|
|
Bulan November 2000
|
|
UJUNG
KULON TAK CUMA BADAK
Senter itu penting
Inilah surga bagi yang suka bertualang atau pengamat hayati. Di sini
tergelar salah satu peninggalan hutan alam di Jawa. Kawasan ini adalah salah
satu dari sangat sedikit daerah yang menyajikan profil vegetasi pantai laut
sampai vegetasi puncak gunung tropis. Lebih dari 700 jenis tumbuhan ada di
situ. Lima puluh tujuh jenis di antaranya diklasifikasikan sebagai tanaman
langka di Jawa, bahkan dunia. Wajar, bila kawasan ini menjadi salah satu
objek ekowisata menakjubkan di negeri kita.
Satwanya pun beragam. Mulai dari sang primadona, badak jawa (Rhinoceros
sondaicus), banteng (Bos javanicus), babi hutan (Sus
verrucosus), rusa (Cervus timorensis), anjing hutan (Cuon
alpinus), macan kumbang, macan tutul (Panthera pardus), atau owa
jawa (Hylobates moloch). "Badak memang satwa primadona di
kawasan TNUK. Tapi, untuk menjumpainya sulit setengah mati," jelas H.
Kodhyat, S.H., ketua Yayasan Dana Badak Ujung Kulon Rhino Trust U, sebuah
yayasan bentukan WWF dan TNUK untuk menggalang dana bagi penyelamatan badak
jawa.
Informasi untuk menjelajahinya bisa didapat di kantor TNUK di Caringin, 1,5
km utara Labuan. Dari situ, petugas akan memberikan tiga alternatif pintu
masuk: Taman Jaya, Pulau Peucang, dan Pulau Handeuleum.
Kalau Anda seorang petualang sejati, Taman Jaya adalah pilihan tepat sebagai
base camp. Ketika Intisari diundang Rhino Trust U dan Bina
Swadaya, LSM yang ikut serta mempromosikan ekowisata TNUK, untuk menikmati
alam TNUK, kampung itu pun dijadikan base camp.
Di kampung ini ada rumah-rumah penduduk yang disewakan. Untuk sebuah kamar
"cottage" dengan dua ranjang dan sebuah meja sederhana
tarifnya Rp 30.000,-. Kalau kamarnya menyatu dengan rumah penduduk, dengan
fasilitas sama, tarifnya lebih murah.
Hiburan di sana pun khas, dan tidak ditemui di kota, yakni tari lesung.
Tarian ini biasa digelar untuk membuang penat usai panen. Penari dan penabuh
lesungnya adalah para ibu anggota KSU Gema Umat, yang dipimpin Ibu Rame,
salah seorang tetua desa. Dibalut kebaya ala kadarnya, atau daster, dengan
alas kaki sandal jepit, mereka menghibur tamu dengan wajah ceria.
Tapi, kalau suka beef sandwich dan Coca-cola sambil tidur di ruang
ber-AC, silakan tinggal di pintu masuk kedua, yakni Pulau Peucang. Tentu
dengan biaya jauh berbeda.
Berkunjung ke Taman Nasional berarti harus siap berpisah dengan berbagai
alat modern. Yang paling terasa, lenyapnya sinyal di telepon genggam! Selain
itu, bila memilih tinggal bersama penduduk di Taman Jaya, jangan lupa
berbekal senter dan lilin. Tanpa itu saat listrik mati di malam hari, kita
dijamin kelabakan. Gelapnya 100%!
Tujuan wisata di kawasan Ujung Kulon terhitung cukup banyak. Selain wisata
alam, ada juga wisata ziarah dan sejarah. Untuk wisata ziarah, kita bisa
mengunjungi Sang Hyang Sirah di bulan Maulud. Sedangkan tempat bersejarah
ada di Pulau Panaitan, tempat ditemukan sebuah patung Ganesha tua. Atau,
mengunjungi mercusuar tua dan baru yang ada di titik paling barat Pulau
Jawa. Bagaimanapun, yang paling menarik di kawasan TNUK adalah objek-objek
wisata alamnya. Dari sekian banyak objek, ada empat lokasi yang dijelajahi Intisari,
yakni Tanjung Layar, Cidaon, Tanjung Lame, dan Sungai Cigenter.
Banteng takut manusia
Kunjungan ke Tanjung Layar dilakukan dengan kapal motor nelayan dari dermaga
di Taman Jaya. Tempat pemberhentian paling aman adalah Cibom, karena paling
kecil gulungan ombaknya. Sayangnya, di sini tidak ada dermaga sehingga perlu
perahu kecil atau speed boat untuk membantu mendarat. Namun, bisa
juga berenang ke pantai Cibom. Tapi, hati-hati, karangnya amat tajam.
Salah-salah, dengkul dan telapak kaki berdarah!
Perjalanan ke Cibom dengan kapal motor nelayan butuh waktu sekitar tiga jam.
Pemandangannya pun elok. Dari kejauhan tampak bentuk ujung Pulau Jawa ini.
Meski terpanggang terik matahari, tebaran jermal (rumah-rumah penangkap ikan
dari bambu beratap rumbia) di tengah laut memberi nuansa tersendiri.
Gambaran gigih nelayan mencari nafkah!
Dari Cibom ke Tanjung Layar, tempat mercusuar, kita mesti menyusuri jalan
setapak di tepian hutan tropis yang penuh aneka jenis tanaman. Jaraknya,
sekitar 1 km dengan medan ringan. Sambil berjalan, terdengar nyanyian burung
rangkong, tarian kupu-kupu, dan capung berkejaran.
Pemandangan di sisi jalan begitu indah. Debur ombak begitu membius, sejenak
hiruk-pikuk kota terlupakan. Setibanya di tempat bekas mercusuar, setelah
naik undakan tangga yang bukan main banyaknya, tampak ombak mengempas ujung
Pulau Jawa! Dari bekas bangunan penjara Belanda dekat mercusuar lama, tampak
pemandangan cantik seperti dalam film.
Tempat paling barat Pulau Jawa ini tak terlalu jauh dari Cidaon, di mana
tergelar padang rumput arena berkumpul sekitar 1.000 ekor banteng Ujung
kulon yang masyhur itu. Maka, paling tepat bila perjalanan dilanjutkan ke
sana. Tapi, untuk bisa menonton satwa berpantat putih itu kita mesti sampai
di Cidaon sebelum sore.
Sayangnya, kali ini banteng tidak berhasil ditemui. Pasalnya, sebagian
pengunjung dengan aktif "merumput" ke seluruh penjuru padang
rumput. Banteng asli pun ketakutan, lenyap masuk hutan! Sebenarnya, untuk
melihat kawanan banteng pengunjung harus datang diam-diam lalu langsung naik
ke menara intai. Tapi, hati-hati, beberapa bagian menara sudah lapuk! Di
lokasi itu pengunjung dilarang memasak, karena tindakan ceroboh bisa
berakibat kebakaran. Larangan lain adalah meninggalkan sampah berupa
botol-botol minuman.
Kekecewaan tak bertemu banteng terobati saat mampir sejenak di Pulau
Peucang. Selain restoran untuk mengisi perut, ada juga rusa jinak, kera, dan
... biawak berkeliaran! Pasir pulau itu cukup indah, putih bersih.
Perjalanan hari itu berakhir, kami kembali ke Taman Jaya. Perjalanan pulang
dimulai pukul 17.30. Sialnya, kapal motor tidak dipersiapkan untuk
perjalanan malam. Untung ada satu lampu senter untuk penerangan jarak
pendek. Untuk mendapat cahaya, kapal harus berlayar agak ke tengah, di mana
banyak lampu rambu laut. Kapal kami terbantu kala bertemu perahu penangkap
ikan yang dilengkapi banyak petromaks atau lampu sorot listrik. Siapa
sangka, tebaran bintang dan kesunyian di tengah laut ternyata mengasyikkan.
Esoknya, hari terakhir dari tiga hari mengunjungi Ujung Kulon, perjalanan
dilanjutkan ke Tanjung Lame. Di sana kita bisa bertemu dan mendengar cerita
pengalaman para jagawana anggota Rhino Monitoring Protection Unit (RMPU).
Kalau berminat, bisa juga bergabung dengan mereka masuk hutan dan secara
aktif memantau keberadaan badak. Tentu wisata macam itu tidak gratis.
Perjalanan dimulai dari Cibinua, kampung nelayan di dalam Taman Jaya juga.
Di tempat pendaratan perahu nelayan ini tiap pagi nelayan menjual atau
melelang hasil tangkapan. Begitu keranjang berisi ikan diangkat dari perahu,
seorang juru lelang dihampiri beberapa ibu siap melakukan pelelangan. Kurang
dari satu menit, hasil laut berpindah tangan.
Celana digulung
Diantar perahu nelayan, perjalanan ke kapal motor ke Tanjung Lame dimulai.
Perjalanan kali ini kagak lame, sekitar 1 jam. Namun, untuk mendarat
terpaksa harus dibantu speedboat atau perahu tempel, diteruskan
dengan mengarungi air laut selutut! Jadi, paling aman jika kita bersepatu trekking,
celana agak digulung, tangan ke atas menyelamatkan kamera dari debur ombak!
Di kantor RMPU terpampang foto-foto badak yang terjepret salah satu dari 30
kamera otomatis (sumbangan WWF sejak 1991) yang ditempatkan di berbagai
lokasi di Taman Nasional. Dari yang terjepret ada badak yang tampak bergaya.
Di sini kita juga bisa mengetahui bentuk jejak badak yang telah dicetak oleh
jagawana RMPU. Sekilas, cetakan itu mirip asbak besar.
Dari hasil penelitian, saat ini populasi badak jawa tinggal 60 ekor. Untuk
bisa bertemu dengan makhluk langka itu perlu penantian berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun. Jagawana saja baru benar-benar berhadapan dengan si
kulit tebal setelah 15 tahun bertugas, seperti dialami Suhana dan Sarian
tahun 1991. Yang kerap ditemui paling-paling kotoran, air kencing, dan
jejaknya.
Tak heran bila disarankan tidak terlalu banyak pengunjung yang ke Ujung
Kulon (terutama daerah lintasan badak, yakni sekitar Gunung Honje). Pada
dasarnya, binatang penghuni taman nasional itu takut manusia. Mencium bau
manusia saja mereka sudah kabur menghindar.
Begitu pula yang terjadi bila kita berisik mengarungi Sungai Cigenter. Muara
sungai ini bisa dicapai dengan kapal motor sekitar satu jam dari Tanjung
Lame. Lagi-lagi, untuk mencapai muara sungai, mesti dibantu speedboat
atau sampan.
Dari muara sungai, kita bisa menyusuri sungai yang berair tenang menuju hulu
itu. Namun, kali ini yang berani muncul hanya burung. Itu pun di pohon
tinggi yang menjorok jauh ke daratan. Sementara, buaya, ular, dan ikan
lenyap entah ke mana.
Meski kecewa karena tidak bersua dengan badak, banteng, atau buaya, tapi
melaju di sampan menyusuri hutan alami memberi perasaan tenteram.
Maka tak ada penyesalan ketika pulang dengan celana panjang basah melekat di
badan. Perjalanan tiga hari merambah beberapa tempat di Ujung Kulon membuat
kita sadar, betapa kaya dan indahnya alam negeri sendiri. Mudah-mudahan
semua itu tetap terjaga dan lestari. (Anglingsari SI SK/I Gede Agung
Yudana)
Boks 1: Jalan Laut, Jalan Darat
Boks 2: Syarat Masuk Taman Nasional |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||