|
|
Bulan November 2000
|
|
Canggihnya Navigasi Burung
Berkat adanya teknik telemetri via satelit, berbagai
hal yang terjadi selama perjalanan panjang burung-burung migrasi antarnegara
dan antarbenua kini bisa terungkap.
Formasi khusus
Diperkirakan, sekitar 50 miliar ekor burung di dunia melakukan migrasi
secara rutin. Rata-rata mereka terbang berkelompok dengan formasi khas.
Jalak afrika dan gelatik terbang dalam kelompok. Burung terik dan merpati
terbang dalam barisan yang lebih panjang dan lebih banyak. Angsa dan burung
jenis lain terbang berurutan membentuk huruf V; yang di ujung depan
bertindak sebagai komandan barisan meski jabatan ini senantiasa dipegang
secara bergantian. Saat aplusan, komandan lama berpindah ke ujung barisan
paling belakang. Pasalnya, tugas terbang paling depan itu sangat menguras
tenaga. Sedangkan yang di belakang bisa menghemat sampai 20%.
Para migran itu terbang dari tempat asalnya ke tempat tujuan untuk
menghindari musim dingin, masing-masing dengan rutenya sendiri. Umumnya,
burung Eropa bermigrasi tidak sampai keluar dari benua. Paling-paling mereka
ke Prancis Barat atau Spanyol untuk menghindari musim dingin. Tapi, yang
lain ada yang terbang terus sampai ke Afrika Utara. Bahkan ada yang sampai
ke daerah dekat khatulistiwa atau Afrika Selatan. Itu pun dilakukan
mengambil rute barat lewat Spanyol dan Gibraltar, atau mengambil rute timur
melewati Balkan dan Asia Kecil. Tidak langsung melintasi L. Tengah, sebagai
rute tersingkat.
Terutama jenis burung besar, biasanya menghindari laut terbuka, karena di
atas laut tidak ada termik - aliran udara panas - yang dapat digunakan
sebagai pendorong terbang mereka.
Pada musim semi sekitar 500 juta burung migran terbang dari tempat berlibur
musim dingin di Afrika, kembali ke Eropa dengan mengambil jalur lewat
Israel. Di antaranya terdapat lebih dari 400.000 ekor bangau putih dan
beberapa jenis elang. Dalam suatu rombongan besar yang panjangnya mencapai
10 km dan lebar beberapa ratus meter, mereka terbang melintasi negara itu.
Banyak di antaranya yang ngetem, bahkan menetap menghabiskan musim
panas di sana.
Alat pemancar dan satelit
Melihat rombongan yang begitu besar, sebenarnya hidup mereka terancam
seperti dialami jenis bangau putih. Perlindungan terhadap jenis bangau ini
sudah dilakukan oleh Lembaga Penelitian Burung Radolfzell (LPBR) dalam
Proyek Bangau Putih.
Untuk keperluan pengamatan, para ilmuwan menggunakan alat telemetri satelit.
Pada punggung burung dipasang sebuah alat pemancar mini seberat 45 g yang
berarus listrik tenaga surya. Pengiriman data dilakukan dengan bantuan
sistem lokalisasi ARGOS. Setiap 60 detik, alat pemancar itu menyiarkan
getaran yang akan ditangkap oleh kedua satelit yang ditempatkan pada
ketinggian 870 km.
Sementara mengorbit, satelit dapat menerima impuls sekitar 10 - 15 menit.
Impuls yang diterima dikirim langsung ke stasiun penerima di Bumi, kemudian
masuk ke salah satu dari dua Pusat Pengolahan Data di Toulouse (Prancis)
atau Landover (AS). Di sini koordinat tempat pemancar di punggung bangau itu
dihitung. Kemudian data itu diolah di komputer di LPBR. Dengan demikian
perjalanan bangau putih selama penerbangan itu bisa diikuti dengan tepat.
Alat pemancar yang ditempelkan pada punggung burung itu berada dalam kantung
kecil dan dipasang demikian rupa sehingga tidak mengalangi gerak binatang
itu. "Begitu dipasang, kantung mini itu langsung 'menghilang' di balik
bulu-bulu punggung, dan burung itu pun sudah bisa terbang bebas seperti
biasa," jelas Prof. Peter Berthold, pimpinan LPBR.
Kini sudah 53 ekor bangau diteliti dengan telemetri satelit. Dalam tahun
1993/1994, burung pertama dari enam yang dibekali pemancar mini bisa diikuti
sampai ke Afrika Selatan dan Zambia saat terbang pulang. Berarti sampai
sejauh 13.000 km! Setahun kemudian para peneliti malah bisa mengikuti seekor
bangau sampai sejauh lebih dari 16.000 km ke Tanzania, dan juga dalam
perjalanannya kembali. Untuk memperoleh gambaran lebih rinci bagaimana
perilaku burung itu selama perjalanan, bangau yang sudah dilengkapi pemancar
itu kadang juga diikuti dengan mobil atau pesawat kecil dan tambahan alat
telemetri Bumi setempat.
Penggunaan teknik telemetri satelit yang baru itu sudah memperlihatkan
hasilnya. Kini para ahli secara terinci bisa membedakan, apakah seekor
burung dalam rute perjalanan pergi atau pulang. Dari sini bisa disimpulkan,
ternyata tidak mudah bagi burung itu menemukan jalan pulang ke "kampung
halamannya". Mereka harus bernavigasi.
Usus dan hati mengecil
Untuk menghindari kelelahan, burung sudah bersiap diri sebelum terbang lama.
Mereka mengkonsumsi sejumlah besar makanan berkadar lemak tinggi sebagai
"bahan bakar". Otot sayapnya juga membesar. Selama terbang, usus
mereka akan mengerut sepertiga dan hatinya mengecil. Selain meringankan
beban tubuh saat terbang, lemak dari organ tubuh yang mengecil itu digunakan
sebagai sumber energi tambahan. Begitu mereka tiba di tempat tujuan, organ
tubuhnya kembali ke bentuk normal.
Kekuatan tubuh burung pengembara ini hebat, tapi lebih hebat lagi kerja
alat-alat inderanya. Tentu saja ini hanya bisa dilihat di laboratorium.
Selama perjalanan jauh, semua burung pengembara mengembangkan apa yang
disebut siaga kembara. Ini juga digunakan walau burung itu berada di
kandang. Kemampuan ini terutama tampak menonjol pada burung yang biasa
terbang malam.
Aktivitas ini menjadi ukuran daya mengembara burung itu. Makin besar daya
itu, makin jauh perjalanan yang dia lakukan. Mengenai waktu yang tepat untuk
beristirahat atau berhenti dan mengakhiri perjalanan, itu menjadi tugas jam
tubuh yang sudah diatur sepanjang hari itu.
Orientasi arah terbang bagi setiap jenis burung juga sudah diprogram di
dalam tubuhnya. Ini dibuktikan dalam eksperimen pakar biologi A.J. Helbig.
Ia menukar prenjak pendeta yang ada di LPBR, yang biasa bermigrasi ke Afrika
Timur atau sekitar Laut Tengah, dan yang memilih arah perjalanan berbeda
(tenggara atau barat daya). Hasilnya, burung yang ditukar itu maunya
langsung terbang ke selatan.
Peralatan navigasi
Untuk bisa dengan mulus sampai di Afrika, mengandalkan orientasi arah saja
belum cukup. Bagaimana kalau teralang gunung tinggi atau ada arus angin yang
berlawanan, misalnya? Ternyata burung memiliki alat navigasi lain yaitu
kompas matahari. Ini "ditemukan" oleh Gustav Kramer, peneliti
burung, pada 1950. Dengan kompas itu burung migran tidak akan kehilangan
arah. Dengan bantuan jam tubuhnya, ia juga bisa memperhitungkan kalau
matahari setiap jam bergerak makin tinggi membuat lengkungan sebesar 15°.
Itu bagi burung yang terbang siang hari. Bagaimana bagi penerbang malam?
Ternyata pada tubuh burung gelatik nila ditemukan kompas lain. Seorang
zoolog AS, S.T. Emlen, berhasil membuktikannya tahun 1967. Saat melesat di
kegelapan malam, burung itu ternyata menggunakan bintang sebagai kompas.
Mereka mengorientasikan diri pada gerak putar keseluruhan bintang di langit.
Di atas khatulistiwa, bintang-bintang tampak bergerak cepat. Tetapi
mendekati kutub, kecepatannya berkurang. Tepat di atas kutub, bintang akan
"berhenti". Burung migrasi mengenal itu sebagai titik perputaran
langit.
Namun, bantuan orientasi terpenting bagi sebagian besar penerbang malam itu
adalah magnet Bumi. Roswitha dan Wolfgang Wiltschko dari Institut Zoologi,
Universitas Frankfurt, belum lama ini berhasil membuktikannya. Di bawah
langit berbintang buatan di laboratorium, mereka menguji perilaku prenjak
kutub dan sikatan dada putih, yang biasa terbang ke arah barat daya. Dalam
serangkaian percobaan, burung-burung ini baru mampu menuju ke barat daya
yang benar, ketika diberi tambahan kesempatan mengorientasikan diri pada
medan magnet Bumi. Bila medan magnet diubah, mereka akan terbang ke selatan.
Sudah lama orang mencari alat indera yang menyimpan kompas medan magnet Bumi
itu. Para biolog dari Frankfurt, Elke Holtkamp-Rotzler dan Gerta Fleissner,
menemukan sejumlah kristal magnetis renik pada kulit sebelah atas dekat
paruh pada jenis burung merpati pos. Kristal magnetis ini berhubungan dengan
otak yang penting peranannya sebagai alat orientasi. Apakah kristal magnetis
itu yang berperan sebagai navigasi, masih belum jelas.
Satu hal yang pasti, kompas magnet para burung itu berbeda fungsi: dia bukan
membedakan utara atau selatan seperti biasanya kompas, melainkan membedakan
"arah kutub" dan "arah khatulistiwa". Untuk itu kompas
milik burung itu akan mencatat sudut inklinasi antara garis medan magnet
dengan permukaan Bumi. Karena sudut ini berada lebih dekat ke garis
khatulistiwa daripada ke kutub, maka burung itu senantiasa bisa tahu dengan
tepat, pada garis lintang utara atau selatan berapa ia berada.
Ketiga kompas ini masing-masing digunakan sesuai kebutuhan. Pada awal
perjalanan, ia bernavigasi dengan kompas matahari atau bintang (tergantung
berangkatnya siang atau malam hari). Lalu untuk orientasi perjalanan jarak
jauh, ia menggunakan kompas magnet.
Namun, bagaimana mereka bisa menemukan kembali dengan tepat tempat asalnya,
hingga saat ini belum ada kesepakatan di kalangan ilmuwan. Ada yang meyakini
kalau burung itu memiliki "peta" topografi di otaknya. Sedangkan
yang lain memperkirakan burung itu berorientasi pada cahaya, tekanan udara,
atau aroma lingkungan daerahnya.
Bahaya yang mengintai
Dengan "peralatan" navigasi, burung-burung migrasi itu benar-benar
sudah dibekali perlengkapan optimal untuk perjalanan jauh. Walau demikian,
pada musim semi sepertiga dari populasi burung itu tidak sampai kembali ke
tempat kelahirannya. Banyak di antaranya yang menjadi korban ketika
menghadapi berbagai bahaya dalam perjalanan panjangnya.
Burung yang ketika berangkat tidak cukup mempersiapkan makanan atau di
perjalanan tidak menemukan tempat istirahat yang cocok, biasanya tewas
kelelahan. Sedangkan burung yang terlambat terbang, di
"stasiun-stasiun" perhentian selama perjalanan, akan kesulitan
mendapatkan makanan karena sudah dilahap habis burung lain yang berangkat
lebih dulu.
Selain itu, di beberapa negara seperti Prancis, Italia, dan Timur Dekat,
burung-burung itu dianggap sebagai objek buruan. Atau dianggap sebagai
sumber makanan seperti di Afrika. Sebagai binatang buruan saja, setiap tahun
sekitar 20 juta ekor bebek di Amerika Utara, Eropa, dan di barat Asia
menjadi korban.
Kabel listrik juga merupakan bahaya yang mematikan bagi burung besar. Juga
industri pertanian atau peternakan dan urbanisasi makin banyak menghancurkan
tempat istirahat dan mencemarkan bahan-bahan makanan mereka. Masalah inilah
yang membuat banyak organisasi dunia mulai memikirkan, mencari, dan
menetapkan tempat baru bagi burung-burung migrasi.
Israel banyak didatangi berbagai rombongan burung yang bersaing dengan
pesawat militer negeri itu. Tak jarang terjadi tabrakan antara pesawat
militer dan konvoi burung yang efek benturannya mirip bunyi ledakan senjata.
Namun, dengan mempelajari ketinggian dan jalur terbang burung itu pakar
burung Yossi Leshem menemukan, mereka hanya melewati jalur udara tertentu
yang bisa dihindari lalu lintas pesawat.
Kaum burung itu, entah jenis migran atau nonmigran, sebenarnya dikenal
sebagai setengah kembara. Yaitu hanya sebagian dari populasi mereka yang
bermigrasi, sedangkan yang lain melewati musim dingin di tempat asalnya.
Termasuk kelompok ini adalah burung anis kuning, robin, kenari, dan gelatik
batu.
Apakah mereka kemudian secara turun-temurun menjadi jenis nonmigran atau
migran, tergantung pada keadaan telur ketika dibentuk. Rupanya, ini strategi
evolusi yang cerdik untuk mengamankan suatu keturunan: bila dalam suatu
musim dingin hebat, banyak telur tidak menetas sampai kelangsungan hidup
burung nonmigran berkurang banyak atau malah habis sama sekali. Namun, jenis
yang bermigrasi masih tetap hidup.
Percobaan silang sudah menunjukkan, bagaimana cepatnya sifat genetis burung
itu bisa berubah: yaitu dari sekelompok populasi jenis prenjak pendeta yang
tidak termasuk dalam kedua kelompok tadi (migran atau nonmigran), dalam 3 -
6 generasi sudah bisa ditentukan dengan jelas, mana yang akan jadi nonmigran
dan mana yang migran.
Mengapa ke Inggris?
Beberapa tahun lalu, pada jenis burung yang sama yang sedang berada di bawah
pengawasan pengamat burung, terlihat ada perubahan. Di musim gugur, kelompok
prenjak pendeta itu tampak selalu terbang ke arah barat laut, ke arah
Irlandia, Inggris, bukannya ke arah barat daya, ke Spanyol, seperti
biasanya. Seakan mereka membuka rute terbang baru ke arah Inggris.
Apakah "perubahan" arah ini memang bawaan dari lahir? Untuk
memperoleh jawabannya, para peneliti burung di Radolfzell menangkap 40 ekor
prenjak pendeta di Inggris, memindahkannya ke Bodensee, dan menahan beberapa
pasang dalam kurungan. Pada musim semi, mereka sudah mempunyai keturunan
yang sudah menunjukkan arah terbang ke Inggris seperti induknya. Ini
merupakan bukti bahwa "pergantian arah" itu diatur secara genetis.
Para peneliti penasaran untuk mencari tahu apa penyebab evolusi di sini.
Perubahan genetis yang kebetulan dapat berkembang menjadi pencarian
"rute terbang baru" itu bukan hanya karena musim dingin yang tidak
terlalu hebat di Inggris.
"Penyebab yang pasti adalah adanya gerakan nasional yang muncul di
Inggris pada akhir Perang Dunia II. Di sana waktu itu ada kebiasaan memasang
'meja burung', berupa rumah kecil tempat menaruh makanan burung, yang biasa
dipasang di halaman depan. Ini memberi burung suatu kehidupan seperti di
dunia impian," kata Peter Berthold.
Walaupun ada kemampuan menyesuaikan diri yang mengagumkan itu, tetap saja
70% dari mereka terancam kematian. Ini akibat ulah manusia terhadap alam
sekeliling, yang terjadi lebih cepat daripada antisipasi mekanisme genetis
kaum burung itu. Burung pengembaralah yang terkena dampak paling kuat. Di
samping membutuhkan daerah pengeraman, mereka juga butuh tempat istirahat
dan tempat bermigrasi yang cocok. Lenyapnya mereka merupakan tolok ukur yang
penting bagi keadaan lingkungan.
Kaum burung jauh lebih peka daripada kita. Kalau mereka melakukan pengeraman
lebih awal dan memilih rute perjalanan atau daerah migrasi baru, sebenarnya
kita sudah harus curiga. Ada sesuatu. Kita memang harus lebih peka
"mendengarkan" mereka. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||