globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MEREDAM DENDAM MASA LALU

Sejak enam tahun lalu, seorang pria berusia 48 tahun mengaku tidak bahagia dalam hidup berkeluarga bersama istrinya. Padahal selama 20 tahun sebelumnya dia menikmati kebahagiaan berumah tangga sepenuhnya. "Sampai kini pun saya tetap yakin, istri saya adalah wanita yang baik dan setia. Namun, setiap kali mengingat riwayat percintaan istri saya dengan pria lain tiga puluh tahun lalu, saya menjadi sangat marah. Ini sangat menyakitkan. Mengapa saya bukan cinta pertama istri saya."

Setiap kali teringat peristiwa itu, bapak lima anak ini tidak bisa mengendalikan emosinya yang menggelegak irasional. Dia jadi benci sekali pada istrinya, yang selama lebih dari dua dasawarsa pernikahan mereka, telah menunjukkan sikapnya sebagai istri yang amat setia.

Mungkin para Pembaca serta-merta menilai pria ini orang aneh yang tak tahu diri. Bukankah peristiwa jatuh cinta yang dialami wanita yang kini menjadi istrinya, telah terjadi lebih dari seperempat abad silam, bahkan pada saat mereka berdua belum menikah? Bukankah jatuh cinta adalah suatu peristiwa wajar yang bisa terjadi pada siapa saja? Bukankah si istri sudah membuktikan betapa dirinya setia mendampingi suami dan mengasuh anak-anak mereka dengan baik sampai sekarang?

Semua pertanyaan itu bisa muncul untuk menggugat sikap pria itu. Konselor pun sudah melontarkan deretan pertanyaan serupa dalam berbagai sesi konseling, kendati dengan cara yang halus, guna membuka kesadaran baru pada khazanah mental pria itu agar penderitaan psikisnya berkurang. Namun, pria itu tidak menanggapi semua upaya penyadaran yang telah dilakukan. Justru dia mengembangkan berbagai rasionalisasi (dalih yang sepintas tampak rasional, namun sesungguhnya cuma alasan untuk pembenaran diri secara sepihak), untuk menolak dan "mematahkan" setiap upaya penyadaran.

Beberapa konselor bahkan pernah "terpancing" oleh berbagai rasionalisasi yang direka pria itu, sehingga mereka berdebat kusir tanpa menghasilkan solusi apa pun. Padahal perdebatan itu justru melahirkan pertikaian yang bersifat antiterapeutik (melawan proses penyembuhan).

Namun, pada suatu saat pria malang ini berjumpa dengan seorang terapis yang sabar dan empatetik. Meski menghadapi berbagai hambatan lantaran resistensi (perlawanan bawah sadar) dari pria tersebut, toh akhirnya mereka berhasil mengembangkan relasi terapeutik. Setelah melalui proses terapi yang dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, sebagian resistensi itu sedikit demi sedikit bisa teratasi. Sampai pada suatu saat, terkuaklah suatu kesadaran bahwa ternyata pria itu dikungkung kondisi psikodinamik yang ditandai adanya desakan berbagai kebutuhan psikologis.

Tiga kebutuhan yang begitu kuat itu adalah keinginan akan penghargaan diri (need for self-esteem), keinginan akan cinta dan kehangatan emosional (need for love and affection ), dan keinginan akan rasa aman (need for security).

Sesungguhnya, ketiga keinginan itu merupakan kebutuhan psikologis biasa, yang secara alamiah terdapat di dalam diri setiap manusia. Masalahnya, di dalam diri pria itu keinginan ini sedemikian kuat, dan mendesak sampai tataran nonrealistis. Mengapa? Ternyata, pada masa kecilnya (usia nol sampai 12 tahun) ia tidak mendapat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu. Padahal pada umumnya manusia belia membutuhkan pemenuhan ketiga kebutuhan psikologis itu, demi proses tumbuh kembang kejiwaan dan kepribadian yang wajar.

Malangnya, pria itu berada dalam suatu kondisi

kehidupan masa kanak-kanak yang tidak memungkinkan mendapatkan pemenuhan ketiga kebutuhan itu sewajarnya dalam kurun waktu yang memadai. Dia mengalami deprivasi (kekurangan) harga diri, rasa aman, kasih sayang, dan afeksi yang cukup berat. Maka tanpa disadari kini di dalam jiwanya muncul suatu mekanisme yang seolah menagih kembali kekurangan yang terjadi pada masa lampau.

Penagihan kekurangan itu melahirkan berbagai manifestasi kehausan akan harga diri, rasa aman, dan cinta, serta afeksi. Akibatnya, muncullah berbagai sikap-laku menuntut secara berlebihan. Ini antara lain terwujud dalam tuntutan tak masuk akal kepada sang istri supaya jatuh cinta pertama kali dengan dirinya. Sudah barang tentu tuntutan seperti ini tidak mungkin terpenuhi. Karena kenyataannya, wanita yang kini telah menjadi istrinya dulu memang pernah jatuh cinta pada pria lain. Peristiwa itu sudah terjadi, dan kini mungkin menjadi sekadar kenangan yang tidak banyak berarti buat sang istri. Buktinya, sejak menikah sampai kini wanita ini menampilkan kesetiaan yang nyata kepada sang suami.

Pada suatu hari terapis bertanya kepada pria itu, "Sekarang apa yang Anda inginkan?"

Pria itu menjawab, "Kedamaian. Saya sangat mendambakan ketenangan yang pernah saya alami sebelum mengetahui bahwa istri saya pernah jatuh cinta pada pria lain."

Terapis berkata, "Kalau begitu, sebaiknya Anda secara sadar berjuang untuk menurunkan dan meredam keinginan-keinginan tak realistis yang berkecamuk dalam jiwa Anda."

Mudah-mudahan kisah ini bisa memberi inspirasi penting untuk mewujudnyatakan relasi antarinsan yang baik. Yakni bahwa manusia perlu menurunkan atau meredam berbagai keinginan atau nafsu yang acap kali sedemikian berkecamuk di dalam khazanah jiwanya, demi penghayatan kedamaian dan kebahagiaan yang nyata. Kedamaian dan kebahagiaan bisa terenggut justru oleh ingar-bingar keinginan atau nafsu yang berkecamuk di dalam diri sendiri. (dr. Limas Sutanto, D.S.J., pengamat psikososial dari STFT Widaya Sasana, Malang)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej