globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

UJUNG KULON TAK CUMA BADAK

Mau bertemu badak? Pergilah ke Ujung Kulon! Nama Ujung Kulon begitu identik dengan satwa bercula satu ini. Tapi, tahukah Anda, ujung barat tanah Jawa ini menyimpan banyak "harta" selain badak?

Luas seluruhnya 120.551 ha; 76.214 ha daratan dan 44.337 ha kawasan perairan laut. Daerah ini ditahbiskan sebagai taman nasional secara resmi dengan nama Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sejak 1992. Di tahun yang sama, berbarengan dengan Taman Nasional Komodo, TNUK mendapat kehormatan menjadi Kawasan Warisan Alam Dunia (Natural World Heritage Site) pertama di negeri tercinta ini.

Senter itu penting

Inilah surga bagi yang suka bertualang atau pengamat hayati. Di sini tergelar salah satu peninggalan hutan alam di Jawa. Kawasan ini adalah salah satu dari sangat sedikit daerah yang menyajikan profil vegetasi pantai laut sampai vegetasi puncak gunung tropis. Lebih dari 700 jenis tumbuhan ada di situ. Lima puluh tujuh jenis di antaranya diklasifikasikan sebagai tanaman langka di Jawa, bahkan dunia. Wajar, bila kawasan ini menjadi salah satu objek ekowisata menakjubkan di negeri kita.

Satwanya pun beragam. Mulai dari sang primadona, badak jawa (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos javanicus), babi hutan (Sus verrucosus), rusa (Cervus timorensis), anjing hutan (Cuon alpinus), macan kumbang, macan tutul (Panthera pardus), atau owa jawa (Hylobates moloch). "Badak memang satwa primadona di kawasan TNUK. Tapi, untuk menjumpainya sulit setengah mati," jelas H. Kodhyat, S.H., ketua Yayasan Dana Badak Ujung Kulon Rhino Trust U, sebuah yayasan bentukan WWF dan TNUK untuk menggalang dana bagi penyelamatan badak jawa.

Informasi untuk menjelajahinya bisa didapat di kantor TNUK di Caringin, 1,5 km utara Labuan. Dari situ, petugas akan memberikan tiga alternatif pintu masuk: Taman Jaya, Pulau Peucang, dan Pulau Handeuleum.

Kalau Anda seorang petualang sejati, Taman Jaya adalah pilihan tepat sebagai base camp. Ketika Intisari diundang Rhino Trust U dan Bina Swadaya, LSM yang ikut serta mempromosikan ekowisata TNUK, untuk menikmati alam TNUK, kampung itu pun dijadikan base camp.

Di kampung ini ada rumah-rumah penduduk yang disewakan. Untuk sebuah kamar "cottage" dengan dua ranjang dan sebuah meja sederhana tarifnya Rp 30.000,-. Kalau kamarnya menyatu dengan rumah penduduk, dengan fasilitas sama, tarifnya lebih murah.

Hiburan di sana pun khas, dan tidak ditemui di kota, yakni tari lesung. Tarian ini biasa digelar untuk membuang penat usai panen. Penari dan penabuh lesungnya adalah para ibu anggota KSU Gema Umat, yang dipimpin Ibu Rame, salah seorang tetua desa. Dibalut kebaya ala kadarnya, atau daster, dengan alas kaki sandal jepit, mereka menghibur tamu dengan wajah ceria.

Tapi, kalau suka beef sandwich dan Coca-cola sambil tidur di ruang ber-AC, silakan tinggal di pintu masuk kedua, yakni Pulau Peucang. Tentu dengan biaya jauh berbeda.

Berkunjung ke Taman Nasional berarti harus siap berpisah dengan berbagai alat modern. Yang paling terasa, lenyapnya sinyal di telepon genggam! Selain itu, bila memilih tinggal bersama penduduk di Taman Jaya, jangan lupa berbekal senter dan lilin. Tanpa itu saat listrik mati di malam hari, kita dijamin kelabakan. Gelapnya 100%!

Tujuan wisata di kawasan Ujung Kulon terhitung cukup banyak. Selain wisata alam, ada juga wisata ziarah dan sejarah. Untuk wisata ziarah, kita bisa mengunjungi Sang Hyang Sirah di bulan Maulud. Sedangkan tempat bersejarah ada di Pulau Panaitan, tempat ditemukan sebuah patung Ganesha tua. Atau, mengunjungi mercusuar tua dan baru yang ada di titik paling barat Pulau Jawa. Bagaimanapun, yang paling menarik di kawasan TNUK adalah objek-objek wisata alamnya. Dari sekian banyak objek, ada empat lokasi yang dijelajahi Intisari, yakni Tanjung Layar, Cidaon, Tanjung Lame, dan Sungai Cigenter.

Banteng takut manusia

Kunjungan ke Tanjung Layar dilakukan dengan kapal motor nelayan dari dermaga di Taman Jaya. Tempat pemberhentian paling aman adalah Cibom, karena paling kecil gulungan ombaknya. Sayangnya, di sini tidak ada dermaga sehingga perlu perahu kecil atau speed boat untuk membantu mendarat. Namun, bisa juga berenang ke pantai Cibom. Tapi, hati-hati, karangnya amat tajam. Salah-salah, dengkul dan telapak kaki berdarah!

Perjalanan ke Cibom dengan kapal motor nelayan butuh waktu sekitar tiga jam. Pemandangannya pun elok. Dari kejauhan tampak bentuk ujung Pulau Jawa ini. Meski terpanggang terik matahari, tebaran jermal (rumah-rumah penangkap ikan dari bambu beratap rumbia) di tengah laut memberi nuansa tersendiri. Gambaran gigih nelayan mencari nafkah!

Dari Cibom ke Tanjung Layar, tempat mercusuar, kita mesti menyusuri jalan setapak di tepian hutan tropis yang penuh aneka jenis tanaman. Jaraknya, sekitar 1 km dengan medan ringan. Sambil berjalan, terdengar nyanyian burung rangkong, tarian kupu-kupu, dan capung berkejaran.

Pemandangan di sisi jalan begitu indah. Debur ombak begitu membius, sejenak hiruk-pikuk kota terlupakan. Setibanya di tempat bekas mercusuar, setelah naik undakan tangga yang bukan main banyaknya, tampak ombak mengempas ujung Pulau Jawa! Dari bekas bangunan penjara Belanda dekat mercusuar lama, tampak pemandangan cantik seperti dalam film.

Tempat paling barat Pulau Jawa ini tak terlalu jauh dari Cidaon, di mana tergelar padang rumput arena berkumpul sekitar 1.000 ekor banteng Ujung kulon yang masyhur itu. Maka, paling tepat bila perjalanan dilanjutkan ke sana. Tapi, untuk bisa menonton satwa berpantat putih itu kita mesti sampai di Cidaon sebelum sore.

Sayangnya, kali ini banteng tidak berhasil ditemui. Pasalnya, sebagian pengunjung dengan aktif "merumput" ke seluruh penjuru padang rumput. Banteng asli pun ketakutan, lenyap masuk hutan! Sebenarnya, untuk melihat kawanan banteng pengunjung harus datang diam-diam lalu langsung naik ke menara intai. Tapi, hati-hati, beberapa bagian menara sudah lapuk! Di lokasi itu pengunjung dilarang memasak, karena tindakan ceroboh bisa berakibat kebakaran. Larangan lain adalah meninggalkan sampah berupa botol-botol minuman.

Kekecewaan tak bertemu banteng terobati saat mampir sejenak di Pulau Peucang. Selain restoran untuk mengisi perut, ada juga rusa jinak, kera, dan ... biawak berkeliaran! Pasir pulau itu cukup indah, putih bersih.

Perjalanan hari itu berakhir, kami kembali ke Taman Jaya. Perjalanan pulang dimulai pukul 17.30. Sialnya, kapal motor tidak dipersiapkan untuk perjalanan malam. Untung ada satu lampu senter untuk penerangan jarak pendek. Untuk mendapat cahaya, kapal harus berlayar agak ke tengah, di mana banyak lampu rambu laut. Kapal kami terbantu kala bertemu perahu penangkap ikan yang dilengkapi banyak petromaks atau lampu sorot listrik. Siapa sangka, tebaran bintang dan kesunyian di tengah laut ternyata mengasyikkan.

Esoknya, hari terakhir dari tiga hari mengunjungi Ujung Kulon, perjalanan dilanjutkan ke Tanjung Lame. Di sana kita bisa bertemu dan mendengar cerita pengalaman para jagawana anggota Rhino Monitoring Protection Unit (RMPU). Kalau berminat, bisa juga bergabung dengan mereka masuk hutan dan secara aktif memantau keberadaan badak. Tentu wisata macam itu tidak gratis.

Perjalanan dimulai dari Cibinua, kampung nelayan di dalam Taman Jaya juga. Di tempat pendaratan perahu nelayan ini tiap pagi nelayan menjual atau melelang hasil tangkapan. Begitu keranjang berisi ikan diangkat dari perahu, seorang juru lelang dihampiri beberapa ibu siap melakukan pelelangan. Kurang dari satu menit, hasil laut berpindah tangan.

Celana digulung

Diantar perahu nelayan, perjalanan ke kapal motor ke Tanjung Lame dimulai. Perjalanan kali ini kagak lame, sekitar 1 jam. Namun, untuk mendarat terpaksa harus dibantu speedboat atau perahu tempel, diteruskan dengan mengarungi air laut selutut! Jadi, paling aman jika kita bersepatu trekking, celana agak digulung, tangan ke atas menyelamatkan kamera dari debur ombak!

Di kantor RMPU terpampang foto-foto badak yang terjepret salah satu dari 30 kamera otomatis (sumbangan WWF sejak 1991) yang ditempatkan di berbagai lokasi di Taman Nasional. Dari yang terjepret ada badak yang tampak bergaya. Di sini kita juga bisa mengetahui bentuk jejak badak yang telah dicetak oleh jagawana RMPU. Sekilas, cetakan itu mirip asbak besar.

Dari hasil penelitian, saat ini populasi badak jawa tinggal 60 ekor. Untuk bisa bertemu dengan makhluk langka itu perlu penantian berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Jagawana saja baru benar-benar berhadapan dengan si kulit tebal setelah 15 tahun bertugas, seperti dialami Suhana dan Sarian tahun 1991. Yang kerap ditemui paling-paling kotoran, air kencing, dan jejaknya.

Tak heran bila disarankan tidak terlalu banyak pengunjung yang ke Ujung Kulon (terutama daerah lintasan badak, yakni sekitar Gunung Honje). Pada dasarnya, binatang penghuni taman nasional itu takut manusia. Mencium bau manusia saja mereka sudah kabur menghindar.

Begitu pula yang terjadi bila kita berisik mengarungi Sungai Cigenter. Muara sungai ini bisa dicapai dengan kapal motor sekitar satu jam dari Tanjung Lame. Lagi-lagi, untuk mencapai muara sungai, mesti dibantu speedboat atau sampan.

Dari muara sungai, kita bisa menyusuri sungai yang berair tenang menuju hulu itu. Namun, kali ini yang berani muncul hanya burung. Itu pun di pohon tinggi yang menjorok jauh ke daratan. Sementara, buaya, ular, dan ikan lenyap entah ke mana.

Meski kecewa karena tidak bersua dengan badak, banteng, atau buaya, tapi melaju di sampan menyusuri hutan alami memberi perasaan tenteram.

Maka tak ada penyesalan ketika pulang dengan celana panjang basah melekat di badan. Perjalanan tiga hari merambah beberapa tempat di Ujung Kulon membuat kita sadar, betapa kaya dan indahnya alam negeri sendiri. Mudah-mudahan semua itu tetap terjaga dan lestari. (Anglingsari SI SK/I Gede Agung Yudana)

Boks 1: Jalan Laut, Jalan Darat

Boks 2: Syarat Masuk Taman Nasional

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej