|
|
Bulan Juni 2000
|
|
MEMBELI MARAH DUA RIBU RUPIAH
Suatu hari bersama seorang teman, saya naik bus umum dari Semarang ke Surakarta. Hampir di setiap halte, terminal kecil, atau lampu perempatan merah, bus berhenti. Setiap kali bus berhenti, ada saja penjaja asongan, pengamen, atau penjual koran menawarkan dagangannya. Seorang penjaja koran naik, lalu berdiri di dekat sopir. Ia pun mulai berkoar-koar menjajakan dagangannya dengan cara sangat menarik. Ia mencuplik beberapa topik berkisar tentang kemelut politik di negeri ini. Kesan singkat yang saya tangkap, berita-beritanya seru! Saya pun tergiur untuk membeli sebuah tabloid seharga dua ribu rupiah. Sepanjang perjalanan saya membaca dengan tekun berita demi berita. Sementara teman saya hanya diam mengamati. Saya pun tak mengacuhkannya. Namun lama-kelamaan muncul rasa heran pada sikap teman saya itu. Meski sesekali saya geram membaca berita itu, ia tak mengacuhkan. Jangankan menanyakan isi berita; melongok pun tidak. Kenapa ia tak tertarik dengan aneka berita menjengkelkan, aneh, dan kontroversial itu? "Kamu enggak ingin baca koran ini?" tanya saya. "Enggak. Baca saja sendiri," jawabnya datar. "Eh, isinya menarik lo. Lagipula kita harus selalu mengikuti perkembangan kehidupan negeri sendiri." "Ah, di koran itu belum cukup. Koran itu jelek." Saya heran dengan ungkapan terakhir itu. "Apa alasanmu mengatakan koran ini jelek?" saya menyelidik. "Lihat saja, ia cuma menyajikan data kecurangan, kebobrokan, dan kelicikan pejabat. Ia hanya menunjukkan bahwa para pejabat itu rakus dan dengan sadar menipu rakyat. Sampai di situ titik." "Lalu?" "Harusnya ia menyajikan analisanya, solusi, dan sikap positif agar pembaca tidak marah. Pembaca boleh kecewa dengan fakta, tapi ia juga harus dibekali sikap yang membangun. Kalau hanya kemarahan dan kegeraman yang muncul, itu namanya menjual kemarahan. Seperti kamu, baru saja membeli kemarahan seharga dua ribu rupiah." Saya diam mencerna ungkapan teman itu. Cukup lama. Tiba-tiba seseorang di bangku belakang berujar, "Kurang ajar, lolos lagi penjahat negara ini. Harusnya didor saja. Dicincang hingga mati!" Rupanya, orang itu juga sedang membaca tabloid yang sama. Teman saya pun tersenyum. (Sidharta Susila FIC) |
|||||
|
|
|||||