|
|
Bulan Juni 2000
|
|
Butterbean, Juara Dunia Tinju Kelas Superberat
Ia seperti cakram berjalan. Pertarungannya cuma butuh waktu singkat, tapi jumlah korbannya banyak. Maka jadilah Eric "Butterbean" Esch petinju kulit putih terkondang. Meskipun demikian, ia tetap seorang pria berhati lembut.
Kalau Mike Tyson si tukang gigit telinga ada, ia mungkin mau juga bertinju dengannya. Demikian dikatakan si "gunung daging" ini. Soalnya, Tyson punya sarung tangan, dan Eric "Butterbean" Esch juga punya. "Mike Tyson bukan seorang boxer, dia cuma tukang berkelahi, seperti saya," katanya. Si tukang bantai, si Rusia, si Ukraina, atau julukan petarung tinju diberikan kepadanya, karena kemunculannya selalu memakai jurus sidesteps dan atribut tinju.
Dikira lamban Segi keindahan di arena memang bukan selera "Si Raja Empat Ronde", demikian promotor boxer kulit putih paling populer di Amerika menyebutnya. Pria berusia 33 tahun dan berbobot 150 kg ini paling suka bertanding dalam ring, mencari posisi yang kukuh dan membiarkan dirinya berada dalam puncak bahaya. Seperti kura-kura raksasa yang tengah digonggong anjing, ia melindungi dirinya dari lawan dengan mengandalkan tubuhnya yang bak tumpukan lemak. Tapi begitu lawan lengah, tinjunya langsung melesat. Dua kepalan melayang! Sebelum musuh benar-benar sadar, bahwa ia telah dapat dijatuhkan oleh si bakso raksasa ini, terdengar suara wasit, "...delapan, sembilan, sepuluh!" Maka teriakan para pemuja Esch pun membahana, "Bean! Bean!" "Lawan-lawan saya suka menganggap saya lamban, hanya karena saya bertubuh besar. Padahal yang terjadi sebaliknya," kata Bean. Tumpukan lemak di tubuhnya menyembunyikan jaringan otot kokoh yang sewaktu-waktu dapat membuat gerakan lengan yang mengejutkan. Namun akibat gerakan yang suka tiba-tiba itu, baik otot lengan sebelah kanan maupun kiri pernah harus dijahit. "Kecepatan pukulan saya membuat otot jadi robek. Lucunya, setelah operasi, dokter tidak dapat menemukan perban yang bisa menyangga tangan saya. Terpaksalah dipakai perban yang sebetulnya dipakai untuk decker paha wanita," jelas Bean sambil tersenyum. Eric Esch, yang konon bernenek moyang Jerman, sebenarnya mempunyai senyum menawan. Tetapi banyak orang tak percaya melihat penampilannya. Lebih-lebih kalau melihat dirinya melangkah masuk ring dalam kostum celana tinju bermotif bendera Amerika. Meskipun berpenampilan seram, di rumahnya di Jasper, Alabama, nun jauh di pedalaman AS sebelah selatan, ia ternyata pria yang disukai publik. Ia merupakan ayah yang ramah dan penuh humor, yang dalam waktu belakangan ini sudah ikut tiga program pelangsingan tubuh. Cindy Crawford pernah mencium pipinya dan gadis-gadis berdada silikon seringkali berada dekat dirinya di saat jeda, namun pria plontos ini ternyata tetap setia di samping istrinya, Libby, selama hampir 15 tahun perkawinan. "Dialah hadiah Tuhan bagi saya," kata pria berbobot satu setengah kuintal ini tanpa dibuat-dibuat. Ternyata di dalam dada pria raksasa ini tersimpan hati yang lembut romantis. Di dinding kamar tidurnya tergantung lukisan karyanya: tiga ekor burung berbulu biru yang tengah mandi di pinggan. Lukisan itu ditandatangani dengan "Butterbean" dan gambar kotak berisi sarung tinju dan sebuah kuas. Sementara di seberangnya tampak plakat film Titanic dengan bintang Kate Winslet dan Leonardo DiCaprio berada di atas foto keluarga Esch. "Ada tanda tangan kedua bintang itu," kata Esch berbinar.
Lima tahun kalahkan 40 orang Bagaimana pria berhati lembut seperti itu dapat membuat orang bonyok? Dalam lima tahun karier Butterbean di dunia tinju profesional, ia telah mengalahkan 40 lawan. Namun ia berpendapat, pekerjaan berbeda dengan keluarga. Menurut mantan tukang kayu ini, ia seperti tak punya belas kasih kala berada dalam ring. Tapi, kalau ayah berbadan subur ini pergi bekerja, segalanya diatur cermat. Misalnya saat ia menggelar pertandingan utama di arena raksasa Rosemont, Chicago. Ketika lagu kebangsaan Amerika dikumandangkan lewat tiupan harmonika pada malam pertandingan, Esch belum datang. Baru setelah pertarungan tinju sampingan yang ketiga berjalan, kurang lebih 30 menit sebelum gilirannya tampil, Esch muncul dengan kemeja flanel kotak-kotak biru hitam dan celana pendek bermotif bendera, langsung "menari-nari" di gang depan ruang gantinya untuk pemanasan. Gerakan-gerakan kombinasi kiri kanan, tapi tidak terlalu banyak sidesteps. Kemudian ia memakai sarung tinjunya dan pelatihnya yang bekas olahragawan angkat besi, Murray Sutherland, bergaya seperti musuhnya, Allan Smith dari Iowa. Mungkin saja Allan Smith berpengalaman dan lebih berbahaya. Tapi yang pasti, ia cuma berbobot 100 kg. Menurut Butterbean, lebih baik tidak terlalu tahu mengenai detail lawan, karena hal itu membuatnya jatuh kasihan. Perasaan itulah yang harus dihalau. Lima belas menit di arena, sang lawan pun KO dan Esch kembali ke ruang ganti, mengeringkan keringat dari dahi, lalu kembali mengenakan kemeja kotak-kotaknya. Tanpa mandi, ia keluar menemui pemujanya dan menandatangani T-Shirt dengan namanya. Bayarannya? AS $ 20 per kaos! Tak heran bila beredar gosip miring yang mengatakan penampilannya adalah tayangan yang sudah diatur. Baru-baru saja muncul pengakuan seorang mantan korban jotosan Eric Esch. Konon sebelum pertandingan, ia diminta untuk mau dijatuhkan di ronde pertama dengan imbalan AS $ 1000. Namun pengakuan itu patut diragukan, karena Baker si mantan korban mengungkapkan hal itu dari balik penjara akibat tersangkut perkara perampokan bank. Menanggapi semua itu, Butterbean tidak menolaknya mentah-mentah. "Setiap pertandingan tinju saya selalu melibatkan promotor atau manajer. Tapi, saya tidak pernah menjanjikan untuk meng-KO lawan dan saya tidak akan membiarkan manajer saya melakukan hal itu! Sebagian besar lawan saya yang jatuh memang harusnya jatuh. Itu terjadi karena mereka sudah gentar menerima pukulan dan merasa nyeri setelah terkena pukulan saya." Butterbean merekam semua pertandingannya. Salah satu kemenangannya yang paling spektakuler adalah ketika melawan Burt "The Hammer" Gunn, yang merintis karier menjadi boxer hebat. Pria itu seperti Tarzan, berpaha langsing, berdada lebar, dan bertubuh lentur. "Ia begitu bernafsu untuk mengalahkan saya sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap delapan petinju profesional sebelumnya," kata Eric sambil memandang ke layar kaca betapa sembrononya sang lawan yang berperawakan atlet prima memasuki arena. Dan akhir dari pertandingan pun cepat berlalu. "Hammer" jatuh. Hantaman di dagu membuat sang gladiator muda terpaksa ditandu ke luar arena. Sementara Butterbean, tokoh komik dunia tinju, sekali lagi dielu-elukan sebagai pemenang! "Saya mengantongi AS $ 100.000 dalam pertandingan itu," kata si plontos ini. "Memang saya bertinju untuk uang." Si Raja Empat Ronde merupakan orang yang paling sering bertanding dibandingkan para profesional lain. Ia bisa berlaga 10 sampai 20 kali per tahun. Lebih menguntungkan lagi jika pertandingan itu ditayangkan langsung di TV Amerika, seperti pertarungannya di awal Maret 2000 di Las Vegas yang cuma berlangsung 19 detik. Ada enam stasiun televisi yang meminta menyiarkan pertandingan itu. Namun tanpa penayangan itu, ia mau saja maju meski honornya sekali maju sekitar AS $ 3000 atau 5000. Masa lalu Eric Esch patut diacungi jempol. Ia lulus SMU di Jasper pada usia 17 tahun, lalu menikahi Libby, dan kemudian bekerja keras selama delapan tahun sebagai pekerja di berbagai perusahaan, seperti perusahaan trailer atau mobil karavan. Ketika itu beratnya 200 kg dan ia sanggup mengangkat kerangka karavan ke atas as mobil sendirian, kalau mesin pengangkatnya rusak. Melihat kemampuannya itu, rekan-rekannya percaya bahwa ia bisa ikut serta dalam lomba adu kuat. Saat itu ada organisasi yang setiap minggu mengadakan lomba berkelahi antara orang-orang kuat. Organisasi itu mengadakan pertandingan setiap akhir minggu. Untuk menjadi anggota, orang harus membayar AS $ 50. "Dengan susah payah saya mencoba mengumpulkan uang sebanyak itu," kenang Eric.
Gara-gara kacang buncis Mula-mula ia harus berjuang menurunkan bobot, sampai mencapai berat 180 kg. Dengan bantuan istrinya, ia melakukan diet dengan hanya makan butterbean, sejenis kacang-kacangan seperti isi buncis. Bobotnya malahan bisa turun sampai 150 kg. Maka tak heran apabila ia memilih nama populernya, "Butterbean". Selain karena dietnya, juga karena tubuhnya yang licin dan bulat seperti butiran kacang buncis! Setiap kali memenangkan pertandingan adu kuat mingguan itu, ia mendapat AS $ 1000. Sungguh jumlah yang besar bagi seorang pekerja saat itu. Kini ia telah menjadi jutawan. Rumahnya besar dan kokoh. Tapi ia tidak memakai keran dari emas, juga tak ada kandang kuda di samping rumah. Bahkan teras rumah dibuat oleh tuan rumah sendiri. Di halaman rumput depan terparkir sebuah mobil lintas alam semacam jip, sebuah mobil angkutan, dan sebuah Ford Mustang. Tidak ada mobil Bugatti Coupe atau Bentley dengan supir pribadi sebagaimana layaknya orang-orang kaya. "Si Kacang Buncis" ini juga berbelanja sendiri dan amat cermat melihat tawaran istimewa. Restoran yang paling disukainya di Jasper adalah Perico's Restaurant, sebuah rumah makan Meksiko yang dengan senang hati membiarkan putrinya membawa cheeseburger dari McDonald, karena ia tidak suka Taco atau Burrito. Dengan bangga ia berpose di depan trailer-nya yang pernah dihuninya selama bertahun-tahun di bawah tulisan "Jasper, kotanya Miss Alabama 1995 dan Eric Butterbean Esch, juara dunia tinju kelas superberat." "Saya tidak akan meninggalkan kota yang berpenghuni 15.000 jiwa ini. Kota ini amat nyaman dan murah," kata bapak tiga anak ini lagi. Hal itu dikatakannya di ruang latihan yang dibangunnya sendiri. Styrofoam melapisi dinding papan. Sementara sebuah bak untuk berendam dibangun untuk membuat dirinya santai sebelum latihan dimulai. Bagai seekor anjing laut, Eric berendam di air hangat. Sedangkan tidak jauh dari situ ada bangku untuk mandi sinar ultra violet agar tubuhnya sedikit "coklat". Diiringi musik country dari pengeras suara, ia berlatih tinju dan mengatur napas. Putri ciliknya, Grace, akan mengacungkan handuk superbesar untuk mengelap keringat sang ayah. Sedangkan dua anak lelakinya, Brandon (14) dan Calib (11), tampak acuh tak acuh. Mereka ingin jadi pemain bola, bukan petinju. Di pojok ruangan tampak dua timbangan. "Yang itu hanya untuk pamer. Terlalu ringan," katanya sambil menunjuk timbangan normal. Berat maksimum timbangan itu hanya sampai 300 pon alias 130 kg. "Timbangan yang ini yang pas buat saya. Berat maksimumnya 450 pon atau 225 kg." Timbangan itu adalah timbangan kentang! (Teja Fiedler/Als) |
|||||
|
|
|||||