|
|
Bulan November 2000
|
|
Kursk, Tragedi Gara-gara Arogansi
Kapal selam nuklir berisiko tinggi mengalami
kecelakaan. Tetapi para pembesar sipil dan militer Rusia menganggapnya
enteng.
Arogansi pembesar
"Menyimak kejadian itu, kita teringat pada 'musibah' yang menimpa Ir.
Lewon Abramov," tulis Bettina Sengling dalam Stern 24 Agustus
lalu. "Perwira mesin di kapal selam nuklir Angkatan Laut Rusia itu pada
musim semi tahun 1995 melaporkan, reaktor nuklir kapal selamnya agak rusak.
Ia mengusulkan untuk membatalkan keberangkatan kapal yang akan meninggalkan
Pelabuhan Sapadnaya Liza, agar reaktor dapat diperbaiki. Tetapi Markas Besar
Armada Laut Utara mempunyai 'jalan keluar yang lebih bagus'. Yaitu: Abramov
dicopot dari jabatannya, dan diganti dengan perwira mesin yang lain. Kapal
tetap berangkat."
Abramov dipindah ke bengkel angkatan laut di daratan. Sial sekali! Sesudah
bekerja beberapa hari ia melaporkan, reaktor nuklir bengkel tidak bisa
dipertanggungjawabkan keamanannya, dan harus ditutup, agar tidak
mencelakakan para pekerja. Sama dengan sebelumnya, komandan bengkel
mempunyai "solusi yang lebih baik". Abramow dipecat! Tidak sekadar
dipindahtugaskan! Ia dinilai merongrong supremasi Angkatan Laut Rusia.
Sementara menunggu disidangkan di Mahkamah Militer untuk menjelaskan mengapa
reaktor nuklir bengkel Armada Laut Utara Rusia harus ditutup, ia
dinonaktifkan.
Kemudian terjadilah kecelakaan itu! Empat bulan kemudian kapal selam nuklir
itu bocor reaktor nuklirnya. Lima orang luka berat, satu di antaranya tidak
tertolong jiwanya.
Sementara itu Mahkamah Militer di Moskow membenarkan usul Abramov tempo
hari, tetapi terlambat! Ia sudah keburu dipecat.
Ledakan misterius
Hari Minggu, 13 Agustus 2000, kapal selam nuklir Kursk (salah satu
kapal selam nuklir raksasa Angkatan Laut Rusia dari kelas Oscar-2 yang
paling modern) kandas di dasar L. Barentz, ketika ikut latihan
perang-perangan bersama Armada Laut Utara. Kapal itu satu dari delapan buah
yang menunjukkan kecanggihan teknologi kapal selam raksasa Rusia. Panjangnya
154 m. Seukuran satu lapangan sepak bola.
Ketika kapal melontarkan torpedo pada Minggu pagi, timbul ledakan dahsyat,
sampai terdengar oleh dua kapal selam Amerika di dekatnya. Seharusnya
torpedo tidak mengeluarkan bunyi ledakan saat dilontarkan di bawah permukaan
air. Tidak jelas apa
penyebabnya, tetapi bagian depan kapal diduga rusak berat, dan berikutnya
tabung pelontar torpedo kemasukan air laut. Komandan kapal menghentikan
reaktor nuklir penggerak mesin kapal. Kapal pun tenggelam ke dasar laut,
karena tidak ada kekuatan yang membuatnya mengapung.
Menurut juru bicara Armada Laut Utara, kontak radio dengan kapal itu
terhenti pada hari Minggu 13 Agustus. Diduga, komandannya memadamkan semua
aliran listrik, penggerak alat-alat komunikasi.
Masalah yang lebih gawat ialah, ruangan kapal selam akan kehabisan oksigen.
Kalau tidak cepat ditolong, seluruh awak kapal tidak dapat diselamatkan.
Tetapi Laksamana Vladimir Kuroyedov, Panglima Angkatan Laut Rusia
menegaskan, persediaan oksigen baru akan habis pada Jumat berikutnya. Ini
mengejutkan beberapa pakar yang lebih tahu tentang seluk beluk
perkapalselaman.
Karl Peter Faesecke, seorang dokter angkatan laut Jerman, mengingatkan di
televisi, meski oksigen belum habis sama sekali, namun sekarang pun (hari
Senen 14 Agustus), kekurangan itu membuat para awak kapal lemah, tidak mampu
bergerak untuk makan-minum selayaknya makhluk hidup. Operasi penyelamatan
yang lamban karena mengira oksigen belum habis sama sekali sekarang ini,
tidak akan berhasil menyelamatkan jiwa mereka. Sudah terlambat!
Lamban
Sebenarnya, setelah ada berita tentang kecelakaan Kursk itu, Panglima
Angkatan Laut Norwegia, Laksamana Muda Einar Skorgen, menawarkan bantuan
penyelamatan pada 14 Agustus melalui pemerintahnya kepada Panglima Angkatan
Laut Rusia. Tetapi tawaran tidak ditanggapi.
Sebab, pemerintah Rusia sedang menunggu komisi yang dipimpin Wakil Perdana
Menteri, Ilya Klebanov, mengadakan rapat dulu di pangkalan Armada Laut
Utara, Severomorsk. Rapat mempertimbangkan semua usulan cara penyelamatan
awak kapal selam Kursk yang masuk akal, termasuk pemakaian ponton
raksasa untuk mengangkat kapal selam dari dalam air. Tetapi berapa hari
diperlukan untuk menghela ponton raksasa itu ke tempat kejadian perkara?
Baru pada Selasa, 15 Agustus (dua hari sesudah musibah), Angkatan Laut Rusia
berusaha sendiri menyelamatkan korban dengan kapsul penyelamat, tetapi
gagal. Cuaca di L. Barentz buruk sekali, arus laut ganas, dan penglihatan
sangat terganggu.
"Tak ada kemajuan!" tutur juru bicara Angkatan Laut, Igor Dygalo
di televisi, sesudah dua hari usaha penyelamatan. Pada hari Kamis 17
Agustus, laut agak ramah, para penyelamat Rusia optimis dapat segera
mengaitkan kapsul penyelamatnya di pintu kapal selam. Tetapi Panglima
Angkatan Laut yang dikutip kantor berita Itar-Tass mengatakan,
"Mudah-mudahan cuaca malam hari tidak buruk lagi!" Artinya, usaha
penyelamatan masih akan menunggu membaiknya cuaca sampai berjam-jam lagi.
Dalam laporan kepada Presiden Vladimir Putin, panglima itu memberi gambaran
tipisnya kemungkinan menyelamatkan awak kapal hidup-hidup.
"Regu penyelamat berusaha mati-matian mengaitkan kapsul ke kapal
selam," kata penyiar televisi pemerintah RTR. "Meski salah satu
dari empat kapsul yang dikerahkan sudah berhasil mengait, para petugas gagal
mengerudungkan kubah penyelamat di sekeliling pintu kapal selam. Setelah
berjam-jam berusaha tanpa hasil, akhirnya mereka terpaksa kembali ke
permukaan, karena aki kapsul penyelamat sudah soak!"
Lalu para pembesar di markas besar Armada Laut Utara merencanakan cara lain.
Sudah lima hari lewat! Presiden Vladimir Putin yang sedang berlibur di
Yalta, tepi L. Hitam, akhirnya memerintahkan Panglima Angkatan Bersenjata
untuk menerima tawaran bantuan dari Norwegia dan Inggris.
Media massa Rusia mengritik Presidennya, "Mengapa kamerad Presiden diam
saja selama lima hari ini, sementara rakyat menunggu-nunggu keputusan,
apakah awak kapal akan diselamatkan dengan kekuatan sendiri atau
tidak?" tulis tabloid populer Komsomolskaya Pravda dengan huruf
besar-besar.
Harian Izvestia yang lebih liberal menulis bernada pahit,
"Bersama Kursk, kepercayaan rakyat pada pemerintah untuk
melindungi rakyatnya, ikut terbenam di dasar laut!"
Pemerintah Rusia tidak mau berterus terang bahwa usaha Angkatan Lautnya
gagal. Menurut tradisi negara bekas komunis itu, kegagalan negara tidak
perlu diumumkan kepada rakyat.
Secara politis, ini dilema sekaligus ironi yang pahit. Sebuah negara besar
yang selama ini menyebar citra sebagai negara adidaya kedua di dunia, harus
minta bantuan negara kecil, sekicit Norwegia dan Inggris, yang anggota NATO.
Bantuan untuk menyelamatkan awak kapal yang semula justru dirancang untuk
menghancurkan kapal induk negara-nagara NATO!
Tetapi Presiden Putin menangkis kritik di koran-koran bukan dengan
mengemukakan alasan keragu-raguan politis yang dilematis itu, melainkan
alasan lain yang menyakitkan. "Sejak awal sudah tidak ada kemungkinan
untuk menyelamatkan awak kapal yang kandas itu!" katanya di televisi
tanpa rasa bersalah, "Sebab menurut Menteri Pertahanan Igor Sergeyev
yang saya tanyai, kemungkinan berhasilnya sangat kecil, walaupun ada!"
Perlakuan buruk
Ketika datang bantuan dari Inggris dan Norwegia yang berangkat dari
Pelabuhan Trondheim hari Kamis 17 Agustus, semua sudah terlambat. Tim
penyelamat Norwegia yang tiba di tempat kecelakaan pada hari Minggu 20
Agustus (tujuh hari sesudah kecelakaan), baru menerjunkan tiga orang
penyelam, setelah robot pembawa kamera televisi be-remote control
merekam keadaan Kursk di kedalaman 108 m. Mereka ingin mendapat
gambaran jelas letak pintu kapal selam, agar regu penyelamat Inggris dalam
kapal selam mini dapat cepat "berlabuh" di pintu yang benar, dan
cepat pula memasang kubah selam untuk mengevakuasi awak kapal,
Ketika regu penyelam Norwegia itu membuka pintu masuk di belakang menara
komando Kursk (tempat tinggal para awak kapal) dengan alat
penjepit/penarik listrik, ruangan di bawah pintu sudah penuh air. Diduga air
masuk melalui tabung pelontar torpedo yang rusak karena ledakan, di belakang
menara komando.
Setelah jelas para awak kapal tidak dapat ditolong, kepala staf Angkatan
Laut Mikhael Motsak "menegaskan", tidak ada harapan lagi bagi awak
kapal selam itu. Baik pers asing mapun Rusia terang-terangan mengecam para
pembesar yang lamban bertindak menyelamatkan rakyatnya.
"Awak kapal yang megap-megap sekarat di dasar L. Barentz itu sama
sekali tidak dihargai oleh para pemimpin negara!" tulis Harian Izvestia
"Presiden tidak tergerak untuk menghentikan liburan di Sochi guna
mengikuti usaha penyelamatan dari dekat, tetapi malah meneruskan liburan di
Yalta."
Reaksi Presiden sungguh menggemaskan. Bukannya merasa salah dan meminta
maaf, tetapi menyelamatkan muka sendiri, "Sebenarnya saya sudah ingin
terbang ke tempat musibah," tuturnya pelan dan penuh duka, "tetapi
setelah saya pertimbangkan baik-baik, saya tidak jadi pergi. Kehadiran saya
hanya akan mengganggu pekerjaan para pakar penyelamat!"
"Bagi para penguasa di pemerintahan Rusia, rakyat hanya budak hamba
sahaya yang tidak boleh bicara!" komentar Vladimir Jelmanov yang pernah
bertugas di Armada Laut Utara, "Kami menjalankan kapal selam atom
modern, tetapi diperlakukan seperti warganegara zaman batu!"
Ia pernah menjalankan kapal selam atom Komsomolez tahun 1984, yang
dindingnya dari Titanium, dan harus menyelam sedalam 1.000 m untuk menguji
ketahanan bahan itu terhadap tekanan air. Meski selamat, hanya dinding kamar
tidur yang bengkok, lima tahun kemudian kapal itu terbakar di tengah laut.
42 orang dari 92 awak tewas.
Istrinya, Natascha, menitikkan air mata mendengar kabar kecelakaan Kursk
bulan Agustus yang lalu, mengingat ia pernah mengalami kecelakaan serupa.
Tanggal 8 April 1989 para istri awak kapal selam nuklir Komsomolez
pergi ke markas besar Armada Laut Utara di Severomorsk, untuk mencari
keterangan apakah di antara awak kapal yang selamat itu ada nama suami
mereka? Seorang perwira jaga bertanya, "Untuk apa?"
Sungguh menyakitkan, arogansi perwira itu. Baru setelah Natascha
berkali-kali menelpon markas besar Angkatan Laut di Moskwa, akhirnya ada
seorang perwira yang mau "membuka rahasia negara" dan membacakan
nama-nama awak kapal yang selamat, termasuk Vladimir Jelmanov. (Dari
pelbagai Sumber/SS) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||