|
|
Bulan Juni 2000
|
|
NEBus, Bus Ramah Lingkungan Kalau tidak aral melintang, suatu saat bus kota akan bebas asap dan suara. Saat ini sedang diuji coba bus listrik yang sumber listriknya dari pembakaran sel (fuel-cell).
Kita bisa membayangkan yang bakal terjadi saat
ini bila kita berdiri agak lama, taruhlah 30 menit, di tepi jalan protokol
kota-kota besar di Indonesia macam Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Dijamin
baju kita berbau asap, dan bagian tubuh kita yang terbuka akan terlapisi
jelaga asap knalpot bus kota. Yang paling menakutkan adalah gangguan
kesehatan yang timbul akibat asap knalpot terhirup ke dalam saluran
pernapasan.
Ini akan berbeda bila seluruh kendaraan bermotor di kota-kota besar itu
menggunakan teknologi pembakaran sel (fuel-cell). Kota-kota itu
akan terasa jauh lebih sunyi meskipun arus kendaraannya sangat padat.
Udaranya pun jadi bersih sehingga para pejalan kaki tidak perlu lagi
menutup hidung dengan saputangan atau tisu. Pakaian juga bebas bau asap.
Wajah-wajah cantik pun tak "terbedaki" jelaga knalpot bus kota.
Memang, kondisi ideal macam itu bukan mustahil bisa terwujud meski perlu
waktu. Ajakan untuk tidak mengendarai kendaraan pribadi pada 23 April 2000
lalu, setidaknya sudah memberi pertanda adanya kepedulian terhadap
perlunya udara bersih. Siapa tahu, langkah awal ini bisa berlanjut hingga
suatu saat sampai pada anjuran penggunaan kendaraan fuel-cell.
Apalagi beberapa perusahaan otomotif, seperti DaimlerChrysler dan Toyota,
saat ini telah berhasil membuat kendaraan fuel-cell, baik yang
berukuran kecil macam sedan maupun berukuran besar seperti bus. Bahkan,
kendaraan bermotor listrik tersebut telah menjalani uji coba di jalan.
Bersih dan sunyi
DaimlerChrysler saat ini telah berhasil membuat bus fuel-cell.
Namanya, NEBus (New Electric Bus). Sebelumnya, perusahaan itu telah
berhasil mengembangkan kendaraan kecil berbahan bakar sama, yang dinamai
NeCar, dan sudah sampai pada generasi ke-4 (NeCar 4). Toyota pun telah
berhasil mengembangkan mobil fuel-cell dengan teknologi sedikit
berbeda.
Dari kendaraan bermotor listrik itu, NEBus tergolong istimewa lantaran
menjadi bus fuel-cell pertama di dunia. Ia menggunakan bahan bakar
hidrogen dan oksigen, dan hebatnya, cuma menghasilkan uap air sebagai
produk sampingannya. Tak ada substansi lain yang dibuang ke udara, bahkan
dalam jumlah sedikit sekalipun! Bus fuel-cell membabat hampir habis
pula semua emisi suara yang banyak dihasilkan bus konvensional. Bus ini
beroperasi nyaris benar-benar sunyi. Inilah teknologi otomotif yang secara
lingkungan paling cocok di masa mendatang.
Karena sifatnya yang ramah lingkungan, NEBus telah menyita perhatian
beberapa kota Eropa yang gencar memangkas polusi udara. Uji coba telah
dilakukan di Jerman, Norwegia, dan Islandia. Bus yang sama juga melayani
rute bus reguler di Hamburg, Jerman, sekadar untuk membuktikan bahwa bus
ini bukan sekadar prototipe. NEBus juga telah dikapalkan ke Australia
untuk menunjukkan kemampuannya di Perth dan Melbourne.
Sosok NEBus memang tak terlalu beda dari bus biasa. Basisnya adalah bus
kota Mercedes-Benz tipe O 405 N yang berkapasitas 34 tempat duduk dan 24
penumpang berdiri. Bedanya, atapnya menyembul. Ruangan tambahan ini
merupakan tempat 7 tangki gas hidrogen, pembangkit listrik elektronik, dan
sistem pendingin. Tangki gasnya masing-masing berkapasitas 150 l pada
tekanan 300 bar. Dengan bahan bakar penuh ia bisa menjelajah sejauh 250 km
dengan kecepatan tertinggi 80 km/jam.
Sistem pembangkit elektroniknya meliputi AC converter dan pulse-width-modulated
inverter, keduanya merupakan bagian pengendali motor roda. Kehadiran
sistem pembangkit listrik ini membuat baterai, yang berat dan mampu
memasok listrik hanya untuk jangka waktu singkat, tidak diperlukan lagi.
Di dalam ruang kemudinya terdapat enam sensor yang akan mendeteksi
kebocoran hidrogen dan mengamankan sistemnya. Pada pintu masuk-keluarnya
juga tidak ada lagi anak tangga. Ini berkat penggunaan as roda untuk bus
berlantai rendah yang dipadukan dengan motor penggerak pada roda belakang.
Pada bus kota yang sesungguhnya (bukan bus antarkota yang dijadikan bus
kota), seperti bus kota PPD bermerek Ikarus, perlu dua langkah hingga
mencapai lantai bus.
Desain mesin fuel-cell yang sangat kompak bakal menjadi awal
revolusi desain bus. Pasalnya, sejumlah besar onderdil yang saat ini
mutlak diperlukan macam unit mesin, as roda, gearbox, gardan,
alternator, dan tangki bahan bakar, bakal digantikan oleh kabel-kabel
listrik. Dengan demikian bakal terdapat ruangan lebih banyak untuk
penumpang.
Bila kita mengendarainya atau berada di dalamnya, kita merasakan seperti
mengendarai atau berada di dalam mobil mewah berukuran besar. Bedanya,
NEBus terasa lebih sunyi. Tak seperti sedan mewah tadi, NEBus juga tidak
perlu peredam suara untuk menahan kebisingan mesin. Yang lebih
menyenangkan lagi, akselerasinya tidak disertai entakan-entakan lantaran
penggunaan perseneling tidak ada sama sekali.
Begitu senyapnya bus yang digerakkan oleh proses kimiawi ini,
sampai-sampai suara-suara lain, yang kalau dalam bus konvensional akan
kalah oleh deru mesin, muncul. Dari bawah lantai yang diberi karpet, kita
dapat mendengarkan suara motor penggerak langsung, raungan kompresor udara,
bunyi klik tombol elektronik, desing kipas sirkulasi dan pendingin, serta
gemuruh ban berputar.
Bahan bakarnya tidak dibakar
Sistem fuel-cell NEBus terdiri atas sepuluh stack
masing-masing menghasilkan 25 kW, sehingga daya yang dihasilkan seluruhnya
250 kW. Pembangkitan listriknya terjadi di ruangan yang dalam bus kota
konvensional merupakan tempat mesin dan gearbox. Dari daya listrik
yang dihasilkan, 190 kW di antaranya digunakan untuk sistem penggerak
kendaraan serta untuk keperluan lain seperti sistem kelistrikan bus dan
AC. Dalam sistem penggeraknya terdapat dua motor penggerak berpendingin
udara yang terpasang di setiap ujung as roda belakang. Motor tersebut
masing-masing memerlukan daya listrik puncak 75 kW, sehingga keduanya
membutuhkan 150 kW untuk menggerakkan satu unit bus. Daya ini menghasilkan
tenaga yang tak kalah dibandingkan dengan yang dihasilkan mesin bus
diesel.
Dalam sistem ini, bahan bakar hidrogen dan oksigen tidak dibakar,
melainkan diubah secara langsung menjadi energi listrik dan uap air dalam
suatu reaksi dingin. Bahan bakar ini diproses oleh Proton Exchange
Membrane Fuel Cell (PEMFC). Di dalamnya terdapat elektrolit (electrolyte),
yang terdiri atas lembaran polimer dengan ketebalan sekitar 1/10 mm dan
dilapisi dengan sebuah katalis berisi platinum pada kedua sisinya. Katalis
membantu ionisasi hidrogen dan reaksi ion hidrogen dengan oksigen. Ia juga
mencegah terjadinya "reaksi panas". Sebuah proses elektrokimia
di dalam lembaran tipis tadi memungkinkan cuma proton dapat lewat,
sementara elektron hidrogen ditinggalkan. Di sisi lain, ion-ion hidrogen
bereaksi dengan oksigen. Kelebihan elektron pada hidrogen dan kekurangan
elektron pada oksigen menghasilkan kutup positif dan negatif, kutup tempat
energi listrik dimanfaatkan. Energi untuk "pompa pengisian" ini
diperoleh dari reaksi gas hidrogen (H2) dengan oksigen (O2)
yang menghasilkan energi listrik dan uap air (H2O).
Dengan mengkombinasikan sejumlah besar sel dalam suatu yang disebut stacks,
energi yang diperlukan, menjadi tersedia untuk menggerakkan kendaraan.
Pengendalian jumlah energinya dilakukan dengan mengatur pasokan oksigen.
Ketika energi itu menggerakkan motor, kemampuan jelajah bus ternyata
seperti bus konvensional, tetapi tanpa emisi seperti halnya kendaraan
listrik.
Sayangnya, harga NEBus saat ini masih berkisar AS $ 2,5 juta atau sekitar
Rp 20 miliar, sehingga DaimlerChrysler berusaha untuk menurunkannya. Bila
harga wajar sudah tercapai, meski perlu waktu lama, mungkin saja bus
bersih ini bisa kita nikmati. Pada saat itu, mobil-mobil kecil mungkin
sudah berteknologi pembakaran sel pula. Angan-angan akan sebuah kota yang
bersih dari polusi udara dan suara pun, bisa menjadi kenyataan. (TST/Gd) |
|||||
|
|
|||||