globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan November 2000

Dapatkan Bonus Sisipan Cara Tepat Menangani Obesitas

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Suntikan Steroid Mengusir Keloid 

Walaupun tidak membahayakan, keloid jelas bikin risih pemiliknya. Jangan risau. Dengan metode mutakhir keloid yang mengganggu pemandangan itu dapat disingkirkan.

Siapa tidak ingin berkulit mulus dan licin? Pasti semua orang mendambakannya, apalagi kaum hawa. Hanya saja, bagi yang berbakat keloid, kulit mulusnya sering sulit dipertahankan. Pasalnya, tusukan jarum suntik sekalipun sudah cukup untuk memunculkan keloid pada kulitnya. Apalagi, bila mengalami kecelakaan yang membuat kulit terluka atau harus menjalani pembedahan.

Keloid (kele = tumor, eidos= bentuk) merupakan pertumbuhan jaringan ikat berlebihan, dengan ukuran melebihi luka pertama. Misalnya luka sepanjang 1 cm, keloidnya akan menjadi lebih dari 1 cm. Munculnya keloid kebanyakan karena faktor genetik. Keloid timbul khususnya di bagian tubuh dengan mobilitas tinggi (daerah predisposisi) seperti leher samping atau belakang, dada, serta daerah dekat persendian. Selain itu banyak juga di daerah cuping telinga, terutama mereka yang suka mengenakan perhiasan imitasi ataupun logam. Pada wanita, banyak terjadi pada daerah perut bawah tempat bedah caecar dilakukan.

Bentuk keloid ada yang menyerupai gumpalan jaringan, ada pula yang berbentuk benjolan. Kecuali faktor genetik dan predisposisi tadi, keloid juga bisa timbul akibat luka yang kurang perawatan (kurang dijaga kebersihannya dan kurang makanan bergizi). Luka yang lama sembuh (lebih dari dua minggu), cenderung menjadi keloid. Apalagi pada orang yang berbakat.

Ada jenis keloid yang bersifat aktif, dengan tanda-tanda berupa rasa gatal, panas, dan sedikit nyeri kalau tersentuh. Keloid jenis ini warnanya lebih kemerahan dan mengkilap. Di samping itu kulit permukaan keloid tampak lebih tipis dibandingkan kulit biasa. Namun, walaupun menyerupai tumor yang mengeras, pada umumnya tidak bersifat ganas.

Keloid di daerah persendian dan leher acap kali menimbulkan gangguan fungsional yang tentunya bisa mengganggu kegiatan sehari-hari. Khususnya pada kaum wanita, keloid pada dada, leher, dan lengan, akan terasa mengurangi estetika. Sebab itu banyak upaya dilakukan untuk menghilangkannya.

Sebagai indikator apakah seseorang berbakat keloid atau tidak, sehabis diberi suntikan BCG atau vaksinasi cacar, perhatikan apakah tampak tanda-tanda lukanya "berbuah". Bila tampak tanda-tanda tersebut, jangan sekali-sekali dibedah atau diiris, karena akan timbul keloid lebih besar atau lebih parah.

Suntikan steroid

Beberapa upaya telah ditempuh selama ini untuk mengusir keloid. Antara lain dengan mengusapkan salep, sinar laser, radiasi, dan teknik penekanan. Namun, semua cara tersebut belum ada yang memuaskan karena kekambuhan tetap terjadi. Sedangkan dengan teknik radiasi hanya diperbolehkan secara terbatas agar tidak timbul efek sampingan. Dengan teknik laser CO2 pun angka kekembuhannya tetap tinggi.

Belakangan digunakan suntikan kortikosteroid intralesi, khususnya untuk keloid kecil, seperti keloid pascasuntikan BCG, cacar air, jerawat, bedah caesar, serta laparoskopi. Dengan posisi jarum suntik tegak lurus, secara pelahan-lahan dimasukkan obat tersebut secara langsung ke massa keloid. Tujuannya untuk meningkatkan penghancuran jaringan kolagen yang berlebihan dalam keloid serta mengurangi terjadinya inflamasi (peradangan).

Suntikan yang digunakan bersifat sekali pakai, berukuran 2 ml. Pemberian obat steroid jenis triamsinolon asetonida ini maksimal 0,2 ml setiap tempat suntikan. Tindakan maksimal lima kali suntikan pada setiap lesi (luka atau jaringan rusak). Begitu suntikan selesai, dilakukan penekanan selama lima menit untuk menghindari perdarahan. Pasien dimonitor selama 4 - 6 minggu untuk melihat kemungkinan timbulnya efek lambat dari pemberian obat itu.

"Namun, cara menyuntik demikian kurang diminati. Apalagi pernah ada kasus pasien pingsan karena tidak tahan menanggung sakit. Di samping itu pelaksanaan suntikan lebih sulit karena kerasnya lesi. Obat yang disuntikkan pun lebih boros," ujar dr. I Gusti Agung K. Rata, spesialis kulit dari Subbagian Kosmetik-medik, Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI- RSUPN Ciptomangunkusumo.

Atas dasar pengalaman itu dr. Rata mencari modifikasi suntikan cara lain, yang lebih efektif dan tidak menyiksa penderita. Teknik baru ini dinamakan suntik keloid supralesi. Posisi suntikan jarum tidak tegak lurus masuk ke dalam massa, melainkan posisi jarum hampir sejajar dengan permukaan kulit, di atas lesi (lihat gambar) sehingga suntikan tidak dalam (hanya 2 - 3 mm di bawah kulit). Posisi ujung jarum suntik yang telah ditusukkan dapat dipantau ketepatannya dengan sedikit mengangkat ujungnya.

Namun, tetap diusahakan agar obat masuk mengenai permukaan keloid. Setiap jarak 1/2 cm diperlukan 0,1 ml obat, sehingga keloid yang panjang atau lebar memerlukan beberapa kali suntikan. "Penyuntikan dengan teknik ini lebih mudah dan tidak sakit," tegas dr Rata. Hasilnya, permukaan keloid umumnya mulai melunak setelah suntikan pertama. Rasa nyeri, gatal, dan panas akan hilang pada suntikan kedua. Benjolan keloid akhirnya akan datar, sejajar dengan kulit yang lain di sekitanya, hanya saja bagian kulit yang mengkilap tidak bisa dihilangkan.

Untuk keloid pascasuntikan BCG, cacar, jerawat, atau pascabedah caesar, menurut dr. Rata, beberapa kali suntikan setiap minggu sekali. Sedangkan untuk keloid tebal (2 - 4 mm) diperlukan 10 - 15 kali suntikan.

Bila terjadi kekambuhan - biasanya keloid di dada dan persendian, suntikan bisa diulang.

Gel silikon untuk keloid

Kini di pasaran juga bisa dibeli bebas lembaran gel silikon lembut yang dapat melekat sendiri, berukuran sekitar 6 x 12 cm untuk mengurangi atau menghilangkan parut bekas luka. Cara memakainya dengan menempelkan sisi lembaran yang melekat pada permukaan parut bekas luka tanpa perlu menggunakan alat bantu seperti plester.

Lembaran tahan air dan lentur ini dapat digunting sesuai kebutuhan, sehingga sisanya dapat disimpan. Penggunaan selama empat jam per hari, selanjutnya ditingkatkan delapan jam per hari sampai mencapai minimum 12 jam per hari.

Selama perawatan, lembaran gel harus dicuci dua kali sehari dengan sabun lembut dan air hangat. Setelah dicuci, lembaran ini secara hati-hati dilekatkan kembali pada permukaan parut bekas luka. Untuk menghindari iritasi terhadap kulit, lembaran tidak perlu ditekan. Konon, lembaran itu kini banyak diperkenalkan pada para ahli bedah di dunia untuk mencegah terjadinya keloid pascabedah.

Menanggapi lembaran gel silikon ini, dr. Rata mengatakan bahwa manfaat bahan ini paling-paling untuk mengerem perkembangan keloid atau mengurangi rasa nyeri dan gatal, tapi tidak bersifat kuratif (penyembuhan). Jadi, sifatnya hanya sebagai upaya preventif (pencegahan) saja.

Yang terpenting, menurut dr. Rata, bila seseorang terkena luka, secepat mungkin harus disembuhkan sampai tuntas, jangan didiamkan sampai berminggu-minggu sehingga luka akan kentara bekasnya. (Nanny Selamihardja)

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej