|
|
Bulan November 2000
|
|
SEBUTAN MUSIK Akibat memang bukan berakar pada lahan budaya bangsa sendiri, maka banyak istilah musik asal budaya Barat di Indonesia digunakan secara keliru. Misalnya, sebutan jenis musik Klasik sebenarnya kurang benar, karena Klasik sama halnya dengan Renaisans, Barok, Romantik, bermakna suatu masa, epoch atau era - bukan jenis. Istilah Musik Seriosa lebih relevan, sebab eksplisit menyatakan suatu jenis, namun sayang, banyak yang cenderung membatasinya pada karya seni-suara belaka. Tanpa mengurangi rasa hormat pada para mahaseniman seperti Gesang, Maladi, Ismail Marzuki, Iskandar, atau Riyanto, perlu disadari bahwa sebenarnya para beliau itu lebih benar disebut penggubah lagu, ketimbang komponis, karena gerak kreativitas memang lebih terfokus pada menciptakan melodi lagu, tanpa dilengkapi komposisi harmoni, instrumentasi, dinamika, dan lain-lain elemen-elemen musik secara baku. Akibat terkesan berwibawa gengsi, maka paduan berbagai alat musik sering di-hantam-kromo disebut sebagai Orkes Simfoni, meski yang tampil "hanya" Orkes Alat Musik Gesek, atau Tiup melulu, bahkan sering dalam kondisi tidak lengkap. Istilah Simfoni juga mengalami inflasi, karena praktis semua karya musik "klasik" dielu-elukan dengan sebutan suatu karya musik yang memiliki bentuk struktur dan karakteristik khas tersendiri itu. Sebutan salah satu alat-musik key-board sebagai piano juga sebenarnya keliru, atau minimal kurang lengkap. Nama yang asli adalah pianoforte, berkat alat-musik yang berkembang dari klavikord itu berdaya-tampil suara lembut (piano) sampai keras (forte) lebih signifikan ketimbang para pendahulunya. Sebutan terpenggal menjadi piano saja jelas melecehkan daya pianoforte yang justru dibanggakan itu. Akibat memang sama-sama memiliki perlengkapan peralatan key-board maka alat-musik pianoforte sering dianggap sama saja dengan organ-elektronik, orgel, cembalo, harpsichord, virginal, klavikord, bahkan akordeon. Dipandang dari aspek mekanisme penggeraknya, memang penyamaan itu absah saja, namun sebenarnya teknologi sumber-bunyinya saling beda. Akibat teknik sumber-bunyinya, pianoforte lebih layak disebut alat musik perkusi, harpsichord mengandung teknik gitar yang notabene alat-musik petik, apalagi organ-elektronik yang berkembang dari orgel yang sama sekali tidak berdawai, adalah alat musik tiup sama halnya dengan akordeon yang sekeluarga dengan harmonika-mulut itu. Nama-nama alat-musik gesek juga simpang-siur. Musikolog Suka Hardjana yang kritis itu menyadarkan kita semua bahwa nama biola keliru, lebih benar disebut biolin yang lebih dekat dengan kata violin. Sementara biola yang jelas berasal dari viola, adalah sebutan benar bagi yang keliru: biola-alto. Senasib dengan pemenggalan nama pianoforte, nama lengkap alat-musik gesek yang telanjur disebut sebagai cello, sebenarnya violoncello. Karena kata cello dalam bahasa aslinya, Italia, sekadar suatu kata imbuhan fungsi diminuitif belaka, seperti kata chen dalam bahasa Jerman, atau tje dalam bahasa Belanda. Jangan sampai tersesat akibat materi bahan alat-musik seruling bisa terbuat dari plastik bahkan logam, karena seruling tetap ala-musik-tiup-kayu, bukan alat-musik-logam seperti terompet, trombon, atau horn yang sering keliru disebut French-Horn, padahal sama sekali tidak ada urusan dengan bangsa atau negara Prancis, mirip kasus Oboe da caccia (caccia = berburu) yang mungkin akibat orang Inggris gemar berburu lalu dijuluki English-Horn, padahal asal-usulnya bukan Made in England bahkan sama sekali bukan Horn itu! |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||