globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

BU KASUR: SEBUAH LEGENDA YANG HIDUP

 

Satu-satu, aku sayang ibu

Dua-dua, juga sayang ayah

Tiga-tiga, sayang adik kakak

Satu-dua-tiga sayang semuanya

Siapa tak kenal lagu anak-anak berjudul Sayang Semua. Hampir setiap orang tua yang memiliki anak-anak usia balita mengenalnya. Tapi tak banyak yang mengenal siapa pengarang lagu legendaris itu. Kalau nama Bu Kasur, istri mendiang Soerjono alias Pak Kasur, disebut-sebut, orang tersadar, lagu anak-anak itu karangannya.

Sepertinya sudah hal biasa, orang jarang mengenal atau mungkin tidak peduli siapa bidan di balik lahirnya sebuah lagu yang begitu populer sekalipun. Buat Sandiah, nama kecil Bu Kasur, hal itu bukan soal besar. Yang nomor satu bagi dia ialah bagaimana membuat lagu sebaik-baiknya, yang bersifat mendidik dan menyenangkan anak-anak. Tak soal apakah lagu itu nanti bakal melegenda atau menjadi abadi, dikenang dan dinyanyikan sepanjang masa dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Belajar sambil bermain

Tak seberapa banyak memang karya lagu ciptaan Bu Kasur dibandingkan dengan karya-karya suaminya yang mencapai sekitar 140 lagu. "Tak sampai 20 lagu saya," kata Bu Kasur tentang jumlah karyanya.

Apalagi di usianya yang sudah kepala tujuh (lahir 16 Januari 1926 di Jakarta), ia nyaris tidak lagi memproduksi lagu. Untuk ukuran wanita seusianya, Bu Kasur masih tergolong cukup energik; menerima tetamunya yang hampir tiap hari mengalir ke rumahnya, terutama orang tua murid; masih giat mengikuti pelbagai acara (seperti berdarmawisata) yang diselenggarakan oleh sejumlah Taman Kanak-kanak di bawah Yayasan Setia Balita yang dipimpinnya. Ia juga menjadi pembicara seminar di berbagai tempat, atau menjadi juri di pelbagai lomba kreativitas maupun menyanyi lagu anak-anak.

Senyumnya yang khas mengembang saat pikirannya menerawang ke masa hampir empat puluh tahun lalu ketika wanita itu masih membawakan acara Taman Indria, Arena Anak-anak, dan Mengenal Tanah Air di TVRI. "Jadi, sejak 1962 saya sudah menjadi pengasuh acara-acara itu di TVRI," kenangnya.

Bu Kasur memang dikenal karena mengasuh sejumlah acara anak-anak di televisi dan juga radio. Dunia anak-anak sepertinya tak bisa lepas dari kehidupan Bu Kasur dan juga suaminya. Dengan penuh kesabaran dan ketulusan, pasangan suami-istri itu membimbing anak-anak belajar sambil bermain. Juga bernyanyi!

Belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Itulah kata kunci yang melandasi pola pikir dan pola tindak yang senantiasa dihayati dan dilaksanakan hingga sekarang dalam mengelola sekolah Taman Kanak-kanaknya. "Lagu Sayang Semua, misalnya, itu mengandung unsur pembelajaran sekaligus pendidikan meski sederhana. Lagu itu lahir karena saya ingin mengajar anak-anak mengenali dan menanamkan rasa cinta kepada anggota keluarga sambil memperkenalkan angka-angka," tutur Bu Kasur sambil mengaku terkejut campur bahagia ketika pihak PT Unilever memberikan semacam royalti kepadanya karena lagu itu dipakai sebagai jingle atau theme song dalam salah satu iklan susu mereka.

Kesederhanaan, demikian Bu Kasur, memang mutlak menjadi karakteristik lagu anak-anak. Sederhana lagunya, sederhana syairnya. Sampai-sampai Bu Kasur berusaha sebisa mungkin menghindari pemakaian huruf "r" pada syair-syair lagunya seperti dipesankan dan dilakukan mendiang Pak Kasur. "Alasannya, huruf 'r' itu 'kan termasuk huruf yang relatif sulit di lidah anak-anak," terang Bu Kasur.

Semangat hidup maupun dedikasinya terhadap dunia anak-anak terus menggebu sampai pada tahun 1992 obor spirit yang menyala-nyala itu nyaris padam tak berbara ketika sang suami tercinta dipanggil menghadap Tuhan. Wanita keturunan Jawa itu terpuruk. Setahun lamanya, nyaris tak ada yang ingin dilakukannya. "Saya kehilangan semangat," tutur Bu Kasur.

Bahkan selama sang suami menderita sakit sebelum meninggal pun, ia sudah memutuskan berhenti dari seluruh kegiatannya di berbagai program televisi asuhannya serta kegiatan lain. "Semua waktu, tenaga, dan perhatian saya curahkan hanya untuk merawat Pak Kasur," ujar nenek sebelas cucu ini.

Untunglah, kelima putra-putrinya - Sursantio (lahir 1948), Suryaningdiah (1950), Suryo Prabowo (1951), Suryo Prasojo (1958), dan Suryo Pranoto (1962) - terus memompa semangatnya untuk bangkit. Begitu juga sobat, handai tolan, maupun para orang tua murid dan para guru sekolah TK-nya. Mereka silih berganti mencoba membongkar kebekuan Bu Kasur agar kembali meneruskan perjuangannya yang telah dirintis bersama Pak Kasur.

"Kamu harus bisa!"

Bu Kasur sendiri sebenarnya tak pernah bermimpi kalau sebagian hidupnya bakal tertumpah untuk anak-anak. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, dia memang menerima kewajiban mengurus adik-adiknya. "Apalagi saya ini enggak punya latar belakang disiplin ilmu tertentu. Kalau ada yang bilang saya ini autodidak, mungkin ada benarnya, ya?" ujar wanita yang mengaku "hanya" lulusan sekolah setingkat SMU di zaman pendudukan Jepang dulu.

Semua itu tidak lain berkat dorongan Pak Kasur, yang dia anggap guru besarnya. "Setelah menikah dengan Pak Kasur, saya sering diajak terlibat dengan apa yang dikerjakannya. Waktu zaman Belanda, dia seorang guru HIS. Begitu pula saat menjadi pegawai Departemen Penerangan dan Pak Kasur sering mengumpulkan anak-anak di halaman rumah untuk siaran RRI," kata Bu Kasur yang menikah setahun setelah Indonesia merdeka, 1946.

Mula-mula memang dirasakannya berat ketika ia "dipaksa" Pak Kasur untuk menggantikannya siaran di RRI setiap kali suaminya sedang berhalangan, ke luar kota. "'Kamu bisa. Kamu harus bisa, sebab kamu mesti bantu saya' kata Bapak. Memang saya sempat gemetaran, grogi, dan ngomong tersendat-sendat waktu pertama kali siaran. Tapi syukurlah, lama-lama bisalah," kenangnya saat mengawali debutnya sebagai pengasuh acara anak-anak di media massa elektronik itu.

Bu Kasur dulu juga bekerja. Ia bertemu dengan pemuda Soerjono ketika sama-sama menjadi pegawai di Kantor Karesidenan Priangan, Bandung. "Tapi setelah punya anak, saya minta izin lagi untuk bekerja. Tetapi Bapak bilang, 'Boleh, bagus itu. Cuma kalau kamu kerja, aku yang di rumah. Itu 'kan anak kamu dan anakku, masa jadi anak simbok.' Lewat cara itu, dia melarang dengan bijaksana. Saya enggak jadi marah karena dilarang. Maka untuk mengisi waktu, saya menulis di majalah anak-anak," cerita Bu Kasur yang kini mengasuh salah satu rubrik di Majalah Bocil terbitan Gramedia Majalah.

Bijaksana. Itulah konon yang menjadi salah satu daya pukau pemuda Soerjono bagi pemudi Sandiah alias Bu Kasur. Sikap itu pula yang menjadi pegangan untuk menjalankan fitrah hidupnya hingga kini, termasuk dalam mendidik anak-anak.

"Saya mencoba meneladaninya. Kalau Bapak mengkritik atau memberi nasihat kepada siapa pun, tidak pernah bikin orang sakit hati, menang tanpa ngasorake (maksud kesampaian tanpa merendahkan martabat orang - Red.). Ketika mengkritik sambil menuding-nuding dengan jari telunjuk, kita sering lupa bahwa jari tengah, jari manis, dan kelingking mengarah ke tubuh kita. Itu sebenarnya mengandung falsafah bahwa mengkritik boleh, tapi kita harus lebih banyak mawas diri sebelum mengkritik orang lain," kata Bu Kasur.

Satu lagi wejangan suaminya yang tak pernah ia lupakan, "Kalau manis jangan langsung ditelan, kalau pahit jangan serta merta dimuntahkan." Maksudnya, kata Bu Kasur, kita mesti melihat proses, melakukan analisis, membuat kesimpulan, baru kemudian menentukan sikap dan tindakan yang akan dilakukan ketika menghadapi suatu peristiwa atau menyelesaikan persoalan.

Melahirkan orang besar

Sebagian besar hidup Bu Kasur tetap tercurah pada anak-anak meski tidak lagi tampil di berbagai panggung acara televisi dan siaran radio, termasuk yang terakhir dalam Kuis Hip-Hip Ceria di RCTI. Dengan lima Taman Kanak-kanak "Mini" Pak Kasur yang berlokasi di kawasan Cikini (sekaligus rumah tinggal Bu Kasur), Cipinang Indah, Pasarminggu, Kemang Pratama di Jakarta, dan Banjar Tangerang, dia tetap konsisten dengan jejak langkahnya. Murid TK-nya kini mencapai 350 lebih anak dengan puluhan guru.

Sebagian alumni bahkan banyak yang sudah menjadi orang besar. Umpama saja Hayono Isman (mantan Menpora), Ateng (pelawak), atau Guruh dan Megawati, putra-putri mantan Presiden Soekarno. "Juga hampir seluruh cucu bahkan cicit H.M. Soeharto, mantan presiden, sekolah di TK Mini," ujar Bu Kasur.

TK Mini berdiri sejak 1965 setelah Pak Kasur bersama keluarganya boyongan ke Jakarta dari Kota Kembang Bandung. Pada 1968 Pak Kasur purnakarya dari Depdikbud dalam kapasitasnya sebagai anggota Badan Sensor Film (BSF), TK itu diresmikan. Semula mengambil tempat di rumahnya di Jln. H. Agus Salim dengan Taman Kanak-kanak, Taman Putera, dan Taman Pemuda. Namun, Taman Putera dan Taman Pemuda tidak dikembangkan, bahkan ditutup. Untuk menampung anak-anak dari berbagai kelompok umur, TK Mini dibagi dalam tiga jenjang, yaitu "Parkit" untuk anak usia tiga tahun, "Kutilang" untuk anak empat tahun, dan "Cendrawasih" untuk anak lima tahun.

Tidak ada kosa kata bosan dalam kamus Bu Kasur yang hampir sepanjang usianya berkecimpung dalam dunia pendidikan dasar anak-anak. "Tidak ada tuh rasa jenuh. Ada kenikmatan tersendiri ketika mengamati bagaimana anak-anak itu berkembang dari hari ke hari. Kelucuan, kepolosan anak-anak membuat saya 'hidup'," ungkap Bu Kasur.

Ada dinamika yang membuat dirinya bertambah 'kaya'. Seminggu sekali diadakan semacam upacara bendera untuk memperkenalkan anak pada lambang negara. Suatu kali ada seorang murid TK yang terlambat mengikuti upacara. "Si anak tidak mau bergabung dan minta pulang karena terlambat. Tapi ibunya memaksa sampai anak itu menangis. Usut punya usut ia terlambat karena mobil harus mengantar ayahnya dulu ke kantor. Lalu saya bilang pada si ibu, sifat malu datang terlambat itu mestinya dipelihara. Usul saya biar nanti tidak terlambat, si anak didrop lebih dulu, baru bapaknya. Bapaknya 'kan tidak menangis kalau terlambat masuk kantor? He-he-he ...," ceritanya.

Tidak jarang Bu Kasur mendapatkan persepsi keliru dari orang tua murid tentang cara dia mengajar. Suatu ketika, di lantai kelas ia menebarkan permen dengan perintah agar anak-anak memunguti permen itu sebanyak-banyaknya. Anak-anak pun kontan berebut. "Tahu-tahu ada ibu yang menunggui anaknya sekolah nyeletuk, 'Jangan ikut rebutan permen itu, nanti pulang sekolah ibu belikan coklat.'

"Waduh! Lalu saya jelaskan pada si ibu bahwa apa yang saya lakukan itu untuk melakukan observasi, dan hasilnya nanti akan saya pakai sebagai bahan untuk mengembangkan sifat-sifat positif anak. Ketika anak-anak mendapat perintah untuk mengumpulkan permen sebanyak-banyaknya, ada yang mengambil satu-dua, balik lagi, ambil lagi. Tapi ada yang kerjanya efisien dengan meraup sebanyak-banyaknya, lalu ditaruh di ujung kemejanya, baru diletakkan di meja saya. Dari situlah saya melakukan observasi," terang Bu Kasur. Ia juga mengatakan, sistem belajar sambil bermain bisa mendeteksi secara dini kalau ada kelainan kejiwaan seperti fobi ketinggian, fobi lingkungan, atau kelainan buta warna pada anak.

Bahasa Inggris juga diajarkan di sekolah TK Mini. Namun, itu sekadar pengenalan sifatnya. "Hanya seminggu sekali dalam satu jam. Tujuannya agar anak terbiasa mendengar bahasa yang lain dari bahasa ibunya. Biasanya diajarkan lewat lagu. Kalau lagunya hafal, lama-lama artinya juga. Lagu-lagu Pak Kasur pun tetap dipakai, karena lagu-lagu Bapak berpengetahuan," kata Bu Kasur.

Penghargaan bukan segalanya

Bertumpuk penghargaan bertaraf nasional, antara lain Bintang Budaya Parama Dharma, sudah diterimanya. Terakhir Bu Kasur juga mengantungi penghargaan sebagai pembawa acara anak-anak legendaris di televisi. Namun, segala penghargaan itu, apa pun bentuknya, tidak lantas membuat Bu Kasur puas dan berbangga diri, apalagi menepuk dada.

"Saya ini bukan apa-apa. Saya hanya menjalankan peran sebagai ibu dan ingin tetap dekat dengan dunia anak. Malah saya berharap ada yang dapat melanjutkan perjuangan Pak Kasur. Sekarang orang-orang yang seperti zaman dulu sudah langka. Mereka memang bagus-bagus, tapi terlalu berorientasi pada komersialisme. Dulu Pak Kasur dibilang terlalu idealis," kata Bu Kasur sambil menambahkan, "Sekarang semua lagu sudah saya daftarkan ke Yayasan Komisi Hak Cipta Indonesia (KCI)."

Ia mengaku, apa yang dia kerjakan sampai saat ini tidak berbeda dengan ketika ia mengasuh putra-putrinya sendiri. "Anak-anak saya didik lewat lagu atau tulisan. Saya tekankan etika, estetika, etos kerja, dan kreativitas. Kita bisa mendidik anak secara lebih mudah dengan menggugah kreativitas mereka," tutur Bu Kasur.

Oh, ya, bagaimana sampai Ibu lebih dikenal dengan panggilan Bu Kasur daripada nama aslinya Bu Soerjono, misalnya? "Bapak ikut jadi anggota Pramuka yang dulu namanya Kepandoean Bangsa Indonesia, dan dipanggil Kak Soer. Meski sudah dipanggil 'Pak' karena sudah tua, kata 'Kak' masih disebut. Maka dipanggillah dia 'Pak Kak Soer', lama-lama jadi 'Pak Kasur', termasuk saya ikutan dipanggil Bu Kasur," ujar wanita "berbahan baku Jawa, delivery Jakarta, dan assembling Bandung" itu sembari tertawa.(HK)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej