|
|
Bulan November 2000
|
|
Tematis November: Flu Lagi, Flu Lagi! Musim pancaroba, jebres-jebres! Pancaroba lagi, pilek lagi, batuk lagi. Tenggorokan gatal meradang. Badan meriang, kepala pening, hidung mampet. Ringan, tapi bikin bete, menjengkelkan. Hati-hati, jangan sampai berkepanjangan. Begitulah selalu setahun sekali, setidaknya, kita diancam dan didera sakit atau gangguan saluran pernapasan atas (upper respiratory tract) ketika musim atau cuaca berganti. Utamanya pada awal pergantian musim. Lebih-lebih bagi yang kondisi tubuhnya lagi tidak "fit", ancaman itu acap kali makin mudah berubah menjadi serangan yang sulit dielakkan. Jebres-jebres! Kena lagi, Bo! Kalau sudah begitu, orang-orang serumah, rekan sekantor, teman sekelas, karyawan setoko, pada siap-siap menghindar, takut tertular. Flu memang gampang menular. Begitulah sejarahnya. Beda dari yang lain Flu, atau influenza, merupakan penyakit virus yang menyerang alat pernapasan atas dan acap kali datang mendadak (acute). Sebagai penyakit virus, influenza agak lain dari yang lain. Umumnya, penyakit virus hanya menyerang manusia satu kali saja. Kita tahu, cacar atau gabak misalnya, hanya terjadi sekali saja. Sebab, dengan infeksi satu kali sudah timbul kekebalan yang cukup. Tapi influenza berani tampil beda. Kekebalan memang terjadi dengan dibuatnya zat-zat penolak dalam tubuh setelah terjadi serangan. Namun, zat-zat penolak itu tidak dapat bertahan lama. Setelah terkena flu, penderita dapat terjerat lagi 6 - 8 bulan kemudian. Meski demikian, jika terjadi suatu wabah, tidak semua orang akan terserang. Ini karena perbedaan daya tahan tubuh orang per orang. Pada mereka yang lebih kuat (daya tahannya), tentu saja gejala yang timbul tidak mencolok, sebab tubuh mereka cukup membuat zat-zat penolak. Pada penderita, pasukan virus influenza menduduki wilayah saluran pernapasan. Karena itu sangatlah mudah bagi laskar virus itu secara diam-diam membonceng butir-butir air yang keluar bersama batuk, ludah, atau lendir hidung. Semua bahan itu banyak mengusung berkompi-kompi virus flu penyelundup, dan dalam waktu singkat dapat menyebar untuk mencari sasaran tembak baru di kalangan orang-orang yang masih sehat. Maka jelaslah kenapa penyakit flu mudah sekali menular dan mengenai banyak orang. Kalau sepasukan virus sudah berhasil menyusup ke teritorium saluran pernapasan orang lain, dalam waktu 18 - 36 jam kemudian orang yang bersangkutan akan menjadi sakit. Dampak dari serangan virus-virus penyelundup itu ialah gejala, dalam bentuk yang lengkap, berupa demam, batuk, pilek dan bersin, mata berair. Juga rasa pegal-linu di otot dan tulang. Kadang-kadang diramaikan dengan sakit kepala nyut-nyut, diare, atau mual. Pada hari kedua, demam biasanya mencapai puncaknya dan setelah itu menurun tanpa bekas. Biasanya, demam karena flu tidak berlangsung lebih dari lima hari kecuali kalau terjadi komplikasi lain umpamanya radang paru-paru. Dalam tulisannya Influenza Yang Menjengkelkan di salah satu edisi Intisari lalu, dr. Tjiptono Darmadji mengingatkan, tidak semua penderita dengan keluhan demam dan sebagainya itu benar-benar hanya akibat serangan flu. Apalagi kalau demamnya berlangsung lebih dari lima hari terus-menerus. Serangan penyakit tifus boleh dicurigai. Pilek pada penderita influenza biasanya hanya mengeluarkan lendir tidak berwarna. Kalau pilek berlangsung lama dan warna lendir berubah, bisa jadi itu akibat terjadinya peradangan di sekitar hidung. Pada penderita tertentu, terutama anak-anak, terkadang muncul mimisan ketika sedang tinggi panas badannya. Gejala pilek biasanya segera disusul oleh batuk-batuk yang tidak banyak mengeluarkan dahak, rasa tidak enak di tenggorokan, dan terkadang juga muntah sedikit. Semua gejala itu akibat peradangan pada berbagai selaput lendir saluran pernapasan mulai dari bagian atas hingga yang lebih bawah. Tidak perlu antibiotik Influenza, papar dr. Tjiptono, sebenarnya penyakit yang bisa sembuh sendiri, dengan atau tanpa obat asal tubuh penderita mendapat cukup kesempatan untuk memerangi sendiri penyakitnya, dan menang. Sayangnya, tidak semua penderita menang karena sebagian di antara mereka terpaksa mengalami komplikasi-komplikasi yang tidak dinginkan. Misalnya, yang paling sering terjadi peradangan sekunder pada saluran pernapasan dengan akibat bronkitis, radang paru-paru, dan selaput paru-paru. Kalau itu yang terjadi, tentu saja butuh penanganan lain. Sementara pengobatan flu itu sendiri tidak sulit. Penderita cukup diberi obat untuk menurunkan demamnya, menghilangkan nyeri ototnya, mengurangi pileknya, menekan batuknya, dan mengusir nyut-nyut di kepalanya. Obat-obatan itu bisa dibeli bebas di pasaran, atau minta obat dari dokter. Obat untuk membunuh virusnya sampai sekarang belum ditemukan. Tetapi jangan khawatir, karena dengan istirahat yang cukup plus obat-obatan tadi sudah cukup untuk mengusir virus dalam banyak hal. Karena itu, lupakan begadang sampai malam, hentikan kegiatan olahraga untuk sementara, dan jangan bicara banyak kalau sedang terserang. Disebutkan Prof. dr. Iwan Darmansjah, Sp.FK., flu biasanya tidak perlu diobati dengan antibiotik, karena virusnya tidak mempan antibiotik. "Antibiotik hanya kadang-kadang dibutuhkan bila terdapat komplikasi infeksi dengan kuman; dan kejadian ini hanya sekitar 5% dari semua kasus. Ironisnya, menurut statistik, hampir semua penderita yang berobat ke dokter diberi antibiotik, karena mungkin dokter tidak yakin terhadap ilmunya sendiri." Hal itu, tambahnya, menimbulkan masalah besar karena pemakaian antibiotik menjadi sangat berlebihan. Ini bisa menyebabkan kekebalan kuman dan membuat kuman tubuh yang jinak menjadi ganas. Padahal transformasi ini sudah bisa terjadi dalam tiga hari. Akibatnya, infeksi virus justru terkomplikasi dengan kuman, dan flu justru berkepanjangan. Kalau cuma pilek, cukup pilih obat bebas yang mengandung komponen pilek saja. Bila dicampur dengan komponen antihistamin (CTM, misalnya) masih boleh. Bagaimana pun, membeli antibiotik sendiri di pasar tetap tidak dapat dibenarkan. Soalnya, antibiotik digolongkan dalam obat berbahaya, karena harus dikontrol pemakaiannya. Beberapa vitamin, papar dr. Tjiptono, dapat ditambahkan untuk memperbaiki keadaan umum penderita. Dengan begitu proses penyembuhan bisa dipercepat. Makin ganas Penyakit flu bisa begitu "setia" menemani perjalanan hidup kita sampai detik ini karena virusnya dikenal tidak stabil bila ditengok dari sifat genetisnya; ia sering bermutasi akibat pertukaran gen. Sebab itu sering kita dengar munculnya jenis flu-flu "baru" yang sulit sembuh, lebih parah gejalanya, bahkan sampai menelan banyak korban. Lihat saja flu spanyol, flu asia, flu hongkong, flu burung, dan lainnya. Anda mungkin masih ingat, tahun 1918 terjadi wabah flu terhebat sepanjang sejarah umat manusia, yang melanda dunia dengan jumlah korban tidak kira-kira, sekitar 20 juta orang meninggal dunia. Di AS saja 550.000 orang gugur. Kemudian wabah menyebar begitu cepat sampai ke wilayah terpencil di Alaska, Samoa Barat di Pasifik Selatan, terus ke India yang menewaskan jutaan orang. Belum lagi di Eropa. Konon satu-satunya yang luput dari serangan flu saat itu cuma Australia. Entah apa sebabnya. Kenyataan mengenaskan itu membuat manusia penasaran terus mencari penyebab flu spanyol itu. Baru dua belas tahun kemudian, persisnya 1930, penyebab flu mematikan itu dapat dikenali. Ternyata virus itu berasal dari babi sampai dinamakan swine flu. Sumber penyebarannya dipercaya dari sebuah tanah pertanian di daerah Barat-Tengah AS, tempat orang beternak babi di tanah-tanah pertanian keluarga. Diketahui kemudian, semua gen virus flu di dunia mempunyai tempat persinggahan sebelum sampai ke tubuh manusia. Dari tubuh unggas akuatik macam bebek dan burung camar, virus ditularkan ke babi, baru kemudian ke manusia. Virus flu diketahui berasal dari beberapa rumpun myxovirus yang dikategorikan sebagai tipe A, B, dan C. Tipe A merupakan penyebab flu utama, muncul dalam beberapa jenis rumpun, yang secara klinis dapat dibedakan berdasarkan tempat pertama kali ditemukan, laboratorium yang menemukan, serta kapan diperolehnya. Tipe A punya subtipe protein H dan N. Kalau virus A paling sering menyerang manusia, tipe B dan C jarang. Kalaupun menyerang, sifatnya ringan dan tidak mewabah. Walaupun gejala infeksi antara tipe utama dengan yang lain nyaris sama, secara antigen sama sekali berbeda. Maka orang yang kebal terhadap tipe satu tidak berarti kebal terhadap tipe lain. Salah satu subtipe A dikenal sebagai H2N2. Inilah flu asia yang pertama muncul di Asia Timur, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Epidemi ini dipercaya terjadi 2 - 3 tahun sekali. Subtipe lain ada yang disebut H1N1 dan H3N2. Virus flu yang menyebar di Indonesia umumnya virus H3N2. Berat ringannya serangan tergantung tingkat kekebalan seseorang. Sekitar Maret 1997, muncul virus flu tipe lain yakni subtipe H5N1, terkenal sebagai avian flu alias flu burung. Flu ini telah membabat habis sekitar 6.500 ekor unggas di Hongkong. Dua bulan kemudian, flu ganas tiba-tiba menyerang seorang anak laki-laki berusia tiga tahun di Kowloon, Hongkong. Bocah itu akhirnya meninggal. Setelah diteliti, ternyata penyebabnya virus flu burung tipe H5N1 juga. Desember 1997 muncul lagi infeksi flu H5N1 pada manusia, dengan komplikasi berat seperti pneumonia dan ensefalitis (radang selaput otak), yang kalau tidak segera ditangani akan fatal. Keruan saja, pemerintah Hongkong akhirnya memutuskan pemberantasan besar-besaran dengan membunuh semua unggas yang diperjualbelikan di pasaran. Kini yang perlu diwaspadai, apabila terjadi perkawinan antara virus flu burung (atau virus H5N1) dengan virus H3N2 yang memungkinkan lahirnya "supervirus" H5N2. Soalnya, H5 dari flu burung membawa sifat letalitas tinggi, sedangkan N2 mempunyai daya tular yang cepat! Vaksinasi dan topeng kain kasa Usaha pencegahan penyebaran flu ganas sebenarnya bisa dengan vaksinasi. Atas dukungan WHO, kini dikembangkan vaksin virus flu H5N2. Efek sampingan setelah mendapatkan vaksin flu, paling-paling alergi. Itu pun terjadi pada beberapa orang yang alergi terhadap telur. Soalnya, virus yang digunakan dalam vaksin itu dikembangbiakkan dalam telur ayam. Menurut para ahli, vaksin yang diproduksi tahun 1940 sampai pertengahan 1960-an, menimbulkan efek sampingan karena tidak semurni vaksin buatan zaman sekarang. Karena itu vaksin buatan zaman sekarang diharapkan tidak membawa efek sampingan. Efektivitas vaksin sangat tergantung pada tingkat kesamaan antara jenis virus dalam vaksin dengan virus yang sedang menyerang. Jenis vaksin harus ditentukan 9 - 10 bulan sebelum datangnya musim flu. Sulitnya, di negeri tropis seperti Indonesia, flu datang di segala musim, sehingga lebih sulit. Berhubung virus flu terus bermutasi, kalau waktu pemberian vaksinnya tidak tepat, akan mengurangi kemampuan penyerapan antibodi vaksin yang berguna untuk merintangi mutasi virus baru. Akibatnya, efektivitas vaksin berkurang. Efektivitas vaksin juga bervariasi antara satu orang dengan orang lain. Pada orang dewasa muda, efektivitas mencapai 70 - 90%. Sedangkan pada lansia dan mereka dengan penyakit kronis, efektivitas vaksin berkurang, tapi paling tidak akan mengurangi beratnya penderitaan, risiko komplikasi, dan kematian. Penting diingat, antibodi yang diproduksi tubuh dalam merespons vaksin setiap waktu menurun, umumnya satu tahun setelah vaksinasi. Juga mengingat virus subtipe berlainan bisa datang setiap waktu (akibat mutasi gen). Maka disarankan, vaksin diberikan satu kali setiap tahun. Vaksin flu juga bisa diberikan pada wanita hamil pada trisemester kedua atau ketiga masa kehamilan selama musim flu. Kegunaan vaksinasi pada wanita hamil untuk mencegah komplikasi bila terkena flu. Vaksin flu juga diberikan kepada para ibu menyusui. Sayangnya, vaksinasi untuk mencegah serangan flu belum populer di Indonesia. Karena itu, ungkapan mencegah lebih baik daripada mengobati menjadi relevan buat kita. Memang tidak mudah mencegah tertular penyakit flu terutama bila sedang musim flu. Anjuran yang paling mudah tapi sulit dilakukan yaitu sebisa mungkin menjauhi penderita. Kalau bertemu dengan penderita di ruang sempit, usahakan berpaling agar terhindar dari kontaminasi mukosa hidung dan mata penderita. Ketika wabah flu spanyol melanda, orang AS bahkan menutupi hidung dan mulutnya dengan kain kasa. Di San Francisco, kalau istri terkena flu, ia harus mengenakan "topeng kain kasa" meski sedang berhadapan dengan suami sendiri. Sementara si suami juga memakai masker supaya tidak tertulari. Malah polisi Chicago tak segan-segan menangkap siapa saja yang kedapatan bersin atau batuk di muka umum jika lalai menggunakan saputangannya. Kita tidak harus begitu kecuali ada wabah hebat seperti itu. Cukup hindari hadir bersama-sama penderita dalam ruang tertutup seperti dalam lift atau ruang ber-AC. Bila keadaan-keadaan itu tidak bisa dihindari, gunakan obat semprot hidung yang mengandung larutan NaCl-fisiologis. Banyak minum, sedikitnya delapan gelas air putih atau jus buah per hari, dapat membantu mencegah penularan. Vitamin E (200 IU/hari) membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Vitamin C berperan mengurangi penderitaan akibat flu asal tidak melebihi 500 mg per hari. Tak kalah penting, jaga kondisi tubuh agar senantiasa fit dengan olahraga rutin dan menjalankan pola hidup sehat. (*/HK) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||