globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Kursk, Tragedi Gara-gara Arogansi 

Kapal selam nuklir berisiko tinggi mengalami kecelakaan. Tetapi para pembesar sipil dan militer Rusia menganggapnya enteng.

Berhari-hari kandasnya kapal selam Kursk di dasar Laut Barentz tanggal 14 Agustus 2000 memenuhi halaman surat kabar seluruh dunia. Yang sangat disesalkan, negeri itu tidak cepat-cepat meminta bantuan dari negeri tetangga yang bersedia membantu! Padahal di kalangan para pelaut sudah lazim meminta bantuan kapal lain dengan segera, kalau terjadi kecelakaan di laut. Tetapi itu berlaku antarpelaut internasional. Tidak antar pemerintahan, yang dipengaruhi pertimbangan politik.

Arogansi pembesar

"Menyimak kejadian itu, kita teringat pada 'musibah' yang menimpa Ir. Lewon Abramov," tulis Bettina Sengling dalam Stern 24 Agustus lalu. "Perwira mesin di kapal selam nuklir Angkatan Laut Rusia itu pada musim semi tahun 1995 melaporkan, reaktor nuklir kapal selamnya agak rusak. Ia mengusulkan untuk membatalkan keberangkatan kapal yang akan meninggalkan Pelabuhan Sapadnaya Liza, agar reaktor dapat diperbaiki. Tetapi Markas Besar Armada Laut Utara mempunyai 'jalan keluar yang lebih bagus'. Yaitu: Abramov dicopot dari jabatannya, dan diganti dengan perwira mesin yang lain. Kapal tetap berangkat."

Abramov dipindah ke bengkel angkatan laut di daratan. Sial sekali! Sesudah bekerja beberapa hari ia melaporkan, reaktor nuklir bengkel tidak bisa dipertanggungjawabkan keamanannya, dan harus ditutup, agar tidak mencelakakan para pekerja. Sama dengan sebelumnya, komandan bengkel mempunyai "solusi yang lebih baik". Abramow dipecat! Tidak sekadar dipindahtugaskan! Ia dinilai merongrong supremasi Angkatan Laut Rusia.

Sementara menunggu disidangkan di Mahkamah Militer untuk menjelaskan mengapa reaktor nuklir bengkel Armada Laut Utara Rusia harus ditutup, ia dinonaktifkan.

Kemudian terjadilah kecelakaan itu! Empat bulan kemudian kapal selam nuklir itu bocor reaktor nuklirnya. Lima orang luka berat, satu di antaranya tidak tertolong jiwanya.

Sementara itu Mahkamah Militer di Moskow membenarkan usul Abramov tempo hari, tetapi terlambat! Ia sudah keburu dipecat.

Ledakan misterius

Hari Minggu, 13 Agustus 2000, kapal selam nuklir Kursk (salah satu kapal selam nuklir raksasa Angkatan Laut Rusia dari kelas Oscar-2 yang paling modern) kandas di dasar L. Barentz, ketika ikut latihan perang-perangan bersama Armada Laut Utara. Kapal itu satu dari delapan buah yang menunjukkan kecanggihan teknologi kapal selam raksasa Rusia. Panjangnya 154 m. Seukuran satu lapangan sepak bola.

Ketika kapal melontarkan torpedo pada Minggu pagi, timbul ledakan dahsyat, sampai terdengar oleh dua kapal selam Amerika di dekatnya. Seharusnya torpedo tidak mengeluarkan bunyi ledakan saat dilontarkan di bawah permukaan air. Tidak jelas apa

penyebabnya, tetapi bagian depan kapal diduga rusak berat, dan berikutnya tabung pelontar torpedo kemasukan air laut. Komandan kapal menghentikan reaktor nuklir penggerak mesin kapal. Kapal pun tenggelam ke dasar laut, karena tidak ada kekuatan yang membuatnya mengapung.

Menurut juru bicara Armada Laut Utara, kontak radio dengan kapal itu terhenti pada hari Minggu 13 Agustus. Diduga, komandannya memadamkan semua aliran listrik, penggerak alat-alat komunikasi.

Masalah yang lebih gawat ialah, ruangan kapal selam akan kehabisan oksigen. Kalau tidak cepat ditolong, seluruh awak kapal tidak dapat diselamatkan. Tetapi Laksamana Vladimir Kuroyedov, Panglima Angkatan Laut Rusia menegaskan, persediaan oksigen baru akan habis pada Jumat berikutnya. Ini mengejutkan beberapa pakar yang lebih tahu tentang seluk beluk perkapalselaman.

Karl Peter Faesecke, seorang dokter angkatan laut Jerman, mengingatkan di televisi, meski oksigen belum habis sama sekali, namun sekarang pun (hari Senen 14 Agustus), kekurangan itu membuat para awak kapal lemah, tidak mampu bergerak untuk makan-minum selayaknya makhluk hidup. Operasi penyelamatan yang lamban karena mengira oksigen belum habis sama sekali sekarang ini, tidak akan berhasil menyelamatkan jiwa mereka. Sudah terlambat!

Lamban

Sebenarnya, setelah ada berita tentang kecelakaan Kursk itu, Panglima Angkatan Laut Norwegia, Laksamana Muda Einar Skorgen, menawarkan bantuan penyelamatan pada 14 Agustus melalui pemerintahnya kepada Panglima Angkatan Laut Rusia. Tetapi tawaran tidak ditanggapi.

Sebab, pemerintah Rusia sedang menunggu komisi yang dipimpin Wakil Perdana Menteri, Ilya Klebanov, mengadakan rapat dulu di pangkalan Armada Laut Utara, Severomorsk. Rapat mempertimbangkan semua usulan cara penyelamatan awak kapal selam Kursk yang masuk akal, termasuk pemakaian ponton raksasa untuk mengangkat kapal selam dari dalam air. Tetapi berapa hari diperlukan untuk menghela ponton raksasa itu ke tempat kejadian perkara?

Baru pada Selasa, 15 Agustus (dua hari sesudah musibah), Angkatan Laut Rusia berusaha sendiri menyelamatkan korban dengan kapsul penyelamat, tetapi gagal. Cuaca di L. Barentz buruk sekali, arus laut ganas, dan penglihatan sangat terganggu.

"Tak ada kemajuan!" tutur juru bicara Angkatan Laut, Igor Dygalo di televisi, sesudah dua hari usaha penyelamatan. Pada hari Kamis 17 Agustus, laut agak ramah, para penyelamat Rusia optimis dapat segera mengaitkan kapsul penyelamatnya di pintu kapal selam. Tetapi Panglima Angkatan Laut yang dikutip kantor berita Itar-Tass mengatakan, "Mudah-mudahan cuaca malam hari tidak buruk lagi!" Artinya, usaha penyelamatan masih akan menunggu membaiknya cuaca sampai berjam-jam lagi.

Dalam laporan kepada Presiden Vladimir Putin, panglima itu memberi gambaran tipisnya kemungkinan menyelamatkan awak kapal hidup-hidup.

"Regu penyelamat berusaha mati-matian mengaitkan kapsul ke kapal selam," kata penyiar televisi pemerintah RTR. "Meski salah satu dari empat kapsul yang dikerahkan sudah berhasil mengait, para petugas gagal mengerudungkan kubah penyelamat di sekeliling pintu kapal selam. Setelah berjam-jam berusaha tanpa hasil, akhirnya mereka terpaksa kembali ke permukaan, karena aki kapsul penyelamat sudah soak!"

Lalu para pembesar di markas besar Armada Laut Utara merencanakan cara lain. Sudah lima hari lewat! Presiden Vladimir Putin yang sedang berlibur di Yalta, tepi L. Hitam, akhirnya memerintahkan Panglima Angkatan Bersenjata untuk menerima tawaran bantuan dari Norwegia dan Inggris.

Media massa Rusia mengritik Presidennya, "Mengapa kamerad Presiden diam saja selama lima hari ini, sementara rakyat menunggu-nunggu keputusan, apakah awak kapal akan diselamatkan dengan kekuatan sendiri atau tidak?" tulis tabloid populer Komsomolskaya Pravda dengan huruf besar-besar.

Harian Izvestia yang lebih liberal menulis bernada pahit, "Bersama Kursk, kepercayaan rakyat pada pemerintah untuk melindungi rakyatnya, ikut terbenam di dasar laut!"

Pemerintah Rusia tidak mau berterus terang bahwa usaha Angkatan Lautnya gagal. Menurut tradisi negara bekas komunis itu, kegagalan negara tidak perlu diumumkan kepada rakyat.

Secara politis, ini dilema sekaligus ironi yang pahit. Sebuah negara besar yang selama ini menyebar citra sebagai negara adidaya kedua di dunia, harus minta bantuan negara kecil, sekicit Norwegia dan Inggris, yang anggota NATO. Bantuan untuk menyelamatkan awak kapal yang semula justru dirancang untuk menghancurkan kapal induk negara-nagara NATO!

Tetapi Presiden Putin menangkis kritik di koran-koran bukan dengan mengemukakan alasan keragu-raguan politis yang dilematis itu, melainkan alasan lain yang menyakitkan. "Sejak awal sudah tidak ada kemungkinan untuk menyelamatkan awak kapal yang kandas itu!" katanya di televisi tanpa rasa bersalah, "Sebab menurut Menteri Pertahanan Igor Sergeyev yang saya tanyai, kemungkinan berhasilnya sangat kecil, walaupun ada!"

Perlakuan buruk

Ketika datang bantuan dari Inggris dan Norwegia yang berangkat dari Pelabuhan Trondheim hari Kamis 17 Agustus, semua sudah terlambat. Tim penyelamat Norwegia yang tiba di tempat kecelakaan pada hari Minggu 20 Agustus (tujuh hari sesudah kecelakaan), baru menerjunkan tiga orang penyelam, setelah robot pembawa kamera televisi be-remote control merekam keadaan Kursk di kedalaman 108 m. Mereka ingin mendapat gambaran jelas letak pintu kapal selam, agar regu penyelamat Inggris dalam kapal selam mini dapat cepat "berlabuh" di pintu yang benar, dan cepat pula memasang kubah selam untuk mengevakuasi awak kapal,

Ketika regu penyelam Norwegia itu membuka pintu masuk di belakang menara komando Kursk (tempat tinggal para awak kapal) dengan alat penjepit/penarik listrik, ruangan di bawah pintu sudah penuh air. Diduga air masuk melalui tabung pelontar torpedo yang rusak karena ledakan, di belakang menara komando.

Setelah jelas para awak kapal tidak dapat ditolong, kepala staf Angkatan Laut Mikhael Motsak "menegaskan", tidak ada harapan lagi bagi awak kapal selam itu. Baik pers asing mapun Rusia terang-terangan mengecam para pembesar yang lamban bertindak menyelamatkan rakyatnya.

"Awak kapal yang megap-megap sekarat di dasar L. Barentz itu sama sekali tidak dihargai oleh para pemimpin negara!" tulis Harian Izvestia "Presiden tidak tergerak untuk menghentikan liburan di Sochi guna mengikuti usaha penyelamatan dari dekat, tetapi malah meneruskan liburan di Yalta."

Reaksi Presiden sungguh menggemaskan. Bukannya merasa salah dan meminta maaf, tetapi menyelamatkan muka sendiri, "Sebenarnya saya sudah ingin terbang ke tempat musibah," tuturnya pelan dan penuh duka, "tetapi setelah saya pertimbangkan baik-baik, saya tidak jadi pergi. Kehadiran saya hanya akan mengganggu pekerjaan para pakar penyelamat!"

"Bagi para penguasa di pemerintahan Rusia, rakyat hanya budak hamba sahaya yang tidak boleh bicara!" komentar Vladimir Jelmanov yang pernah bertugas di Armada Laut Utara, "Kami menjalankan kapal selam atom modern, tetapi diperlakukan seperti warganegara zaman batu!"

Ia pernah menjalankan kapal selam atom Komsomolez tahun 1984, yang dindingnya dari Titanium, dan harus menyelam sedalam 1.000 m untuk menguji ketahanan bahan itu terhadap tekanan air. Meski selamat, hanya dinding kamar tidur yang bengkok, lima tahun kemudian kapal itu terbakar di tengah laut. 42 orang dari 92 awak tewas.

Istrinya, Natascha, menitikkan air mata mendengar kabar kecelakaan Kursk bulan Agustus yang lalu, mengingat ia pernah mengalami kecelakaan serupa. Tanggal 8 April 1989 para istri awak kapal selam nuklir Komsomolez pergi ke markas besar Armada Laut Utara di Severomorsk, untuk mencari keterangan apakah di antara awak kapal yang selamat itu ada nama suami mereka? Seorang perwira jaga bertanya, "Untuk apa?"

Sungguh menyakitkan, arogansi perwira itu. Baru setelah Natascha berkali-kali menelpon markas besar Angkatan Laut di Moskwa, akhirnya ada seorang perwira yang mau "membuka rahasia negara" dan membacakan nama-nama awak kapal yang selamat, termasuk Vladimir Jelmanov. (Dari pelbagai Sumber/SS)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej