|
|
Bulan Juni 2000
|
|
DENDAM MASA LALU
Suasana Cicalengka yang biasanya tenang berubah
gempar begitu ada mayat ditemukan di tempat pembuangan sampah. Mayat itu
seorang pria dengan beberapa luka tusukan.
Jam menunjukkan pukul 06.10 ketika di tempat kejadian perkara (TKP) banyak
orang berkerumun ingin melihat mayat. Beberapa orang polisi yang kemudian
tiba segera mengamankan tempat dengan memasang police line agar orang
yang berkumpul itu segera menyingkir ke luar garis batas.
Letda Ryan yang tiba lima menit kemudian menghampiri anak buahnya yang
sedang memeriksa mayat.
"Bagaimana?" ia bertanya kepada Sersan Dudung.
"Korban pembunuhan, Pak. Sampai sekarang belum ada yang mengenalinya
karena wajahnya hangus terbakar. Tidak ada hal yang mencurigakan di sekitar
ini, Pak!"
"Siapa yang pertama menemukannya?"
"Orang itu, Pak, namanya Usen," Sersan Dudung menunjuk seorang tua
setengah baya yang tampak ketakutan. Letda Ryan mengangguk, dan matanya
kembali mengamati mayat yang telentang. "Kami juga menemukan pisau
belati ini, jerigen, dan sapu lidi tergeletak di samping mayat."
"Baik! Angkat segera untuk diotopsi. Juga semua barang itu. Mungkin
kita bisa dapat sidik jari pembunuhnya."
Sersan Dudung segera melakukan apa yang diperintahkan padanya, setelah
anggota polisi yang bertugas memotret tempat kejadian selesai melakukan
tugasnya. Mayat diangkat ke dalam mobil ambulans.
Baru saja Letda Ryan menghampiri kerumunan orang untuk menanyakan kejadian,
seorang wanita setengah baya datang berlari-lari. "Pak ... Pak ...
tunggu! Saya mau lihat mayatnya." Sebelum wanita itu sampai ke ambulans,
beberapa petugas menghalanginya. Wanita itu berteriak histeris. "Jangan
halangi saya! Tolong, Pak, jangan halangi saya!"
Letda Ryan menghampiri wanita itu dan berusaha menenangkannya, "Tenang,
Bu, tenang, Ibu siapa?" Wanita itu meronta, "Saya hanya mau lihat
apa itu suami saya."
"Kenapa ibu berpikiran begitu?"
"Suami saya biasa menyapu di sini, saya mau lihat Pak, ... tolong,
Pak."
Letda Ryan meminta anak buahnya membuka kantung mayat. Wajah wanita itu
tegang, dan begitu kantung terbuka, ia jatuh pingsan.
Sering menyapu
Jam menunjukkan pukul 07.30 ketika Letda Ryan duduk berhadapan dengan Usen
di kantor polisi.
"Coba diceritakan kembali kejadiannya," tuturnya.
Usen menarik napas panjang. "Waktu itu, saya mau pergi ke pasar, mau
kerja kuli. Saya lihat ada orang berbaring. Saya pikir, itu orang mabuk,
tapi begitu saya dekati, ternyata mayat. Saya terus buru-buru lari ke rumah
Pak RT."
"Hm, ketika kembali lagi, Mang Usen tahu nggak, siapa mayat itu?"
"Nggak tahu, Pak."
"Mamang kenal dengan ibu yang tadi pingsan?"
"Oh itu! Tentu saja, itu 'kan Ibu Ema, istri Pak Yatna."
"Mamang kenal dengan Pak Yatna?"
"Iya, Pak, itu suami Ibu Ema."
"Bukan itu maksud saya!"
"Oh, eu ... iya, Pak, ia itu bekas majikan saya, tapi saya tidak tahu
kalau yang mati itu Pak Yatna!"
Usen yang sudah tua dan lugu itu kemudian bercerita bahwa Pak Yatna bukan
suami yang setia, dan sering bertengkar dengan istrinya. Puncak pertengkaran
tiba ketika istrinya tahu bahwa Pak Yatna mempunyai simpanan lagi, seorang
janda muda. Waktu itulah Usen yang tidak tahan mendengarkan orang bertengkar
melulu, segera minta berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang kebun.
Keterangan Usen itu diperkuat oleh Sobandi, ketua RT.
Sobandilah yang melaporkan penemuan mayat itu kepada polisi sekitar pukul
05.50. Hampir semua orang yang ditanyai polisi mengatakan hal yang sama.
Dua kali sudah, Letda Ryan mendatangi rumah Pak Yatna untuk meminta
keterangan dari Ibu Ema, tetapi wanita itu tidak mau menjumpainya karena
tidak mau diganggu dulu. Ia masih terkejut, sedih, dan bingung.
Letda Ryan terpaksa mengalah. Lagi pula ia menunggu hasil otopsi dari Rumah
Sakit Hasan Sadikin, dan hasil pemeriksaan forensik dari kepolisian Bandung.
Senjata makan tuan
Tepat pukul 15.45, laporan hasil otopsi dan forensik telah ada di tangan
Letda Ryan.
"Bagaimana hasilnya, Pak?" tanya Sersan Dudung yang duduk di
depannya, penasaran. Letda Ryan tersenyum, "Hm, hasil otopsi
menunjukkan, Pak Yatna mati karena kaget. Ia sakit jantung, dan selain itu
juga kehabisan darah. Ada sepuluh tusukan."
"Apa belati itu senjatanya?"
"Ya! Senjata makan tuan, itu. Ada namanya di gagang belati, Yatna S.
Lebih buruk lagi, tidak ada sidik jari, baik di pisau, jerigen, maupun sapu
lidi. Menurut otopsi, ia telah meninggal dua jam sebelum ditemukan, dan
anehnya tidak ada yang mendengar teriakannya."
"Aneh! Rumah Pak Yatna 'kan tidak jauh dari tempat sampah itu! Masa
tidak ada orang yang mendengar teriakannya?" kata Dudung. "Saya
rasa, kita perlu menanyai orang-orang terdekatnya, terutama istrinya yang
tidak mau dijumpai itu!"
"Betul, Sersan! Ayo, kita pergi sekarang!" kata Letda Ryan sambil
bangkit dari tempat duduknya, dan bersama Sersan Dudung ia meluncur ke rumah
Ibu Ema.
Bu Ema sudah kelihatan tenang.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya suami Ibu," kata Letda
Ryan, sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Begini, Bu, saya
perlu keterangan Ibu agar pembunuh Bapak bisa segera ditangkap. Apa Bapak
punya musuh?"
"Setahu saya, Bapak tidak punya musuh," jawabnya sambil menyilakan
tamunya duduk.
"Di mana Ibu berada ketika Bapak terbunuh?"
"Di pasar! Saya buka warung nasi. Jadi, pagi-pagi sudah di pasar. Kedua
pembantu saya juga ikut saya, membantu di warung.
Ketika saya akan pergi ke pasar, Bapak juga sudah bangun. Ia mau menyapu
sampah yang tercecer dan membakarnya karena sudah menumpuk dan nggak ada
yang mengangkut. Baju mayat itu sama dengan baju yang dipakai Bapak."
"Ibu tahu kalau suami Ibu suka selingkuh?"
"Ya, dia memang suka main perempuan, tapi sekarang sudah tidak, dan
lebih banyak tinggal di rumah. Apalagi sejak ia sakit jantung."
"Apa Ibu tahu siapa saja yang mempunyai affair dengan Bapak?"
"Saya tahu. Wanita yang terakhir namanya Tika. Tapi sekarang sudah
putus karena ia hanya ingin uang Bapak."
"Ibu pernah bertemu dengan wanita simpanan Bapak?"
"Iya, sebulan yang lalu Tika datang ke sini, untuk minta uang, tapi
tidak diberi oleh Bapak. Saya ingat sekarang, Pak, si Tika itu mengancam
Bapak, dan saya yakin pasti dia yang membunuh Bapak karena sakit hati."
Wajah Bu Ema tampak gemas ketika mengingat apa yang terjadi sebulan yang
lalu. Ia jadi bersemangat ketika Letda Ryan meminta alamat wanita yang
bernama Tika itu.
Pacar pertama
Ruang kerja Pak Yatna tertata apik. Sejumlah buku tersimpan rapi di almari.
Foto Pak Yatna yang besar tergantung di belakang meja kerjanya. Melihat foto
itu, Letda Ryan tidak heran bahwa banyak wanita tergila-gila padanya.
"Bapak selalu menyimpan rahasianya di situ," kata Bu Ema menunjuk
ke arah laci meja kerja, sambil menyerahkan kuncinya kepada Letda Ryan.
Dari laci itu ditemukan sebuah buku agenda. Banyak catatan di dalamnya, dan
ada juga beberapa alamat rumah. Juga banyak foto yang ditempel.
"Ini foto pernikahan saya dengan Bapak!" kata Bu Ema menjelaskan.
"Yang ini foto pernikahannya dengan Ratna, tapi sudah cerai. Ini
istrinya yang ketiga, Tati namanya. Juga sudah dicerai. Dan ini foto Dewi,
pacarnya, lalu ini foto Tika, janda genit itu."
Letda Ryan mengangguk-angguk.
Tiba-tiba matanya terpikat oleh foto hitam putih seorang gadis yang cantik
sekali. Ia terpesona oleh senyum yang mengembang di bibirnya. "Kalau
ini foto siapa, Bu?" tanyanya.
"Oh, itu pacar pertamanya. Tunggu! Rasanya ada fotonya yang lain."
Bu Ema membuka halaman demi halaman buku agenda itu. Setelah menemukan, ia
memberikannya pada Letda Ryan. "Ini dia, orangnya! Kami juga pernah
bertetangga. Orangnya baik, namanya Saras."
Letda Ryan memperhatikan kedua foto wanita itu yang cantik dan menarik.
"Sekarang tinggal di mana Bu Saras ini?"
"Sudah meninggal!"
"Oh," hanya itu yang keluar dari bibir Letda Ryan, namun matanya
tak lepas memandang senyum manis dari foto wanita itu.
Buntu
Dengan berbekal alamat yang tertera dalam buku agenda almarhum, Letda Ryan
meminta bantuan informasi pada Letda Yuan dari Polres Bandung, dan menyuruh
anak buahnya untuk segera melacak keberadaan Tika yang kini tinggal di
daerah Cimahi, Bandung.
Ia juga mengecek silang hasil penyelidikannya dengan hasil interogasi Sersan
Dudung terhadap Ibu Ema. Dugaan bahwa tersangkanya Bu Ema pupus sudah,
ketika ternyata ia mempunyai alibi yang diperkuat oleh keterangan kedua
pembantunya. Mereka berada di warung bersamanya, ketika pembunuhan terjadi.
Letda Ryan juga harus gigit jari begitu anak buahnya melaporkan bahwa Tika
tidak berada di tempat. Sudah tiga minggu orang itu berada di Batam dan
bekerja di sana.
Semula Letda Ryan merasa, perkara itu gampang diselesaikan karena barang
bukti dan hasil otopsi menunjukkan Yatna dibunuh. Pembunuhnya orang dekat
yang tidak mempunyai motif merampok. Ketika pembunuhan terjadi, tak satu pun
barang Yatna yang hilang. Arloji dan cincin yang dipakainya masih utuh.
Bekas istri dan pacar Yatna telah menikah dengan orang lain, dan hidup
bahagia. Jadi, juga tidak mungkin pembunuh itu salah satu dari mereka.
Banyak orang kecewa dengan hasil kerja Letda Ryan yang dinilai lamban. Sudah
sebulan lebih pembunuh belum tertangkap. Bu Ema sering bolak-balik ke kantor
polisi untuk menanyakan kabarnya, namun hasilnya tetap nihil. Untunglah ada
masalah Pemilu yang akan diadakan bulan Juni 1999, dan hampir semua koran
dan tabloid memuat beritanya, sehingga warga kecamatan Cicalengka beralih
perhatiannya ke masalah Pemilu.
Sarjana psikologi
Hari itu tanggal 4 Mei 1999, pukul 11.40. Dua bulan sesudah kejadian perkara.
Letda Ryan baru saja keluar dari ruangan setelah menginterogasi pencopet
yang tertangkap tangan. Ada seorang gadis yang baru masuk dan kelihatan
bingung. Letda Ryan menghampirinya, "Ada yang bisa saya bantu?"
Gadis itu agak kaget dan pucat, tetapi kemudian menarik napas panjang.
"Saya mau bikin surat kelakuan baik," jawabnya.
"Oh, dari sini lurus, terus belok kiri! Mau melamar kerja, ya?"
Gadis itu tersenyum manis ketika mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu.
Letda Ryan terpesona, dan berusaha mengingat-ingat, kapan pernah melihat
senyum yang menawan itu?
Dengan rasa penasaran, ia mencari data tertulis tentang gadis yang baru
dijumpainya di kantor. Namanya Laraswati Riadi, berusia 23 tahun, sarjana
psikologi, status single, alamat Jln. Kaca Timur No. 9 RT 03 RW 11
Cicalengka. Letda Ryan agak terkejut. Alamat rumah ini dekat rumah Bu Ema,
bahkan satu RT.
Ia membuka buku agenda milik almarhum Yatna, dan hampir saja berteriak
kegirangan. Sesuatu yang dicarinya telah ditemukan. Foto Bu Saras yang
senyumnya sama dengan senyum gadis yang baru saja dijumpainya.
Mungkinkah gadis itu putrinya? Tanpa sengaja tangannya membalikkan foto itu.
Ada tulisan tangan. Saraswati Wijaya, meninggal 13 Maret 1989. Letda Ryan
mengerinyitkan keningnya. Tanggal 13 kematian Saras sama dengan tanggal 13
terbunuhnya Pak Yatna. Tapi sepuluh tahun kemudian.
Sepuluh?
Letda Ryan tersentak. Baru ia teringat, di tubuh Pak Yatna juga ada sepuluh
tusukan, menurut otopsi.
Pukul 14.05, Letda Ryan berada di rumah Bu Ema, dan keduanya duduk
berhadapan. Ia meminta keterangan tentang kehidupan dan keluarga almarhum
Saraswati. Meskipun agak heran dengan pertanyaan itu, Ema bercerita juga.
Rumah Bu Saras tidak begitu jauh dari rumah Bu Ema. "Kami berteman baik,
meskipun Pak Yatna pernah bercerita bahwa Bu Saras itu pacar pertamanya.
Saya tidak cemburu karena kami masing-masing sudah berkeluarga dan
bersahabat. Apalagi sejak Pak Riadi, suami Bu Saras, meninggal karena
kecelakaan lalu lintas."
Bu Saras shock berat, dan sejak itu sering keluar masuk rumah sakit.
Makanya, Pak Yatna almarhum menawarkan pengobatan alternatif dengan tusuk
jarum. Pak Yatna mahir mengobati orang dengan tusuk jarum. Kalau berobat, Bu
Saras selalu diantar Laras, anak bungsunya. Tetapi yang namanya umur, 'kan
di tangan Yang Di Atas Sana.
Setahun setelah Pak Riadi meninggal, tidak disangka, Bu Saras juga meninggal
secara mendadak karena darah tingginya kambuh. Sungguh menyedihkan! Apalagi
melihat Laras yang berteriak histeris. Ia anak yang paling disayang. "Sejak
itu, kalau ketemu saya ataupun Bapak, ia membuang muka. Sepertinya ia benci."
Letda Ryan mengangguk mengerti. Karena merasa cukup diberi gambaran, ia pun
pamit. Ia merasa perlu menyelidiki kehidupan Laras lebih mendalam.
Teriakan Cicih
Letda Ryan mulai mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang pernah
mengenal Laras dan keluarganya. Mak Onah, pembantu setia keluarga Riadi yang
berhenti bekerja tiga bulan lalu, membuka mata Letda Ryan. Menurut Mak Onah,
di balik penampilannya yang anggun dan sopan, gadis yang berwajah klasik itu
mudah tersinggung, dan gampang sekali marah. Ia menembak mati si Dogi,
anjing milik Yatna dengan senapan angin kakaknya. Hanya karena si Dogi
menggonggong ketika ia lewat.
Melempar kucing ke dalam kolam ketika diketahui mencuri ikan, dan mencincang
tikus yang tertangkap, sudah biasa dilakukan Laras untuk meledakkan
kekesalan. Tidak ada yang berani menegur atau mengingatkannya. Sampai
sekarang, ia tidak mempunyai pacar atau teman akrab. Ia kembali ke
Cicalengka lagi setelah menyelesaikan kuliahnya di fakultas psikologi sebuah
universitas di Jakarta pada awal tahun 1999. Begitulah cerita Onah.
Hari Sabtu tanggal 8 Mei, Letda Ryan duduk menunggu kedatangan Laras yang
sudah sejak tadi pagi pergi. Ia cukup waktu untuk memperhatikan ruang tamu
rumah Laras yang besar, penuh foto, dan lukisan keluarga. Dari foto dan
lukisan yang tergantung itu kelihatan sekali bahwa Laras mirip ibunya.
Begitu juga senyumnya yang manis dan memikat.
Letda Ryan yang waktu itu berpakaian preman, juga sempat memperhatikan
keadaan di sekitar rumah. Letak rumah lebih tinggi dari jalan. Meskipun
jalan itu tidak beraspal dan tidak terlalu ramai, tetapi cukup besar untuk
jalan truk pengangkut sampah.
Dari Cicih, pembantu Laras yang baru tiga bulan bekerja, Letda Ryan
mendengar bahwa Laras sering lari pagi. Jam berapa pun ia bangun, pasti ia
akan segera menghilang, entah ke mana.
"Bi, ingat, 'kan? Sebulan yang lalu ada pembunuhan di sekitar sini?"
tanya Ryan. "Katika Laras bangun, apa ia juga langsung pergi lari pagi?"
Cicih, wanita berusia sekitar 40 tahunan itu mencoba mengingat-ingat. Ia
menepuk dahinya sambil manggut-manggut.
"Ya ... ya ... Bibi ingat! Bibi 'kan tiap hari bangun jam setengah
lima. Waktu itu juga gitu, dan Bibi lihat Neng Laras sudah
bangun. Bahkan sudah mandi segala.
"Ya! Bibi tidak akan lupa kejadian itu! Begitu Bibi bangun, Neng
Laras menyuruh Bibi membersihkan semua foto dan lukisan yang digantung itu.
Eh, waktu Bibi lagi bersih-bersih, foto ibu Neng Laras jatuh sampai
pecah kacanya.
"Bukan main marahnya Neng Laras! Belum hilang ketakutan Bibi,
eh, waktu Bibi mau ke pasar, malah ada mayat di dekat sini. Hari itu hari
yang buruk buat Bibi."
Pukul 17.10 orang yang ditunggu-tunggu Letda Ryan akhirnya muncul. Laras
agak terkejut melihat Letda Ryan di rumahnya, tetapi ia berusaha
menyembunyikan keterkejutannya.
"Rasanya kita pernah bertemu, ya?" sapanya ramah.
"Betul!" jawab Ryan. "Di kantor polisi, ketika Anda akan
membuat SKKB. Bagaimana? Sudah mendapat pekerjaannya?" tanyanya lanjut
sambil memasang senyum.
"Sampai sekarang belum. Oh iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, apa Anda bisa memberikan keterangan di kantor polisi
sehubungan dengan kematian Pak Yatna? Saya yakin, Anda mengetahuinya."
Laras menatap dalam-dalam wajah Letda Ryan. Senyumnya yang dingin tapi tetap
manis nyaris merontokkan hati Letda Ryan.
"Kenapa Bapak berpikir begitu? Saya sama sekali tidak tahu tentang itu."
"Baiklah kalau begitu. Bisa Anda menjelaskan, di mana Anda berada waktu
itu? Apa Anda sedang lari pagi?"
"Oh, rupanya pembantu saya sudah bercerita tentang kebiasaan saya, ya?
Sayang sekali, pada tanggal 13 Maret saya tidak lari pagi. Saya di rumah."
"Oh ya? Dari mana Anda tahu kalau itu tanggal 13 Maret? Padahal saya
sama sekali tidak bicara tentang tanggal."
Laras terkejut sesaat. Letda Ryan menatapnya. Ia merasa sudah dekat dengan
jawaban yang selama ini dicarinya.
"Tentu saja saya ingat," jawabnya, "Semua orang juga ingat
tanggal kejadian itu."
"Tidak semuanya, tapi saya akan memberi alasan mengapa Anda selalu
ingat tanggal itu," tutur Ryan, "Pada tanggal 13 Maret Anda sudah
mempunyai rencana. Anda bangun pagi, dan mendatangi Pak Yatna yang sedang
membakar sampah, lalu menyapanya. Karena Pak Yatna kenal Anda, ia tidak
curiga. Anda sudah merencanakan hal ini dengan matang, bukankah pada tanggal
itu Ibu Anda meninggal, dan Anda mempunyai dendam terhadap pak Yatna?"
Wajah Laras memucat, namun sebagai sarjana psikologi, dengan cepat ia bisa
menguasai kembali perasaannya. Tetapi perubahan wajah itu telah tertangkap
oleh Letda Ryan.
"Cerita yang menarik, Sersan."
"Ser-san? Saya Letnan! Letnan Dua Ryanda Natawijaya! Siapa yang
membantu Anda membunuh Pak Yatna?" tanyanya menatap Laras. Entah berapa
lama keduanya pun saling tatap dan berusaha mengalahkan tatapan lawan bicara,
tetapi di balik itu semua keduanya juga saling mengagumi.
Laras membuang muka, dan menatap keluar jendela, sambil menarik napas
panjang. Lama ia diam. Tetapi akhirnya ia mau berbicara.
"Baiklah ... saya akui ... Anda memang benar, Letnan Ryanda Natawijaya.
Tak ada gunanya lagi saya mengelak. Anda sudah tahu semua. Tapi asal tahu
saja, saya melakukannya sendirian. Saya rasa untuk melenyapkan kambing tua
itu tidak perlu bantuan siapa pun. Saya memang mempunyai dendam. Sepuluh
tahun lamanya dendam itu saya pendam.
"Sepuluh tahun lalu ia datang ketika Ibu saya sendirian. Ia pura-pura
berbaik hati mau menolong Ibu, mengobati penyakit dengan tusuk jarum. Tapi
ia tidak hanya mengobati! Ia juga merayu dan merajut kembali kenangan
gilanya. Bisa Letnan bayangkan, betapa sakit hati saya ketika melihat ibu
diraba-raba dan diciumnya. Saya melihatnya dari balik pintu. Ih! Menjijikkan!
"Ketika Ibu terjatuh dan tidak bisa bergerak, saya datang ke rumahnya
dan memohon padanya untuk menolong Ibu, tapi ia menolak. Bahkan menyuruh
saya pulang dan membawa Ibu ke rumah sakit saja. Saya berlutut dan menangis
di depannya, tapi sama sekali ia bergeming.
"Kalau saja itu bukan permintaan Ibu, saya tidak akan pergi ke rumahnya.
Ibu menangis, mendengar saya ditolak mentah-mentah. Itu adalah permintaannya
yang terakhir. Ia ingin diobati si bajingan Yatna.
"Ketika itulah saya berjanji dalam hati, suatu waktu saya akan memberi
pelajaran atas perbuatannya terhadap Ibu. Sepuluh tahun dendam saya tidak
pernah sirna, dan akhirnya kesempatan itu datang.
"Saya menghampirinya ketika ia sedang membakar sampah. Saya menyapanya,
dan ia gembira sekali! Ah, bodohnya! Saya meminjam belatinya, eh, ia
memberikannya. Saya tusuk pun ia hanya melotot tanpa sedikit pun berteriak."
Letda Ryan merinding mendengar cerita itu. Ia tidak percaya, gadis manis di
hadapannya itu ternyata pendendam dan pembunuh berdarah dingin.
Letda Ryan mencoba menenangkan hatinya yang berkecamuk.
"Lebih baik Anda menyerahkan diri, dan sekarang kita ke kantor polisi."
"Ke kantor polisi? Tidak Letnan, saya tidak akan ke kantor polisi!"
katanya keras. "Tidak ada saksi mata yang melihat saya membunuh. Tidak
ada sidik jari dan barang bukti, 'kan? Saya sudah membakar sarung tangan
saya, dan Anda tidak bisa membawa saya karena tidak ada surat perintah
penahanan bagi saya."
Ucapan Laras seperti penuh kemenangan.
"Jangan khawatirkan itu karena surat perintah akan segera datang."
"Terserah Anda, Letnan. Sementara itu saya akan mandi dulu. Jangan
khawatir, saya tidak akan kabur. Saya juga sudah lelah dan ingin mengakhiri
semuanya."
Letda Ryan tidak bisa berbuat apa-apa. Beberapa saat ia duduk bengong,
tetapi ketika sadar kembali, ia cepat-cepat menelepon kantornya agar segera
membuat surat perintah penahanan.
Teriakan Cicih membuat Letda Ryan terkejut. Segera ia lari ke arah jeritan.
Dalam sebuah kamar, ia melihat Laras terlentang di tempat tidur. Darah segar
mengalir dari tangannya.
Letda Ryan menghampirinya, dan segera membalut pergelangan tangan Laras.
Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh Laras yang terkulai lemas.
Dengan kecepatan tinggi ia melarikan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Walaupun dokter berusaha keras menolong Laras, namun terlambat sudah. Nyawa
Laras tidak tertolong. Selain mengiris pergelangan tangan dengan silet,
sebelumnya ia juga menelan pil tidur melebihi dosis.
Di kamar Laras, Letda Ryan berdiri terpaku menatap setumpuk buku dan catatan
harian Laras. Ada sesal terpancar di wajah Letnan polisi itu. Mengapa ia
selalu terlambat bertindak? Mengapa ia membiarkan Laras mandi dulu? (R.
Yuliantina) |
|||||
|
|
|||||