaran dan jumlah sambaran petir (stroke probability).
Dengan menggunakan sistem komunikasi yang ada serta memanfaatkan satelit
Palapa dan GPS, setiap pemakai yang berada di seluruh kawasan Indonesia
dapat menggunakan dan memanfaatkan sistem tadi. Dengan bantuan peranti lunak
Video Information System (VIS), kita bisa menampilkan daerah seluas 200 km2.
VIS bisa dioperasikan pada hampir semua PC. Menunya lengkap dan user
friendly. Kelengkapan ini akan memudahkan pemakai untuk membaca,
menganalisis, dan memanfaatkan data petir. Jadi, tak perlu menjadi murid Ki
Ageng Selo untuk bisa "menangkap" petir. (Yds Agus Surono) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||