globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

SATU KELUARGA, BERAGAM SPESIES 

Tidur dengan kera? Mandi sama-sama? Siapa yang mau! Tapi ternyata anggota keluarga Van Merwe dari Namibia melakukannya. Merekalah penyelamat binatang liar yang sakit atau terancam bahaya. Kecintaannya pada hewan-hewan di lingkungannya tak terbayangkan.

Seperti hantu, mereka tiba-tiba muncul dari segala arah. Satu per satu "kucing-kucing raksasa" itu menuju tanah lapang yang dinaungi satu-dua pepohonan. Dalam beberapa menit, terkumpul selusin macan tutul. Lakon perkelahian pun tak terelakkan. Debu beterbangan di bawah cahaya matahari sore.

Di atas panggung kayu di depan kerumunan binatang yang saling cakar itu Petrus (19) berdiri dengan seember makanan. Ia mengambil sepotong kaki kuda dan melemparkannya ke gerombolan macan tutul itu. Sejenak mereka berebut sampai si pemenang menggondol santapannya ke balik semak belukar.

Sekali lagi Petrus melempar potongan daging kuda. Perkelahian kembali terjadi dan seekor pemenang pergi. Terus demikian sampai isi ember kosong dan tempat itu sepi. Hanya sepuluh menit kericuhan berlangsung, setelah itu rombongan pemangsa bubar, kembali ke sarang masing-masing. Di safana Afrika yang lengang tinggal gemeretak kayu terpanggang yang terdengar. Di kejauhan, sayup-sayup teriakan kera terbawa angin.

Macan pengecut

Petrus tidak takut dengan gerombolan macan tadi. "Mereka itu pengecut. Beraninya menerkam dari belakang. Kalau kita dari depannya, mereka mundur," katanya sambil menuruni panggung kayu. Ia menikmati pekerjaannya mengurus binatang.

"Tanpa kami, binatang-binatang itu tak bakal hidup. Soalnya, para peternak sudah lama menembaki mereka," ujarnya sambil mengendarai pick-up menuju pusat sarang macan tutul.

Petrus adalah pengawas Harnas, sebuah peternakan, 310 km timur laut Namibia. Tempat itu luasnya 12.000 Ha terdiri atas padang rumput dan hutan kering, berikut bukit-bukit rayap di Afrika Selatan.

Daerah ini disinari matahari sepanjang tahun. Hujan pun jarang turun. "Harnas artinya tempat berlindung. Di peternakan, kami menjaga binatang buas yang terancam," kata Nick van Merwe (54), kapten "armada penyelamat" itu.

Macan tutul afrika (Acinonyx jubatus), macan Panthera pardus, anjing hutan, hiena, kura-kura, burung nasar, burung unta, singa, kera, serigala, dan landak - setidaknya 280 hewan ada di situ. Semuanya dalam kondisi mengenaskan. Ada yang dianiaya, ada yang disia-sia, ada binatang kaki empat yang patah kaki karena jatuh, atau yang luka kakinya karena tersangkut kawat berduri. Nick pun tak segan menempuh 300 km bolak-balik untuk menolong seekor antelop, meski seringkali harus mengarungi jalan yang jelek. "Saya tidak bisa berbuat lain. Saya mencintai binatang-binatang ini," katanya.

Kerja tujuh hari seminggu

Macan-macan yang dirawat di Harnas kebanyakan korban tembakan atau racun para peternak yang sapi atau dombanya jadi mangsa satwa liar itu. Tapi ada juga dari mereka yang ditangkap peternak besar, lalu diserahkan kepada keluarga van Merwe. Untungnya para peternak kadang terlebih dulu menelepon keluarga penyayang binatang itu daripada meraih senjata mereka. Nick sadar akan itu, karena ia sendiri memiliki sekawanan sapi. Tapi binatang liar yang ditanganinya sekarang merupakan prioritasnya. "Peternakan sapi membiayai cuti saya yang dalam setahun cuma empat hari."

Peternakan menuntut Nick dan keluarganya, yang terdiri atas setengah lusin anggota dan beberapa pekerja untuk bekerja total. Tujuh hari seminggu, 16 jam sehari! Kadang-kadang mereka masih harus keluar pada malam hari kalau ada binatang kabur. Untungnya hal itu sudah jarang terjadi. Beberapa tahun lalu seekor singa yang lari sempat memangsa seekor kambing. Namun secara prinsip orang-orang di Harnas merasa aman.

Setiap pagi pukul 06.00 terdengar bunyi sirene di seluruh rumah, tanda dimulainya jam kerja. Setelah itu terdengar bunyi generator berpadu salak anjing dan teriakan binatang-binatang lain lewat pengeras suara di walkie-talkie.

Pertama-tama Nick mematikan aliran listrik di pagar sepanjang 30 km, lalu melakukan pengontrolan atas segala alangan dengan ditemani Bedford. Sementara itu seorang pekerja menggergaji potongan sapi yang disimpan di lemari es. Lemari es selalu penuh dengan berbagai potongan binatang. Bahkan belakangan ada kiriman daging anjing laut dari pantai yang sengaja dibantai karena jumlahnya sudah berlebihan. Sementara untuk kera atau landak ada sekuali besar biji jagung yang sedang dimasak.

Anjing beranak singa

Marieta, istri Nick, bertanggung jawab atas rumah dan kebun. Di wilayahnya lalu-lalang beberapa binatang, seperti dua anak macan dan seekor anak kera, anjing, hiena, kambing, domba, dan sapi. Sepertinya di sana tak ada aturan. Ada anjing mengejar hiena, sebaliknya seekor hiena mengejar macan tutul, ataupun macan tutul yang menggeram marah pada juru masak.

Sementara itu tampak kera kecil memanjat jendela dapur. Lama-lama ia bisa membuka lemari es, bahkan menyalakan microwave. Kalau botol susunya sudah cukup hangat, ia mematikan alat penghangat makanan itu, mengambil botol susunya, lalu meminumnya. Marieta menyaksikan semua kekacauan itu dengan santai. "Binatang-binatang ini milik saya yang paling berharga," katanya sambil menyusui bayi macan tutul.

Peternakan unik itu bisa juga dikunjungi turis. Sekali datang ada 20 tamu. Beberapa tahun belakangan keluarga van Merwe menyewakan sejumlah penginapan berupa iglo batu, gubuk kayu, atau kemah. Itulah pemasukan utama untuk membiayai keperluan para binatang. Tamu yang datang dari berbagai negara juga bisa menikmati sajian di bar dan berenang di kolam renang. Tentunya mereka juga boleh turut memberi makan binatang dan membelai binatang-binatang yang jinak.

Sungguh liburan yang tak terlupakan, karena yang ditawarkan amat unik. Misalnya Serabi si anjing betina campuran, sering dikira singa betina. Pasalnya, ia membesarkan dengan penuh kasih sayang seekor bayi singa yatim piatu. Kini si singa sudah besar, tapi ia masih menuruti perintah ibu asuhnya.

Pemandangan unik lainnya: kursi roda yang ditaruh di depan kebun. Kursi roda itu milik macan tutul yang lumpuh kaki belakangnya. Sayang, kini kucing raksasa itu sudah mati.

Selain itu ada atraksi burung nasar bernama Arfon. Burung ini bisa membuka tali sepatu para pengunjung. Konon ia ditemukan di sebuah pesawat yang mendarat di Bandara Windhuk. Rupanya, ia diselundupkan dalam kertas karton. Bersama burung-burung lain yang senasib, akhirnya ia dibawa ke Harnas. Ketika telah kuat, mereka dilepas ke alam bebas. Malangnya, Arfon tak bisa terbang jauh. Ia jatuh menukik ke kandang kera. Sudah nasib, ia tetap tinggal di Harnas.

Cincinnya akan disematkan kera

Nick van Merwe pun optimis melihat masa depan peternakannya. Ia masih berharap dapat mengembangkan proyeknya seperti dalam film seri Daktari yang kondang 30 tahun silam. Cita-cita bos Harnas itu mirip dengan dokter di cerita film tersebut, ingin menyelamatkan binatang di Afrika. Ia pun masih ingin mengembangkan wilayah "suaka"-nya dan menjalin hubungan erat dengan rumah sakit hewan di Windhuk. Selain itu, Nick ingin mengembangbiakkan macan tutul, agar jumlahnya yang langka bisa teratasi. Yang jadi pertanyaan, nantinya bisakah ia melepaskan para binatang itu ke alam bebas? Sedangkan, para peternak lain sudah siap-siap mengintai memburunya.

Nick pun tak perlu amat khawatir jika harus berhenti mengurus binatang, karena Marlice, putrinya, pasti meneruskan cita-citanya. Bukan Nico atau Schalk, saudara lelakinya. Nico malah membuka restoran di Windhuk, sementara Schalk berkiprah sebagai pemain rugbi profesional di Kanada.

Marlice tak bisa hidup tanpa binatang-binatang kesayangannya. Si pirang berusia 24 tahun ini seperti Jane dalam film Hollywood. Studi olahraganya di Afrika Selatan dikandaskan karena tak tahan jauh dari rumah. Ia membutuhkan peternakan seperti macan membutuhkan daging. Bagaikan cerita Beauty and the Beast saja! Meski tangan dan kakinya banyak bekas cakaran, ia tetap tergila-gila pada para binatang!

Setiap malam, saat gelap tiba, ia mengajak beberapa ekor anak kera mandi sama-sama di bak mandi. Manusia dan kera bersenang-senang bersama, bermain busa sabun. Setelah itu bayi-bayi kera itu disikat, dihanduki, dan dibuntal kain hangat. Lalu, mereka semua siap tidur malam di samping "tuan putri"!

Desember 2000 Marlice akan menikah. Calonnya, Rudie, seorang dokter umum di Windhuk, namun pernikahan itu pasti akan diselenggarakan di Harnas. Sebuah pesta dengan semua hewan kecintaannya. "Seekor kera akan menyematkan cincin kami," ujarnya. Sungguh pesta yang spektakuler! (Horst Guentheroth/Als)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej