globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Desember 2000

Selamat Hari Natal 2000, Selamat Hari Idul Fitri 1421 H dan Selamat Tahun Baru 2001

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Mengendalikan Tinja dengan Mikroba 

Alam menyediakan beragam makhluk pengurai limbah. Beberapa di antaranya diisolasi dan dimanfaatkan guna keperluan memangsa limbah manusia sehingga WC tak pelu disedot. Cara ini terbilang praktis dan cespleng.

Pusing! Itulah yang dialami oleh sebuah keluarga di bilangan Depok, Bogor, gara-gara WC-nya penuh! Betapa repotnya. Lubang kloset pun mampet dan bau tak sedap menghambur ke mana-mana tanpa bisa dicegah. Padahal baru dua tahun septic tank-nya dikuras, dengan biaya sedot WC sekitar Rp 60.000,-.

Selama tiga hari segala cara dicoba. Mulai dari menggelontor dengan air, memberi garam, sampai memasukkan soda api (natrium hidroksida). Ketika usaha ini tak mempan, mereka berpaling pada mikroba pengurai. Ajaib! Organisme superkecil ini memangsa tinja sehingga lambat-laun padatan tinja menyusut atau ludes sama sekali.

Lewat koran atau brosur-brosur yang disebar, mikroba ini banyak ditawarkan. (Harganya berkisar Rp 30.000,--an.) Salah satu brosur menyebutkan, serbuk mikroba pengurai limbah organik yang berujud seperti tanah humus ini berasal dari rerumputan dan tanah hutan Indonesia.

Ia bekerja bak ikan, rakus memakan dan menguraikan tinja menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Walhasil, yang tinggal cuma cairan yang mudah diserap oleh tanah resapan. Bau menyengat pun lenyap.

Takarannya cukup 1 kg untuk 1 - 2 m3 volume septic tank. Caranya mudah, taburkan saja bubuk mikroba itu langsung ke dalam septic tank atau lewat kloset sedikit demi sedikit. Dapat pula dengan mencampurkan air pada 1 - 2 ember air sebelum digunakan. Untuk pemeliharaan, ada produk yang menyarankan untuk memberikan lagi dengan takaran sama antara 3 - 6 bulan sekali. Sayang, produsen menyembunyikan spesies mikroba yang terkandung di dalamnya. Mereka hanya mencantumkan bahan aktif seperti StarBiO-plus atau Bio\H+ (Hijau).

Hidup di mana-mana

Mikroba sebenarnya nama untuk menyebut makhluk-makhluk kecil semacam bakteri, jamur, ataupun ganggang. Makhluk ini berukuran 0,0001 - 0,01 cm. Tubuh manusia, misalnya, menjadi lahan subur bagi jutaan mikroba. Dari lidah sampai gigi saja bisa didapati ribuan makhluk mini itu. Mulai dari bakteri, jamur, sampai virus.

Mau contoh lain, ambil segenggam tanah di halaman. Anda akan bisa mengidentifikasi ratusan atau ribuan macam mikroba. Sejumput tanah dalam satu sendok teh berisi lebih dari 1 miliar bakteri, kira-kira 120.000 jamur, dan 25.000 jenis ganggang.

Mikroba telah ada sejak jutaan tahun lalu karena mereka mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Ia berada di mana-mana, dalam lingkungan ekstrem sekalipun.

Sebagai misal, para ilmuwan menemukan mikroba yang hidup di sumber air panas di Taman Nasional Yellowstone, AS. Mikroba ini memangsa gas hidrogen dan sulfur dan bernapas dengan mengeluarkan hidrogen sulfida, gas yang berbau seperti telur busuk. Mikroba lain hidup di retakan tanah vulkanik di bawah palung laut yang sangat dalam. Di tempat seperti itu tak ada sinar. Air yang ada dipenuhi dengan arsenik, sulfur, dan zat-zat kimia lain yang sangat beracun. Bahkan para ilmuwan percaya bakteri mungkin hidup di planet Mars.

Lingkungan kehidupan mikroba yang beragam ini rupanya dimanfaatkan oleh para ahli untuk memproduksi mikroba pemangsa limbah tinja. Di alam memang ada jenis-jenis mikroba pemakan limbah. Baginya limbah yang berupa tinja justru merupakan sumber makanan favoritnya. Dengan tersedianya makanan itu mikroba bakal berkembang biak dengan cepat sampai persediaan makanan habis. Dalam hal limbah tinja bakteri akan memangsa tinja sampai volumenya mengecil.

Melenyapkan bau

Secara kimiawi di dalam tinja terdapat sisa-sisa karbohidrat, protein, lemak, dan senyawa-senyawa lain. Nah, senyawa-senyawa inilah yang diurai oleh sepasukan mikroba itu.

Bagi mikroba pengurai limbah tinja dipakai sebagai sumber tenaga dan perkembangbiakan. Sementara itu sisa zat berupa CO2 (karbon dioksida) dan O2 (oksigen) dibuang ke udara bebas.

Menurut Markus G. Subiyakto, alumnus jurusan kimia FMIPA UI, di dalam bahan pemangsa limbah itu terdapat mikroorganisme anaerob dan aerob. Mikroorganisme anaerob adalah mikroorganisme yang tidak memerlukan oksigen pada proses metabolisme. Sebaliknya, mikroorganisme aerob memerlukan oksigen.

Kombinasi dua sifat mikroba inilah yang berfungsi menguraikan sisa-sisa protein, karbohidrat, lemak, dan nitrogen organik. Protein dan senyawa nitrogen organik diurai oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme menjadi asam amino, amonia, nitrogen, hidrogen sulfida, metana, karbon dioksida, hidrogen, alkohol, asam organik dalam kondisi anaerobik. Sementara pada kondisi aerobik protein dan nitrogen organik diubah menjadi asam amino, nitrat, asam sulfur. Sedang alkohol dan asam organik diubah menjadi CO2 dan H2O (air).

Dalam hal karbohidrat, maka akan diubah menjadi CO2, hidrogen, alkohol, asam lemak, dan senyawa-senyawa netral dalam keadaan tanpa udara. Dalam kondisi aerobik alkohol dan asam lemak itu diurai lagi menjadi CO2 dan H2O.

Sementara lemak diurai menjadi asam lemak dan gliserol, CO2, hidrogen, alkohol, asam lemak rantai pendek dalam kondisi anaerobik. Sebaliknya, dalam kondisi ada udara diperoleh hasil akhir alkohol dan asam lemak yang terurai lebih lanjut menjadi CO2 dan H2O.

Karena kita juga suka mengkonsumsi kangkung, misalnya, maka dalam tinja juga sering dijumpai selulosa, glukosa rantai panjang pembentuk karbohidrat. Selulosa tidak bisa diurai karena tubuh kita tak punya enzim selulase yang bertugas menguraikan selulosa. Selulosa banyak terdapat dalam bahan-bahan organik pada tanaman. Bahan ini menjadi sasaran empuk bagi banyak jenis bakteri dan jamur di dalam tanah. Mikroorganisme ini mula-mula mengeluarkan enzim selulase untuk memecah selulosa menjadi molekul selobiose, disakarida yang berisi dua unit glukosa.

Oleh enzim beta-glucosidase, selobiose dipecah menjadi glukosa. Oleh mikroorganisme glukosa dimetabolisme. Sebagian dipakai untuk pertumbuhan, sisanya dibuang berupa CO2 dan H20.

Bagaimana dengan bau? Bisakah dihilangkan? "Bau yang berasal dari air seni dan tinja sebenarnya adalah amonia. Amonia ini akan diubah menjadi nitrat oleh proses yang dinamakan nitrifikasi," jelas Markus.

Nitrifikasi berjalan melalui dua tahap, dan setiap tahap melibatkan bakteri yang berbeda. Pada tahap pertama terjadi oksidasi amonia menjadi nitrit oleh amonia oxidizing bacteria dengan hasil akhirnya adalah ion hidrogen dan ion nitrit. Oleh nitrite oxidizing bacteria ion hidrogen dan ion nitrit ini dipecah menjadi ion nitrat.

Kedua bakteri itu hidup di tanah, air buangan, atau lingkungan berair. Sayangnya, bakteri ini tak mudah diisolasi di laboratorium. Mereka lambat berkembang biak dan dijumpai dalam jumlah terbatas di tanah. Untuk itu, para mikrobiolog menggunakan teknik pengayaan sebelum mengembangbiakkan dalam medium tumbuh.

Desain septic tank

Sebagai makhluk hidup yang butuh penyesuaian diri, mikroorganisme tak langsung efektif memangsa limbah segera setelah dimasukkan ke dalam septic tank. Rupanya, setelah "terjebak" di tanah di dalam kemasan plastik ia mengalami tidur panjang. Untuk membangunkannya ia butuh kondisi yang nyaman. Karena itu, saat hendak digunakan, disarankan untuk mendiamkan semalaman. Artinya, WC dibiarkan tanpa aktivitas. Ada baiknya bak penampung tinja juga tidak tercemari oleh cairan kimia pembersih seperti karbol, lysol, atau bahan pembersih yang bisa menghambat kerja mikroba.

Cepat tidaknya proses penguraian tinja sangat tergantung pada banyak tidaknya mikroba yang ada. Dalam jumlah kecil tentu volume limbah yang dimangsa juga sedikit. Sedangkan dalam jumlah besar volume limbah yang dimakan pun bakal bertambah.

Prinsipnya, selama makanan masih tersedia, mikroba akan beranakpinak sehingga semakin lama volume limbah yang dilalap pun meningkat. Jadi, sebenarnya tak soal memasukkan mikroba dalam jumlah kecil asal kecepatan penguraiannya masih lebih tinggi daripada kecepatan pengisian limbah tinja ke dalam septic tank.

Selain dengan memanfaatkan mikroba, desain septic tank yang baik sangat membantu proses penguraian limbah. Soalnya, septic tank sebenarnya mempunyai dua tujuan utama yaitu pengendapan bahan padat dan penguraian biologi pada padatan itu. Oleh karenanya, septic tank sebaiknya mempunyai dua instalasi, yaitu bak penampung dan instalasi resapan.

Struktur instalasi resapan disarankan untuk tidak disemen. Semen bisa diganti dengan bahan-bahan yang memudahkan penyerapan, misal campuran pasir, batu karang, ijuk, dan tanah. Alhasil, penggunaan mikroba dibarengi dengan desain septic tank yang benar dijamin bakal membuat WC tak cepat penuh. (G. Sujayanto)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej