globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Sindrom Kelas Ekonomi Terbawa Mati 

Bulan ini, karena Hari Raya Idul Fitri dan Natal berdekatan, dapat dipastikan banyak orang "pulang kampung" dengan suka cita karena mau bertemu sanak saudara. Perjalanannya ada yang dekat, tak kurang pula yang jauh memakan waktu seharian, bahkan lebih. Kasus yang menimpa Emma Christoffersen ini mengingatkan kita, ada bahaya fatal mengintip bila tubuh kita kurang digerakkan untuk jangka waktu lama.

Pada 30 September silam kejadian naas menimpa wanita Inggris, Emma Christoffersen (28). Baru beberapa menit mendarat di Bandara Heathrow, London, tiba-tiba saja ia pingsan, lalu meninggal. Ia baru saja menempuh penerbangan selama 20 jam dari Australia. Lalu timbul dugaan, ia mengalami penyumbatan pembuluh darah atau DVT (Deep-Vein-Thrombosis).

Meski namanya cuma dugaan, tetap saja muncul berbagai tekanan pada maskapai penerbangan untuk memberlakukan peringatan pada para penumpang yang berisiko terkena DVT. Dicurigai, yang paling parah terkena risiko ini ya kelas ekonomi (karenanya, gangguan kesehatan ini disebut "sindrom kelas ekonomi").

Sudah tentu kalangan ahli bidang keselamatan perjalanan merasa khawatir kejadian serupa terjadi lagi. Para pemakai jasa angkutan umum pun berpikir, tentu bahaya serupa juga mengancam para pengguna sarana transportasi di luar pesawat terbang, asalkan kondisi yang dihadapi mirip. Sementara kalangan ahli menilai belum banyak informasi yang diberikan untuk meningkatkan kewaspadaan penumpang pesawat terbang, apalagi informasi memadai untuk penumpang bus antarkota, misalnya!

Darah seperti agar-agar

Memang, boleh dibilang masih jarang penumpang, yang selama berjam-jam tidak bergerak dalam posisi duduk di pesawat atau jenis sarana angkutan lain, mengalami DVT. Tetapi, kalau sampai terjadi, bisa-bisa berakhir dengan kematian. Bagaimana bisa demikian?

Menurut dr. Lee Lai Heng, ahli penyumbatan pembuluh darah dan konsultan hematologi dari RSU Singapura, "Darah itu bagaikan agar-agar, kalau ditaruh dalam mangkuk di atas meja dan didiamkan, akan mengeras. Tapi kalau terus diaduk, pengerasan tidak akan terjadi."

Maka, bila penumpang tidak menggerak-gerakkan kaki selama perjalanan, otot-ototnya tidak akan memompa darah.

"Selanjutnya, sirkulasi darah tidak cukup lancar sehingga lebih mudah terjadi penyumbatan. Malah DVT dapat 'menjalar' ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah," ujar Lee.

Kejang kaki dikombinasi dengan dehidrasi akan menghambat aliran darah, lalu menyebabkan penyumbatan, serta mengurangi pasokan oksigen ke bagian tubuh lainnya.

Bila DVT meluas dan sampai ke paru-paru, maka akan mengalangi oksigen masuk ke aliran darah. Ini bahaya besar, karena bisa berakhir dengan kematian entah cepat, entah perlahan-lahan. Kondisi sama fatalnya juga terjadi bila penyumbatan berpindah ke jantung atau otak.

Lalu mengapa kelas ekonomi? Farrol Khan, direktur Aviation Health Institute, menyatakan, kurang longgarnya ruang kaki di kelas ekonomi dalam pesawat dituding sebagai gara-garanya. Itu ancaman bagi kesehatan, katanya. Dari segi kepentingan perusahaan penerbangan, sudah tentu semakin banyak kursi, semakin menguntungkan. Cukup dengan mengurangi jarak antara kursi depan dan belakang selebar satu inci (2,54 cm) saja, bisa ditambahkan satu atau dua baris kursi lagi.

"Karena ruang kaki amat sempit, penumpang hanya bisa duduk diam. Otot betis dan paha tidak mampu melakukan tugas rutin memompa darah sampai ke jantung. Pada saat bersamaan tekanan sisi sandaran kursi mengalangi kembalinya darah di vena," ujar Farrol yang melakukan penelitian atas kematian di udara.

Ia menduga, Emma - korban meninggal akibat DVT itu - telah terkena penyumbatan darah dalam penerbangan keberangkatannya ke Sydney beberapa minggu sebelumnya, kebetulan dengan British Airways.

Masalahnya, "Penyumbatan darah dapat memanifestasi selang sebulan kemudian," ujarnya. Ia bahkan berani memperkirakan, kemungkinan ada 6.000 penumpang per tahun tewas akibat DVT!

Gejala DVT diperkirakan baru muncul beberapa minggu setelah penerbangan - yang minimal sepanjang tiga jam. Akibat yang ditimbulkannya pun beragam, mulai sakit ringan, serangan jantung, sampai stroke.

Selain sempitnya ruang kaki, penyebab lain seperti udara yang terus didaur ulang, tekanan kabin, dan jet lag(merasa mengantuk karena perbedaan waktu), bisa juga memunculkan sindrom itu, karena membuat darah menjadi lebih kental.

Namun, juru bicara British Airways keberatan dengan sebutan "sindrom kelas ekonomi" untuk DVT. Menurut dia, penumpang di kelas utama atau bisnis juga berpeluang terkena DVT.

"Sangat tidak tepat menyebutnya sebagai 'sindroma kelas ekonomi'. Ada beberapa contoh orang yang mengalami DVT akibat terlalu lama duduk," tambahnya.

Memang benar. Malah jangan dikira, DVT hanya menimpa penumpang pesawat. Orang yang terus duduk seharian penuh di mana saja, tanpa melakukan gerakan, bisa juga terkena.

Dr. Lee memberi contoh kasus langka yang terjadi pada pemain judi mahyong, yang umumnya melakukan sesi-sesi judi secara maraton tanpa bangkit dari tempat duduk untuk menggerakkan atau merentangkan kaki barang sebentar.

Ancaman udara daur ulang

Karena kasus Emma terjadi di Inggris, setelah naik pesawat milik maskapai penerbangan Inggris pula, maka pemerintah Inggris segera meminta dibentuk komite khusus untuk menyelidiki aspek kesehatan lingkungan kabin. Kasus Emma pun menjadi istimewa karena korban baru berusia 28 tahun. Padahal, "Sekitar 85% pasien DVT berusia lebih dari 45 tahun dan 54% di antaranya di atas 60 tahun," ujar Lee.

Memang, kasus DVT perlu mendapat perhatian khusus. Karena menurut perkiraan, setiap tahun sekitar 30.000 penumpang pesawat terbang, sebagian besar melakukan perjalanan lebih dari 12 jam, mendapat serangan DVT. Umumnya, penyumbatan darah terbentuk di vena kaki.

Inggris pun meminta agar maskapai penerbangan memberi petunjuk yang jelas kepada para penumpang untuk mencegah terjadinya DVT setiap kali menjelang penerbangan jarak jauh. Selain juga permintaan pemerintah Inggris agar maskapai penerbangan meningkatkan faktor keselamatan dan keamanan kesehatan penumpang.

Salah satu yang perlu dibenahi adalah peningkatan kualitas udara dalam pesawat, yang berpotensi mengganggu kesehatan.

Sejak tahun 1970-an, pesawat harus menghemat biaya bahan bakar melalui cara mencampur udara segar dengan 50% udara daur ulang yang telah disaring dengan sedemikian efisiennya untuk membuang bibit penyakit berbahaya. Tapi jika penyaring terganggu atau kotor, efektivitas itu berkurang, penumpang pun rentan terpapar bakteri.

Yang diharapkan tentu udara tidak lagi disirkulasi ulang. Sulitnya tindakan ini akan meningkatkan biaya bahan bakar sebesar 2%. Komisi juga akan meminta pemeriksaan penyaring udara secara teratur, bukan dengan menggantikannya sesuai masa kedaluwarsanya. Selain itu, perlu pula dipasang alat pengatur ventilasi udara di atas kursi penumpang.

Semua permintaan itu sah-sah saja, menurut Farrol Khan, "Mestinya penerbangan sama seperti industri lain. Selain harus memasang label keamanan pada produk mereka, juga mampu menjawab cara mengatasi masalah DVT."

Awas dehidrasi

Pencegahan terhadap DVT tak hanya perlu diperhatikan oleh maskapai penerbangan, tak kalah penting adalah kepedulian penumpang terhadap keselamatan dirinya.

Risiko besar mengancam mereka yang memang sudah pernah mengalami DVT atau mempunyai keturunan DVT, misalnya stroke atau penyakit jantung koroner (PJK). Hendaknya mereka meminta obat kepada dokter sebelum melakukan perjalanan agar terhindar dari musibah itu.

Penumpang yang menderita kanker serta wanita yang menjalani pengobatan hormon atau kontrasepsi oral juga mempunyai risiko terhadap bahaya tersebut. Demikian pula penumpang usia setengah baya atau manula, wanita hamil, perokok dan peminum alkohol, orang yang baru saja menjalani operasi atau kemoterapi, penderita varises, atau kegemukan. Mereka yang bertubuh pendek sehingga kakinya tidak mencapai lantai kabin, juga harus berhari-hati. Ini karena kursi menambahkan tekanan pada kaki bagian belakang.

Untuk mencegah terjadinya DVT selama penerbangan, khususnya atau perjalanan jauh Lee menganjurkan, khusus bagi para penumpang tengah baya ke atas, untuk melakukan gerakan lebih banyak atau paling tidak melakukan latihan kaki sederhana agar peredaran darah tetap lancar. Pasalnya, pada usia tua risiko timbulnya DVT pun semakin tinggi.

Berikut ini beberapa advis praktis yang perlu dilakukan. Di antaranya, jangan merokok, kenakan pakaian longgar, hindari minuman beralkohol atau kafein yang bisa mengakibatkan dehidrasi, cukup banyak minum air, hindari makanan berlemak, berjalan-jalan secara teratur di lorong, pesan kursi di pintu keluar atau di lorong.

Mengingat DVT pernah menimpa pemain mahyong, yang notabene tidak di dalam pesawat terbang, tak ada salahnya bila Anda berencana melakukan perjalanan jauh atau sering melakukan pekerjaan sambil duduk diam, mempraktikkan nasihat itu. (TST/Sht/Nn)

Boks: Menghindari penyumbatan pembuluh darah (DVT) saat dalam perjalanan jauh

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej