|
|
Bulan November 2000
|
|
Tiger Woods, Legenda dari Padang Golf
Banyak rekor kejuaraan baru diciptakannya. Tapi Tiger Woods hanya punya
satu obsesi, "Saya tidak ingin menjadi pe-golf berkulit hitam terbaik.
Saya ingin menjadi pe-golf terbaik."
Momen bersejarah yang menunjukkan ketertarikannya pada permainan golf
terjadi saat Tiger baru berusia 6 bulan. Di usia 10 bulan bayi kelahiran
Long Beach, Kalifornia, 30 Desember 1975, itu belajar mengayunkan club
yang dipotong pendek. Lucunya, saat itu ia mengayun tongkat justru dengan
tangan kiri.
Buah seperti pohon
Diakui, prestasi dunia Tiger tidak bisa lepas dari peran ayahnya, Earl
Woods. Bukan tanpa alasan Earl memperkenalkan golf pada Eldrick
"Tiger" Woods. Earl selalu merasa terlambat memulai bermain golf -
yakni pada usia 40-an, beberapa bulan menjelang kelahiran Tiger. Meski
kemudian menjadi pemain golf yang baik, ia merasa kehilangan kesempatan
untuk menjadi atlet golf profesional.
"Saya dari keluarga kulit hitam, sedangkan golf dimainkan di country
club - habis sudah," ujarnya. Maka, "Saya bertekad akan
memberikan kesempatan bermain golf di usia sangat dini pada anak saya."
Ia melihat, selama ini di AS anak kulit hitam tumbuh besar bersama basket,
sepak bola, atau baseball sejak mulai bisa berjalan. Lalu permainan
itu pun menjadi bagian hidup mereka.
"Ini berbeda dengan Tiger. Saya ingin memperkenalkan suatu permainan
untuk seumur hidupnya." Sejak usia 10 bulan itulah, sang club
pendek jadi sahabat dan selalu dibawa ke mana pun Tiger pergi.
Seaneh proses perkenalannya dengan dunia golf, demikian pula nama
"Tiger"-nya. Semua bermula saat Earl, kini pensiunan letkol Baret
Hijau AS, bertugas dalam Perang Vietnam. Dalam peperangan nyawanya beberapa
kali diselamatkan oleh Nguyen "Tiger" Phong, salah seorang teman
perangnya dari Vietnam Selatan.
Earl berharap, suatu ketika teman lamanya itu akan mendengar nama Tiger plus
Woods, dan segera tahu siapa pemiliknya.
Tak berhenti di situ, di Bangkok, Thailand, pula Earl bersua Kultida. Tahun
1969 mereka menikah. Baru lima tahun kemudian mereka mendapatkan anak
"macan" Tiger Woods, melengkapi dua anak laki-laki dan satu anak
perempuan dari perkawinan pertama Earl.
Memang anak "macan"
Beruntunglah Tiger yang mewarisi kemampuan atletik ayahnya, mantan catcher
baseball dan keturunan Afrika-Amerika pertama yang bermain di Kansas
State University.
Ini terbukti saat di usia 2 tahun ia melakukan kontes putting melawan
Bob Hope, aktor profesional yang mencintai golf, dalam "Mike Douglas
Show". Hasilnya, ia menang! Sungguh keajaiban.
Sejak itu ia dan ayahnya menjadi selebriti. Di usia belum lagi 5 tahun ia
tampil dalam "That's Incredible". Beberapa saat kemudian ia muncul
dalam Golf Digest. Di masa itu tanda tangannya sudah mulai dikejar.
Lucunya, karena belum bisa menulis, ia mencoretkan begitu saja namanya.
Itu sah-sah saja menimpanya, karena di usia 3 tahun, Tiger sudah mencetak
skor 48 untuk 9 hole (umumnya 36) di US Navy Golf Course. Dilanjutkan
dengan turnamen pertamanya di usia 4 tahun.
Namanya kian melambung tinggi.
Pada usia 11 tahun Tiger menjadi yang tak terkalahkan dalam lebih dari 30
turnamen di Kalifornia Selatan. Untungnya, prestasi itu tidak menghambat
perjalanan akademisnya. Di kelas 7 (setara SLTP), Tiger meraih IP 3,86. Ini
menunjukkan Tiger bukan hanya berbakat di bidang olahraga, tapi juga cerdas
di sekolah.
Ia memang pelajar yang tekun, "Saya tidak pernah memerintahkan untuk
berlatih, juga tak pernah menyuruhnya belajar. Ia sudah melakukannya
sendiri," aku Earl.
Namun, sejalan dengan angan-angannya, Earl terus berjuang agar Tiger menjadi
pemain terbaik. Setiap usai pertandingan, ia memberi tahu mana yang benar
dan yang salah. Tiger mendengarkan dan merekamnya, sehingga bisa terus
belajar sampai menjelang tidur.
Di usia 13 tahun, seorang dokter menghipnotis Tiger untuk membantunya
berkonsentrasi dan mengalangi semua gangguan selama pelajaran atau
pertandingan berlangsung. Artinya, itu termasuk perintah berisik ayahnya.
"Kadang saya kecewa karena kata-kata saya di lapangan tidak akan
terdengar. Tapi, yah, saya tahu itu demi kebaikannya," tutur Earl yang
bagaimanapun tidak ingin Tiger kalah mental.
Kemampuan mengatasi gangguan dari siapa pun saat bertanding itu pun menjadi
kelebihannya. "Aku tak berani mengganggu, bila Tiger sudah mau
melakukan sesuatu, soal apa pun," ujar ayahnya.
Di luar semua latihan itu, Tiger mengaku ia menjalani masa kanak-kanak yang
normal.
"Saya melakukan semua hal sama seperti anak-anak lain. Belajar,
jalan-jalan ke mal, kecanduan nonton program gulat, musik rap, dan The
Simpsons di TV. Saya pernah punya masalah, tapi bisa segera
mengatasinya. Saya sayang dan patuh pada orang tua. Bedanya cuma, setiap
saat saya bisa memasukkan bola kecil ini ke dalam lubang dengan lebih mudah
dibandingkan orang lain," tuturnya.
Salah satu masalah besarnya adalah, kesulitan bicara di usia 6 tahun. Untuk
itu ia harus mengikuti pelajaran khusus selama 2 tahun untuk memperbaiki
ucapannya. Akibatnya, sampai kini ia kesulitan berbicara dalam bahasa asing
- meski ia bisa membaca tulisan dalam bahasa Spanyol, dan memahami bahasa
Thai.
Mengukir sejarah
Prestasinya datang susul-menyusul. Di usia 8 tahun, ia memenangkan kelompok
Ten-and-under dari Junior World Golf Championship. Tujuh tahun kemudian ia
pemain termuda yang memenangkan US Junior Amateur Championship, sekaligus
juara yang pertama dari keturunan Afrika-Amerika.
"Saya mengatakan padanya, 'Nak, kamu melakukan sesuatu yang tidak
pernah dilakukan para keturunan kulit hitam di AS, untuk selamanya kamu akan
menjadi sejarah'," tutur Earl bangga setelah kemenangan Tiger yang
bersejarah itu.
Tiger menyambung dengan dua kali menyabet kemenangan. Alhasil dialah orang
pertama yang tiga kali berturut-turut memenangkan Junior Amateur AS. Tiger
yang tidak pernah diperhitungkan di setiap pertandingan, mulai membangun
sebuah reputasi membanggakan.
Untuk kelompok umurnya dalam Junior World Golf Championship Tiger enam kali
menang, jauh lebih banyak ketimbang catatan sejarah para pegolf yunior. Ia
bermain dengan pemain hebat seperti Jack Nicklaus, Greg Norman, dan Sam
Snead.
Tahun 1990, saat Tiger baru 14 tahun, ia bermain dalam turnamen di Insurance
Golf Classic, untuk amatir dan profesional di Forth Worth, Texas. Ia
mengalahkan 18 dari 21 peserta profesional.
Apa komentar salah satu profesional setelah turnamen? "Saya ingin dapat
bermain seperti itu di usia 14. Yah, paling tidak mestinya aku sudah bisa
bermain seperti itu di usia 27."
Pro atau amatir
Tiger mencicipi kesempatan hebat saat di Western High School. Tahun 1992 ia
pertama kali bermain di turnamen Professional Golfers’ Association (PGA),
Nissan Los Angeles Open. Ia salah satu pemain termuda yang pernah
berpartisipasi di event PGA. Meski gagal memenuhi kualifisikasi, ia
tetap memberi kesan mendalam pada para pemain pro yang lebih tua.
US Amateur Golf Championship adalah turnamen golf tertua di AS. Sebelum 1994
tak tercatat ada juara dari keturunan Afrika Amerika. Nama Tiger Woods-lah
yang pertama kali muncul. Ia juga juara termuda karena baru berusia 18
tahun, setahun lebih muda dari pemain legendaris Jack Nicklaus saat
memenangkan gelar yang sama.
Saat itu Tiger mengalahkan 156 pemain golf amatir pria terbaik di negara
itu. Dengan kemenangan itu Tiger menjadi orang pertama yang merebut dua
gelar sekaligus US Junior Amateur dan US Amateur. Malah selama dua tahun
berikutnya ia berhasil mempertahankan gelar itu, sehingga tiga kali
berturut-turut ia memegang juara US Amateur.
Di tahun 1994 pula Tiger dan timnya mengalahkan tim gabungan
Inggris-Irlandia hingga berhasil meraih gelar World Amateur. Siapa sang
bintang lapangan dalam turnamen yang diadakan di Prancis? Lagi-lagi, Tiger.
Tak kaget bila koran Prancis menjulukinya "Tiger Le Terreur"
alias Tiger sang Penteror.
Sudah barang tentu banyak college dan universitas ingin merekrutnya
untuk bermain golf mewakili tempat kuliahnya. Akhirnya ia memutuskan
"mendarat" di Stanford University.
Alasannya, "Di Stanford aku tidak menjadi selebriti," demikian
Tiger. "Untuk bisa diterima di sini, setiap orang adalah istimewa. Jadi
semua bukan siapa-siapa. Itu sebabnya aku suka tempat ini."
Tiger memenangkan dua turnamen untuk Stanford tahun 1995 dan menjadi juara
kedua sebanyak tiga kali. Para pakar golf memasukkan namanya dalam tim
All-American. Ia mengakhiri satu musim pertandingan sebagai pemain terbaik
tingkat college.
Tiger berniat menuntaskan empat tahunnya di Stanford, tapi para pakar ragu,
dan menduganya akan segera beralih ke profesional.
Tapi ibunya menyanggah. Menurut dia, turnamen pro dapat menunggu.
"Untuk apa uang baginya?" Tida balik bertanya. "Jika ia
menjadi pro, maka masa mudanya akan lenyap begitu saja."
Tiger, seperti bisa diduga, setuju dengan sang ibu. "Uang tidak
membuatku bahagia. Bila menolak masuk dunia pro, aku memang gagal di bidang
yang memang ingin kucapai. Tapi kalau benar-benar masuk dunia pro, makin
besar tekanan untuk harus bermain lebih baik. Aku ingin menyelesaikan
belajar dulu di Stanford sambil meningkatkan diri."
Memang benar. Tiger terus menorehkan rekor tahun 1995. Ia berhasil
mempertahankan gelar juara Amatir AS. Kemenangan itu meloloskannya ikut
bermain dalam turnamen Masters yang prestisius di Augusta (Georgia) National
Golf Club tahun 1995.
Bintang ajaib itu terus bersinar tahun 1996. Ia mendominasi Stanford, dengan
memenangkan 9 dari 13 turnamen, termasuk National Collegiate Athletic
Association (NCAA). Tiger pun merebut award Fred Haskins dan Jack
Nicklaus College Player of the Year. Ia memang pe-golf dunia paling dinamis
dan berbakat.
Semangat kaizen
Dulu ia memilih Stanford, tapi? Memang, akhirnya, ia memutuskan terjun ke
dunia golf profesional pada 26 Agustus 1996, dalam Las Vegas Invitational.
Ia "diganjar" AS $ 297.000 dalam turnamen single itu.
Segera saja mengalir tawaran kontrak. Di antaranya ia menandatangani kontrak
senilai AS $ 40 juta dengan Nike untuk kontrak selama 5 tahun, demikian pula
beberapa perusahaan lain.
Penggemarnya mulai berdatangan untuk menonton.
Idola Tiger, Jack Nicklaus pun percaya bintang baru itu akan jadi favorit.
"Ia bisa disebut pe-golf sejati, dari antara semua pe-golf yang
kuketahui. Tapi aku tak tahu apakah ia sudah siap jadi pemenang atau tidak.
Kalau tidak, pasti ada yang salah," kata Nicklaus.
Selama putaran Masters tahun 1997, tebakan Nicklaus tepat. Woods menjadi
keturunan Afrika-Amerika pertama dan pemain termuda pemenang Masters dan
kejuaraan utama lainnya.
Namun Tiger belum puas. Tahun 1996, tak lama setelah masuk dunia Pro, Tiger
mengambil keputusan berani untuk mengubah style ayunannya.
Sejarah mencatat, usaha macam itu sering kali justru tidak menguntungkan.
Beberapa pe-golf hebat - misalnya Ian Baker-Finch, Seve Ballesteros, Chip
Beck - mengubah ayunan mereka. Hasilnya? Mereka tak pernah bisa kembali ke
masa kejayaannya.
Namun, Tiger adalah Tiger. Ia mau melakukan apa pun, asalkan bisa melebihi
prestasi Jack Nicklaus. Yang istimewa, Tiger tak kenal lelah untuk
melakukan, yang disebut orang Jepang sebagai kaizen. Perbaikan
terus-menerus.
Tak hanya Tiger, sahabatnya, yakni Michael Jordan, pun beretos serupa. Tak
peduli seberapa tinggi pujian orang, Michael memberi wejangan pada Tiger,
"Terus tingkatkan permainanmu."
Seketika mendengar telepon Tiger setelah turnamen Masters 1997 tentang
rencananya itu, coach-nya, Butch Harmon yakin sang anak didik bisa
melakukannya.
Begitu pun Harmon tetap khawatir. Menurut pengalamannya, usaha itu tidak
mungkin dicapai hanya dalam semalam. Perlu berbulan-bulan untuk
mewujudkannya. Selama itu, mungkin saja prestasinya di berbagai turnamen
memburuk, meski dalam jangka panjang ia yakin akan meningkat.
Mereka berdua tahu, kondisi buruk itu akan memancing komentar negatif, baik
dari pengamat maupun pesaing yang iri dengan prestasi Tiger.
Teapi Tiger tidak peduli!
Ia dan Harmon merancang program Kaizen. Beratus-ratus kali mereka berlatih
memukul bola, merekam, lalu memutar ulang rekaman ayunan pukulannya,
mengulang-ulang kedua hal itu. Demikian seterusnya.
Tak sedikit pula waktu dihabiskannya untuk menonton rekaman video para
pemain dunia dalam turnamen lama. Tiger memang bekerja keras untuk membangun
kekuatan dan akurasi pukulan.
Apa sih yang dicarinya? Ia ingin menemukan ayunan yang sedemikian efisien,
sehingga pukulannya bisa melampaui jarak yang lebih jauh. Namun tujuan
utamanya, mencari cara untuk lebih baik dalam mengontrol bola.
Ternyata, memang tidak mudah.
Selama 19 bulan antara Juli 1997 - Februari 1999 Tiger hanya memenangkan
satu turnamen. Ia pun frustrasi dan sering marah-marah. Semua jadi sasaran
kemarahannya - permukaan lapangan golf, wartawan, tuntutan penggemarnya, dan
sponsor.
Tiap kali kalah, ia selalu mengatakan, "Sebelum awal 1997 saya memang
dianggap pe-golf yang lebih baik. Namun, menurut saya, menang tidak selalu
dapat dijadikan barometer."
Untunglah keadaan itu tak menyeretnya lebih jauh. Ia sadar mulai keluar dari
lorong gelap penuh percobaan itu pada Mei 1999 saat bermain di Isleworth,
Orlando, Florida. Saat itu ia sedang mempersiapkan diri untuk Byron Nelson
Classic di dekat Dallas.
Tiba-tiba, pada salah satu ayunan ia merasakan - untuk pertama kalinya dalam
setahun - melakukan sesuatu tepat seperti yang ingin dicapai. Gerakan itu
begitu alamiah dan ringan, pukulannya pun mantap. Bola melambung tinggi dan
lurus.
Kegembiraannya meledak. Ia mengulang, beberapa kali.
Kesabarannya mulai berbuah. Beberapa saat kemudian, bola-bola mulai
melambung tinggi dan lurus. Ia mencoba melakukan dengan berbagai tongkat
pemukul, hasilnya selalu semenakjubkan yang pertama.
Ia berlari, menelpon Harmon, "Kurasa, aku sudah kembali!" katanya
singkat.
Dalam arahan Byron ia bertanding mantap dan percaya diri. Kemenangan pun
tergenggam.
Ketekunannya membuahkan sejumlah kemenangan. Sepuluh dari 14 pertandingan
selama tahun 1999, dan 8 kemenangan turnamen PGA di tahun itu, menjadi rekor
menakjubkan setelah Johny Miller tahun 1974. Tiger memenangkan 6 turnamen
PGA berturutan tahun 1999 dan awal tahun 2000. Nicklaus sendiri belum pernah
menang lebih dari 7 kali dalam setahun dan tidak lebih dari 3 kali
berturutan.
Dengan kemenangan di Inggris Terbuka Juli 2000, Tiger memantapkan karier
Grand Slam dari 4 turnamen utama golf profesional, prestasi yang bisa diraih
hanya oleh empat orang sebelumnya: Gene Sarazen, Ben Hogan, Gary Player, dan
Jack Nicklaus. Tapi ia mencapainya di usia 24 tahun, 2 tahun lebih muda dari
usia Nicklaus saat menang dulu.
Hari Minggu, kaus merah
Kini Tiger benar-benar telah menjadi pesaing yang sulit dihadapi para
pe-golf profesional lain. Meski baginya, yang terutama selalu menjadi lebih
baik,
"Aku, dan mungkin banyak orang lain, bermimpi menjadi juara Masters.
Dan, aku berhasil," katanya sambil menunjuk jaket hijau
"simbol" juara Masters.
Tak hanya bagi dirinya, Tiger mengaku, "Kemenangan itu juga wujud
impian beberapa orang." Disebutnya nama Lee Elder, pegolf perintis
keturunan Afrika Amerika yang bermain dalam turnamen Master 22 tahun
sebelumnya, Charles Sifford, dan Ted Rhodes.
Yang pasti, kebahagiaan kemenangan itu selalu ia bagi dengan orang tua.
Kemenangan itu menjadi klimaks emosional atas suatu misi yang mulai dibangun
Tiger sejak belum lagi bisa berjalan.
Senyum lebar lepas khasnya saat mengenakan jaket hijau mengungkapkan hal
yang sama saat ia memeluk erat ayahnya, orang pertama yang memperkenalkan
golf. Matanya memejam erat - seakan menahan tumpahnya air mata. Lalu ia
ganti memeluk Tida - ibunya, suatu ujud ikatan hangat kasih sayang yang cuma
ada antara ibu-anak.
"Yang terpikir setiap kali saya memeluk ayah dan ibu setelah turnamen
adalah: saya sudah memenuhi keinginanku. Berbagi dengan mereka adalah
sesuatu yang istimewa."
Cara Tiger, bagi banyak orang dianggap unik. Kadang prestasi dan kemampuan
Tiger membuat orang lupa, betapa ia sesungguhnya masih amat muda.
Demikian dekatnya ia dengan ibu. Bahkan kaus merah dipakai karena anjuran
ibunya, yang percaya perbintangan. Maka ia pun tampak memakai kaus merah
saat menjadi orang hitam pertama yang memenangkan Masters Golf Tournament
yang prestisius tahun 1997.
Tida yakin warna merah adalah warna keberuntungan, warna paling kuat untuk
anaknya.
Tiger pun berkeyakinan serupa. Jadi jangan kaget bila ia selalu mengenakan
kaus merah di hari Minggu.
Jadi akuntan
Bagusnya Tiger tidak begitu saja meraup jasa kemenangan itu sebagai melulu
berkat kerja kerasnya. Selain peran orang tuanya, ia tidak menutup mata
terhadap bantuan coach dan caddie-nya, yakni Butch Harmon dan
Mike "Fluffy" Cowan.
Khusus dengan Fluf, Tiger mengakui, "Hubungan kami lebih seperti kawan
akrab yang sedang bermain bersama."
Tanpa banyak bicara, Fluff sudah tahu tongkat mana yang dibutuhkan Tiger.
Baginya tuntutan terhadap seorang caddie tidaklah enteng.
"Saya harus tahu kondisi lapangan, arah angin, dan sasaran. Peletakan pin
secara tepat di kontur lapangan golf. Juga memonitor semua elemen
manusia," tutur Fluff yang berpengalaman menjadi caddie beberapa
pe-golf dunia.
Kedekatan hubungan mereka ditunjukkan dengan, "Melawannya, bila saya
kurang yakin dengan pilihan Tiger, saya tidak sungkan melawannya," aku
Fluff. Selanjutnya, Tiger pun tidak keberatan dengan nasihatnya.
Ini dibenarkan Tiger, "Mike tidak takut menyuarakan opininya. Ada
orang-orang yang Yes-men belaka. Mereka hanya mau mengatakan apa yang
diinginkan sang pemain. Mike tidak begitu. Tidak banyak caddie yang
seperti itu. Itu sebabnya pula saya salut dan hormat padanya."
Tak hanya terhadap timnya, di kalangan pe-golf Tiger dikenal berjiwa besar.
Ia tidak sungkan mengacungkan jempol bila ada peserta yang melakukan ayunan
bagus.
Jiwa besar itu yang membuatnya merasa "berutang" terhadap diri
sendiri serta orang tuanya, karena harus keluar lepas dari Stanford. Padahal
ia menyukai dunia college. "Stanford seperti utopia. Bukan dunia
nyata, itu sebabnya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini."
Untuk itu, konon kini ia sedang menjajaki kemungkinan program belajar on-line
dari University of California. Rasanya dengan sistem belajar seperti itu
mungkin saja bagi Tiger untuk menyelesaikan sekolah formal, karena ia
dikenal sebagai pelajar dengan nilai "A" untuk mata pelajaran
favoritnya, matematika. Bahkan, ia pernah mengaku, kalau tidak menjadi
pe-golf, ia akan menjadi akuntan.
"Pahlawan" minoritas
Kini di lingkungan tempat tinggalnya di Isleworth, Florida, ia aktif
mempromosikan golf. Maka pria pengoleksi koin, pencinta musik dan latihan
angkat beban untuk meningkatkan kekuatan ayunan itu mendirikan yayasan
dengan namanya.
Apalagi ada yang memandangnya sebagai sumber inspirasi bagi kaum muda
minoritas di AS, keturunan Afrika-Amerika dan Asia. "Aku ingin membantu
lebih banyak kaum minoritas untuk lebih muncul dalam permainan ini. Mungkin
itu yang bisa kulakukan, yang berdampak jauh."
Seperti Michael Jordan, Tiger bukan hanya mendominasi golf, tapi juga
mengubah cara memainkannya - cara yang akan ditiru generasi berikutnya.
"Sekarang siapa saja bisa bermain golf," tutur Tiger, meski hal
itu barangkali belum tepat benar, kalau mengingat kondisi di Indonesia. Ia
berharap, yayasannya akan berhasil menyediakan pendidikan dan perlengkapan
bagi anak kurang mampu, dan golf bisa menampung "atlet alamiah
berbakat", termasuk mereka yang bertubuh besar dan kuat dari kalangan
kulit hitam, hispanik, dan Asia.
"Bayangkan jika Michael Jordan dengan ukuran besar dan kekuatan tubuh
serta koordinasi mata yang hebat itu bermain golf sejak dini?"
tanyanya.
Di AS, memang masih terasa adanya "diskriminasi" di bidang olah
raga, dalam arti ada permainan tertentu yang hanya bisa dimainkan oleh
kelompok tertentu. Itu dirasakan ayahnya, juga dialami oleh Tiger. Meski
soal diskriminasi sesungguhnya dirasakan Tiger sejak awal kehidupannya.
Misalkan, di hari pertama masuk TK, pelajar kulit putih mengikatnya di pohon
dan "menghajarnya".
Pria yang punya hobi bersepeda menyusuri pantai, basket, dan memancing itu
bahkan pernah mendapat ancaman pembunuhan menjelang tampil di sebuah
turnamen. Yang lucu, di semester pertama di Stanford, Tiger memenangkan
turnamen di country club, yang baru beberapa saat sebelumnya tidak
mengizinkan keturunan kulit hitam menjadi anggota.
Rasialisme, jelas bagi Tiger bukanlah hal yang menguntungkan. Kebenaran yang
ia anut adalah setiap orang harus membangun identitas bukan berdasarkan ras
yang dibawa sejak lahir, melainkan pada perannya sebagai manusia.
Di mata Michael Jordan, pemain profesional bola basket yang juga
mengidolakan Tiger, "Saya kagum atas semua yang telah ia lakukan,
karena selama ini sekian lama kaum minoritas tidak bisa memainkannya -
artinya untuk bisa berhasil bebannya lebih berat, karena harus mengatasi
pula hambatan rasialisme."
Lalu mengapa Tiger menolak disebut kulit hitam?
"Saya adalah Caublinasian," seperti yang dikatakannya pada
pewawancara berkulit gelap juga, Oprah Winfrey. "Artinya adalah
Caucasian-black-indian-asian."
Memang itulah yang sebenarnya. Tiger berayah Earl Woods yang memiliki darah
setengah hitam, seperempat Indian Amerika, dan seperempat putih. Ibunya,
Kultida, orang Thailand - tepatnya setengah Thailand - setengah Cina.
Maka apa pun gelar yang disabetnya, Player of the Year tahun 1990 versi Golf
Digest, Sportsman of the Year tahun 1996 versi Sports Illustrated,
Player of the Year versi PGA Tour di awal Desember 1999, Male Athlete of The
Year versi Associated Press tahun ..., patut dihargai.
"Ia bukan saja berusaha menjadi baik, tapi sudah sekian lama menjadi
yang terbaik," komentar pe-golf profesional Davis Lowe III sambil
menambahkan bahwa Tiger sudah sering membuat rekor baru, dan belum
menunjukkan tanda akan menghentikan prestasinya.
Pendapat itu didukung oleh Harmon yang menjadi coach sejak Tiger
berusia 17 tahun,
"Ia baru menggunakan 75 persen dari kemampuannya. Sisanya, adalah
bagian yang paling ’menakutkan’."
Kini dunia telah mengenal pe-golf muda yang sering dinilai, "Cuma
anak-anak di antara orang tua, namun mengajari para orang tua sesuatu."
Hampir seperempat abad usianya, namanya bahkan diposisikan lebih tinggi
ketimbang dua raksasa basket Michael Jordan dan Shaq O’ Neal.
Malah kemenangan di turnamen Masters telah mengangkat namanya sedemikian
rupa sehingga tak seorang atlet, bahkan Muhammad Ali, bisa menyamainya.
Daya tariknya di dunia padang golf memang bukan main-main. Orang yang tak
tahu apa-apa tentang golf, yang tak peduli tentang olahraga, pun sampai
menyempatkan diri menonton saat Tiger berlaga. Bulan silam, 28 juta warga
Amerika, meningkat 32% dari tahun sebelumnya, menonton Tiger dalam British
Open.
Anak-anak yang dulu berangan-angan, "Ingin menjadi Mike!" berubah
haluan, "Ingin Jadi Tiger!"
Tiger mengaku jujur, seperti ajaran Earl untuk selalu menjawab setiap
pertanyaan dengan jujur, "Selama roda kehidupan masih berjalan, semua
keinginanku mungkin saja terjadi. Yang pasti, aku tak ingin hanya menjadi
pe-golf berkulit hitam terbaik, tetapi pe-golf terbaik, di suatu masa."
|
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||