globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MINYAK BATU BARA SEBAGAI ALTERNATIF

Pernah terbayang, batu bara bisa disulap jadi minyak? Batu bara memang dapat diubah jadi minyak. Dalam hal ini kita ketinggalan dengan Afrika Selatan yang sudah lama melakukannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Sepuluh tahun mendatang, Indonesia yang kaya dengan cadangan batu bara akan menyusul.

Setiap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu timbul gejolak. Soalnya pasti diikuti kenaikan harga barang dan jasa. Di masa normal saja sudah memberatkan, apalagi di masa krisis seperti saat ini. Tak heran jika awal Oktober 2000 lalu, banyak kelompok masyarakat di berbagai kota berunjuk rasa menentang kenaikan harga BBM, yang mulai diberlakukan pemerintah sejak 1 Oktober 2000.

Orang kebanyakan tidak menyadari kalau harga BBM di Indonesia bertahun-tahun disubsidi oleh pemerintah. Padahal duit yang dipakai untuk menomboki kekurangan itu duit milik rakyat. Sementara konsumen BBM lebih banyak orang kaya.

Akibat harga murah itu, kita terlena dan cenderung boros. Tidak terpikirkan bahwa minyak bumi termasuk sumber daya alam tak terbarukan. Artinya, bisa habis jika dikonsumsi terus-menerus.

Sebagai gambaran, cadangan minyak di perut Bumi Indonesia tinggal 4,8 miliar barrel (sekitar 550 miliar liter; 1 barrel = 114,41 l). Jika tidak ditemukan cadangan minyak baru dan tingkat konsumsinya tetap, cadangan itu akan habis dalam tujuh tahun mendatang! Bahkan dengan bertambahnya jumlah penduduk, industri, dan kendaraan bermotor masa krisis BBM akan lebih cepat lagi datangnya.

Memang, ancaman krisis BBM ini mengglobal sifatnya. Karenanya, banyak negara maju yang melakukan penelitian untuk menemukan teknologi yang bisa menghasilkan sumber energi alternatif. Salah satunya adalah mengubah batu bara (BB) menjadi BBM. Konversi inilah yang kini tengah diteliti di Indonesia, mengingat persediaan batu baranya melimpah.

Pakai teknik pencairan langsung

Konversi dilakukan dengan mencairkan BB menggunakan tekanan dan suhu ekstratinggi. Batu bara yang dicairkan merupakan batu bara muda (lignit, kandungan airnya tinggi, sekitar 30%) yang tidak laku dijual mentah-mentah.

Menurut Ir. Hartiniati Soedioto, M.Eng., manager Program Pencairan Batu bara, dari Direktorat Konversi dan Konservasi Energi, Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi (BPPT), biaya untuk mendapatkan minyak dari hasil pencairan BB bisa lebih murah ketimbang harga minyak bumi. Dari perhitungannya, harga jual minyak dari proses pencairan BB sekitar AS $ 18 – 19 per barrel. Sementara harga minyak mentah belakangan ini berkisar AS $ 30 per barrel.

Lambok Hilarius Silalahi, M.Eng., anggota tim peneliti Program Pencairan Batu bara, menambahkan, perbandingan nilai komersial minyak hasil pencairan BB dengan minyak mentah adalah 1,3 : 1. Artinya, harga 1 l minyak BB 1,3 kali harga 1 l minyak bumi. Ini terjadi karena dalam minyak BB sudah tidak terkandung minyak berat atau residu, sementara dalam minyak mentah masih ada residunya. Agar punya nilai ekonomi, residu itu diproses lebih lanjut menjadi produk samping (by-product).

Ada dua cara pencairan yakni direct dan indirect liquefaction. Pada direct liquefaction (pencairan langsung), BB dicairkan secara langsung menjadi minyak. Sedangkan pada indirect liquefaction (pencairan tidak langsung), BB diubah dulu menjadi gas melalui proses gasifikasi, baru kemudian dicairkan.

Dari penelitian yang telah dilakukan, batu bara di Indonesia bisa dicairkan secara langsung dengan teknologi brown coal liquefaction (BCL) dari Jepang, yang bersama-sama BPPT dikembangkan lagi agar bisa digunakan sesuai dengan jenis BB kita. Menurut Hartiniati, ini dimungkinkan lantaran kandungan abu batu bara kita rata-rata rendah, yakni sekitar 5%. Sementara, pencairan tidak langsung dipilih bila kandungan abunya tinggi seperti BB Afrika Selatan yang kadar abunya 30 – 40%. "Kalau tidak digaskan dulu, abu di pabrik bisa menyumpal di mana-mana," jelas Hartiniati. Dalam proses gasifikasi itulah abu dipisahkan.

Secara kimiawi proses pencairan akan mengubah bentuk hidrokarbon batu bara dari bentuk kompleks menjadi rantai panjang seperti pada minyak. Untuk itu rantai atau ikatan ring aromatik hidrokarbonnya harus dipotong. Caranya dengan menggunakan dekomposisi panas pada temperatur tinggi (thermal decomposition). Setelah dipotong, luka potongan pada rantai hidrokarbon tadi akan menjadi bebas dan sangat aktif (free-radical). Supaya radikal bebas itu tidak bergabung dengan radikal bebas lainnya, perlu adanya pengikat atau stabilisator. Pengikat itu adalah gas hidrogen. Karena itulah dalam pencairan batu bara proses pengikatan tadi sering disebut juga proses hidrogenasi.

Gas hidrogennya dapat diperoleh dari semua jenis energi fosil hidrokarbon seperti gas alam, batu bara, dan sebagainya. Atau, melalui proses elektrolisa air. Pada awal studi yang dilakukan BPPT, gas hidrogen yang hendak digunakan diambil dari proses steam reforming gas alam. Sayangnya, berdasarkan hasil investigasi, ternyata persediaan gas alam di daerah Sumatra tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 25 tahun masa operasi pencairan batu bara dengan kapasitas produksi 120 - 140 barrel per hari. Alternatif teknologi pun dicari. Hasilnya, penyediaan gas hidrogen dilakukan lewat proses gasifikasi yang juga menggunakan bahan baku BB.

Dari proses pencairan BB diperoleh intermadiate product berupa minyak, sebutlah minyak "setengah jadi". Jumlahnya sekitar 63% dari jumlah BB yang dicairkan. Selanjutnya, minyak "setengah jadi" itu difraksinasi (diurai) menjadi berbagai BBM siap pakai.

Menurut Lambok, pada proses fraksinasi bersuhu 180 – 220oC dihasilkan naphtha (premium). Pada temperatur 220 – 260oC diperoleh kerosine (minyak tanah), dan pada suhu 260 - 300oC didapat diesel oil (solar) untuk industri maupun otomotif, termasuk aviation turbine oil (avtur). Persentase hasilnya kira-kira, light oil (premium) sebanyak 28%, middle oil (minyak tanah dan solar) 60 – 70%.

Sayangnya, menurut Lambok, ketika minyak "setengah jadi" dari BB difraksinasi di kilang minyak untuk mendapatkan premium, nilai oktannya masih lebih rendah dibandingkan dengan premium dari minyak bumi. "Ini perlu ditingkatkan misalnya dengan menambah additive," jelas Lambok. Atau, dalam proses di kilang dicampur dengan calon BBM dari minyak bumi supaya nilai oktan produk akhir lebih tinggi dari semula. Perbandingannya, 10 – 20% minyak BB, sisanya minyak bumi. "Untuk sementara masih sebatas itu. Tapi kalau kita kembangkan lagi jenis katalisnya, persentase minyak batu baranya bisa kita tingkatkan sampai 40%, tergantung pada pengujian lebih lanjut," tambahnya.

Selama ini katalis yang digunakan dalam proses pembuatan BBM di antaranya methyl tertier buthyl ether (MTBE) atau dimethyl ether (DME). Sementara, untuk menghasilkan solar pencampuran juga masih perlu dilakukan karena tanpa pencampuran dengan calon BBM dari minyak bumi, kualitas solarnya masih belum tercapai.

Tidak seperti minyak bumi, by-product dari pencairan batu bara sangat kecil. "Pada teknologi kita, kalau bisa ditekan sampai nol. Tapi, itu tidak mungkin. By-product tetap akan terjadi. Dalam teknologi kita ini di-setting maksimal 5%," jelas Lambok.

Lebih murah

Di Indonesia, pencairan batu bara menjadi BBM memang belum berjalan secara komersial. Namun, di Afrika Selatan sudah berlangsung lama. Latar belakangnya bukan kelangkaan minyak bumi, tetapi tekanan politik dunia yang membuat negara itu dikucilkan dalam perdagangan dunia, termasuk untuk komoditas minyak bumi. Ketika itu Afrika Selatan menerapkan politik apartheid.

Beruntung Jerman berbaik hati dengan membantu teknologi pencairan batu bara agar rakyat negeri itu tidak terlalu menderita. Maka, mulailah negara itu mencairkan batu bara yang dimilikinya menjadi BBM untuk memenuhi kebutuhan warganya. Karena kadar abunya tinggi, proses pencairannya dilakukan tidak langsung.

Rupanya, ketika menjabat Menteri Pertambangan dan Energi, Ginandjar Kartasasmita mengetahui adanya teknologi pembuatan BBM dari batu bara. Tahun 1991 ia menyurati koleganya, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Ketua BPPT, B.J. Habibie. Isinya kurang lebih Departemen Pertambangan dan Energi meminta BPPT untuk melakukan penelitian kemungkinan pencairan batu bara di Indonesia.

Berdasarkan data, cadangan batu bara Indonesia memang berlimpah. Setidaknya, 36,3 miliar ton batu bara ngendon di perut Bumi Indonesia. Sekitar 85% di antaranya (30,9 miliar ton) berupa lignit. Di tempat persembunyiannya, batu bara muda ini mudah terbakar oleh provokasi panas dan sulit dipadamkan.

Kalau 1 ton BB kering bisa menghasilkan 4 barrel minyak, cadangan tadi - dengan asumsi kadar airnya rata-rata 30% - bisa diubah menjadi minyak sebanyak kira-kira 86,5 miliar barrel. Jumlah ini kira kira 18 kali cadangan minyak bumi negara kita saat ini. Dengan asumsi konsumsi minyak nasional tetap, jumlah sebanyak itu bisa memenuhi kebutuhan lebih dari 100 tahun! Habibie segera menindaklanjutinya.

Pemilihan teknologi mana yang paling cocok digunakan pun dimulai. Ternyata teknologi BCL dari Jepang dianggap paling cocok. Pada 1993 dilakukan negosiasi intensif dengan Jepang. Januari 1994 MoU ditandatangani. Program pencairan batu bara pun dimulai, bekerjasama dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang. Tim penelitinya antara lain dari BPPT (Direktorat Konversi dan Konservasi Energi, Direktorat Material, UPT Laboratorium Sumber Daya Energi di Serpong), PT Tambang Batu bara Bukit Asam, dan Pertamina.

Program ini dibagi atas empat tahap, yakni studi kelayakan awal, studi kelayakan lebih detil, persiapan komersialisasi, serta pembuatan pabrik dan komersialisasi. Dua tahap pertama pelaksanaannya di bawah koordinasi BPPT dan dipimpin Hartiniati. Dua tahap terakhir di bawah kendali Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Saat ini telah memasuki tahap kedua.

Pada tahap pertama dilakukan technical assessment (uji teknis) yang berlangsung selama lima tahun, sejak 1994 - 1999. Di antaranya, penelitian pada skala laboratorium, survai, dan pengambilan contoh batu bara di beberapa lokasi sumber batu bara muda Indonesia, serta seleksi terhadap batu bara yang paling sesuai untuk dicairkan. Ternyata dari hasil seleksi di laboratorium diketahui, batu bara Banko menunjukkan hasil minyak paling tinggi. Diketahui pula, biaya pencairannya sekitar AS $ 18 – 19 per barrel.

Namun, terjadinya krisis ekonomi membuat perhitungan menjadi tidak feasible lagi. Maka, ketika tahap kedua ditapaki, pengkajian ekonominya diulang kembali oleh BPPT, sekaligus dilakukan penyempurnaan terhadap prosesnya untuk meningkatkan efisiensi. Akhir tahun ini pengkajian ulang diperkirakan bisa selesai. Hartiniati yakin, dari faktor ekonomi pencairan batu bara masih tetap layak dilakukan.

Tahap ketiga proyek ini diserahkan ke Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral karena sudah memasuki tahap realisasi atau komersialisasi. Pada tahap ini dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), pendesainan dari dasar sampai detil, eksplorasi secara sungguh-sungguh, pendidikan tenaga operator, penyiapan lahan, dsb. Tak ketinggalan program mempersiapkan masyarakat.

"Soalnya, dalam Amdal tidak cuma dampak lingkungan yang diperhitungkan, tapi juga dampak sosial. Jadi, harus dipertimbangkan untuk merekrut warga setempat sebagai tenaga pengoperasian pabrik," ujar Ir. Yusnitati, M.Sc., anggota tim lainnya. Baru pada tahap keempat, pabrik pencairan batu bara dibuat. Setelah selesai, komersialisasi pun dilakukan.

Bila program yang telah disusun berlangsung lancar dan ada investor yang bersedia menanamkan modal untuk membangun pabrik pencairannya, pada 2010 kita sudah bisa menghasilkan BBM dari batu bara. BBM yang dihasilkan kelak tidak berbeda dengan BBM yang ada sekarang, kecuali bebas timbal.

Dengan demikian, mesin kendaraan yang semula berbahan bakar dari minyak bumi tidak perlu dimodifikasi mesin atau ditambah peralatan baru. Yang perlu diperbarui barangkali sikap pengguna BBM agar lebih berhemat sehingga sumber daya alam yang ada bisa dimanfaatkan lebih lama lagi. (I Gede Agung Yudana)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej