globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Juni 2000

Nantikan Gebyar Sayembara Intisari Juli - Oktober 2000

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

KULIT CERMIN KEPRIBADIAN

 

Ada tas kulit, sepatu kulit, dompet kulit. Pokoknya, barang yang dari kulit pasti punya nilai lebih. Itu baru kulit binatang. Bagaimana dengan kulit manusia? Pasti istimewa. Maka tak heran orang jadi begitu penuh perhatian terhadap lapisan yang satu ini. Setidaknya, dialah barometer menilai seseorang. Jadi jangan heran kalau manusia modern sekarang ini begitu concern pada yang namanya perawatan kulit, terutama kaum hawanya.

 

 

Kulit adalah pembungkus elastis yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Ia merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas, yakni 15% dari berat tubuh dengan luas 1,50 - 1,75 m2. Tebalnya rata-rata 1 - 2 mm. Asal Anda tahu saja, lapisan kulit yang paling tebal (6 mm) ada di telapak tangan dan kaki, sementara yang paling tipis (0,5 mm) ada di ... penis!

Namun penyakit kulit yang paling bikin gempar ternyata jerawat yang muncul di wajah. Di bagian kosmetik, misalnya yang mengeluh tentang jerawat hampir 40, sementara di bagian jamur 20 - 30. Memang masih belum diketahui apakah betul jerawat merupakan kelainan yang paling tinggi, tapi karena ia paling sering muncul di wajah daripada bagian lain, maka orang jadi lebih serius menanganinya.

 

Ulahnya kelenjar lemak

Jerawat timbul akibat aktivitas kelenjar lemak yang hebat, ditambah gangguan pelepasan kulit yang kurang bagus, dan juga faktor adanya bakteri di permukaan kulit.

Kebersihan kulit membantu mengurangi populasi bakteri itu sendiri, mengurangi timbunan lemak, pun membantu melepaskan kulit mati yang menyumbat pori-pori. Lalu berapa kali sebaiknya kita membersihkan muka? "Minimal dua kali sehari. Tapi kalau aktivitas Anda berlebih, sering terkena sinar matahari atau ke tempat yang banyak debu, boleh saja membersihkan lebih sering," jelas dr. Kusmarinah Bramono, dari Klinik Jakarta Skin Center.

Jerawat akibat bakteri bisa diobati dengan memberikan antibiotika dosis rendah. Maksudnya hanya untuk menekan populasi bakteri penyebab jerawat.

Bicara soal kulit wajah tentu kita tidak lupa akan masalah lain, yakni masalah kelembapan. Makin berumur seseorang, kulit makin berkurang kelembapannya. Lebih-lebih apabila orang tersebut sering berada di ruangan yang ber-AC. Tak heran apabila banyak orang memakai pelembap. Bahkan kini beberapa pelembap ditambahi bahan-bahan aktif lain seperti vitamin, hormon-hormon seperti plasenta domba, dsb.

Cuma perlu diingat mereka yang berkulit sensitif atau cenderung alergis, harus pandai-pandai memilih. Karena, salah-salah malah bisa bikin kulit runyam.

Sementara pemakaian sun block alias tabir surya sah-sah saja dipakai karena kita tinggal di negeri yang kaya matahari. Pasalnya, tabir surya dipakai untuk menghindari radiasi ultra violet. Hanya yang harus diperhatikan, bahan ini biasanya merupakan bahan kimia.

Seperti kita ketahui, bahan kimianya ada dua macam: yang mengandung paba dan nonpaba. Yang paba dikhawatirkan menimbulkan reaksi alergis. Yang nonpaba dikatakan tidak, tetapi umumnya bahan kimia yang dipakai untuk sun block tidak larut dalam air. Jadi, supaya larut, ia harus mengandung lemak. Untuk orang yang tidak mempunyai masalah jerawat memang tidak apa-apa. Tetapi untuk yang punya masalah jerawat, bisa gawat. "Kalau kulit sudah berminyak lalu ditambah sun block, ya tambah berminyak lagi. Maka itu sebaiknya memilih sun block yang kurang kadar lemaknya. Biasanya itu bentuknya lotion," jelas dr. Kusmarinah Bramono lagi.

 

Spora tahan lama

Dari wajah kita turun ke tubuh. Menurut data dari berbagai rumah sakit pendidikan di Indonesia, penyakit kulit yang paling banyak menyerang masih eksim alias dermatitis. Eksim itu jenisnya banyak dan dibagi atas berbagai macam, mulai dari eksim alergi, eksim bawaan, eksim akibat stres, atau eksim karena kontak dengan bahan iritan.

Setelah eksim, penyakit kedua adalah penyakit-penyakit infeksi. Di Jakarta penyakit infeksi akibat jamur masih menduduki tempat kedua atau ketiga, sedangkan di daerah pinggiran yang ada adalah infeksi bakteri seperti koreng atau penyakit-penyakit yang menimbulkan nanah.

Bicara soal infeksi jamur, kita mengenal panu dan kurap. Yang jadi masalah, biarpun kurap lebih banyak diderita daripada panu, tapi akibat kurap bentuknya macam-macam, yang tahu hanya dokter.

Penyakit jamur kurap itu sebetulnya tidak berbahaya. Karena, pada dasarnya jamur itu sendiri tidak berbahaya. Sifatnya oportunis, kalau kondisi memungkinkan, ia menyerang. Ia tidak 100% jahat atau patogen. Sayangnya, karena ia biasanya terdapat pada "daerah-daerah rawan" seperti di sekitar paha, pasien suka malu pergi ke dokter. Seringkali mereka datang setelah kurap lama menetap dan tidak sembuh-sembuh akibat tidak tepatnya pemberian obat. Dokter pun kadang sudah sulit mendiagnosanya akibat kurap sudah berubah rupa seperti penyakit kulit yang lain.

Kondisi yang memungkinkan timbulnya kurap pertama-tama adalah kelembapan. Indonesia merupakan daerah tropis, jadi pasti lembap. Penyebab kedua adalah kondisi kulit yang tidak menguntungkan, yakni pada tempat yang suhunya lebih tinggi dari sekitarnya, kemudian ada friksi (gesekan-gesekan).

Penyebab yang kedua ini sebetulnya sering diakibatkan gaya hidup orang tersebut, misalnya suka memakai baju yang ketat, pakaian dalam ketat supaya perutnya tampak langsing, atau pakaian yang tidak menyerap keringat.

Penularannya sendiri bisa terjadi dari binatang, karena jamur kurap bisa menyerang binatang-binatang berbulu, dari mulai kucing, anjing, tikus. Misalkan kita tidak punya peliharaan kucing atau anjing pun, apabila tikus yang ada di atap rumah kena jamur, lalu kalau malam dia turun, lalu bulu yang rontok mengenai anak-anak, atau siapa pun, ia jadi penyebar.

Gejala yang dirasakan pertama kali apabila terkena kurap adalah rasa gatal. Kadang-kadang gatalnya baru satu bintik saja. Tapi kemudian melebar. Yang khas, dan bedanya dengan eksim, adalah batasnya yang tegas. Bagian tengahnya lama-lama kelihatannya seperti ada yang menyembul, tapi masih terus melebar.

Sayangnya, orang-orang yang terkena mengganggap ini hanya sakit gatal. Mereka akan memakai obat sendiri, kadang-kadang mengulang saja obat dari dokter yang dulu pernah dipakainya, padahal obat itu bukan untuk jamur. Dengan pengobatan yang tidak benar, gambarannya berubah, mirip seperti eksim. Yang jadi persoalan, kalau dia datang ke dokter, dokter pun tidak bisa membedakan lagi apakah itu eksim atau bukan. Jadi, terus diberikan obat-obatan eksim yang sifatnya berlawanan.

 

Jangan obati sendiri

Maka dari itu dianjurkan segera pergi ke dokter, entah dokter kulit atau dokter umum, begitu timbul gejala gatal-gatal. Pasien diharapkan tidak mengutak-utik, jadi bintik gatalnya dalam kondisi apa adanya, agar dokter tahu pasti jenis penyakitnya.

Selanjutnya, pasien diminta membantu agar penyakitnya lebih cepat sembuh, misalnya dengan menghindari faktor predisposisi, seperti menghindari panas, kelembapan, gesekan, atau keringat berlebihan.

Setelah itu penderita diminta menghilangkan sumber penularan berikutnya. Karena, kalau tidak, bisa kambuh lagi. Misalnya, bekas celana jeansnya, yang masih mengandung repihan kulitnya, bisa menulari orang lain atau kembali menulari dirinya setelah ia sembuh, kalau tidak dicuci dengan bahan-bahan pemati jamur, lalu dijemur dan disterika.

Jika pakaian tidak diseterika, tapi disimpan di lemari, apabila dipakai lagi bisa membuat pasien terkena lagi. Karena sporanya masih bertahan biarpun sudah sebulan berlalu. Sporanya kuat dan dapat bertahan hidup dalam waktu yang panjang.

Bisa juga digunakan sabun-sabun antiseptik atau yang mengandung sulfur kalau kulit terkena gangguan jamur. Namun, jangan sampai menimbulkan iritasi. Jadi, dalam memilih sabun harus dilihat dulu kelainannya apa. Kalau akibat jamur saja boleh saja memakai sabun sulfur. Tapi pada kondisi kulit tertentu yang kering, semisal eksim bawaan seperti pada anak-anak (kering pada lipatan lengan, putih-putih pada pipi, dsb.) sebaiknya jangan. Karena hal itu bisa membuat lebih gatal. Sebaiknya gunakan sabun yang ringan, yaitu yang netral.

Biasanya sabun yang makin alkalis, makin basa, sifat pembersihnya memang makin bagus, tapi tidak baik untuk kulit. Ph kulit 5,5. Jadi yang bagus adalah sabun yang tidak mengganggu tingkat keasaman kulit. Dilematisnya, sabun dengan tingkat keasaman kulit rendah, daya pembersihnya kadang-kadang menurun. Untungnya sekarang sudah banyak produk sabun yang ph-nya seimbang namun tetap mempunyai efek pembersih yang baik, seperti yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan penghasil alat-alat perawatan kulit.

 

Seperti ular

Sementara pemeliharaan kulit dengan sekali-sekali luluran juga tak ada salahnya. Lulur itu kalau dilihat dari segi bahan yang dioleskan tujuannya adalah untuk meluruhkan kulit-kulit yang sudah mati. Seperti kita tahu, kulit untuk sampai ke permukaan paling atas membutuhkan waktu satu bulan dan setelah itu lepas secara kasat mata. Seperti ganti kulit pada ular, tapi tidak kelihatan. Masalahnya, pada usia 20 - 25 tahun ke atas daya lepas kulit mati sudah berkurang; tidak seperti saat kita bayi. Apalagi kalau usia di atas 40. Maka orang-orang pada usia ini memang terbantu dengan bahan-bahan luluran semacam itu.

Mungkin saja di dalam lulur itu ditambahkan bahan lain seperti pewangi, pelembap, atau warna apa saja. Tapi pada dasarnya daya kerja utama lulur itu untuk meluruhkan kulit mati. Namun demikian kalau kulit bermasalah kita harus berhati-hati. Kadang-kadang ada yang habis dilulur lalu gatal-gatal. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, sebaiknya sebelum dilulur kita mencoba sedikit dulu di bagian yang tidak berbahaya.

Sayangnya, untuk melihat reaksi alergi atau tidak, bahan tidak cukup diolehkan satu kali saja. "Yang namanya tes kosmetik itu tidak cukup hari ini pakai, terus oh ya sudah, ternyata saya tahan. Kadang-kadang dua minggu baru muncul efek-efek buruknya. Jadi kalau orang tidak mempunyai kecenderungan alergi, ya tidak usah takut. Tapi kalau orang yang kulitnya sensitif dan gampang alergi harus lebih berhati-hati. Coba dulu di tempat yang tidak merugikan," demikian pesan dr. Kusmarinah.

Selain bahan yang dioles, ada juga pil-pil yang diminum untuk menjaga kulit tetap sehat. Bahkan ada vitamin-vitamin yang mengandung vitamin E atau C. Ada juga produk yang mengandung rumput laut. Rumput laut mengandung asam-asam amino, derivat dari protein yang bagus untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan.

Sebenarnya, kalau komposisi gizi tercukupi, kita tidak memerlukan makanan tambahan seperti itu. Pasalnya, kita suka makan tidak benar.

"Silakan saja minum vitamin, toh tidak ada bahayanya, asal mengikuti aturan. Apalagi orang dengan kesibukan yang tinggi, makannya suka kacau. Jadi perlu juga minum vitamin-vitamin," ujar dr. Kusmarinah.

Nah, karena kulit memang istimewa, tidak ada salahnya jika Anda memperhatikan kesehatannya. Karena dialah cermin pertama kepribadian Anda! (Anglingsari SI SK)

Active Channel
© 1996 - 2000 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej