|
|
Bulan Desember 2000
|
|
YAP THIAM HIEN: CONTOH POTRET KONSISTENSI Adakah pengacara yang selalu mengawali konsultasi dengan calon kliennya dengan, "Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena pasti kita akan kalah. Tapi jika Saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, maka saya mau menjadi pembela Saudara"? Itulah Yap Thiam Hien. Pengacara ulung yang pernah menggetarkan hati lawan maupun kawan dengan komitmennya yang tak kenal kompromi pada keadilan. Pada gilirannya komitmen itu terekspresikan dalam pembelaan hak kaum tertindas. Bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia 8 Desember, kami ajak Anda lebih mengenalnya, tak cuma aumannya di sidang pengadilan, tapi sosoknya yang manusiawi.
Sore itu, sepulang dari kantor, Yap Thiam Hien
istirahat sebentar. Hanya saja, kali ini istirahatnya membuahkan mimpi yang
agak di luar kebiasaan. "Tahu enggak, saya mimpi ditunjuk untuk membela
Omar Dani (mantan Menteri Panglima Angkatan Udara yang dituduh terlibat
gerakan G30S/PKI - Red.)," tuturnya. Tan Gien Khing-Nio, sang
istri yang asal Semarang itu, bisa merasakan kegamangan yang dirasakan
suaminya.
Mimpi seolah menjadi nyata, ketika saat itu juga terdengar suara kendaraan
berhenti di depan rumah mereka di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Khing
melongok keluar. Sebuah jip militer besar, bertuliskan "Mahmilub"!
Di masa awal Orde Baru itu, Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) sangat
besar peran dan kekuasaannya dalam mengusut kasus-kasus G30S. Tak ada yang
tidak dag-dig-dug melihat kendaraan Mahmilub berhenti di rumahnya.
Khing membuka pintu sementara di dalam benak menghunjam kegetiran bercampur
kekhawatiran. Trauma penangkapan suaminya oleh Pasukan Kalong di awal 1966
belum hilang dari ingatan.
"Lo, ada apa to, Pak?" tanyanya tak tahan lagi sambil
mempersilakan tiga orang petugas duduk.
Salah seorang perwira menjawab, "Jangan takut ... Tak ada apa-apa kok.
Hanya ada kabar sedikit."
"Ndak diangkat, Pak?"
"Tidak," perwira itu menjawab dengan hormat sekali.
Toh itu belum mengusir kegelisahannya. Untunglah, kekhawatirannya tak
terjadi. Perwira tadi menyampaikan kabarnya,
"Kami kemari membawa perintah Mahmilub yang menunjuk Pak Yap untuk
membela Soebandrio." Soebandrio adalah mantan wakil perdana menteri
pertama merangkap menlu yang dituduh salah satu tokoh utama G30S/PKI. Di
masa itu, tak ada hari tanpa caci maki, "Soebandrio Durna! Harus mati!
Bunuh!", dst.
Khing dapat melihat suaminya sedikit nervous, tapi perasaan itu
tampak dapat ditekannya. Yap hanya menjawab, "Kalau begitu yang
diperintahkan oleh Pemerintah, saya tidak ada jalan lain kecuali
menerimanya."
Yap menyadari betul konsekuensi tugas itu. Istrinya tak kurang khawatir,
sampai ia melarang suaminya keluar setiap kali ada tamu mengetuk pintu. Ia
khawatir suaminya ditembak orang yang tak senang hati ia membela Soebandrio.
Khing pun dapat merasakan, suaminya mulai dijauhi kolega.
Pacaran lewat surat
Sebulan lebih ia bekerja. Pagi berangkat, makan siang pulang, lalu pergi
bekerja lagi dan baru kembali sekitar pukul 21.00. Namun di mata istrinya,
perilaku Yap tetap tenang, seperti tak ada beban berat. Dalam kenangan Adnan
Buyung Nasution seperti diungkapkan Matra, edisi Maret 1999, saat itu
Yap tampil amat mengesankan, karena mutu ilmu hukumnya yang tinggi dan
kegigihannya mempertahankan hak-hak terdakwa. Orang tak menyangka kalau
untuk kerja yang penuh dedikasi itu tak ada honor sepeser pun diterimanya
dari pemerintah.
Persoalan materi sejak awal tidak menjadi daya tarik utama bekas guru ini.
Lahir dari keluarga Yap Sin Eng di Banda Aceh, 25 Mei 1913, pria yang
panggilan akrabnya John ini sulung dari tiga bersaudara, Thiam Hien, Thiam
Bong, dan Thiam Lian. Kakeknya, seperti diungkapkan dalam Apa dan Siapa
Sejumlah Orang Indonesia 1985 – 1986 dulu "Kapten" (salah
satu level pemimpin) untuk masyarakat Tionghoa di zamannya. Sehingga ia bisa
mengecap pendidikan dasar yang elite.
Setamat Hollandsch Chineese Kweekschool, kondisi keuangan keluarga sudah tak
mendukung lagi. Sempat juga ia mengajar sambil mencari order telepon, sampai
kemudian ia tertarik masuk sekolah hukum yang baru saja dibuka di Jakarta.
Kira-kira pada masa itu pemuda Yap berkenalan dengan pemudi Khing yang juga
tamatan Kweekschool. Suatu hari di tahun 1945, sepupu Khing menikah dengan
Thiam Lian. Khing masih ingat benar,
"John dan Bong itu sangat populer, kakak saya bilang. Lalu teman-teman
juga menyambung, 'Nanti gua kenalin sama mereka.'" Tapi waktu
saya diperkenalkan dengan mereka, kesan saya kok niets aan, enggak
ah."
Hanya saja dengan heran gadis ini menyadari, sejak itu dalam pesta-pesta
keluarga, kenapa Yap selalu ada? Perang berakhir, kondisi serba tidak
menentu, termasuk studi hukum Yap. Kebetulan ada kapal yang siap ke Belanda
untuk mengangkut orang-orang Belanda pulang gratis, asal siap menjadi
asisten anak buah kapal (ABK) bagian kebersihan. Menjadi tukang pel di
kapal, bukan masyaalaah, Yap nekat ikut. Di Belanda, dengan bantuan
beasiswa dari gereja di sana, ia lanjutkan studi hukum yang sempat
terkatung-katung itu.
Pucuk demi pucuk surat berperangko Kerajaan Belanda terus berdatangan ke
meja Khing; lambat tapi pasti luruh juga hatinya. Dari kisah yang
"mulanya biasa saja", tibalah sepucuk surat berbunyi, "Saya
ingin melamarmu secara resmi." Kepada ayahanda Khing di Semarang Yap
melayangkan surat lamaran. Singkat cerita, tahun 1947 surat perkawinan
ditandatangani dan saat bertunangan, Khing "bersanding" dengan
ayah mertuanya sebagai wali calon suaminya.
Lulus sebagai meester in de rechten, Yap masih harus menghadiri
pelbagai konferensi pemuda gereja di Oslo, Swis, dan Inggris. Baru dua tahun
kemudian ia pulang, langsung bekerja sebagai pemimpin organisasi kepemudaan
di gereja. Tahun berikutnya karir hukumnya diawali dengan bekerja di kantor
pengacara John Karwin, Mokhtar Kusumaatmaja dan Komar. Sudah tentu,
pernikahan mereka perlu diresmikan di tengah handai taulan, cukup sederhana,
di sebuah restoran di Jl. Sabang, Jakarta. Seratusan tamu disuguhi teh dan
kue saja.
Merasakan bui sampai dua kali
Kehidupan mereka masih berlanjut sederhana. Makan cukup rantangan. Tidak
pernah bepergian kecuali ke gereja. Khing tetap bekerja sebagai tenaga
administrasi di Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. Untuk
memperbaiki taraf penghidupan, Yap kemudian menerima ajakan bergabung dengan
perusahaan Tan Po Goan (mantan menteri dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946 dan
anggota parlemen).
Sebagai rekanan termuda, penghasilan Yap dari firma hukum itu tentu masih
cukup kecil sehingga masalah keuangan terus menghantui. Sementara itu Khing
berhenti bekerja begitu mereka memperoleh momongan, Hong Gie, lahir tahun
1952, disusul Hong Ay, lima tahun kemudian. Baru sekitar 20 tahunan lagi,
keadaan keuangan mereka membaik, saat Yap menyadari betul pentingnya nafkah
hidup untuk menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri.
Dalam tataran profesi, reputasinya sebagai pengacara yang tak banyak
basa-basi semakin terbentuk. Ketika masih bergabung dengan kantor pengacara
Tan Po Goan, di tahun 1950-an, dalam posisi membela beberapa orang Pasar
Senen yang kena gusur seorang kaya pemilik gedung, Yap menyerang pribadi
advokat lawannya dengan mengatakan, "Bagaimana bisa Anda membantu
seorang kaya menentang orang miskin?" Serangan pribadi macam itu tentu
melanggar etika antarkolega di sidang pengadilan.
Oleh Majalah Tempo edisi 16 Januari 2000, ia bahkan dijuluki advokat
kepala batu; keras dan teguh membela kebenaran, yang selalu dilihatnya
hitam-putih.
Salah satu buah kerepotan akibat sikapnya itu ya sekitar tahun baru 1966,
saat subuh rumahnya digedor pasukan berseragam hitam yang mengambil Yap
begitu saja. Ia sempat menginap di hotel prodeo selama sekitar lima hari,
atas tuduhan terlibat Gestapu karena pernah jadi anggota Baperki (Badan
Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), sebuah ormas yang dicap
"kiri".
Yap memang pernah menduduki jabatan wakil ketua, namun sejak sebelum 1960
tak aktif lagi di Baperki karena tak cocok pandangan dengan ketuanya, Siauw
Giok Tjhan, seperti dikisahkan dalam Siauw Giok Tjhan (Hasta Mitra,
1999). Sementara di sisi lain Hong Gie (48) meyakini, penahanan ayahnya itu
lebih berkaitan dengan pembelaannya dalam sebuah kasus cek kosong, di mana
kliennya diperas oleh seorang jaksa tinggi. Belakangan sang jaksa tinggi
mengadukannya ke pengadilan, sehingga pada 1968 Yap divonis satu tahun
penjara oleh Pengadilan Istimewa Jakarta. Hanya saja, meski lewat proses
banding bertahun-tahun, akhirnya ia divonis bebas. Menurut Hong Gie, untuk
kasus ini ayahnya tidak pernah sampai ditahan.
Belum lagi riwayatnya berkaitan dengan peristiwa Malari, 1974. Dianggap
sebagai salah satu "cendekiawan provokator" peristiwa itu, ia
masuk bui juga. Akhirnya, tuduhan itu tak terbukti dan 11 bulan kemudian ia
dibebaskan.
Barter dengan minuman keras
Konsistensi Yap dalam membela tegaknya hukum sulit dicari tandingannya. Demi
prinsip keadilan dan hukum yang diyakininya, tidak ada satu orang atau
institusi apa pun yang cukup perkasa untuk menciutkan nyalinya.
Bahkan tak jarang, tindak sewenang-wenang oleh aparat di jalanan terhadap
orang yang sama sekali tidak ia kenal pun, akan membuat Yap menghentikan
kendaraan untuk mencampuri urusan itu.
Kesetiaannya pada keadilan tidak pandang bulu meski menyangkut anak sendiri.
Itu dialami Hong Gie, yang kini mengelola bisnis hotel dan properti. Saat
itu sebagai remaja + 16 tahun, ia menabrak seorang anak dengan mobil
yang dikendarai tanpa SIM.
Dalam perjalanan ke kantor polisi, ayahnya berpesan, supaya dalam sidang
pengadilan nanti ia mengaku bersalah dan meminta maaf kepada hakim atas
pelanggaran yang dilakukan. Hong Gie ditinggalkan di sana sampai dijemput
ibunya dua malam kemudian. Mengakui itu sebagai salah satu peristiwa paling
menakutkan di masa remajanya, Hong Gie belakangan tahu, ibunya terkadang
menengok anak yang tertabrak itu.
Betapa pun Yap keras memegang prinsip, tak tabu pula baginya mengaku
bersalah. Itu terjadi ketika Hong Gie remaja melancarkan aksi protes
terhadap bahasa pukulan sang ayah (bisa sapu lidi, bisa batang pohon). Drama
yang berlangsung sampai dua minggu itu berakhir saat sang ayah menyadari
kekeliruannya. Ia minta maaf dan berjanji tak akan memukul lagi.
Perihal kedisiplinan Yap, sang istri pun tidak kekurangan cerita.
"Suatu sore ada undangan resepsi perkawinan," Khing mengenang.
"Kami merencanakan berangkat pukul 18.30. Tapi entah kenapa, sore itu
saya terlambat berdandan. Tentu saja saya buru-buru. Begitu selesai,
langsung bergegas ke garasi. Apa yang saya jumpai? Garasi kosong. Mobil dan
John sudah berangkat, meninggalkan saya. Padahal saya sudah berdandan
lengkap!"
Bagi keluarga Yap, berlibur bersama merupakan kesempatan yang amat langka.
Sebaliknya, risiko pekerjaan salah satu pendiri Universitas Kristen
Indonesia ini tetap ditanggung oleh seluruh keluarga. Misalnya, anjing
diracuni, rumah disambiti.
Apalagi saat Yap ditahan karena kasus Malari, ketangguhan Khing, yang
disebutnya "Menteri Dalam Negeri" oleh Yap, sungguh diuji. Dengan
sisa tabungan Khing membeli mobil untuk dijalankan sebagai taksi jam-jaman.
Keadaan yang pas-pasan itu memaksanya juga untuk menukar minuman keras dari
bingkisan Natal dan Tahun Baru dengan kebutuhan sehari-hari, di Pasar
Cikini.
Tentulah bisa dipahami, ketika ditanya apakah pernah "menyesal"
menjadi istri Yap Thiam Hien, tanpa kekurangan selera humor dijawabnya,
"Sering ...! Karena kadang-kadang ia lupa bahwa keluarga juga
memerlukannya. Sekali waktu ia baru keluar dari penjara untuk kasus Malari.
Tiba di rumah pukul 23.00, kami belum lagi duduk santai, ia sudah mengatakan
akan membela seseorang yang kasusnya cukup berat dengan risiko dan
komplikasi cukup besar, sampai-sampai saya mengancam akan pergi dari rumah
kalau dia tetap ngotot menangani kasus itu!"
Betapa pun, sampai sekarang Hong Gie masih merasakan bahagianya saat ia
ditengok Papa di Belanda. (Setelah menyelesaikan SMU di sana, Hong Gie
melanjutkan ke pendidikan fisioterapi.) Naik kendaraan umum, makan bersama,
dan saling bercerita tentang banyak hal, sungguh kemewahan yang tak ia
rasakan di Tanah Air. Yap juga tak pernah menyia-nyiakan kesempatan menengok
Hong Ay, yang belakangan mengambil jurusan bahasa Inggris di Swis. Biasanya
saat ia usai mengikuti konferensi di Eropa.
Berakhir di Belgia
Penyuka bacaan fiksi, kecuali drama dan roman, ini menyerahkan urusan
pendidikan anak-anak kepada istrinya. Namun, tak pernah timbul setitik pun
keraguan akan garis kebijakannya.
"(Kejujuran itu) Wah, nomor satu," ungkap Khing. "Dalam suatu
kasus pembunuhan di mana ia akan membela, terdakwa harus terlebih dulu
mengaku kepada John bahwa ia memang membunuh, baru ia bersedia mencarikan
pasal-pasal yang bisa meringankan." Apalagi anak-anaknya. Berbohong
atau tidak disiplin sungguh dosa besar.
Puluhan tahun bergelut dengan kasus tak menjadikan mata hatinya tumpul,
bahkan empatinya terhadap yang terpidana semakin tumbuh; mendorongnya
mendirikan dan mengetuai Prison Fellowship, organisasi yang melayani
narapidana. Kepeduliannya pada hak-hak azasi manusia semakin menajam ketika
ia bergabung dalam Regional Council on Human Rights in Asia, juga anggota
Asian Comission on Human Rights.
Bahkan pada 1987 ia masih berani dan "galak" untuk mulai terlibat
dalam InterNGO Conference on Indonesia (INGI). Ini organisasi yang bertujuan
mengembangkan partisipasi rakyat dan LSM dalam pembangunan masyarakat dan
negara. Justru untuk menghadiri pertemuan INGI ini (April 1989), Yap
berangkat ke Belgia. Meski suratan takdir bicara lain.
"Kami berjanji bertemu di Singapura," Khing mengenang saat-saat
itu, "karena rencananya kami akan jalan-jalan dulu selama dua hari di
sana, sebelum pulang bersama. Kopor sudah selesai saya kemasi, exit
permit (waktu itu diperlukan bagi yang akan ke luar negeri - Red.)
juga sudah saya urus. Tiba-tiba tengah malam ada kabar bahwa ia sakit.
Aortanya pecah dan perlu dioperasi, sehingga dibutuhkan izin dari istri.
Saya katakan, 'Jangan tunggu sampai saya tiba di sana. Apa yang menurut
dokter baik, lakukanlah.’" Namun, di dalam hati Khing sudah merasa.
Sementara itu nun jauh di sana, sakit Yap semakin parah.
Yap Thiam Hien mengakhiri perjuangannya yang tak kenal lelah pada Senin, 24
April 1989, di RS St. Agustinus, Veurne, 135 km dari Brussels. Jauh dari
keluarga, namun di tengah teman dan rekan seperjuangan, seperti yang sering
terjadi di sepanjang hidupnya. (Lily Wibisono) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|
|||||