|
|
Bulan Desember 2000
|
|
GAYA OPERATOR PREMIUM CALL MENGGAET PENELEPON Operator telepon yang satu ini bukan operator biasa. Ia bukan saja dituntut pintar mengobrol, namun juga harus mempunyai wawasan atau cukup memahami teknik berkomunikasi. Dengan begitu, pundi-pundi perusahaannya cepat gembung. Itulah operator layanan premium call.
"Selamat datang di layanan khusus dengan
tarif Rp 3.300,- per menit. Bila Anda setuju, tetaplah di jalur ini. Bila
tidak letakkan telepon Anda."
(Jeda sejenak)
"Mau cerita masalah cinta kamu? Atau, masih cari pasangan? Nah, di
sini nih tempat mangkalnya cowok and cewek yang oke punya. Pokoknya, kamu
dijamin enggak bakal nyesel, karena kamu hanya berdua saja tanpa ada yang
mengganggu. Asyik ‘kan? Oke!"
(Jeda sejenak)
"Sebentar lagi kami akan menghubungkan Anda dengan pasangan Anda.
Untuk itu, kami harus memastikan, apakah Anda seorang pria atau wanita.
Tekan 240 jika Anda seorang pria. Atau tekan 241 jika Anda seorang
wanita."
(Tekan nomor pilihan)
"Mohon tunggu sebentar."
Begitulah rangkaian kalimat yang terlontar dari mesin penjawab di ujung
sana. Suara lembut wanita dengan bahasa sedikit amburadul dan latar
musik instrumentalia itu senantiasa akan terdengar setiap kali Anda
menghubungi saluran telepon interaktif tertentu.
Layanan telekomunikasi ini biasanya diawali dengan nomor 0809.XXX.XXX. Ada
pula yang menggunakan kode wilayah 031 pada bagian depan nomornya. Lazimnya
disebut nomor telepon layanan premium call, yang mudah ditemui di
iklan media cetak atau elektronik.
Bentuk layanannya sangat beragam, mulai dari kuis, konsultasi, biro jodoh,
hingga mengobrol berduaan dengan operator atau bareng-bareng dengan
penelepon lainnya. Untuk saat ini layanan berupa obrolan masih banyak
diminati.
Jangan sampai tulalit
Ketika mencoba menghubungi nomor layanan premium call, harap maklum
bila harus menunggu beberapa menit untuk bisa bicara dengan operator. Cuap-cuap
dari mesin penjawab biasanya menyita waktu cukup lama. Sekadar gambaran,
ketika Intisari mencoba saluran telepon interaktif "Tentang Kita
Hanya Untuk Berdua" dengan nomor telepon 0809.1.900.800, hingga lebih
dari lima menit belum juga nyangkut ke operator, yang akan menjadi
pasangan mengobrol. Yang terdengar justru lanjutan suara wanita dari mesin
penjawab. Begini bunyinya:
"Maaf, sampai saat ini kami belum menemukan pasangan untuk Anda.
Mohon Anda menunggu beberapa saat lagi. Sementara itu, kami akan terus
berusaha mencari pasangan yang cocok."
(Jeda sejenak)
"Sampai saat ini, kami belum mendapatkan pasangan yang tepat untuk
Anda. Mohon bersabar. Kami sedang terus mencari pasangan yang tepat untuk
Anda."
(Jeda sejenak)
"Terima kasih, untuk kesediaan Anda menunggu. Sayangnya, saat ini
semua orang sedang berpasang-pasangan. Jika Anda ingin tetap di jalur
‘Sehati’, tekan 1. Untuk bergabung di ‘Zona Bebas’ di mana kamu bisa
berbagi cerita dengan teman-teman di seluruh Nusantara, tekan 900."
(Tekan nomor pilihan)
"Mohon tunggu sebentar."
Kalau berulang-ulang terdengar jawaban itu, bersiap-siaplah untuk membayar
tagihan telepon dalam jumlah besar. Sebaliknya, kalau nasib lagi baik, dalam
waktu singkat Anda bisa langsung ngobrol-ria dengan operator pasangan
Anda. Kalau itu terjadi, barulah terasa manfaatnya meski tagihannya juga
tidak murah.
Begitu tersambung dengan operatornya, suara lembut operator di seberang sana
mulai terdengar. Kalau sistem audio di hadapan operator berfungsi baik, ya
suaranya bisa terdengar jernih. Sebaliknya, adakalanya muncul suara kemresek
di sela-sela obrolan, yang biasanya segera dikoreksi oleh operator.
Dalam layanan premium call, operator menjadi kunci sukses bisnis ini.
Sebab, kemampuan operator meladeni obrolan penelepon sangat menentukan
lama-tidaknya penelepon nyangkut di layanan ini. Semakin penelepon
merasa cocok, semakin lama pula ngobrol-nya. Praktis pulsa akan terus
membengkak.
Operator, yang di kalangan mereka sering disebut OP, umumnya wanita muda
berusia 20 – 25 tahun. Amat jarang OP berasal dari kalangan pria.
"Kalau operatornya cowok, nanti peneleponnya pada kaburlah," ujar
Putri (20), bukan nama beneran, OP dari salah satu layanan premium
call dalam bentuk tele conference bernomor telepon
0809.1.900.900.
"Kebanyakan yang menelepon kemari cowok. Jarang lagi ada cewek gabung
kemari. Kalau ada penelepon cewek, kita kasih aja ama penelepon
cowok. Dia bisa janjian ketemu lagi di sini atau kalau memang jodohnya, dia
bisa saling ngasih nomor telepon rumah," lanjut Putri dengan
bahasa gaya ABG-nya.
Tingkat pendidikan mereka umumnya SMU atau perguruan tinggi non-gelar (D3).
Menurut Hari Adi, S.H., dari bagian sumber daya manusia dan umum PT
Telequote Multi Informatika (Telequote), latar belakang pendidikan operator
umumnya bidang sosial. "Kriteria umumnya, mereka harus mengerti
komunikasi," tambahnya.
Untuk saat ini, karena layanannya kebanyakan masih bersifat hiburan,
kriteria mereka masih terbatas kualitas suaranya baik dan mesti sabar.
"Kalau nanti sudah meningkat ke bidang edukasi, otomatis untuk operator
ada kualifikasinya," ujar S. Djauhari, direktur utama Telequote.
"Misalnya, untuk layanan matematika, tentu mereka harus berlatar
pendidikan matematika," imbuhnya.
Meski sama-sama disebut operator, tuntutan pekerjaan mereka lebih dari
sekadar operator telepon atau radio panggil. Paling tidak, mereka mesti bisa
nyambung bila diajak mengobrol tentang berbagai bidang oleh
penelepon. Mereka harus memiliki wawasan luas karena lawan bicaranya sangat
beragam. Jangan sampai operator tulalit, alias tidak nyambung,
ketika diajak mengobrol penelepon. Karena itu, di ruang kerja mereka,
seperti pada Telequote, disediakan berbagai buku, media cetak dan elektronik
sebagai sumber informasi untuk menambah wawasan. Mulai soal politik,
ekonomi, kesehatan, dll.
Mereka diharapkan tidak pasif atau cuma jadi pendengar, tetapi juga bisa
membuat betah penelepon mengobrol. "Kalau caller cuma ingin curhat,
ya mereka malah enak. Cuma mendengarkan," ujar Dra. Damayanti Prakoso
Said, penyelia Telequote.
Punya pelanggan
Operator juga dituntut mampu melayani berbagai layanan yang
"dijual". Ada layanan ngobrol berdua antara seorang OP
dengan seorang penelepon. Atau, layanan ngobrol bareng
antarpenelepon, sementara OP cuma sebagai moderator.
Dilihat dari tugasnya, aktivitas mereka memang tak banyak variasi. Sepanjang
jam kerja duduk, pencet-pencet tombol, baca-baca, dan bicara. Hanya lawan
bicaranya yang berganti-ganti. Tak heran kalau seandainya mereka merasa
jenuh.
OP bekerja secara bergiliran dalam tiga shift sehari semalam,
masing-masing delapan jam kerja. Mereka mengikuti saja aturan penggiliran
yang ditentukan. Putri, misalnya, mengaku berganti shift setiap dua
hari, yakni dua hari shift pagi, dua hari sore, dan dua hari malam.
Dalam satu shift jumlah OP berbeda antara pengelola premium call
yang satu dengan lainnya, umumnya 2 - 5 orang. Mereka yang bertugas malam
biasanya akan bekerja keras. Sebab, menurut Damayanti, pukul 20.00 - 02.00
merupakan jam-jam paling ramai penelepon.
Dalam sehari ratusan penelepon harus dilayani. Paling banyak laki-laki (75%)
dan sisanya wanita. Penelepon tidak terbatas dari Jakarta, tetapi juga dari
luar Jakarta, termasuk luar Pulau Jawa. Dari sisi usia, penelepon yang
mereka layani terdiri atas remaja (80%) dan orang tua (20%). Maka, paslah
kalau OP harus berasal dari kalangan muda.
Menurut Putri, setiap saat pasti ada panggilan telepon yang harus dilayani.
Tidak cuma lima atau sepuluh menit. "Kalau mereka enjoy, mereka nelponnya
lama-lama. Malahan sampai lupa waktu," ujarnya. Tapi, rata-rata sekitar
15 menit (tidak termasuk lamanya penelepon menunggu hingga bisa berbicara
dengan OP).
OP sedikit agak santai bila perusahaan mereka tidak memasang iklan di media
cetak atau elektronik. Soalnya, menurut Djauhari, jumlah penelepon sangat
bergantung pada pemasangan iklan. "Begitu tidak pasang iklan, jumlah
penelepon akan turun," tambahnya.
Kalau antarpenelepon saling ngobrol bukan berarti mereka menganggur.
Mereka wajib mendengarkan, sambil mengawasi jangan sampai obrolan melenceng
ke hal-hal yang ditabukan. "Kalau diingatkan sampai tiga kali masih
bandel, ya terpaksa, di-cut," tegas S. Djauhari. "Kalau nyerempet-nyerempet
sedikit sih masih dibolehkan. Masih dianggap manusiawi," tambahnya.
Di antara penelepon ada yang melanggan OP tertentu karena dianggap cocok
oleh penelepon, cocok suaranya atau obrolannya. Kepada yang dianggap cocok,
penelepon akan ngomong apa saja. Segala macam uneg-uneg
ditumpahkan dalam obrolan. Jadi, operator dituntut bersikap keibuan atau
bisa menjadi teman. Kalau sudah begitu, dia akan sering diminta mengobrol.
Kalau yang diminta sedang tidak "turun" (bertugas), penelepon
biasanya menanyakan jadwal tugasnya. Karena tuntutan macam itulah, maka
hampir seluruh operatornya perempuan.
Di samping dituntut menjalankan tugas dengan baik, OP juga dilarang
melakukan hal-hal tertentu. Di antaranya, berbicara pornografi dengan
penelepon. "Tapi kalau masih sebatas bersifat pendidikan seks, enggak
apa-apa. Untuk itu disediakan bukunya. Intinya, operator tidak boleh
memberikan kenikmatan seksual kepada penelpon," jelas Damayanti.
"Kalau nyerempet-nyerempet dikit soal seks, ya biasalah, namanya
juga mengobrol. Tapi bukan pornografi," tambahnya.
Di tempat lain, OP juga tidak diizinkan memberikan alamat kantornya. Putri
misalnya, ketika ditanya Intisari cuma mau memberi nama gedungnya
tanpa mau memberikan nama perusahaan jasanya. Ia menambahkan, operator tidak
diizinkan menerima tamu penelepon di kantornya pada jam kerja. Kalau sampai
itu terjadi, mereka akan mendapat teguran. "Takutnya mengganggu.
Pokoknya, ada larangan OP ketemu penelepon. Ini demi kebaikan kita juga
sih," tuturnya.
Dia juga tidak bersedia memberi alamat atau nomor telepon tempat tinggalnya.
"Kayaknya, ibu kos saya sulit banget ngasih tahu kalau ada
telepon," kilahnya.
Akan tetapi kalau antarpenelepon (chatting line), boleh-boleh saja
saling tukar alamat atau nomor telepon. "Mereka pun bisa mengobrol
bebas namun terbatas. Bisa saling tukar alamat. Ujung-ujungnya tentu saja
mereka bisa jumpa darat." tutur Damayanti.
Supaya tidak terjadi pelanggaran "kode etik" tadi, pada pengelola
layanan premium call tertentu mereka diawasi oleh supervisor. Di Telequote,
misalnya, mereka memang tidak bisa sembarangan dalam hal ini. "Kalau
enggak percaya, silakan lihat! Kita awasi, lo! Jangan dikira mereka bisa ngobrol
seenaknya sendiri," tegas Jauhari. "Mungkin Telequote satu-satunya
yang menempatkan supervisor di ruangan operator," ujar S. Djauhari
setengah berpromosi.
Lalu, apa yang mereka peroleh dari profesi sebagai OP layanan premium
call? Menurut Putri, dari pekerjaan itu ia mendapatkan gaji bulanan
dalam jumlah lumayan. "Lumayan ‘kecil’!" canda Putri tanpa mau
menyebut angka. Dia juga mengaku status pekerjaannya tidak jelas, terutama
menyangkut citra. "Soalnya, di sini ‘kan ada shift malam. Gimana
sih rasanya kalau mesti kerja jam 11 malam," keluhnya. Lalu ketika
ditanya soal enak-tidaknya berprofesi sebagai OP, Putri menjawab manja,
"Gimana dong? Enak enggak sih? Kalau ada pekerjaan lain, aku
pilih yang lain aja." (I Gede Agung Yudana/A. Hery Suyono)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||