|
|
Bulan November 2000
|
|
DAR-DER-DOR, PERTANDA BUKA PUASA
Selama masa puasa 1999/2000 yang lalu bunyi
mercon atau petasan dianggap sebagai gangguan. Sungguh berbeda dengan
pengalaman saya saat masih duduk di kelas IV-VI SD di Semarang tahun 1957 -
1959.
Masih terekam jelas dalam ingatan, kala itu di setiap bulan puasa menjelang
berbuka puasa suara dar ... der ... dor petasan sangat dinanti-nanti
warga. Mercon itu bukan dibunyikan oleh anak-anak berandalan, tetapi sengaja
disulut oleh petugas masjid besar Semarang.
Ukuran merconnya tidak main-main, mencapai 10 cm diameternya. Demi keamanan,
mercon raksasa itu diledakkan di dalam lubang besar. "Sumur" itu
digali sedalam 1 - 1,5 m dengan diameter 20 cm, persis di alun-alun sisi
timur masjid itu.
Pada menit-menit menjelang waktu berbuka puasa, di sekeliling lubang
peledakan berkerumun anak-anak dan orang dewasa. Mereka mulai melangkah
mundur begitu bunyi beduk dan azan menggema. Saat itu pula sumbu mercon
disulut dan segera menggelegar dentumannya.
Jangan ditanya betapa keras bunyi mercon tadi. Apalagi kalau berada di
dekatnya. Saya yakin, para pengidap penyakit jantung akan langsung terkena
serangan. Kami yang saat itu masih ABG (anak baru gede) tidak pernah
melewatkan pesta ledakan mercon itu dari jarak dekat. Seolah-olah ada
sensasi tersendiri ketika jantung berdegup kencang merespons ledakan mercon.
Jika bunyi beduk dan azan hanya terdengar di sekitar masjid, maka ledakan
mercon raksasa tadi bisa terdengar di seluruh pelosok Semarang. Gelegarnya
sampai di rumah saya, di Kemantren RS Karyadi yang berjarak 5 km.
Sayangnya, kini alun-alun Semarang sudah disulap menjadi bangunan Pasar
Yaik. Sementara masjid besar terselip di antara Pasar Yaik, Pasar Johar, dan
kawasan Kanjengan. Budaya menyulut petasan pertanda berbuka puasa pun
sekarang tinggal kenangan. (Citra Triwamwoto) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||