globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

KISAH SUKSES SYDNEY 2000

Kota Sydney berhasil menyelenggarakan olimpiade dan paralimpiade terbesar sepanjang sejarah. Tapi semangat rekonsiliasi dengan warga asli Australia diragukan akan terwujud, seperti halnya kekhawatiran akan lesunya perekonomian setelah peristiwa itu, ibarat orang yang menderita seusai pesta.

Decak kagum belum hilang selepas Sydney menggelar Olimpiade XVII (15 September - 1 Oktober) dan Paralimpiade (18 - 29 Oktober). Sukses dalam penyelengaraan, antara lain dikatakan Presiden Komite Olimpiade Internasional Juan Antonio Samaranch sebagai olimpiade paling megah sepanjang masa jabatannya. Sukses menggalang lebih dari 15.000 atlet dan ofisial dari 200 negara (termasuk Australia) dalam 28 cabang olahraga yang merupakan jumlah terbanyak sepanjang sejarah olimpiade. Juga paling besar untuk ukuran paralimpiade, yakni hampir 6.000 atlet dan ofisial dari 125 negara, bertarung dalam 18 cabang olahraga.

Keberhasilan berikut adalah mengkristalnya masyarakat olahraga Australia, yang mewarisi kompleks olahraga senilai Aus$ 3 miliar (hampir Rp 15 triliun menurut kurs rata-rata tahun 2000). Kegairahan pun dicapai karena pada hasil akhir tuan rumah menduduki peringkat keempat setelah AS, Rusia, dan Cina dengan citra positif.

Tak banyak papan iklan

Sukses secara ekonomis? Tak diragukan lagi. Prediksi biro konsultasi Arthur Andersen dan The Center for Regional Economic Analysis, yang dipublikasi sebelum olimpiade dimulai, terbukti. Olimpiade diprakirakan akan memompa perekononomian Australia dengan perolehan Aus$ 6,5 miliar sampai tahun 2006. Dalam periode 1997 - 2004 1,6 juta turis berdatangan, membelanjakan sekitar Aus$ 6,1 miliar. Jumlah kamar hotel dan fasilitas penginapan naik 40% sejak 1996, dan selama olimpiade tercipta lapangan kerja baru bagi 100.000 orang.

Sepuluh hari setelah Olimpiade XXVII berlangsung, Tim Harcourt, ekonom pada Komisi Perdagangan Australia, menyampaikan perhitungannya. Dalam keseluruhan 16 hari penyelenggaraan olimpiade - tidak termasuk 11 hari saat Paralimpiade - Sydney didatangi 130.000 turis, dan mereka akan membelanjakan uang sebesar Aus$ 600 juta. Bagi panitia penyelenggara, uang yang akan menggerojok kas tak kurang dari Aus$ 5,7 miliar, terdiri atas Aus$ 1 miliar pembelian hak siar dan Aus$ 4,7 miliar dana sponsor. Yang agak mencengangkan, kata Harcourt, adalah nilai peredaran uang dalam penjualan cindera mata resmi yang mencapai Aus$ 50 juta (sekitar AS$ 30 juta). Angka ini tiga kali lipat perolehan dari sektor yang sama pada Olimpiade Atlanta 1996. Apalagi jika semua program dan produk berlisensi Sydney 2000 sejak 1997 dihitung juga, nilainya fantastis: Aus$ 420 juta.

Tentu ada pula keuntungan bagi banyak pihak. Misalnya biaya sewa gelanggang dan penginapan, termasuk keamanan dan sarana kesehatan, yang diterima pemerintah New South Wales sebesar Aus$ 405 juta. Komite Olimpiade Australia pun memperoleh Aus$ 79 juta dari penjualan hak pemasaran. Itu pun belum termasuk Aus$ 18 juta bagi Sydney Paralympic Games Organising Committee.

Banyak pihak lain yang juga memperoleh keuntungan, baik langsung maupun tak langsung. Misalnya pembiayaan transpor dan akomodasi kepada semua kontingen yang patut dicatat sebagai semangat mengembalikan keuntungan kepada olahraga. Ini merupakan preseden positif sekaligus koreksi manis atas Olimpiade Los Angeles 1984 yang sukses namun dicibir karena terlalu komersial, Olimpiade Seoul 1988 yang menyisihkan keuntungan bagi pembiayaan beberapa negara yang tidak mampu, serta Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta 1996 yang sama polanya.

Yang sangat menonjol selama Sydney 2000 adalah kerapian mengelola sponsor. Di setiap gelanggang, halaman, bahkan seputar kompleks olahraga di Homebush Bay, sekitar 14 km sebelah barat pusat Kota Sydney, tak banyak ditemui papan merek, poster, atau umbul-umbul iklan produk. Padahal komite melibatkan sekitar 27 sponsor utama, 19 sponsor pendukung, 42 lembaga penyedia sarana panitia, serta 23 produk penyedia peralatan olahraga. Kalaupun ada papan merek atau tanda produk, tidaklah banyak dan tempatnya khusus. Ini menyiratkan betapa eksklusifnya kontrak sponsor - dan tentu saja mahal harganya. Sampai-sampai perusahaan sebesar Good Year, yang berpromosi menerbangkan balon udara sekaligus menjadi salah satu sudut pangambilan gambar televisi, dilarang mencantumkan nama - dan memelesetkannya dengan "G'Day" dan "Good Luck" - karena pabrik ban itu bukanlah sponsor.

Olimpiade ramah lingkungan

Tekad penyelenggara untuk mewujudkan "Olimpiade Hijau", ternyata juga berbuah keberhasilan. Lahan seluas 760 ha di Homebush Bay, yang kini disulap menjadi Millenium Park Land - yang sebagian besar dijadikan Olympic Park dan Olympic Village - semula adalah rawa dan daerah buangan limbah industri. Jauh masa sebelumnya, setelah dihuni orang Eropa pertama bernama John Boxland pada 1807, dalam kurun 1841 - 1859 menjadi arena utama pacuan kuda Australia. Pemrakarsanya adalah William Wentworth. Ia mewarisi lahan seluas 150 ha dari ayahnya, D'Arcy Wentworth, terpidana karena empat kali perampokan di Irlandia, yang mendarat di Sydney pada 1827 setelah ikut kapal pengangkut tahanan asal Inggris Raya. Menurut Tom Keneally, pengarang novel Schindler's Ark (difilmkan Steven Spielberg pada 1993 dengan judul Schindler's List), The Chant of Jimmy Blacksmith, The Great Shame (1999), dll, tempat yang semula disebut "The Flats" dan "Liberty Plains" itu kemudian dinamakan Homebush karena Wentworth acap menyebutnya "A home in the bush".

Ketika kemudian telantar, hanya sedikit pihak yang memanfaatkan kawasan itu, termasuk pembuat film Mad Max 3: Beyond Thunderdome (1985) yang dibintangi Mel Gibson dan Tina Turner. Selebihnya adalah limbah yang sebagian beracun dan sampah yang terbawa S. Parramatta.

Setelah Sydney memenangkan pencalonan jadi tuan rumah Olimpiade XXVII, 23 September 1993, pemerintah Negara Bagian New South Wales bertekad mengubah Homebush jadi kawasan olahraga dan wisata. Selain padang rumput, ditanam pula 100.000 pohon. Dibangun pelbagai gelanggang dan fasilitas. Monumennya adalah Stadium Australia senilai Aus$ 690 juta dengan 110.000 tempat duduk (kalau semua kursi disusun berjajar mencapai panjang 55 km), walau seusai Sydney 2000 dikurangi menjadi 80.000 saja. Ketika stadion utama itu dibangun, tak kurang dari 550.000 m3 tanah dikeruk. Isinya aneka macam limbah, termasuk lusinan mobil yang beberapa masih baru karena sengaja dibuang pemiliknya demi santunan asuransi.

Air hujan dari atap stadion dialirkan menuju tangki penampungan agar bisa digunakan untuk menyirami lapangan. Di Olympic Village dibangun 665 rumah yang dilengkapi pembangkit tenaga surya untuk penerangan dan pemanas air, akan mengurangi emisi gas rumah kaca setara 7.000 ton/tahun.

Selama Sydney 2000 semua bus yang mengitari kompleks Olympic Park menggunakan bahan bakar gas. Di banyak tempat juga disediakan tempat sampah dengan tiga kategori: gelas/kaleng/plastik dan kertas yang bisa didaur ulang, serta makanan. Sisa makanan dari sekitar 200.000 pengunjung/hari (tapi pada 23 September 2000 mencapai 400.000 orang) diolah menjadi kompos. Disiapkan pula 400.000 cacing jenis merah dan tiger yang dalam sehari sanggup makan 3/4 berat badannya.

Perempuan dan penduduk asli

Sydney 2000 memang dibebani banyak misi dan ambisi. Kehendak untuk memberi tempat istimewa kepada perempuan, misalnya, menjadi simbol peringatan 100 tahun keterlibatan perempuan dalam olimpiade. Maka dipilihlah tujuh perempuan atlet dan bekas atlet pembawa terakhir obor olimpiade menjelang pembukaan: Betty Cuthbert yang berkursi roda didorong oleh Raene Boyle, Dawn Fraser, Shirley Strickland, Shane Gould, Debbie Flintoff-King, dan Cathy Freeman yang menyulut api di kaldron senilai Aus$ 10 juta, bergaris tengah 10 m, dan berat 8 ton.

Penunjukan atlet Aborigin Cathy Freeman (27) - peraih medali perak lari 400 m Olimpiade Atlanta 1996 (dan emas di Sydney 2000), juara dunia 1997 dan 1999, serta Grand Prix di Lausanne Juli 2000 - dianggap puncak dari semangat rekonsiliasi antara warga kulit putih dan penduduk asli Australia, suku Aborigin dan warga P. Torres Strait (Torres Strait Islanders). Betapa semangat itu terasa sejak api pertama kali sampai di bumi Australia di Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, Northern Teritory, pada 8 Juni 2000. Pembawa obor pertama dari rangkaian Torch Relay selama 100 hari, menempuh jarak 26.000 km berkeliling negara berpenduduk 19 juta jiwa yang tersebar dalam delapan negara bagian, melalui 1.000 kota dan kawasan permukiman, itu adalah atlet Aborigin Nova Peris-Kneebone (29), pelari dan anggota tim hoki Australia yang merebut emas Olimpiade Atlanta 1996. Obor olimpiade diawali oleh atlet Aborigin dan diakhiri atlet Aborigin pula.

Kendati banyak orang tidak setuju pada pemilihan Freeman - antara lain tampak pada survai harian The Daily Telegraph 19 September 2000 yang mendapati 71% suara tidak setuju dan 29% setuju dari 718 responden - keseluruhan acara Sydney 2000 memberi penghargaan tinggi kepada warga asli Australia.

Peristiwa yang diakui sebagai perhelatan terbesar sepanjang sejarah Australia itu melibatkan sekitar 130.000 pekerja, baik penuh waktu maupun paruh waktu, dan 46.000 di antaranya relawan (untuk Paralimpiade dilibatkan 15.000 relawan). Tim inti yang beranggotakan 2.413 orang telah bekerja selama 6 tahun dalam beberapa wadah: Sydney Organizing Committee of the Olympic Games (SOCOG) yang dipimpin menteri olimpiade, Olympic Co-ordination Authority, Olympic Road and Transport Authority (ORTA), serta Olympic Security Command Centre/Olympic Intelligence Centre.

Ada catatan tersendiri mengenai ORTA yang embrionya telah terbentuk pada 1991. Badan ini tumbuh dari kesemrawutan disertai beberapa kali kasus kereta api terperosok ke luar rel sampai keberhasilan. Mengelola stasiun megah di dalam kompleks Olympic Park, menjamin daya angkut kereta api sampai 80.000 penumpang/jam, menyediakan puluhan bus, tempat parkir, serta menarik produsen mobil Holden untuk menyediakan 800 sedan baru bagi mobilitas atlet dan ofisial. Sampai olimpiade berakhir, jumlah total pengunjung arena olimpiade mencapai 5 juta orang tanpa persoalan berarti.

Setara telepon nonstop 20 minggu

Kalau kita di sini bisa menyaksikan sebagian liputan televisi, itu salah satu dari pemancarluasan gambar ke 220 negara (di Atlanta 1996 214 negara, dan Barcelona 1992 193 negara) hasil kerja tim stasiun televisi Channel 7 di bawah koordinasi Sydney Olympic Broadcasting Organization (SOBO) yang mempekerjakan 3.500 orang, 200 di antaranya bekerja penuh waktu. Meliput 300 peristiwa dalam 3.200 jam tayangan langsung, mengoperasikan 780 kamera, 400 perangkat video tape, dan bekerja sama dengan 180 organisasi penyiaran di seluruh dunia.

Anda yang mengikuti perkembangan berita melalui Internet pun ikut serta menciptakan angka. Misalnya situs www.gamesinfo.com diklik lebih dari sejuta kali/hari. Sedangkan www.olympics.com menjadi tujuan utama pengakses Internet dari seluruh dunia dengan diklik 11 miliar kali sepanjang 16 hari pekan olahraga itu.

Selain keseluruhan program dinilai amat berhasil, kemegahan upacara penutupan yang dirangkai dengan pesta kembang api, 1 Oktober lalu, masih dikenang orang. Namun sebagai rekor, upacara pembukaan tanggal 15 September tetap paling tinggi dalam sejarah tontonan Australia. Channel 7, pemegang hak siar hingga Olimpiade 2008, pada 16 September mengumumkan, upacara pembukaan disaksikan oleh 10,4 juta pemirsa televisi Australia - angka tertinggi dalam sejarah pertelevisian negara itu. Dalam skala dunia pun merupakan rekor, disaksikan oleh 3,5 miliar pemirsa. Sementara di wilayah Sydney dan pinggiran ditonton oleh 72% penduduk. Itu tidak termasuk kerumunan orang di depan televisi layar besar yang tersebar di beberapa bagian kota, yang jumlahnya mencapai sejuta orang.

Perusahaan telekomunikasi Telstra mencatat 125.000 kali telepon dari stadion utama saat pembukaan itu. Jika dihitung keseluruhan, billing atau nilai tagihan yang tercipta setara lima bulan perolehan perusahaan itu dari para pengguna telepon selular. Sementara di seluruh kompleks Olympic Park Telstra merekam setengah juta pembicaraan telepon, yang kalau waktunya dijumlah mencapai 200.000 menit alias hampir 20 minggu pembicaraan nonstop.

Kerja keras mengelola perekonomian

Adakah kegagalan di antara sangat banyak keberhasilan? Mungkin ya bagi orang Australia. Suara sinis soal segala yang serba dibisniskan selama olimpiade acap terdengar. Juga makian para pengemudi di Sydney karena banyak jalan ditutup. Kalau barang dan jasa dikeluhkan karena naik harganya, itu akibat pemberlakuan pajak barang dan jasa (GST, goods and service tax) sejak Juli 2000, dan tidak sepenuhnya karena olimpiade. Ada pula keluhan soal harga BBM yang merangkak naik, mengharuskan pemerintah bekerja keras menahan agar harga bensin super tak sampai Aus$ 1. Kerja yang sama kerasnya juga terlihat dalam upaya meredam nilai tukar Aus$ yang selama olimpiade terpuruk sampai mendekati Aus$ 1,8 untuk AS$ 1, sementara dalam kondisi normal tak lebih dari Aus$ 1,5 - 1,6 setiap AS$ 1.

Tak sedikit orang yang khawatir akan lesunya dunia usaha seusai acara itu. Sekolah dan banyak perusahaan libur pada seminggu awal pelaksanaan Sydney 2000, jelas menghentikan sebagian roda perekonomian.

Ada lagi kekhawatiran lain, yaitu perhatian kepada warga Aborigin dan Torres Strait Islanders sekadar kosmetik belaka. "Kita akan kembali terbelakang setelah Games usai," kata penulis Ruby Langford Girimbi yang orang Aborigin.

Orang hanya berharap, semoga kekhawatiran itu tak sampai terwujud benar. Sebab semangat rekonsiliasi rasanya bukan basa-basi. Paling tidak ucapan Olivia Newton-John saat menyanyi pada upacara pembukaan - yang dimeriahkan oleh 12.697 pengisi acara dan 4.600 kru pendukung, dalam tata lampu dan suara sebesar 3,3 juta watts - menjadi cermin dari semua orang Australia beserta semangatnya, "Anda datang dengan aneka keinginan dan tujuan, kami menyambut dengan ketulusan. Nikmatilah kegembiraan di salah satu kota di dunia yang paling penuh persahabatan. Salam dari kami, salah satu bangsa yang paling penuh persahabatan, Aussies."

Bagi orang Australia, dan penduduk Sydney pada umumnya, persahabatan mestinya bukan hal yang sulit untuk diwujudkan. Betapa dalam keseharian, empat juta penduduk metropolitan seluas 2.000 km2 itu saling bergaul dan berdampingan dalam komposisi 160 suku bangsa yang berbeda.

Akhirnya, selain membuktikan diri berhasil melangsungkan olimpiade terbesar dan termegah sepanjang sejarah, Sydney juga berhasil mewujudkan semangat persahabatan, mengalahkan aneka perbedaan. Entah kapan salah satu kota di negara kita mengikuti jejaknya sebagai penyelenggara.(SL)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej