|
|
Bulan November 2000
|
|
KISAH SUKSES SYDNEY 2000
Kota Sydney berhasil menyelenggarakan olimpiade dan paralimpiade terbesar
sepanjang sejarah. Tapi semangat rekonsiliasi dengan warga asli Australia
diragukan akan terwujud, seperti halnya kekhawatiran akan lesunya
perekonomian setelah peristiwa itu, ibarat orang yang menderita seusai
pesta.
Keberhasilan berikut adalah mengkristalnya masyarakat olahraga Australia,
yang mewarisi kompleks olahraga senilai Aus$ 3 miliar (hampir Rp 15 triliun
menurut kurs rata-rata tahun 2000). Kegairahan pun dicapai karena pada hasil
akhir tuan rumah menduduki peringkat keempat setelah AS, Rusia, dan Cina
dengan citra positif.
Tak banyak papan iklan
Sukses secara ekonomis? Tak diragukan lagi. Prediksi biro konsultasi Arthur
Andersen dan The Center for Regional Economic Analysis, yang dipublikasi
sebelum olimpiade dimulai, terbukti. Olimpiade diprakirakan akan memompa
perekononomian Australia dengan perolehan Aus$ 6,5 miliar sampai tahun 2006.
Dalam periode 1997 - 2004 1,6 juta turis berdatangan, membelanjakan sekitar
Aus$ 6,1 miliar. Jumlah kamar hotel dan fasilitas penginapan naik 40% sejak
1996, dan selama olimpiade tercipta lapangan kerja baru bagi 100.000 orang.
Sepuluh hari setelah Olimpiade XXVII berlangsung, Tim Harcourt, ekonom pada
Komisi Perdagangan Australia, menyampaikan perhitungannya. Dalam keseluruhan
16 hari penyelenggaraan olimpiade - tidak termasuk 11 hari saat Paralimpiade
- Sydney didatangi 130.000 turis, dan mereka akan membelanjakan uang sebesar
Aus$ 600 juta. Bagi panitia penyelenggara, uang yang akan menggerojok kas
tak kurang dari Aus$ 5,7 miliar, terdiri atas Aus$ 1 miliar pembelian hak
siar dan Aus$ 4,7 miliar dana sponsor. Yang agak mencengangkan, kata
Harcourt, adalah nilai peredaran uang dalam penjualan cindera mata resmi
yang mencapai Aus$ 50 juta (sekitar AS$ 30 juta). Angka ini tiga kali lipat
perolehan dari sektor yang sama pada Olimpiade Atlanta 1996. Apalagi jika
semua program dan produk berlisensi Sydney 2000 sejak 1997 dihitung juga,
nilainya fantastis: Aus$ 420 juta.
Tentu ada pula keuntungan bagi banyak pihak. Misalnya biaya sewa gelanggang
dan penginapan, termasuk keamanan dan sarana kesehatan, yang diterima
pemerintah New South Wales sebesar Aus$ 405 juta. Komite Olimpiade Australia
pun memperoleh Aus$ 79 juta dari penjualan hak pemasaran. Itu pun belum
termasuk Aus$ 18 juta bagi Sydney Paralympic Games Organising Committee.
Banyak pihak lain yang juga memperoleh keuntungan, baik langsung maupun tak
langsung. Misalnya pembiayaan transpor dan akomodasi kepada semua kontingen
yang patut dicatat sebagai semangat mengembalikan keuntungan kepada
olahraga. Ini merupakan preseden positif sekaligus koreksi manis atas
Olimpiade Los Angeles 1984 yang sukses namun dicibir karena terlalu
komersial, Olimpiade Seoul 1988 yang menyisihkan keuntungan bagi pembiayaan
beberapa negara yang tidak mampu, serta Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta
1996 yang sama polanya.
Yang sangat menonjol selama Sydney 2000 adalah kerapian mengelola sponsor.
Di setiap gelanggang, halaman, bahkan seputar kompleks olahraga di Homebush
Bay, sekitar 14 km sebelah barat pusat Kota Sydney, tak banyak ditemui papan
merek, poster, atau umbul-umbul iklan produk. Padahal komite melibatkan
sekitar 27 sponsor utama, 19 sponsor pendukung, 42 lembaga penyedia sarana
panitia, serta 23 produk penyedia peralatan olahraga. Kalaupun ada papan
merek atau tanda produk, tidaklah banyak dan tempatnya khusus. Ini
menyiratkan betapa eksklusifnya kontrak sponsor - dan tentu saja mahal
harganya. Sampai-sampai perusahaan sebesar Good Year, yang berpromosi
menerbangkan balon udara sekaligus menjadi salah satu sudut pangambilan
gambar televisi, dilarang mencantumkan nama - dan memelesetkannya dengan
"G'Day" dan "Good Luck" - karena pabrik ban itu bukanlah
sponsor.
Olimpiade ramah lingkungan
Tekad penyelenggara untuk mewujudkan "Olimpiade Hijau", ternyata
juga berbuah keberhasilan. Lahan seluas 760 ha di Homebush Bay, yang kini
disulap menjadi Millenium Park Land - yang sebagian besar dijadikan Olympic
Park dan Olympic Village - semula adalah rawa dan daerah buangan limbah
industri. Jauh masa sebelumnya, setelah dihuni orang Eropa pertama bernama
John Boxland pada 1807, dalam kurun 1841 - 1859 menjadi arena utama pacuan
kuda Australia. Pemrakarsanya adalah William Wentworth. Ia mewarisi lahan
seluas 150 ha dari ayahnya, D'Arcy Wentworth, terpidana karena empat kali
perampokan di Irlandia, yang mendarat di Sydney pada 1827 setelah ikut kapal
pengangkut tahanan asal Inggris Raya. Menurut Tom Keneally, pengarang novel Schindler's
Ark (difilmkan Steven Spielberg pada 1993 dengan judul Schindler's
List), The Chant of Jimmy Blacksmith, The Great Shame
(1999), dll, tempat yang semula disebut "The Flats" dan
"Liberty Plains" itu kemudian dinamakan Homebush karena Wentworth
acap menyebutnya "A home in the bush".
Ketika kemudian telantar, hanya sedikit pihak yang memanfaatkan kawasan itu,
termasuk pembuat film Mad Max 3: Beyond Thunderdome (1985) yang
dibintangi Mel Gibson dan Tina Turner. Selebihnya adalah limbah yang
sebagian beracun dan sampah yang terbawa S. Parramatta.
Setelah Sydney memenangkan pencalonan jadi tuan rumah Olimpiade XXVII, 23
September 1993, pemerintah Negara Bagian New South Wales bertekad mengubah
Homebush jadi kawasan olahraga dan wisata. Selain padang rumput, ditanam
pula 100.000 pohon. Dibangun pelbagai gelanggang dan fasilitas. Monumennya
adalah Stadium Australia senilai Aus$ 690 juta dengan 110.000 tempat duduk
(kalau semua kursi disusun berjajar mencapai panjang 55 km), walau seusai
Sydney 2000 dikurangi menjadi 80.000 saja. Ketika stadion utama itu
dibangun, tak kurang dari 550.000 m3 tanah dikeruk. Isinya aneka
macam limbah, termasuk lusinan mobil yang beberapa masih baru karena sengaja
dibuang pemiliknya demi santunan asuransi.
Air hujan dari atap stadion dialirkan menuju tangki penampungan agar bisa
digunakan untuk menyirami lapangan. Di Olympic Village dibangun 665 rumah
yang dilengkapi pembangkit tenaga surya untuk penerangan dan pemanas air,
akan mengurangi emisi gas rumah kaca setara 7.000 ton/tahun.
Selama Sydney 2000 semua bus yang mengitari kompleks Olympic Park
menggunakan bahan bakar gas. Di banyak tempat juga disediakan tempat sampah
dengan tiga kategori: gelas/kaleng/plastik dan kertas yang bisa didaur
ulang, serta makanan. Sisa makanan dari sekitar 200.000 pengunjung/hari
(tapi pada 23 September 2000 mencapai 400.000 orang) diolah menjadi kompos.
Disiapkan pula 400.000 cacing jenis merah dan tiger yang dalam sehari
sanggup makan 3/4 berat badannya.
Perempuan dan penduduk asli
Sydney 2000 memang dibebani banyak misi dan ambisi. Kehendak untuk memberi
tempat istimewa kepada perempuan, misalnya, menjadi simbol peringatan 100
tahun keterlibatan perempuan dalam olimpiade. Maka dipilihlah tujuh
perempuan atlet dan bekas atlet pembawa terakhir obor olimpiade menjelang
pembukaan: Betty Cuthbert yang berkursi roda didorong oleh Raene Boyle, Dawn
Fraser, Shirley Strickland, Shane Gould, Debbie Flintoff-King, dan Cathy
Freeman yang menyulut api di kaldron senilai Aus$ 10 juta, bergaris tengah
10 m, dan berat 8 ton.
Penunjukan atlet Aborigin Cathy Freeman (27) - peraih medali perak lari 400
m Olimpiade Atlanta 1996 (dan emas di Sydney 2000), juara dunia 1997 dan
1999, serta Grand Prix di Lausanne Juli 2000 - dianggap puncak dari semangat
rekonsiliasi antara warga kulit putih dan penduduk asli Australia, suku
Aborigin dan warga P. Torres Strait (Torres Strait Islanders). Betapa
semangat itu terasa sejak api pertama kali sampai di bumi Australia di Taman
Nasional Uluru-Kata Tjuta, Northern Teritory, pada 8 Juni 2000. Pembawa obor
pertama dari rangkaian Torch Relay selama 100 hari, menempuh jarak
26.000 km berkeliling negara berpenduduk 19 juta jiwa yang tersebar dalam
delapan negara bagian, melalui 1.000 kota dan kawasan permukiman, itu adalah
atlet Aborigin Nova Peris-Kneebone (29), pelari dan anggota tim hoki
Australia yang merebut emas Olimpiade Atlanta 1996. Obor olimpiade diawali
oleh atlet Aborigin dan diakhiri atlet Aborigin pula.
Kendati banyak orang tidak setuju pada pemilihan Freeman - antara lain
tampak pada survai harian The Daily Telegraph 19 September 2000 yang
mendapati 71% suara tidak setuju dan 29% setuju dari 718 responden -
keseluruhan acara Sydney 2000 memberi penghargaan tinggi kepada warga asli
Australia.
Peristiwa yang diakui sebagai perhelatan terbesar sepanjang sejarah
Australia itu melibatkan sekitar 130.000 pekerja, baik penuh waktu maupun
paruh waktu, dan 46.000 di antaranya relawan (untuk Paralimpiade dilibatkan
15.000 relawan). Tim inti yang beranggotakan 2.413 orang telah bekerja
selama 6 tahun dalam beberapa wadah: Sydney Organizing Committee of the
Olympic Games (SOCOG) yang dipimpin menteri olimpiade, Olympic Co-ordination
Authority, Olympic Road and Transport Authority (ORTA), serta Olympic
Security Command Centre/Olympic Intelligence Centre.
Ada catatan tersendiri mengenai ORTA yang embrionya telah terbentuk pada
1991. Badan ini tumbuh dari kesemrawutan disertai beberapa kali kasus kereta
api terperosok ke luar rel sampai keberhasilan. Mengelola stasiun megah di
dalam kompleks Olympic Park, menjamin daya angkut kereta api sampai 80.000
penumpang/jam, menyediakan puluhan bus, tempat parkir, serta menarik
produsen mobil Holden untuk menyediakan 800 sedan baru bagi mobilitas atlet
dan ofisial. Sampai olimpiade berakhir, jumlah total pengunjung arena
olimpiade mencapai 5 juta orang tanpa persoalan berarti.
Setara telepon nonstop 20 minggu
Kalau kita di sini bisa menyaksikan sebagian liputan televisi, itu salah
satu dari pemancarluasan gambar ke 220 negara (di Atlanta 1996 214 negara,
dan Barcelona 1992 193 negara) hasil kerja tim stasiun televisi Channel 7 di
bawah koordinasi Sydney Olympic Broadcasting Organization (SOBO) yang
mempekerjakan 3.500 orang, 200 di antaranya bekerja penuh waktu. Meliput 300
peristiwa dalam 3.200 jam tayangan langsung, mengoperasikan 780 kamera, 400
perangkat video tape, dan bekerja sama dengan 180 organisasi penyiaran di
seluruh dunia.
Anda yang mengikuti perkembangan berita melalui Internet pun ikut serta
menciptakan angka. Misalnya situs www.gamesinfo.com diklik lebih dari
sejuta kali/hari. Sedangkan www.olympics.com menjadi tujuan utama
pengakses Internet dari seluruh dunia dengan diklik 11 miliar kali sepanjang
16 hari pekan olahraga itu.
Selain keseluruhan program dinilai amat berhasil, kemegahan upacara
penutupan yang dirangkai dengan pesta kembang api, 1 Oktober lalu, masih
dikenang orang. Namun sebagai rekor, upacara pembukaan tanggal 15 September
tetap paling tinggi dalam sejarah tontonan Australia. Channel 7, pemegang
hak siar hingga Olimpiade 2008, pada 16 September mengumumkan, upacara
pembukaan disaksikan oleh 10,4 juta pemirsa televisi Australia - angka
tertinggi dalam sejarah pertelevisian negara itu. Dalam skala dunia pun
merupakan rekor, disaksikan oleh 3,5 miliar pemirsa. Sementara di wilayah
Sydney dan pinggiran ditonton oleh 72% penduduk. Itu tidak termasuk
kerumunan orang di depan televisi layar besar yang tersebar di beberapa
bagian kota, yang jumlahnya mencapai sejuta orang.
Perusahaan telekomunikasi Telstra mencatat 125.000 kali telepon dari stadion
utama saat pembukaan itu. Jika dihitung keseluruhan, billing atau
nilai tagihan yang tercipta setara lima bulan perolehan perusahaan itu dari
para pengguna telepon selular. Sementara di seluruh kompleks Olympic Park
Telstra merekam setengah juta pembicaraan telepon, yang kalau waktunya
dijumlah mencapai 200.000 menit alias hampir 20 minggu pembicaraan nonstop.
Kerja keras mengelola perekonomian
Adakah kegagalan di antara sangat banyak keberhasilan? Mungkin ya bagi orang
Australia. Suara sinis soal segala yang serba dibisniskan selama olimpiade
acap terdengar. Juga makian para pengemudi di Sydney karena banyak jalan
ditutup. Kalau barang dan jasa dikeluhkan karena naik harganya, itu akibat
pemberlakuan pajak barang dan jasa (GST, goods and service tax) sejak
Juli 2000, dan tidak sepenuhnya karena olimpiade. Ada pula keluhan soal
harga BBM yang merangkak naik, mengharuskan pemerintah bekerja keras menahan
agar harga bensin super tak sampai Aus$ 1. Kerja yang sama kerasnya juga
terlihat dalam upaya meredam nilai tukar Aus$ yang selama olimpiade terpuruk
sampai mendekati Aus$ 1,8 untuk AS$ 1, sementara dalam kondisi normal tak
lebih dari Aus$ 1,5 - 1,6 setiap AS$ 1.
Tak sedikit orang yang khawatir akan lesunya dunia usaha seusai acara itu.
Sekolah dan banyak perusahaan libur pada seminggu awal pelaksanaan Sydney
2000, jelas menghentikan sebagian roda perekonomian.
Ada lagi kekhawatiran lain, yaitu perhatian kepada warga Aborigin dan Torres
Strait Islanders sekadar kosmetik belaka. "Kita akan kembali
terbelakang setelah Games usai," kata penulis Ruby Langford
Girimbi yang orang Aborigin.
Orang hanya berharap, semoga kekhawatiran itu tak sampai terwujud benar.
Sebab semangat rekonsiliasi rasanya bukan basa-basi. Paling tidak ucapan
Olivia Newton-John saat menyanyi pada upacara pembukaan - yang dimeriahkan
oleh 12.697 pengisi acara dan 4.600 kru pendukung, dalam tata lampu dan
suara sebesar 3,3 juta watts - menjadi cermin dari semua orang Australia
beserta semangatnya, "Anda datang dengan aneka keinginan dan tujuan,
kami menyambut dengan ketulusan. Nikmatilah kegembiraan di salah satu kota
di dunia yang paling penuh persahabatan. Salam dari kami, salah satu bangsa
yang paling penuh persahabatan, Aussies."
Bagi orang Australia, dan penduduk Sydney pada umumnya, persahabatan
mestinya bukan hal yang sulit untuk diwujudkan. Betapa dalam keseharian,
empat juta penduduk metropolitan seluas 2.000 km2 itu saling
bergaul dan berdampingan dalam komposisi 160 suku bangsa yang berbeda.
Akhirnya, selain membuktikan diri berhasil melangsungkan olimpiade terbesar
dan termegah sepanjang sejarah, Sydney juga berhasil mewujudkan semangat
persahabatan, mengalahkan aneka perbedaan. Entah kapan salah satu kota di
negara kita mengikuti jejaknya sebagai penyelenggara.(SL) |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||