|
|
Bulan November 2000
|
|
BU KASUR: SEBUAH LEGENDA YANG HIDUP
Satu-satu,
aku sayang ibu
Dua-dua, juga sayang ayah
Tiga-tiga, sayang adik kakak
Satu-dua-tiga sayang semuanya
Sepertinya sudah hal biasa, orang jarang mengenal atau mungkin tidak peduli
siapa bidan di balik lahirnya sebuah lagu yang begitu populer sekalipun.
Buat Sandiah, nama kecil Bu Kasur, hal itu bukan soal besar. Yang nomor satu
bagi dia ialah bagaimana membuat lagu sebaik-baiknya, yang bersifat mendidik
dan menyenangkan anak-anak. Tak soal apakah lagu itu nanti bakal melegenda
atau menjadi abadi, dikenang dan dinyanyikan sepanjang masa dari satu
generasi ke generasi selanjutnya.
Belajar sambil bermain
Tak seberapa banyak memang karya lagu ciptaan Bu Kasur dibandingkan dengan
karya-karya suaminya yang mencapai sekitar 140 lagu. "Tak sampai 20
lagu saya," kata Bu Kasur tentang jumlah karyanya.
Apalagi di usianya yang sudah kepala tujuh (lahir 16 Januari 1926 di
Jakarta), ia nyaris tidak lagi memproduksi lagu. Untuk ukuran wanita
seusianya, Bu Kasur masih tergolong cukup energik; menerima tetamunya yang
hampir tiap hari mengalir ke rumahnya, terutama orang tua murid; masih giat
mengikuti pelbagai acara (seperti berdarmawisata) yang diselenggarakan oleh
sejumlah Taman Kanak-kanak di bawah Yayasan Setia Balita yang dipimpinnya.
Ia juga menjadi pembicara seminar di berbagai tempat, atau menjadi juri di
pelbagai lomba kreativitas maupun menyanyi lagu anak-anak.
Senyumnya yang khas mengembang saat pikirannya menerawang ke masa hampir
empat puluh tahun lalu ketika wanita itu masih membawakan acara Taman
Indria, Arena Anak-anak, dan Mengenal Tanah Air di TVRI.
"Jadi, sejak 1962 saya sudah menjadi pengasuh acara-acara itu di
TVRI," kenangnya.
Bu Kasur memang dikenal karena mengasuh sejumlah acara anak-anak di televisi
dan juga radio. Dunia anak-anak sepertinya tak bisa lepas dari kehidupan Bu
Kasur dan juga suaminya. Dengan penuh kesabaran dan ketulusan, pasangan
suami-istri itu membimbing anak-anak belajar sambil bermain. Juga bernyanyi!
Belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Itulah kata kunci yang
melandasi pola pikir dan pola tindak yang senantiasa dihayati dan
dilaksanakan hingga sekarang dalam mengelola sekolah Taman Kanak-kanaknya.
"Lagu Sayang Semua, misalnya, itu mengandung unsur pembelajaran
sekaligus pendidikan meski sederhana. Lagu itu lahir karena saya ingin
mengajar anak-anak mengenali dan menanamkan rasa cinta kepada anggota
keluarga sambil memperkenalkan angka-angka," tutur Bu Kasur sambil
mengaku terkejut campur bahagia ketika pihak PT Unilever memberikan semacam
royalti kepadanya karena lagu itu dipakai sebagai jingle atau theme
song dalam salah satu iklan susu mereka.
Kesederhanaan, demikian Bu Kasur, memang mutlak menjadi karakteristik lagu
anak-anak. Sederhana lagunya, sederhana syairnya. Sampai-sampai Bu Kasur
berusaha sebisa mungkin menghindari pemakaian huruf "r" pada
syair-syair lagunya seperti dipesankan dan dilakukan mendiang Pak Kasur.
"Alasannya, huruf 'r' itu 'kan termasuk huruf yang relatif sulit di
lidah anak-anak," terang Bu Kasur.
Semangat hidup maupun dedikasinya terhadap dunia anak-anak terus menggebu
sampai pada tahun 1992 obor spirit yang menyala-nyala itu nyaris padam tak
berbara ketika sang suami tercinta dipanggil menghadap Tuhan. Wanita
keturunan Jawa itu terpuruk. Setahun lamanya, nyaris tak ada yang ingin
dilakukannya. "Saya kehilangan semangat," tutur Bu Kasur.
Bahkan selama sang suami menderita sakit sebelum meninggal pun, ia sudah
memutuskan berhenti dari seluruh kegiatannya di berbagai program televisi
asuhannya serta kegiatan lain. "Semua waktu, tenaga, dan perhatian saya
curahkan hanya untuk merawat Pak Kasur," ujar nenek sebelas cucu ini.
Untunglah, kelima putra-putrinya - Sursantio (lahir 1948), Suryaningdiah
(1950), Suryo Prabowo (1951), Suryo Prasojo (1958), dan Suryo Pranoto (1962)
- terus memompa semangatnya untuk bangkit. Begitu juga sobat, handai tolan,
maupun para orang tua murid dan para guru sekolah TK-nya. Mereka silih
berganti mencoba membongkar kebekuan Bu Kasur agar kembali meneruskan
perjuangannya yang telah dirintis bersama Pak Kasur.
"Kamu harus bisa!"
Bu Kasur sendiri sebenarnya tak pernah bermimpi kalau sebagian hidupnya
bakal tertumpah untuk anak-anak. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara,
dia memang menerima kewajiban mengurus adik-adiknya. "Apalagi saya ini
enggak punya latar belakang disiplin ilmu tertentu. Kalau ada yang bilang
saya ini autodidak, mungkin ada benarnya, ya?" ujar wanita yang mengaku
"hanya" lulusan sekolah setingkat SMU di zaman pendudukan Jepang
dulu.
Semua itu tidak lain berkat dorongan Pak Kasur, yang dia anggap guru
besarnya. "Setelah menikah dengan Pak Kasur, saya sering diajak
terlibat dengan apa yang dikerjakannya. Waktu zaman Belanda, dia seorang
guru HIS. Begitu pula saat menjadi pegawai Departemen Penerangan dan Pak
Kasur sering mengumpulkan anak-anak di halaman rumah untuk siaran RRI,"
kata Bu Kasur yang menikah setahun setelah Indonesia merdeka, 1946.
Mula-mula memang dirasakannya berat ketika ia "dipaksa" Pak Kasur
untuk menggantikannya siaran di RRI setiap kali suaminya sedang berhalangan,
ke luar kota. "'Kamu bisa. Kamu harus bisa, sebab kamu mesti bantu
saya' kata Bapak. Memang saya sempat gemetaran, grogi, dan ngomong
tersendat-sendat waktu pertama kali siaran. Tapi syukurlah, lama-lama
bisalah," kenangnya saat mengawali debutnya sebagai pengasuh acara
anak-anak di media massa elektronik itu.
Bu Kasur dulu juga bekerja. Ia bertemu dengan pemuda Soerjono ketika
sama-sama menjadi pegawai di Kantor Karesidenan Priangan, Bandung.
"Tapi setelah punya anak, saya minta izin lagi untuk bekerja. Tetapi
Bapak bilang, 'Boleh, bagus itu. Cuma kalau kamu kerja, aku yang di rumah.
Itu 'kan anak kamu dan anakku, masa jadi anak simbok.' Lewat cara
itu, dia melarang dengan bijaksana. Saya enggak jadi marah karena dilarang.
Maka untuk mengisi waktu, saya menulis di majalah anak-anak," cerita Bu
Kasur yang kini mengasuh salah satu rubrik di Majalah Bocil terbitan
Gramedia Majalah.
Bijaksana. Itulah konon yang menjadi salah satu daya pukau pemuda Soerjono
bagi pemudi Sandiah alias Bu Kasur. Sikap itu pula yang menjadi pegangan
untuk menjalankan fitrah hidupnya hingga kini, termasuk dalam mendidik
anak-anak.
"Saya mencoba meneladaninya. Kalau Bapak mengkritik atau memberi
nasihat kepada siapa pun, tidak pernah bikin orang sakit hati, menang
tanpa ngasorake (maksud kesampaian tanpa merendahkan martabat orang - Red.).
Ketika mengkritik sambil menuding-nuding dengan jari telunjuk, kita sering
lupa bahwa jari tengah, jari manis, dan kelingking mengarah ke tubuh kita.
Itu sebenarnya mengandung falsafah bahwa mengkritik boleh, tapi kita harus
lebih banyak mawas diri sebelum mengkritik orang lain," kata Bu Kasur.
Satu lagi wejangan suaminya yang tak pernah ia lupakan, "Kalau manis
jangan langsung ditelan, kalau pahit jangan serta merta dimuntahkan."
Maksudnya, kata Bu Kasur, kita mesti melihat proses, melakukan analisis,
membuat kesimpulan, baru kemudian menentukan sikap dan tindakan yang akan
dilakukan ketika menghadapi suatu peristiwa atau menyelesaikan persoalan.
Melahirkan orang besar
Sebagian besar hidup Bu Kasur tetap tercurah pada anak-anak meski tidak lagi
tampil di berbagai panggung acara televisi dan siaran radio, termasuk yang
terakhir dalam Kuis Hip-Hip Ceria di RCTI. Dengan lima Taman
Kanak-kanak "Mini" Pak Kasur yang berlokasi di kawasan Cikini
(sekaligus rumah tinggal Bu Kasur), Cipinang Indah, Pasarminggu, Kemang
Pratama di Jakarta, dan Banjar Tangerang, dia tetap konsisten dengan jejak
langkahnya. Murid TK-nya kini mencapai 350 lebih anak dengan puluhan guru.
Sebagian alumni bahkan banyak yang sudah menjadi orang besar. Umpama saja
Hayono Isman (mantan Menpora), Ateng (pelawak), atau Guruh dan Megawati,
putra-putri mantan Presiden Soekarno. "Juga hampir seluruh cucu bahkan
cicit H.M. Soeharto, mantan presiden, sekolah di TK Mini," ujar Bu
Kasur.
TK Mini berdiri sejak 1965 setelah Pak Kasur bersama keluarganya boyongan ke
Jakarta dari Kota Kembang Bandung. Pada 1968 Pak Kasur purnakarya dari
Depdikbud dalam kapasitasnya sebagai anggota Badan Sensor Film (BSF), TK itu
diresmikan. Semula mengambil tempat di rumahnya di Jln. H. Agus Salim dengan
Taman Kanak-kanak, Taman Putera, dan Taman Pemuda. Namun, Taman Putera dan
Taman Pemuda tidak dikembangkan, bahkan ditutup. Untuk menampung anak-anak
dari berbagai kelompok umur, TK Mini dibagi dalam tiga jenjang, yaitu
"Parkit" untuk anak usia tiga tahun, "Kutilang" untuk
anak empat tahun, dan "Cendrawasih" untuk anak lima tahun.
Tidak ada kosa kata bosan dalam kamus Bu Kasur yang hampir sepanjang usianya
berkecimpung dalam dunia pendidikan dasar anak-anak. "Tidak ada tuh
rasa jenuh. Ada kenikmatan tersendiri ketika mengamati bagaimana anak-anak
itu berkembang dari hari ke hari. Kelucuan, kepolosan anak-anak membuat saya
'hidup'," ungkap Bu Kasur.
Ada dinamika yang membuat dirinya bertambah 'kaya'. Seminggu sekali diadakan
semacam upacara bendera untuk memperkenalkan anak pada lambang negara. Suatu
kali ada seorang murid TK yang terlambat mengikuti upacara. "Si anak
tidak mau bergabung dan minta pulang karena terlambat. Tapi ibunya memaksa
sampai anak itu menangis. Usut punya usut ia terlambat karena mobil harus
mengantar ayahnya dulu ke kantor. Lalu saya bilang pada si ibu, sifat malu
datang terlambat itu mestinya dipelihara. Usul saya biar nanti tidak
terlambat, si anak didrop lebih dulu, baru bapaknya. Bapaknya 'kan tidak
menangis kalau terlambat masuk kantor? He-he-he ...," ceritanya.
Tidak jarang Bu Kasur mendapatkan persepsi keliru dari orang tua murid
tentang cara dia mengajar. Suatu ketika, di lantai kelas ia menebarkan
permen dengan perintah agar anak-anak memunguti permen itu
sebanyak-banyaknya. Anak-anak pun kontan berebut. "Tahu-tahu ada ibu
yang menunggui anaknya sekolah nyeletuk, 'Jangan ikut rebutan permen
itu, nanti pulang sekolah ibu belikan coklat.'
"Waduh! Lalu saya jelaskan pada si ibu bahwa apa yang saya lakukan itu
untuk melakukan observasi, dan hasilnya nanti akan saya pakai sebagai bahan
untuk mengembangkan sifat-sifat positif anak. Ketika anak-anak mendapat
perintah untuk mengumpulkan permen sebanyak-banyaknya, ada yang mengambil
satu-dua, balik lagi, ambil lagi. Tapi ada yang kerjanya efisien dengan
meraup sebanyak-banyaknya, lalu ditaruh di ujung kemejanya, baru diletakkan
di meja saya. Dari situlah saya melakukan observasi," terang Bu Kasur.
Ia juga mengatakan, sistem belajar sambil bermain bisa mendeteksi secara
dini kalau ada kelainan kejiwaan seperti fobi ketinggian, fobi lingkungan,
atau kelainan buta warna pada anak.
Bahasa Inggris juga diajarkan di sekolah TK Mini. Namun, itu sekadar
pengenalan sifatnya. "Hanya seminggu sekali dalam satu jam. Tujuannya
agar anak terbiasa mendengar bahasa yang lain dari bahasa ibunya. Biasanya
diajarkan lewat lagu. Kalau lagunya hafal, lama-lama artinya juga. Lagu-lagu
Pak Kasur pun tetap dipakai, karena lagu-lagu Bapak berpengetahuan,"
kata Bu Kasur.
Penghargaan bukan segalanya
Bertumpuk penghargaan bertaraf nasional, antara lain Bintang Budaya Parama
Dharma, sudah diterimanya. Terakhir Bu Kasur juga mengantungi penghargaan
sebagai pembawa acara anak-anak legendaris di televisi. Namun, segala
penghargaan itu, apa pun bentuknya, tidak lantas membuat Bu Kasur puas dan
berbangga diri, apalagi menepuk dada.
"Saya ini bukan apa-apa. Saya hanya menjalankan peran sebagai ibu dan
ingin tetap dekat dengan dunia anak. Malah saya berharap ada yang dapat
melanjutkan perjuangan Pak Kasur. Sekarang orang-orang yang seperti zaman
dulu sudah langka. Mereka memang bagus-bagus, tapi terlalu berorientasi pada
komersialisme. Dulu Pak Kasur dibilang terlalu idealis," kata Bu Kasur
sambil menambahkan, "Sekarang semua lagu sudah saya daftarkan ke
Yayasan Komisi Hak Cipta Indonesia (KCI)."
Ia mengaku, apa yang dia kerjakan sampai saat ini tidak berbeda dengan
ketika ia mengasuh putra-putrinya sendiri. "Anak-anak saya didik lewat
lagu atau tulisan. Saya tekankan etika, estetika, etos kerja, dan
kreativitas. Kita bisa mendidik anak secara lebih mudah dengan menggugah
kreativitas mereka," tutur Bu Kasur.
Oh, ya, bagaimana sampai Ibu lebih dikenal dengan panggilan Bu Kasur
daripada nama aslinya Bu Soerjono, misalnya? "Bapak ikut jadi anggota
Pramuka yang dulu namanya Kepandoean Bangsa Indonesia, dan dipanggil Kak
Soer. Meski sudah dipanggil 'Pak' karena sudah tua, kata 'Kak' masih
disebut. Maka dipanggillah dia 'Pak Kak Soer', lama-lama jadi 'Pak Kasur',
termasuk saya ikutan dipanggil Bu Kasur," ujar wanita "berbahan
baku Jawa, delivery Jakarta, dan assembling Bandung" itu
sembari tertawa.(HK) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||