|
|
Bulan November 2000
|
|
Merawat Luka, Jangan dengan Obat Merah
Luka merupakan diskontinuitas permukaan kulit,
yang mudah terpapar kuman atau mikroba lain, seperti jamur. Meski tergantung
kesehatan kulit itu sendiri, luka biasanya sembuh tanpa banyak diperhatikan.
Artinya, terbentuk kulit baru yang menutupi permukaan luka secara sempurna.
Ini karena tubuh sehat mempunyai mekanisme regenerasi luka sangat baik,
yakni membentuk jaringan granulasi yang kemudian ditutup dengan jaringan
epitel.
Dengan sendirinya, bila dipengaruhi penyakit, seperti diabetes, atau pada
usia lanjut, kulit tidak lagi sehat dan lentur sehingga penyembuhan luka
terganggu.
Luka baru, terutama yang kotor, sebaiknya dibersihkan dengan air dan sabun.
Kemudian segera dikeringkan dengan kain bersih, bukan tisu. Soalnya,
serpihan tisu atau bahan apa saja, yang menempel di atas luka dapat
merupakan tempat kuman berkembang biak, sehingga mengalangi tumbuhnya
jaringan granulasi.
Bila luka hanya di permukaan dan terdapat di bagian tidak bergerak, maka
kadang-kadang baik untuk membiarkan luka terbuka. Cara ini membuat
penyembuhannya lebih cepat. Antiseptik atau salep antibiotik sering tidak
diperlukan, bila lukanya bersih.
Namun, bila lukanya dalam atau kotor sebaiknya ditutup dengan kasa steril;
jangan menggunakan kapas dengan alasan di atas. Membersihkan dengan air dan
sabun juga dianjurkan, bila kotor dan baru terjadi. Perdarahan sebaiknya
dihentikan dengan cara menekan di tempat darah keluar menggunakan kain kasa
(steril bila ada), dan baru dilepas bila perdarahan sudah berhenti.
Menggunakan antiseptik untuk luka segar dapat dibenarkan guna membunuh kuman
yang ada. Untuk ini juga sering dipakai salep antibiotik, walau sebaiknya
tidak dilakukan pada tiap luka, untuk menghindarkan timbulnya kekebalan
kuman.
Dahulu kita memakai "obat merah" berisi larutan merkurokrom, yang
dapat berguna untuk membuat luka (basah) menjadi kering. Mungkin, satu kali
pemberian sudah cukup. Sayang kini merkurokrom tidak dibenarkan lagi, karena
mengandung senyawa merkuri organik, yang dianggap sangat toksis terhadap
otak. Padahal, bila dipakai sedikit saja tidak bermasalah. Cuma bila sering
dipakai untuk permukaan luas, dikhawatirkan sifat toksis akan
menumpuk.
Sama halnya dengan boorwater, yang juga sudah tidak dibenarkan lagi
untuk mencuci luka atau mata (ataupun sebagai zat pengawet dalam makanan),
karena kandungan garam borium juga toksis terhadap saraf. Kristal garam
borium menempel di bulu mata bila airnya menguap. Boorwater juga tidak
terlalu efektif untuk luka.
Bubuk sulfa untuk ditaburkan di atas luka sekarang pun tidak dianjurkan
lagi; hipersensitivitas kulit terhadap sulfa sangat dikhawatirkan. Jadi
bagaimana?
Luka basah sebaiknya dikompres dengan larutan permangan (larutan 1 per
10.000) atau rivanol (larutan 1 per seribu). Lagi-lagi, gunakan kain kasa
dan bukan kapas. Norit juga sering dianjurkan untuk ditaburkan di luka
kronis basah, mengandung nanah, dan sulit sembuh. Untuk ini sebaiknya
dipakai bubuk norit halus bersih dari botol, jangan yang dari gerusan
tablet. Luka kronis perlu dibersihkan setiap hari dan jaringan mati perlu
dipotong.
Luka terinfeksi atau bisul kecil merupakan yang paling sulit diatasi bila
terdapat pada orang tua atau penderita diabetes. Telah kita ketahui bahwa
luka, sekecil apa pun, pada seorang penderita diabetes, terutama yang kadar
gulanya tidak terkontrol baik, dapat menjalar sangat cepat sehingga sering
harus dilakukan tindakan operatif. Karena itu luka semacam ini memerlukan
perawatan khusus dokter. Lagi pula kadar gulanya harus dikendalikan sampai
normal.
Walaupun antibiotik yang tepat perlu digunakan di sini, adanya kadar gula
tinggi dan udem (bengkak) di sekitar luka, sering akan menghambat
penyembuhan dan menyebabkan tindakan operatif. Repotnya, indera rasa sakit
pada penderita diabetes itu sudah berkurang, sehingga luka kecil hanya
karena memotong kuku kaki sendiri dapat menjalar ke atas dengan akibat yang
disesalkan. Tidak heran kalau penderita diabetes lanjut usia dilarang
memotong kukunya sendiri. Ia juga harus menggunakan sepatu atau sandal
berukuran pas, sehingga tidak menimbulkan gesekan yang dapat menyebabkan
luka lecet. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||