|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Sindrom
Kelas Ekonomi Terbawa Mati
Bulan ini, karena Hari Raya Idul Fitri dan Natal berdekatan, dapat
dipastikan banyak orang "pulang kampung" dengan suka cita karena
mau bertemu sanak saudara. Perjalanannya ada yang dekat, tak kurang pula
yang jauh memakan waktu seharian, bahkan lebih. Kasus yang menimpa Emma
Christoffersen ini mengingatkan kita, ada bahaya fatal mengintip bila tubuh
kita kurang digerakkan untuk jangka waktu lama.
Meski namanya cuma dugaan, tetap saja muncul berbagai tekanan pada maskapai
penerbangan untuk memberlakukan peringatan pada para penumpang yang berisiko
terkena DVT. Dicurigai, yang paling parah terkena risiko ini ya kelas
ekonomi (karenanya, gangguan kesehatan ini disebut "sindrom kelas
ekonomi").
Sudah tentu kalangan ahli bidang keselamatan perjalanan merasa khawatir
kejadian serupa terjadi lagi. Para pemakai jasa angkutan umum pun berpikir,
tentu bahaya serupa juga mengancam para pengguna sarana transportasi di luar
pesawat terbang, asalkan kondisi yang dihadapi mirip. Sementara kalangan
ahli menilai belum banyak informasi yang diberikan untuk meningkatkan
kewaspadaan penumpang pesawat terbang, apalagi informasi memadai untuk
penumpang bus antarkota, misalnya!
Darah seperti agar-agar
Memang, boleh dibilang masih jarang penumpang, yang selama berjam-jam tidak
bergerak dalam posisi duduk di pesawat atau jenis sarana angkutan lain,
mengalami DVT. Tetapi, kalau sampai terjadi, bisa-bisa berakhir dengan
kematian. Bagaimana bisa demikian?
Menurut dr. Lee Lai Heng, ahli penyumbatan pembuluh darah dan konsultan
hematologi dari RSU Singapura, "Darah itu bagaikan agar-agar, kalau
ditaruh dalam mangkuk di atas meja dan didiamkan, akan mengeras. Tapi kalau
terus diaduk, pengerasan tidak akan terjadi."
Maka, bila penumpang tidak menggerak-gerakkan kaki selama perjalanan,
otot-ototnya tidak akan memompa darah.
"Selanjutnya, sirkulasi darah tidak cukup lancar sehingga lebih mudah
terjadi penyumbatan. Malah DVT dapat 'menjalar' ke seluruh bagian tubuh
melalui pembuluh darah," ujar Lee.
Kejang kaki dikombinasi dengan dehidrasi akan menghambat aliran darah, lalu
menyebabkan penyumbatan, serta mengurangi pasokan oksigen ke bagian tubuh
lainnya.
Bila DVT meluas dan sampai ke paru-paru, maka akan mengalangi oksigen masuk
ke aliran darah. Ini bahaya besar, karena bisa berakhir dengan kematian
entah cepat, entah perlahan-lahan. Kondisi sama fatalnya juga terjadi bila
penyumbatan berpindah ke jantung atau otak.
Lalu mengapa kelas ekonomi? Farrol Khan, direktur Aviation Health Institute,
menyatakan, kurang longgarnya ruang kaki di kelas ekonomi dalam pesawat
dituding sebagai gara-garanya. Itu ancaman bagi kesehatan, katanya. Dari
segi kepentingan perusahaan penerbangan, sudah tentu semakin banyak kursi,
semakin menguntungkan. Cukup dengan mengurangi jarak antara kursi depan dan
belakang selebar satu inci (2,54 cm) saja, bisa ditambahkan satu atau dua
baris kursi lagi.
"Karena ruang kaki amat sempit, penumpang hanya bisa duduk diam. Otot
betis dan paha tidak mampu melakukan tugas rutin memompa darah sampai ke
jantung. Pada saat bersamaan tekanan sisi sandaran kursi mengalangi
kembalinya darah di vena," ujar Farrol yang melakukan penelitian atas
kematian di udara.
Ia menduga, Emma - korban meninggal akibat DVT itu - telah terkena
penyumbatan darah dalam penerbangan keberangkatannya ke Sydney beberapa
minggu sebelumnya, kebetulan dengan British Airways.
Masalahnya, "Penyumbatan darah dapat memanifestasi selang sebulan
kemudian," ujarnya. Ia bahkan berani memperkirakan, kemungkinan ada
6.000 penumpang per tahun tewas akibat DVT!
Gejala DVT diperkirakan baru muncul beberapa minggu setelah penerbangan -
yang minimal sepanjang tiga jam. Akibat yang ditimbulkannya pun beragam,
mulai sakit ringan, serangan jantung, sampai stroke.
Selain sempitnya ruang kaki, penyebab lain seperti udara yang terus didaur
ulang, tekanan kabin, dan jet lag(merasa mengantuk karena perbedaan
waktu), bisa juga memunculkan sindrom itu, karena membuat darah menjadi
lebih kental.
Namun, juru bicara British Airways keberatan dengan sebutan "sindrom
kelas ekonomi" untuk DVT. Menurut dia, penumpang di kelas utama atau
bisnis juga berpeluang terkena DVT.
"Sangat tidak tepat menyebutnya sebagai 'sindroma kelas ekonomi'. Ada
beberapa contoh orang yang mengalami DVT akibat terlalu lama duduk,"
tambahnya.
Memang benar. Malah jangan dikira, DVT hanya menimpa penumpang pesawat.
Orang yang terus duduk seharian penuh di mana saja, tanpa melakukan gerakan,
bisa juga terkena.
Dr. Lee memberi contoh kasus langka yang terjadi pada pemain judi mahyong,
yang umumnya melakukan sesi-sesi judi secara maraton tanpa bangkit dari
tempat duduk untuk menggerakkan atau merentangkan kaki barang sebentar.
Ancaman udara daur ulang
Karena kasus Emma terjadi di Inggris, setelah naik pesawat milik maskapai
penerbangan Inggris pula, maka pemerintah Inggris segera meminta dibentuk
komite khusus untuk menyelidiki aspek kesehatan lingkungan kabin. Kasus Emma
pun menjadi istimewa karena korban baru berusia 28 tahun. Padahal,
"Sekitar 85% pasien DVT berusia lebih dari 45 tahun dan 54% di
antaranya di atas 60 tahun," ujar Lee.
Memang, kasus DVT perlu mendapat perhatian khusus. Karena menurut perkiraan,
setiap tahun sekitar 30.000 penumpang pesawat terbang, sebagian besar
melakukan perjalanan lebih dari 12 jam, mendapat serangan DVT. Umumnya,
penyumbatan darah terbentuk di vena kaki.
Inggris pun meminta agar maskapai penerbangan memberi petunjuk yang jelas
kepada para penumpang untuk mencegah terjadinya DVT setiap kali menjelang
penerbangan jarak jauh. Selain juga permintaan pemerintah Inggris agar
maskapai penerbangan meningkatkan faktor keselamatan dan keamanan kesehatan
penumpang.
Salah satu yang perlu dibenahi adalah peningkatan kualitas udara dalam
pesawat, yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Sejak tahun 1970-an, pesawat harus menghemat biaya bahan bakar melalui cara
mencampur udara segar dengan 50% udara daur ulang yang telah disaring dengan
sedemikian efisiennya untuk membuang bibit penyakit berbahaya. Tapi jika
penyaring terganggu atau kotor, efektivitas itu berkurang, penumpang pun
rentan terpapar bakteri.
Yang diharapkan tentu udara tidak lagi disirkulasi ulang. Sulitnya tindakan
ini akan meningkatkan biaya bahan bakar sebesar 2%. Komisi juga akan meminta
pemeriksaan penyaring udara secara teratur, bukan dengan menggantikannya
sesuai masa kedaluwarsanya. Selain itu, perlu pula dipasang alat pengatur
ventilasi udara di atas kursi penumpang.
Semua permintaan itu sah-sah saja, menurut Farrol Khan, "Mestinya
penerbangan sama seperti industri lain. Selain harus memasang label keamanan
pada produk mereka, juga mampu menjawab cara mengatasi masalah DVT."
Awas dehidrasi
Pencegahan terhadap DVT tak hanya perlu diperhatikan oleh maskapai
penerbangan, tak kalah penting adalah kepedulian penumpang terhadap
keselamatan dirinya.
Risiko besar mengancam mereka yang memang sudah pernah mengalami DVT atau
mempunyai keturunan DVT, misalnya stroke atau penyakit jantung koroner
(PJK). Hendaknya mereka meminta obat kepada dokter sebelum melakukan
perjalanan agar terhindar dari musibah itu.
Penumpang yang menderita kanker serta wanita yang menjalani pengobatan
hormon atau kontrasepsi oral juga mempunyai risiko terhadap bahaya tersebut.
Demikian pula penumpang usia setengah baya atau manula, wanita hamil,
perokok dan peminum alkohol, orang yang baru saja menjalani operasi atau
kemoterapi, penderita varises, atau kegemukan. Mereka yang bertubuh pendek
sehingga kakinya tidak mencapai lantai kabin, juga harus berhari-hati. Ini
karena kursi menambahkan tekanan pada kaki bagian belakang.
Untuk mencegah terjadinya DVT selama penerbangan, khususnya atau perjalanan
jauh Lee menganjurkan, khusus bagi para penumpang tengah baya ke atas, untuk
melakukan gerakan lebih banyak atau paling tidak melakukan latihan kaki
sederhana agar peredaran darah tetap lancar. Pasalnya, pada usia tua risiko
timbulnya DVT pun semakin tinggi.
Berikut ini beberapa advis praktis yang perlu dilakukan. Di antaranya,
jangan merokok, kenakan pakaian longgar, hindari minuman beralkohol atau
kafein yang bisa mengakibatkan dehidrasi, cukup banyak minum air, hindari
makanan berlemak, berjalan-jalan secara teratur di lorong, pesan kursi di
pintu keluar atau di lorong.
Mengingat DVT pernah menimpa pemain mahyong, yang notabene tidak di dalam
pesawat terbang, tak ada salahnya bila Anda berencana melakukan perjalanan
jauh atau sering melakukan pekerjaan sambil duduk diam, mempraktikkan
nasihat itu. (TST/Sht/Nn)
Boks: Menghindari penyumbatan pembuluh darah (DVT) saat dalam perjalanan jauh |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||