|
|
Bulan November 2000
|
|
Di Luar Skenario
Saya pertama kali bertemu Maiko Nishikawa di
ruang tamu kantor redaksi West Japan News. Saat itu tubuhnya yang
kecil dan ramping dibalut berpakaian putih. Rambutnya pendek menarik. Sambil
menyerahkan kartu nama, saya berkata, "Benarkah Anda memiliki beberapa
edisi New Art Journal?"
Majalah itu sudah berhenti terbit, tapi dalam rubrik "Surat
Pembaca" ada pembaca menanyakan bila ada yang mau menjual edisi-edisi
tertentu majalah itu.
Wanita itu menjawab, "Betul. Dengan senang hati saya akan
menyerahkannya kepada Anda. Tapi majalah itu berat sedangkan rumah saya
jauh."
Meski tidak kelihatan seksi ataupun dingin, wanita itu tampaknya cerdas dan
menarik.
"Anda bisa mengirimnya via pos. Ongkosnya kami ganti."
Ia mengamati kartu nama saya, lalu tampak tercengang. "Anda Shin'ichi
Takida? Lulusan SMU Shuyu di Fukuoka?"
Ketika saya mengiyakan, ia berseri gembira. Pipinya memerah. Katanya,
"Anda kenal Sugio Nishikawa? Anda pernah sekelas dengannya."
Perlu waktu untuk mengingatnya. Maklum, saya bukan teman dekat Sugio
Nishikawa yang tergolong eksentrik.
"Dia suami saya," katanya lagi. "Mungkin Anda lupa, tapi dia
sering bercerita tentang Anda."
"Saya ingat. Dia siswa pertama sekolah kami yang diterima di jurusan
patung Fakultas Seni Rupa Universitas Tokyo. Saya pernah membaca, ia
mendapat beberapa penghargaan saat di universitas. Dia masih pematung?"
"Lima tahun lalu matanya cedera akibat kecelakaan mobil. Cederanya sih
tidak serius, tapi ia terpukul secara psikologis. Akhir-akhir ini dia hampir
tidak bekerja. Saya khawatir keadaannya tidak akan membaik."
Sesaat saya tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya, "Kata Anda, Anda
tinggal jauh dari sini?"
"Kami memiliki studio kecil di pantai Keya no Oto. Jauh dari kota, tapi
tenang dan lautnya indah." Keya no Oto letaknya kira-kira 45 km dari
Kota Fukuoka dan terkenal dengan keindahan pantainya yang curam.
"Ia sering bercerita tentang Anda, padahal ia bukan jenis orang yang
banyak teman. Pasti Anda sangat berkesan baginya."
Saya kaget. Di SMU, Nishikawa yang pucat itu selalu mencoba memberi kesan
kalau dia itu elite. Dia tidak mempunyai teman dekat. Sejak lulus kami tidak
pernah berhubungan. Setelah menyelesaikan perguruan tinggi saya bekerja
untuk West Japan News cabang Tokyo, baru lima bulan lalu pindah ke
kantor pusat di Fukuoka.
"Maaf kalau saya lancang. Saya harap Anda mau berkunjung ke tempat kami
kapan-kapan," kata istri Nishikawa dengan mata berbinar. "Siapa
tahu ia bersemangat untuk bekerja kembali. Anda juga bisa sekalian mengambil
New Art Journal."
Pipinya memerah dan pandangannya penuh harap. Saya ragu-ragu menerima
undangannya. Ia bangkit dan saya mengundangnya minum teh. Tanpa ragu-ragu ia
menerima. Di tempat minum kopi ia tidak banyak berbicara. Matanya
memancarkan ketidak bahagiaan.
Ketika akan berpisah, saya tergagap bertanya, "Saya tidak tahu nama
kecil Anda."
"Maiko."
Suaminya aneh
Itu terjadi di bulan Agustus. Suatu hari Sabtu awal September saya
mengendarai mobil ke rumah Nishikawa yang terpencil. Seperti kata Maiko,
pemandangan di sini indah. Maiko menyambut begitu saya keluar dari mobil. Ia
mengenakan sandal jepit kuning.
Sambil menuruni jalan setapak, Maiko menunjuk ke sebuah tebing yang
menjulang tinggi. "Pemandangan dari situ lebih indah lagi,"
katanya. "Nanti kita ke sana."
Rumah Nishikawa kecil dan tua, berpotongan barat dengan atap datar. Rupanya
dulu dibangun seorang kaya yang ingin memiliki tempat peristirahatan. Kami
disambut Sugio Nishikawa di pintu. Saya hampir sulit mengenalinya. Ia sangat
berbeda dari 10 tahun silam. Tampak jauh lebih tua dari umurnya. Tubuhnya
amat kurus. Rambutnya menipis sedangkan kulitnya pucat. Dulu hidung mancung
membuat wajahnya artistik, tetapi sekarang malah menekankan kecekungan
matanya.
Yang paling mengejutkan adalah perubahan sikapnya. Dulu ia angkuh. Kini
memancarkan ketidakberdayaan. Namun, ia sungguh-sungguh senang menerima
kedatangan saya.
Kami masuk ke ruang tamu merangkap studionya yang lantainya ditutupi karpet
usang. Di sana ada sejumlah lempung, tetapi tidak satupun yang sudah
dibentuk. Kami masing-masing menceritakan apa yang terjadi sejak kami
berpisah. Dengan cepat kami kehabisan bahan pembicaraan.
Karena kebisuan terasa mencekam, saya memberanikan diri berkata,
"Kudengar mata Anda cedera dalam kecelakaan lalu-lintas."
Nishikawa tersenyum lemah. "Tidak serius. Terkadang mata saya
berkunang-kunang. Kira-kira sepuluh hari sekali kepala saya sakit
sekali."
Saat itu Maiko keluar dari dapur. "Sugio senang sekali waktu mendengar
Anda akan datang, tapi dia bukan orang yang pandai mengobrol dan
mengungkapkan perasaan."
Saya paham. Saya menangkap kegembiraan Nishikawa yang berusaha meredamnya
dengan mempermainkan pipanya. Suaranya bergetar tiap kali berbicara.
Sikapnya itu membuat saya risih.
"Anda mau melihat-lihat rumah kami?" Maiko menawarkan. Seperti
orang Amerika saja, menawarkan tamu melihat-lihat rumah. Saya heran
mengetahui kamar mandi berada tepat di sebelah studio, di seberang ruang
ganti pakaian. Kamar mandi itu berjendela lebar yang menghadap laut. Di
bawah jendela terdapat batu-batu karang besar yang dijilati ombak. Di
belakang ada sebuah kamar tidur dan dapur kecil merangkap kamar makan.
"Anda menginap di sini 'kan?" suara Maiko lebih akrab. "Kami
tinggal di udik, jadi tidak bisa menyediakan macam-macam. Tapi kami bisa
mendapat ikan segar dan Anda bisa menikmati pemandangan laut."
Berada dekat Nishikawa saya merasa tertekan, tetapi dekat Maiko berbeda.
Sesudah makan malam, saya menghadapi Nishikawa di ruang tamu merangkap
studionya. Rasanya waktu merayap lama sekali. Ketika makan, ia ikut
berbicara dalam percakapan yang dihidupkan Maiko. Kini Nishikawa cuma duduk
bersandar di kursi rotannya, sambil memejamkan mata. Satu-satunya petunjuk
bahwa dia tidak terlelap ialah senyum puas di wajahnya.
Maiko menghilang
Saya menikmati bulan purnama di atas laut. Kadang-kadang terdengar bunyi
deru perahu motor. Lalu saya sadar, dapur sudah sunyi. Saya bangkit hendak
meminta Maiko ikut duduk di ruang tamu. Ternyata Maiko tidak ada. Kamar
mandi pun kosong. Tidak mungkin ia keluar membeli sesuatu saat sudah lewat
pukul sembilan malam.
Sementara itu Nishikawa masih dalam keadaan seperti saya tinggalkan. Lalu
terdengar bunyi perahu motor mendekat dan berhenti agak jauh. Selanjutnya
sepi.
Kemudian pintu depan terbuka perlahan-lahan. Saya buka sedikit pintu ruang
tamu. Maiko di ruang depan. Ia tidak sadar saya sedang memandangnya.
Perlahan-lahan dikuncinya pintu depan. Setelah mencopot sandal jepit
karetnya, Maiko perlahan berjalan ke kamar tidur. Tata rias wajahnya lebih
tebal daripada siang hari. Bibirnya merah darah. Kakinya membawa pasir
basah.
Saya menutup pintu dan kembali ke ruang tamu. Nishikawa membuka mata dan
berkata, "Saya mau mandi, Takida. Kamu? Saya sih biasa mandi
kapan-kapan."
Saya menolak. Saya pikir, ia pasti menyadari ketidakhadiran Maiko dan
kepulangannya yang diam-diam. Cuma ia diam saja.
Perahu motor siapa?
Seperti yang dijanjikan, esoknya Maiko mengajak saya ke puncak tebing.
Nishikawa menyatakan akan 'bekerja', jadi tidak bisa ikut. Laut sangat
tenang, pemandangan pun sangat indah.
Dari percakapan kami, Maiko mengaku berasal dari Tokyo. Kedua orang tuanya
sudah meninggal, tetapi kakaknya masih di sana. Ia mencintai kakaknya dan
dulu sering menjenguk, tetapi sekarang tidak bisa. Dalam hati saya
bertanya-tanya, apakah karena alasan psikologis ataukah keuangan.
Tampak sebuah vila yang asri, agak tersembunyi di balik pohon-pohon pinus di
sebuah pulau kecil di seberang teluk. Di pantai pulau kecil itu tertambat
sebuah perahu motor.
Saya memutuskan untuk menginap semalam lagi. Kebetulan Senin saya bisa hadir
di kantor pukul 11.00. Sebagai bujangan, tentu tak ada yang peduli kalau
saya tidak pulang malam itu.
Pria jangkung
Setelah makan, Nishikawa masuk kamar. Katanya, "Lelah setelah sekian
lama tidak bisa bekerja." Hari itu ia mampu bekerja lama, walau
hasilnya tidak kentara. Dia dan Maiko tampak senang saya ada di sana.
Saya menggelar sofa menjadi tempat tidur dan berbaring sendirian di ruang
tamu. Dapur sunyi dan tidak lama kemudian kedengaran dengung perahu motor
dari laut. Dengan mata tertutup, saya menyimak.
Akhirnya saya tidak tahan. Saya keluar. Saya yakin perahu motor itu yang
saya lihat tadi pagi. Saya mendaki jalan berbatu-batu ke arah tebing. Cahaya
bulan membuat semua kelihatan keperak-perakan. Ketika sampai di tengah, saya
dengar mesin mobil. Dari puncak kelihatan, mobil itu Volvo putih. Seorang
pria jangkung dan seorang wanita turun. Wanita itu Maiko.
Maiko berjalan, diikuti pria itu. Karena jalan itu sempit, tidak mungkin
mereka berdampingan. Kalau kelihatan Maiko hampir tergelincir, pria itu
menolong Maiko untuk tegak. Segera mereka tiba di jalan menurun menuju
rumah.
Saya buru-buru mendahului berjalan ke arah rumah dan bersembunyi di belakang
sebuah batu besar dekat pintu. Maiko setengah berlari ke pintu. Tubuh saya
gemetar. Kemudian pria itu tiba dekatnya. Saya tidak bisa melihat wajahnya
sebab sinar bulan datang dari arah belakangnya.
Maiko berbalik. Pria itu mengelus rambut Maiko dan meletakkan tangannya di
bahu Maiko. Jari-jari mereka bergamitan. Kemudian Maiko melepaskan diri dan
membuka pintu. Setelah memandang pria itu, Maiko cepat masuk dan menutup
pintu. Sejenak pria itu masih berdiri sebelum akhirnya berbalik perlahan
mendaki jalan setapak.
Tidak ada ciuman, tidak ada bisikan cinta, tetapi bagi saya sama saja. Saya
cemburu. Saya ingin tahu maksud Maiko sebenarnya. Mengapa ia mengundang saya
dengan dalih 'demi kebaikan suaminya'? Mengapa pula ia begitu bersemangat
agar saya menginap lagi?
Membeli senjata
Dua hari kemudian, sekembali dari makan siang, saya lihat sebuah Volvo putih
parkir dekat kantor saya. Saya tidak memperhatikan dengan cermat kendaraan
yang ditumpangi Maiko, tetapi kahadiran Volvo putih ini membuat saya
berdebar-debar. Seorang pria jangkung keluar dari toko senjata yang letaknya
selang beberapa gedung dari tempat mobil diparkir. Ia mengenakan kacamata
hitam besar dan kemeja seperti pakaian pria yang mengantar Maiko pulang. Ia
menenteng senapan berburu yang lalu ditaruhnya di bangku belakang.
Setelah ia pergi, saya masuk ke toko senapan. "Saya kenal orang yang
baru keluar tadi," kata saya kepada pria kekar di belakang meja pajang.
"Dia sering datang ke sini, ya?"
"Iya. Pak Kusashita maksud Anda? Sudah kira-kira enam bulan dia membeli
senjata dari saya," kata penjaga toko ramah
"Ia punya rumah di Keya no Ono?"
"Iya. Tapi dia bilang sebenarnya asalnya dari Tokyo. Dia tetirah ke
sini karena asma. Ternyata dia betah, sehingga dia menetap di sini. Orang
kaya sih gampang, ingin apa pun bisa."
Diundang lagi
Di kantor seorang sekretaris memberi tahu, ada wanita bernama Nishikawa
menelepon saya. Katanya sejak saya menjenguk, kondisi suaminya membaik, maka
ia mengundang saya datang lagi untuk memberi semangat. Rupanya di telepon
Maiko memberi kesan sebagai istri yang sangat memperhatikan suami. Saya
merasa pahit, tetapi bertekad datang lagi.
Saya ingin bertemu Maiko. Saya punya alasan, yaitu membawa uang pembayar New
Art Journal. Saya tahu, saya dimanfaatkan. Tetapi saya tidak mau menjadi
Si Tolol.
Baru pukul 20.00 saya tiba di rumah Nishikawa. Maiko menyambut saya. Saya
hampir percaya matanya memancarkan kebahagiaan ketika ia melihat saya. Namun
mungkin yang saya lihat cuma pantulan dari hati saya. Maiko bilang suaminya
sedang pergi dengan perahu motor. Padahal waktu itu kabut gelap menyelimuti
laut. "Dia justru santai kalau tidak melihat apa-apa di laut."
Maiko memasak. Sambil memainkan gelas minum, saya bertanya. "Memang
kamu mau hidup terus seperti ini?" Maiko menatap saya dengan wajah
tidak bahagia seperti saat di warung kopi. Ia berpikir keras.
"Kamu mengorbankan diri demi suamimu." Ia tidak menjawab.
"Kamu puas dengan hidup begini? Tidak 'kan?" Ia menatap saya, dan
tembok di hati saya runtuh. "Sepertinya kamu memberi dia segalanya.
Padahal kamu mengkhianati dia."
"Tidak benar!" jawabnya dengan sedih.
"Saya melihat kamu dengan Kusashita."
"Tidak ada apa-apa di antara kami. Saya ingin kamu - terutama - untuk
percaya." Bibirnya bergetar. Saya ingin bisa percaya.
Terdengar bunyi tembakan berturut-turut dari laut. "Kalau itu yang kamu
rasakan, kamu mesti berhenti hidup tanpa pengharapan seperti ini."
"Saya perlu waktu. Sugio perlu hidup. Lambat atau cepat, ini akan
berakhir."
"Kemudian?"
"Saya akan menjadi manusia baru."
Kata-katanya membekas di hati saya, sementara bunyi tembakan terus
terdengar.
"Percayalah saya," katanya. Sebutir air mata menitik dari sudut
matanya. Saya percaya kepadanya.
Minum-minum
Esoknya taifun mengancam. Walau Nishikawa tampak senang dengan kehadiran
saya, ia tidak bernafsu untuk bekerja. Kini ia banyak berbicara. Semua
pematung dicela. Maiko ingin kehadiran saya memberi semangat, tetapi efeknya
malah kebalikannya.
Malam itu ia memakai kemeja kelabu dan celana pendek hitam yang dipakai
malam sebelumnya. "Kamu mau keluar lagi seperti semalam?" tanya
saya heran. Saya khawatir mengingat bunyi tembakan-tembakan semalam dan
angin kencang.
"Tidak. Karena kamu ada di sini, kita minum-minum saja."
Saya kira Maiko akan tinggal malam ini. Ternyata tidak. Ketika Nishikawa dan
saya sudah menghabiskan sepertiga isi botol wiski yang saya bawa sebagai
oleh-oleh, saya sadar rumah sangat sepi. Saya pura-pura ke kamar mandi,
sandal jepit kuning Maiko tidak ada. Saya kesal dan marah. Kemarin saya
percaya padanya. Ternyata saya buta. Setelah menenangkan diri, saya kembali
ke ruang duduk.
Nishikawa dan saya menenggak banyak wiski. Namun wajahnya sama sekali tidak
memerah, tapi makin pucat. Cuma matanya yang menyala. Kadang-kadang
bicaranya tidak karuan. Pukul sembilan lewat ia permisi untuk mandi.
Teriakan seorang wanita
Tiba-tiba saya mendengar teriakan melengking seorang wanita dari arah laut.
"Tolong!" disusul jeritan lagi. Akhirnya terdengar bunyi sesuatu
tercebur ke laut. Saya meloncat dari kursi. Saat itu Nishikawa membuka pintu
kamar mandi. Ia telanjang dan basah. Wajahnya aneh.
"Kau dengar suara aneh itu?" tanyanya. Kalau begitu saya tidak
salah dengar.
"Ya, rasanya dari laut."
"Bukan. Dari atas tebing. Jangan-jangan ...," suaranya tertahan.
Ia mempunyai dugaan yang sama dengan saya: Jangan-jangan Maiko.
"Biar saya periksa," kata saya.
"Ya, saya berpakaian dulu."
Saya meninggalkan rumah. Mula-mula saya memandang ke laut. Laut tampak
hitam. Ombak tinggi memecah dan membentuk buih. Dari ketinggian tidak
terlihat apa-apa. Saya bergegas menyusuri jalan setapak ke arah tebing. Di
puncak, saya menerobos hutan pinus. Karena jalan berkelok-kelok, baru 5 - 7
menit kemudian saya tiba di tepi tebing. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Sandal berdarah
Saya agak pusing memandang ke bawah dari bukit curam setinggi sekitar 20 m
itu. Di bibir tebing ada sebelah sandal jepit kuning seperti milik Maiko.
Sebercak noda di talinya. Darah?
"Maiko!" teriak saya. Namun angin dan ombak menelan suara saya.
Saya ingin terjun, tetapi tidak mempunyai pengalaman terjun dari ketinggian.
Sambil memegang sandal jepit saya kembali ke jalan setapak. Mobil saya
diparkir dekat gerbang kuil Shinto. Saya segera melapor ke kantor polisi
yang letaknya di sisi lain teluk, yaitu di pantai tempat
penginapan-penginapan para turis.
Karena sering terjadi kecelakaan laut, polisi bisa bertindak cepat. Ia ikut
saya ke tebing. Hujan mulai turun. Kami tiba berbareng dengan Nishikawa.
Napasnya terengah-engah.
"Saya pergi ke tanggul di pantai," katanya, "tapi tidak
menemukan apa-apa."
Polisi menyorotkan lampu senternya. Dari tepi tebing yang tampak cuma air
yang gelap berombak besar dan butir-butir hujan. Saya memperlihatkan sandal
jepit yang saya temukan. Nishikawa segera roboh. Angin dan hujan menerpa
kemeja putih dan celana coklatnya. Terdengar ia mengerang.
Pisau buah
Sejam kemudian mereka menemukan jenazah Maiko dekat sebuah tebing, kira-kira
50 m dari rumahnya. Ia mengenakan pakaian biru tua, kakinya telanjang.
Sebuah pisau buah besar menancap di dadanya, menembus sampai punggung.
Esok malam hasil autopsi diumumkan. Maiko tewas akibat tikaman, bukan karena
tenggelam. Nishikawa memberi kesaksian, sandal jepit yang saya temukan milik
istrinya. Darah di sandal sama jenisnya dengan darah Maiko. Diperkirakan
Maiko tewas antara pukul 21:00 - 21:30. Nishikawa dan saya mendengar
teriakan kira-kira pukul 21:15.
Dari keterangan itu dipastikan Maiko ditikam di puncak tebing lalu
dijatuhkan ke laut. Ombak laut membawanya ke tempat ia ditemukan. Nishikawa
tidak berkata sepatah katapun tentang hubungan Maiko dengan Kusashita, meski
saya yakin ia tahu.
Dengan sedih ia bercerita, kira-kira enam bulan lalu ia mengasuransikan
dirinya sebesar sepuluh juta yen, supaya Maiko tidak kekurangan kalau
Nishikawa meninggal. Saat itu Maiko juga bersikeras agar dirinya
diasuransikan. Siapa nyana malah Maiko yang meninggal.
Ketika Nishikawa tidak di ruangan, saya memberi tahu polisi tentang hubungan
Maiko dengan Kusashita. Mereka menanggapinya. Tadinya mereka tentu
mencurigai Nishikawa dan saya, tetapi karena kami ada di rumah saat teriakan
terdengar, mereka pun menerima alibi kami.
Kemudian saya dengar, Kusashita juga mempunyai alibi. Ia sedang makan malam
bersama dokternya di rumah. Itu dikuatkan oleh pembantu rumah tangganya.
Saya kecewa karena polisi percaya. Bisa saja si dokter dan pembantu rumah
tangganya disuap. Saya memutuskan menyelidiki sendiri.
Pengecut
Saya mencegat Kusashita saat ia mengendarai Volvo-nya menuju sebuah kuil
dekat rumahnya. Ternyata manusia pengecut itu mudah digertak. Ia mengaku
bertemu Maiko enam bulan lalu di dekat kuil. Maiko yang menegur lebih dulu.
Lantas mereka kadang-kadang pergi bersama-sama dengan mobil atau perahu
motor di malam-malam musim panas.
"Ia hampir tidak pernah berbicara," katanya. "Kami bahkan
tidak pernah berpegangan tangan karena ia tidak memberi kesempatan."
"Lalu, mengapa kamu membunuhnya?"
"Aku tidak membunuhnya!" teriaknya.
Kami bersikeras. Saya benci si pengecut lemah itu, tetapi akhirnya saya
yakin, Kusashita tidak punya nyali untuk membunuh Maiko.
Suatu sore akhir Oktober, saya bertamu ke rumah Keiko Minegishi, kakak
Maiko, di Tokyo. Suaminya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Eropa dan ia
baru melahirkan sehingga tidak bisa datang ke Fukuoka saat Maiko meninggal.
Penampilan Keiko mengingatkan saya pada Maiko, namun ia montok dan sudah
mendekati setengah baya.
"Sebetulnya sulit buat saya mengajukan pertanyaan ini. Tapi tahukah
Anda kalau-kalau ada pria lain dalam hidup Maiko selain Nishikawa?"
Perlahan wanita itu menggeleng. "Polisi mengajukan pertanyaan
sama," katanya. "Kalau ada pria lain yang akan mengubah hidupnya
secara drastis, ia pasti bercerita pada saya."
"Tapi 'kan Anda jarang bertemu akhir-akhir ini?"
"Betul. Tapi dia sering menulis surat."
Lalu saya tahu, mengapa Maiko begitu mati-matian membela suaminya. Maikolah
yang menyetir waktu kecelakaan terjadi. Ia merasa wajib menebus kesalahan.
"Mobil di depannya tiba-tiba berhenti," kata Keiko. "Anehnya,
Maiko cuma baret-baret. Nishikawa menderita syok berat. Bagi seniman mata
adalah jiwa. Tapi saya yakin, sebetulnya yang paling terkena adalah Maiko.
Sebelumnya ia begitu ceria dan lincah. Segala macam olahraga dikuasai. Di
SMU ia juara renang ...."
Saya kaget, "Anda bilang ia perenang?"
"Ya. Terutama ia peloncat indah yang andal, berani, dan anggun."
Seperti mayat hidup
Saya membuka pintu rumah Sugio Nishikawa. Duda itu sedang duduk di kursi
rotan memandangi laut. Ia menoleh.
"Oh, kamu." Hal itu diucapkannya seakan-akan saya baru saja pergi.
Matanya tidak bersinar, ekspresi wajahnya mati.
"Dengan kehadiranmu, Maiko serasa masih di rumah ini," katanya.
Suaranya laksana erangan.
"Coba ceritakan, bagaimana caramu membunuh dia," kata saya.
"Saya sudah tahu hampir semuanya, tetapi ingin mendengar dari mulutmu
sendiri."
Nishikawa berdehem dan menatap saya. "Gimana sih kamu. 'Kan
saya ada di sini, bersamamu."
"Kita bersama waktu ada orang berteriak, tetapi bukan saat Maiko
dibunuh." Nishikawa terdiam. "Kamu sedang di kamar mandi waktu
teriakan terdengar. Karena kamu masih telanjang, saya pergi lebih dulu ke
bukit. Kamu bilang kamu pergi ke tanggul. Tapi lama sekali, sedikitnya 30
menit, yaitu setelah saya dan polisi kembali. Pakaianmu pun sudah berganti.
Kenapa?"
Nishikawa terhenyak. Saya marah sekali. Saya angkat dagunya. "Sekitar
enam bulan lalu kamu dan Maiko mengasuransikan diri. Sekitar waktu itu juga
Maiko mendekati Kusashita. Mestinya saat itu kamu menjalankan rencana
pembunuhan terhadapnya dan mempergunakan Kusashita dan saya sebagai pemegang
peran pembantu."
"Bukan begitu!" Untuk pertama kalinya ia berbicara dengan tegas.
Ia menegakkan tubuhnya. "Waktu itu saya tidak punya rencana membunuh
Maiko. Saya tidak tahan hidup memandangi laut di sini. Saya ingin kembali ke
Tokyo, untuk mendapat rangsangan dari seniman-seniman lain dan mampu bekerja
lagi. Tapi saya tidak punya uang untuk pindah."
"Jadi kamu ingat pada asuransi jiwa."
"Maiko bilang, ia mau berbuat apa pun demi saya. Ah, - demi masa depan
kami."
"Dia bilang dia mau kamu bunuh?"
"Bukan. Dengarkan dulu. Saya sama sekali tidak berniat membunuhnya.
Polis asuransi tidak akan dibayar kalau kematian disebabkan oleh bunuh diri
dan terjadi setahun setelah kontrak. Bunuh diri oleh seorang istri yang
masih muda yang tidak mempunyai kekasih tentu aneh. Maka, kami sepakat
memasukkan Kusashita dalam rencana kami. Kami tidak ingin dia didakwa
membunuh. Lambat atau cepat polisi akan melepaskannya karena kurang bukti.
Kami cuma ingin memberi kesan, Maiko dibunuh."
"Kamu juga menyeret saya untuk memberi alibi bagimu?"
"Betul. Tapi ..." suara Nishikawa berubah lirih, "setelah
bertemu kamu, Maiko berubah. Saya sadar kamu memberi kesan mendalam
kepadanya."
"Apa yang terjadi malam itu?"
"Sesuai rencana, kami memilih saat laut berombak tinggi. Maiko akan
memanjat tebing, meninggalkan sandal jepit berdarah di tepinya dan berteriak
sebelum terjun ke laut. Saya ada di kamar mandi dan memintamu pergi lebih
dulu ke tebing. Saat kamu ke tebing, Maiko akan berenang ke sini. Walaupun
ombak besar, jarak ke sini cuma 100 m dan dia juara renang. Dia akan
berganti pakaian lalu menghilang. Dia akan pergi ke Tokyo. Polisi pasti
mengira mayatnya dibawa ombak. Sementara itu Maiko akan berganti nama,
tetapi tetap menjadi istri saya. Kami akan menempuh hidup baru bersama-sama.
"Namun malam itu Maiko tiba-tiba berkata akan meninggalkan saya. Dia
akan melaksanakan semua rencana kami dan akan membiarkan saya memperoleh
uang asuransi, tapi dia akan hidup baru tanpa saya."
Nishikawa menatap saya. "Saya tidak percaya. Dia begitu setia. Dia
milik saya. Malam itu setelah kamu keluar, saya pergi ke pantai. Saya curiga
ia menyembunyikan pakaian entah di mana dan tidak akan berganti pakaian di
rumah. Saya masih berharap, ia membatalkan rencananya meninggalkan saya.
Ternyata tekadnya sudah bulat. Hatinya sudah dipenuhi seorang pria lain.
Menyadari hal itu, saya tikam dia dengan pisau yang saya sembunyikan di
saku. Saya tidak rela ia dimiliki orang lain!"
"Kamu berganti pakaian sebab kamu mandi darah."
Ia mendelik. Matanya berapi-api. Saya menemukan kembali Sugio lama, Sugio
semasa di SMU. Namun sekejap kemudian ia berubah menjadi ringkih.
"Saya keliru. Hidup tanpa dia ternyata tidak tertahankan." Ia
mengambil botol wiski yang pernah kami minum berdua. "Saya lelah, mau
minum dulu." Dengan tangan gemetar dia menuang isi botol. Saya lihat
ada bubuk putih perlahan-lahan menyebar. Saya menyergapnya. Tiba-tiba ia
menjadi kuat. Kami bergumul, dada saya kena pecahan gelas.
"Biarkan aku mati!"
Saya menelikung dia. Saya tidak mau dia mati. Ia harus diseret ke pengadilan
untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Hanya dengan demikian hati saya
tenang. (Fiksi/Shizuko Natsuki/HI) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||