globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

GAYA OPERATOR PREMIUM CALL MENGGAET PENELEPON

Operator telepon yang satu ini bukan operator biasa. Ia bukan saja dituntut pintar mengobrol, namun juga harus mempunyai wawasan atau cukup memahami teknik berkomunikasi. Dengan begitu, pundi-pundi perusahaannya cepat gembung. Itulah operator layanan premium call.

"Selamat datang di layanan khusus dengan tarif Rp 3.300,- per menit. Bila Anda setuju, tetaplah di jalur ini. Bila tidak letakkan telepon Anda."

(Jeda sejenak)

"Mau cerita masalah cinta kamu? Atau, masih cari pasangan? Nah, di sini nih tempat mangkalnya cowok and cewek yang oke punya. Pokoknya, kamu dijamin enggak bakal nyesel, karena kamu hanya berdua saja tanpa ada yang mengganggu. Asyik ‘kan? Oke!"

(Jeda sejenak)

"Sebentar lagi kami akan menghubungkan Anda dengan pasangan Anda. Untuk itu, kami harus memastikan, apakah Anda seorang pria atau wanita. Tekan 240 jika Anda seorang pria. Atau tekan 241 jika Anda seorang wanita."

(Tekan nomor pilihan)

"Mohon tunggu sebentar."

Begitulah rangkaian kalimat yang terlontar dari mesin penjawab di ujung sana. Suara lembut wanita dengan bahasa sedikit amburadul dan latar musik instrumentalia itu senantiasa akan terdengar setiap kali Anda menghubungi saluran telepon interaktif tertentu.

Layanan telekomunikasi ini biasanya diawali dengan nomor 0809.XXX.XXX. Ada pula yang menggunakan kode wilayah 031 pada bagian depan nomornya. Lazimnya disebut nomor telepon layanan premium call, yang mudah ditemui di iklan media cetak atau elektronik.

Bentuk layanannya sangat beragam, mulai dari kuis, konsultasi, biro jodoh, hingga mengobrol berduaan dengan operator atau bareng-bareng dengan penelepon lainnya. Untuk saat ini layanan berupa obrolan masih banyak diminati.

Jangan sampai tulalit

Ketika mencoba menghubungi nomor layanan premium call, harap maklum bila harus menunggu beberapa menit untuk bisa bicara dengan operator. Cuap-cuap dari mesin penjawab biasanya menyita waktu cukup lama. Sekadar gambaran, ketika Intisari mencoba saluran telepon interaktif "Tentang Kita Hanya Untuk Berdua" dengan nomor telepon 0809.1.900.800, hingga lebih dari lima menit belum juga nyangkut ke operator, yang akan menjadi pasangan mengobrol. Yang terdengar justru lanjutan suara wanita dari mesin penjawab. Begini bunyinya:

"Maaf, sampai saat ini kami belum menemukan pasangan untuk Anda. Mohon Anda menunggu beberapa saat lagi. Sementara itu, kami akan terus berusaha mencari pasangan yang cocok."

(Jeda sejenak)

"Sampai saat ini, kami belum mendapatkan pasangan yang tepat untuk Anda. Mohon bersabar. Kami sedang terus mencari pasangan yang tepat untuk Anda."

(Jeda sejenak)

"Terima kasih, untuk kesediaan Anda menunggu. Sayangnya, saat ini semua orang sedang berpasang-pasangan. Jika Anda ingin tetap di jalur ‘Sehati’, tekan 1. Untuk bergabung di ‘Zona Bebas’ di mana kamu bisa berbagi cerita dengan teman-teman di seluruh Nusantara, tekan 900."

(Tekan nomor pilihan)

"Mohon tunggu sebentar."

Kalau berulang-ulang terdengar jawaban itu, bersiap-siaplah untuk membayar tagihan telepon dalam jumlah besar. Sebaliknya, kalau nasib lagi baik, dalam waktu singkat Anda bisa langsung ngobrol-ria dengan operator pasangan Anda. Kalau itu terjadi, barulah terasa manfaatnya meski tagihannya juga tidak murah.

Begitu tersambung dengan operatornya, suara lembut operator di seberang sana mulai terdengar. Kalau sistem audio di hadapan operator berfungsi baik, ya suaranya bisa terdengar jernih. Sebaliknya, adakalanya muncul suara kemresek di sela-sela obrolan, yang biasanya segera dikoreksi oleh operator.

Dalam layanan premium call, operator menjadi kunci sukses bisnis ini. Sebab, kemampuan operator meladeni obrolan penelepon sangat menentukan lama-tidaknya penelepon nyangkut di layanan ini. Semakin penelepon merasa cocok, semakin lama pula ngobrol-nya. Praktis pulsa akan terus membengkak.

Operator, yang di kalangan mereka sering disebut OP, umumnya wanita muda berusia 20 – 25 tahun. Amat jarang OP berasal dari kalangan pria. "Kalau operatornya cowok, nanti peneleponnya pada kaburlah," ujar Putri (20), bukan nama beneran, OP dari salah satu layanan premium call dalam bentuk tele conference bernomor telepon 0809.1.900.900.

"Kebanyakan yang menelepon kemari cowok. Jarang lagi ada cewek gabung kemari. Kalau ada penelepon cewek, kita kasih aja ama penelepon cowok. Dia bisa janjian ketemu lagi di sini atau kalau memang jodohnya, dia bisa saling ngasih nomor telepon rumah," lanjut Putri dengan bahasa gaya ABG-nya.

Tingkat pendidikan mereka umumnya SMU atau perguruan tinggi non-gelar (D3). Menurut Hari Adi, S.H., dari bagian sumber daya manusia dan umum PT Telequote Multi Informatika (Telequote), latar belakang pendidikan operator umumnya bidang sosial. "Kriteria umumnya, mereka harus mengerti komunikasi," tambahnya.

Untuk saat ini, karena layanannya kebanyakan masih bersifat hiburan, kriteria mereka masih terbatas kualitas suaranya baik dan mesti sabar. "Kalau nanti sudah meningkat ke bidang edukasi, otomatis untuk operator ada kualifikasinya," ujar S. Djauhari, direktur utama Telequote. "Misalnya, untuk layanan matematika, tentu mereka harus berlatar pendidikan matematika," imbuhnya.

Meski sama-sama disebut operator, tuntutan pekerjaan mereka lebih dari sekadar operator telepon atau radio panggil. Paling tidak, mereka mesti bisa nyambung bila diajak mengobrol tentang berbagai bidang oleh penelepon. Mereka harus memiliki wawasan luas karena lawan bicaranya sangat beragam. Jangan sampai operator tulalit, alias tidak nyambung, ketika diajak mengobrol penelepon. Karena itu, di ruang kerja mereka, seperti pada Telequote, disediakan berbagai buku, media cetak dan elektronik sebagai sumber informasi untuk menambah wawasan. Mulai soal politik, ekonomi, kesehatan, dll.

Mereka diharapkan tidak pasif atau cuma jadi pendengar, tetapi juga bisa membuat betah penelepon mengobrol. "Kalau caller cuma ingin curhat, ya mereka malah enak. Cuma mendengarkan," ujar Dra. Damayanti Prakoso Said, penyelia Telequote.

Punya pelanggan

Operator juga dituntut mampu melayani berbagai layanan yang "dijual". Ada layanan ngobrol berdua antara seorang OP dengan seorang penelepon. Atau, layanan ngobrol bareng antarpenelepon, sementara OP cuma sebagai moderator.

Dilihat dari tugasnya, aktivitas mereka memang tak banyak variasi. Sepanjang jam kerja duduk, pencet-pencet tombol, baca-baca, dan bicara. Hanya lawan bicaranya yang berganti-ganti. Tak heran kalau seandainya mereka merasa jenuh.

OP bekerja secara bergiliran dalam tiga shift sehari semalam, masing-masing delapan jam kerja. Mereka mengikuti saja aturan penggiliran yang ditentukan. Putri, misalnya, mengaku berganti shift setiap dua hari, yakni dua hari shift pagi, dua hari sore, dan dua hari malam. Dalam satu shift jumlah OP berbeda antara pengelola premium call yang satu dengan lainnya, umumnya 2 - 5 orang. Mereka yang bertugas malam biasanya akan bekerja keras. Sebab, menurut Damayanti, pukul 20.00 - 02.00 merupakan jam-jam paling ramai penelepon.

Dalam sehari ratusan penelepon harus dilayani. Paling banyak laki-laki (75%) dan sisanya wanita. Penelepon tidak terbatas dari Jakarta, tetapi juga dari luar Jakarta, termasuk luar Pulau Jawa. Dari sisi usia, penelepon yang mereka layani terdiri atas remaja (80%) dan orang tua (20%). Maka, paslah kalau OP harus berasal dari kalangan muda.

Menurut Putri, setiap saat pasti ada panggilan telepon yang harus dilayani. Tidak cuma lima atau sepuluh menit. "Kalau mereka enjoy, mereka nelponnya lama-lama. Malahan sampai lupa waktu," ujarnya. Tapi, rata-rata sekitar 15 menit (tidak termasuk lamanya penelepon menunggu hingga bisa berbicara dengan OP).

OP sedikit agak santai bila perusahaan mereka tidak memasang iklan di media cetak atau elektronik. Soalnya, menurut Djauhari, jumlah penelepon sangat bergantung pada pemasangan iklan. "Begitu tidak pasang iklan, jumlah penelepon akan turun," tambahnya.

Kalau antarpenelepon saling ngobrol bukan berarti mereka menganggur. Mereka wajib mendengarkan, sambil mengawasi jangan sampai obrolan melenceng ke hal-hal yang ditabukan. "Kalau diingatkan sampai tiga kali masih bandel, ya terpaksa, di-cut," tegas S. Djauhari. "Kalau nyerempet-nyerempet sedikit sih masih dibolehkan. Masih dianggap manusiawi," tambahnya.

Di antara penelepon ada yang melanggan OP tertentu karena dianggap cocok oleh penelepon, cocok suaranya atau obrolannya. Kepada yang dianggap cocok, penelepon akan ngomong apa saja. Segala macam uneg-uneg ditumpahkan dalam obrolan. Jadi, operator dituntut bersikap keibuan atau bisa menjadi teman. Kalau sudah begitu, dia akan sering diminta mengobrol. Kalau yang diminta sedang tidak "turun" (bertugas), penelepon biasanya menanyakan jadwal tugasnya. Karena tuntutan macam itulah, maka hampir seluruh operatornya perempuan.

Di samping dituntut menjalankan tugas dengan baik, OP juga dilarang melakukan hal-hal tertentu. Di antaranya, berbicara pornografi dengan penelepon. "Tapi kalau masih sebatas bersifat pendidikan seks, enggak apa-apa. Untuk itu disediakan bukunya. Intinya, operator tidak boleh memberikan kenikmatan seksual kepada penelpon," jelas Damayanti. "Kalau nyerempet-nyerempet dikit soal seks, ya biasalah, namanya juga mengobrol. Tapi bukan pornografi," tambahnya.

Di tempat lain, OP juga tidak diizinkan memberikan alamat kantornya. Putri misalnya, ketika ditanya Intisari cuma mau memberi nama gedungnya tanpa mau memberikan nama perusahaan jasanya. Ia menambahkan, operator tidak diizinkan menerima tamu penelepon di kantornya pada jam kerja. Kalau sampai itu terjadi, mereka akan mendapat teguran. "Takutnya mengganggu. Pokoknya, ada larangan OP ketemu penelepon. Ini demi kebaikan kita juga sih," tuturnya.

Dia juga tidak bersedia memberi alamat atau nomor telepon tempat tinggalnya. "Kayaknya, ibu kos saya sulit banget ngasih tahu kalau ada telepon," kilahnya.

Akan tetapi kalau antarpenelepon (chatting line), boleh-boleh saja saling tukar alamat atau nomor telepon. "Mereka pun bisa mengobrol bebas namun terbatas. Bisa saling tukar alamat. Ujung-ujungnya tentu saja mereka bisa jumpa darat." tutur Damayanti.

Supaya tidak terjadi pelanggaran "kode etik" tadi, pada pengelola layanan premium call tertentu mereka diawasi oleh supervisor. Di Telequote, misalnya, mereka memang tidak bisa sembarangan dalam hal ini. "Kalau enggak percaya, silakan lihat! Kita awasi, lo! Jangan dikira mereka bisa ngobrol seenaknya sendiri," tegas Jauhari. "Mungkin Telequote satu-satunya yang menempatkan supervisor di ruangan operator," ujar S. Djauhari setengah berpromosi.

Lalu, apa yang mereka peroleh dari profesi sebagai OP layanan premium call? Menurut Putri, dari pekerjaan itu ia mendapatkan gaji bulanan dalam jumlah lumayan. "Lumayan ‘kecil’!" canda Putri tanpa mau menyebut angka. Dia juga mengaku status pekerjaannya tidak jelas, terutama menyangkut citra. "Soalnya, di sini ‘kan ada shift malam. Gimana sih rasanya kalau mesti kerja jam 11 malam," keluhnya. Lalu ketika ditanya soal enak-tidaknya berprofesi sebagai OP, Putri menjawab manja, "Gimana dong? Enak enggak sih? Kalau ada pekerjaan lain, aku pilih yang lain aja." (I Gede Agung Yudana/A. Hery Suyono)

Boks: Mencocokkan PR Lewat Chat-Line

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej