|
|
Bulan November 2000
|
|
GERHANA
BULAN TERLAMA DI LANGIT JAKARTA
Gerhana Bulan kali ini sebenarnya berlangsung lama, hanya saja saya cuma
bisa melihat buntutnya lantaran begitu kuatnya awan merengkuh Bumi.
Sebagai pencinta astronomi, saya tidak ingin melewatkan fenomena GBT ini.
Apalagi GBT yang akan kami amati itu istimewa lantaran berlangsung selama 1
jam, 47 menit, dan 1 detik. Ini GBT terpanjang selama kurun waktu 140 tahun.
Gerhana serupa terakhir terjadi pada 13 Agustus 1859. Pihak Planetarium
Jakarta pun akan mengamati kejadian langka ini. Di lobi, Widya Sawitar -
staf Planetarium Jakarta - memberikan ceramah singkat mengenai fenomena
gerhana Bulan. Ketika ceramah sedang berlangsung, gerhana Bulan sebenarnya
sudah mulai bisa diamati.
Selama enam jam
Keseluruhan fase GBT diperkirakan berlangsung selama enam jam. Kontak
pertama dimulai ketika Bulan memasuki penumbra pada pukul 17.40 WIB. Pada
saat ini terjadi gerhana Bulan penumbra (GBP). Fase berikutnya, Bulan
memasuki umbra (bayangan Bumi yang paling gelap) secara pelahan sekitar
pukul 18.57.
Pada fase itu kita bisa melihat gerhana Bulan sebagian (GBS). Lalu, yang
paling ditunggu-tunggu adalah saat seluruh badan Bulan berada dalam umbra
Bumi. Pada fase inilah terjadi GBT yang berlangsung dari pukul 20.02 -
21.49. Setelah itu Bulan akan lepas dari dekapan umbra menuju penumbra
kembali. Pukul 24.02 Bulan keluar dari penumbra dan GBT pun berakhir.
Lamanya totalitas pada GBT tahun ini dikarenakan Bulan akan melewati pusat
umbra Bumi. Mampirnya Bulan di daerah ini sangat jarang terjadi. Rendevouz
berikutnya akan terjadi 1.000 tahun lagi. Kita yang berada di Indonesia
sebenarnya beruntung bisa menyaksikan fenomena itu. GBT ini bisa juga
diamati di Cina, India, Jepang, Selandia Baru, dan Australia. Namun sayang,
GBT terpanjang ini tidak banyak dipublikasikan di media massa di Indonesia.
Ketika waktu bergerak menuju pukul 20.00, hati saya mulai miris. GBT
akan segera berlangsung, namun sang Dewi Malam masih tampak malu-malu.
Tadinya saya sempat yakin bisa menjadi saksi mata GBT 16 Juli karena malam
sebelumnya Bulan begitu cerah menyelimuti langit Jakarta. Hujan
rintik-rintik yang tiba-tiba turun makin membuyarkan impian saya. Satu per
satu pengunjung planetarium memutuskan pulang. Tapi, saya dan beberapa teman
bertekad untuk bergadang.
Sambil menunggu langit terbuka, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol.
Saya bahkan sempat menelepon seorang teman di Bogor untuk menanyakan cuaca
di sana. Ternyata sama saja. Bogor pun diguyur hujan. Ternyata ada juga
teman saya yang beruntung. Adi, yang mengadakan pengamatan di Candi
Prambanan, Yogyakarta, sempat menelepon Planetarium Jakarta dan mengabarkan
kalau cuaca di Prambanan cerah. Berita yang membuat saya cemburu buta. Pasti
sekarang dia sedang asyik kencan dengan sang Dewi Malam yang sedang dicumbu
umbra.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. GBT berakhir beberapa menit
lagi. Cuaca masih tidak bersahabat. Saya masih terus berdoa agar diberi
kesempatan menyaksikan GBT walau hanya sekejap. Teriakan seorang teman
mengejutkan saya yang lagi asyik ngobrol, "Hei, bulannya sudah mulai
kelihatan." Aha!
Beberapa detik sebelum GBT berakhir, saya melihat ada bagian awan yang
bergerak agak cepat. Yes! Yes! Bulan purnama muncul
samar-samar. Semakin lama semakin jelas. Dengan eloknya satelit Bumi semata
wayang ini menatap kami yang begitu riang menyambut kedatangannya.
"Kamu-kamu sudah lama menunggu saya, ya?" candanya.
Lucu juga kalau ingat saat itu. Tingkah laku kami persis seperti orang yang
belum pernah melihat Bulan. Dengan cepat saya bidik Bulan dengan keker. Wow!
Bulan seperti sakit mata. Warnanya kemerahan. Menakjubkan. Ini baru namanya
GBT. Untuk mengamati GBT kita tidak memerlukan alat. Cukup dengan mata
telanjang.
Ketika GBT berlangsung, Bulan tidak akan menjadi gelap total melainkan
warnanya menjadi kemerahan atau oranye. Hal ini disebabkan oleh atmosfer
yang menutupi Bumi. Ketika bulan berada di dalam umbra, cahaya matahari
masih dapat mencapai dan meneranginya. Namun, cahaya itu harus melewati
atmosfer Bumi yang menyaring sebagian besar cahaya yang berwarna biru.
Cahaya yang tersisa hanyalah yang berwarna merah atau oranye. Hal ini juga
yang menjelaskan mengapa sunset atau sunrise berwarna oranye
atau kemerahan.
Jadi, jika Bumi tidak mempunyai atmosfer, Bulan akan menjadi gelap total
selama GBT berlangsung. Sedikit berandai-andai, kalau saat ini saya nongkrong
di Bulan, saya akan menyaksikan pemandangan yang eksotik. Planet Bumi akan
terlihat dikelilingi cincin raksasa berwarna merah menyala.
Tidak lebih dari lima detik
Sekitar pukul 22.50, Bulan memasuki penumbra. GBT pun berakhir dan warna
merah yang menyelubungi bulan juga hilang. Begitu cepat berlalu. Saya hanya
bisa menyaksikan gerhana Bulan total tidak lebih dari lima detik saja. Pukul
22.15 saya bisa mengamati GBS. Badan Bulan yang sudah memasuki penumbra
membentuk sabit, sedangkan yang berada dalam perangkap umbra masih gelap.
Aneh. Bulan sabit kala purnama. Saya bersyukur bisa menyaksikan GBS lebih
lama walaupun kerap kali diganggu awan yang lalu-lalang di depan Bulan.
Bulan yang berwarna gelap semakin mengecil. Bulan purnama sudah menunjukkan
wajah aslinya. Sekitar pukul 22.54 Bulan pun akhirnya lepas dari cengkeraman
umbra dan jatuh ke dalam pelukan penumbra. Selamat datang kembali Bulan
purnama. Kali ini kami hanya bisa menyaksikan gerhana Bulan penumbra.
Berbeda dengan GBT atau GBS, GBP tidak begitu istimewa karena tidak terjadi
perubahan yang jelas. Namun, kalau diperhatikan secara saksama, warna Bulan
tidak seterang ketika tidak terjadi gerhana. Warnanya agak kecoklatan.
Sambil menunggu keseluruhan fase gerhana Bulan berakhir, saya mencoba
mengamati wajah sang Dewi Malam dengan keker. Tampak jelas dua buah kawah
raksasa, yaitu Copernicus dan Kepler yang berdiameter 91 km dan 32 km. Kedua
kawah ini bisa juga dilihat dengan mata telanjang. Selain itu saya juga
mengamati daerah yang dulunya disangka lautan yang disebut maria atau
mare.
Daerah ini sebenarnya daerah yang tidak terlalu banyak terkena meteorit. Mare
juga tempat pendaratan Apollo, seperti Mare Tranquallitatis tempat
pendaratan Apollo 11. Dengan teleskop wajah Bulan yang bopeng-bopeng
terlihat amat jelas.
Kami menghentikan pengamatan sekitar pukul 24.30. Beberapa teman saya tidak
kuasa menahan hukum alam. Langsung tertidur. Saya dan beberapa teman yang
lain sempat ngobrol panjang lebar tentang astronomi dengan salah satu
staf Planetarium Jakarta.
Sayup-sayup azan terdengar. Setelah salat subuh, kami meninggalkan
Planetarium. Kendati ada sedikit rasa kecewa, saya bersyukur masih bisa
menyaksikan fenomena GBT walaupun hanya sekejap. (Suci A. Purwanti,
anggota Himpunan Astronomi Amatir Jakarta) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||