globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Advis Medis Prof. dr. Iwan Darmansjah, Sp. FK

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Merawat Luka, Jangan dengan Obat Merah

Luka merupakan diskontinuitas permukaan kulit, yang mudah terpapar kuman atau mikroba lain, seperti jamur. Meski tergantung kesehatan kulit itu sendiri, luka biasanya sembuh tanpa banyak diperhatikan. Artinya, terbentuk kulit baru yang menutupi permukaan luka secara sempurna. Ini karena tubuh sehat mempunyai mekanisme regenerasi luka sangat baik, yakni membentuk jaringan granulasi yang kemudian ditutup dengan jaringan epitel.

Dengan sendirinya, bila dipengaruhi penyakit, seperti diabetes, atau pada usia lanjut, kulit tidak lagi sehat dan lentur sehingga penyembuhan luka terganggu.

Luka baru, terutama yang kotor, sebaiknya dibersihkan dengan air dan sabun. Kemudian segera dikeringkan dengan kain bersih, bukan tisu. Soalnya, serpihan tisu atau bahan apa saja, yang menempel di atas luka dapat merupakan tempat kuman berkembang biak, sehingga mengalangi tumbuhnya jaringan granulasi.

Bila luka hanya di permukaan dan terdapat di bagian tidak bergerak, maka kadang-kadang baik untuk membiarkan luka terbuka. Cara ini membuat penyembuhannya lebih cepat. Antiseptik atau salep antibiotik sering tidak diperlukan, bila lukanya bersih.

Namun, bila lukanya dalam atau kotor sebaiknya ditutup dengan kasa steril; jangan menggunakan kapas dengan alasan di atas. Membersihkan dengan air dan sabun juga dianjurkan, bila kotor dan baru terjadi. Perdarahan sebaiknya dihentikan dengan cara menekan di tempat darah keluar menggunakan kain kasa (steril bila ada), dan baru dilepas bila perdarahan sudah berhenti.

Menggunakan antiseptik untuk luka segar dapat dibenarkan guna membunuh kuman yang ada. Untuk ini juga sering dipakai salep antibiotik, walau sebaiknya tidak dilakukan pada tiap luka, untuk menghindarkan timbulnya kekebalan kuman.

Dahulu kita memakai "obat merah" berisi larutan merkurokrom, yang dapat berguna untuk membuat luka (basah) menjadi kering. Mungkin, satu kali pemberian sudah cukup. Sayang kini merkurokrom tidak dibenarkan lagi, karena mengandung senyawa merkuri organik, yang dianggap sangat toksis terhadap otak. Padahal, bila dipakai sedikit saja tidak bermasalah. Cuma bila sering dipakai untuk permukaan luas, dikhawatirkan sifat toksis akan menumpuk.

Sama halnya dengan boorwater, yang juga sudah tidak dibenarkan lagi untuk mencuci luka atau mata (ataupun sebagai zat pengawet dalam makanan), karena kandungan garam borium juga toksis terhadap saraf. Kristal garam borium menempel di bulu mata bila airnya menguap. Boorwater juga tidak terlalu efektif untuk luka.

Bubuk sulfa untuk ditaburkan di atas luka sekarang pun tidak dianjurkan lagi; hipersensitivitas kulit terhadap sulfa sangat dikhawatirkan. Jadi bagaimana?

Luka basah sebaiknya dikompres dengan larutan permangan (larutan 1 per 10.000) atau rivanol (larutan 1 per seribu). Lagi-lagi, gunakan kain kasa dan bukan kapas. Norit juga sering dianjurkan untuk ditaburkan di luka kronis basah, mengandung nanah, dan sulit sembuh. Untuk ini sebaiknya dipakai bubuk norit halus bersih dari botol, jangan yang dari gerusan tablet. Luka kronis perlu dibersihkan setiap hari dan jaringan mati perlu dipotong.

Luka terinfeksi atau bisul kecil merupakan yang paling sulit diatasi bila terdapat pada orang tua atau penderita diabetes. Telah kita ketahui bahwa luka, sekecil apa pun, pada seorang penderita diabetes, terutama yang kadar gulanya tidak terkontrol baik, dapat menjalar sangat cepat sehingga sering harus dilakukan tindakan operatif. Karena itu luka semacam ini memerlukan perawatan khusus dokter. Lagi pula kadar gulanya harus dikendalikan sampai normal.

Walaupun antibiotik yang tepat perlu digunakan di sini, adanya kadar gula tinggi dan udem (bengkak) di sekitar luka, sering akan menghambat penyembuhan dan menyebabkan tindakan operatif. Repotnya, indera rasa sakit pada penderita diabetes itu sudah berkurang, sehingga luka kecil hanya karena memotong kuku kaki sendiri dapat menjalar ke atas dengan akibat yang disesalkan. Tidak heran kalau penderita diabetes lanjut usia dilarang memotong kukunya sendiri. Ia juga harus menggunakan sepatu atau sandal berukuran pas, sehingga tidak menimbulkan gesekan yang dapat menyebabkan luka lecet.

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/


Counter by Pandawa


Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej