|
|
Bulan November 2000
|
|
MEREDAM DENDAM MASA LALU
Sejak enam tahun lalu, seorang pria berusia 48
tahun mengaku tidak bahagia dalam hidup berkeluarga bersama istrinya.
Padahal selama 20 tahun sebelumnya dia menikmati kebahagiaan berumah tangga
sepenuhnya. "Sampai kini pun saya tetap yakin, istri saya adalah wanita
yang baik dan setia. Namun, setiap kali mengingat riwayat percintaan istri
saya dengan pria lain tiga puluh tahun lalu, saya menjadi sangat marah. Ini
sangat menyakitkan. Mengapa saya bukan cinta pertama istri saya."
Setiap kali teringat peristiwa itu, bapak lima anak ini tidak bisa
mengendalikan emosinya yang menggelegak irasional. Dia jadi benci sekali
pada istrinya, yang selama lebih dari dua dasawarsa pernikahan mereka, telah
menunjukkan sikapnya sebagai istri yang amat setia.
Mungkin para Pembaca serta-merta menilai pria ini orang aneh yang tak tahu
diri. Bukankah peristiwa jatuh cinta yang dialami wanita yang kini menjadi
istrinya, telah terjadi lebih dari seperempat abad silam, bahkan pada saat
mereka berdua belum menikah? Bukankah jatuh cinta adalah suatu peristiwa
wajar yang bisa terjadi pada siapa saja? Bukankah si istri sudah membuktikan
betapa dirinya setia mendampingi suami dan mengasuh anak-anak mereka dengan
baik sampai sekarang?
Semua pertanyaan itu bisa muncul untuk menggugat sikap pria itu. Konselor
pun sudah melontarkan deretan pertanyaan serupa dalam berbagai sesi
konseling, kendati dengan cara yang halus, guna membuka kesadaran baru pada
khazanah mental pria itu agar penderitaan psikisnya berkurang. Namun, pria
itu tidak menanggapi semua upaya penyadaran yang telah dilakukan. Justru dia
mengembangkan berbagai rasionalisasi (dalih yang sepintas tampak rasional,
namun sesungguhnya cuma alasan untuk pembenaran diri secara sepihak), untuk
menolak dan "mematahkan" setiap upaya penyadaran.
Beberapa konselor bahkan pernah "terpancing" oleh berbagai
rasionalisasi yang direka pria itu, sehingga mereka berdebat kusir tanpa
menghasilkan solusi apa pun. Padahal perdebatan itu justru melahirkan
pertikaian yang bersifat antiterapeutik (melawan proses penyembuhan).
Namun, pada suatu saat pria malang ini berjumpa dengan seorang terapis yang
sabar dan empatetik. Meski menghadapi berbagai hambatan lantaran resistensi
(perlawanan bawah sadar) dari pria tersebut, toh akhirnya mereka berhasil
mengembangkan relasi terapeutik. Setelah melalui proses terapi yang
dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, sebagian resistensi itu
sedikit demi sedikit bisa teratasi. Sampai pada suatu saat, terkuaklah suatu
kesadaran bahwa ternyata pria itu dikungkung kondisi psikodinamik yang
ditandai adanya desakan berbagai kebutuhan psikologis.
Tiga kebutuhan yang begitu kuat itu adalah keinginan akan penghargaan diri (need
for self-esteem), keinginan akan cinta dan kehangatan emosional (need
for love and affection ), dan keinginan akan rasa aman (need for
security).
Sesungguhnya, ketiga keinginan itu merupakan kebutuhan psikologis biasa,
yang secara alamiah terdapat di dalam diri setiap manusia. Masalahnya, di
dalam diri pria itu keinginan ini sedemikian kuat, dan mendesak sampai
tataran nonrealistis. Mengapa? Ternyata, pada masa kecilnya (usia nol sampai
12 tahun) ia tidak mendapat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu. Padahal pada
umumnya manusia belia membutuhkan pemenuhan ketiga kebutuhan psikologis itu,
demi proses tumbuh kembang kejiwaan dan kepribadian yang wajar.
Malangnya, pria itu berada dalam suatu kondisi
kehidupan masa kanak-kanak yang tidak memungkinkan mendapatkan pemenuhan
ketiga kebutuhan itu sewajarnya dalam kurun waktu yang memadai. Dia
mengalami deprivasi (kekurangan) harga diri, rasa aman, kasih sayang, dan
afeksi yang cukup berat. Maka tanpa disadari kini di dalam jiwanya muncul
suatu mekanisme yang seolah menagih kembali kekurangan yang terjadi pada
masa lampau.
Penagihan kekurangan itu melahirkan berbagai manifestasi kehausan akan harga
diri, rasa aman, dan cinta, serta afeksi. Akibatnya, muncullah berbagai
sikap-laku menuntut secara berlebihan. Ini antara lain terwujud dalam
tuntutan tak masuk akal kepada sang istri supaya jatuh cinta pertama kali
dengan dirinya. Sudah barang tentu tuntutan seperti ini tidak mungkin
terpenuhi. Karena kenyataannya, wanita yang kini telah menjadi istrinya dulu
memang pernah jatuh cinta pada pria lain. Peristiwa itu sudah terjadi, dan
kini mungkin menjadi sekadar kenangan yang tidak banyak berarti buat sang
istri. Buktinya, sejak menikah sampai kini wanita ini menampilkan kesetiaan
yang nyata kepada sang suami.
Pada suatu hari terapis bertanya kepada pria itu, "Sekarang apa yang
Anda inginkan?"
Pria itu menjawab, "Kedamaian. Saya sangat mendambakan ketenangan yang
pernah saya alami sebelum mengetahui bahwa istri saya pernah jatuh cinta
pada pria lain."
Terapis berkata, "Kalau begitu, sebaiknya Anda secara sadar berjuang
untuk menurunkan dan meredam keinginan-keinginan tak realistis yang
berkecamuk dalam jiwa Anda."
Mudah-mudahan kisah ini bisa memberi inspirasi penting untuk mewujudnyatakan
relasi antarinsan yang baik. Yakni bahwa manusia perlu menurunkan atau
meredam berbagai keinginan atau nafsu yang acap kali sedemikian berkecamuk
di dalam khazanah jiwanya, demi penghayatan kedamaian dan kebahagiaan yang
nyata. Kedamaian dan kebahagiaan bisa terenggut justru oleh ingar-bingar
keinginan atau nafsu yang berkecamuk di dalam diri sendiri. (dr. Limas
Sutanto, D.S.J., pengamat psikososial dari STFT Widaya Sasana, Malang) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||