|
|
Bulan Juni 2000
|
|
NYANYIAN PAGI SIAMANG KERDIL Satwa ini mempertahankan wilayah atau pasangannya bukan dengan tajamnya gigi atau kuku. Bukan pula dengan kemampuan larinya yang luar biasa. Untuk mempertahankan wilayahnya ia cuma memperdengarkan nyanyian merdu.Di dunia binatang, siamang kerdil (Hylobates klossii) rupanya diciptakan sebagai penyanyi unggul. Tak ada seekor siamang kerdil pun yang tak bisa bernyanyi. Memang, cuma mereka sendiri yang mengerti syair-syair yang dilantunkan. Makhluk lainnya, termasuk manusia, hanya mampu menikmati keindahannya. Alunan nyanyian itulah yang membuat kepulauan Mentawai menjadi sangat marak. Tapi itu dulu. Sekarang, nyanyian merdu mereka sudah sangat jarang terdengar. Makin hari populasi mereka makin berkurang. Bahkan, satwa ini dimasukkan dalam daftar CITES Appendix I dan dikategorikan sebagai hewan endangered (terancam punah). Konsekuensinya, semua bentuk perdagangan atau pun kepemilikan satwa ini, termasuk bagian-bagian tubuhnya, dilarang secara nasional dan internasional. Biang keladi kepunahan terbesar, sekitar 98%, adalah pembabatan habitat mereka oleh perusahaan pemegang HPH dan perambah hutan liar, yang menyebabkan tempat hidup dan sumber pakan mereka ludes. Selebihnya, akibat ulah pemburu tradisional yang mencarinya sebagai sumber protein hewani atau satwa dagangan (ilegal). Semula para pemburu menggunakan sumpit beracun, belakangan mereka menggunakan senapan. Masih beruntung, dalam tata krama berburu orang Mentawai, cuma pemuda yang boleh memakan siamang kerdil. Mereka yang telah berkeluarga tidak diizinkan. Jika berhasil menangkapnya pun, satwa tangkapan tidak boleh dibawa masuk kampung (laggai). Jika berminat memakannya, pemburu harus melakukannya di luar kampung. Dan yang terpenting, tidak seorang pun boleh membunuh siamang kerdil yang sedang bernyanyi. Satwa primata ini memang cuma bisa ditemukan di hutan-hutan hujan tropis Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terutama Pulau Siberut, Sipora, serta Pagai Utara dan Selatan. Mereka betah hidup dan beranak pinak di sana, lantaran hutan-hutannya sangat kaya tanaman buah yang menjadi makanan utama mereka. Begitu hutan-hutan tadi disentuh oleh kegiatan komersial manusia, mereka kehilangan sumber pakan. Ini mempercepat proses pelangkaan mereka. Angka pasti populasi terakhir mereka sulit ditemukan. Namun, data yang ada menunjukkan, pada 1977 angka populasi mereka di habitat aslinya masih berkisar 84.000 ekor (meskipun ada yang menyatakan angka tersebut terlalu besar). Pada 1994, populasinya turun drastis menjadi cuma 25.000 ekor. Sementara, di luar habitat aslinya, satwa hitam legam ini amat jarang ditemukan. Menurut Achmad Yanuar dari Fauna and Flora International IP yang pernah menelitinya di P. Sinakak, Kep. Mentawai, siamang kerdil termasuk sulit dipelihara di luar habitatnya karena adanya stres dan kelangkaan pakannya. Beruntung, menurut Toni Sumampauw, Direktur Taman Safari Indonesia, hingga awal 1999 masih ada dua ekor siamang kerdil yang berada di luar habitat aslinya, yakni di Taman Safari Indonesia (TSI) dan Kebun Binatang London. Itu pun berasal dari generasi berbeda, meskipun keduanya sepasang. Yang di TSI betina muda dan yang di London jantan renta. Menurut Yongki Salmeno, penulis buku Menyusuri Pelosok Mentawai, dari sekian banyak pulau di Kepulauan Mentawai, cuma P. Sinakak merupakan tempat terakhir satwa endemik Kepulauan Mentawai ini masih relatif mudah ditemukan, meski tidak diketahui populasinya. Sampai awal dekade 1990-an mereka masih menjadi penguasa tunggal. Pasalnya, pulau tersebut masih perawan, belum dihuni manusia. Menunjukkan kewibawaan dan undangan beraktivitas Yanuar menyatakan, secara morfologi, siamang kerdil sangat berbeda dengan siamang (Hylobates syndactylus). Ia lebih dekat ke jenis owa. Sebutan siamang kerdil sebenarnya juga kurang tepat. Ia bukanlah siamang, melainkan salah satu keluarga gibbon, seperti siamang itu sendiri. Mungkin lantaran sama-sama berbulu hitam di sekujur tubuhnya, mirip siamang, namun ukurannya kecil, maka muncul sebutan siamang kerdil itu. Namun, menurut Yanuar, untuk sementara nama siamang kerdil bisa dipakai sebagai nama Indonesia. Orang Mentawai sendiri menyebutnya bilou yang oleh orang bule ditulis beeloh. Sementara, para peneliti internasional dan nasional mengusulkan nama bilo sebagai nama Indonesia. Menurut Yongki Salmeno, bilou merupakan penyanyi paling unggul di antara keempat primata endemik Mentawai lainnya. Setidaknya ditemukan 10 bentuk nyanyian yang biasa dikumandangkan satwa ini. Nyanyian yang dilantunkan siamang kerdil jantan itu berfungsi sebagai cara mempertahankan wilayah dan pasangan. Dengan nyanyian, anggota kelompok lain tidak diperkenankan memasuki teritori mereka. Jika ada jantan "asing" datang mendekati wilayah kekuasaannya, siamang kerdil jantan dari kelompoknya segera mulai melantunkan nyanyiannya. Isi syair lagunya kira-kira menjelaskan wilayah itu milik si empunya suara. Mendengar alunan lagu merdu tadi, si calon penyusup perbatasan akan tahu diri dan segera mundur seribu langkah. Dengan begitu pertumpahan darah tidak bakal terjadi. Selain itu, setiap menjelang fajar, terkadang ketika fajar sudah menyingsing, seekor (walaupun tanpa ekor) siamang kerdil jantan dewasa selalu "sarapan pagi" dengan bernyanyi. Nyanyian yang bersahut-sahutan ini bisa berlangsung cuma 10 menit, namun tak jarang bertahan hingga dua jam! Bermula dari siulan kecil, lama kelamaan bersahut-sahutan dan secara bertahap pecah menjadi frase yang lebih kompleks yang berisi sekitar 12 not dan sebuah trill. Hanya ketika salesma, mules, atau penyakit lain yang membuatnya tidak enak badan, dia istirahat bernyanyi. Lirik lagunya kira-kira "Aku ada di sini!". Namun, pesan itu rupanya seringkali tidak dipahami tetangganya dengan baik. Karena itu, perlu sedikit ngotot menyanyi sampai dua jam agar tetangganya memahami. Namun, lagu panjang dan rumit tadi tidak perlu dikumandangkan setiap hari. Maksudnya, agar tidak banyak waktu terbuang hanya untuk "adu mulut" dengan tetangganya. Dari durasi dan kompleksitas lagunya, seekor siamang kerdil jantan dapat mempertunjukkan kewibawaannya dan luas wilayah yang dipertahankannya. Ketika menyanyi, seekor siamang kerdil betul-betul berada dalam keadaan relaks. Sembari menyanyi, dia juga menangkap serangga atau makan bebuahan sebagai pengganjal perut. Sementara nyanyian siamang kerdil betina digambarkan sebagai "nyanyian terindah yang dilantunkan mamalia darat" dan berisi sekitar 20 frase 30 detik yang terdiri atas nada-nada panjang, sebuah trill yang keras, dan nada menurun yang panjang. Nyanyiannya, yang selalu dilantunkan sekitar dua jam setelah fajar, ditampilkan setiap sepertiga atau seperempat hari dari pohon besar yang ada di seluruh pelosok tempat tinggalnya. Ini merupakan pertunjukan paling dramatis di hutan. Dia memanjat ke cabang bagian atas dari pohon tinggi untuk mulai menyanyi. Pada klimaks trill-nya yang sering disebut "undangan agung", dia meluncur ke udara, bergelayutan dari cabang ke cabang, memetik dedaunan, dan sering kali menyebabkan cabang-cabang lapuk jatuh ke tanah. Inti "undangan agung" tersebut sebenarnya merupakan ajakan beraktivitas yang melibatkan seluruh kelompok. Pengumandangan "undangan agung" penting untuk tetap mempertahankan ikatan perkawinan pasangan dewasa dan sebagai perekat tali silaturahmi kelompoknya. Lebih dari itu, juga merupakan suatu bentuk pertahanan. Nyanyian bilou betina diarahkan ke betina lain, yang mungkin telah terpesona oleh nyanyian jantan tertentu, untuk tidak mengganggu siamang kerdil pasangannya. Selama klimaks ini, bayi atau anaknya seringkali tetap melekat pada perut induknya atau mencoba bernyanyi juga. Pada saat bersamaan siamang kerdil jantan dan anak-anak muda lainnya berlomba mengelilingi cabang-cabang yang berguncang dan umumnya membuat ulah semencolok mungkin. Ketika siamang kerdil betina dan anak-cucunya sibuk bercengkerama, yang jantan jarang melakukan kontak dengan anggota kelompok lain. Dia tidur menyendiri, paling-paling acapkali mengelilingi kawasan kekuasaannya tak jauh di belakang atau di sekitar pasangan dan anak-cucunya. Penggemar buah Siamang kerdil merupakan satwa diurnal, aktif dari pagi hingga sore hari. Sebagian besar aktivitasnya diisi dengan menyantap pakan di sekitar tempat hidupnya. Dari 9 - 10 jam aktivitas hariannya, 35%-nya atau sekitar 3 – 3,5 jam, untuk makan. Lalu, sekitar 24%, atau 2 – 2,5 jam, untuk berjalan ke sana kemari. Selebihnya, untuk berbagai kegiatan lain, termasuk di dalamnya melantunkan nyanyian yang bisa dinikmati seluruh penghuni hutan. Satwa ini juga brachiator sejati, yakni satwa yang bergerak dari pohon ke pohon dengan jarak sampai 10 m. Pergerakan itu lebih mengandalkan lengannya yang relatif lebih panjang ketimbang lengan gibon lainnya. Mereka menyukai tinggal di kanopi hutan bagian atas. Di tanaman yang menjulang itu pula mereka tidur dan beristirahat. Yang dipilih pohon-pohon yang tidak mengundang serangga. Kawasan seluas 1 km2 bisa dihuni oleh 20 ekor atau lebih. Kalau dirinci, 72% pakan yang dimakannya adalah bebuahan dan 25%-nya pakan hewani, termasuk serangga. Buah yang disukainya pun terutama yang berkadar gula tinggi. Mereka hampir tidak makan dedaunan. Dalam satu keluarga atau kelompok siamang kerdil terdapat sepasang bilou dewasa dan anak-anak mereka. Pasangan dewasa dari sebuah kelompok keluarga gibbon selalu menghasilkan seekor bayi setiap 2 - 3 tahun. Dalam keluarga itu, bapak siamang kerdil merupakan pimpinan dan penguasa wilayah. Meski begitu, ukuran tubuhnya ternyata lebih kecil ketimbang yang betina. Bobot badan bilou jantan rata-rata cuma 5,6 kg. Sedangkan yang betina rata-rata bisa mencapai 5,9 kg. Namun, dalam soal bulu, keduanya memiliki warna yang sama. Ini pula yang membedakan siamang kerdil dengan jenis-jenis gibbon lainnya, kecuali siamang. Untuk mendapatkan keturunan ibu siamang kerdil mesti bunting selama 7 - 8 bulan. Setelah punya anak, oroknya disapih pada umur dua tahun. Pada usia anak setahun, sang bapak akan mengambil alih proses pengasuhannya dan dari bapak inilah anak belajar bergerak bebas sampai usia tiga tahun. Ketika beranjak menjadi siamang kerdil muda, mereka, baik jantan maupun betina, relatif jarang dilibatkan dalam interaksi sosial dalam kelompok. Sampai sekitar enam tahun binatang yang belum dewasa ini cenderung berinteraksi dengan saudara kandung untuk belajar bersahabat. Sedangkan bersama keluarga jantan dewasa mereka belajar berperilaku agresif dan menghindari betina dewasa. Konflik dengan jantan dewasa inilah yang membantunya menjadi individu matang dan siap keluar dari kelompoknya pada umur sekitar delapan tahun. Hewan jantan yang belum dewasa sering bernyanyi sendirian, rupanya untuk menarik perhatian seekor betina. Dia juga mengembara dalam mencari pasangannya. Namun, gadis siamang kerdil yang datang pertama belum tentu menjadi pasangan hidup. Begitu ketemu jodoh, dalam kehidupan keluarga, sepasang bilou akan selalu setia pada pasangannya hingga ajal menjemput. (I Gede Agung Yudana) |
|||||
|
|
|||||