globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

KURANG OLAHRAGA PENCETUS KANKER USUS

Pola hidup dan makan sehari-hari menjadi faktor penyebab utama kanker usus besar (colon). Kurang berolahraga dan kegemukan menjadi faktor penyerta. Untuk mendeteksi dini penyakit ganas ini, pemeriksaan kesehatan usus secara rutin sangat dianjurkan.

Sudah setengah tahun ini Rachmat mengeluh sering mengalami gangguan perut. Kalau tidak sembelit, ya, diare sampai berhari-hari. Sudah beberapa kali ia berobat ke dokter, tapi sebentar baik tak lama kemudian kambuh. Belakangan malah buang air besarnya bercampur darah. Setelah diperiksa, ternyata ia menderita kanker usus besar (KUB) stadium 2.

Rachmat hanyalah satu dari sekian banyak penderita kanker usus besar (KUB), yang di Indonesia jumlah penderitanya menempati urutan ke-10 (2,75%) setelah kanker lain (leher rahim, payudara, kelenjar getah bening, kulit, nasofaring, ovarium, rektum, jaringan lunak, dan tiroid). Di Eropa dan AS, penderita KUB jauh lebih banyak dibandingkan di Asia. Tahun 1994 saja kira-kira 150.000 orang terkena KUB. Di AS dalam satu tahun rata-rata 56.000 penduduk meninggal akibat penyakit ganas ini.

Gejala utamanya, adanya darah dalam tinja seperti terjadi pada penderita perdarahan lambung, polip usus, atau wasir. Kalau darah dalam tinja masih sangat sedikit memang sulit terlihat dengan mata biasa, sehingga memerlukan tes laboratorium. Namun, bila sering merasakan gangguan lain di perut (diare atau sembelit), kembung, bentuk tinja sangat pipih dibarengi rasa lemas dan lelah, bobot badan turun, ada baiknya segera melakukan pemeriksaan secara saksama.

Tes paling sederhana adalah pemeriksaan rektum dengan jari. Sekitar 10% KUB dapat terdiagnosis melalui tes ini.

Cara lain, dengan pemeriksaan darah dalam tinja. Agar berhasil baik, menurut dr. Gerard Bonang (alm.) dalam sebuah tulisannya, pemeriksaan dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Sehari sebelum tinja diperiksa, sebaiknya banyak makan makanan berserat seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, khususnya yang mentah. Makanan berserat akan merangsang setiap kelainan dalam usus besar sehingga mudah berdarah. Ini akan memberikan hasil pemeriksaan positif. Sehari sebelum pengambilan bahan pemeriksaan sampai dengan hari ketiga, jangan mengkonsumsi daging, aspirin, vitamin C atau tablet zat besi karena zat-zat ini dapat menganggu hasil pemeriksaan.

Sementara pemeriksaan dengan teropong (kolonoskopi) untuk memeriksa kelainan pada dinding usus perlu dilakukan pengosongan usus besar dari tinja. Kira-kira 45% KUB ditemukan di daerah rektum, usus besar sigmoid, dan usus besar desendens. Bila ditemukan polip kecil, dapat langsung dilakukan polipektomi atau biopsi. Hasilnya diperiksa di lab patologi untuk memastikan apakah jaringan mengandung sel kanker atau tidak.

Dulu sebelum ditemukan kolonoskopi, para dokter menggunakan pemeriksaan dengan memasukkan cairan barium ke dalam rektum, kemudian membuat foto rontgen usus besar dalam pelbagai posisi. Hasil pemeriksaan memang tidak sebagus hasil pemeriksaan kolonoskopi. Namun, cara ini masih banyak dilakukan bila penderita tidak bisa diperiksa dengan teropong yang memerlukan pembiusan. Atau bila pihak rumah sakit tidak memiliki kolonoskop.

Melalui pemeriksaan darah di lab juga bisa ditemukan gejala KUB. Caranya dengan menentukan tumor marker CEA(carcino-embryonis antigen) dalam darah. Nilai normal CEA tidak boleh melebihi 5 ng/ml. Bila kadar CEA tetap di bawah 2,5 ng/ml selama 3 - 4 minggu pascaoperasi, dapat dianggap terjadi penyembuhan total. Sebaliknya, kadar di atas 20 ng/ml menunjukkan adanya proses metastase (penyebaran) dan tingkat keganasan tinggi serta prognosis (prediksi) jelek.

Ada lima stadium KUB dengan sifat masing-masing dan kemungkinan bertahan hidup bagi pasien. Berdasarkan angka statistik AS, kemungkinan hidup lima tahun atau lebih menjadi 100% bila penyakit masih dalam stadium O. Artinya, kanker hanya ditemukan pada permukaan dinding usus besar atau rektum.

Harapan hidup lima tahun turun menjadi 75 - 95% bila kanker naik menjadi stadium 1 di mana kanker hanya terlokalisasi pada dinding usus besar atau rektum. Dikatakan mencapai stadium 2 bila terdapat anak sebar ke jaringan sekitarnya tetapi belum ke kelenjar getah bening. Di sini kemungkinan hidup lima tahun mencapai 50 - 75%.

KUB termasuk stadium 3 kalau telah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat tetapi belum ke organ tubuh lain. Pada stadium ini harapan hidup di atas lima tahun tinggal 30 - 50%. Harapan hidup kurang dari 10% bila sudah mencapai stadium 4 di mana kanker sudah menyebar ke organ lain seperti paru-paru, hati, atau ovarium.

Bedah, kemoterapi, atau radiasi

Bila seseorang terlanjur mengidap kanker kolon, harapannya mudah-mudahan kanker belum menjalar ke kelenjar getah bening atau ke organ tubuh lain. Dengan belum menjalarnya pasukan sel ganas, dokter akan lebih mudah mengendalikannya, entah dengan pembedahan kemoterapi atau radiasi.

Bagaimanapun operasi usus besar merupakan tindakan utama untuk kanker usus (>colorectal cancer). Tindakan ini berupa pemotongan usus besar yang sakit, dan menyambungkan kembali dua ujung bagian usus besar yang sehat. Untuk itu pembukaan perut selalu dilakukan.

Teknik laparoskopi juga dapat digunakan. Prosedur ini, yang merupakan alternatif baru untuk penangan kanker usus besar, dilakukan dengan melalui beberapa lubang kecil yang dibuat di beberapa titik di perut. Dengan alat-alat operasi kecil yang dioperasikan lewat lubang-lubang itu dan dipantau lewat layar monitor, operasi bisa dilakukan. Teknik ini sangat mengurangi sayatan pada bagian perut sehingga rasa nyeri dan perdarahan berkurang, cepat pulih, dan tidak meninggalkan bekas operasi yang berarti. Namun, teknik ini betul-betul membutuhkan dokter bedah yang sangat ahli.

Penanganan dengan operasi relatif mudah kalau hanya sebagian kecil usus yang perlu dipotong. Soalnya, bila penyakitnya sudah agak lanjut, penderita harus menjalani colostomy, usus bagian bawah dipotong. Kotoran terpaksa disalurkan melalui lubang lain. Biasanya dokter membuatkan lubang (stoma) pada dinding perutnya. Ujung usus yang sehat dijahit pada lubang di lubang perut dan ditutup dengan kantung untuk menampung kotoran yang keluar.

Terapi untuk KUB bisa pula menggunakan kemoterapi, yakni pemberian kombinasi obat yang diberikan selama beberapa minggu atau bulan. Pemilihan kemoterapi tergantung pada kondisi kesehatan penderita, jenis kanker, dan tingkat penyebarannya di tubuh penderita. Kemoterapi dapat memperlambat pertumbuhan kanker, mencegah penyebaran, dan mengurangi gejala yang ditimbulkan oleh kanker, atau untuk menyingkirkan semua sel kanker dari tubuh. Meskipun kemoterapi tidak dapat menyembuhkan penderita dari kanker, ia dapat membantu memperpanjang usia dan memperbaiki kualitas hidupnya.

Kemoterapi dapat digunakan sebelum operasi (disebut neoadjuvant therapy) untuk memperkecil tumornya, dan terkadang digunakan dalam penyembuhan kanker rektal (anus). Kemoterapi juga dapat digunakan setelah operasi (disebut adjuvant therapy) ketika tujuannya untuk mencegah kambuhnya kanker.

Terapi ketiga berupa radiasi, yaitu penembakan sinar energi tinggi ke arah tumor, untuk memperlambat atau mematikan pertumbuhan tumor. Namun, terapi ini jarang digunakan untuk KUB, sebaliknya penting untuk kanker rektal. Dalam beberapa kasus radiasi digunakan untuk memperkecil tumor sebelum dibuang lewat operasi. Setelah operasi pun, radiasi dapat pula digunakan untuk merusak sel kanker yang tersisa. Radiasi terhadap tumor rektal setelah operasi tampaknya merupakan tindakan terbaik bagi kebanyakan penderita meskipun belum tentu dapat mencegah tindakan operasi.

Ketiga jenis tindakan medis itu tetap meninggalkan efek sampingan. Di antaranya mual, muntah, demam, infeksi, dan kelelahan. Efek sampingan paling berbahaya adalah infeksi sebagai akibat menurunnya jumlah sel darah putih, yang merupakan benteng pertahan tubuh terhadap infeksi. Gejala umumnya bengkak, nyeri, atau demam (khususnya demam berkepanjangan). Penanganan oleh dokter perlu segera dilakukan bila gejala-gejala tadi muncul.

Sedangkan mual dan muntah merupakan efek sampingan umum dari radiasi dan kemoterapi. Kedua gejala itu dapat menjadi indikasi masalah serius. Karenanya, tak perlu ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter.

Mual bisa diatasi dengan obat antimual. Beberapa upaya lain yang dapat membantu mengurangi rasa mual yakni beristirahat dalam jumlah cukup, rileks, dan mencoba mengalihkan perhatian dari penyakit misalnya dengan menonton TV atau mendengarkan musik, menggunakan pakaian longgar, sering berkumur, serta menghindari makanan atau bau menyengat. Bila muntahnya terus-menerus, penderita mesti mendapatkan pertolongan di rumah sakit agar tidak terjadi dehidrasi.

Vitamin pengikat radikal bebas

Pelbagai pendapat banyak dikemukakan tentang penyebab timbulnya penyakit ganas ini. Ada yang menyatakan, KUB umumnya diderita orang yang bekerja sambil duduk seharian, seperti para eksekutif, pegawai administrasi, atau pengemudi kendaraan umum. Pendapat lain, penyakit ini timbul berdasarkan garis keturunan ditambah tekanan batin atau stres. Kontak dengan zat-zat kimia tertentu seperti logam berat, toksin, dan ototoksin serta gelombang elektromagnetik diduga juga sebagai penyebab penyakit.

Dugaan penyebab terkuat, menurut Bonang, banyak dikaitkan dengan pola makan sehari-hari, antara lain terlalu banyak daging dan lemak dan tidak diimbangi buah dan sayuran segar yang banyak mengandung serat.

Zat besi diperkirakan dapat pula memperbesar kemungkinan timbulnya tumor ganas dalam usus besar. Sumbernya aantara lain pigmen empedu, daging sapi dan kambing, serta transfusi darah.

Pakar lain menambahkan, lemak jenuh dan asam lemak omega-6 (asam linol) juga meningkatkan risiko KUB. Makanan mengandung tinggi lemak dan sedikit serat menyebabkan masa transit lemak panjang, sehingga kontak asam empedu dengan dinding usus besar lebih lama sehingga asam empedu bersifat pemicu KUB macam deoxycholid acid serta lithocholic acid akan menumpuk.

Minuman beralkohol, khususnya bir, akan memperbesar pula risiko timbulnya KUB. Pasalnya, di dalam usus alkohol diubah menjadi asetilaldehida yang meningkatkan risiko menderita KUB. Bahkan banyak peneliti menyatakan, obesitas juga bisa meningkatkan risiko KUB.

Untuk mendeteksi dini KUB, setiap orang pada usia 40 tahun ke atas dianjurkan melakukan pemeriksaan ada tidaknya KUB paling tidak setahun sekali. Menurut American Cancer Society, pemeriksaan rutin ada tidaknya KUB dapat meningkatkan kemungkinan hidup sebanyak 55 - 85%, serta mengurangi angka kematian karena KUB sebanyak 60%.

Sedangkan untuk mencegah timbulnya KUB, disarankan mengkonsumsi cukup banyak makanan berserat. Tujuannya, untuk memperlancar buang air besar dan menurunkan derajat keasaman, konsentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi dalam usus besar.

Serat yang sebagian besar terdiri atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin kebanyakan tidak dihancurkan oleh enzim dan bakteri dalam saluran cerna. Makan serat akan banyak menyerap air sehingga tinja dalam usus besar tidak keras dan bervolume besar. Tinja dengan volume besar dan serat tinggi akan merangsang saraf pada usus besar bagian bawah, sehingga timbul keinginan untuk buang air besar. Dengan demikian waktu antara masuknya makanan dan keluarnya tinja menjadi pendek. Berarti, kontak zat-zat toksin dengan selaput lendir usus besar tidak berlangsung lama sehingga makanan berserat ini akan menyerap asam empedu.

Selain makanan berserat, asam lemak omega-3, yang banyak terdapat dalam ikan tertentu, juga baik untuk mencegah KUB. Demikian juga konsentrasi kalsium dan vitamin D tinggi dalam makanan. Kalsium dapat membentuk garam-garam yang tidak dapat larut dengan asam empedu dan asam lemak sehingga mengurangi pengaruh negatif asam-asam tersebut terhadap usus besar. Kalsium dan vitamin D mengurangi pembelahan sel usus yang terlalu cepat (stadium awal KUB). Juga meningkatkan diferensiasi sel-sel usus.

Vitamin A, C, E, dan beta-karotin juga memiliki kemampuan mengikat radikal bebas sehingga mengurangi akibat negatif radikal itu terhadap dinding usus. Kuman-kuman usus seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium juga membantu mengurangsi risiko KUB. Minum susu yang mengandung Lactobacillus acidophilus juga mengurangi konsentrasi asam empedu dan asitilaldehida.

Yang tak kalah penting, berolahraga. Hasil penelitian di AS menunjukkan, mereka yang tidak banyak bergerak mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar terkena KUB. Soalnya, semakin banyak bergerak semakin mudah dan teratur untuk buang air besar. Selain itu hidup rileks dan kurangi stres! (Nn/Gde)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej