|
|
Bulan November 2000
|
|
Suntikan
Steroid Mengusir Keloid
Walaupun tidak membahayakan, keloid jelas bikin risih pemiliknya. Jangan
risau. Dengan metode mutakhir keloid yang mengganggu pemandangan itu dapat
disingkirkan.
Keloid (kele = tumor, eidos= bentuk) merupakan pertumbuhan
jaringan ikat berlebihan, dengan ukuran melebihi luka pertama. Misalnya luka
sepanjang 1 cm, keloidnya akan menjadi lebih dari 1 cm. Munculnya keloid
kebanyakan karena faktor genetik. Keloid timbul khususnya di bagian tubuh
dengan mobilitas tinggi (daerah predisposisi) seperti leher samping atau
belakang, dada, serta daerah dekat persendian. Selain itu banyak juga di
daerah cuping telinga, terutama mereka yang suka mengenakan perhiasan
imitasi ataupun logam. Pada wanita, banyak terjadi pada daerah perut bawah
tempat bedah caecar dilakukan.
Bentuk keloid ada yang menyerupai gumpalan jaringan, ada pula yang berbentuk
benjolan. Kecuali faktor genetik dan predisposisi tadi, keloid juga bisa
timbul akibat luka yang kurang perawatan (kurang dijaga kebersihannya dan
kurang makanan bergizi). Luka yang lama sembuh (lebih dari dua minggu),
cenderung menjadi keloid. Apalagi pada orang yang berbakat.
Ada jenis keloid yang bersifat aktif, dengan tanda-tanda berupa rasa gatal,
panas, dan sedikit nyeri kalau tersentuh. Keloid jenis ini warnanya lebih
kemerahan dan mengkilap. Di samping itu kulit permukaan keloid tampak lebih
tipis dibandingkan kulit biasa. Namun, walaupun menyerupai tumor yang
mengeras, pada umumnya tidak bersifat ganas.
Keloid di daerah persendian dan leher acap kali menimbulkan gangguan
fungsional yang tentunya bisa mengganggu kegiatan sehari-hari. Khususnya
pada kaum wanita, keloid pada dada, leher, dan lengan, akan terasa
mengurangi estetika. Sebab itu banyak upaya dilakukan untuk
menghilangkannya.
Sebagai indikator apakah seseorang berbakat keloid atau tidak, sehabis
diberi suntikan BCG atau vaksinasi cacar, perhatikan apakah tampak
tanda-tanda lukanya "berbuah". Bila tampak tanda-tanda tersebut,
jangan sekali-sekali dibedah atau diiris, karena akan timbul keloid lebih
besar atau lebih parah.
Suntikan steroid
Beberapa upaya telah ditempuh selama ini untuk mengusir keloid. Antara lain
dengan mengusapkan salep, sinar laser, radiasi, dan teknik penekanan. Namun,
semua cara tersebut belum ada yang memuaskan karena kekambuhan tetap
terjadi. Sedangkan dengan teknik radiasi hanya diperbolehkan secara terbatas
agar tidak timbul efek sampingan. Dengan teknik laser CO2 pun
angka kekembuhannya tetap tinggi.
Belakangan digunakan suntikan kortikosteroid intralesi, khususnya untuk
keloid kecil, seperti keloid pascasuntikan BCG, cacar air, jerawat, bedah
caesar, serta laparoskopi. Dengan posisi jarum suntik tegak lurus, secara
pelahan-lahan dimasukkan obat tersebut secara langsung ke massa keloid.
Tujuannya untuk meningkatkan penghancuran jaringan kolagen yang berlebihan
dalam keloid serta mengurangi terjadinya inflamasi (peradangan).
Suntikan yang digunakan bersifat sekali pakai, berukuran 2 ml. Pemberian
obat steroid jenis triamsinolon asetonida ini maksimal 0,2 ml setiap tempat
suntikan. Tindakan maksimal lima kali suntikan pada setiap lesi (luka atau
jaringan rusak). Begitu suntikan selesai, dilakukan penekanan selama lima
menit untuk menghindari perdarahan. Pasien dimonitor selama 4 - 6 minggu
untuk melihat kemungkinan timbulnya efek lambat dari pemberian obat itu.
"Namun, cara menyuntik demikian kurang diminati. Apalagi pernah ada
kasus pasien pingsan karena tidak tahan menanggung sakit. Di samping itu
pelaksanaan suntikan lebih sulit karena kerasnya lesi. Obat yang disuntikkan
pun lebih boros," ujar dr. I Gusti Agung K. Rata, spesialis kulit dari
Subbagian Kosmetik-medik, Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI- RSUPN
Ciptomangunkusumo.
Atas dasar pengalaman itu dr. Rata mencari modifikasi suntikan cara lain,
yang lebih efektif dan tidak menyiksa penderita. Teknik baru ini dinamakan
suntik keloid supralesi. Posisi suntikan jarum tidak tegak lurus masuk ke
dalam massa, melainkan posisi jarum hampir sejajar dengan permukaan kulit,
di atas lesi (lihat gambar) sehingga suntikan tidak dalam (hanya 2 - 3 mm di
bawah kulit). Posisi ujung jarum suntik yang telah ditusukkan dapat dipantau
ketepatannya dengan sedikit mengangkat ujungnya.
Namun, tetap diusahakan agar obat masuk mengenai permukaan keloid. Setiap
jarak 1/2 cm diperlukan 0,1 ml obat, sehingga keloid yang panjang atau lebar
memerlukan beberapa kali suntikan. "Penyuntikan dengan teknik ini lebih
mudah dan tidak sakit," tegas dr Rata. Hasilnya, permukaan keloid
umumnya mulai melunak setelah suntikan pertama. Rasa nyeri, gatal, dan panas
akan hilang pada suntikan kedua. Benjolan keloid akhirnya akan datar,
sejajar dengan kulit yang lain di sekitanya, hanya saja bagian kulit yang
mengkilap tidak bisa dihilangkan.
Untuk keloid pascasuntikan BCG, cacar, jerawat, atau pascabedah caesar,
menurut dr. Rata, beberapa kali suntikan setiap minggu sekali. Sedangkan
untuk keloid tebal (2 - 4 mm) diperlukan 10 - 15 kali suntikan.
Bila terjadi kekambuhan - biasanya keloid di dada dan persendian, suntikan
bisa diulang.
Gel silikon untuk keloid
Kini di pasaran juga bisa dibeli bebas lembaran gel silikon lembut yang
dapat melekat sendiri, berukuran sekitar 6 x 12 cm untuk mengurangi atau
menghilangkan parut bekas luka. Cara memakainya dengan menempelkan sisi
lembaran yang melekat pada permukaan parut bekas luka tanpa perlu
menggunakan alat bantu seperti plester.
Lembaran tahan air dan lentur ini dapat digunting sesuai kebutuhan, sehingga
sisanya dapat disimpan. Penggunaan selama empat jam per hari, selanjutnya
ditingkatkan delapan jam per hari sampai mencapai minimum 12 jam per hari.
Selama perawatan, lembaran gel harus dicuci dua kali sehari dengan sabun
lembut dan air hangat. Setelah dicuci, lembaran ini secara hati-hati
dilekatkan kembali pada permukaan parut bekas luka. Untuk menghindari
iritasi terhadap kulit, lembaran tidak perlu ditekan. Konon, lembaran itu
kini banyak diperkenalkan pada para ahli bedah di dunia untuk mencegah
terjadinya keloid pascabedah.
Menanggapi lembaran gel silikon ini, dr. Rata mengatakan bahwa manfaat bahan
ini paling-paling untuk mengerem perkembangan keloid atau mengurangi rasa
nyeri dan gatal, tapi tidak bersifat kuratif (penyembuhan). Jadi, sifatnya
hanya sebagai upaya preventif (pencegahan) saja.
Yang terpenting, menurut dr. Rata, bila seseorang terkena luka, secepat
mungkin harus disembuhkan sampai tuntas, jangan didiamkan sampai
berminggu-minggu sehingga luka akan kentara bekasnya. |
|||||
|
© 1996 - 2000 Intisari Online |
|||||