|
|
Bulan Juni 2000
|
|
Jangan Sembarang Makan Obat Pelangsing
Pada sebagian wanita, menyitir kata-kata penyair Wiji Thukul, hanya ada satu kata bagi kegemukan: lawan! Para ahli menjabarkan perlawanan itu dalam diet dan olahraga yang ketat. Namun, cara ini sering tidak efektif dan perlu kedisiplinan tinggi. Belum lagi pada orang yang melampiaskan stres dengan makan akan melayukan motivasi diet. Lalu, bagaimana solusinya kalau stres tak bisa dihindari lagi?
Nancy (27), sebut saja begitu, termasuk orang yang melahap apa saja kala stres melanda jiwanya. Padahal, sebagai praktisi pemasaran ia selalu berkawan dengan stres. Tak ayal lagi, teman-temannya mulai memanggilnya si gendut. Sebenarnya ia telah menempuh berbagai cara untuk melangsingkan tubuh. Tapi usahanya sering kandas di tengah jalan. Penyebabnya, ya, stres itu tadi. Berat badannya ibarat grafik penjualan yang cenderung meningkat.
Didukung olahraga yang tepat Bagi mereka yang tidak dapat melaksanakan dietnya karena berbagai permasalahan psikologis yang berujung stres, kombinasi diet tinggi karbohidrat yang meningkatkan kadar serotonin dalam otak dan penggunaan obat pelangsing yang mempertahankan aktivitas serotonin barangkali bisa membantu. Hanya saja perlu diperhatikan efek sampingannya. Serotonin merupakan zat kimia dalam otak yang mengendalikan emosi sekaligus selera makan. Peningkatan aktivitas dan kadar serotonin dalam otak ternyata menekan keinginan untuk makan berlebihan yang didorong oleh stres emosional. Sedangkan efek sampingan yang sering ditimbulkan oleh serotonin adalah rasa pusing dan mengantuk. Memang, mereka yang sering mengalami stres emosional tidak tepat jika menjalani diet konvensional. Diet yang terkenal dengan sebutan diet rendah kalori ini intinya adalah membatasi asupan kalori dengan cara membatasi konsumsi minyak dan karbohidrat sederhana. Makanan yang dianjurkan adalah yang kaya serat, seperti sereal utuh, sayuran, dan buah. Pada beberapa pusat perampingan tubuh, pesertanya disuruh menghindari nasi, mi, roti putih, dan beberapa makanan sumber karbohidrat sederhana lainnya. Keberhasilan diet konvensional juga didukung oleh olahraga yang tepat. Hal ini tentu menjadi pekerjaan yang berat bagi si penderita depresi. Pada diet rendah kalori dan lemak tapi tinggi karbohidrat (dengan rasio protein : karbohidrat adalah 1 : 5), keadaan depresi akibat stres akan dapat dikurangi melalui peningkatan kadar serotonin dalam otak yang sekaligus juga menekan selera makan. Dengan berkurangnya tingkat depresi, olahraga juga akan lebih mudah dilakukan. Dalam diet semacam ini, lean body mass (khususnya massa otot) akan tetap terjaga karena tubuh memperoleh karbohidrat dalam jumlah yang cukup untuk kerja otot, sementara olahraga tetap dapat dilaksanakan.
Serotonin ngambek kala stres Ketika kita mengkonsumsi karbohidrat yang memberikan glukosa, hormon insulin akan disekresikan ke dalam darah untuk membawa glukosa masuk ke dalam sel tubuh, di mana ia akan digunakan untuk menghasilkan tenaga. Glukosa merupakan bentuk karbohidrat tercerna, yang terdapat dalam darah, sehingga dikenal pula dengan nama gula darah. Selama proses di atas berlangsung, insulin juga memaksa semua asam amino yang ada di darah untuk masuk ke dalam sel otot, kecuali triptofan. Belum diketahui mengapa triptofan terkena verboden. Asam amino ini malah ngeluyur masuk ke dalam sel otak dengan bebasnya. Serotonin akan terbentuk jika di dalam sel otak tersedia cukup triptofan. Baik karbohidrat sederhana maupun kompleks akan mengendalikan asam amino dalam darah, kecuali fruktosa. (Ini jenis gula yang ada dalam buah.) Fruktosa harus malih rupa menjadi glukosa di dalam hati sehingga konsumsi fruktosa tidak akan melepaskan banyak insulin. Akibatnya tidak cukup banyak asam amino yang dikeluarkan dari darah untuk memberikan kesempatan bagi triptofan masuk ke dalam otak. Dari penjelasan di atas, kita memahami bahwa diet karbohidrat (kecuali fruktosa) yang tidak banyak mengandung protein serta lemak akan meningkatkan serotonin dalam sel otak. Selanjutnya serotonin akan mengendalikan emosi sekaligus menekan selera makan. Kenyataan ini menjelaskan mengapa seorang anak kecil yang mengalami stres emosional akan berhenti menangis sekaligus tidak mau makan kalau ia dibujuk dengan permen atau makanan yang manis. Penelitian Judith J. Wurtman, Ph.D. dari Institut Teknologi Massachussetts terhadap ratusan wanita dan pria yang kelebihan berat namun tidak bisa mengatasi dorongan makan akibat stres emosional membuktikan kebenaran teori diet tersebut. Dalam keadaan stres, serotonin tidak dapat bekerja dengan normal sehingga selera makan juga tidak terkendali. Fungsi serotonin dapat pulih kembali dengan makan makanan yang kaya karbohidrat tapi miskin lemak dan protein.
Bakso seperlima mi instan Lagi pula, makanan yang terlalu kaya lemak atau minyak dan protein dapat mengganggu sistem pengelolaan stres dalam otak. Dr. Sara Leibowitz, profesor pada Universitas Rockefeller yang menemukan senyawa galanin dalam otak, menyatakan bahwa kerja galanin diaktifkan oleh konsumsi lemak yang berlebihan. Galanin ini akan berkompetisi dengan serotonin. Kerja serotonin pun menjadi tak maksimal. Dengan sendirinya, kadar galanin yang terlalu tinggi membuat seseorang merasa letih, pasif, serta tidak mampu berpikir dengan jernih. Di lain pihak, makanan yang tinggi protein akan menaikkan kadar asam amino bebas dalam darah sehingga kesempatan triptofan untuk masuk ke dalam otak berkurang. Alasan ini membuat Wurtman menganjurkan agar kandungan protein dalam diet adalah seperlima dari jumlah karbohidrat (atau perbandingan protein terhadap karbohidrat adalah 1 : 5). Ini berarti jika Anda makan satu biji bakso seberat 10 g, Anda harus memakannya bersama 50 g mi instan tanpa dibubuhi minyak. Kalau makan 50 g daging, Anda harus juga memakan 250 g kentang. Jumlah kalori yang dianjurkan Wurtman adalah sekitar 1.400 kalori per hari atau kurang lebih 400 kalori per kali makan jika Anda makan 3 - 4 kali sehari. Karbohidrat kompleks yang banyak terdapat dalam sereal atau biji-bijian yang utuh lebih baik daripada karbohidrat murni karena kandungan kalorinya lebih rendah sehingga bisa dikonsumsi lebih banyak. Buah dan sayuran lebih berfungsi sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat. Meskipun serat makanan dapat memberikan rasa kenyang, tapi perasaan kenyang ini tidak akan bertahan lama karena hanya memperpendek waktu retensi makanan dalam saluran cerna dan mempercepat transit makanan.
Konsultasi dulu Di pasaran beredar deksfenfluramin dan sebagian obat pelangsing yang bekerja mengurangi selera makan dengan cara memperpanjang masa kerja serotonin melalui dua cara: meningkatkan jumlah serotonin yang meninggalkan tempat penyimpanannya (dengan kata lain meningkatkan pelepasan serotonin) dan menjaga agar serotonin tidak terlalu cepat kembali ke dalam sel tempat serotonin itu disimpan. Perlu diketahui bahwa serotonin merupakan neurotransmitter yang bekerja dalam sistem pengelolaan stres. Jika tidak dibutuhkan, serotonin akan disimpan dalam sel otak tertentu. Ketika diperlukan, serotonin akan bekerja aktif setelah dirangsang oleh sel otak yang lain, kemudian meninggalkan tempat penyimpanannya dan mengalir masuk ke dalam ruangan antarsel. Dalam keadaan aktif, serotonin bisa diibaratkan dengan pesawat telepon yang sedang tersambung sehingga dapat mengirimkan suara. Tetapi, setelah beberapa saat, reaksi biokimia tertentu memaksa serotonin untuk kembali ke tempat penyimpanannya. Kembalinya serotonin ini sama seperti kita menaruh gagang telepon ke tempatnya setelah pembicaraan selesai. Beberapa jenis obat pelangsing akan memperpanjang masa kerja serotonin. Sementara, diet tinggi karbohidrat menstimulasi produksi serotonin. Dengan diet tinggi karbohidrat saja, masa kerja serotonin mungkin hanya sekitar tiga jam setelah makan. Diet tinggi karbohidrat (minus fruktosa) yang disertai pemberian deksfenfluramin akan membuat para penyandang obesitas tidak berselera makan selama 24 jam! Pun di saat mereka sedang dalam keadaan stres emosional. Hanya saja perlu hati-hati dalam penggunaannya. Obat pelangsing seperti fenfluramin dan deksfenfluramin memiliki efek sampingan. Efek itu berupa kerusakan saraf otak (brain serotonin neuron damage), kenaikan tekanan darah paru (hipertensi pulmonalis), dan kerusakan katup jantung. Ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa pakar seperti McCann M.D. dari Institut Nasional Kesehatan Mental, Bethesda, Dr. Seiden dari Universitas Chicago, dan Dr. Ricaurte dari Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins terhadap penggunaan preparat obat tersebut kepada binatang. Berkaca dari hasil tersebut, penggunaan obat pelangsing ini harus dilakukan atas indikasi dan di bawah pengawasan dokter yang berwenang. Serotonin sendiri, kendati memberikan efek penenang dan penekan selera makan, dapat menimbulkan beberapa akibat sampingan seperti rasa mengantuk dan pusing. Dengan demikian, pelaksanaan diet karbohidrat dengan obat anorektik (penghilang selera makan) untuk mengatasi obesitas akibat stres memerlukan pertimbangan yang cermat untung-ruginya. Sebelum memulainya, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter atau ahli yang benar-benar menguasai masalah ini. (dr. Andry Hartono, D.A.N.)
Boks:
Tabel |
|||||
|
|
|||||