|
|
Bulan Juni 2000
|
|
Raden
Saleh, Sang Pangeran Ajaib Raden Saleh, sang pangeran ajaib. Paling tidak itu gelarnya dalam buku yang disusun Lev Dyomin, Zagadocny Princ, Raden Saleh I Ego Wremya (Pangeran Ajaib, Raden Saleh dan Zamannya) yang dicetak oleh penerbit Rusia. Kala itu, pertengahan abad XIX, dunia seni lukis atau seni gambar para bumiputera masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah, dan sebagian terbesar menyimpan potensi dekoratif. Misalnya lukisan Bali, Jawa, ornamen di Toraja atau Kalimantan. Raden Saleh berkibar sendiri dengan gaya lukis fotografis, gaya seni lukis Barat. Ia memang belajar di Barat, di antaranya membuat easelpainting atau lukisan dalam bentuk pigura. Raden Saleh mampu menampilkan tema berbeda dari seni lukis Indonesia, yang oleh masyarakat Barat dinilai berunsur "religius-kontemplatif-abstrak", bersifat keagamaan, bersamadi, lepas dari kebendaan. Ia memang pelukis objek alam dan kehidupan hewan, khususnya kuda dan binatang buas. Ia juga dianggap mumpuni dalam mencoretkan garis wajah dalam lukisan potret. Kesukaannya hanya menggambar Raden Saleh Sjarif Bestaman lahir tahun 1807, tanpa diketahui tanggal dan bulannya, dari wanita Mas Adjeng Zarip Hoesen. Sejak usia 10 tahun, anak dari Terbaya (dekat Semarang) ini diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Anak sopan itu menonjol dengan kesukaannya menggambar. Sewaktu di sekolah rakyat (Volks-School) saat guru mengajar, ia malah menggambar. Gurunya tak marah, karena ia kagum melihat karya muridnya. Keluwesannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan
di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan
dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan
kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Tertarik pada bakat Raden Saleh,
Payen berinisiatif memberikan bimbingan.
Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun
mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu
Raden Saleh menyelami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya,
misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam
perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia
pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah
yang disinggahi. Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen
mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Konon usul ini
didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu
(1819 - 1826), setelah ia melihat karya "ajaib" Raden Saleh.
Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro
oleh Jenderal de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun,
keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat
tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke
Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge
tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, bahasa Jawa, dan bahasa
Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
Terkapar bersimbah darah
Semasa belajar di Belanda keterampilannya berkembang pesat. Wajar ia
dianggap saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar.
Mereka pun berniat "memberi pelajaran".
Para pelukis muda itu mulai melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip
aslinya itu pun diperlihatkan ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang
serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai
kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh
menyingkir.
Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul
praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka
ke rumahnya. Benar, pintu rumahnya terkunci dari dalam. Prasangka mereka
makin buruk. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka saling
jerit. "Mayat Raden Saleh" terkapar di lantai berlumuran darah!
Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. "Lukisan
kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa
menipu manusia," ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun
ngeloyor pergi, menanggung malu.
Itulah salah satu pengalaman menarik Raden Saleh sebagai cermin kemampuannya.
Dua tahun pertama ia pakai untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar
teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima tahun
pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelius Krussemen dan tema
pemandangan dari Andreas Schelfhout karena karya mereka memenuhi selera dan
mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang
kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.
Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai
dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Melihat
lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Prasangka mereka,
"Lain Barat, Lain Timur" gugur seketika. Mana sangka pelukis muda
dari Indie itu dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.
Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar
boleh tinggal lebih lama untuk belajar "wis-, land-, meet- en
werktuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam
perundingan antara Minister van Kolonieen, Raja Willem I (1772 - 1843), dan
pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia.
Tapi sokongan uang dari kolonial kas Nederland dihentikan.
Saat pemerintahan Raja Willem II (1792 - 1849) ia mendapat dukungan serupa.
Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu,
misalnya Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status
tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia
kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana
kerajaan Belanda.
Di Eropa tetap berblangkon
Tapi, jiwa seninya belum terpuaskan. Seni lukis Belanda, baginya, tidak
menempuh jalan sendiri, tetapi selalu mengekor aliran di Prancis. Wawasan
seninya pun makin berkembang seiring dengan terbitnya kekaguman pada karya
tokoh romantisme Eugene Delacroix (1798 - 1863), pelukis Prancis legendaris.
Ia pun intens terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat
agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati
unsur-unsur dramatika yang ia cari.
Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang
mau tak mau mempengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis Prancis
kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan di
tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di
padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian
satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi:
Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia
pulang ke tanah air bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.
Tak banyak catatan sepulangnya di tanah air. Ia dipercaya menjadi
konservator pada Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni. Beberapa lukisan
potret keluarga keraton dan pemandangan menunjukkan ia tetap berkarya. Yang
lain, ia bercerai dengan istri terdahulu lalu menikahi gadis keluarga
ningrat keturunan Keraton Solo.
Di Batavia ia tinggal di vila di sekitar Cikini. Gedungnya dibangun sendiri
menurut teknik sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelukis. Sebagai tanda
cinta terhadap alam dan isinya, ia menyerahkan sebagian dari halamannya yang
sangat luas pada pengurus kebun binatang. Kini kebun binatang itu menjadi
Taman Ismail Marzuki. Sementara rumahnya menjadi RS Cikini, Jakarta.
Tahun 1875 ia berangkat lagi ke Eropa bersama istrinya dan baru kembali ke
Jawa tahun 1878. Selanjutnya, ia menetap di Bogor sampai wafatnya pada 23
April 1880 siang hari, konon karena diracuni pembantu yang dituduh mencuri
lukisannya. Namun dokter membuktikan, ia meninggal karena trombosis atau
pembekuan darah.
Tahun 1883, untuk memperingati tiga tahun wafatnya diadakan pameran-pameran
lukisannya di Amsterdam, di antaranya yang berjudul Hutan Terbakar, Berburu
Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Lukisan-lukisan itu dikirimkan antara lain oleh Radja Willem III dan
Pangeran Van Saksen Coburg-Gotha.
Memang banyak orang kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta Jerman yang
mengagumi pelukis yang semasa di mancanegara tampil "aneh" dengan
berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon. Di antara mereka
adalah bangsawan Saksen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah
gubernur jenderal seperti van den Bosch, Baud, dan Daendels.
Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian
selalu ia sematkan di dada. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de
Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.),
Ridder der Kroonorde van Pruisen (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.),
dll.
Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun 1969 lewat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah
Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Ujud perhatian lain adalah,
pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas
perintah Presiden Soekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi
benda berharga negara, misalnya akhir tahun 1967 PTT mengeluarkan prangko
seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya bergambar binatang buas
yang sedang berkelahi.
Penganut romantisme
Mungkin Raden Saleh memang ditakdirkan untuk selalu "dekat" dengan
orang Belanda. Mulai dari bekerja melukis, belajar melukis secara modern,
melanglang Eropa, plus pesanan melukis, semua karena bantuan orang-orang
Belanda.
Apa karena itu sampai akhir hayat ia memilih predikat sebagai pelukis
Kerajaan Belanda? Seperti tertulis pada prasasti makamnya di Bondongan,
Bogor, "Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja
Wolanda." Kalimat di nisan itulah yang sering melahirkan banyak tafsir
yang memancing perdebatan berkepanjangan tentang visi kebangsaan Raden Saleh.
Namun, soal nasionalis atau tidak seorang pelukis macam Raden Saleh,
tidaklah terlalu penting, kecuali sebagai bagian kehidupan yang mempengaruhi
setiap karyanya.
Seperti halnya kekagumannya pada Delacroix. Tokoh romantisme ini dinilai
mempengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan
keyakinan romantismenya. Itu tak aneh, karena saat romantisme berkembang di
Eropa di awal abad XIX, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Prancis (1844 -
1851).
Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung
paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiositas)
sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis
pelukis Prancis Gerricault (1791 - 1824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam
suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna
abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.
Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti
Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu
manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa,
rusa, banteng, dll.
Akhirnya, Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi
juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya
adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia
menentang penindasan.
Wajar bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak
sungkan mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini
diwujudkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Meski serupa dengan karya J.W. Pieneman, ia memberi interpretasi yang
berbeda.
Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang
berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata
berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang
Jenderal De Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah
memerintahkan penahanan Diponegoro.
Rupanya, Raden Saleh ingin mengoreksi. Di lukisan yang selesai dibuat tahun
1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas
Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan
Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun,
perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena jenderal De
Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan.
Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose
siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan
kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.
Akhirnya, reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat
Raden Saleh dikenang dengan rasa bangga. Drama-drama yang dicoretkan di
kanvasnya dengan gegap gempita, menghapus gelombang drama yang
mengombang-ambingkan namanya semasa hidup.
Dari beberapa yang masih ada, salah satunya lukisan kepala seekor singa,
kini tersimpan dengan baik di Istana Mangkunegaran, Solo. Lukisan ini dulu
dibeli seharga 1.500 gulden. Berapa nilainya sekarang mungkin susah-susah
gampang menghitungnya. Sekadar perbandingan, salah satu lukisannya yang
berukuran besar, Berburu Rusa, tahun 1996 terjual di Balai Lelang
Christie's Singapura seharga Rp 5,5 miliar!
Berkat Raden Saleh, Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa
menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan
dipamerkan di museum bergengsi Louvre, Paris, Prancis. |
|||||
|
|
|||||