|
|
Bulan Desember 2000
|
|
Mengendalikan
Tinja dengan Mikroba
Alam menyediakan beragam makhluk pengurai limbah. Beberapa di antaranya
diisolasi dan dimanfaatkan guna keperluan memangsa limbah manusia sehingga
WC tak pelu disedot. Cara ini terbilang praktis dan cespleng.
Selama tiga hari segala cara dicoba. Mulai dari menggelontor dengan air,
memberi garam, sampai memasukkan soda api (natrium hidroksida). Ketika usaha
ini tak mempan, mereka berpaling pada mikroba pengurai. Ajaib! Organisme
superkecil ini memangsa tinja sehingga lambat-laun padatan tinja menyusut
atau ludes sama sekali.
Lewat koran atau brosur-brosur yang disebar, mikroba ini banyak ditawarkan.
(Harganya berkisar Rp 30.000,--an.) Salah satu brosur menyebutkan, serbuk
mikroba pengurai limbah organik yang berujud seperti tanah humus ini berasal
dari rerumputan dan tanah hutan Indonesia.
Ia bekerja bak ikan, rakus memakan dan menguraikan tinja menjadi zat-zat
yang lebih sederhana. Walhasil, yang tinggal cuma cairan yang mudah diserap
oleh tanah resapan. Bau menyengat pun lenyap.
Takarannya cukup 1 kg untuk 1 - 2 m3 volume septic tank.
Caranya mudah, taburkan saja bubuk mikroba itu langsung ke dalam septic
tank atau lewat kloset sedikit demi sedikit. Dapat pula dengan
mencampurkan air pada 1 - 2 ember air sebelum digunakan. Untuk pemeliharaan,
ada produk yang menyarankan untuk memberikan lagi dengan takaran sama antara
3 - 6 bulan sekali. Sayang, produsen menyembunyikan spesies mikroba yang
terkandung di dalamnya. Mereka hanya mencantumkan bahan aktif seperti StarBiO-plus
atau Bio\H+ (Hijau).
Hidup di mana-mana
Mikroba sebenarnya nama untuk menyebut makhluk-makhluk kecil semacam
bakteri, jamur, ataupun ganggang. Makhluk ini berukuran 0,0001 - 0,01 cm.
Tubuh manusia, misalnya, menjadi lahan subur bagi jutaan mikroba. Dari lidah
sampai gigi saja bisa didapati ribuan makhluk mini itu. Mulai dari bakteri,
jamur, sampai virus.
Mau contoh lain, ambil segenggam tanah di halaman. Anda akan bisa
mengidentifikasi ratusan atau ribuan macam mikroba. Sejumput tanah dalam
satu sendok teh berisi lebih dari 1 miliar bakteri, kira-kira 120.000 jamur,
dan 25.000 jenis ganggang.
Mikroba telah ada sejak jutaan tahun lalu karena mereka mampu beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan. Ia berada di mana-mana, dalam lingkungan
ekstrem sekalipun.
Sebagai misal, para ilmuwan menemukan mikroba yang hidup di sumber air panas
di Taman Nasional Yellowstone, AS. Mikroba ini memangsa gas hidrogen dan
sulfur dan bernapas dengan mengeluarkan hidrogen sulfida, gas yang berbau
seperti telur busuk. Mikroba lain hidup di retakan tanah vulkanik di bawah
palung laut yang sangat dalam. Di tempat seperti itu tak ada sinar. Air yang
ada dipenuhi dengan arsenik, sulfur, dan zat-zat kimia lain yang sangat
beracun. Bahkan para ilmuwan percaya bakteri mungkin hidup di planet Mars.
Lingkungan kehidupan mikroba yang beragam ini rupanya dimanfaatkan oleh para
ahli untuk memproduksi mikroba pemangsa limbah tinja. Di alam memang ada
jenis-jenis mikroba pemakan limbah. Baginya limbah yang berupa tinja justru
merupakan sumber makanan favoritnya. Dengan tersedianya makanan itu mikroba
bakal berkembang biak dengan cepat sampai persediaan makanan habis. Dalam
hal limbah tinja bakteri akan memangsa tinja sampai volumenya mengecil.
Melenyapkan bau
Secara kimiawi di dalam tinja terdapat sisa-sisa karbohidrat, protein,
lemak, dan senyawa-senyawa lain. Nah, senyawa-senyawa inilah yang diurai
oleh sepasukan mikroba itu.
Bagi mikroba pengurai limbah tinja dipakai sebagai sumber tenaga dan
perkembangbiakan. Sementara itu sisa zat berupa CO2 (karbon
dioksida) dan O2 (oksigen) dibuang ke udara bebas.
Menurut Markus G. Subiyakto, alumnus jurusan kimia FMIPA UI, di dalam bahan
pemangsa limbah itu terdapat mikroorganisme anaerob dan aerob.
Mikroorganisme anaerob adalah mikroorganisme yang tidak memerlukan oksigen
pada proses metabolisme. Sebaliknya, mikroorganisme aerob memerlukan
oksigen.
Kombinasi dua sifat mikroba inilah yang berfungsi menguraikan sisa-sisa
protein, karbohidrat, lemak, dan nitrogen organik. Protein dan senyawa
nitrogen organik diurai oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme
menjadi asam amino, amonia, nitrogen, hidrogen sulfida, metana, karbon
dioksida, hidrogen, alkohol, asam organik dalam kondisi anaerobik. Sementara
pada kondisi aerobik protein dan nitrogen organik diubah menjadi asam amino,
nitrat, asam sulfur. Sedang alkohol dan asam organik diubah menjadi CO2
dan H2O (air).
Dalam hal karbohidrat, maka akan diubah menjadi CO2, hidrogen,
alkohol, asam lemak, dan senyawa-senyawa netral dalam keadaan tanpa udara.
Dalam kondisi aerobik alkohol dan asam lemak itu diurai lagi menjadi CO2
dan H2O.
Sementara lemak diurai menjadi asam lemak dan gliserol, CO2,
hidrogen, alkohol, asam lemak rantai pendek dalam kondisi anaerobik.
Sebaliknya, dalam kondisi ada udara diperoleh hasil akhir alkohol dan asam
lemak yang terurai lebih lanjut menjadi CO2 dan H2O.
Karena kita juga suka mengkonsumsi kangkung, misalnya, maka dalam tinja juga
sering dijumpai selulosa, glukosa rantai panjang pembentuk karbohidrat.
Selulosa tidak bisa diurai karena tubuh kita tak punya enzim selulase
yang bertugas menguraikan selulosa. Selulosa banyak terdapat dalam
bahan-bahan organik pada tanaman. Bahan ini menjadi sasaran empuk bagi
banyak jenis bakteri dan jamur di dalam tanah. Mikroorganisme ini mula-mula
mengeluarkan enzim selulase untuk memecah selulosa menjadi molekul selobiose,
disakarida yang berisi dua unit glukosa.
Oleh enzim beta-glucosidase, selobiose dipecah menjadi
glukosa. Oleh mikroorganisme glukosa dimetabolisme. Sebagian dipakai untuk
pertumbuhan, sisanya dibuang berupa CO2 dan H20.
Bagaimana dengan bau? Bisakah dihilangkan? "Bau yang berasal dari air
seni dan tinja sebenarnya adalah amonia. Amonia ini akan diubah menjadi
nitrat oleh proses yang dinamakan nitrifikasi," jelas Markus.
Nitrifikasi berjalan melalui dua tahap, dan setiap tahap melibatkan bakteri
yang berbeda. Pada tahap pertama terjadi oksidasi amonia menjadi nitrit oleh
amonia oxidizing bacteria dengan hasil akhirnya adalah ion hidrogen
dan ion nitrit. Oleh nitrite oxidizing bacteria ion hidrogen dan ion
nitrit ini dipecah menjadi ion nitrat.
Kedua bakteri itu hidup di tanah, air buangan, atau lingkungan berair.
Sayangnya, bakteri ini tak mudah diisolasi di laboratorium. Mereka lambat
berkembang biak dan dijumpai dalam jumlah terbatas di tanah. Untuk itu, para
mikrobiolog menggunakan teknik pengayaan sebelum mengembangbiakkan dalam
medium tumbuh.
Desain septic tank
Sebagai makhluk hidup yang butuh penyesuaian diri, mikroorganisme tak
langsung efektif memangsa limbah segera setelah dimasukkan ke dalam septic
tank. Rupanya, setelah "terjebak" di tanah di dalam kemasan
plastik ia mengalami tidur panjang. Untuk membangunkannya ia butuh kondisi
yang nyaman. Karena itu, saat hendak digunakan, disarankan untuk mendiamkan
semalaman. Artinya, WC dibiarkan tanpa aktivitas. Ada baiknya bak penampung
tinja juga tidak tercemari oleh cairan kimia pembersih seperti karbol, lysol,
atau bahan pembersih yang bisa menghambat kerja mikroba.
Cepat tidaknya proses penguraian tinja sangat tergantung pada banyak
tidaknya mikroba yang ada. Dalam jumlah kecil tentu volume limbah yang
dimangsa juga sedikit. Sedangkan dalam jumlah besar volume limbah yang
dimakan pun bakal bertambah.
Prinsipnya, selama makanan masih tersedia, mikroba akan beranakpinak
sehingga semakin lama volume limbah yang dilalap pun meningkat. Jadi,
sebenarnya tak soal memasukkan mikroba dalam jumlah kecil asal kecepatan
penguraiannya masih lebih tinggi daripada kecepatan pengisian limbah tinja
ke dalam septic tank.
Selain dengan memanfaatkan mikroba, desain septic tank yang baik
sangat membantu proses penguraian limbah. Soalnya, septic tank
sebenarnya mempunyai dua tujuan utama yaitu pengendapan bahan padat dan
penguraian biologi pada padatan itu. Oleh karenanya, septic tank
sebaiknya mempunyai dua instalasi, yaitu bak penampung dan instalasi
resapan.
Struktur instalasi resapan disarankan untuk tidak disemen. Semen bisa
diganti dengan bahan-bahan yang memudahkan penyerapan, misal campuran pasir,
batu karang, ijuk, dan tanah. Alhasil, penggunaan mikroba dibarengi dengan
desain septic tank yang benar dijamin bakal membuat WC tak cepat
penuh. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||