|
|
Bulan Desember 2000
|
|
KURANG
OLAHRAGA PENCETUS KANKER USUS
Pola hidup dan makan sehari-hari menjadi faktor penyebab utama kanker usus
besar (colon). Kurang berolahraga dan kegemukan menjadi faktor
penyerta. Untuk mendeteksi dini penyakit ganas ini, pemeriksaan kesehatan
usus secara rutin sangat dianjurkan.
Rachmat hanyalah satu dari sekian banyak penderita kanker usus besar (KUB),
yang di Indonesia jumlah penderitanya menempati urutan ke-10 (2,75%) setelah
kanker lain (leher rahim, payudara, kelenjar getah bening, kulit,
nasofaring, ovarium, rektum, jaringan lunak, dan tiroid). Di Eropa dan AS,
penderita KUB jauh lebih banyak dibandingkan di Asia. Tahun 1994 saja
kira-kira 150.000 orang terkena KUB. Di AS dalam satu tahun rata-rata 56.000
penduduk meninggal akibat penyakit ganas ini.
Gejala utamanya, adanya darah dalam tinja seperti terjadi pada penderita
perdarahan lambung, polip usus, atau wasir. Kalau darah dalam tinja masih
sangat sedikit memang sulit terlihat dengan mata biasa, sehingga memerlukan
tes laboratorium. Namun, bila sering merasakan gangguan lain di perut (diare
atau sembelit), kembung, bentuk tinja sangat pipih dibarengi rasa lemas dan
lelah, bobot badan turun, ada baiknya segera melakukan pemeriksaan secara
saksama.
Tes paling sederhana adalah pemeriksaan rektum dengan jari. Sekitar 10% KUB
dapat terdiagnosis melalui tes ini.
Cara lain, dengan pemeriksaan darah dalam tinja. Agar berhasil baik, menurut
dr. Gerard Bonang (alm.) dalam sebuah tulisannya, pemeriksaan dilakukan
selama tiga hari berturut-turut. Sehari sebelum tinja diperiksa, sebaiknya
banyak makan makanan berserat seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian,
khususnya yang mentah. Makanan berserat akan merangsang setiap kelainan
dalam usus besar sehingga mudah berdarah. Ini akan memberikan hasil
pemeriksaan positif. Sehari sebelum pengambilan bahan pemeriksaan sampai
dengan hari ketiga, jangan mengkonsumsi daging, aspirin, vitamin C atau
tablet zat besi karena zat-zat ini dapat menganggu hasil pemeriksaan.
Sementara pemeriksaan dengan teropong (kolonoskopi) untuk memeriksa kelainan
pada dinding usus perlu dilakukan pengosongan usus besar dari tinja.
Kira-kira 45% KUB ditemukan di daerah rektum, usus besar sigmoid, dan usus
besar desendens. Bila ditemukan polip kecil, dapat langsung dilakukan
polipektomi atau biopsi. Hasilnya diperiksa di lab patologi untuk memastikan
apakah jaringan mengandung sel kanker atau tidak.
Dulu sebelum ditemukan kolonoskopi, para dokter menggunakan pemeriksaan
dengan memasukkan cairan barium ke dalam rektum, kemudian membuat foto
rontgen usus besar dalam pelbagai posisi. Hasil pemeriksaan memang tidak
sebagus hasil pemeriksaan kolonoskopi. Namun, cara ini masih banyak
dilakukan bila penderita tidak bisa diperiksa dengan teropong yang
memerlukan pembiusan. Atau bila pihak rumah sakit tidak memiliki kolonoskop.
Melalui pemeriksaan darah di lab juga bisa ditemukan gejala KUB. Caranya
dengan menentukan tumor marker CEA(carcino-embryonis antigen)
dalam darah. Nilai normal CEA tidak boleh melebihi 5 ng/ml. Bila kadar CEA
tetap di bawah 2,5 ng/ml selama 3 - 4 minggu pascaoperasi, dapat dianggap
terjadi penyembuhan total. Sebaliknya, kadar di atas 20 ng/ml menunjukkan
adanya proses metastase (penyebaran) dan tingkat keganasan tinggi serta
prognosis (prediksi) jelek.
Ada lima stadium KUB dengan sifat masing-masing dan kemungkinan bertahan
hidup bagi pasien. Berdasarkan angka statistik AS, kemungkinan hidup lima
tahun atau lebih menjadi 100% bila penyakit masih dalam stadium O. Artinya,
kanker hanya ditemukan pada permukaan dinding usus besar atau rektum.
Harapan hidup lima tahun turun menjadi 75 - 95% bila kanker naik menjadi
stadium 1 di mana kanker hanya terlokalisasi pada dinding usus besar atau
rektum. Dikatakan mencapai stadium 2 bila terdapat anak sebar ke jaringan
sekitarnya tetapi belum ke kelenjar getah bening. Di sini kemungkinan hidup
lima tahun mencapai 50 - 75%.
KUB termasuk stadium 3 kalau telah menyebar ke kelenjar getah bening
terdekat tetapi belum ke organ tubuh lain. Pada stadium ini harapan hidup di
atas lima tahun tinggal 30 - 50%. Harapan hidup kurang dari 10% bila sudah
mencapai stadium 4 di mana kanker sudah menyebar ke organ lain seperti
paru-paru, hati, atau ovarium.
Bedah, kemoterapi, atau radiasi
Bila seseorang terlanjur mengidap kanker kolon, harapannya mudah-mudahan
kanker belum menjalar ke kelenjar getah bening atau ke organ tubuh lain.
Dengan belum menjalarnya pasukan sel ganas, dokter akan lebih mudah
mengendalikannya, entah dengan pembedahan kemoterapi atau radiasi.
Bagaimanapun operasi usus besar merupakan tindakan utama untuk kanker usus (>colorectal
cancer). Tindakan ini berupa pemotongan usus besar yang sakit, dan
menyambungkan kembali dua ujung bagian usus besar yang sehat. Untuk itu
pembukaan perut selalu dilakukan.
Teknik laparoskopi juga dapat digunakan. Prosedur ini, yang merupakan
alternatif baru untuk penangan kanker usus besar, dilakukan dengan melalui
beberapa lubang kecil yang dibuat di beberapa titik di perut. Dengan
alat-alat operasi kecil yang dioperasikan lewat lubang-lubang itu dan
dipantau lewat layar monitor, operasi bisa dilakukan. Teknik ini sangat
mengurangi sayatan pada bagian perut sehingga rasa nyeri dan perdarahan
berkurang, cepat pulih, dan tidak meninggalkan bekas operasi yang berarti.
Namun, teknik ini betul-betul membutuhkan dokter bedah yang sangat ahli.
Penanganan dengan operasi relatif mudah kalau hanya sebagian kecil usus yang
perlu dipotong. Soalnya, bila penyakitnya sudah agak lanjut, penderita harus
menjalani colostomy, usus bagian bawah dipotong. Kotoran terpaksa
disalurkan melalui lubang lain. Biasanya dokter membuatkan lubang (stoma)
pada dinding perutnya. Ujung usus yang sehat dijahit pada lubang di lubang
perut dan ditutup dengan kantung untuk menampung kotoran yang keluar.
Terapi untuk KUB bisa pula menggunakan kemoterapi, yakni pemberian kombinasi
obat yang diberikan selama beberapa minggu atau bulan. Pemilihan kemoterapi
tergantung pada kondisi kesehatan penderita, jenis kanker, dan tingkat
penyebarannya di tubuh penderita. Kemoterapi dapat memperlambat pertumbuhan
kanker, mencegah penyebaran, dan mengurangi gejala yang ditimbulkan oleh
kanker, atau untuk menyingkirkan semua sel kanker dari tubuh. Meskipun
kemoterapi tidak dapat menyembuhkan penderita dari kanker, ia dapat membantu
memperpanjang usia dan memperbaiki kualitas hidupnya.
Kemoterapi dapat digunakan sebelum operasi (disebut neoadjuvant therapy)
untuk memperkecil tumornya, dan terkadang digunakan dalam penyembuhan kanker
rektal (anus). Kemoterapi juga dapat digunakan setelah operasi (disebut adjuvant
therapy) ketika tujuannya untuk mencegah kambuhnya kanker.
Terapi ketiga berupa radiasi, yaitu penembakan sinar energi tinggi ke arah
tumor, untuk memperlambat atau mematikan pertumbuhan tumor. Namun, terapi
ini jarang digunakan untuk KUB, sebaliknya penting untuk kanker rektal.
Dalam beberapa kasus radiasi digunakan untuk memperkecil tumor sebelum
dibuang lewat operasi. Setelah operasi pun, radiasi dapat pula digunakan
untuk merusak sel kanker yang tersisa. Radiasi terhadap tumor rektal setelah
operasi tampaknya merupakan tindakan terbaik bagi kebanyakan penderita
meskipun belum tentu dapat mencegah tindakan operasi.
Ketiga jenis tindakan medis itu tetap meninggalkan efek sampingan. Di
antaranya mual, muntah, demam, infeksi, dan kelelahan. Efek sampingan paling
berbahaya adalah infeksi sebagai akibat menurunnya jumlah sel darah putih,
yang merupakan benteng pertahan tubuh terhadap infeksi. Gejala umumnya
bengkak, nyeri, atau demam (khususnya demam berkepanjangan). Penanganan oleh
dokter perlu segera dilakukan bila gejala-gejala tadi muncul.
Sedangkan mual dan muntah merupakan efek sampingan umum dari radiasi dan
kemoterapi. Kedua gejala itu dapat menjadi indikasi masalah serius.
Karenanya, tak perlu ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter.
Mual bisa diatasi dengan obat antimual. Beberapa upaya lain yang dapat
membantu mengurangi rasa mual yakni beristirahat dalam jumlah cukup, rileks,
dan mencoba mengalihkan perhatian dari penyakit misalnya dengan menonton TV
atau mendengarkan musik, menggunakan pakaian longgar, sering berkumur, serta
menghindari makanan atau bau menyengat. Bila muntahnya terus-menerus,
penderita mesti mendapatkan pertolongan di rumah sakit agar tidak terjadi
dehidrasi.
Vitamin pengikat radikal bebas
Pelbagai pendapat banyak dikemukakan tentang penyebab timbulnya penyakit
ganas ini. Ada yang menyatakan, KUB umumnya diderita orang yang bekerja
sambil duduk seharian, seperti para eksekutif, pegawai administrasi, atau
pengemudi kendaraan umum. Pendapat lain, penyakit ini timbul berdasarkan
garis keturunan ditambah tekanan batin atau stres. Kontak dengan zat-zat
kimia tertentu seperti logam berat, toksin, dan ototoksin serta gelombang
elektromagnetik diduga juga sebagai penyebab penyakit.
Dugaan penyebab terkuat, menurut Bonang, banyak dikaitkan dengan pola makan
sehari-hari, antara lain terlalu banyak daging dan lemak dan tidak diimbangi
buah dan sayuran segar yang banyak mengandung serat.
Zat besi diperkirakan dapat pula memperbesar kemungkinan timbulnya tumor
ganas dalam usus besar. Sumbernya aantara lain pigmen empedu, daging sapi
dan kambing, serta transfusi darah.
Pakar lain menambahkan, lemak jenuh dan asam lemak omega-6 (asam linol) juga
meningkatkan risiko KUB. Makanan mengandung tinggi lemak dan sedikit serat
menyebabkan masa transit lemak panjang, sehingga kontak asam empedu dengan
dinding usus besar lebih lama sehingga asam empedu bersifat pemicu KUB macam
deoxycholid acid serta lithocholic acid akan menumpuk.
Minuman beralkohol, khususnya bir, akan memperbesar pula risiko timbulnya
KUB. Pasalnya, di dalam usus alkohol diubah menjadi asetilaldehida yang
meningkatkan risiko menderita KUB. Bahkan banyak peneliti menyatakan,
obesitas juga bisa meningkatkan risiko KUB.
Untuk mendeteksi dini KUB, setiap orang pada usia 40 tahun ke atas
dianjurkan melakukan pemeriksaan ada tidaknya KUB paling tidak setahun
sekali. Menurut American Cancer Society, pemeriksaan rutin ada tidaknya KUB
dapat meningkatkan kemungkinan hidup sebanyak 55 - 85%, serta mengurangi
angka kematian karena KUB sebanyak 60%.
Sedangkan untuk mencegah timbulnya KUB, disarankan mengkonsumsi cukup banyak
makanan berserat. Tujuannya, untuk memperlancar buang air besar dan
menurunkan derajat keasaman, konsentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi
dalam usus besar.
Serat yang sebagian besar terdiri atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin
kebanyakan tidak dihancurkan oleh enzim dan bakteri dalam saluran cerna.
Makan serat akan banyak menyerap air sehingga tinja dalam usus besar tidak
keras dan bervolume besar. Tinja dengan volume besar dan serat tinggi akan
merangsang saraf pada usus besar bagian bawah, sehingga timbul keinginan
untuk buang air besar. Dengan demikian waktu antara masuknya makanan dan
keluarnya tinja menjadi pendek. Berarti, kontak zat-zat toksin dengan
selaput lendir usus besar tidak berlangsung lama sehingga makanan berserat
ini akan menyerap asam empedu.
Selain makanan berserat, asam lemak omega-3, yang banyak terdapat dalam ikan
tertentu, juga baik untuk mencegah KUB. Demikian juga konsentrasi kalsium
dan vitamin D tinggi dalam makanan. Kalsium dapat membentuk garam-garam yang
tidak dapat larut dengan asam empedu dan asam lemak sehingga mengurangi
pengaruh negatif asam-asam tersebut terhadap usus besar. Kalsium dan vitamin
D mengurangi pembelahan sel usus yang terlalu cepat (stadium awal KUB). Juga
meningkatkan diferensiasi sel-sel usus.
Vitamin A, C, E, dan beta-karotin juga memiliki kemampuan mengikat radikal
bebas sehingga mengurangi akibat negatif radikal itu terhadap dinding usus.
Kuman-kuman usus seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium
juga membantu mengurangsi risiko KUB. Minum susu yang mengandung Lactobacillus
acidophilus juga mengurangi konsentrasi asam empedu dan asitilaldehida.
Yang tak kalah penting, berolahraga. Hasil penelitian di AS menunjukkan,
mereka yang tidak banyak bergerak mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar
terkena KUB. Soalnya, semakin banyak bergerak semakin mudah dan teratur
untuk buang air besar. Selain itu hidup rileks dan kurangi stres! |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||