|
|
Bulan November 2000
|
|
MINYAK
BATU BARA SEBAGAI ALTERNATIF
Orang kebanyakan tidak menyadari kalau harga BBM di Indonesia bertahun-tahun
disubsidi oleh pemerintah. Padahal duit yang dipakai untuk menomboki
kekurangan itu duit milik rakyat. Sementara konsumen BBM lebih banyak orang
kaya.
Akibat harga murah itu, kita terlena dan cenderung boros. Tidak terpikirkan
bahwa minyak bumi termasuk sumber daya alam tak terbarukan. Artinya, bisa
habis jika dikonsumsi terus-menerus.
Sebagai gambaran, cadangan minyak di perut Bumi Indonesia tinggal 4,8 miliar
barrel (sekitar 550 miliar liter; 1 barrel = 114,41 l). Jika tidak ditemukan
cadangan minyak baru dan tingkat konsumsinya tetap, cadangan itu akan habis
dalam tujuh tahun mendatang! Bahkan dengan bertambahnya jumlah penduduk,
industri, dan kendaraan bermotor masa krisis BBM akan lebih cepat lagi
datangnya.
Memang, ancaman krisis BBM ini mengglobal sifatnya. Karenanya, banyak negara
maju yang melakukan penelitian untuk menemukan teknologi yang bisa
menghasilkan sumber energi alternatif. Salah satunya adalah mengubah batu
bara (BB) menjadi BBM. Konversi inilah yang kini tengah diteliti di
Indonesia, mengingat persediaan batu baranya melimpah.
Pakai teknik pencairan langsung
Konversi dilakukan dengan mencairkan BB menggunakan tekanan dan suhu
ekstratinggi. Batu bara yang dicairkan merupakan batu bara muda (lignit,
kandungan airnya tinggi, sekitar 30%) yang tidak laku dijual mentah-mentah.
Menurut Ir. Hartiniati Soedioto, M.Eng., manager Program Pencairan Batu
bara, dari Direktorat Konversi dan Konservasi Energi, Badan Penelitian dan
Pengkajian Teknologi (BPPT), biaya untuk mendapatkan minyak dari hasil
pencairan BB bisa lebih murah ketimbang harga minyak bumi. Dari
perhitungannya, harga jual minyak dari proses pencairan BB sekitar AS $ 18
– 19 per barrel. Sementara harga minyak mentah belakangan ini berkisar AS
$ 30 per barrel.
Lambok Hilarius Silalahi, M.Eng., anggota tim peneliti Program Pencairan
Batu bara, menambahkan, perbandingan nilai komersial minyak hasil pencairan
BB dengan minyak mentah adalah 1,3 : 1. Artinya, harga 1 l minyak BB 1,3
kali harga 1 l minyak bumi. Ini terjadi karena dalam minyak BB sudah tidak
terkandung minyak berat atau residu, sementara dalam minyak mentah masih ada
residunya. Agar punya nilai ekonomi, residu itu diproses lebih lanjut
menjadi produk samping (by-product).
Ada dua cara pencairan yakni direct dan indirect liquefaction.
Pada direct liquefaction (pencairan langsung), BB dicairkan secara
langsung menjadi minyak. Sedangkan pada indirect liquefaction
(pencairan tidak langsung), BB diubah dulu menjadi gas melalui proses
gasifikasi, baru kemudian dicairkan.
Dari penelitian yang telah dilakukan, batu bara di Indonesia bisa dicairkan
secara langsung dengan teknologi brown coal liquefaction (BCL) dari
Jepang, yang bersama-sama BPPT dikembangkan lagi agar bisa digunakan sesuai
dengan jenis BB kita. Menurut Hartiniati, ini dimungkinkan lantaran
kandungan abu batu bara kita rata-rata rendah, yakni sekitar 5%. Sementara,
pencairan tidak langsung dipilih bila kandungan abunya tinggi seperti BB
Afrika Selatan yang kadar abunya 30 – 40%. "Kalau tidak digaskan
dulu, abu di pabrik bisa menyumpal di mana-mana," jelas Hartiniati.
Dalam proses gasifikasi itulah abu dipisahkan.
Secara kimiawi proses pencairan akan mengubah bentuk hidrokarbon batu bara
dari bentuk kompleks menjadi rantai panjang seperti pada minyak. Untuk itu
rantai atau ikatan ring aromatik hidrokarbonnya harus dipotong. Caranya
dengan menggunakan dekomposisi panas pada temperatur tinggi (thermal
decomposition). Setelah dipotong, luka potongan pada rantai hidrokarbon
tadi akan menjadi bebas dan sangat aktif (free-radical). Supaya
radikal bebas itu tidak bergabung dengan radikal bebas lainnya, perlu adanya
pengikat atau stabilisator. Pengikat itu adalah gas hidrogen. Karena itulah
dalam pencairan batu bara proses pengikatan tadi sering disebut juga proses
hidrogenasi.
Gas hidrogennya dapat diperoleh dari semua jenis energi fosil hidrokarbon
seperti gas alam, batu bara, dan sebagainya. Atau, melalui proses
elektrolisa air. Pada awal studi yang dilakukan BPPT, gas hidrogen yang
hendak digunakan diambil dari proses steam reforming gas alam.
Sayangnya, berdasarkan hasil investigasi, ternyata persediaan gas alam di
daerah Sumatra tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 25 tahun masa
operasi pencairan batu bara dengan kapasitas produksi 120 - 140 barrel per
hari. Alternatif teknologi pun dicari. Hasilnya, penyediaan gas hidrogen
dilakukan lewat proses gasifikasi yang juga menggunakan bahan baku BB.
Dari proses pencairan BB diperoleh intermadiate product berupa
minyak, sebutlah minyak "setengah jadi". Jumlahnya sekitar 63%
dari jumlah BB yang dicairkan. Selanjutnya, minyak "setengah jadi"
itu difraksinasi (diurai) menjadi berbagai BBM siap pakai.
Menurut Lambok, pada proses fraksinasi bersuhu 180 – 220oC
dihasilkan naphtha (premium). Pada temperatur 220 – 260oC
diperoleh kerosine (minyak tanah), dan pada suhu 260 - 300oC
didapat diesel oil (solar) untuk industri maupun otomotif, termasuk aviation
turbine oil (avtur). Persentase hasilnya kira-kira, light oil
(premium) sebanyak 28%, middle oil (minyak tanah dan solar) 60 –
70%.
Sayangnya, menurut Lambok, ketika minyak "setengah jadi" dari BB
difraksinasi di kilang minyak untuk mendapatkan premium, nilai oktannya
masih lebih rendah dibandingkan dengan premium dari minyak bumi. "Ini
perlu ditingkatkan misalnya dengan menambah additive," jelas
Lambok. Atau, dalam proses di kilang dicampur dengan calon BBM dari minyak
bumi supaya nilai oktan produk akhir lebih tinggi dari semula.
Perbandingannya, 10 – 20% minyak BB, sisanya minyak bumi. "Untuk
sementara masih sebatas itu. Tapi kalau kita kembangkan lagi jenis
katalisnya, persentase minyak batu baranya bisa kita tingkatkan sampai 40%,
tergantung pada pengujian lebih lanjut," tambahnya.
Selama ini katalis yang digunakan dalam proses pembuatan BBM di antaranya methyl
tertier buthyl ether (MTBE) atau dimethyl ether (DME). Sementara,
untuk menghasilkan solar pencampuran juga masih perlu dilakukan karena tanpa
pencampuran dengan calon BBM dari minyak bumi, kualitas solarnya masih belum
tercapai.
Tidak seperti minyak bumi, by-product dari pencairan batu bara sangat
kecil. "Pada teknologi kita, kalau bisa ditekan sampai nol. Tapi, itu
tidak mungkin. By-product tetap akan terjadi. Dalam teknologi kita
ini di-setting maksimal 5%," jelas Lambok.
Lebih murah
Di Indonesia, pencairan batu bara menjadi BBM memang belum berjalan secara
komersial. Namun, di Afrika Selatan sudah berlangsung lama. Latar
belakangnya bukan kelangkaan minyak bumi, tetapi tekanan politik dunia yang
membuat negara itu dikucilkan dalam perdagangan dunia, termasuk untuk
komoditas minyak bumi. Ketika itu Afrika Selatan menerapkan politik apartheid.
Beruntung Jerman berbaik hati dengan membantu teknologi pencairan batu bara
agar rakyat negeri itu tidak terlalu menderita. Maka, mulailah negara itu
mencairkan batu bara yang dimilikinya menjadi BBM untuk memenuhi kebutuhan
warganya. Karena kadar abunya tinggi, proses pencairannya dilakukan tidak
langsung.
Rupanya, ketika menjabat Menteri Pertambangan dan Energi, Ginandjar
Kartasasmita mengetahui adanya teknologi pembuatan BBM dari batu bara. Tahun
1991 ia menyurati koleganya, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Ketua BPPT,
B.J. Habibie. Isinya kurang lebih Departemen Pertambangan dan Energi meminta
BPPT untuk melakukan penelitian kemungkinan pencairan batu bara di
Indonesia.
Berdasarkan data, cadangan batu bara Indonesia memang berlimpah. Setidaknya,
36,3 miliar ton batu bara ngendon di perut Bumi Indonesia. Sekitar
85% di antaranya (30,9 miliar ton) berupa lignit. Di tempat
persembunyiannya, batu bara muda ini mudah terbakar oleh provokasi panas dan
sulit dipadamkan.
Kalau 1 ton BB kering bisa menghasilkan 4 barrel minyak, cadangan tadi -
dengan asumsi kadar airnya rata-rata 30% - bisa diubah menjadi minyak
sebanyak kira-kira 86,5 miliar barrel. Jumlah ini kira kira 18 kali cadangan
minyak bumi negara kita saat ini. Dengan asumsi konsumsi minyak nasional
tetap, jumlah sebanyak itu bisa memenuhi kebutuhan lebih dari 100 tahun!
Habibie segera menindaklanjutinya.
Pemilihan teknologi mana yang paling cocok digunakan pun dimulai. Ternyata
teknologi BCL dari Jepang dianggap paling cocok. Pada 1993 dilakukan
negosiasi intensif dengan Jepang. Januari 1994 MoU ditandatangani. Program
pencairan batu bara pun dimulai, bekerjasama dengan New Energy and
Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang. Tim
penelitinya antara lain dari BPPT (Direktorat Konversi dan Konservasi
Energi, Direktorat Material, UPT Laboratorium Sumber Daya Energi di
Serpong), PT Tambang Batu bara Bukit Asam, dan Pertamina.
Program ini dibagi atas empat tahap, yakni studi kelayakan awal, studi
kelayakan lebih detil, persiapan komersialisasi, serta pembuatan pabrik dan
komersialisasi. Dua tahap pertama pelaksanaannya di bawah koordinasi BPPT
dan dipimpin Hartiniati. Dua tahap terakhir di bawah kendali Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral. Saat ini telah memasuki tahap kedua.
Pada tahap pertama dilakukan technical assessment (uji teknis) yang
berlangsung selama lima tahun, sejak 1994 - 1999. Di antaranya, penelitian
pada skala laboratorium, survai, dan pengambilan contoh batu bara di
beberapa lokasi sumber batu bara muda Indonesia, serta seleksi terhadap batu
bara yang paling sesuai untuk dicairkan. Ternyata dari hasil seleksi di
laboratorium diketahui, batu bara Banko menunjukkan hasil minyak paling
tinggi. Diketahui pula, biaya pencairannya sekitar AS $ 18 – 19 per
barrel.
Namun, terjadinya krisis ekonomi membuat perhitungan menjadi tidak feasible
lagi. Maka, ketika tahap kedua ditapaki, pengkajian ekonominya diulang
kembali oleh BPPT, sekaligus dilakukan penyempurnaan terhadap prosesnya
untuk meningkatkan efisiensi. Akhir tahun ini pengkajian ulang diperkirakan
bisa selesai. Hartiniati yakin, dari faktor ekonomi pencairan batu bara
masih tetap layak dilakukan.
Tahap ketiga proyek ini diserahkan ke Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral karena sudah memasuki tahap realisasi atau komersialisasi. Pada
tahap ini dilakukan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), pendesainan
dari dasar sampai detil, eksplorasi secara sungguh-sungguh, pendidikan
tenaga operator, penyiapan lahan, dsb. Tak ketinggalan program mempersiapkan
masyarakat.
"Soalnya, dalam Amdal tidak cuma dampak lingkungan yang diperhitungkan,
tapi juga dampak sosial. Jadi, harus dipertimbangkan untuk merekrut warga
setempat sebagai tenaga pengoperasian pabrik," ujar Ir. Yusnitati,
M.Sc., anggota tim lainnya. Baru pada tahap keempat, pabrik pencairan batu
bara dibuat. Setelah selesai, komersialisasi pun dilakukan.
Bila program yang telah disusun berlangsung lancar dan ada investor yang
bersedia menanamkan modal untuk membangun pabrik pencairannya, pada 2010
kita sudah bisa menghasilkan BBM dari batu bara. BBM yang dihasilkan kelak
tidak berbeda dengan BBM yang ada sekarang, kecuali bebas timbal.
Dengan demikian, mesin kendaraan yang semula berbahan bakar dari minyak bumi
tidak perlu dimodifikasi mesin atau ditambah peralatan baru. Yang perlu
diperbarui barangkali sikap pengguna BBM agar lebih berhemat sehingga sumber
daya alam yang ada bisa dimanfaatkan lebih lama lagi. (I Gede Agung Yudana)
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||