|
|
Bulan Juni 2000
|
|
KULIT CERMIN KEPRIBADIAN
Ada tas kulit, sepatu kulit, dompet kulit. Pokoknya, barang yang dari kulit pasti punya nilai lebih. Itu baru kulit binatang. Bagaimana dengan kulit manusia? Pasti istimewa. Maka tak heran orang jadi begitu penuh perhatian terhadap lapisan yang satu ini. Setidaknya, dialah barometer menilai seseorang. Jadi jangan heran kalau manusia modern sekarang ini begitu concern pada yang namanya perawatan kulit, terutama kaum hawanya.
Kulit adalah pembungkus elastis yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Ia merupakan alat tubuh yang terberat dan
terluas, yakni 15% dari berat tubuh dengan luas 1,50 - 1,75 m2. Tebalnya rata-rata 1 - 2 mm. Asal Anda tahu
saja, lapisan kulit yang paling tebal (6 mm) ada di telapak tangan dan kaki, sementara yang paling tipis (0,5 mm) ada di ... penis!
Namun penyakit kulit yang paling bikin gempar ternyata jerawat yang muncul di
wajah. Di bagian kosmetik, misalnya yang mengeluh tentang jerawat hampir 40, sementara di bagian jamur 20 - 30. Memang masih belum diketahui apakah betul jerawat merupakan kelainan yang paling
tinggi, tapi karena ia paling sering muncul di wajah daripada bagian lain, maka orang jadi lebih serius
menanganinya.
Ulahnya kelenjar lemak
Jerawat timbul akibat aktivitas kelenjar lemak yang hebat, ditambah gangguan pelepasan kulit yang kurang
bagus, dan juga faktor adanya bakteri di permukaan kulit.
Kebersihan kulit membantu mengurangi populasi bakteri itu sendiri, mengurangi timbunan
lemak, pun membantu melepaskan kulit mati yang menyumbat pori-pori. Lalu berapa kali sebaiknya kita membersihkan
muka? "Minimal dua kali sehari. Tapi kalau aktivitas Anda berlebih, sering terkena sinar matahari atau ke tempat yang banyak
debu, boleh saja membersihkan lebih sering," jelas dr. Kusmarinah Bramono, dari Klinik Jakarta Skin Center.
Jerawat akibat bakteri bisa diobati dengan memberikan antibiotika dosis rendah. Maksudnya hanya untuk menekan populasi bakteri penyebab
jerawat.
Bicara soal kulit wajah tentu kita tidak lupa akan masalah lain, yakni masalah
kelembapan. Makin berumur seseorang, kulit makin berkurang kelembapannya. Lebih-lebih apabila orang tersebut sering berada di ruangan yang
ber-AC. Tak heran apabila banyak orang memakai pelembap. Bahkan kini beberapa pelembap ditambahi bahan-bahan aktif lain seperti vitamin, hormon-hormon seperti plasenta
domba, dsb.
Cuma perlu diingat mereka yang berkulit sensitif atau cenderung alergis, harus pandai-pandai
memilih. Karena, salah-salah malah bisa bikin kulit runyam.
Sementara pemakaian sun block alias tabir surya sah-sah saja dipakai karena kita tinggal di negeri yang kaya
matahari. Pasalnya, tabir surya dipakai untuk menghindari radiasi ultra violet. Hanya yang harus
diperhatikan, bahan ini biasanya merupakan bahan kimia.
Seperti kita ketahui, bahan kimianya ada dua macam: yang mengandung paba dan
nonpaba. Yang paba dikhawatirkan menimbulkan reaksi alergis. Yang nonpaba dikatakan
tidak, tetapi umumnya bahan kimia yang dipakai untuk sun block tidak larut dalam air.
Jadi, supaya larut, ia harus mengandung lemak. Untuk orang yang tidak mempunyai masalah jerawat memang tidak
apa-apa. Tetapi untuk yang punya masalah jerawat, bisa gawat. "Kalau kulit sudah berminyak lalu ditambah sun block, ya tambah berminyak
lagi. Maka itu sebaiknya memilih sun block yang kurang kadar lemaknya. Biasanya itu bentuknya lotion," jelas dr. Kusmarinah Bramono
lagi.
Spora tahan lama
Dari wajah kita turun ke tubuh. Menurut data dari berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia, penyakit kulit yang paling banyak menyerang masih eksim alias dermatitis. Eksim itu jenisnya banyak dan dibagi atas berbagai
macam, mulai dari eksim alergi, eksim bawaan, eksim akibat stres, atau eksim karena kontak dengan bahan
iritan.
Setelah eksim, penyakit kedua adalah penyakit-penyakit infeksi. Di Jakarta penyakit infeksi akibat jamur masih menduduki tempat kedua atau
ketiga, sedangkan di daerah pinggiran yang ada adalah infeksi bakteri seperti koreng atau penyakit-penyakit yang menimbulkan
nanah.
Bicara soal infeksi jamur, kita mengenal panu dan kurap. Yang jadi masalah, biarpun kurap lebih banyak diderita daripada
panu, tapi akibat kurap bentuknya macam-macam, yang tahu hanya dokter.
Penyakit jamur kurap itu sebetulnya tidak berbahaya. Karena, pada dasarnya jamur itu sendiri tidak
berbahaya. Sifatnya oportunis, kalau kondisi memungkinkan, ia menyerang. Ia tidak 100% jahat atau
patogen. Sayangnya, karena ia biasanya terdapat pada "daerah-daerah rawan" seperti di sekitar
paha, pasien suka malu pergi ke dokter. Seringkali mereka datang setelah kurap lama menetap dan tidak sembuh-sembuh akibat tidak tepatnya pemberian
obat. Dokter pun kadang sudah sulit mendiagnosanya akibat kurap sudah berubah rupa seperti penyakit kulit yang lain.
Kondisi yang memungkinkan timbulnya kurap pertama-tama adalah kelembapan. Indonesia merupakan daerah
tropis, jadi pasti lembap. Penyebab kedua adalah kondisi kulit yang tidak
menguntungkan, yakni pada tempat yang suhunya lebih tinggi dari sekitarnya, kemudian ada friksi
(gesekan-gesekan).
Penyebab yang kedua ini sebetulnya sering diakibatkan gaya hidup orang tersebut, misalnya suka memakai baju yang
ketat, pakaian dalam ketat supaya perutnya tampak langsing, atau pakaian yang tidak menyerap
keringat.
Penularannya sendiri bisa terjadi dari binatang, karena jamur kurap bisa menyerang binatang-binatang
berbulu, dari mulai kucing, anjing, tikus. Misalkan kita tidak punya peliharaan kucing atau anjing pun, apabila tikus yang ada di atap rumah kena
jamur, lalu kalau malam dia turun, lalu bulu yang rontok mengenai anak-anak, atau siapa pun, ia jadi
penyebar.
Gejala yang dirasakan pertama kali apabila terkena kurap adalah rasa gatal. Kadang-kadang gatalnya baru satu bintik
saja. Tapi kemudian melebar. Yang khas, dan bedanya dengan eksim, adalah batasnya yang
tegas. Bagian tengahnya lama-lama kelihatannya seperti ada yang menyembul, tapi masih terus
melebar.
Sayangnya, orang-orang yang terkena mengganggap ini hanya sakit gatal. Mereka akan memakai obat
sendiri, kadang-kadang mengulang saja obat dari dokter yang dulu pernah
dipakainya, padahal obat itu bukan untuk jamur. Dengan pengobatan yang tidak
benar, gambarannya berubah, mirip seperti eksim. Yang jadi persoalan, kalau dia datang ke
dokter, dokter pun tidak bisa membedakan lagi apakah itu eksim atau bukan.
Jadi, terus diberikan obat-obatan eksim yang sifatnya berlawanan.
Jangan obati sendiri
Maka dari itu dianjurkan segera pergi ke dokter, entah dokter kulit atau dokter
umum, begitu timbul gejala gatal-gatal. Pasien diharapkan tidak mengutak-utik, jadi bintik gatalnya dalam kondisi apa
adanya, agar dokter tahu pasti jenis penyakitnya.
Selanjutnya, pasien diminta membantu agar penyakitnya lebih cepat sembuh, misalnya dengan menghindari faktor
predisposisi, seperti menghindari panas, kelembapan, gesekan, atau keringat
berlebihan.
Setelah itu penderita diminta menghilangkan sumber penularan berikutnya. Karena, kalau
tidak, bisa kambuh lagi. Misalnya, bekas celana jeansnya, yang masih mengandung repihan
kulitnya, bisa menulari orang lain atau kembali menulari dirinya setelah ia
sembuh, kalau tidak dicuci dengan bahan-bahan pemati jamur, lalu dijemur dan
disterika.
Jika pakaian tidak diseterika, tapi disimpan di lemari, apabila dipakai lagi bisa membuat pasien terkena
lagi. Karena sporanya masih bertahan biarpun sudah sebulan berlalu. Sporanya kuat dan dapat bertahan hidup dalam waktu yang
panjang.
Bisa juga digunakan sabun-sabun antiseptik atau yang mengandung sulfur kalau kulit terkena gangguan
jamur. Namun, jangan sampai menimbulkan iritasi. Jadi, dalam memilih sabun harus dilihat dulu kelainannya
apa. Kalau akibat jamur saja boleh saja memakai sabun sulfur. Tapi pada kondisi kulit tertentu yang
kering, semisal eksim bawaan seperti pada anak-anak (kering pada lipatan
lengan, putih-putih pada pipi, dsb.) sebaiknya jangan. Karena hal itu bisa membuat lebih
gatal. Sebaiknya gunakan sabun yang ringan, yaitu yang netral.
Biasanya sabun yang makin alkalis, makin basa, sifat pembersihnya memang makin
bagus, tapi tidak baik untuk kulit. Ph kulit 5,5. Jadi yang bagus adalah sabun yang tidak mengganggu tingkat keasaman
kulit. Dilematisnya, sabun dengan tingkat keasaman kulit rendah, daya pembersihnya kadang-kadang
menurun. Untungnya sekarang sudah banyak produk sabun yang ph-nya seimbang namun tetap mempunyai efek pembersih yang
baik, seperti yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan penghasil alat-alat perawatan
kulit.
Seperti ular
Sementara pemeliharaan kulit dengan sekali-sekali luluran juga tak ada salahnya. Lulur itu kalau dilihat dari segi bahan yang dioleskan tujuannya adalah untuk meluruhkan kulit-kulit yang sudah
mati. Seperti kita tahu, kulit untuk sampai ke permukaan paling atas membutuhkan waktu satu bulan dan setelah itu lepas secara kasat
mata. Seperti ganti kulit pada ular, tapi tidak kelihatan. Masalahnya, pada usia 20 - 25 tahun ke atas daya lepas kulit mati sudah
berkurang; tidak seperti saat kita bayi. Apalagi kalau usia di atas 40. Maka orang-orang pada usia ini memang terbantu dengan bahan-bahan luluran semacam
itu.
Mungkin saja di dalam lulur itu ditambahkan bahan lain seperti pewangi, pelembap, atau warna apa
saja. Tapi pada dasarnya daya kerja utama lulur itu untuk meluruhkan kulit
mati. Namun demikian kalau kulit bermasalah kita harus berhati-hati. Kadang-kadang ada yang habis dilulur lalu
gatal-gatal. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, sebaiknya sebelum dilulur kita mencoba sedikit dulu di bagian yang tidak
berbahaya.
Sayangnya, untuk melihat reaksi alergi atau tidak, bahan tidak cukup diolehkan satu kali
saja. "Yang namanya tes kosmetik itu tidak cukup hari ini pakai, terus oh ya
sudah, ternyata saya tahan. Kadang-kadang dua minggu baru muncul efek-efek
buruknya. Jadi kalau orang tidak mempunyai kecenderungan alergi, ya tidak usah
takut. Tapi kalau orang yang kulitnya sensitif dan gampang alergi harus lebih
berhati-hati. Coba dulu di tempat yang tidak merugikan," demikian pesan dr.
Kusmarinah.
Selain bahan yang dioles, ada juga pil-pil yang diminum untuk menjaga kulit tetap
sehat. Bahkan ada vitamin-vitamin yang mengandung vitamin E atau C. Ada juga produk yang mengandung rumput
laut. Rumput laut mengandung asam-asam amino, derivat dari protein yang bagus untuk menjaga kesehatan dan
pertumbuhan.
Sebenarnya, kalau komposisi gizi tercukupi, kita tidak memerlukan makanan tambahan seperti
itu. Pasalnya, kita suka makan tidak benar.
"Silakan saja minum vitamin, toh tidak ada bahayanya, asal mengikuti
aturan. Apalagi orang dengan kesibukan yang tinggi, makannya suka kacau. Jadi perlu juga minum vitamin-vitamin," ujar dr.
Kusmarinah.
Nah, karena kulit memang istimewa, tidak ada salahnya jika Anda memperhatikan
kesehatannya. Karena dialah cermin pertama kepribadian Anda! (Anglingsari SI SK) |
|||||
|
|
|||||